Pemerkosaan termasuk dalam kategori kejahatan moral yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebenarnya telah mengatur ketentuan mengenai sanksi pidana bagi pelaku kekerasan seksual, namun pada kenyataannya kejahatan tersebut masih saja terjadi. Antisipasi tindak pidana perkosaan meliputi berfungsinya instrumen peradilan pidana secara efektif oleh penegak hukum dan upaya penanganan perilaku yang melanggar hukum secara preventif dan represif.
Hal ini diperlukan agar proses peradilan penyelesaian perkara pidana perkosaan dapat mencapai keadilan dan pelakunya dapat dikenakan sanksi pidana. Pada dasarnya seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dapat dikenakan sanksi pidana apabila perbuatannya memenuhi unsur-unsur tindak pidana. Unsur-unsur tindak pidana yang harus dipenuhi antara lain perbuatan yang sesuai dengan rumusan undang-undang dan melawan hukum serta dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dianggap cakap untuk mempertanggungjawabkannya.
Tindak pidana pencabulan dengan kekerasan diatur dalam pasal 285 dan pasal 289 KUHP yang berbunyi: “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang perempuan melakukan hubungan seksual dengannya di luar nikah, diancam melakukan perbuatan cabul. tindak pidana maksiat, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Pasal 285 KUHP Terhadap Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Anak Kandung (Penyidikan Polresta Malang)”. Bagaimana peninjauan KUHP dengan menerapkan Pasal 285 KUHP pada tindak pidana pemerkosaan anak kandung di Polres Malang.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bentuk perlindungan hukum apa yang ditawarkan di Polres Malang kepada anak korban pemerkosaan yang dilakukan oleh pelaku dalam hubungan keluarga? Seluruh rangkaian kegiatan dan hasil penelitian ini diharapkan dapat semakin memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari pada perkuliahan hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Malang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi pemerintah dalam upaya meningkatkan perlindungan hukum dalam hal pemenuhan hak-hak korban perkosaan yang mengalami penyimpangan seksual dalam hubungan keluarga.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi data yang bermanfaat bagi peningkatan perlindungan hukum bagi korban dalam pemenuhan hak-haknya.
Metode Penelitian
Jenis penelitian hukum adalah penelitian sosiologi hukum yang dilakukan langsung pada tempat atau objek penelitian yang ingin melihat korelasinya atau objek penelitian yang ingin melihat korelasi antara hukum dan masyarakat sehingga mampu mengukur efektivitas hukum. penerapan hukum dalam masyarakat dan mengidentifikasi hukum tidak tertulis yang berlaku dalam masyarakat, maka dalam penelitian sosiologi ini yang mula-mula diteliti adalah data sekunder yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian data primer di lapangan tentang masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian yang berupaya mendeskripsikan tindak pidana apa saja yang terjadi dan modus operandinya. Dalam penulisan undang-undang ini, penulis memilih lokasi penelitian untuk memperoleh data-data yang diperlukan untuk membantu penulisan undang-undang ini, yaitu di Unit PPA Polres Malang yang beralamat di Jalan Ahmad Yani N0 1 Kepanjen Malang di Unit PPA Polres Malang yaitu satuan kepolisian. yang menangani masalah kekerasan terhadap anak.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan informasi seakurat mungkin tentang orang, kondisi atau gejala lainnya. Melakukan penelitian deskriptif tidak hanya sebatas pengumpulan dan pengumpulan data saja, tetapi juga mencakup analisis dan interpretasi data sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan yang dapat dijadikan dasar penelitian. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan hukum empiris yaitu penelitian yang menekankan pada ilmu hukum, dan juga mencoba mengkaji peraturan-peraturan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Pendekatannya, penelitian ini juga memerlukan data lapangan berdasarkan pengalaman nyata. mereka kemudian digunakan untuk menganalisis data dan menarik kesimpulan terkait dengan masalah yang diteliti. Kami berharap Anda dapat mempelajari peraturan perundang-undangan yang berlaku khususnya melalui pendekatan hukum empiris ini.
-Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam undang-undang. -Hukum dapat diterapkan dalam peninjauan dan pembahasan permasalahan penelitian dan penyelesaian perkara pidana yang melibatkan banyak korban kejahatan yang tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai. Kemudian pada Pasal 76D Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang. di dalamnya juga disebutkan bahwa “Setiap orang dilarang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memaksa seorang anak melakukan persetubuhan dengan dirinya atau orang lain.”
Kemudian Pasal 76D UU Perlindungan Anak menegaskan bahwa yang menjadi korban adalah anak-anak. Dalam Pasal 81 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ditegaskan bahwa ancaman pidana. Pada tahun 2016, dilakukan perubahan lebih lanjut terhadap undang-undang perlindungan anak dengan diundangkannya Undang-undang No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam Undang-Undang pasal 81 diubah.
Merupakan sejumlah informasi atau fakta yang diperoleh secara langsung melalui penelitian lapangan, baik dengan melakukan wawancara terhadap responden dalam penelitian. Untuk memperoleh data primer digunakan alat pengumpulan data berupa wawancara yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab kepada pihak yang berkompeten di Polres Malang. Penulis menggunakan model analisis interaktif (interactive model of analysis), yaitu data yang terkumpul akan dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Dalam model ini dilakukan proses yang bersiklus antar tahapan, sehingga data yang terkumpul saling terkait dan benar-benar merupakan data yang mendukung penyusunan laporan.
Orisinalitas Penelitian
- Pemanggilan
- Penahanan
- Penyitaan
- Ringkasan Keterangan Saksi-saksi
- PEMBAHASAN 1. ANALISA KASUS
Pada Selasa, 5 November 2019, korban menceritakan kepada calon suaminya bahwa tersangka mengajak korban bertemu di Penginapan Gaya Baru, Jalan DR. Sayangnya, lebih lanjut, karena calon suami korban sebelumnya mengetahui korban sering berhubungan intim dengan tersangka, maka ia berkoordinasi dengan pihak keluarga yang juga berkoordinasi dengan anggota polisi, hingga mendatangi Penginapan Gaya Baru. Jalan Dr. Sayangnya, setelah tersangka mengetuk pintu dan membukanya, tersangka langsung diamankan petugas polisi, sedangkan korban yang menangis di dalam kamar langsung dibawa pergi oleh keluarga dan juga calon suaminya. SOFI Binti ADBUL JALIL, Perempuan, lahir di Pasuruan, 12 Juni 2005, Agama Islam, Pekerjaan Pribadi, Alamat Dsn.. 03 Ds. Kecamatan Sekarmojo. Kecamatan Purwodadi. Bahwa persetubuhan yang dilakukan tersangka terhadap korban, mula-mula pada tanggal dan tanggal 2018, dan terakhir pada Kamis, 31 Oktober 2019, yakni di Penginapan Gaya Baru Jl. Dr.
Bahwa tersangka melakukan persetubuhan dengan korban dengan cara menurunkan celana dan celana korban, kemudian tersangka langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina korban hingga tersangka puas dan mengeluarkan sperma pada sprei tersebut. Bahwa tersangka mengancam korban jika tidak mau, tidak merestui hubungan korban dengan calon suaminya, dan korban tidak menceritakan apa yang telah dilakukan tersangka kepada korban. Bahwa hubungan seksual yang dilakukan tersangka kepada korban pertama kali pada tanggal dan tanggal 2017, kemudian terakhir pada Kamis, 31 Oktober 2019 yang terjadi di Penginapan Gaya Baru Jl. Dr.
