• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan model pembelajaran berbasis masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "penerapan model pembelajaran berbasis masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

128 Wistara, Vol. 4, No. 2, September 2021

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN MEDIA VIRTUAL DALAM MENELAAH KETEPATAN

STRUKTUR DAN KEBAHASAAN TEKS PERSUASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS

VIII SMPN 4 CIMAHI

Nia Anita SMP Negeri 4 Cimahi [email protected]

Naskah masuk: Agustus disetujui: September revisi akhir: September

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dampak serta hubungan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual terhadap kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi dengan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Metode penelitian adalah Mix Method tipe The Embedded Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Cimahi, dan sampel dipilih secara acak atau (random sampling), yaitu kelas VIII K sebagai kelas eksperimen, dan kelas VIII J sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan tes dan non tes. Instrumen tes berupa tes kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi, berpikir kritis dan soal non tes berupa angket dan wawancara. Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis, diperoleh kesimpulan bahwa: Terjadi peningkatan kualitas hasil belajar yang cukup baik untuk kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi dengan media virtual dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran ekspositori (konvensional). Kemampuan berpikir kritis yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang menggunakan model pembelajaran ekspositori (konvensional. Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual berdampak terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi.

Kata Kunci: Berpikir Kritis, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Teks Persuasi.

PENDAHULUAN

Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat penting bukan hanya untuk membina keterampilan berkomunikasi melainkan juga untuk kepentingan penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui bahasalah manusia belajar berbagai pengetahuan yang ada di dunia. Adapun pembelajaran yang bermutu merupakan kondisi pembelajaran yang berorientasi pada tujuan pembelajaran.

Artinya, pembelajaran dilaksanakan benar- benar diarahkan guna mencapai

pembentukan kompetensi siswa yang dinaungi oleh prinsip pembelajaran yang tepat, dijiwai oleh pendekatan pembelajaran yang relevan, dan difasilitasi oleh metode dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, karakteristik siswa, dan konteks sosial kemasyarakatan.

Keterampilan berbahasa dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu bersifat reseptif dan produktif. Reseptif merupakan proses decoding, proses memahami apa yang dituturkan orang lain.

Reseptif meliputi keterampilan menyimak

(2)

Penerapan Model Pembelajaran…129

dan membaca. Produktif merupakan proses encoding, proses usaha mengomunikasikan ide, pikiran atau perasaan melalui bentuk- bentuk kebahasaan. Produktif meliputi keterampilan berbicara dan menulis.

Keempat keterampilan tersebut saling bertautan satu sama lain.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa keterampilan berbahasa terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok reseptif dan produktif. Reseptif meliputi keterampilan menyimak dan membaca. Produktif meliputi keterampilan berbicara dan menulis.

Salah satu keterampilan yang sering digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah keterampilan membaca. Membaca merupakan salah satu cara untuk menambah ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, dan berbagai hiburan pun bisa kita peroleh melalui membaca.

Nurgiantoro (2016: 392) mengatakan bahwa keberhasilan pendidikan seseorang ditentukan oleh kemampuan membacanya.

Kemampuan dan kemauan membaca tersebut akan memengaruhi keluasan pandangan terhadap berbagai masalah.

Dengan membaca, kita dapat memahami kehidupan manusia dibelahan dunia lain, sekaligus dengan latar belakang sosial dan kultural budaya mereka yang beragam. Bahkan bagi seorang penikmat buku, kecerdasan spiritual, budaya, sosial, dan intelektual akan semakin terasah. Tidak jarang kita temui seseorang yang berubah kehidupannya karena terinspirasi oleh kata- kata yang terkandung dalam sebuah buku yang dibacanya.

Tarigan (2008:7) mengatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang

dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Membaca dapat pula diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi

dengan diri kita sendiri dan orang lain yaitu mengomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang- lambang tertulis. Selain itu, membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses memahami yang tersirat dalam kata-kata yang tertulis.

Tujuan pembelajaran membaca di sekolah bermacam-macam sejalan dengan jenis membaca yang dibelajarkan, Nurgiyantoro (2016: 393) “mengatakan, bahwa membaca pemahaman tampaknya yang paling penting, dan karenanya harus mendapat perhatian khusus”. Kompetensi membaca pemahaman terhadap berbagai macam teks tidak akan dapat diperoleh begitu saja diperlukan usaha berupa latihan untuk meraihnya.

