• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM. "

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM.

STRAIT MAS

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut DIPLOMA III

ROSIF ABDUL HAMID MUDITO NIT.04.16.023.1. 41

AHLI NAUTIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III

POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA TAHUN 2020

(2)

ii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : ROSIF ABDUL HAMID MUDITO

Nomor Induk Taruna : 04.16.023.1.41/N Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:

PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM.

STRAIT MAS

Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.

Jika pernyataan diatas terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.

SURABAYA,...

Penulis,

Rosif Abdul Hamid Mudito

(3)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN SEMINAR PROPOSAL KARYA ILMIAH TERAPAN

Judul :

PENERAPAN BAHASA INGGRIS

MARITIM DI ATAS KM. STRAIT MAS

Nama Taruna : ROSIF ABDUL HAMID MUDITO

NIT : 04.16.023.1.41/N

Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III

Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk di seminarkan

SURABAYA,…..Februari 2020

Menyetujui:

Pembimbing I

M. IMAM FIRDAUS, S.S.T.PEL.

Penata Muda Tk. I (III/b) NIP. 19901019 201402 1 004

Pembimbing II

ELLY KUSUMAWATI, S.H., M.H.

Penata Tk. I (III/d) NIP. 19811112 200502 2 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Nautika

DAVIQ WIRATNO, S.Si.T.,M.T.

Penata Tk. I (III/d) NIP. 19790107 200212 1 002

(4)

iv

PENGESAHAN

PROPOSAL KARYA ILMIAH TERAPAN

PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM.

STRAIT MAS

Disusun dan Diajukan Oleh : ROSIF ABDUL HAMID MUDITO

NIT. 04.16.023.1.41/N AHLI NAUTIKA TINGKAT III PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN

Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian Karya Ilmiah Terapan Pada Tanggal……….

Menyetujui:

Penguji I

SEREATI HASUGIAN, M.T.

Penata Tk. I (III/d) NIP. 19800809 200502 2 001

Menyetujui : Penguji II

M. IMAM FIRDAUS, S.S.T.PEL.

Penata Muda Tk. I (III/b) NIP. 19901019 201402 1 004

Penguji III

ELLY KUSUMAWATI, S.H., M.H.

Penata Tk. I (III/d) NIP. 19811112 200502 2 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Nautika

DAVIQ WIRATNO, S.Si.T.,M.T.

Penata Tk. I (III/d) NIP. 19790107 200212 1 002

(5)

v

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah Terapan ini dengan judul PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM. STRAIT MAS. Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan tugas sebagai kelengkapan syarat praktek laut dan program DIPLOMA III Politeknik Pelayaran Surabaya serta penulis tertarik pada pemahaman bahasa inggris maritim guna kelancaran operasional kapal.

Dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Yth. Capt. Heru Susanto MM. selaku Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya.

2. Bapak M. Imam Firdaus, S.S.T.PEL. selaku dosen pembimbing 1 yang selalu mengkritisi dan memberi petunjuk dengan baik.

3. Ibu Elly Kusumawati, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing 2 yang juga turut memberi arahan dan bimbingan.

4. Bapak Daviq Wiratno, S.Si.T.,M.T. selaku Ketua Jurusan Nautika yang selama ini memberi dukungan secara moril terhadap para taruna.

5. Para dosen POLTEKPEL Surabaya yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.

6. Rekan-rekan taruna /i dan pihak yang membantu dalam penyusunan Karya Ilmiah Terapan ini.

7. Serta kedua orang tua saya yang telah mendukung sepenuhnya hingga sekarang.

(6)

vi

Demikian, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat mengetahui pentingnya seorang perwira dapat menggunakan alat navigasi alternatif guna mencegah segala kemungkinan yang terjadi di kapal .

Surabaya, 2020

ROSIF ABDUL HAMID MUDITO

(7)

vii ABSTRAK

ROSIF ABDUL HAMID MUDITO, “Penerapan Bahasa Inggris Maritim Di Atas KM. STRAIT MAS.” Dibimbing oleh Bapak M. Imam Firdaus, S.S.T.Pel. dan Ibu Elly Kusumawati, S.H., M.H.

Di atas kapal banyak ditemukan kendala-kendala yang dapat mengganggu kelancaran proses operasional kapal. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut terjadi yaitu miss komunikasi antara awak kapal diatas kapal. Ini bisa saja disebabkan karena kurangnya pemahaman kemampuan awak kapal dalam menguasai bahasa inggris maritim.

Penelitian yang penulis buat bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal dan mengetahui apa penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak kapal di atas kapal. Penelitian dilaksanakan oleh penulis selama praktek layar di KM. Strait Mas.

Metode pada penelitian karya ilmiah yang digunakan oleh penulis adalah menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.

Sesuai dengan fakta yang penulis temukan bahwa penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal pelaksanaanya sesuai dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh IMO yang diatur dalam SMCP (Standard Marine Communication Phrases). Namun, penerapan tersebut hanya digunakan dalam keadaan berpapasan atau bersilangan dengan kapal lain yang berasal dari perusahaan luar negeri, sedangkan saat bertemu dengan kapal perusahaan dalam negeri komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, begitu pula saat berkomunikasi didalam ruang lingkup crew di atas kapal itu sendiri.

