• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan hukum perlindungan konsumen terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penerapan hukum perlindungan konsumen terhadap"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

1

Latar Belakang Masalah

Saat ini banyak sekali para pebisnis dan konsumen yang melakukan jual beli melalui transaksi online melalui E-COMMERCE. Dalam melakukan pembelian melalui transaksi online pasti terdapat keuntungan dan kerugian baik bagi pelaku usaha maupun pembelinya. Dan banyak pelaku usaha dan konsumen yang bertransaksi secara online, media yang digunakan oleh pelaku usaha dan konsumen untuk bertransaksi secara online.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Memberikan kontribusi dan pemikiran yang bermanfaat khususnya bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran, masukan dan informasi yang berharga serta memberikan solusi yang tepat bagi konsumen untuk melindungi diri dari inkonsistensi pasar.

Kajian Pustaka

Perlindungan hukum adalah kegiatan untuk melindungi, menegakkan dan melindungi hak asasi manusia dan kewajibannya untuk mencapai keadilan.8. Manfaat dan Kepastian Hukum Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subjek hukum sesuai dengan kaidah hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis sehubungan dengan penegakan hukum.

Metode Penelitian

Bahan hukum utama yang digunakan penulis dalam penelitian skripsi ini adalah peraturan perundang-undangan, yaitu. Sebagai cara untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikumpulkan, digunakan suatu metode khusus untuk menganalisis bahan hukum, yang diharapkan dapat memberikan prediksi tentang apa yang harus digunakan sehubungan dengan permasalahan yang bersangkutan.

Sistematis penulisan Skripsi

Pengertian Upaya Hukum

Pembinaan konsumen yang dilakukan pemerintah dilakukan oleh menteri teknis terkait dengan Pasal 29 ayat 2 UUPK. Namun dalam praktiknya, peran pemerintah dalam mengedukasi/membina konsumen belum optimal, hal ini terlihat dari rendahnya kesadaran konsumen akan hak-hak yang dimilikinya dan rendahnya keberanian konsumen untuk mengajak pelaku usaha mengadu.11. Tindakan hukum represif merupakan upaya hukum untuk menyelesaikan suatu permasalahan hukum yang telah timbul. Yang dimaksud dengan upaya hukum adalah peraturan yang diberlakukan oleh pejabat yang berwenang dan bersifat wajib. Jika dilanggar akan dikenakan sanksi. Makna hukum dapat dikaji melalui norma-norma yang terdapat dalam undang-undang dan norma-norma hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. .

Menurut Van Kan, hukum terdiri dari segala peraturan yang harus melindungi kepentingan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Leon Duguit, hukum merupakan aturan tingkah laku manusia dan apabila dilanggar maka akan menimbulkan akibat bagi orang itu sendiri.

UPAYA HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN JIKA TERJADI

Yang dimaksud dengan penyelesaian secara damai adalah penyelesaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melalui kedua pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melalui pengadilan atau badan penyelesaian sengketa konsumen dan bukannya tidak melanggar undang-undang ini. Dari pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui lembaga peradilan sebagaimana diatur dalam Pasal 45 UUPK yang menyatakan bahwa penyelesaian sengketa melalui lembaga peradilan mengacu pada ketentuan Pasal 45 di atas. Penyelesaian perselisihan yang timbul dalam dunia usaha merupakan permasalahan tersendiri karena para pelaku usaha yang menghadapi suatu perselisihan tertentu akan menghadapi proses hukum yang memakan waktu lama dan memerlukan biaya yang cukup besar, padahal penyelesaian perselisihan dalam dunia usaha yang diinginkan adalah cepat dan murah.

Lembaga penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dilaksanakan melalui BPSK dikhususkan bagi konsumen perorangan yang berselisih dengan pelaku usaha. Hal ini diterapkan BPSK karena berkomitmen menyelesaikan sengketa konsumen dalam waktu 21 hari sejak gugatan diterima.

Pengertian E- commerce

Berbagai definisi mengenai “e-commerce” dikemukakan baik dalam Rancangan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sebagai upaya pembentukan undang-undang perlindungan e-commerce, maupun dalam undang-undang perlindungan konsumen. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan perdagangan elektronik pada pasal 1 angka (2), yaitu: perdagangan elektronik adalah setiap orang yang menggunakan barang dan/jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik untuk kepentingan dirinya sendiri, keluarganya, orang lain. atau makhluk hidup lainnya dan tidak untuk diperdagangkan. Setiap pelaku yang disebut konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pengguna barang dan/atau jasa.

