1 Judul : Pemberdayaan pengelola usaha makanan bayi dalam menjamin mutu gizi MP-ASI sebagai penunjang status gizi di kota Malang. Alhamdulillahhirobbil'alamin, atas rahmat dan hidayah Allah SWT, Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2022 bertajuk “Pemberdayaan Pengelola Usaha Makanan Bayi Dalam Menjamin Mutu Gizi MP-ASI Guna Menunjang Status Gizi Anak Usia Dini” dapat terselesaikan di Kota Malang” . Di Kota Malang, usaha bubur bayi sudah mulai berkembang sehingga saat ini menjadi ladang usaha yang menguntungkan.
Rata-rata ibu-ibu menilai kategori usaha bubur bayi baik berdasarkan kecepatan pelayanan, rasa favorit, kemasan dan label menarik, tekstur enak dan nyaman. Jenis makanannya tidak hanya bubur bayi tetapi juga menawarkan menu pilihan untuk semua kelompok umur balita. Berdasarkan data kesehatan Dinas Kesehatan Kota Malang tahun 2020 menunjukkan jumlah balita sebanyak 59.320 jiwa, jumlah balita yang ikut penimbangan sebanyak 43.766 jiwa, dan jumlah balita yang mengikuti penimbangan sebanyak 43.766 balita. adalah 2.867 balita, 5.839 balita. lima dan angka di bawah lima.
Perkembangan usaha bubur bayi balita di Malang berpotensi memberikan kontribusi terhadap penyediaan makanan bayi balita yang cenderung meningkat dan menjadi faktor lingkungan yang akan mempengaruhi status gizi balita di Malang. Di sisi lain, belum adanya pengawasan terhadap usaha bubur bayi balita terkait kualitas gizi dan keamanan produk, sehingga perlu adanya program pengabdian kepada masyarakat pada usaha bubur bayi balita di Malang dengan memberikan pelatihan dan pendampingan. Berkembangnya usaha makanan bayi di kawasan UMKM wilayah Kota Malang menjadi perhatian dalam pelaksanaan proses pengolahan dan penyajiannya kepada konsumen.
Sebelumnya, Tim Pengabdian kepada Masyarakat melakukan analisis pendahuluan dengan mengamati berbagai jenis produk makanan bayi yang bersumber dari UMKM di wilayah Kota Malang dan melakukan uji organoleptik, analisis empiris gizi dan uji laboratorium.
Sasaran
11 Secara empiris menunjukkan masih terdapat beberapa produk yang kandungan gizinya kurang dari kebutuhan makan anak kecil menurut klasifikasi umur. Kandungan gizi yang tidak memenuhi kebutuhan disebabkan oleh kombinasi pemilihan bahan pangan yang kurang beragam dan komposisi jumlah bahan yang kurang seimbang atau proporsional. Uji organoleptik juga menunjukkan bahwa beberapa produk MP-ASI yang dihasilkan UKM makanan bayi masih memiliki rasa yang sangat kuat, tekstur terlalu cair dan warna kurang menarik.
Berdasarkan analisis awal tersebut, hal ini dapat dijadikan sebagai landasan penguatan pengetahuan yang fokus pada pedoman gizi seimbang untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi berdasarkan usia. Hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para pengelola usaha perusahaan susu formula bayi untuk menjamin mutu gizi produknya sebagai suplemen ASI untuk menunjang tumbuh kembang bayi, mutu gizi dan keamanan bayi. produk makanan.
LUARAN KEGIATAN
Berdasarkan analisis situasi dan hasil diskusi dengan mitra, permasalahan utama yang harus diselesaikan bersama mitra pengelola sektor makanan bayi dan balita (home industri) di Kota Malang adalah peningkatan pengetahuan, keterampilan dan peningkatan kualitas makanan bayi dan balita. produk makanan. meliputi kualitas gizi, sistem pengolahan berupa pelatihan dan pendampingan. Untuk menjamin kegiatan pelatihan dan pendampingan berjalan lancar, berkesinambungan dan terencana, kegiatan ini dikoordinasikan bersama mitra oleh Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Gizi Malang.