Penulis mengajukan beberapa saran sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan pelaut dalam penerapan komunikasi berbahasa inggris maritim bagi kru yang bekerja di atas kapal untuk fasih dalam pengucapan serta memahami bahasa inggris maritim dengan baik dan benar, yaitu pada tempat diklat perlu adanya pembelajaran yang ditekankan pada pelajaran bahasa inggris maritim dan bagi awak kapal di atas kapal dapat diatasi dengan berlatih sesering mungkin dengan perwira untuk berkomunikasi dalam bahasa inggris maritim.

Kata Kunci : Bahasa Inggris Maritim, SMCP.

(8)

viii ABSTRACT

ROSIF ABDUL HAMID MUDITO, "Maritime English Application Aboard Ship MV. STRAIT MAS." Guided by Mr. M. Imam Firdaus, S.S.T.Pel. and Mrs.

Elly Kusumawati, S.H., M.H.

On the ship, there are many obstacles that can interfere with the smooth operation of the ship. One factor that can cause this to happen is miss communication between the crew on board. This could have been caused by lack of understanding of the ability of the crew in mastering maritime English.

The research that the author made aims to find out how the application of maritime English communication used by the crew and to know what causes the lack of application of maritime English for the crew on board. The study was conducted by the author during screen practice at KM. Strait Mas.

The method in scientific research used by the author is to use descriptive qualitative methods to describe the nature of a temporary situation when the research is conducted and examine the causes of a particular symptom.

In accordance with the facts that the authors found that the application of maritime English communication used by the crew on board the ship in accordance with the regulations issued by the IMO set out in the SMCP (Standard Marine Communication Phrases). However, the application is only used in a situation of crossing paths or crossing with other vessels originating from foreign companies, whereas when meeting with domestic company vessels the communication uses Indonesian, as well as when communicating within the scope of the crew on board the ship itself.

The author offers a number of suggestions as an effort to improve the ability of seafarers in the application of maritime English communication for crews who work on the ship to be fluent in pronunciation and understand maritime English properly and correctly, namely in places of education and training there needs to be an emphasis on learning English Maritime and for the crew on board can be overcome by practicing as often as possible with officers to communicate in English maritime.

Keywords: Maritime English, SMCP.

(9)

ix

Daftar Isi

Halaman

HALAMAN JUDUL..………. i

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN.……….…………. ii

HALAMAN PERSETUJUAN SEMINAR.………... iii

HALAMAN PENGESAHAN.………... iv

KATA PENGANTAR.………... v

ABSTRAK.………. vii

ABSTRACT………..… viii

DAFTAR ISI.……….. ix

DAFTAR TABEL….……….. xi

DAFTAR LAMPIRAN………... xii BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.

1.1 Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined.

1.2 Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined.

1.3 Definisi Variabel ... Error! Bookmark not defined.

1.4 Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

1.5 Manfaat Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

2.1 REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA ... Error! Bookmark not defined.

2.2 LANDASAN TEORI. ... Error! Bookmark not defined.

2.2.1 Bahasa Inggris Maritim ... Error! Bookmark not defined.

(10)

x

2.2.2 Penerapan Bahasa Inggris Maritim Di Atas KapalError! Bookmark not defined.

2.2.3 Faktor Penghambat Penggunaan Bahasa Inggris Maritim ... Error!

Bookmark not defined.

2.3 KERANGKA BERFIKIR ... Error! Bookmark not defined.

BAB III METODE PENELITIAN... Error! Bookmark not defined.

3.1 Penelitian dan Jenis Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

3.2 Lokasi Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

3.3 Jenis dan Sumber Data ... Error! Bookmark not defined.

3.3.1 Data Primer ... Error! Bookmark not defined.

3.3.2 Data Sekunder ... Error! Bookmark not defined.

3.4 Metode Pengumpulan Data ... Error! Bookmark not defined.

3.4.1 Teknik Wawancara (Interview) ... Error! Bookmark not defined.

3.4.2 Teknik Observasi (Pengamatan) ... Error! Bookmark not defined.

3.4.3 Teknik Dokumentasi ... Error! Bookmark not defined.

3.5 Pemilihan Informan ... Error! Bookmark not defined.

3.6 Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman 2.1 Review Penelitian Sebelumnya ...8 3.1 Koding Wawancara ...21 4.1 Kasus Penerapan Bahasa Inggris Maritim Di Atas Kapal ...30

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman 4.1 Gambar Kapal MV. Strait Mas ...23 4.2 Gambar Radio VHF ...30 4.3 Gambar Radio HT ...30

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman 1. Pedoman Wawancara I ... 42 2. Pedoman Wawancara II ... 45 3. IMO SMCP ... 48

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Angkutan laut adalah jasa transportasi angkutan untuk memenuhi kebutuhan pihak yang mengirimkan barang melalui laut. Transportasi ini memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan ke masa depan yang mempunyai karakteristik karena mampu melakukan pengangkutan secara massal. Dalam peranannya untuk menghubungkan satu dengan yang lainnya melalui perairan, transportasi laut mempunyai potensi untuk dikembangkan peranannya baik nasional maupun internasional sehingga mampu mendorong dan menunjang pembangunan nasional demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak 31 Desember 2015 Indonesia telah memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), sehingga diseluruh ASEAN terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi tersebut akan menghilangkan batasan terhadap arus barang, investasi, modal, jasa, dan tenaga professional.