Dalam pelaksanaan tes kompetensi membaca kita tidak bisa mengabaikan model penilaian membaca yang dikenal dengan Programme for International Student Assessment (PISA). Ujian PISA melibatkan tiga macam kompetensi literasi yaitu membaca, matematika, dan sain. Dari semua kompetensi berbahasa, ternyata hanya kompetensi membaca yang dipilih untuk diujikan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kompetensi membaca untuk keberhasilan pendidikan dan tantangan kehidupan di kemudian hari.

Selanjutnya, Jayani (databoks: 2019) menunjukkan hasil penelitian rendahnya skor membaca di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah.

Hal ini disebabkan minat baca sangat rendah dan cenderung malas untuk membiasakan membaca. Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca. Faktor-faktor tersebut adalah (1) kemajuan teknologi, sebagian anak di era modern memiliki kecenderungan tertarik pada gawai, (2) tidak bisa memahami isi teks bacaan dengan baik, (3) kecenderungan berpikir bahwa mereka tidak mendapatkan

(3)

130 Wistara, Vol. 4, No. 2, September 2021

manfaat dari membaca, sehingga tidak perlu aktif membaca, (4) kurangnya motivasi siswa untuk membaca.

Dalam kurikulum 2013 dikatakan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Menurut Mahsun ( 2014:

231), ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 yang berbasis pada pembelajaran teks dapat diintegrasikan antara materi kesastraan dan materi kebahasaan.

Pembelajaran melibatkan kemampuan berinteraksi antara guru dan peserta didik.

Pemilihan model merupakan langkah untuk mencapai tujuan pembelajaran dan disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Guru membimbing peserta didik untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu peserta didik berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya.

Beberapa model, strategi, atau metode pembelajaran dapat diterapkan dengan mengintegrasikan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan saintifik antara lain: model pembelajaran berbasis inkuiri, model pembelajaran penemuan (discovery learning), model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), model pembelajaran berbasis proyek (project based learning), dan model pembelajaran lainnya yang relevan.

Pemilihan model pembelajaran sebaiknya bergantung pada lingkungan sekolah. Huda (2015: 143) menjelaskan,

“Model pembelajaran harus dianggap sebagai kerangka kerja struktural yang juga dapat digunakan sebagai pemandu untuk mengembangkan lingkungan dan aktivitas belajar yang kondusif”.

Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) lebih menekankan pada keaktifan peserta didik. Peserta didik dalam model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dituntut untuk aktif dalam memecahkan suatu masalah yang nyata. Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) ini bertujuan membantu peserta didik mengembangkan dan memecahkan masalah untuk berpikir kritis dan analitis, belajar sendiri, dan memperoleh pengetahuan yang luas dari materi pembelajaran yang diperolehnya. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menelaah ketepatan struktur dan kebahasaan teks persuasi.

Pada tahun pelajaran 2020/2021 merupakan tahun pelajaran yang sangat istimewa, hal ini disebabkan dengan munculnya wabah covid 19 sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak dilaksanakan secara tatap muka sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid- 1 9).

Salah satu dampak dari pandemi covid-19 ini adalah terjadi transformasi media pembelajaran yang dulu lebih banyak menggunakan system tatap muka di dalam kelas. Tapi, karena adanya pandemic covid- 19 yang penularannya secara cepat melalui kontak langsung dengan penderita, maka di larang mengadakan perkumpulan. Dunia pendidikan juga kena imbas, maka pembelajaran dilakukan secara online.

Penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Media Virtual dalam Menelaah Struktur dan Kebahasaan Teks Persuasi untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Cimahi” bertujuan untuk mengetahui

(4)

Penerapan Model Pembelajaran…131

adanya pengaruh penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual, peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik, dan dampak penggunaan model pembelajaran berbasis masalah terhadap peningkatan kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi.

METODE

Berkaitan dengan judul di dalam penelitian ini, maka metode yang digunakan adala metode penelitian campuran (mix method) dengan bentuk parallel konvergen dengan pretes dan postes kelompok eksperimen dan kontrol data kuantitatif dan kualitatif.

