Penelitian ini membahas tentang pengaruh Gharar terhadap keabsahan transaksi jual beli. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Pengertian Gharar Menurut Fiqih Islam 2) Ruang lingkup Gharar dalam sistem muamalah Islam 3) Pengaruh Gharar terhadap keabsahan transaksi jual beli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan, yaitu penelitian dengan mempelajari dan menganalisis data-data yang diperoleh dan sumber pustaka seperti buku, makalah, artikel dan lain-lain yang berkaitan dengan pengaruh Gharar terhadap keabsahan transaksi jual beli. Ma'qud 'alayh (benda atau benda). 3) Pengaruh gharar terhadap sahnya transaksi jual beli yaitu; Segala kegiatan yang berkaitan dengan muamalah atau aspek sosial memerlukan aturan yang jelas agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi kecurangan antar pihak yang dapat merugikan orang lain.
Kemudian implikasi dan hasil dari penelitian ini adalah diharapkan seluruh masyarakat khususnya umat Islam memahami hak kijar dalam jual beli, diharapkan semua masyarakat memiliki sistem jual beli yang sesuai. dengan Islam. hukum, dan diharapkan adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai amalan yang mereka lakukan selama ini mengenai muamelah dalam Islam, agar tidak ada lagi permohonan jual beli yang bertentangan dengan syariat Islam. Skripsi ini berjudul “PENGARUH GHARAR TERHADAP PENILAIAN TRANSAKSI PENJUALAN DAN PEMBELIAN” yang dijadikan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadsariyah. .
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tesis ini membahas tentang kontrak dan praktek jual beli produk pertanian secara grosir di Desa Kolomayan. 5 Nur Elafi Hudayani, Unsur Gharar dalam Jual Beli Rosok (studi kasus di Kebonharjo Semarang Utara), (Semarang: IAIN, 2013). 6Ahmad Syaifuddin, Ulasan Fiqih Muamalah Tentang Jual Beli Hasil Pertanian Dengan Metode Grosir (Studi Kasus Di Desa Kelomayan Kec.
8 Siti Magfiroh, Tinjauan Hukum Islam pada Jual Beli Buah secara Grosir (studi kasus di Pasar Induk Giwangan Yogyakarta), (Yogyakarta: UIN SUNAN KALIJAGA, 2008). Perbedaan khusus antara tesis di atas dan tesis ini adalah mengenai pengaruh gharar terhadap sahnya jual beli.
Tinjauan Umum mengenai Gharār 1. Pengertian Gharār
- Gharār dan Tadlīs
- Jenis dan Unsur Ghārar a. Jenis Ghārar dalam Jual Beli
Persamaan tesis di atas dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji unsur gharar (penipuan) dalam akad jual beli. Oleh karena itu, penjualan apa pun yang masih belum jelas atau di luar kendalinya dimasukkan. Contoh jual beli ghār adalah jual beli anak sapi yang masih dalam kandungan induknya.
Dalam kondisi tersebut terdapat ketidakpastian terhadap bagian-bagian yang dijual, hal ini menunjukkan bahwa jual beli tersebut mengandung unsur ghārar. Praktek ghārar dalam jual beli merupakan suatu perbuatan yang mengandung unsur memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Hadits ini menjelaskan larangan jual beli ghārar dan jual beli dengan cara melempar batu.
Bai’ Al-Mu’allāk merupakan transaksi jual beli yang kelangsungannya bergantung pada transaksi-transaksi lain yang diperlukan. Suatu perjanjian dalam suatu transaksi penjualan tidak boleh dapat menerima dukungan atau pernyataan tertentu sebagai pengikat atau dasar terjadinya transaksi tersebut. Apabila hal ini dilakukan maka transaksi jual beli usaha tersebut akan rusak karena terdapat unsur gharār.23.
Maka jual beli yang tidak diketahui objeknya adalah tidak halal kerana di dalamnya terdapat banyak gharar. Gharār dalam jenis objek kontrak boleh menghalang kesahihan jual beli seperti yang berlaku dalam jenis objek kontrak. Berkenaan jual beli batu kerikil (bai' alhashah), yang serupa dengan judi dan biasa dilakukan oleh orang jahiliyyah.
Mazhab Hambali juga tidak memperbolehkan jual beli yang tidak jelas sifat dan sifat objek transaksinya. Dalam transaksi jual beli agar terhindar dari gharar dan tadlis perlu adanya informasi yang jelas dan seimbang antara penjual dan pembeli.