Sistem keselamatan dan keamanan menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menentukan kelayakan dalam pelayaran baik dilihat dari segi sarana kapal maupun prasarana seperti sistem navigasi, alat keselamatan, serta sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya dikarenakan banyaknya masalah kecelakaan yang terjadi didalam dunia pelayaran salah satunya disebabkan oleh ketidakpahaman apa yang diucapkan antar awak kapal sehingga dapat

(15)

2

menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal dan kecelakaan kapal di wilayah perairan yang dilalui oleh kapal saat berlayar.

Beberapa penyebab kecelakaan kerja di atas kapal disebabkan oleh pekerjanya sendiri/ human error yang kurang mampu mengerti apa yang diucapkan antar awak kapal yang kemungkinan berasal dari negara yang berbeda, yaitu kru kapal sering bekerja tanpa memahami bahasa inggris maritim yang digunakan pelaut internasional, yang diciptakan IMO yaitu SMCP (Standard Marine Communication Phrases). Kecelakaan kerja sendiri sering dikaitkan dengan Sumber Daya Manusianya sendiri khususnya untuk pekerja di atas kapal yang kurang mampu memahami bahasa inggris maritim dengan baik dan benar ketika berkomunikasi saat sedang berlayar dialur pelayaran sempit berhadapan dengan kapal lain ataupun saat sedang sandar serta berlabuh jangkar sehingga menimbulkan kecelakaan kerja.

Berikut salah satu contoh kecelakaan kerja dikarenakan kurang mampu memahami bahasa inggris maritim dengan baik, pada tanggal 17 Agustus 1996 pukul 08.00 waktu setempat, kapal kontainer berbendera Hong Kong MV. Matilda Bay sedang menyeberangi Great Australian Bight, dalam perjalanan dari Melbourne ke Fremantle di Australia Barat. Mualim satu adalah orang Malaysia, mualim lainnya berasal dari Inggris dan awak kapal lainnya berasal dari Filipina. Sebuah tim perbaikan telah bekerja ke depan haluan kapal mencoba untuk mengamankan penutup palka booby saat ombak dalam keadaan besar, ketika laut datang pada haluan depan sehingga menjatuhkan tim dan keluar dari pandangan kru kapal yang berada di

(16)

3

anjungan. Mualim satu yang memimpin kerja tim terdorong ke bawah mesin kerek dan mengalami beberapa luka, sementara anggota tim lainnya terdorong ke mesin kerek tetapi tidak terluka. Seorang penjaga anjungan yang berasal dari Filipina telah melihat datangnya ombak besar yang menyapu tim sehingga tidak dapat melihat anggota tim yang berada di haluan depan, sehingga dia berlari ke ruang kemudi untuk melaporkan bahwa seorang pria jatuh ke laut tetapi penjaga tidak dapat memahami apa yang dikatakan. Terjadi kebingungan tentang berapa banyak pria yang telah jatuh dan kapal itu berbalik untuk mencari mereka sebelum disadari bahwa semua anggota tim masih di kapal. Kebingungan berlangsung sekitar 15 menit dan selama periode ini mualim satu terbaring terluka di bawah mesin derek jangkar, selanjutnya korban dievakuasi dan dibawa ke Sick Bay tetapi korban tidak tertolong dan pada akhirnya meninggal dunia karena luka- lukanya. Mualim satu belum menginformasikan kepada anjungan mengenai pekerjaannya di haluan depan dan tidak ada dari tiga orang dalam tim yang melakukan kontak dengan anjungan melalui radio. Dalam hal ini sendiri dapat menyebabkan kecelakaan karena kapten bisa saja mengambil tindakan yang lebih aman untuk memungkinkan perbaikan yang dilakukan jadi lebih baik dan penyebab lainnya adalah kesulitan bahasa yang menyebabkan kebingungan dan akhirnya dapat menunda pertolongan pada mualim I.

Pada kapal penulis sendiri juga mengalami sebuah kejadian yang hampir saja mengakibatkan kecelakaan pada saat berlayar yaitu pada tanggal 11 Juli 2019 saat kapal berlayar di Laut Jawa untuk melaksanakan pelayaran dengan tujuan akhir Surabaya, kapal berpapasan dengan kapal

(17)

4

asing, yaitu MV. OOCL Hongkong. Cadet A diperintahkan oleh mualim I untuk melaksanakan dinas jaga laut saat mualim I melaksanakan ibadah solat magrib di anjungan, cadet A yang belum mahir berkomunikasi bahasa Inggris dan tidak mengerti maksud dari kapal asing tersebut, sehingga cadet A kebingunan mengambil tindakan saat kapal berpapasan dengan MV.

OOCL Hongkong. Namun, tidak lama kemudian mualim I selesai melaksanakan ibadahnya dan segera mengambil tindakan untuk berkomunikasi dengan MV. OOCL Hongkong, sehingga papasan yang terjadi bisa dikendalikan sesuai dengan tindakan yang tepat.