Tahap Pertama
Tahap Kedua
Tahap Ketiga
Tahap Keempat
Luaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat berupa pemutakhiran pengetahuan para pelaku usaha UMKM makanan bayi dalam penyiapan produk MP-ASI dan cara membuat makanan MP-ASI seimbang sesuai dengan referensi dan kebutuhan bayi dan balita. nutrisi. Maka pemberdayaan masyarakat di bidang UKM makanan bayi dapat dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kontribusi dalam mengatasi kejadian stunting di Kota Malang.
Gambaran Lokasi Pengabdian Masyarakat
Rincian Kegiatan
Materi 1 yaitu pentingnya gizi seimbang dalam menunjang tumbuh kembang bayi dibawah usia lima tahun menjelaskan tentang proses tumbuh kembang bayi dibawah usia lima tahun sejak masih dalam kandungan hingga balita. Pada materi 2 terkait standar pengemasan dan aman untuk pengemasan produk MP-ASI. 18 Pada pemberian materi ketiga mengenai teknik pengolahan pangan, peserta menjelaskan tentang tujuan pengolahan pangan, berbagai teknik pengolahan pangan yang aman dan tetap higienis. Kemudian, peserta diperlihatkan beberapa contoh hasil pengolahan makanan dengan menggunakan bahan pangan lokal seperti pisang, labu kuning, pepaya, bungkil kedelai, tepung daun kelor, dan umbi-umbian sebagai makanan utama atau pendamping.
Pemberian materi 4 menu seimbang dalam penyusunan MP-ASI mengenai penyusunan komposisi MP-ASI yang meliputi pengenalan jenis-jenis bahan makanan yang berpotensi bagi tumbuh kembang bayi dan balita, serta menentukan jumlah bahan untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam sehari, menjelaskan standar porsi dan peralatan rumah tangga yang dapat digunakan untuk menentukan standar penyajian. Selanjutnya dijelaskan mengenai macam-macam pangan olahan MP-ASI yang dapat dikreasikan dengan bahan-bahan berbeda yang memiliki kandungan gizi potensial, terutama penggunaan bahan pangan lokal. Dalam penyusunan menu MP-ASI seimbang, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok didampingi oleh moderator kelompok.
Dalam diskusi kelompok, peserta diminta untuk menyiapkan langsung menu makanan pendamping ASI seimbang sesuai dengan materi yang diberikan tentang kebutuhan gizi anak usia dini, mengacu pada makanan seimbang, porsi makan dan cara pengolahan bahan-bahannya. makanan.makanan. Selain itu, produk MP-ASI hasil praktik masing-masing kelompok disajikan dalam alat presentasi yang telah dievaluasi oleh tim pengabdian masyarakat. Setelah kegiatan pelatihan selesai, kegiatan pendampingan dilanjutkan selama 1 bulan dengan melihat perkembangan pengolahan produk MP-ASI yang dilakukan peserta.
21 dan evaluasi bersama fasilitator kelompok, dan pada bimbingan akhir peserta diminta praktek melakukan MP-ASI sesuai saran dan masukan selama pelatihan dari tim pengabdian masyarakat.
Data Capaian Pengabdian Masyarakat 1. Karakteristik Peserta
Penilaian Produk MP-ASI Peserta
Hasil Uji Organoleptik Evaluasi Produk MP-ASI Peserta Nama Produk Kode Aroma Warna Tekstur Rasa. Tabel 2 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, peserta sudah mendapatkan nilai sangat baik dari panelis kelompok kerja masyarakat. Berdasarkan rasa, aroma, penyajian, peserta menyiapkan MP-ASI dengan kategori yang diinginkan atau skor rata-rata 4.
Tingkat Pengetahuan Peserta
Berdasarkan analisis, jenis topik yang kurang dipahami oleh peserta adalah terkait pengolahan MP-ASI pada saat proses pembuatan produk.
