PENERAPAN SISTEM RAWI DUA TERHADAP PENGGARAPAN TANAH SAWAH PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI SYARIAH”
(Studi Kasus di Desa Soro, Kec. Kempo, Keb. Dompu)
Oleh:
SUFRAINI NIM. 170201018
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH (Muamalah ) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS NEGERI (UIN) MATARAM 2021
ii
PENERAPAN SISTEM RAWI DUA TERHADAP PENGGARAPAN TANAH SAWAH PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI SYARIAH
(Studi Kasus di Desa Soro, Kec. Kempo, Keb. Dompu) SKRIPSI
Di ajukan kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana
Oleh:
SUFRAINI NIM. 170201018
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH ( Muamalah ) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS NEGERI (UIN) MATARAM 2021
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi oleh: Sufraini, Nim: 170201018 dengan judul”Penerapan Sistem Rawi Dua Terhadap Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah di Desa Soro Kecamatan Kempo,Kabupaten Dompu”telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji
Disetujui pada tanggal:
Pemimbing 1, Pemimbing II,
Drs.H.M.Fachrir Rahman,M.A Dr.Saprudin,M.SI NIP.195605021983031004 NIP. 197812312006041003
iv
NOTA DINAS PEMIMBING
Mataram, ………..
Hal : Ujian Skripsi Yang Terhormat
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Ekonomi Syariah di Mataram
Assallamu’alaikum, Wr.Wb.
Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi Saudara:
Nama Mahasiswa : Sufraini NIM : 170201018
Jurusan/Prodi : Hukum Ekonomi Syariah
Judul : Penerapan Sistem Rawi Dua Terhadap Penggarapan Tanah Sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah di Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu
Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Syariah Dan Hukum Ekonomi Syariah UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.
Wassalammu’alaikum, Wr. Wb.
Pemimbing I, Pemimbing II
Drs.H.M.Fahcrir Rahman,M.A Saprudin,M.SI
NIP. 195605021983031004 NIP.197812312006041003
vi PENGESAHAN
Skripsi Oleh: Sufraini , NIM: 170201018 dengan judul “Penerapan Sistem Rawi dua Terhadap Penggarapan Tanah Sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Studi Kasus di Desa Soro Kec. Kempo Kab. Dompu)” telah dipertahankan didepan dewan penguji jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah UIN Mataram pada tanggal 13 juni 2021
Dewan Penguji
1. Drs. H.M. Fachrir Rahman, MA ( Ketua Sidang/Pemb. I )
2. Saprudin, M.Sl
( Sekretaris Sidang/Pemb. II ) 3. Dr. Gazali, MH
( Penguji I )
4. Fariz Al-Hasni, S.H.l., M.H ( Penguji II )
Mengetahui,
Dekan Fakultas Syariah
Dr. H. Musawar, M.Ag NIP 196912311998031008
vii MOTTO
َلَ َو َيْدَهْلا َلَ َو َما َرَحْلا َرْهَّشلا َلَ َو ِ هاللّٰ َرِٕىۤاَعَش ا ْوُّل ِحُت َلَ ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ٰٓ َلَ َو َدِٕىۤ َلََقْلا
َلَ َوۗ ا ْوُداَطْصاَف ْمُتْلَلَح اَذِا َوۗ اانا َوْض ِر َو ْمِهِِّب َّر ْنِِّم الَْضَف َن ْوُغَتْبَي َما َرَحْلا َتْيَبْلا َنْيِِّم ٰۤا ا ْوُن َواَعَت َو ا ْْۘوُدَتْعَت ْنَا ِما َرَحْلا ِد ِجْسَمْلا ِنَع ْمُك ْوُّدَص ْنَا ٍم ْوَق ُنٰاَنَش ْمُكَّنَم ِرْجَي ِِّرِبْلا ىَلَع
ِباَقِعْلا ُدْيِدَش َ هاللّٰ َّنِاۗ َ هاللّٰ اوُقَّتا َوۖ ِنا َوْدُعْلا َو ِمْثِ ْلَا ىَلَع ا ْوُن َواَعَت َلَ َو ۖى ٰوْقَّتلا َو
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.Alqur’an Surat An-Nisa Ayat 29.
viii
PERSEMBAHAN
“kupersembahkan skripsi ini untuk almamaterku, dan kedua orang tua ku, bapakku, tercinta ( Ibrahim Husen ) dan ibuku tercinta ( Nurhayati) yang selalu memberikan support dan terus mendo’akanku di setiap langkahku, kemudian untuk keluarga besar dan teman-teman seperjuanganku Muamalah A 2017 yang telah bersama-sama dalam berbagi suka dan duka yang tidak bisa kusebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan motivasinya.”
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Swt, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya.
Skripsi ini yang berjudul: “Penerapan Sistem Terhadap Penggarapan Tanah Sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah di Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu”. Yang merupakan syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum (SH) pada program studi Hukum Ekonomi Syariah,Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.
Penulis menyadari bahwa proses menyelesaikan skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih kepada:
1. Drs.H.M.Fahcrir Rahman,M.A Sebagai Pemimbing 1 dan Dr.Saprudin,M.SI. sebagai pemimbing II, yang telah memberikan bimbingan, motivasi, semangat, dan koreksi mendetail terus-menerus ditengah kesibukannya, sehingga sekripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
2. Bapak Dekan Fakultas Syariah UIN Mataram beserta jajarannya yang telah memberikan kemudahan dalam memberikan pelayanan akademik, serta bapak/ibu pegawai perpustakaan yang selalu ramah dalam memberikan pelayanan kepada penulis dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan referensi untuk menyusun skripsi ini.
3. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberikan tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu.
4. Bapak/ibu Dosen Fakultas Syariah UIN Mataram yang telah memberikan bekal berbagai ilmu pengetahuan, sehingga penulis bisa sampai ketahap skripsi ini.
5. Seluruh sahabat penulis yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, yang telah memberikan motivasi, semangat, dan dukungan selama penyusunan skripsi ini.
x
Semoga segala amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat-ganda dari Allah Swt, dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Mataram, 28 Juni 2020 Penilis,
Sufraini
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL……….i
HALAMAN JUDUL……….ii
PERSETUJUAN PEMIMBING……….iii
NOTA DINAS PEMIMBING………..iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI………..v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI………...vi
HALAMAN MOTTO………..vii
HALAMAN PERSEMBAHAN………...viii
KATA PENGANTAR……….ix
DAFTAR ISI………xi
ABSTRAK………...xiii
BAB 1 PENDAHULUAN………..1
A. Latar Belakang Masalah………..1
B. Rumusan Masalah………5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………5
D. Telaah Pustaka……….7
E. Kerangka Teori………..10
F. Metode penelitian………..20
G. Sistematika Pembahasan………26
BAB II SISTEM PELAKSANAAN BAGI HASIL PENGGARAPAN TANAH SAWAH DI DESA SORO, KECAMATAN KEMPO, KABUPATEN DOMPU………..29
A. Gambaran Umum Desa Soro………29
B. Sistem Pelaksanaan Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah di Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu………35
1. Jenis perjanjian……….36
2. Sistem Perjanjian………..37
3. Benih Atau Jenis Tanaman……….38
4. Tanah Yang Dijadikan Objek………..39
5. Biaya Penggarapan Tanah Sawah………40
6. Jangka Waktu………..43
7. Pelaksanaan Akad Bagi Hasil………..44
xii
8. Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pelaksanaan Bagi Hasil………..46
a. Hama………..46
b. Cuaca………..46
BAB III ANALISIS SISTEM PELAKSANAAN BAGI HASIL PENGGARAPAN TANAH SAWAH DI DESA SORO, KECAMATAN KEMPO, KABUPATEN DOMPU…………..51
A. Analisis Sistem Pelaksanaan Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah di Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu………..51
1. Analisis Objek Bagi Hasil Tanah Sawah……….52
2. Analisis Sistem Pelaksanaan Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah..53
B. Penerapan Rawi Dua Terhadap Penggarapan Tanah Sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah di Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu………56
1. Akad……….56
2. Benih Atau Jenis Tanaman………..58
3. Tanah Yang Dijadikan Objek……….59
4. Biaya Penggarapan………..60
5. Jangka Waktu Perjanjian………..61
6. Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah…...62
BAB IV PENUTUP……….64
A. Kesimpulan………64
B. Saran………..65
DAFTAR PUSTAKA……….66 LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiii
ABSTRAK
Pada masyarakat Desa Soro sudah biasa terjadinya perjanjian bagi hasil dalam penggarapan tanah sawah. Perjanjian tersebut biasa dilakukan hanya denga lisan, bukan dengan tulisan karena sudah terjadi kebiasaan dan rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya dengan pembagiam hasil dari masa panen padi secara paroan atau 50%50. namun pada april 2020, pembagian hasil masa panen padi tersebut berubah menjadi 60% untuk penggarap tanah sawah dan 40o/o untuk pemilih tanah sawah. Maka disini terjadi ketidaksesuai dengan sistem bagi hasilpenggarapan tanah sawah. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana sistem bagi hasil penggarapan tanah sawah di Desa Soro serta bagaimana penerapan muzara’ah terhadap bagi hasil penggarapan tanah sawah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada yang melidiki kuat dan fenomenal social dan masalah manusia. Dan penelitian kualitatif, penelitian yang berangkat pada teori dan menuju data dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan.
