• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengantar Sosiologi Kewarganegaraan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengantar Sosiologi Kewarganegaraan"

Copied!
230
0
0

Teks penuh

Pada saat yang sama, pertumbuhan militer – khususnya infanteri – memberikan isyarat budaya, karakter, dan sistem ikatan keanggotaan yang lebih kuat.9 Dalam teori sosiologi kontemporer, banyak pemikir yang mengatakan bahwa teori sosiologi kewarganegaraan berhutang budi pada konsep kewarganegaraan. kewarganegaraan. Duplikasi Anthony Giddens. Max Weber, “Citizenship in Ancient and Medieval Cities,” dalam Gershon Shafir (ed.), The Citizenship Debate (Minneapolis: Minnesota University Press, 1998), hal. Setelah Weber yang melihat pentingnya militer dalam pembentukan kewarganegaraan , Turner berpendapat – dengan menggunakan data sejarah dari Perry Anderson – bahwa hal lain yang juga sangat penting dalam perkembangan konsep kewarganegaraan di Inggris adalah tidak adanya tentara dan ketergantungan negara terhadap angkatan laut.

Menurut Turner, tradisi Amerika memiliki kesamaan dengan Perancis, terutama dalam hal menolak pemusatan kekuasaan, mengadopsi konsep hak-hak sipil dan kemerdekaan. Akibatnya, konsep kewarganegaraan di Amerika lemah dalam urusan kesejahteraan sosial, meski kuat dalam urusan hak-hak pribadi. Marshall dalam teorinya mengatakan bahwa hak-hak sosial tumbuh setelah atau atas dasar berkembangnya hak-hak sipil.

Nancy Fraser dan Linda Gordon, “Treaty versus Charity: Why No Social Citizenship in the United States?” dalam Gershon Shafir (ed.), The Citizenship Debate, op.cit., personal page, personal liberty) tidak serta merta memperluas kebebasan lainnya di Amerika, termasuk perluasan hak-hak sosial. Konsep-konsep tersebut merupakan inti dari Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara yang tertuang dalam Konstitusi Perancis tahun 1793 (pasca Revolusi Perancis). hak alamiah dan tidak dapat dibatalkan) adalah: persamaan, kebebasan, keamanan, hak milik.”22.

Penghapusan kepemilikan pribadi

Pengembalian manusia sebagai makhluk sosial Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Me -

Manusia adalah Gattungswesen, yaitu makhluk yang tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan biologisnya, namun juga altruistik secara moral, yang selalu ingin membantu dan berkorban untuk orang lain.31 Menurut Marx, kapitalisme telah menjauhkan manusia dari dimensi sosial kemanusiaan. Kapitalisme menjadikan nilai-nilai sosial menjadi sesuatu yang aneh di tengah serbuan egoisme. Kapitalisme menjadikan manusia sebagai “manusia egois” yang hanya mengejar kepentingan dan keuntungannya sendiri dengan mengeksploitasi orang lain.

Jalan keluarnya tidak lain adalah masyarakat komunis sebagaimana diungkapkan Marx bahwa komunisme adalah jalan untuk memulihkan dan menyempurnakan manusia sebagai makhluk sosial.

Situasi ini harus diubah agar masyarakat dapat menikmati pekerjaan yang merupakan hakikat kemanusiaannya. Dalam masyarakat komunis, pekerja sendirilah yang mengatur dan mengelola pekerjaannya, sehingga pekerjaan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Mereka juga bisa menjadi lebih produktif secara kolektif, bukan hanya demi uang.

Dengan kerja yang lebih produktif maka alokasi waktu dapat lebih terencana, sehingga setiap individu mempunyai waktu luang untuk mengembangkan diri.33.

Gerakan inilah – dalam kasus Jerman – yang menjadi sumber kontroversi antara Marx dan Bruno Bauer. Biasanya dalam pertemuan-pertemuan ini yang mendominasi diskusi adalah para demagog - dalam arti asli kata ini -. Marshall, “Kewarganegaraan dan Kelas Sosial,” dalam Sosiologi di Persimpangan Jalan dan Esai Lainnya (London: Heinemann, 1963), hal.