Bahwa korban merasa malu dan syok setelah kejadian tersebut. 11. Bahwa korban saat itu berumur 14 tahun. SOFI Binti ADBUL JALIL, Perempuan, lahir di Pasuruan, 12 Juni 2005, Agama Islam, Pekerjaan Swasta, Alamat Dsn. Bahwa yang melakukan persetubuhan dengan saksi korban adalah laki-laki bernama ABDUL JALIL, panggilan sehari-hari JALIL, tempat lahir di Pasuruan, 27 Februari 1976, umur 43 tahun, jenis kelamin Laki-laki, agama Islam, pribadi, kewarganegaraan Indonesia, alamat dll. .
Bahwa persetubuhan yang dilakukan tersangka dengan korban awalnya terjadi pada Kamis, 31 Oktober 2019 dan selanjutnya bertempat di Penginapan Gaya Baru Jl. Nama : ABDUL JALIL, panggilan sehari-hari JALIL, Tempat lahir Pasuruan, 27 Februari 1976, umur 43 tahun, Jenis Kelamin Laki-laki, Agama Islam, Swasta, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat, dll. tak lain adalah putri kandungnya, SOFIYA DEWI LESTARI Als.
Bahwa peristiwa persetubuhan yang dilakukan tersangka terhadap korban dilakukan sejak tahun 2018 hingga peristiwa terakhir yang dilakukan tersangka pada Selasa, 5 November 2019 di Penginapan Gaya Baru yang berlokasi di Jl. Bahwa tersangka melakukan persetubuhan secara paksa dengan korban sambil menangis, tersangka terus memaksa korban.
WAKTU KEJADIAN
TEMPAT KEJADIAN
TERSANGKA
PERSANGKAAN PASAL
- ANALISA YURIDIS B. Analisa Yuridis
- Unsur setiap orang
- Unsur Dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak
- Unsur Untuk melakukan Persetubuhan dengannya atau dengan orang lain
- Unsur Untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul
25. serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengan dirinya atau orang lain atau melakukan atau membenarkan perbuatan cabul. A. LESTARI menjelaskan, tersangka ABDUL JALIL telah melakukan persetubuhan dan perbuatan cabul terhadap saksi korban SOFIYA DEWI LESTARI. Bahwa terdapat tindak pidana persetubuhan dengan anak di bawah umur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1), (2), dan (3) juncto Pasal 76D dan/atau Pasal 82 ayat 1 juncto Pasal 76E UU .
23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang dilakukan tersangka ABDUL JALIL pada Selasa 28 Mei 2019. Bahwa benar dia adalah pelaku tindak pidana hubungan seksual dengan anak di bawah umur dari Pasal 81 ayat (1), (2 ) dan (3) Bukan Pasal 76D dan/atau Pasal 82 (1) Bukan Pasal 76E UU. Perbuatan tersangka telah melakukan tindak pidana persetubuhan dengan anak di bawah umur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1), (2), dan (3) jo Pasal 76D dan atau Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76E UU tersebut. . .
Sistematika Penulisan
PENDAHULUAN
TINJAUAN PUSTAKA
Bab kedua mengandungi dua sub-bab iaitu kerangka teori dan kerangka pemikiran.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
KESIMPULAN DAN SARAN
PENUTUP
Saran
Upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap korban kejahatan perkosaan adalah: upaya rehabilitasi baik di dalam maupun di luar lembaga, upaya perlindungan terhadap pemberitaan identitas melalui media massa dan menghindari pelabelan, memberikan jaminan keamanan bagi korban. saksi dan ahli baik fisik, psikis, maupun sosial serta memberikan akses informasi mengenai perkembangan perkara.Disarankan kepada aparat penegak hukum untuk memberikan perlindungan anak kepada korban perkosaan dengan memperhatikan hak-hak korban, sehingga korban dapat dipastikan akan mendapatkan rehabilitasi mental dan sosial. Disarankan agar pemerintah menyediakan sarana dan prasarana untuk pemulihan anak korban pemerkosaan agar para korban dapat melanjutkan kehidupannya di masa depan. Abdul Wahid, Muhammad Irfan, Muhammad Tholchah Hasan “Melindungi korban kekerasan seksual: advokasi hak asasi manusia.