• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

APLIKASI PEMBELAJARAN BERASASKAN MASALAH DALAM MENINGKATKAN KEUPAYAAN BERFIKIR KRITIKAL PELAJAR BIOLOGI KELAS VIII/B MTs LENGKOK LENDANG PADA. Penyelidikan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran berasaskan masalah dalam meningkatkan keupayaan pemikiran kritis pelajar kelas VIII/B biologi di MTs Lengkok Lendanng pada tahun akademik 2018/2019.

Rumusan Masalah

Mengikuti penelitian untuk mendapatkan kemampuan pemecahan masalah yang baik, peneliti tertarik untuk mengeksplorasi penggunaan model pembelajaran berbasis masalah berpikir kritis. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti akan melakukan penelitian pada tahun pelajaran 2018/2019 dengan judul: „‟Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis VIII/B Mts Lengkok Lendang.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Pembelajaran Berbasis Masalah

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa melakukan aktivitas. Pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis biologi tingkat tinggi siswa SMP.

Kemampuan Berpikir Kritis a. Kemampuan Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Berpikir kritis adalah proses terorganisir yang memungkinkan siswa mengevaluasi bukti, asumsi, logika, dan bahasa yang mendasari pernyataan orang lain.

Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Hakikat sains:
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Hakikat sains:

Sasaran Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B MTs Lengkok Lendang yang berjumlah 26 siswa, terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan setiap siklus penelitian tindakan terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

RencanaTindakan

Data tingkat keterampilan berpikir kritis siswa kelas VIII MT Lengkok Lendang dikumpulkan dengan memberikan tes uraian pada setiap akhir siklus pengajaran. 36 Normaya Karim, Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Jucama Di SMP, vol.

Tabel 3.1  Kategori Keterlaksanaan RPP
Tabel 3.1 Kategori Keterlaksanaan RPP

Indikator Keberhasilan

  • Sejarah Berdirinya MTs Lengkok Lendang
  • Letak Geografis
  • Keadaan guru dan pegawai MTs Lengkok Lendang Lombok timur
  • Struktur organisasi MTs Lengkok Lendang Lombok Timur

Untuk lebih jelas mengenai lokasi geografi MTs Lengkok Lendang dan sekatan lokasi boleh dilihat di Lampiran 10. Dalam kes ini, MTs Lengkok Lendang Kampung Mamben Lauk mempunyai bilangan guru yang mencukupi iaitu seramai 16 orang. Guru Biologi yang mengajar di sekolah MT Lengkok Lendang seramai 100 orang berstatus S1.

Yang terdiri dari 23 siswa kelas 1, 26 siswa kelas 2 dan 45 siswa kelas 3. 39 Data siswa dan nama siswa dapat dilihat pada lampiran 13. Dalam suatu instansi baik swasta maupun negeri pasti terdapat struktur organisasi sekolah untuk mendukung semua jenis pekerjaan dengan baik sehingga setiap tugas tidak tumpang tindih. Mengenai struktur organisasi Mts Lengkok Lendang dapat dilihat sebagai berikut: Struktur organisasi Mts Lengkok Lendang tahun ajaran 2019.

Hasil Penelitian

  • Deskrifsi Siklus I
  • Pertemuan Ketiga
  • Siklus II
  • Pertemuan pertama a) Kegiatan Awal
  • Pertemuan kedua
  • Tahap Refleksi

Guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (LPP) yang disusun oleh peneliti. Materi yang disampaikan pada pertemuan pertama sama dengan materi yang disampaikan pada pertemuan kedua. Guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (LPP) yang disusun oleh peneliti.

Pertemuan ketiga lebih sederhana, karena pada akhir kegiatan proses pembelajaran akan diadakan evaluasi terhadap materi yang disampaikan pada pertemuan pertama dengan materi yang disampaikan pada pertemuan kedua. Pada pertemuan ketiga ini guru melakukan proses pembelajaran sesuai dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan tersebut. Guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (LPP) yang disusun oleh peneliti.