Metode penelitian campuran dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dengan menggabungkan kuantitatif dan kualitatif. Menurut Creswell (2017:5), penelitian metode campuran merupakan pendekatan penelitian yang melibatkan pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif, penggabungan dua bentuk data, dan penggunaan rancangan yang berbeda, yang dapat melibatkan asumsi-asumsi filosofis dan kerangka kerja teoretis. Sejalan dengan hal tersebut, Indrawan dan Yaniawati (2017:17) mengatakan bahwa mixed method reseach ternyata bisa menjadi metode yang dapat mengatasi kelemahann yang terjadi, baik dalam penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Artinya, mixed method research dapat menjawab pertanyaan penelitian yang tidak dapat dijawab oleh penelitian kuantitatif atau kualitatif.

Pada penelitian ini, penulis mengambil cara pengumpulan data dengan tes awal perlakuan, dan tes akhir pada kelompok eksperimen tes awal dan tes akhir tanpa perlakuan pada kelompok kontrol.

Penelitian ini membutuhkan dua kelas, yaitu kelas eksperimen sebagai fokus

penelitian dan kelas kontrol sebagai pembanding.

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan menggunakan model dan metode yang berbeda. Maksud diadakannya kelas kontrol adalah agar adanya kelas pembanding untuk mengetahui sejauh mana kefektifan metode yang digunakan.

Dalam hal ini dilihat perbedaan pencapaian antara kelompok eksperimen dengan pencapaian kelompok kontrol.

Selanjutnya untuk pendekatan kualitatifnya, yang akan dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif. Sugiyono, (2016:56). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi- situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata- mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling berhubungan, mentest hipotesis, atau mendapatkan makna dan implikasi walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif.

Penelitian deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan-kemampuan berpikir kritis dalam menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi serta sikap peserta didik terhadap pembelajaran dengan metode pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual.

Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 4 Cimahi, subjek yaitu SMP Negeri 4 Cimahi. Pelaksanaan penelitian disesuaikan dengan kalender pendidikan dan program pengajaran sekolah yang bersangkutan yaitu pada semester genap tahun ajaran 2020/2021.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Cimahi yang ada di kota Cimahi tahun pelajaran 2020/2021. Penelitian ini

(5)

132 Wistara, Vol. 4, No. 2, September 2021

dilakukan di SMP Negeri 4 Cimahi dengan pertimbangan bahwa sekolah ini memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk berjalannya penelitian, seperti ketersediaan media pembelajaran, untuk pemilihan sampel yang dilakukan secara random sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi dengan media virtual pada kegiatan pretest dan posttest, serta hasil observasi sikap peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

Data pretest digunakan untuk mengukur kemampuan awal peserta didik dalam menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi dengan media visual. Sedangkan data posttest diberikan untuk mengukur kemampuan peserta didik setelah diberikan perlakuan (treatment) jumlah sampel yang digunakan pada kelas eksperimen 30 peserta didik dan pada kelas kontrol berjumlah 30 peserta didik.

Sebelum melakukan analisa tersebut, akan dilakukan uji kualitas eksperimen dengan menggunakan uji variabel dan reliabilitas sebagai berikut.

1. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen sehingga layak digunakan untuk mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel secara tepat. Formula yang digunakan dalam mengukur validitas instrumen dalam penelitian ini mengenai klasifikasi koefisien validitas soal yang digunakan kriteria menurut Guilford dalam Lestari dan Yudhanegara (2015:193). Berikut adalah hasil uji validitas menggunakan aplikasi SPSS 25.0.

Tabel 4.1

Uji Validitas Instrumen No

So al

Subno mor Soal

𝒓𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈 𝒓𝒕𝒂𝒃𝒆𝒍 Keteran gan

1 0,413 0,306

(diam bil dari r

tabel 𝑑𝑓 = 28)

Valid

2

a 0,428 Valid

b 0,742 Valid

c 0,374 Valid

d 0,446 Valid

e 0,780 Valid

Berdasarkan tabel tersebut diperoleh hasil uji validitas pada aspek struktur dan kebahasaan teks persuasi yang dijadikan instrumen penelitian. Pada tabel tersebut terlihat bahwa aspek-aspek yang dijadikan instrumen penelitian memiliki koefisien validitas yang dinyatakan oleh nilai korelasi yang lebih besar. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 5% (α = 0,05) dan 𝑑𝑓 = 𝑛 − 2 dengan 𝑛 adalah banyaknya data. 𝐻0

diterima jika 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔> 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 . Mengacu pada hal tersebut aspek-aspek yang diujikan valid dan dilayak digunakan dalam penelitian

2. Uji Reliabilitas

Hasil uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui tingkat keterandalan suatu instrumen penelitian. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai pengumpul data, karena instrumen tersebut sudah baik, tidak bersifat tendensius.