Pada kedua kasus di atas memberikan pembelajaran kepada kita untuk menambah kemampuan dalam berkomunikasi bahasa inggris agar tidak kembali kesalahpahaman dalam berkomunikasi bahasa inggris di atas kapal. Keselamatan kerja merupakan prioritas utama bagi seorang pelaut profesional saat bekerja di atas kapal. Semua perusahaan pelayaran memastikan bahwa awak kapal mereka mengikuti prosedur keamanan pribadi dan aturan untuk semua operasi yang harus dibawa maupun digunakan di atas kapal. Untuk mencapai keamanan maksimal di kapal, langkah dasar organisasi di kapal tersebut harus mengaplikasikan prosedur- prosedur yang terdapat di dalam SMCP (Standard Marine Communication Phrases) mengenai “Bahasa Keselamatan Standar Yang Lebih Komprehensif”. SMCP adalah seperangkat frasa kunci dalam bahasa Inggris (yang merupakan bahasa laut yang diakui secara internasional), didukung oleh komunitas internasional untuk digunakan di laut dan dikembangkan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO). Termasuk frase yang telah

(18)

5

dikembangkan untuk menutupi bidang yang berhubungan dengan keselamatan paling penting yaitu bahasa komunikasi verbal dari pelabuhan kekapal maupun sebaliknya, kapal ke kapal dan komunikasi diatas kapal.

Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan kecelakaan.

Bahasa Inggris maritim diperlukan berkaitan dengan adanya faktor kecelakaan kerja dan kecelakaan kapal untuk mempermudah komunikasi guna menghindari dari kecelakaan itu sendiri. Bahasa Inggris maritim digunakan dalam dunia pelayaran karena didalamnya terdapat banyak sekali istilah yang berbeda. Bahasa Inggris maritim tersebut wajib dipahami dan diterapkan oleh seluruh kru kapal untuk mendukung kelancaran operasional kapal saat bekerja di atas kapal. Hal ini terjadi karena resiko pekerjaan di atas kapal memiliki resiko yangtinggi mengenai keselamatan jiwa manusia.

Berdasarkan uraian tersebut di atas bahwa masih ditemukannya pekerja di atas kapal yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris maritim, maka penulis berkeinginaan untuk memgambil judul karya ilmiah yang berjudul:

“PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KM. STRAIT MAS.”

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal ?

1.2.2 Apa penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak kapal di atas kapal ?

(19)

6

1.3 Definisi Variabel

1.3.1 Penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.

1.3.2 Bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.

1.3.3 Inggris maritim adalah bahasa inggris yang diciptakan secara khusus untuk mempermudah komunikasi dari individu maupun kelompok dalam dunia kelautan yang diatur dalam Standard Marine Comunication Phrases (SMCP) yang telah diadopsi oleh International Maritim Organization (IMO).

1.3.4 Kapal adalah kendaran air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, dan energi lainnya berguna untuk mengangkut barang atau penumpang di laut, sungai, dan sebagainya.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang penulis buat adalah:

1.4.1 Untuk mengetahui bagaimana penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal.

1.4.2 Untuk mengetahui apa penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak kapal di atas kapal.

(20)

7

7 1.5 Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara teoritis dan praktis antara lain:

1.5.1 Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih terhadap dunia pelayaran tentang penggunaan bahasa inggris maritim yang digunakan antar awak kapal dalam berkomunikasi ketika bekerja di pelayaran.

1.5.2 Secara praktis, penelitian diharapkan dapat memberikan konstribusi kepada pihak-pihak tertentu, antara lain:

1.5.2.1 Bagi perwira dan awak kapalnya sebagai bahan pertimbangan tentang pengembangan kompetensi mereka mengenai bahasa inggris maritim.

1.5.2.2 Menjadi masukan pada pihak perusahaan dan lembaga pendidikan dan pelatihan akan pentingnya meningkatkan penggunaan bahasa inggris maritim.

1.5.2.3 Menjadi masukan bagi seluruh awak kapal untuk lebih meningkatkan kemampuan berbahasa inggris maritim.

(21)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA

Penulis mengambil perbandingan dengan karya ilmiah lainnya dalam menulis Karya Ilmiah Terapan ini. Dari karya ilmiah tersebut, penulis melihat adanya referensi yang dapat dijadikan bahan referensi bagi penulis dalam melengkapi literatur pembahasan penelitiannya, berikut review penelitian terdahulu yang disajikan dalam bentuk tabel 2.1 sebagai berikut :

Tabel 2.1 Review Penelitian Sebelumnya

No. Judul Pengarang Hasil Penelitian

1.

2.

Pentingnya Bahasa Inggris Di Era Globalisasi

Pentingnya Bahasa

Inggris Di

Kehidupan.

Aryani (2012)

Dayat (2016)

Bahasa Inggris di dalam era globalisasi ini digunakan sebagai bahasa bisnis, bahasa pergaulan internasional, pengrekrutan karyawan di perusahaan berskala internasional. (Aryani, 2012) Bahasa Inggris adalah bahasa dunia dan juga banyak digunakan dalam bahasa di internet. (Dayat, 2016)

Penulis meninjau adanya referensi yang dapat dijadikan bahan referensi bagi penulis dalam review penelitian tersebut, bahwa bahasa inggris di

(22)

9

dalam era globalisasi ini digunakan sebagai bahasa pergaulan internasional.