Kerjasama penggarapan tanah sawah yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu adalah penggarapan tanah sawah secara paroan ( bagi hasi ) yaitu aplikasi dari praktek muzara’ah dan mukhabarah. Menurut hukum islam sistem pelaksanaaan penerapan bagi hasil terhadap penggarapan tanah sawah secara paroan yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu sudah sesuai dengan hukum Islam karena dalam sistem pelaksanaanya dan penerapannya dalam akad sudah sesuai dengan konsep muzara’ah, dan mukhabarah, walaupun dalam pembagian hasil dari penggarapan tanah sawah tersebut tidak sesuai dengan presense pada awal perjanjian karena ada faktor tertentu serta adanya rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya, pemilik sawah merelakan pembagian tersebut, karena pemilik tanah sawah tidak merasa dirugikan secara materi. Agar hal tersebut tidak terulang kembali maka sebaiknya pemilik tanah dan petani penggarap tanah sawah membuat surat perjanjian kerjasama secara tulis, agar dapat dijadikan bukti serta memikrikan kemungkinan untung rugi dalam pengelolaan tanah sawah agar tidak menimbulkan masalah yang dikemudian hari.
Kata kunci : Penerapan Sistem Rawi Dua Terhadap Penggarapan Tanah sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah
xiv
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia adalah mahkluk sosial, yaitu mahkluk yang hidup berkodrat dengan masyarakat, sebagai makhluk sosial. Dalam hidupnya manusia tentu memerlukan adanyan manusia-manusia yang lain. Untuk bersama-sama saling membantu didalam kehidupan yang bermasyarakat, dimana manusia selalu berhubungan dengan manusia yang satu sama lainnya, yang didasari atau tidak didasarinya, untuk mencukupkan kebutuhan seharinya didalam kehidupannya.
Unutk itu perlu yang kita ketahui bahwasanya dalam islam segala hal yang berkaitan dengan manusia semuanya sudah diatur dengan secara jelas dan pasti, aturan –aturan tersebut ialah salah satunya yakni terdapat dalam kaidah- kaidah yang dimana didalamnya mencakup seluruh sisi kehidupan individu dan masyarakat. Salah satunya didalan bidang Muamalah, Islam telah memberikan hukum yang harus kita taati. Muamalah..adalah ativitas yang dilakukan’’oleh seseorang dengan orang lain atau..beberapa..orang dalam segala bidang pertanian.1
Setiap manusia tidak bisa menyediakan atau tidak bisa mengadakan keperluannya tanpa melibatkan orang lain. Salah satunya dengan upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara melakukan kerja sama antara pemilik dengan penggarap tanah sawah. Misalkan ada orang yang mempunyai suatu barang tetapi orang lain tidak memiliki barang tersebut, manusia harus saling berhubungan, saling bertukar keperluan, saling melengkapi keahlian
1 M.Ali Hasan, Berbagai Macam Tranksaksi dalam Islam. (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada, 2003).hal. 34
2
(keterampilan). Demikian halnya dalam kerja sama antara pemilik pertanian dengan penggarapan tanah sawah, pertanian dengan menggunakan sistem bagi hasil yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di dalam Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu. Oleh karena itu,,,pelaksanaan//perjanjian dalam sistim;;bagi hasil penggarapan tanah sawah yaitu dengan adanya pihak yang hanya memiliki tanah pertanian dan adanya pihak pengelolah tanah sawah pertanian tersebut. Terkadang ada juga pemilik tanah sawah yang tidak mahir dalam mengelolah tanah sawah tersebut. Tanah sawah yang mereka miliki hanya semata-mata untuk berinvestasi, dan ada juga pihak yang sangat mahir dalam mengelolah tanah sawah pertanian tetapi mereka tidak memiliki tanah sawah, sehingga antara kedua belah pihak melakukan perjanjian kerja sama dalam sistim bagi hasil. Bagi hasil adalah suatu usaha yang sangat mulia apabila pelaksaannya’’selalu mengutamakan..prinsip kejujuran, keadilan, dan tidak saling merugikan antara kedua belah pihak.2
Dalam hukum islam, model kerjasama pengelolaan sawah ada dua yaitu Muzara’ah atau Mukhabarah. Muzara’ah merupakan kerjasama pengelolaan pertanian antara pemilik sawah dengan si penggarap, yakni pemilik sawah memberikan sawah pertaniannya kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam kerjasama ini terdapat dua belah pihak yang satu sebagai pemilik modal, sedangkan dipihak lain sebagai pelaksana usaha. Keduanya mempunyai kesempatan untuk kerjasama, kemudian hasil akan dibagi sesuai dengan kesepakatan kedua belah
2. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih, Buku Pintar Muamalah (Klaten: WafacPress, 2012.)hlm.11
3
pihak.3 Mukhabarah pun tidak jauh berbeda dengan Muzara’ah, hanya saja jika Muzara’ah benihnya dri pemilih tanah. Seperti pandangan ulama Syafi’iyah yang menyatakan bahwa Muzara’ah adalah tranksaksi antara penggarap (dengan pemilik tanah) untuk menggarap tanah dengan imbalan sebagian dari hasil yang keluar dari tanah tersebut dengan ketentuan dari pemilik tanah.