Datanya memang sesuai kenyatan hingga beberapa kali digunakan, hasilnya akan tetap sama. Rumus yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah rumus cornbatch alpha.

Dengan bantuan spss 25.0. diperoleh hasil uji reliabilitas instrumen penelitian menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi yang ditunjukkan dalam tabel berikut,

(6)

Penerapan Model Pembelajaran…133

Tabel. 4.2 Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's

Alpha N of Items

.529 6

Hasil pengujian reliabilitas menunjukkan bahwa nilai cornbatch alpha pada instrumen penelitianlebih besar dari r- tabel. Hal tersebut menunjukkan bahwa instrumen memiliki nilai cornbatch alpha 0,529. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap item yang ada memiliki alat ukur yang konsisten dan variabel dengan tingkat kehandalan yang tinggi.

3. Analisis Hasil Data Penelitian dan Pembahasan

Analisis data dilakukan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam pembelajaran menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi dan dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi dengan media visual dan dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

Data yang diolah dalam penelitian ini meliputi data kualitatif dan data kuantitatif.

Data kualitatif berupa lembar observasi yang berisi catatan mengenai pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dengan menerapkan media visual Google Classroom, angket penerapan media Google Classroom, serta hasil wawancara tentang pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman menggunakan media Google Classroom. Sedangkan, data kuantitatif pada penelitian ini berupa data nilai pretest dan

nilai posttest menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi.

Berikut ini rekapitulasi nilai pretest dan nilai posttest menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Tabel 4.3

Rekapitulasi Nilai Pretest dan PosttestKelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

N o

Kode Peser

ta didik

Kelas Eksperim

en Kode Peser

ta didik

Kelas Kontrol Pre

- tes t

Pos t- test

Pre - tes t

Pos t- test 1 E1 87 97 K1 90 90 2 E2 53 83 K2 60 63 3 E3 80 83 K3 77 77 4 E4 83 77 K4 90 50 5 E5 73 57 K5 73 90 6 E6 70 70 K6 93 93 7 E7 70 83 K7 47 87 8 E8 70 90 K8 63 63 9 E9 93 93 K9 83 73 10 E10 90 93 K10 77 77 11 E11 80 90 K11 67 90 12 E12 93 73 K12 73 77 13 E13 63 97 K13 77 73 14 E14 80 87 K14 90 73 15 E15 67 80 K15 77 90 16 E16 87 57 K16 83 87 17 E17 80 77 K17 63 77 18 E18 83 80 K18 73 70 19 E19 83 87 K19 43 73 20 E20 70 87 K20 73 93 21 E21 83 73 K21 60 60 22 E22 67 77 K22 77 77 23 E23 57 80 K23 57 73 24 E24 73 50 K24 83 83 25 E25 80 93 K25 73 67 26 E26 60 90 K26 70 73 27 E27 47 90 K27 83 67

(7)

134 Wistara, Vol. 4, No. 2, September 2021

28 E28 80 93 K28 83 57 29 E29 70 67 K29 80 77 30 E30 77 60 K30 70 73 Rata-rata 75 80 74 76

Hasil data tes awal tes akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dianalisis untuk mengetahui kemampuan menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi peserta didik sebelum dan sesudah dilakukan penelitian.

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat diketahui dari 30 sampel yang sudah dianggap memenuhi semua kriteria (Struktur terdiri dari; pengenalan isu, rangkaian argumen, pernyataan ajakan, dan penegasan ulang. Kebahasaan teks persuasi terdiri dari; pernyataan bersifat bujukan, fakta dan opini, penggunan kata teknis/istilah, penggunaan kata penghubung, penggunaan kata kerja, dan penggunaan kata rujukan). Dari aspek- aspek tersebut yang dianalisis 10%, Yang paling baik, baik, sedang dan kurang.

Tabel 4.4

Rekapitulasi Nilai Pretest dan Posttes Kemampuan Berpikir Peserta Didik di

Kelas Eksperimen

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa persentase pretest kemampuan berpikir kritis di kelas eksperimen sebanyak 77% dan persentase posttest kemampuan berpikir kritis di kelas eksperimen sebanyak

78% . Hal ini menunjukkan ada kenaikan 1%

setelah peserta didik mendapat perlakuan berupa model pembelajaran berbasis masalah.

