Bahwa filsafat Barat tidak mempunyai pengetahuan tentang agama, dan filsafat Timur menunjukkan keakraban dengan agama.5 Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa filsafat Barat adalah cikal bakal ilmu pengetahuan sekaligus merupakan “produk otonomi akal atau pemikiran manusia”6 dan bukan filsafat Barat. monistik. Filsafat Timur. Kontribusi Plato dan Aristoteles terhadap Teologi Kristen Filsafat Barat hendaknya lebih bercirikan hasil otonomi akal atau nalar.
Logos dalam Perspektif Yohanes
Pemikiran di atas merupakan pembahasan berang-berang atau logos pada tataran ontologis/metafisik dan epistemologis kedua kata tersebut. Kita harus memusatkan perhatian pada berang-berang atau Logos Sarx (LS) agar pemahaman kita menjadi utuh, karena di situlah kita membangun pemahaman iman kita.
Pendahuluan
Padamulanya Ketakutan Menciptakan Dewa-dewa? 28 (Primus in orbe Deos fecit Timor)
Berbicara tentang Tuhan berarti kita mengarahkan pikiran kita pada pengetahuan tentang Tuhan, khususnya tauhid. Hal ini bukan berarti kita terlalu cepat untuk benar-benar memasuki bidang studi teologi, melainkan sebagai pengenalan terhadap ilmu teologi.
Religiositas Eksistensial Manusia
Dari sisi praktis (iman), terkadang kita sebagai orang beriman menghadapi ketegangan iman yang mana dalam situasi seperti ini, orang beriman harus melihatnya sebagai kesempatan untuk melihat tangan Tuhan bekerja. Jika Anda mengikuti secara detail apa yang Tuhan inginkan, niscaya momen kepercayaan pribadi kepada Tuhan akan muncul.
Manusia dan Agama 37
Whitehead mengemukakan tentang agama bahwa “sebuah agama yang rasional di mana kesaksian iman dan upacara-upacaranya diorganisasi sedemikian rupa sehingga menjadi elemen sentral dalam tatanan kehidupan yang koheren – pengaturan itu koheren baik dalam menjernihkan pikiran maupun dalam mengarahkan perilaku ke arah kesatuan perspektif. yang memungkinkan persetujuan etis.”40 Secara tidak langsung, Whitehead menegaskan bahwa agama bergerak secara evolusioner, dari tahap primitif ke tahap universal. Dalam agama rasional, tidak hanya emosi (religiusitas), ritual dan upacara saja yang memegang peranan penting.
Agama dan Dogma
Namun agama-agama besar justru muncul ketika masyarakat telah mencapai tingkat kebudayaan yang maju atau yang bisa kita sebut dengan agama modern. Sedangkan Alfred dalam bukunya The Divine Succession A Science Of Gods Old And New mengatakan bahwa agama merupakan aktivitas manusia yang otonom dan bahkan merupakan fakta keberadaan.
Kesimpulan
Presuposisi A-the (o)-isme
Jika agama adalah ilusi (apa yang dibayangkan? Mudahnya, apa yang dibayangkan dalam agama adalah intipati agama atau membayangkan Tuhan), sudah tentu Tuhan juga hanyalah ilusi. Jika anda telah menemui identiti anda mengapa percaya kepada Tuhan dengan kata lain "Tuhan sudah mati". Maknanya apabila Tuhan sudah mati atau tiada, maka yang menjadi pemerintah ialah diri sendiri.
Tom Jacobs memahami kritik agama sebagai “penolakan terhadap Tuhan yang disembah oleh umat beragama”.46 Ia hanya menambahkan hal ini. Hanya saja saat ini kita jarang menjumpai ateisme teoretis (penolakan total terhadap Tuhan dalam pikiran dan tindakan), namun yang sering kita jumpai adalah ateis praktis.
The- (o)-isme
Sebab jika alam semesta ada karena dirinya sendiri, maka alam semesta adalah “tuhan” tersendiri. Para teolog menyebut wahyu diri Tuhan melalui dunia atau alam semesta sebagai argumen kosmologis/logis. Alam semesta yang ada saat ini tentunya berasal dari ketiadaan, atau berasal dari sesuatu yang kekal.
Jika alam semesta tidak menciptakan dirinya sendiri, maka pasti ada pribadi abadi yang menciptakan atau menjadikan alam semesta ini ada. Sengaja disisipkannya istilah “cerdas” di atas penyebab keteraturan alam semesta menunjukkan kecerdasan dan kejeniusan seseorang yang mengaturnya agar teratur dan menuju satu tujuan.