Kegiatan pertanian merupakan pekerjaan yang dianjurkan dan diperbolehkan dalam Islam karena dalam pertanian terdapat hasil manfaat yang begitu besar. Hal tersebut dapat dipahami melalui firman Allah SWT dalam QS.An-An’am : 99 yang berbunyi:
اءاَم ِءاَمَّسلا َن ِم َل َزْنَأ يِذَّلا َوُه َو ٍء ْيَش ِِّلُك َتاَبَن ِهِب اَن ْج َر ْخَأَف
اَه ِعْلَط ْن ِم ِل ْخَّنلا َن ِم َو ااب ِكا َرَتُم اًّب َح ُهْن ِم ُج ِر ْخُن ا ار ِضَخ ُهْن ِم اَن ْج َر ْخَأَف َرْيَغ َو ااهِبَتْشُم َناَّم ُّرلا َو َنوُتْي َّزلا َو ٍباَنْعَأ ْن ِم ٍتاَّن َج َو ٌةَيِناَد ٌنا َوْنِق و ُرُظْنا ۗ ٍهِباَشَتُم ٍم ْوَقِل ٍتاَي َلَ ْمُكِل َٰذ يِف َّنِإ ۚ ِه ِعْنَي َو َرَمْثَأ اَذِإ ِه ِرَمَث ٰىَلِإ ا
َنوُن ِم ْؤُي
Artinya : Dan dialah yang menurunkan air dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air dengan segala macam tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang mengjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan tidak yang serupa. Perhatikanlah
3 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana Medina Group, 2012), hlm.240
4
buahnya pada waktu berbuah, dan smenjadi masak. Sanggup, pada yang demikian itu ada tanda –tanda (kekuasaan Allah ) bagi orang-orang yang .4
beriman
Dalam melaksanakan kegiatan pertanian manusia juga harus saling bekerja sama dan memberi bantuan kepada orang lain, untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai kesejahteraan dalam kehidupan. Kerjasama dengan cara bagi hasil merupakan salah satu kegiatan muamalah yang sering terjadi dikalangan masyarakat Indonesia, khususnya dalam bidang pertanian.
Kerjasama secara bagi hasil ataupun sewa menyewa ini diperbolehkan dalam islam baik terhadap barang bergerak ataupun barang tidak bergerak seperti tanah.5
Sistem bagi hasil menjadi suatu yang penting manakala orang-orang mempunyai tanah, sementara yang lain memiliki tanah tetapi tidak mempunyai modal dan tenaga kerja. Berdasarkan keadaan seperti ini saling membantu dan bekerjasama, maka hanya sistem bagi hasil yang merupakan cara efektif untuk menghasilkan lebih banyak tanah yang dapat diolah sehingga menguntungkan kedua pihak.
Menariknya, yang terjadi di Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani, yang dimana wilayahnya adalah wilayah persawahan maka sudah biasa disebut dengan penggarapan sawah secara paroon (bagi hasil), dalam bahasa bimanya rawi dua
4 Alqur’an Surah An-A’m Ayat 99
5 Fazlur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, jilid II. (Yogyakarta, PT.Dana Bakti Wakaf, 1995).hal.270.
5
dalam artiannya rawi dua itu misalkan saya adalah pemilik tanah sawah dan saya memperkerjakan seseorang untuk menggarap tanah sawah saya, dengan saya pemilik tanah sawahnya memberikan bibit padi kepada petani pneggarap.
Sedangkan petani penggarapnya memberikan puputnya, dan petani penggarap juga meberikan obat sidomentri obat buat sampro ke tanah sawah. Pada saat tiba masa panenya maka mereka melakukan pembagian hasil. Dan itulah kejelasan tentang rawi dua, sama dengan halnya Muzara’ah benih tanamannya berasal dari pemilik tanah sawah sedangkan rawi dua juga benihnya dari pemilik tanah sawah. Akad kerjasama dengan bagi hasil tersebut biasanya secara lisan antara perjanjian antara kedua belah pihak, tanpa adanya perjanjian secara tertulis karena sudah menjadi kebiasaan sejak zaman nenek moyang di Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu, sudah sering melakukan sistim bagi hasil atau dalam bahasa bima rawi dua dan saling percaya antara pemilik dan pengelola dengan pembagian keuntungan paroon (bagi hasil) atau dalam bahasa bima rawi dua yang sering di sebut oleh masyarakat di Desa Soro. Pembagian hasil 50%. Bila tiba masa panen penggaraplah yang membagi hasil panen lalu hasilnya dibagi dua sesuai akadnya.
Dengan berkembangnya zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin lama semakin meningkat, banyak pihak dari penggarap tanah sawah yang menyalah gunakan kepercayaan yang telah diberikan oleh pemilik tanah, dengan melakukan kecurangan dan memanipulasi pendapatan yang telah di dapat, saat sistim pembagian hasil panen padi tersebut. beda dengan akad yang telah disepakati antara kedua belah pihak. Sebagai contoh yang awalnya
6
pembagian hasil panennya 50%:50% menjadi 60% untuk penggarap tanah sawah dan 40o/o untuk pemilik tanah sawah pada pembagian hasil panen padi di desa soro kecamatan kempo kabupaten dompu 3 kali satu tahun yaitu bulan maret, juni, desember.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sistem pelaksanaan Penerapan Rawi dua Terhadap Penggarapan Tanah Sawah di Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu?
2. Bagaimana Penerapan Rawi Dua Terhadap Penggarapan Tanah sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah di Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu?
C. Tujuan dan Manfaat Peneliti 1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari Penelitian ini adalah
a. Untuk mengetahui sistem pelaksanaan Penerapan Rawi Dua Terhadap penggarapan tanah sawah di desa soro kecamatan kempo kabupaten dompu
b. Untuk mengetahui konsep Penerapan rawi dua terhadap penggarapan tanah sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah di desa soro kecamatan kempo kabupaten dompu
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat secara teoritis
Adapun manfaat secara teoritis, penelitian ini erat hubungannya dengan mata kuliah fiqh muamalat, etika bisnis islam sehingga dengan melakukan penelitian ini diharapkan penulis, semua pihak yang
7
berkepentingan dapat memahaminya dan semoga penelitian ini dapat memperluas khazanah keilmuan keislaman terutama bidang hukum islam, dan bagi pembaca pada umumnya serta menjadikam rujukan penelitian bagi hasil penggarapan tanah sawah.
b. Manfaat secara praktis
Manfaat secara praktis,yang bisa diambil dari peneliti memberikan sumbangan dan memberikan informasi kepada masyarakat khususnya petani dan pemilik sawah.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu. Adapun yang menjadi alasan penulis memilih Desa Soro Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu ini sebagai lokasi penelitian berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut: Karena di Desa Soro keseharian masyarakat khususnya petani melakukakan praktek Rawi Dua Terhadap penggarapan tanah sawah. Karena di desa ini juga layak untuk dijadikan sarana penelitian karena belum ada yang meneliti sebelumnya tentang praktik pelaksanaan Rawi Dua terhadap penggarapan tanah sawah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah.
E. Telaah Pustaka
Setelah peneliti melakukan penelusuran pustaka terhadap Skripsi dan penelitian-penelitian lain, penulis tidak menemukan satupun karya ilmiah yang membahas tentang “Praktik Pelaksanaan Muzara’ah Terhadap Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah” dimana penelitian yang akan dilakukan ini merupakan kasus baru dan tidak pernah diteliti sebelumnya.
8
Adapun karya ilmiah yang membahas tentang penggarapan tanah sawah adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini dilakukan oleh Slamet Widodo, yang membahas tentang
“Tinjauan Hukum Islam Terhadap Bagi Hasil Perkebunan Salak di Desa Sewukan Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang”. Penelitian ini mengfokuskan pada bagaimana pelaksanaan bagi hasil perkebunan menurut tinjauan hukum islam di Desa Salak Sewukan Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Kesimpulan dari penelitian ini membahas tentang perjanjian bagi hasil tersebut mengalami cacat hukum karena mengalami ketidakjelasan waktu berakhirnya perjanjian sewa sebagai syarat sahnya perjanjian/sewa, sedangkan,pembagian hasilnya telah memenuhi rasa keadilan sehingga tidak bertentangan dengan’hukum islam.6
Di dalam telaah pustaka ini persamaan terhadap penelitian dengan penelitian yang saat ini sama-sama membahas mengenai objek bagi hasil dalam kebun salak. Sedangkan dalam perbedaannya, dalam penelitian ini lebih terfokus pada sistem pelaksanaan bagi hasil penggarapan tanah sawah. Sedangkan dalam penelitian sebelumnya membahas mengenai pelaksanaan bagi hasil dalam perkebunan salak. Selain itu, dalam penelitian ini peneliti menggunakan tinjauan hukum islam untuk menjawab persoalan dalam sistem pelaksanaan bagi hasil tersebut.