Berikut hasil review penelitiannya yang berkaitan dengan KIT penulis:

a. Bahasa Inggris di dalam era globalisasi ini digunakan sebagai bahasa bisnis, bahasa pergaulan internasional, pengrekrutan karyawan di perusahaan berskala internasional. Oleh karena itu seiring berkembangnya zaman kita para pelaut dituntut untuk lebih mengenal bahasa inggris bahkan bisa dikatakan bahwa penguasaan bahasa inggris sangat berpengaruh dalam persyaratan yang diajukan perusahaan untuk merekrut para karyawannya. Jadi jangan heran jika banyak perusahaan mewajibkan pekerjanya memiliki kemampuan berbahasa inggris.

b. Bahasa Inggris adalah bahasa dunia dan juga banyak digunakan dalam bahasa di internet. Hal ini dikarenakan banyak artikel atau website yang berhubungan dengan pelayaran menggunakan bahasa inggris yang digunakan sebagai bahasa internasional.

2.2 LANDASAN TEORI

2.2.1 Bahasa Inggris Maritim

Bahasa Inggris Maritim adalah bahasa inggris yang diciptakan secarakhusus untuk mempermudah komunikasi dari individu maupun kelompok dalam dunia kelautan yang diatur dalam Standard Marine Comunication Phrases (SMCP) yang telah diadopsi oleh International Maritim Organization (IMO).

Pada dasarnya bahasa inggris maritim ialah bahasa yang diambil dari bahasa inggris umum, maka dari itu tidak banyak perbedaan antara bahasa inggris umum (general english) dengan

(23)

10

inggris maritim. Namun, terdapat beberapa ungkapan-ungkapan yang tidak lazim pada general english, tetapi sering digunakan dalam percakapan dunia maritim.

Ungkapan-ungkapan tersebut digantikan pada bentuk kalimat seperti : Port Clearane yang terdapat pada percakapan diatas kapal yang artinya Surat Persetujuan Berlayar, Donkeyman pada kru kapal, Clearance valve pada saat perawatan mesin dan banyak lagi yang terdapat pada: jenis kapal, Manning, pekerjaan dalam menghitung muatan kargo, bernavigasi, mesin utama, mesin bantu, alat keselamatan diatas kapal, berkomunikasi diatas kapal, dan berkomunikasi melalui radio.

Ironisnya ungkapan-ungkapan atau nama-nama peralatan tersebut tidak terdapat di dalam kamus bahasa inggris umum maupun di dalam kamus inggris maritim itu sendiri, sehingga terkadang hal ini menyulitkan, misalkan "Bow thruster" yang maksudnya adalah baling-baling di haluan. Maka dalam sidang International Maritim Organization (IMO), pada tanggal 22 Nopember 2001 telah menerima Standard Marine Comunication Phrases (SMCP) sebagai standar komunikasi dalam berlayar. Sejak itu bahasa inggris umumdan inggris maritim menjadi dua mata pelajaran yang berbeda sampai saat ini. Standar yang baru ini sebagai pengganti standar kosakata navigasi laut yang diadopsi oleh IMO pada tahun 1977 dan diamandemen pada tahun 1985.

(IMO & Rijeka College of Maritime Studies, 2000)

(24)

11

Persyaratan dalam kemampuan berbahasa inggris yang baik dan benar bagi para pelaut yang bekerja di atas kapal diterangkan dalam kutipan dari isi SCTW Code, as amended: Part A, Chapter II hal 105:

”Adequate knowledge of the English language to enable the officer to use charts and other nautical publications, to understand meteorological information and messages concerning ship’s safety and operation, to communicate with other ships, coast stations and VTS centres and to perform the officer’s duties also with a multilingual crew, including the ability to use and understand the IMO Standard Marine Communication Phrases (IMO SMCP).”

Berdasarkan isi konvensi STCW di atas, mempunyai kesimpulan bahwa semua petugas yang bertanggung jawab atas jam jaga (navigasi atau teknik) harus memiliki perintah bahasa inggris lisan dan tulisan yang baik. Pejabat senior dengan fungsi ditingkat manajerial juga harus berbicara dan menulis bahasa Inggris, karena ini merupakan persyaratan pada tingkat tanggung jawab sebelumnya. Peringkat yang membentuk bagian dari jam navigasi diperlukan untuk dapat mematuhi perintah yang dikeluarkan dalam bahasa Inggris. Anggota kru yang membantu penumpang selama situasi darurat harus dapat mengkomunikasikan masalah yang terkait dengan keselamatan dalam bahasa Inggris atau dalam bahasa yang digunakan oleh penumpang dan personil lainnya di kapal. Pada hari-hari ini awak multi-nasional dan multibahasa, pentingnya berbagi bahasa yang sama tidak dapat diremehkan.”