Hasil Pendampingan
Kesimpulan
Saran
Masalah kegagalan balita masih membayangi: Apakah ada yang “cacat” dalam kebijakan program gizi di Indonesia. Hubungan pola asuh ibu dengan status gizi balita di tempat kerja Puskesmas Ranotana Weru Kecamatan Wanea Kota Manaddo. Hubungan asupan energi dan protein dengan status gizi anak usia 1 sampai 3 tahun di tempat kerja Puskesmas Ranomut Manado.
Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Status Gizi Balita Di Kecamatan Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang Tahun 2004. Jurnal Kesehatan Masyarakat.
PANDUAN
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN USAHA BABY FOOD DALAM MENJAMIN
KUALITAS GIZI PRODUK MPASI DI KOTA MALANG
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang pada hari ini kami masih mendapatkan kesehatan baik lahir maupun batin sehingga kami dapat mengikuti kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Bisnis Babyfood untuk menjamin kualitas gizi produk MPASI di Kota Malang. Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Pengabdian Masyarakat Pendidik Gizi Politeknik Kemenkes Malang yang telah merancang dan mengembangkan kegiatan ini. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam mengelola usaha makanan bayi untuk menjamin kualitas gizi makanan MASI yang dihasilkan.
Makanan bayi atau balita ini merupakan makanan utama yang dibutuhkan bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi tumbuh kembang anak. Hal inilah yang mendorong para ibu memilih membeli makanan untuk bayinya dibandingkan menyiapkannya di rumah. Dengan semakin berkembangnya bisnis makanan bayi-balita di Kota Malang dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan.
Berdasarkan data kesehatan Dinas Kesehatan Kota Malang tahun 2020 menunjukkan jumlah balita sebanyak 59.320 jiwa, jumlah balita yang ikut penimbangan sebanyak 43.766 balita, dan jumlah balita gizi buruk sebanyak 2.867 balita, balita pendek sebanyak 5.839 balita, dan balita gizi buruk sebanyak 2.867 balita, balita pendek sebanyak 5.839 balita, dan balita gizi buruk sebanyak 2.867 balita. jumlah balita gizi kurang sebanyak 1.544 balita (Dinas Kesehatan Kota Malang, 2020). Beberapa faktor penyebab terjadinya permasalahan gizi pada balita di Malang, pemberian makanan tambahan ASI (MP-ASI) menjadi salah satu faktor utamanya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dan pemberian MP-ASI berpengaruh signifikan terhadap status gizi balita.
Nilai gizi MP-ASI dan pola pemberian MP-ASI menentukan terpenuhi atau tidaknya kebutuhan gizi balita. Pola pemberian MP ASI secara bertahap sesuai usia akan mendukung tumbuh kembang bayi dibawah usia lima tahun, sejalan dengan pola tumbuh kembang balita berdasarkan WHO. Perkembangan produksi bubur bayi dan balita di Kota Malang berpotensi memberikan kontribusi terhadap penyediaan pangan bayi dan balita yang cenderung meningkat dan menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi status gizi anak balita di Kota Malang.
Oleh karena itu perlu adanya pengabdian kepada masyarakat terhadap perusahaan makanan bayi di Malang dengan memberikan pelatihan dan pendampingan untuk menjamin kualitas gizi produk makanan bayi. Pengetahuan tentang Gizi Seimbang untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal pada bayi baik dari segi jenis bahan makanan, jumlah zat gizi, food plan 2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam menyusun menu MPASI seimbang berdasarkan bahan makanan lokal dan sesuai usia .
Individu yang mengikuti pelatihan terdiri dari anggota Tim Pengabdian kepada Masyarakat dan guru-guru Jurusan Gizi Politeknik Kemenkes Malang. Instruktur praktek lab diambil dari alumni ahli gizi dan mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Terapan dan Dietetika, Departemen Gizi, Poltekkes, Kementerian Kesehatan, Malang.
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SDM KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
Jumlah produk bertambah, jenis produk bertambah, kapasitas produksi meningkat, sukses ekspor, sukses antar pemasaran.