Untuk penjelasan mengenai kebebasan negatif dan kebebasan positif, lihat Isaiah Berlin, “Two Concepts of Liberty,” dalam Michael J. The range of Political Values” dalam Rawls merujuk pada sekumpulan nilai-nilai politik yang bersumber dari pandangan liberalisme tentang keadilan. Pada titik ini, Alfred Marshall dianggap gagal membedakan, apalagi menunjukkan “taktik metodis non-sosialis” dalam upayanya untuk membebaskan kualitas hidup.

Kedua ortodoksi sistem pemikiran di atas tidak dapat didamaikan secara teoritis, apalagi “didamaikan” dalam konteks teori kewarganegaraan. Sistem negara kesejahteraan yang sukses menjadi panutan dan bahkan diberi label sebagai “negara beradab yang paling dermawan dan modern”. Dalam perspektif Marshallian, keberhasilan penerapan sistem negara kesejahteraan pada dasarnya dipengaruhi oleh aktivitas negara dalam melindungi hak-hak ekonomi dan sosial warga negaranya. Kenan Malik, "The Failures of Multiculturalism," dalam Kurt Almqvist (ed.), Negara Sekuler dan Islam di Eropa (Stockholm: Ax:son Johnson Foundation, 2002).

Pocock, “Cita-cita Kewarganegaraan Sejak Zaman Klasik,” dalam Gershon Shafir (ed.), Debat Kewarganegaraan (Minneapolis: Minnesota University Press, 1998). Quentin Skinner, “Wacana Machiavelli dan Asal Usul Ide-Ide Partai Republik Prahumanis,” dalam Gisela Bock, Quentin Skinner, dan Maurizio Viroli, Machiavelli dan Republicanisme (Cambridge: Cambridge University Press, 1999). Kebaikan bersama sebagai “kesejahteraan umum” sebenarnya adalah terjemahan yang paling dekat, mengingat kebaikan bersama sering disebut “kesejahteraan umum” dalam bahasa Inggris.

Selain itu, perlu juga ditambahkan bahwa republikanisme pada umumnya menganjurkan aspek "monastik" dalam pandangannya tentang kewarganegaraan. Johanna Oksala, "Neoliberalisme dan Tata Kelola Biopolitik," dalam Jakob Nilsson dan Sven-olov Wallenstein (eds.), Foucault, Biopolitics and Govern - mentalitas (Stocklhom: Sodertorn Philosophical Studies, 2003), hal. Istilah bare life di sini sengaja tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun pada dasarnya dapat diartikan sebagai “hidup sekedar”. Dalam bahasa aslinya, Agamben menulisnya sebagai "nuda vita", dalam bahasa Inggris sering disebut "naked life", dan dalam bahasa Jerman diterjemahkan sebagai "das nackte Leben".

Keadaan pengecualian menghasilkan warga negara di suatu negara bagian - dalam istilah Arendt - "orang tanpa kewarganegaraan" di suatu negara. Dengan kata lain, jika Heidegger mengatakan ada kesenjangan antara manusia dan hewan, maka sebenarnya – dalam pikiran Heidegger. Hegel "Filsafat Sejarah," dalam Jacob Loewenberg (ed.), Hegel: Seleksi (New York: . Scribner's Sons, 1929), hal.

Menurut Mochtar Lubis, nampaknya buruk di sini berarti bertentangan dengan ciri-ciri manusia modern yang – dalam konsepsi sosiologi Weber – rasional dan bertanggung jawab.

Referensi

Dokumen terkait

The Chief of the Defence Force, General Cosgrove, has affirmed this commitment to change by accepting and implementing all the critical findings in a joint review of the Redress of

67 Organising and driving activities at the international level Bachelor 1 2 Autumn 68 Legal aspects of regional security Bachelor 3 2 Autumn 69 UN in the current system of