Sedangkan pada penelitian sebelumnya peneliti membahas tentang tinjauan hukum islam dalam Penelitian sekarang membahas tentang Penerapan Muzara'ah terhadap bagi hasil penggarapan tanah sawah.
6 Widodo, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Bagi Hasil Perkebunan Salak di Desa Sewukan Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang”(Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2004)
9
2. Penelitian ini dilakukan oleh Epi Yuliana, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Bagi Hasil Penggarapan Kebun Karet di Desa Bukit Selabu Kabupaten Musi Banyuasin Sumatra Selatan.” Penelitian ini mengfokuskan pada bagaimana pelaksanaan bagi hasil penggarapan kebun karet menurut hukum Islam di Desa Buit Selabu Kabupaten Musi Banyuasin Sumatra selatan. Dalam kesimpulan peneliti ini membahas tentang’’pelaksanaan tranksaksi bagi/hasil yang dilakukan masyarakat Bukit Selabut telah sah menurut hukum Islam yang termaksud kedalam akad musaqah karena syarat dan rukun ijarahnya sudah terpenuhi demikian juga dangan bagi,hasilnya.7
Di dalam telaan pustaka ini persamaan terhadap penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sama-sama mengenai objek bagi hasil dalam kebun karet serta penelitian ini dan sebelumnya sama-sama membahas pelaksanaan bagi hasil. Sedangkan perbedaannya, pada penelitian ini lebih terfokus pada sistem pelaksanaan bagi hasil penggarapan tanah sawah sedangkan dalam penelitian sebelumnya lebih terfokus pada pelaksanaan bagi hasil dalam akad musaqah. Sedangkan penelitian ini dan sebelumnya membahas tinjauan hukum islam dan penelitian sekarang membahas tentang Penerapan Muzara'ah Terhadap Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah.
3. Penelitian ini dilakukan Anisatur Rohmatin “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Bagi Hasil Pengelolaan Lahan Tambak di Desa
7 Epi Yuliana “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Bagi Hasil Penggarapan Kebun Karet di Desa Bukit Selabu Kabupaten Musi Banyuasin Sumtra selatan (Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009).
10
Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati” penelitian ini mengfkuskan pada bagaimana pelaksanaan bagi hasil pengelolaan lahan tambak menurut tinjauan hukum islam di Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati. Dalam kesimpulan penelitian ini telah sah menurut hukum Islam karena sudah terpenuhi syarat dan rukunnya serta sesuai dengan prinsip-prinsip mu’amalah, serta perjanjian kerja sama tersebut termaksud perjanjian syirkah Mudarabah. Dengan adanya pelaksanaan atau akad Syirkah mudarabah tersebut, hal ini sesuai dengan hukum islam dan pentingnya akad yang harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip muamalah.8
Di dalam telaah pustaka ini persamaan terhadap penelitian sebelumnya dengan penelitian ini dan sebelumnya sama-sama membahas pelaksanaan bagi hasil. Sedangkan dalam perbedaannya, pada penelitian ini lebih terfokus pada muzara’ah ( bagi hasil) penggarapan tanah sawah.
Sedangkan skripsi sebelumnya membahas tentang kerja sama lahan tambak dalam perjanjian syirkah mudarabah. Selain itu dalam penelitian ini peneliti menggunakan Penerapan Muzara'ah sedangkan penelitian sebelumnya sama membahas tentang tinjauan hukum islam.
F. Kerangka Teori A. Muzara’ah
1. Konsep Hukum Ekonomi Syariah
Hukum Ekonomi Syariah adalah hukum yang mengatur hubungan manusi dengan sesama manusia berupa perjanjian atau kontrak, berkaitsn
8 Anisatur Rohmatin “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Bagi Hasil Pengelolaan Lahan Tambak di Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati”(Skiripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2008).
11
dengan hubungan manusia dengan objek atau benda-benda ekonomi dan berkaitan dengan ketentuan hukum terhadap benda-benda yang menjadi objekkegiatan ekonomi. Secara bahasa arab, ekonomi dinamakan al- muamalah al madiyah yaitu aturan-aturan tentang pergaulan dan perhubungan manusia mengenai kebutuhan hidupnya dan disebut juga al- iqtishad yaitu pengaturan soal-soal penghidupan manusia dengan sehemat-hematnya dan secermat-cermatnya. Secara istilah, pengertian ekonomi Islam dikemukakan dengan redaksi yang beragam dikalangsn para pakar ekonomi Islam.
Sumber Hukum Ekonomi Syariah 1. Alqur’an anul Karim
2. Hadist dan sunnah 3. Ijma’
4. Ijtihad dan Qiyas
5. Istihsan, Istislah Dan Istishab
2. Konsep Bagi Hasil Penggarapan Tanah Sawah dalam Islam
Muzara’ah adalah akad tranksaksi kerjasama pengelohan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian dan bibit kepada sipenggarap untuk menanami dan memelihara dengan imbalan pembagian tertentu (presentase) dari hasil panen. Mukhabarah sebagai bentuk kerjasama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan
12
tertentu ( Presentase ) dari hasil panen yang benihnya berasal dari penggarap.
Dalam hukum islam, bagi hasi dalam usaha pertanian dinamakan Muzara’ah dan Mukhabarah. Kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang hampir sama, hanya dibedakan dari benih dan bibit tanaman9. Muzara’ah secara bahasa merupakan suatu bentuk kata yang mengikuti wajan (pola) mufa’alah dari kata dasar al-zar’u yang mempunyai arti al- inbat (menumbuhkan).
Bagi hasil secara bahasa berasal dari kata qirdh yang artinya potongan sebab yang mempunyai harta memotong hartanya untuk si pekerja agar dia bisa bertindak dengan harta itu dan sepotong keuntungan. Dari kata yang sama juga miqradh yaitu alat memotong, juga dinamakan mudharabah (bagi hasil) karena memiliki arti berjalan di atas muka bumi yang bisa dinamakan kepergian. Dasar hukum kebolehan qiradh adalah Ijma’dan qiyas terhadap musaqah (bagi hasil sawah) dengan kesamaan bahwa setiap pekerjaan yang menghasilkan sesuatu ada bayarannya walaupun tidak diketahui berapa besarnya, dan arena musqah dan qiradh keduanya diperbolehkan karena keperluan dimana orang yang mempunyai pohon kurma terkadang tidak bisa mengurus tanaman karena tidak ada waktu orang yang bisa bekerja dengan baik terkadang tidak ada modalnya. Dan makna ini ada pada qirdh sebab pemodal terkadang tidak bisa mengurusnya
9 Hendi Suhendi, pengantar Fiqh Muamalah, (Raja Grafindo Persada, 2002) hlm 153.
13
dengan baik dan yang bisa bekerja terkadang tidak ada modal, maka yang pertama perlu tenaga kerja dan yang kedua perlu bekerja.10
Pada prinsipnya Islam membolehkan kerja sama, selama kerja sama tersebut saling mendatangkan maslahat yang baik terhadap dirinya dan masyarakat banyak. Begitu halnya sistem bagi hasil tanah sawah di desa soro.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, bagi hasil adalah pembagian hasil pertanian antara pemilik tanah dan penggarap. Bagi hasil berasal dari kata dasar bagi.11untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu (presentase) dari hasil panen.