(25)

12

Teori inggris maritim tersebut disimpulkan bahwa bahasa inggris maritim sendiri masih menjadi bahasa yang utama dalam berbagai negara yang turut serta dalam anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO). Berikut isi dari Safety of Life At Sea (SOLAS, 2002) chapter V regulation 14 (4):

“On ships to which chapter I applies, English shall be used on the bridge as the working language for bridge-to-bridge and bridge-to- shore safety communications as well as for communications on board between the pilot and bridge watchkeeping personnel, unless those directly involved in the communication speak a common language other than English.”

Isi dari peraturan di atas menerangkan bahwa pada kapal yang berlayar, bahasa Inggris digunakan di anjungan sebagai bahasa kerja untuk komunikasi keselamatan kapal ke pelabuhan serta untuk komunikasi di atas kapal.

2.2.2 IMO Standard Marine Communication Phrases (SMCP)

Di atas kapal bahasa inggris maritim sendiri dalam penerapannya menjadi bahasa yang seringkali digunakan pada kapal-kapal yang sedang berlayar di atas laut, sehubungan dengan peraturan-peraturan yang diterapkan oleh SCTW, SOLAS, dan SMCP. Sejalan dengan penerapannya di atas laut menjadikan bahasa inggris maritim menjadi bahasa utama yang harus dikuasai oleh awak kapal sendiri dari anak buah kapal hingga kapten di atas kapal.

Berdasarkan IMO Standard Marine Communication Phrases (SMCP) IMO membagi komunikasi menjadi2 (IMO Standard Marine Communication Phrases (SMCP), 2000, p. 10), diantaranya sebagai berikut:

(26)

13

2.2.2.1 External Communication

Percakapan menggunakan VHF/HT antara kapal satu dengan kapal lainnya dan juga bisa berkomunikasi ke pelabuhan atau Vessel Traffic Sevice (VTS), yaitu pelayanan lalu lintas kapal di wilayah yang ditetapkan yang saling terintegrasi dan dilaksanakan oleh pihak berwenang.

(Dedywh, 2014)

2.2.2.2 Internal Communication

Percakapan secara langsung yang terjadi antar awak kapal yang bekerja di atas kapal.

2.2.3 Alat Komunikasi Yang Digunakkan Di Atas Kapal

Pelaut di atas kapal dalam berkomunikasi dengan kapal lain dan dengan pelabuhan membutuhkan sebuah alat komunikasi. Alat komunikasi tersebut adalah Marine VHF Radio dan HT (handy talky). Marine VHF radio dan dalam bentuk handy talky adalah alat komunikasi yang digunakkan di atas kapal, radio ini menggunakkan frekuensi VHF (Very High Frequency).

Radio VHF (Very High Frequecy) adalah Radio komunikasi VHF bekerja pada rentang 156 - 174 MHz. Sesuai aturan duplikasi, pesawat ini harus ada dua unit terpasang di kapal. Dengan duplikasi itu, jika satu unit rusak, yang satunya lagi masih bisa digunakan.

Frekuensi radio VHF ditampilkan dalam bentuk channel (kanal). Ada dua frekuensi penting pada radio VHF, frekuensi 156.525 MHz (channel 70) adalah frekuensi Digital Selective Calling (DSC), digunakan untuk

(27)

14

memancarkan distress alert. Frekuensi 156.8 MHz (channel 16) adalah frekuensi marabahaya international. Panggilan bahaya, berita bahaya dipancarkan pada channel ini saat berlayar. (Suprapto, 2019)

2.2.4 Faktor Penghambat Kemampuan Pelaut Indonesia

Menurut Kompasiana (2013), kendala utama dan paling sering dijumpai pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing adalah kemampuan bicara bahasa inggris. Penguasaan Bahasa Inggris menjadi titik lemah para pelaut kita. Saya sering melakukan interview terhadap para cadet (calon perwira kapal) dan dapat saya pastikan dari umpamanya 100 cadet yang saya interview maka hanya ada sekitar 10-15 orang yang dapat dikatakan bagus dalam berbahasa Inggris.

Lantas kemudian kenapa bahasa inggris menjadi begitu penting bagi para pelaut kita yang bekerja di atas kapal asing? Tentu saja. Karena komunikasi di atas kapal pasti menggunakan bahasa inggris, mau tidak mau mereka harus menguasainya. Selain safety training, cross culture communication, maka english mestinya menjadi sebuah kemestian bagi para pelaut kita. Mereka harus berbaur dengan berbagai pelaut lain dari beragam nationality dan budaya. Tanpa kemampuan tersebut, mereka akan gagu dan gagap di atas kapal.

Bahasa inggris yang digunakan sebagai komunikasi di atas kapal pada dasarnya sama dengan yang umumnya kita gunakan. Namun, ada beberapa perbedaan mendasar dalam budaya berucap di atas kapal. Selain itu juga ada beberapa perbedaan vocabulary.

(28)

15

Bahasa inggris memang sudah merupakan momok menakutkan bagi para pelaut kita. Ini seringkali menjadi kendala para pelaut kita berkomunikasi di atas kapal. Appraisal jelek di atas kapal seringkali dikarenakan lack of communication yang ternyata berasal dari ketidakmampuan para pelaut kita berbahasa inggris. Keliru mengartikan pesan, keliru melaporkan, keliru menerima dan menjalankan instruksi dan lain sebagainya.