KESIMPULAN
Yesus, satu-satunya Anak Tuhan, berasal dari Tuhan dan Dialah yang mengetahui kewujudan Tuhan (Bapa). Jika kepenuhan Tuhan (keseluruhan Tuhan) tinggal di dalam Yesus, bermakna "keseluruhan diri Tuhan (keseluruhan Tuhan) ada di dalam Yesus", maka Yesus adalah Tuhan yang benar. Dialah Anak Tunggal Tuhan, yang muncul daripada Tuhan dan Dialah yang mengetahui tentang kewujudan Tuhan (Bapa).
Jika seluruh kepenuhan Tuhan berdiam di dalam Yesus, ini berarti “keseluruhan Diri Tuhan ada di dalam Yesus”, maka Yesus adalah Tuhan yang benar. Kita berfilsafat dan meminta maaf bukan untuk memuaskan hasrat intelektual seseorang, namun untuk menghormati integritas intelektual seseorang – McDowell.
Pengantar
Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan agama-agama dunia dalam pemahamannya tentang ketuhanan.
Heterogenitas Keyakinan Dalam Penghayatan Ketuhanan
Sedangkan agama-agama besar pada umumnya muncul ketika masyarakat sudah mencapai tingkat kebudayaan yang sudah maju atau biasa kita sebut dengan agama modern. Walaupun keduanya berbeda waktu, perkembangan dan ajarannya, namun unsur yang menjadikan keduanya (agama primitif dan modern) sama adalah masih adanya unsur kesucian dan misteri. Sebab jika suatu keyakinan atau agama kehilangan unsur kesucian dan misterinya, maka keyakinan atau agama apapun akan menjadi tidak bernyawa.
Karena tidak semua agama bisa menyebut “Tuhan”, apalagi “Allah”.74 “Tuhan” kita mencakup semua persepsi tentang suatu realitas di belakang, di bawah, di dalam, atau di atas realitas indrawi sehari-hari. Kata “Tuhan” dan “Allah” di sini digunakan dalam pengertian yang sama, hanya saja kata “Allah” dengan “sangat tegas” mengungkapkan sifat-sifat pribadi Tuhan yang – dalam agama Ibrahim – rupanya menampakkan dirinya dalam sejarah empiris manusia.
Pelbagai Penghayatan Ketuhanan
Ada upaya untuk mengadaptasi terjemahan Kel.6:1-2 dengan kehadiran nama Yahweh sebelum Musa dalam teks ini (misalnya dengan menafsirkan ulang kata Ibrani 'ba' (sebelum nama 'El shadday') dan 'El shadday') lo' (setelah nama Yahweh) dalam Keluaran 6:3 lebih merupakan upaya kompromi daripada kebenaran. Namun, meskipun tiga agama Semit Yudaisme, Kristen dan Islam menyembah Tuhan yang sama 'El/Allah', ini tidak berarti bahwa semua ajaran/aqidah ketiganya adalah sama.. Perbedaan /aqidah tersebut dikarenakan adanya keyakinan bahwa ketiganya berdasarkan hadis dan kitab suci yang berbeda (yang masing-masing dipegang sebagai wahyu) mengenai 'El/Allah' yang sama.
Boleh jadi jika kita telusuri nama Tuhan yang disembah pada “El” dan “Yahweh”, kita bisa menyelaraskannya dengan anggapan bahwa keduanya hanyalah nama yang berbeda, namun mengacu pada “pribadi” yang sama. Kejadian 14 menceritakan kisah Melkisedek – imam dan raja kota Salem yang memberkati Abraham dengan nama “El-Elyon”.
Rangkuman
Melalui Abraham muncul pemahaman baru tentang ketuhanan dalam kemanusiaan, yang kemudiannya menjadi pemahaman khusus tentang tiga agama Abraham. Dia tidak wujud di alam semesta dan Dia tidak terurai di alam semesta dan bumi, sebaliknya Dia menciptakan langit dan bumi. Maksudnya, ketuhanan difahamkan sebagai Tuhan yang mempunyai ilmu dan kehendak, yang mengambil berat tentang umatnya, yang memberi petunjuk kepada manusia termasuk setiap orang secara peribadi.