Menurut istilah Muzara’ah yang didevinisikan oleh Hanafiyah Muzara’ah adalah akad yang digunakan oleh para petani untuk bercocok tanah dengan sebagian hasilnya yang keluar dari bumi. Sedangkan menurut Hanabilah Muzara,ah ialah pemilik tanah sawah yang sebenarnya dimana pemilik sawah menyerahkan tanah sawahnya untuk digarap oleh penggarap.
Dimana untuk ditanami dan yang bekerja diberikan bibit. 12. Sedangkan Mukhabarah adalah mengerjakan tanah orang lain seperti sawah atau lading dengan imbalan sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga, atau seperempat).
10 Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqh Muamalat (Sistem Tranksaksi dalam Islam), cet. Ke 2, (Jakarta: Amzah, 2014), hlm. 245-246.
11 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan “Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. 3”.
Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
12 Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, (Bandung:Sinar Baru Algesindo, 1994)hlm.301.
14
Adapun menurut pendapat..para..Ulma-ulama mazhab yang pendapatnya berbeda..dalam mendefinisian muzara’ah antara lain adalah sebagai berikut:13
1. Menurut Hanafiyah muzara’ah ialah Akad bercocok tanam dengan yang keluar sebagian dari bumi.
2. Menurut Hanabilah, muzara’ah ialah penyerahan tanah pertanian kepada seorang petani untuk digarap dan hasilnya dibagi berdua 3. Menurut Malikiyah, muzara’ah adalah Perserikatan dalam
pertanian.
4. Ulama Syafi’iyah membeedakan antara muzara’ah dan mukhabarah, yaitu: Mukhabarah adalah mengelolah tanah di atas sesuatu yang dihasilkan dan benihnya berasala dari pengolah.
Adapun muzara’ah, sama seperti mukhabarah,hanya saja benihnya berasal dari pemilik tanah.14
Dalam buku, Fatih dkk kitab al-umm, Imam Syafi’I menjelaskan bahwa sunnah rasul menunjukkan dua hal tentang makna Muzara’ah yakni pertma: kebolehan bermuamalah atas pohon kurma atau diperbolehkan bertransaksi atas tanah dan yang dihasilkan. Artinya ialah bahwa pohon kurma tersebut telah ada baru kemudian diserahkan kepada perawat (pekerja) untuk dirawat sampai berbuah).15
1. Dasar Hukum Muzara’ah
13 Nasroen Haroen, Fiqh Muamalah (Jakarta:Gaya Media Pratama.2007)hlm.275.
14 Ibid.
15 Indal Abrar,”Kitab al-Umm al-Syafi’I”, Dalam buku, Fatih Suryadilaga dkk,Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: Teras,2003),hlm.294.
15
1.
Dalam Al-qur’anَۗكِِّب َر َتَمْح َر َن ْوُمِسْقَي ْمُهَا ۙاَيْنُّدلا ِةوٰيَحْلا ىِف ْمُهَتَشْيِعَّم ْمُهَنْيَب اَنْمَسَق ُنْحَن
ااضْعَب ْمُهُضْعَب َذ ِخَّتَيِِّل ٍت ٰج َرَد ٍضْعَب َق ْوَف ْمُهَضْعَب اَنْعَف َر َو َن ْوُعَمْجَي اَّمِِّم ٌرْيَخ َكِِّب َر ُتَمْح َر َوۗ اًّي ِرْخُس
Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”( Q.S. Al-
Zukhruf Ayat 32 )
. نوُث ُرْحَت اَم ْمُتْيَأ َرَفَأ
Artinya: pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?
َنوُع ِرا َّزلا ُنْحَن ْمَأ ُهَنوُع َر ْزَت ْمُتْنَأَأ
Artinya : maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
Kamukah yang menumbuhkan atau kamikah yang menumbuhkannya. ( Q.S.Al-Waqi’ah ayat 63-64).16
Ayat diatas untuk menuntut para umat manusia untuk menelusuri jalan AllaH SWT. Boleh kita menjadikan sementara orang memberatkan dirinya dalam beribadah atau memberatkan orang lain. Ayat diatas mengisyaratkan hendaknya orang bersikap moderat, agar tidak memikul beban yang berat. Allah SWT yang maha bijaksana dia selalu mengetahui
16 Alqur’an Surah: 56 Ayat 63-64
16
bahwa aku ada diantara kamu orang-orang yang berjalan di muka bumi ini, bepergian untuk meninggalkan tempat tinggalnya, untuk mencari sebagian karunia Allah. Baik keuntungan perniagaan atau dalam hadist.
2. Dalam Hadist
Artinya: Barangsiapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya atau hendaklah ia menyuruh saudaranya untuk menanaminya. ( Hadist Riwayat Bukhari ).17
Adapun dalam hadis lain menyebutkan :
Artinya: “Diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.A. sesungguhnya Rasulullah Saw. Melakukan bisnis atau perdagangan dengan penduduk Khaibar untuk digarap dengan imbalan pembagian hasil berupa buah-buahan atau tanaman” ( Hadist Riwayat Bukhori ).18
Dalil Al-qur’an atau hadist tersebut diatas merupakan landasan hukum yang dipakai oleh para ulama yang membolehkan akad perjanjian muzara’ah atau mukhabarah. Menurut para ulama akad ini bertujuan untuk saling membantu antara petani dengan pemilik tanah pertanian. Pemilik tanah tidak
17 Imam Abdillah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrohim Ibn Mukhiroh Ibn Barzabah Al- Bukhori Al-Ju’fi Al-Mutafasannah, Shohihul Bukhori, Darul Al-Kutub Al-Ilmiyah, Bairut, Libanon, 2004, hlm.422.
18 Ibid.
17
mampu mengerjakan tanahnya, sedang petani tidak mempunyai tanah atau lahan pertanian.
3. Syarat Dan Rukum Muzara’ah Menurut Hanafiyah ialah:
a. Hal yang berhubungan dengan tanah yang akan ditanami seperti lokasi tanah dan batas tanah;
b. Hak yang berkaitan dengan waktu dan syarat-syaratnya;
c. Hak yang berkaitan dengan alat-alat yang digunakan dalam bercocok tanam.
Menurut Hanabilah, rukun muzara’ah ada satu yaitu ijab dan kabul, boleh dilakukan dengan lafazh apa saja yang menunjukkan adanya ijab dan kabul dan bahkan muzara’ah sah dilafahkan dengan lafazh Ijarah.19
Sementara itu ada beberapa hal yang menyebabkan akad muzarah berakhir yaitu:
a. Apabilah salah seorang meninggal dunia sebelum panen, maka akad tetap berlaku sampai panen dan yang meninggal diwakili oleh ahli warisnya.
b. Meninggalnya salah seorang yang berakad.
c. Penyimpangan yang dilakukan penggarap
Dalam hal muamalah, Islam juga mengenal adat istiadat (‘urf) yang merupakan sesuatu yang dibiasakan manusia dalam bermuamalah dan
19 Haroen Nasroen, fiqh Muamalah,,hal.278.
18
konsisten (menggunakannya) dalam berbagai persoalan mereka.20 Dan dapat juga dijadikan sumber hukum Islam, bila memenuhi syarat sebagai berikut:
a. ‘Adat atau Urf itu bernilai maslahat dan dapat diterima akal sehat.
b. ‘ Adat atau Urf itu berlaku umum dan merata dikalangan orang- orang yang berada dalam lingkungan ‘adat itu, atau dikalangan sebagian besar warganya.
c. Urf yang dijadikan sandaran dalam penetapan hukum itu telah ada (berlaku) pada saat itu, bukan Urf yang muncul kemudian.
d. ‘Adat tidak bertentangan dan melalaikan dalil syara’ yang ada atau bertentangan dengan prinsip yang pasti.21
Menggunakan ‘urf masyarakat sebagai dasar hukum dalam bidang muamalah dimaksudkan untuk memelihara kemaslahatan masyarakat dan menghindari dari mereka dari kesempitan. Sistem muzara’ah yang penyusun jadikan sebagai pegangan dalam Islam mengaji permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah sangat umum dilakukan pada masa Rasulullah Saw dan Khalifah setelah beliau. Seperti diketahui bahwa kaum Ansor memintak kaum Muhajirin untuk menjaga tanah sawah mereka dengan imbalan pembagian hasil tanah sawah dan Rasulullah Saw menyetujuinya.
