Shalom, Pak Samuel & rekan-rekan. Terimakasih untuk ajakan berbincang, bukan “turun gunung” karena saya masih terus menjelajah dalam ziarah teologi. Mohon maaf saya hanya sesekali membaca info di grup ini karena terlalu _crowded_ dengan segala macam info.
Apalagi jika pesan yang sama diposting berulang-ulang, hingga saya memilih _left_ dari grup WA GSJA tertentu.
Perbincangan mengenai doktrin GSJA tampaknya cukup intens ya. Mengawali komentar ini, saya mengutip dari halaman 11 buku *Doktrin Alkitab* (judul aslinya _Bible Doctrines: A Pentecostal Perspective_) tulisan Dr. Menzies dan Dr. Horton. Saya beruntung pernah diajar oleh kedua beliau saat kuliah di APTS tahun 1993-1996. Perhatikan pada judul aslinya ada kata “Perspektif” yang dapat diartikan sebagai sudut pandang yang digunakan dalam memilih pendapat dan kepercayaan ttg sesuatu hal. Jadi tidak mengklaim pemahaman mutlak dan komprehensif.
Berikut beberapa catatan saya:
*I. Assemblies of God di Amerika Serikat*
1. Menetapkan “16 Fundamental Truth” sebagai acuan doktrinal. Pokok-pokok itu kemudian dielaborasikan dalam buku Doktrin Alkitab oleh dua sarjana teologi sistimatika terkemuka AoG di AS.
2. Perlu diketahui bahwa 16 butir itu pun beberapa kali direvisi, baik redaksi, jumlah butir maupun tambahan pokok bahasan. Misalnya topik “pengudusan menyeluruh” yang menimbulkan perdebatan karena diartikan beragam (sesuai “warna teologi” yang ada di antara PI GSJA sendiri), sehingga harus ditinjau dan disederhanakan untuk bisa merangkul semua.
3. Tambahan lagi, ke-16 butir itu tidak selalu bisa menjawab semua dinamika teologi/doktrin yang berkembang, sehingga GSJA perlu menugaskan para sarjananya membuat kajian untuk dipresentasikan dan dibahas di forum tertentu, lalu menghasilkan “position papers.”
Beberapa dari paper ini dikumpulkan atl. dalam buku _Where We Stand_. Paper-paper seperti ini juga bertambah dan ditinjau dari waktu ke waktu sesuai kebutuhan kontemporer dan kontekstual.
4. Ulasan dalam buku _Bible Doctrines_ dan positioning paper ini berbeda “kedudukannya”
dengan pernyataan iman dalam TGPP yang dituangkan lebih ringkas dan sederhana. Ini bisa saja dikaji (ulang), karena sesuai dengan cuplikan dari buku di atas *”… tidak dimaksudkan sebagai suatu pengakuan kepercayaan sebuah gereja, tidak juga sebagai dasar bagi
persekutuan bagi orang-orang Kristen, tetapi hanya sebagai dasar kesatuan bagi pelayanan itu sendiri…”* Jangan lupa juga, bahwa pernyataan iman dalam Tata Gereja pun tidak bersifat _inerrant & infallible_ seperti halnya Alkitab, makanya bisa direvisi. Tentu saja dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam TGPP. Dan hal itu sudah beberapa kali
dilakukan. Bahkan Gordon Fee yang memiliki pemahaman lumayan berbeda dengan AoG di AS tentang “initial evidence” pun tidak pernah dipecat dari kependetaannya di GSJA.
*II. GSJA di Indonesia*
1. Perlu dipahami dahulu bahwa relasi antara AoG di AS dengan GSJA di RI (dan GSJA di negara-negara lainnya) itu bukan “pusat dengan cabang” melainkan “fellowship”
(persekutuan). Jadi, GSJA tidak punya kantor pusat international (dan tidak punya
“Paus GSJA” , yang ada ialah “World Assemblies of God Fellowship” (WAGF).
Dengan kata lain GSJA di Indonesia setara dengan GSJA di AS.
Catatan: natur/DNA ini bisa ditelusuri dari sejak pendirian dari Assemblies of God (tentu tidak saya bahas di sini, karena akan meluas. Bila perlu, pakar sejarah kita Pak Gani Wiyono bisa menguraikan dengan akurat). Poinnnya adalah: GSJA di AS tidak memiliki kedudukan yg lebih superior untuk mengatur persoalan internal GSJA di RI, termasuk dalam penyusunan pernyataan iman. Paling banter, jika pernyataan
imannya dianggap berbeda secara esensial, maka kita tidak bisa ber-fellowship dalam satu wadah WAGF. Di beberapa negara ada denominasi “Assemblies of God” yang tidak bergabung dalam WAGF, dan di satu negara bisa ada lebih dari satu denominasi yang merupakan anggota WAGF (misalnya Korea Selatan dan Thailand).
2. GSJA di Indonesia telah menetapkan 11 butir pernyataan iman. Perhatikanlah, bahwa pernyataan iman itu ditaruh dalam PP, dan bukan TG. Pendeta GSJA pasti paham implikasinya, bahwa mengubah/merevisi PP lebih mudah daripada mengubah TG.
Para pendahulu kita telah memiliki visi jangka panjang saat menempatkan ini di PP.
3. Tentang jumlah 11 butir itu lebih mengacu pada 11 butir WAGF (bukan 16
Fundamental Truth yang menjadi acuan buku “Bible Doctrines”). Tetapi ada beberapa pokok yang cukup berbeda antara 11 butir WAGF dengan 11 butir GSJA, bahkan untuk hal yang bagi banyak pentakosta klasik menjadi pembeda dari non pentakosta.