Pada setiap indikator mengalami kenaikan, indikator pertama mengevaluasi mengalami kenaikan sebanyak 3%, indikator kedua mengidentifikasi mengalami kenaikan 3%, indikator ketiga menghubungkan mengalami kenaikan 3%, indikator keempat menganalisis mengalami kenaikan 3%, indikator kelima tidak mengalami kenaikan antara pretest dan posttes sama

Tabel 4.5

Rekapitulasi Nilai Pretest dan Posttes Kemampuan Berpikir Peserta Didik di

Kelas Kontrol

N o

Pretest Posttest

Indikator

Jml Sk or

Pers en- tase Jawa b-an

Jml Sk

or

Perse n-tase Jawab

an

1

Mengevalu

asi 126 84% 110 73%

2

Mengidenti

fikasi 97 65% 118 79%

3 Menghubu

ngkan 118 79% 110 73%

4 Menganalisi

s 96 64% 97 65%

5

Memecahka

n masalah 119 79% 124 83%

Jumlah 556 74% 559 75%

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa persentase pretest kemampuan berpikir kritis di kelas kontrol sebanyak 74% dan persentase posttest kemampuan berpikir kritis di kelas kontrol sebanyak 75% . Hal ini menunjukkan ada kenaikan 1% setelah peserta didik mendapat pembelajaran dengan model konvensional.

Pada setiap indikator ada yang mengalami kenaikan, tetap, dan penurunan

(8)

Penerapan Model Pembelajaran…135

indikator pertama mengevaluasi mengalami penurunan sebanyak 11%, indikator kedua mengidentifikasi mengalami kenaikan 11%, indikator ketiga menghubungkan mengalami penurunan sebesar 5%, indikator keempat menganalisis mengalami kenaikan 1%, indikator kelima mengalami kenaikan 3%.

Data observasi guru dalam melaksanakan pembelajaran menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi sudah berjalan dengan baik. Hal ini ditandai dengan persentase 94% dengan rata-rata nilai 4,7 kategori sangat baik.

Jika dibandingkan persentase antara pertemuan pertama, yaitu 88% dengan pertemuan kedua, yaitu 94 % maka terdapat peningkatan persentase aktivitas guru sebesar 6%. Hal ini disebabkan pada pertemuan pertama peserta didik belum maksimal terkondisikan. Pada pertemuan kedua guru dan peserta didik mulai nyaman ketika pembelajaran berlangsung.

Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk merekam fenomena yang terjadi dalam proses pembelajaran, format observasi aktivitas pembelajaran yang digunakan adalah format observasi terstruktur. Format observasi tersebut berupa pemantauan terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Fokus observasi pada aktivitas guru dan peserta didik adalah sejauh mana respon yang diberikan peserta didik terhadap aktivitas pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah.

Rerata sikap peserta didik berdasarkan indikatornya, yaitu sikap peserta didik terhadap pelajaran bahasa Indonesia (3,54), terhadap pembelajaran bahasa Indonesia ( Menelaah Struktur dan Kebahasaan Teks Persuasi ) dengan model pembelajaran berbasis masalah (3,56), dan terhadap soal- soal menelaah struktur dan kebahasaan teks

persuasi dan berpikir kritis ( 3,73), lebih besar dari netralnya (3), sehingga secara keseluruhan pun sikap peserta didik tersebut lebih besar dari skor netral, artinya sikap peserta didik adalah positif.

Dari hasil wawancara peneliti dapat menganalisis mengenai respon peserta didik terhadap pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dan kesukaan terhadap berpikir kritis dan soal- soal berpikir kritis. Respon peserta didik terhadap pembelajaran berbasis masalah menerima dengan positif, mereka merasa senang terhadap pembelajaran sehingga bersungguh-sungguh mengikuti pembelajaran, hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa peserta didik yang penulis wawancara.

SIMPULAN

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual telah dilaksanakan di kelas eksperimen dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri atas: (1) orientasi peserta didik pada masalah; (2) mengorganisasikan peserta didik untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan individu dan kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Hal itu sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran oleh Arends dalam Ngalimun (2016: 124).

Yang menjadikan penerapan model ini berbeda dari penerapan pembelajaran berbasis masalah pada umumnya adalah penggunaan media virtual dalam pembelajaran, dengan mengacu pada Pannen (1999) “Virtual Learning mengacu pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas maya yang berada dalam cyberspace melalui jaringan internet” Karakteristik dari pembelajaran jarak jauh adalah adanya keterpisahan, baik ketepisahan secara fisik, psikologis maupun komunikasi, antara

(9)

136 Wistara, Vol. 4, No. 2, September 2021

pengajar dan peserta belajarnya”.