Selanjutnya penentuan hukum bagi hasil tanah sawah antara penggarap di Desa Soro ditinjau dari tinjauan hukum Islam akan dibahas berdasarkan prinsip istislah, yakni salah satu penetapan hukum Islam
20 Suhar, Metodologi Hukum Islam ( Ushul Al-Fiqh), cet. Ke-1, (Jmbi: Salim Media Indonesia, 2015), hlm. 137.
21 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, cet. Ke-2, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm.376-377.
19
terdapat suatu peristiwa dengan memperhatikan faktor kemaslahatan bagi manusia dalam hidup. Dengan demikian sejauh mana bagi hasil tersebut membawa kemaslahatan dan memberi manfaat bagi pihak-pihak lain yang berakad khususnya dari masyarakat Desa Soro pada umumnya.
Bentuk Muzara,ah yang pertama Semua bentuk sistem bagi hasil yang dapat menyebabkan terjadinya kerja sama dan terwujudnya persatuan dan persaudaraan antara penggarap dan pemilik tanah sawah dan jauh dari kemungkinan terjadinya perpecahan antara keduanya dibenarkan Islam.
Sebaliknya semua bentuk sistem bagi hasil yang dapat menyebabkan timbuknya perselisihan dikalangan masyarakat atau mengganggu hak dari pihak tertentu dinyatakan tidak sah oleh Islam.. sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw., di mana tiga orang sahabat yang terkenal sebagai petani pada masa Rasul meriwayatkan bahwa bentuk sistem bagi hasil yang mendorong seseorang untuk senentiasa di atasa keringat orang lain, dan melanggar hak-hak keadilan terhadap petaani sangat dibenci oleh Rasulullah.22
Melalui sistem muzara’ah atau sistem bagi hasil kedua belah pihak memungkinkan mencapai suatu tujuan ,di samping mewujudkan ta’awwun atau saling tolong menolong yang menyebabkan kedua belah pihak memperoleh keuntungan dari hasil usaha yang dilakukan oleh pekerja (petani penggarap). Dalam hal ini pekerja (petani penggarap) menggarap lahan seseorang karena kemampuanya untuk menggarap ada,
22 Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam terjemah Doktrin Ekonomi Islam,hlm.270.
20
sementara lahan tidak memilikinya. Sebaliknya ada orang yang punya lahan, namun tidak memiiki kemampuan untuk menggarapanya.
Didalam fiqih Islam terkenal tiga istilah untuk membicarakan hal pembagian hasil suatu kebun yabg digarap atau diurus dua orang atau lebih,sedang salah satunya merupakan pemilik kebun (tanah). Istilah pertama adalah musaqah, kedua adalah Muzara’ah dan ketiga adalah mukhabarah. 23
Adapun muzara’ah adalah semacam Musaqqah tetapi benih maupun biaya-biaya yang berkenan dengan tanaman itu kepunyaan penggarap satu-satunyadari pemilik adalah tanah (kebunnya).sedangkan Mukhabarah adalah semacam Muzara’ah tetapi benih diusahakan oleh pemilik tanah, sedang penggarap hanya penggarapannya saja.24
sistem Muzara’ah, di mana benih yang ditanam serta keperluan lainnya berupa pupuk dan lainnya itu ditanggung penggarap, dan bagi hasil pemilik kebun hanya menanggung lahan (kebunnya), maka hasil produksinya harus dibagi separoh misalnya (sepertiga) 1/3 untuk pemilik kebun dan (duapertiga) 2/3 untuk penggarap kebun. Dan ketiga adalah bentuk Mukhabarah, yakni kebalikan dengan sistem muzara’ah.
sedangkan Mukhabarah ini segala yang berkenan dengan kebun benihnya ditanggung sepenuhnya oleh pemilik tanah dan petani penggarapnya hanya menggarap saja. Maka jenis dan bentuk bagi hasinya hendaklah berbalik, yakni penggarap dapat sepertiga 1/3 dan pemilik kebun mendapat
23 Hasbullah Bakry, Pedoman Islam Indonesia (Cet. V;Jakarta: UI Press,1990),hlm.284-285.
24 Ibid ,hlm.287.
21
dua pertiga 2/3 dan ketiga bentu jenis bagi hasil itupun harus sesuai sepakatan kedua belah pihak yakni penggarap dan pemilik tanah sawah.
G. Metode Penelitian
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan secara terarah dan sistematis, penyusun menggunakan metode penelitian sebagai berikut:
1. Pendekatan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena data yang diperoleh dilapangan lebih dominan bersifat informasi-informasi dan keterangan-keterangan bukan dalam bentuk angka atau simbol.25 Pada dasarnya metedeologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.26
Adapun alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yaitu karena pokok-pokok permasalahan yang akan diteliti merupakan suatu proses dan interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain secara alami. Oleh sebab itu sangat tepat penelitian ini menggunakan pendekata kualitatif, dimana penelitian ini membahas tentang tinjauan hukum islam terhadap bagi hasil penggarapan tanah sawah di desa soro kecamatan kempo kebupaten dompu.
2. Kehadiran peneliti
25 Iskandar, Metedeologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Jakarta Persada Press,2010),hlm.191-192.
26 Lexy J. Moloeng, Metedelogi Penelitian Kualitatif (Bandung:PT Remaja 2010),hlm.3.
22
Kehadiran peneliti dalam penelitian berperan sebagai instrument kunci, maka kehadiran peneliti di lapangan mutlak diperlukan.27 Kehadiran peneliti sangat penting untuk menujang penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah agar penelti mendapatkan data-data yang pasti.
Dalam penelitian ini penelti menggunakan beberapa macam persiapan, antara lain:
a. Mempersiapakan pedoman observasi serta melakukan observasi mengenai praktik pelaksanaan bagi hasil penggarapan tanah sawah.
b. Mempersiapkan pedoman wawancara yang akan dinyatakan kepada pihak-pihak terkait anatara: pemilik (tanah sawah), mu’jir dan penggarap (Muzara’ah);
c. Selain itu peneliti akan melakukan pencatatan data-data terutama yang berkaitan dengan praktik pelaksanaan bagi hasil penggarapan tanah sawah.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari:
a. Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung dari hasil penelitian di lapangan.28 Sumber data primer yang digunakan peneliti ini adalah responden. Dalam penelitian, responden adalah orang yang diminta untuk memberikan keterangan suatu fakta atau pendapat. Keterangan
27 Suharmini Arikunto, Prosedur Penelitian (Yogyakarta : Rineka Cipta, 2010),hlm.28.
28 Ibid. hlm.211.
23
tersebut dapat disimpaikan baik dalam lisan maupun tulisan.29 Dalam hal ini yang menjadi respoden adalah pemilik (mu’jir) istri. Dan penggarap tanah sawah (muzara’ah) yang berjumlah 8 0rang.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh peneliti tidak secara langsung, tetapi melalui kepustakaan.30 Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa data sekunder dalam penelitian ini meliputi data-data yang berhubungan dengan akad bagi hasil penggarapan tanah sawah, baik teori umum ataupun menurut hukm islam. Sumber data sekunder yang digunakan peneliti adalah buku-buku yang berkaitan dengan akad bagi hasil penggarapan tanah sawah (fiqh muamalah).