Saat ini, bisa jadi Indonesia memiliki sekitar lebih dari 70 ribu pelaut aktif. Kita sudah semestinya mengungguli pelaut-pelaut asing. Asal saja kita punya kemauan dan kemampuan untuk itu. Attitude, behavior based safety, dan english knowledge harus sudah menjadi harga mati bila keinginan kita menjadi lebih unggul dari para pelaut asing tersebut. Paling tidak, kita harus mengungguli terlebih dahulu para pelaut dari India dan Filipina. Karena merekalah raja laut saat ini.

Sampai saat ini, menurut catatan KPI, ada sekitar 250 ribu pelaut Indonesia yang bekerja di berbagai kapal berbendera asing dan sekitar 35 ribu di antaranya adalah merupakan anggota KPI. Pelaut Indonesia yang bekerja di kapal berbendara asing adalah nomor tiga terbesar di dunia setelah tentu saja India dan Filipina. Dari segi jumlah, memang sudah termasuk sangat banyak. Tapi, dengan jumlah seperti itu masih tetap dirasa kurang. Lalu bagaimana dari segi kualitas? Banyak yang berkualitas, tapi serempak kita masih harus terus bekerja keras menciptakan pelaut-pelaut yang handal dan berkualitas. Bagaimana caranya? Yang dengan training dan pelatihan. Memantapkan silabus-silabus di berbagai akademi

(29)

16

pelayaran, termasuk fasilitas-fasilitasnya. Dan salah satu yang terpenting juga adalah tentu saja dengan memaksimalkan dan menggenjot kemampuan berbahasa Inggris mereka. Para pelaut kita masih kalah kalau jauh dibandingkan India dan Filipina dari segi penguasaan bahasa inggris.

2.3 KERANGKA BERFIKIR

Penulis akan memaparkan beberapa kerangka pikiran secara kronologis dalam menjawab atau menyelesaikan pokok permasalahan yang telah dibuat.

Berikut penulis sajikan kerangka pikiran sebagai berikut:

Mulai

1.2.1 Bagaimana penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal ?

1.2.2 Apa penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak kapal di atas kapal ?

Investigasi Awal Identifikasi Peraturan- peraturan (SMCP, SOLAS Chapter V Reg. 14(4), dan STCW 2010) Identifikasi

Penerapan Bahasa Inggris Maritim Di Atas Kapal

Adanya Kesenjangan Antara Kondisi Penerapan Di Atas Kapal Dengan Peraturan

Yang Berlaku Analisis Kesenjangan

Antara Kondisi Penerapan Di Atas Kapal Dengan Peraturan

Yang Berlaku

Kesimpulan

selesai

(30)

17

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Penelitian dan Jenis Penelitian

Pada peneltian karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan pendekatan dengan metode deskriptif. Menurut Sugiyono (2013 : 15) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.

Sevilla, Ochave, Regal dan Uriarte (1993 : 61) mengatakan metode deskriptif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan–

keadaan nyata sekarang. Tujuan utama dalam menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab–sebab dari suatu gejala tertentu (Pelu, 2009).

Pendekatan penelitian kualitatif dilakukan pada obyek yang alamiah yaitu obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dinamika tersebut.

Alasan tersebut penulis menggunakan jenis dan pendekatan penelitian kualitatif dikarenakan karya ilmiah ini dilakukan secara langsung di atas kapal sehingga penulis memerlukan data yang diperlukan sesuai dengan keadaan yang terjadi di atas kapal.

3.2 Lokasi Penelitian

Menurut Bogdan dan Biklen (1992), penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami yang sebagai sumber data langsung. Lokasi penelitiannya adalah di salah satu kapal

(31)

18

kontainer dimana penulis nanti akan melaksanakan praktek kerja laut (PRALA) selama 1 tahun.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Sumber data terbagi menjadi dua, yaitu : 3.3.1 Data Primer

Menurut Umar (2003 : 56), data primer adalah merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan diwawancarai. Dalam pelaksanaanya di atas kapal penulis melaksanakan interview kepada para narasumber yang bekerja di atas kapal dan manning agency sebagai perwakilan informan dari perusahaan pelayaran penulis yang berkaitan dengan penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal.

3.3.2 Data Sekunder

Menurut Sugiyono (2005 : 62), data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya peneliti harus melalui orang lain atau mencari melalui dokumen. Dalam melengkapi data penulisan karya ilmiah terapan ini penulis mencari melalui sumber-sumber referensi yang berasal dari dokumen, buku, maupun website yang berkaitan dengan penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal.

(32)

19

3.4 Metode Pengumpulan Data

Menurut Gulo (2002 : 110), metode pengumpulan data berupa suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.

Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut :

3.4.1 Teknik Wawancara (Interview)

Menurut Moleong (2000:135), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara(interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan.

3.4.2 Teknik Observasi (Pengamatan)

Menurut Moleong (2007:175), observasi atau pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan. Pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana yang dilihat subjek penelitian, hidup pada saat itu, menangkap fenomena dari segi pengertian subjek, menangkap kehidupan budaya dari segi pandangan dan panutan para subjek pada keadaan waktu itu.