Misalnya tentang *baptisan Roh Kudus.* WAGF secara eksplisit menyatakan: “… is accompanied by the manifestation of speaking in tongues as the Spirit gives utterance as the initial evidence …”. Sementara PP GSJA menyederhanakan:
“Baptisan Roh Kudus menurut Kis 2:4 dikaruniakan kepada orang yang beriman yang memohon dari Allah.” Secara implisit memang menunjukkan posisi GSJA menganut pandangan BRK sebagai “subsequent” (terpisah dari dan terjadi sesudah pengalaman keselamatan” tetapi tidak eksplisit. Juga tentang “initial evidence.” Jika frasa
“menurut Kis 2:4” menjadi acuan, maka keragaman tafsir menjadi keniscayaan.
4.Hal yang sama juga bisa dilihat mengenai paham eskatologi, yang tidak eksplisit menyatakan posisi premillenialisme dan pretribulasi. Meskipun secara historis dipahami bahwa pentakostalisme menganut premillenialisme dan pretribulasi. Tetapi memahami posisi eskatologi secara berbeda dari paham tradisional tidak membuat seseorang kehilangan “kepentakostaannya.” Dr. Robert Menzies (anak dari Dr.
William Menzies), misalnya, menganut post tribulasi dan secara terbuka
mengajarkannya di seminari milik GSJA (APTS). Siapa yang meragukan kepakaran beliau dalam studi pentakosta dan cukup berani bilang dia sesat dan harus dipecat?
Implikasinya dalam percakapan kita di atas adalah sbb.:
1. Ada pokok-pokok doktrinal yang dianggap differensial dan esensial bagi
kepentakostaan (atl. tentang baptisan Roh Kudus, kedatangan Kristus kedua kali).
Setiap denominasi Pentakosta membuat batasan dan cakupan (esensi dan non esensi) yang bisa saja beragam, namun tetap meyakini jati diri kepentakostaannya.
Tuhan turut bekerja di dalam dan melalui keseragaman dan keberagaman ini.
2. Topik-topik doktrinal memiliki ragam perspektif. Keragaman itu merupakan
keniscayaan, baik dalam lingkup tubuh Kristus yang lebih luas maupun lingkup suatu denominasi. Para pendahulu kita di GSJA telah memberi ruang keragaman ini namun dengan batasan yang disederhanakan, agar kita tidak menjadi terlalu legalistik dalam menyikapi keragaman.
3.Ada prosedur yang dimungkinkan untuk meninjau (ulang) pengakuan iman yang tertuang dalam PP GSJA. Berbesar hatilah untuk menerima rekanmu sesama PI GSJA dalam hal yang mungkin berbeda bahkan dalam hal yang tertulis di PP itu. Berilah forum yang fair, ruang yang ilmiah, dan dalam suasana persaudaraan. Sebelum itu tersedia, janganlah mendahului dengan tuduhan “sesat, panggil, pecat.” Ingatlah bahwa Gerakan Reformasi, pietisme, Pentakostalisme dll itu pun dulu dianggap sesat oleh kaum arus utama. Sudah berapa kali “sesat” kita sekarang jika mengikuti
penilaian tersebut?
4.GSJA termasuk salah satu denominasi Pentakosta paling solid dari perpecahan dibandingkan denominasi pentakosta lainnya. Salah satu faktor penting dari
ketahanan itu adalah posisi yang solid dalam hal yang esensi namun memberi ruang keberagaman untuk hal-hal yang non esensi, serta keterbukaan untuk terus
mengevaluasi diri (bahkan untuk hal yang dianggap esensi). Ini juga merupakan prinsip reformasi “ekklesia reformata semper reformanda” (gereja reformasi harus terus-menerus dibaharui). Rugi besar jika kita menghilangkan kekuatan itu dengan menjadi baku, kaku dan beku. Jangan sampai “Movement” akhirnya memfosil menjadi “monument”!
Kajian ulang itu atl. dengan melihat objek yang sama tapi dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin sebelumnya kita tidak melihat sisi tsb. Hermeneutik Pentakosta itu memiliki 3 pilar utama: Word, Spirit & Community. Community itu mencakup bukan hanya sesama Pentakosta tapi juga kelompok org percaya yg berbeda (denominasi, geografi, gender, dsb) dari cara pandang kita selama ini. Kalau kita meyakini bahwa Roh Kudus juga berkarya di tengah mereka maka pembacaan mereka akan kitab suci akan justru memperkaya pembacaan dan pembacaan (ulang) kita akan teks yang sama. Tentu tidak selalu berarti kehilangan identitas kita, karena perspektif kita pun dibutuhkan oleh anggota tubuh Kristus yang lain.
Padahal position paper itu pun tidak sekali jadi dan posting di WA� Proses berteologi itu suatu ziarah iman. Secara historis pun, Gerakan Pentakosta tidak memulai dengan dalil² teologis, tapi spiritualitas perjumpaan dengan Tuhan oleh karya Roh Kudus. Gereja mula² juga begitu kan? Di Kis 2 dicatat setelah mengalami, baru Petrus memberi "risalah teologi" nya. Itupun terus digumuli pada pengalaman² lanjutan, sampai sekali waktu dirasa perlu mengadakan simposium teologi di Kis. 15�
Ini berbeda dengan gerakan reformasi yang dipicu oleh studi induktif bertahun² oleh para reformator.