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dipakai untuk mengumpulkan informasi atau fakta-fakta yang ada dilapangan. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data.31 Dalam penelitian ini teknik yang digunakan peneliti ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap suatu gejala yang tampak pada objek penelitian. Pada dasarnya observasi dilakukan secara langsung terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada
29 Ibid, hlm.175.s
30 Lexy J.Moloeng, Metodelogi, hlm.217
31 Andi Prastowo, Metodelogi Penelitian….,hlm 208.
24
bersama objek penelitian merupakan masalah yang bersifat alamiah maka observasi sangat diperlukan, agar objek penelitian dapat diamati dan dianalisis secara mendalam.32 Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang lokasi dan praktik pelaksanaan serta mengecek data yang diperoleh.
Sehubungan dengan penjelasan diatas maka dalam hal obsevasi peneliti akan langsung terjun ke lapangan yakni di desa soro kecamatan kempo kebupaten dompu untuk melakukan observasi tentang bagi hasl penggarapan tanah sawah dan cara praktik pelaksanaan bagi hasil penggarapan tanah sawah.
b. Wawancara adalah proses memperoleh suatu keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan informasi atau orang yang diwawancarai.33 Pada tahap ini peneliti menggunakan wawancara tak struktur untuk memperoleh data-data di lapangan dan mempermudah lancarnya wawancara bagi peneliti di lokasi penelitian. Pada dasarnya wawancara non struktur ini menuntut keterampilan wawancara dalam berbahasa.
Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti akan melakukan wawancara dengan pemilik tanah sawah dan penggarap tanah sawah.
Dalam wawancara ini data atau informasi yang akan peneliti telesuri adalah seputar pelaksanaan bagi hasil penggarapan tanah sawah.
c. Dokumentasi
32 Suharmini Arikunto, Prosedur….,hlm 220.
33 Andi Prastowo, Metode….,hlm 212.
25
Dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi yang didapatkan dari dokemantsi, hal ini dilakukan untuk menambah pemahaman atau informasi mengenai bagi hasil penggarapan tanah sawah, termaksud juga buku-buku tentang pendapat teori, dalil,Alqur’an, hukum dan lainnya, yang berhubungan dengan masalah penelitian.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yag diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengkoordinasikan data kedalam kategori, menjabarkan ke unit-unit, melakukan sitesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting yang akan dipelajari sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.34 Analisis data kualitatif adalah pengujian sistemats dari suatu untuk menetapkan bagian-bagian dan hubungan antar kajian.
Berdasarkan penjelasan diatas, metode yang digunakan peneliti di dalam menganalisis data penelitian lebih diarahkan metode imduktif yang merupakan jalan berfikir dengan mengambil kesimpulan dari data-data yang bersifat khusus. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data induktif yang merupakan metode yang digunakan untuk mengemukakan fakta-fakta atau kenyataan dari hasil penelitian di desa soro kecamatan kempo kabupaten dompu, kemudian diteliti sehingga ditemukan terhadap bagi hasil penggarapan tanah sawah dalam tinjauan hukum islam yang kemudian dikaitkan dengan teori-teori
34 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R dan D (Bandung:Alfabeta, 2012),hlm. 244.
26
terkait bagi hasil penggarapan tanah sawah. Sehingga pokok persoalan dari penelitian ini dapat terjawab sesuai dengan apa yang diharapkan.
6. Keabsahan Data (Validasi Data)
Untuk memperoleh keabsahan data, maka diperlukan tehnik pemeriksaan sehingga diperoleh temuan-temuan dan informasi yang absah, akurat dan dapat dipercaya.peneliti dalam upaya meningkatkan validasi data.35 Dalam penelitian ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menambah Waktu Penelitian
Sebagaimana yang ditunjuk dalam penelitian kualitatif lebih banyak dilapangan,maka peneliti lebih banyak menempatkan diri atau bergaul dengan responden guna memperoleh data lebih banyak sehingga peneliti memiliki cukup banyak bahan uji kebsahan yang akan dilakukan. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman baik bersumber dari peneliti itu sendiri. Hal ini penting untuk menjaga tingkat validasi data yang dikumpulkan.
b. Menambah Refrensi dan sumber data
Kecukupan refrensi penulis digunakan sebagai landasan teoritis yang cukup kuat untuk memuaskan permasalahan. Peneliti menggunakan beberapa refrensi yang berkaitan dengan judul
35Elvinaro Ardianto, Metodelogi Penelitian untuk Publik Relatins Kualitatif dan Kuantitatif, (Bandung : Reakatama Media, 2014:,hlm.194-196.
27
penelitian, guna untuk mendukung segala bentuk penelitian yang dilaksanakan dilapangan.
c. Penambahan Oleh Teman Kolega
Untuk melengkapi segala informasi yang dibutuhkan, peneliti menggunakan penambahan teman sejawat dalam rangka mendapatkan informasi yang lebih dan dapat dipertanggung jawabkan, sehingga data yang diperoleh benar-benar valid.
d. Ketekunan Pengamatan
Pengamatan yang mendalam sangat dibutuhkan dalam pendekatan penelitian kualitatif dengan tujuan untuk menghindari data yang tidak benar yang diperoleh dari responden, yang bisa jadi menutupi fakta, yang kemungkinan sangat internal, akan tetapi hal ini yang menjadi tujuan penelitian yang mendukung keobjektifian.
H. Sistematika Penulisan/Pembahasan
Penulisan laporan hasil penelitian yang digunakan oleh peneliti ini mengacu pada pedoman penulisan skripsi UIN Mataram Tahun 2018.
Guna mendapat gambaran yang jelas mengenai laporan penelitian ini, maka laporan penelitian ini akan disusun dengan sistematika sebagai berikut:
a. Bagian Awal
Pada bagian awal terdiri dari halaman sampul depan, judul, persetujuan pemimbing, pernyataan keaslian skripsi, halaman pengesan, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi dan abstrak.
b. Bagian isi
28
Bagian isi terdiri dari empat bab, yakni bab I pendahuluan, bab II sistem bagi hasil penggarapan tanah sawah di Desa Soro Kecamatan Kempo, bab III analisis praktek palaksanaan Muzara’ah dalam bagi hasil penggarapan tanah sawah, dan bab IV penutup, Empat bab tersebut memilikii uraian masing-masing sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan Bab ini merupakan yang akan menguraikan tentang latar belakang masalah yang akan diteliti yang menjadi dasar ketertarikan peneliti untuk meneliti lebih lanjut, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika penelitian.
Bab II paparan dan temuan, berisi paparan data, pada bagian ini menjelaskan tentang gambaran umum lokasi penelitian dan respon pemilik tanah dan petani penggarap sawah dalam penerapan muzara’ah terhadap bagi hasil penggarapan tanah sawah di desa soro, kec.
Kempo, kab. Dompu.
Bab III pembahasan, berisi analisis hasil penemuan yang penulis paparkan pada bab sebelumnya yaitu respon pemilik tanah sawah dan petani penggarap tanah sawah dalam penerapan muzara’ah terhadap bagi hasil penggarapan tanah sawah di desa soro, kec. Kempo, kab.
Dompu
Bab IV Penutup, bagian ini akan menjelaskan kesimpulan- kesimpulan dari hasil penelitian. Kesimpulan ini merupakan hasil pemikiran peneliti terkait dengan permasalahan yang diteliti.