PENDAHULUAN
Pluralisme Sebagai Suatu Perubahan
Dari Pikiran Mitis Hingga Fungsional
Dari alam roh mistis yang bercirikan ketakutan akan kekuatan yang tidak merenggut manusia dari segalanya. Ada yang 'ada', namun ada yang dipertanyakan, yaitu 'apa' itu para dewa, bagaimana hakikat dan keberadaan para dewa. Pertanyaan tentang “apa” para dewa itu bukan dalam konteks “kesombongan” manusia, melainkan pertanyaan tentang rasa hormat.
Van Peursen kemudian menekankan bahwa 'esensi hakikat para dewa diperoleh melalui argumentasi, sambil terus memutar otak, dan bahwa pada zaman klasik ilmu ini disebut teologi.'99 Mempertanyakan 'apa' yang dimaksud dengan metafisika yang problematis? masalah. Berkaitan dengan istilah tersebut, Van Peursen menegaskan bahwa kata ini digunakan khusus untuk kebudayaan modern.
MANUSIA DAN PLURALITAS KEYAKINAN
Hans Kung, teolog Katolik radikal dalam tulisan Pinnock mengatakan: "Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, tidak mungkin satu agama berdiri terisolasi sepenuhnya dan mengabaikan agama lain." Kesadaran akan keberagaman tidak hanya sampai pada taraf merasakan keberadaan agama lain, namun juga diperlukan untuk membangun hubungan baik dan toleransi yang lebih luas. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari bahwa seruan untuk berdialog dan membuka hubungan yang lebih luas akan mulai disuarakan.
Kepelbagaian Keyakinan dalam Negara Pancasila
Namun, sampai saat ini agama Kristen (non-pluralistik) berbeda dengan agama lain dalam “Realitas Tertinggi/Realitas Tertinggi”. Selain agama Kristen, ketika sampai di sini muncul ambiguitas tentang Tuhan/siapa yang disembah dan muncul pernyataan “utamanya Tuhan, atau kalau ditanya siapa nama Tuhan maka jawabannya iya Tuhan. Indonesia punya lebih banyak agama yang satu berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan kriteria, sehingga yang satu tidak bisa subordinasi satu sama lain.
Bersama-sama, manusia berjuang untuk dirinya sendiri dan orang lain selalu dalam kemanusiaan, keadilan, demokrasi dan keadilan sosial (sosial selalu dalam homo homini sosius bukan homini lupus), yang diikat oleh cinta. Di sana, orang melihat orang lain sebagai I-Thou, bukan I-It, dan juga I-He (salah satu pemikiran Martin Buber). Demokrasi yang berpedoman pada kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang beriman, manusiawi, bersatu dan berkeadilan sosial.
Kepelbagaian Dalam Realitas Praksis Bernegara
Ketika membahas sikap orang Kristen terhadap pemerintah, penting untuk mengetahui bahwa isu utama dalam Roma 13:1-7 adalah apakah orang Kristen harus tunduk kepada pemerintah. Alkitab atau firman Tuhan akan menjadi tolak ukur atau titik tolak umat Kristiani dalam mengambil sikap terhadap pemerintah, karena Firman Tuhan mempunyai otoritas tertinggi. Telah disebutkan di atas bahwa Firman Tuhan menjadi tolak ukur umat Kristiani dalam menentukan sikapnya terhadap pemerintah.
Memang orang yang tidak tunduk disebut orang yang tidak taat, tetapi pembangkangan Kristen adalah pembangkangan yang bertanggung jawab. Karena umat Kristiani tidak tunduk kepada pemerintah jika ada hal atau aturan yang dikeluarkan pemerintah bertentangan dengan keyakinannya.
Tanggapan
Penutup
Pluralisme yang terjadi saat ini karena masing-masing kelompok mengalami proses emansipasi sedemikian rupa sehingga masing-masing bagian melakukan emansipasi secara bersama-sama dan tampil bersama sebagai sederajat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa jenis pluralisme yang ada saat ini muncul bersamaan dengan kesadaran emansipatoris setiap kelompok masyarakat. Secara kuantitatif, pluralisme saat ini lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan di masa lalu.
Hardjana Agus, M., Agama, Agama dan Spiritualitas, Yogyakarta: Kanisius, 2009 Knitter Paul, Satu Bumi, Banyak Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006. Sairin Wenata, dan J.M, Pattiasina, Hubungan Hak Asasi Manusia dan Negara Manusia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.