Sebagaimana dikatakan oleh Moore (1983).

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Media Virtual dalam Menelaah Struktur dan Kebahasaan Teks Persuasi untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas VIII di SMP Negeri 4 Cimahi tahun ajaran 2020/ 2021 maka diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut.

1. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik.

2. Kemampuan berpikir kritis yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang menggunakan model pembelajaran ekspositori (konvensional).

3. Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual berdampak terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 4

4. Berdasarkan hasil analisis, wawancara, dan observasi didapatkan hasil bahwa peserta didik yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan media virtual lebih aktif dalam belajar, baik aktif dalam bertanya, menjawab ataupun menyelesaikan permasalahan yang diberikan, peserta didik mempunyai kebebasan dalam berpendapat.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. Dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi ketiga. Jakarta:

Balai Pustaka.

Daryanto. (2013). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:

Gava Media.

Helmawati. (2019). Penilaian Pembelajaran Berbasis HOTS. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Heriawan, Adang. Dkk. (2013). Metodologi Pembelajaran Kajian Teori dan Praktis.

Banten: LP3G (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Profesi (Guru).

Hidayati, Panca Pertiwi. (2020). Pedoman Penulisan Tesis. Bandung: Prodi Magister Bahasa dan Sastra Indonesia Pascasarjana Universitas Pasundan.

Hidayati, Panca Pertiwi. (2018). Pembelajaran Menulis Esai Berorientasi Peta Berpikir Kritis. Bandung: Pelangi Press.

Huda, Miftahul. (2015). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Malang:

Pustaka Pelajar.

Indrawan, Rully dan Poppy Yaniawati. ( 2014). Metodologi Penelitian. Bandung:

Refika Aditama.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. ( 2018). Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. (2008). Jakarta: Balai Pustaka Keraf, Gorys (2011). Argumentasi dan narasi.

Jakarta: Gramedia.

Kosasih, E. (2016). Bahasa Indonesia Kelas VIII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Kosasih, E. (2016). Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VIII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Kosasih, E. Endang Kurniawan. (2016) Jenis- Jenis Teks, Fungsi, Struktur, dan Kaidah Kebahasaan. Bandung: Yrama Widya.

Kunandar. (2013). Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum Suatu Pendekatan Praktisi. Jakarta:

Rajagrafindo

(10)

Penerapan Model Pembelajaran…137

Mahmudd. (2011). Metode Penelitian.

Bandung: Pustaka Setia.

Mahsun. (2012). Metode Penelitian Bahasa Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Mahsun. (2014). Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Moleong, J.L. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Mulyadi, Yadi dkk. (2016). Intisari tata bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA.

Bandung; Yrama Widya.

Muslihudin. Ade Sudrajat, dan Ujang Hendra. (2012). Revolusi Mengajar.

Bandung: HPD Press.

Nurdiana, Dwi Rita. (2018). Keterampilan berpikir Kritis dalam Kurikulum 2013.

https://radarsemarang.com/2018/05 /19/keterampilan-berpikir-kritis- dalam-pembelajaran-bahasa- indonesia-k13/

Nurgiyantoro, Burhanudin. (2016). Penilaian Pembelajaran Berbasis Kompetensi.

Yoyakarta: BPFE.

Ratnasari, Ririk. (2019). Membangun Keterampilan Berpikir Kritis melalui Bahasa.

https://www.kompasiana.com/riek /5cc1c2b495760e0c4402c292/

membangun-keterampilan-berpikir- kritis-melalui-bahasa?page=all

Rachmawati, Tutik. Daryanto. (2015). Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik. Yogyakarta: Gava Media Riduwan. (2008). Dasar-Dasar Statistika.

Bandung: Alfabeta.

Sa’ud, Udin Syaefuddin. (2008). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. (2017). Statistika untuk Penelitian.

Bandung: Alfabeta.

Tarigan, Henry Guntur. (2015). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan. Bandung:

Angkasa.

Waluyo, Budi. (2018). Bahasa dan sastra Indonesia untuk kelas VIII SMP dan MTs.

Solo; Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Waridah, Ernawati. (2017). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung: Ruang Kata.

https://serupa.id/teks-persuasif-

pengertian-struktur-ciri-jenis-kaidah- langkah/

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan atau pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah sebagai upaya membentuk sikap demokratis peserta didik Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah sebagai upaya