29 c. Bagian akhir
Pada bagian akhir, penutup yang terdiri dari daftar pustaka, lampiran- lampiran dan daftar riwayat Hidup.
30 BAB II
SISTEM PELAKSANAAN PENERAPAN RAWI DUA Terhadap PENGGARAPAN TANAH SAWAH DI DESA SORO, KECAMATAN KEMPO, KABUPATEN DOMPU
A. Gambaran Umum Desa Soro 1. Sejarah Desa Soro
Pada zaman dahulu yang pertama kali masuk di desa soro adalah orang bugis terdampaknya di sini menjadikan desa soro. Dan soro pertama kalinya orang bugis yang memberikan nama soro ini. Jadi awal-awalnya ini menjadikan satu tujuan menjadi soro bugis, akhirnya bugis mengumumkan menjadikan bima. Dan bima bersatu dengan orang bugis karena ibu dan bapak bercampur orang bugis. Dan soro ini adalah orang bugis, jadi setelah lama-kelamaannya mereka menjadikanya mereka bernama soro, sejak awalnya nenek moyang pertama kalinya masuk ada dua atau tiga orang manusia yang dulu di tinggal di soro sampai hari ini.
Sesudah lama-kelamaannya penuh dengan manusia atau bahkan ratusan manusia.36
Sedangkan nenek moyang terdahulu mereka membuat tradisi adat yang terjadi di desa soro ini tradisi yang mereka lakukan dengan cara adat bugis bukan adat dari bima. Di teluk saleh ini di desa soro kecamatan kempo adat bugis yang dilakukan oleh masyarakat soro. Jadi lama- kelamaan manusia dari keturunan bugis dan bima melakukan adat yang sejak zaman nenek moyangnya melakukan adat celah labu sampai
36Bapak safrullah dahlan (Tokoh Masyarakat), wawancara,soro tanggal 18 April 2020
31
sekarang. Kemudian masyarakat sekarang soro semuanya di kasih nama toro wuwu, toro ruma, nciu dan wodi jadi nama-nama ini sudah jelas diberikan sama keturunan-keturunan nenek moyang pada zaman yang terdahulu jadi dikasihlah nama soro.
Dan ada juga di dusun nciu wilayahnya banyak tanah petak atau tanah sawah dan di dusun nciu juga dikelilingi oleh laut dan sawah. Dan akhirnya mereka menamakan dusun nciu kalau air pasang surut, setelah turun turun pasti akan menjadi rata akhirnya jadi soro dan laut ini rata.
Sebelum juga kampong luas ini yang memberikan nama soro adalah orang bugis kalau kata bimanya soro ini adalah tempat bubuan sebelum adanya rumah.
Bugis yang datang dari jauh memberikan nama soro ini. Kalau nama aslinya bima adalah adalah kempo, dan disini nama itu juga orang bugis yang memberikan nama, lalu keluarnya susunannya yang tertua yang baku jawa, baku berkelahi, dan mereka memberikan nama nciu. Sudah ada terkesia manusia yang mati terdahulu, da nada orang yang memberikan nama-nama desa ini. Orang yang mati yang dikasih nama nciu namanya si jokri orang itulah yang memberikan nama nciu, kalau saya mati jangan lupa jalankan laut ini setiap tahun untuk di korban satu kerbau dan sampai saat ini masyarakat desa soro melakukan tradisi ini.
Dan ada juga cerita yang dimana anak yang terdahulu itu lahir tapi hilang, akibat di dalam mimpi dari orang tuanya karena anak ini lahir itu yang dinamakan toro ruma. Jadi kata nenek moyang yang terdahulu itu bayi tuhan, kemudian kita diberi berkah atau berhasil, kita selalu
32
diselamatkan lautan ini kalau kita berikan keselamatan penyakit segala apapun dan doa-doanya minta jadi anak yang sukse kita akan ingat dengan sejarah toro ruma. Dan setiap harinya orang yang selalu berdzikir, orang yang tertentu itulah yang memberikan keselamatan di laut setiap tahunnya.
Dan itulah sejarah soro dan bugis. Dan bugislah orang pertama yang memberikan nama soro bukan dari orang bima.
2. Letak Geografi Desa Soro
Desa Soro adalah salah satu Desa yang terletak Pada Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, Propinsi Nusa Tenggara Barat, Desa Ini Besar penduduknya bersuku Bima dan bugis makasar. Desa Soro sendiri terbagi menjadi tiga dusun diantaranya adalah dusun Wodi, dusun Nciu, dan dusun Toro Wuwu. Adapun batas wilayah Desa Soro dengan Desa dan Kecamatan lainnya:
1. Bagian Timur Desa Banggo jaraknya hanya 15 km dari pusat Desa Soro.
2. Bagian Barat Desa Soro Barat jaraknya hanya 100 m dari pusat Desa Soro
3. Bagian Selatan Laut dan Desa Kawangko yang berbatasan dengan Kabupaten Sumbawa
4. Bagian Utara ada 2 Desa yeng berbatasan dengan Konte dan Desa Kempo jaraknya hanya 2 km dari pusat Desa Soro.37
3. Luas Tanah Desa Soro
37 Data Letak Geografis Desa Soro, di Akses Pada Tanggal 25 April 2021, Pukul 10.01 Wita.
33
Luas tanah Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu memiliki luas wilayah 419 Ha akan dijelaskan dengan tabel sebagai berikut:38
Tabel 2.1 Luas tanah Desa Soro
Jenis Tanah Luas Tanah
Tanah Sawah 120..55 Ha
Tanah Kering 93.65 Ha
Tanah Perkebunan 100.25 Ha
Tanah fasilitas umum 104.55 Ha
Jumlah 419 Ha
4. Tingkat pendidikan masyarakat Desa Soro
Jumlah tigkat pendidikan masyarakat Desa Soro, KecamataNKempo, Kab Dompu secara keseluruhan dengan jumlah laki- laki sebanyak 2.368 jiwa, dan jumlah perempuan sebanyak 1.155 jiwa.
Akan dijelaskan dengan tabel: 39
Tabel 2.2
Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Soro Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan
38 Data Laus Tanah, Desa Soro, di Akses Pada Tanggal 28 Mei 2021, Pukul 10.01 Wita.
39 Data Jumlah Tingkat Pendidikan, Desa Soro, di akses Pada Tanggal 22 April 2021,Pukul 10.01 Wita
34
Usia 3-6 tahun yang sedang masuk Tk 55 95 Usia 0-6 tahun yang tidak pernah sekolah 78 140 Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah 170 135 Usia 10 tahun pernah SD. Tidak Tamat 72 65
Tamat SD/sederajat 234 200
Usia 12 tahun tidak tamat SLTP 60 86
Usia 18 tahun tidak tamat SLTA 20 35
Tamat SMP/sederajat 220 150
Tamat SMA/sederajat 221 190
Tamat D1-D3/sederajat 30 33
Tamat S-1/sederajat 50 25
Tamat S-2/sederajat 3 1
Jumlah 1.213 orang 1.155 orang
5. Keadaan ekonomi menurut mata pencahrian masyarakat desa soro
Berdasarkan kondisi di desa soro yang didominasi yang lahan pertanian yang bisa dibilang luas, bisa dipastikan bahwa penduduk desa soro mayoritas bermata pencahrian sebagai petani dan nelayan selai sebagai petani dan nelayan, masyarakat desa soro juga banyak yang melakukan pekerjaan sebagai berikut akan di jelaskan pada tabel di bawah ini:40
40 Data Keadaan Ekonomi Menurut Mata Pencaharian, Desa Soro, di akses Pada Tanggal 23 April 2021, Pukul 10.01 Wita