(33)

20

3.4.3 Teknik Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2009: 329). Dokumen yang ditunjukkan dalam hal ini adalah segala dokumen yang berhubungan dengan kelembagaan dan administrasi, struktur manajemen dalam meningkatkan kemampuan awak kapal untuk berbahasa Inggris.

3.5 Pemilihan Informan

Pada penelitian ini, informan penelitian merupakan awak kapal di salah satu kapal niaga yang nantinya akan ditempati sebagai tempat melaksanakan praktek kerja laut (PRALA).

3.6 Teknik Analisis Data

Pengertian Analisis data kualitatif menurut Bogdan & Biklen (1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskanya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memetuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Terdapat tiga teknik analisis data kualitatif kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Proses ini berlangsung terus- menerus selama penelitian berlangsung, bahkan sebelum data benar-benar terkumpul. (Miles, Huberman, dan Saldana, 2014)

Adapun langkah-langkah teknik analisis data kualitatif, yaitu :

(34)

21

1. Kondensasi data, bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil.

2. Penyajian data, kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan.

3. Kesimpulan, hasil analisis yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan

Adapun tabel dalam pengkodean wawancara yang dilaksanakan oleh penulis kepada informan guna mengumpulkan data yang berhubungan dengan penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 3.1. Koding Wawancara

No. Jabatan Kode

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Nahkoda

Kepala Kamar Mesin Mualim I

Masinis I Bosun Mandor Juru Mudi Pelayan

Manning Agency

NAH KKM MU_I MA_I BOS MAN

JUM PEL MAY

(35)

22

Daftar Pustaka

Bogdan, Robert C. dan Biklen, S. Knopp. (1992). Qualitative ResearchforEduca tion: An Introduction to Theory andMethods, Second Edition.Boston:

Allyn and Bacon.

Gulo, W. (2002). Metode Penelitian. Jakarta: PT. Grasindo.

IMO & Rijeka College of Maritime Studies. (2000). IMO Standard Marine Communication Phrases (SMCP). Rijeka: IMO.

International Maritime Organization. (2011). STCW. London: International Maritime Organization (IMO).

Lexy. J. Moleong. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Lexy. J. Moleong. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Karya.

Sevilla CG, Ochave JA, Punsalan TG, Regala BP, Uriarte GG. (1993). Pengantar Metode Penelitian. Tuwu A, penerjemah; Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Umar, Husein. (2003). Metedologi Penelitian: Aplikasi dalam pemasaran. Jakarta:

Gramedia Pustaka Umum.

Aryani. (2012, February 09). Pentingnya Bahasa Inggris Di Era Globalisasi.

Dipetik February 11, 2020, dari Aryani's Blog:

https://aryani0194.blogspot.com/2012/10/pentingnya-bahasa-inggris-di- era_9.html

Astini, R. (2014, May 3). English Cafe. Dipetik May 24, 2018, dari Kenali

penyebab susahnya belajar bahasa inggris:

http://www.englishcafe.co.id/kenali-penyebab-susahnya-belajar-bahasa- inggris/

Australian Transport Safety Bereau. (1997, Februari 28). Marine safety investigation & reports. Dipetik Mei 23, 2018, dari Australian Transport

Safety Bereau:

https://www.atsb.gov.au/publications/investigation_reports/1996/mair/mai r97/

(36)

23

Dayat. (2016). Pentingnya Bahasa Inggris Di Kehidupan. Dipetik February 11, 2020, dari Makalah Pentingnya Bahasa Inggeris : https://serbaserbi93.blogspot.com/2016/05/makalah-pentingnya-bahasa- inggeris.html

Dedywh. (2014). VTS ( Vessel Traffic Services ). Dipetik February 11, 2020, dari Seputar Telekomunikasi : https://dedywh.blogspot.com/2014/11/vts- vessel-traffic-services.html

Kompasiana. (2013, August 20). Kemampuan Pelaut Indonesia. Dipetik February

13, 2020, dari Humaniora:

https://www.kompasiana.com/michusa/551fa1a6813311546f9de1ee/kema mpuan-pelaut-indonesia

Miles,M.B, Huberman,A.M, dan Saldana,J. 2014. Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook, Edition 3. USA: Sage Publications. Terjemahan Tjetjep Rohindi Rohidi, UI-Press.

Pelu, Z. (2009, April 8). Zoraya Pelu. Dipetik Juni 7, 2018, dari Method of Qualitative : http://zorayapelu.blogspot.com/2009/04/method-of- qualitative.html

SOLAS. (2002). Solas chapter V. Dipetik May 24, 2018, dari Regulation 14(4) -

Ships' Manning:

https://mcanet.mcga.gov.uk/public/c4/solas/solas_v/Regulations/regulation 14.htm

Suprapto. (2019, Maret 14). Radio Komunikasi Di Atas Kapal. Dipetik February

12, 2020, dari Kamus Pelaut:

https://www.kamuspelaut.com/2019/03/radio-komunikasi-di-kapal.html

Gambar

Tabel 2.1 Review Penelitian Sebelumnya
Tabel 3.1. Koding Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

For example, learning vocabulary through illustrated storybooks and learning through the surrounding environment or learning English through field trip methods or outside