Pertemuan ketiga ini lebih sederhana karena pada akhir kegiatan proses pembelajaran akan diadakan evaluasi terhadap materi yang telah disampaikan. Pada pertemuan ketiga ini guru melakukan proses pembelajaran sesuai dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan pertama dan kedua. Setelah memberikan penguatan materi, guru melanjutkan dengan memberikan soal evaluasi kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari pada siklus II dan sejauh mana penerapan pembelajaran berbasis masalah mampu meningkatkan kemampuan siswa. ' kemampuan berpikir kritis.

Pembahasan

Keterlaksanaan RPP

Hal ini ditunjukkan, guru merencanakan dan mempersiapkan dengan baik, guru mampu memotivasi dan menghargai siswa, guru mampu menciptakan kondisi kelas yang kondusif, guru memberikan pengarahan saat membuat tugas, guru memberikan umpan balik atas hasil pekerjaannya, guru mengakhiri pembelajaran dengan baik. Guru tidak menanyakan kepada siswa apakah siswa paham dengan LKS, guru hanya fokus pada siswa yang mampu, sedangkan siswa kurang bingung dalam berpikir kritis, guru kurang menyesuaikan dengan kondisi siswa, guru tidak tidak memberikan penguatan langsung dalam pembekalan selama diskusi. Hal ini bertujuan agar guru memiliki motivasi dan persepsi yang lebih menarik lagi sehingga siswa tertarik untuk memperhatikan penjelasan guru, guru melaksanakan pembelajaran sesuai RPP, guru dapat membimbing siswa yang kurang mampu atau kurang mampu. /lambat guru mengarahkan dengan baik bagaimana pembelajaran dapat diterapkan dengan cara berbasis masalah agar siswa dapat berpikir kritis.

Aktivitas Belajar Siswa

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan prosedur penelitian yang telah ditetapkan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MTs Lengkok Lendang diketahui bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran biologi melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat dikatakan berhasil yang ditunjukkan dengan peningkatan keaktifan siswa pada setiap siklus dan peningkatan prestasi belajar yang dilihat dari hasil persentase ketuntasan siswa pada setiap siklus. Hal ini bertujuan, siswa duduk tidak teratur, kondisi awal siswa cukup baik dan anak tampak bersemangat menerima pembelajaran, lama kelamaan siswa tidak dapat diatur dan siswa tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan guru, siswa terpengaruh oleh kondisi di luar kelas. kelas selama proses pembelajaran, ada siswa yang mengerjakan tugas dan tidak, satu siswa menghargai pendapat siswa lain dalam diskusi kelas dan beberapa teman ribut dalam diskusi kelas.

Hal ini bertujuan agar siswa duduk dengan tertib, kondisi awal siswa cukup baik dan anak tampak bersemangat dalam belajar, siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru, siswa termotivasi untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru. guru, siswa tidak terpengaruh dengan kondisi di luar kelas selama proses pembelajaran, siswa tidak bermain dengan teman lain saat mengerjakan tugas, siswa berkonsultasi hasil pekerjaannya dengan guru, siswa mengerjakan tugas, salah satunya siswa menghargai pendapat siswa lain dalam diskusi kelas. Pada siklus II pertemuan pertama diperoleh hasil 83,33 termasuk dalam kategori sangat aktif hal ini ditunjukkan dengan siswa duduk diam kondisi awal.

Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

Pada siklus I terdapat 26 siswa yang mengikuti tes Essay, siswa I mendapat nilai tinggi, 9 siswa mendapat nilai sedang, 13 siswa mendapat nilai rendah, 3 siswa mendapat nilai sangat rendah, rata-rata nilai 41,53 jika membayar. Perhatian Dari penerapan pembelajaran berbasis masalah dan keterampilan berpikir kritis dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki nilai bawaan di atas aktif dalam kerja kelompok dan memang anak ini memusatkan perhatiannya dalam menerima pembelajaran sedangkan yang lain kurang memperhatikan dan memang anak ini agak kurang/lambat belajar, dan ini adalah orang-orang dengan nilai terendah atau di bawah rata-rata. Berpikir kritis pada siklus II termasuk kategori tinggi dan sangat tinggi, hal ini dikarenakan siswa duduk dengan tenang, kondisi awal siswa cukup baik dan anak bersemangat untuk diajar, siswa menanggapi pertanyaan dari guru, siswa termotivasi untuk bertanya kepada guru, siswa tidak mempengaruhi keadaan di luar kelas selama proses pembelajaran, siswa tidak bermain dengan teman lain saat mengerjakan tugas, siswa berkonsultasi hasil pekerjaannya dengan guru, siswa melaksanakan tugas, menghormati satu sama lain siswa lain pendapat siswa lain dalam diskusi kelas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Dapat diketahui bahwa setelah menganalisis hasil tes essay kemampuan berpikir kritis siswa, dapat diketahui bahwa tingkat kemampuan berpikir kritis setiap siswa berbeda-beda, ada tingkatan kemampuan berpikir kritis siswa, sedang, rendah, sangat rendah. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilihat dari data observasi pelaksanaan pembelajaran dan tes uraian yang dilakukan.

Dengan demikian, penggunaan pembelajaran berbasis masalah melibatkan siswa yang berperan aktif dalam proses belajar mengajar, dan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa VIII. kelas MTS Lengkok Lendang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa “implementasi pembelajaran berbasis masalah” dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi sistem gerak kelas VIII MT Lengkok Lendang mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi sistem gerak kelas VIII MTs Lengkok Tengak.

Saran

Guru hendaknya benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya sebelum pembelajaran dimulai, terutama dalam penerapan metode berpikir kritis, agar tidak terjadi ketimpangan dalam proses pembelajaran, karena pembelajaran memerlukan metode yang baik agar siswa lebih giat dalam belajar, tidak hanya menggunakan metode ceramah. Diharapkan guru biologi MTs Lengkok Lendang mencoba menggunakan metode berpikir kritis dengan mata pelajaran lain atau pada materi lain sehingga dapat membuat siswa lebih aktif dan tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Bagi siswa hendaknya pembelajaran yang dapat dilakukan sebagai acuan untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran, agar siswa tidak hanya terpaku pada materi yang hanya menggunakan metode konvensional.

Hedi Budiman, Meningkatkan berpikir kritis dan kreatif matematis siswa dengan bantuan pendekatan pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan keterampilan kritis biologi pada siswa SMA lanjutan, Educationist Vol. Ika Susulawati, Perbandingan peningkatan kemampuan berpikir kritis berdasarkan model STAD dan PBL pada siswa VIII. kelas IPS-ekonomi SMP Raden Fatah Batu, diakses 20 Oktober 2008.

Muhammad Naufal Afifi, “Pengaruh Penggunaan Macromedia Flash Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Biologi” (Skripsi IAIN Mataram, 2015). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa SMA Melalui Pembelajaran Kolaboratif Think-Talk Write (Yogyakarta: MIPA UNY, 2012). Neni Fitriawati, Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII MTsn Selorejo Blitar (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 2010).

Ngalim Purwanto, Prinsip dan Teknik Evaluasi Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakaraya, 2008). Normayana Karim, Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Jucama di SMP, Vol.3, Nomor 1, 2015). Suryawati “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Pada Materi Pasaae Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Ekonomi, (Skripsi Universitas. Nahdatul Wathan Mataram, 2010).

Gambar

Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Hakikat sains:
Gambar 3.1. Tahapan penelitian PTK dapat diliha pada
Tabel 3.1  Kategori Keterlaksanaan RPP

Referensi

Dokumen terkait

There are some things that need to be consider an by the local governments in Siqujor island is about the maintenance of the coastal environment as part of an effort to