Pengguna Sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU Perlindungan E-commerce, kata “pengguna” bermakna e-commerce (konsumen akhir). Dalam hal ini yang dimaksud dengan “pengguna” digunakan untuk merumuskan ketentuan tersebut atau untuk menunjukkan bahwa barang dan/atau jasa yang digunakan belum tentu merupakan hasil transaksi jual beli.

Pengertian perlindungan hukum

Oleh karena itu, konsumen juga harus mencakup materi bisnis dengan makna yang lebih luas dibandingkan materi hukum. Dalam Pasal 1 angka 2 UU ITE disebutkan bahwa transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan bantuan komputer, jaringan komputer, atau media elektronik lainnya. Perlindungan hukum adalah kegiatan menjaga, melestarikan, dan melindungi hak dan kewajiban manusia guna mencapai keadilan, kemaslahatan, dan kepastian hukum. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subjek hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis dalam rangka penegakan hukum.

Bentuk perlindungan hukum

Hukum harus memberikan perlindungan kepada semua pihak, karena pada prinsipnya setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum. Tugas hukum yang pokok adalah membagi hak dan kewajiban antar individu dalam masyarakat, membagi wewenang, mengatur penyelesaian permasalahan hukum, dan memelihara kepastian hukum. Menurut N.E Algra dkk, kepastian hukum adalah kepastian tentang hak dan kewajiban, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh menurut undang-undang.22 Kepastian hukum merupakan nilai tambah dari peraturan tertulis, masyarakat lebih mudah membaca, menentukan dan memastikan apa yang dimaksud dengan kepastian hukum. kata hukum. adalah.

Pengertian Hukum perlindungan konsumen

Dengan beberapa aspek hukum tersebut di atas, dengan diundangkannya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, ketentuan dalam undang-undang ini tetap berlaku. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang memberikan kepastian hukum untuk menjamin perlindungan konsumen. Perlindungan konsumen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen dalam upaya memenuhi kebutuhannya terhadap hal-hal yang dapat merugikan konsumen itu sendiri.

Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa perlindungan konsumen adalah upaya hukum untuk menjamin kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Perluasan pemahaman terhadap hukum perlindungan konsumen ini juga berarti bahwa konsumen dapat menggugat pelaku usaha yang menimbulkan kerugian yang dialami konsumen.

Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen

Berdasarkan pengertian istilah-istilah yang terkait dengan undang-undang tentang perlindungan konsumen, maka sangat mendefinisikan tentang perlindungan hukum bagi konsumen, karena semakin luas pengertian istilah-istilah tertentu dalam undang-undang tentang perlindungan konsumen, maka semakin besar pula peluang konsumen untuk mendapatkan perlindungan hukum. Selain itu, asas keselamatan dan keamanan konsumen dikelompokkan dalam asas manfaat karena keselamatan dan keamanan konsumen itu sendiri merupakan bagian dari manfaat pelaksanaan perlindungan yang diberikan konsumen dengan kepentingan pelaku usaha secara keseluruhan. Meningkatkan kesadaran pelaku usaha akan pentingnya perlindungan konsumen guna meningkatkan sikap jujur ​​dan bertanggung jawab dalam berusaha.

Pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyangkut pembangunan nasional, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 tadi, karena tujuan perlindungan konsumen yang ada merupakan tujuan yang ingin dicapai ketika melaksanakan pembangunan di bidang hukum perlindungan konsumen. Jika keenam tujuan khusus perlindungan konsumen tersebut di atas dikelompokkan dalam tiga tujuan hukum umum, maka tujuan hukum untuk memperoleh keadilan dapat dilihat pada susunan huruf C dan E. Sedangkan tujuan pemberian manfaat terkandung di dalamnya.

Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam transaksi e-commerce

  • Penemuan Peneliti Tentang Konsumen Yang Dirugikan Dalam Transaksi

Hak untuk memulihkan nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen bukan disebabkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan; Di atas dan sejumlah Rp dua puluh dua juta dua ratus ribu delapan ratus tiga puluh empat rupiah). Bahwa tidak terlunasinya uang penggugat yang ditransfer oleh penggugat ke rekening tergugat, dengan jelas dan nyata mengakibatkan kerugian materil bagi penggugat sebesar Rp. dua puluh dua juta dua ratus ribu delapan ratus tiga puluh empat rupiah.

Bahwa penggugat melakukan kesalahan terhadap nominal pembayaran yang seharusnya dibayarkan sebesar Rp dua puluh dua juta tiga ratus tujuh puluh ribu dua ratus enam puluh tiga ribu rupiah) bukannya dua puluh dua juta dua ratus ribu delapan ratus tiga puluh empat rupiah) sesuai perhitungan penjual "ELIPA STORE". Bahwa ia melakukan kesalahan dengan mengirimkan bukti transfer ke penjual "ELIPA STORE" agar uang diterima.

Analisa Kasus Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor

Penggugat dan penjual “ELIPA STORE” belum timbul karena perintah Penggugat tidak diteruskan oleh Tergugat kepada penjual. Selain itu perlu diingat juga bahwa penggugat tidak pernah secara langsung mentransfer dana ke rekening penjual “ELIPA STORE”, seluruh pembayaran yang dilakukan penggugat adalah ke rekening Tergugat termasuk rekening Tergugat di Bank BCA cabang Kedoya Permai dengan nomor rekening atas nama PT.Tokopedia dan Berdasarkan syarat dan ketentuan angka 4 huruf D tentang Transaksi Pembelian, Tergugat tetap bertanggung jawab atas perkara tersebut. Bahwa PT.Tokopedia gagal melakukan verifikasi pembayaran yang dilakukan oleh MUHAMMAD FAISAL sehingga INVOCE dibatalkan oleh PT.Tokopedia padahal INVOCE tersebut sebenarnya dibayarkan oleh MUHAMMAD FAISAL melalui layanan e-commerce marketplace PT.Tokopedia dan tidak diteruskan ke penjual untuk diproses. sehingga hubungan hukum antara MUHAMMAD FAISAL hanya dengan PT.Tokopedia dimana hubungan hukum antara MUHAMMAD FAISAL dengan penjual tidak timbul karena penjual tidak mempunyai kewajiban akibat kesalahan verifikasi yang dilakukan oleh PT.Tokopedia.

Hal ini disebabkan oleh pembatalan INVOICE PT. Tokopedia sebagai penyedia layanan pada e-commerce marketplace yang digunakan oleh MOHAMMAD FAISAL berkewajiban mengembalikan uang yang ditransfer oleh MOHAMMAD FAISAL sebagaimana telah dijelaskan dalam fakta hukum dalam gugatan ini. Namun hingga gugatan ini diajukan, PT.Tokopedia belum mempunyai niat baik untuk mengembalikan seluruh uang yang ditransfer MUHAMMAD FAISAL kepada PT.Tokopedia.

51

  • PENGERTIAN BISNIS ONLINE
  • PENGERTIAN TRANSAKSI
  • PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
  • UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA E-COMMERCE DALAM
  • UPAYA TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK
  • UPAYA GANTI KERUGIAN DALAM SENGKETA
  • PENYELESAIAN SENGKETA DILUAR PENGADILAN (NON

Sedangkan penyelesaian sengketa secara adversarial lebih dikenal dengan penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak terlibat dalam sengketa tersebut. Dalam perspektif hukum perdata, upaya penyelesaian sengketa E-Commerce dalam transaksi bisnis online merupakan bentuk wanprestasi antara konsumen dan pemilik bisnis online. Penyelesaian perselisihan yang baik merupakan harapan setiap orang yang menghadapi perselisihan dengan pihak lain, termasuk penyelesaian perselisihan yang timbul antara konsumen dan produsen secara tepat.35.

Penyelesaian sengketa hukum bertujuan untuk memberikan solusi yang dapat menjamin terpenuhinya hak-hak kedua belah pihak yang bersengketa. Hingga saat ini, penyelesaian sengketa mengenai informasi dan transaksi elektronik secara umum berlaku, termasuk dalam hal sengketa yang timbul di dalamnya. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau yang lebih dikenal dengan Alternative Dispute Resolusi (ADR) dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Penyelesaian sengketa ini mempunyai banyak kemiripan dengan arbitrase dan juga menyerahkan kepada pihak ketiga untuk memberikan pendapatnya atas sengketa yang diajukan para pihak.

Disarankan agar pasar lebih detail dalam melakukan kesalahan aplikasi atau sistem dan sebaiknya pemerintah membuat undang-undang yang dapat melindungi hak ekonomi konsumen dan memberikan perlindungan hukum terhadap potensi kerugian yang dialami konsumen. Disarankan agar pasar lebih baik dalam kebijakan sistemnya dan mengutamakan konsumen. Lia Sautunnida, Kajian Jual Beli Melalui Internet (E-commerce), Sesuai Buku III KUH Perdata dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Julian Ding, 1999, E-commerce: hukum dan kantor, Malaysia, Sweet, dan MaxwellAsia, hal. 25 M. shidqon Prabowo, perlindungan hukum,.

Referensi

Dokumen terkait