Pendekatan Penelitian
Metode Pengumpulan Data
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Berdasarkan hasil kerja tahap 4 dapat diperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian, sehingga dapat terbentuk kesimpulan internal yang berisi data atau temuan penelitian baru, kemudian dikonfirmasikan dengan sumber data dan sumber lain.
PEMBAHASAN
Pertama: Jual beli barang yang belum ada (ma'dum), seperti jual beli habal al hubalah (janin sapi). Kedua: Jual beli barang yang tidak jelas (majhul), baik yang bersifat mutlak, seperti pernyataan seseorang, “Saya menjual barang seharga seribu rupee,” namun barang tersebut tidak diketahui secara jelas, atau seperti ucapan seseorang, “Saya menjual mobil saya untuk Anda dengan harga sepuluh juta", tetapi jenis dan fiturnya tidak jelas. Ada kerancuan dalam kontrak, seperti penjualan tunai Rp 10.000 dan cicilan Rp 20.000, tanpa menyebutkan salah satu di antara keduanya sebagai pembayaran.
Gharar, apabila ringan (sedikit) atau tidak mungkin dipisahkan darinya, maka tidak mengurangi keabsahan akad jual beli. Artinya, apabila barang yang dibeli dari orang lain belum dialihkan kepada pembeli, maka pembeli tidak dapat menjual barang tersebut kepada pembeli lain. Akad jenis ini mengandung gharar karena ada kemungkinan obyek akadnya rusak atau hilang, sehingga akad jual beli pertama dan kedua batal demi hukum.
Sebagai contoh, orang berkata, "Saya menjual beras pada harga semasa hari ini." Jual beli mulemama ialah jual beli yang memberi kesan antara satu sama lain iaitu setiap penjual dan pembeli pakaian atau barang lain, maka jual beli itu hendaklah dilakukan tanpa persetujuannya atau diberitahu oleh penjual kepada pembeli. ,. Maksudnya jual beli adalah saling membuang, masing-masing dua orang yang berakad membuang apa yang ada dan dijadikan asas jual beli tanpa persetujuan kedua-duanya.
Misalnya: seorang penjual berkata kepada calon pembeli, “jika saya melemparkan sesuatu kepada anda, maka transaksi jual beli itu harus terjadi di antara kita.”85. Jual beli al-hashah adalah suatu transaksi bisnis dimana penjual dan pembeli sepakat untuk membeli dan menjual suatu barang dengan harga tertentu dengan cara melempar batu kecil oleh salah satu pihak ke pihak lainnya, yang dijadikan pedoman baik tidaknya. transaksi akan terjadi. Dalam masyarakat dikenal dengan istilah “uang hilang” atau “uang hilang” yang tidak dapat diperoleh kembali oleh pembelinya.
Pengaruh Gharar Terhadap Keabsahan Jual Beli
Berakal, jual beli anak kecil yang masih belum waras dan bodoh adalah tidak halal. Keadaan tidak boleh dibelanjakan, yang bermaksud bahawa pihak yang terikat dengan kontrak jualan tidak boleh dibelanjakan atau berbelanja, kerana orang yang boros dikategorikan oleh undang-undang sebagai orang yang tidak mampu berniaga, diterjemahkan sebagai tidak mampu membawa. melakukan tindakan undang-undangnya sendiri, walaupun ia berkaitan dengan kepentingannya sendiri. Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna harta kekayaan (yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai sumber kehidupan.
Adapun bagi anak-anak yang sudah paham namun belum mencapai usia dewasa, menurut pendapat sebagian ulama dibolehkan memperjualbelikan barang-barang kecil, karena jika tidak diperbolehkan tentu akan sulit dan sulit, sedangkan agama Islam tidak akan pernah menetapkan aturan, sehingga menimbulkan masalah bagi pengikutnya.89 b. Para ulama fiqih sepakat bahwa yang terpenting dalam jual beli adalah kemauan kedua belah pihak. 1) Orang yang mengucapkannya yaitu penjual dan pembeli (bai' dan mustari) telah baligh dan berakal. 2) Qabul sesuai dengan akad, dalam artian pembeli menerima apa saja yang diterapkan penjual dalam akadnya… Saya akan menjual sepeda ini dengan harga sepuluh ribu rupiah”, setelah itu pembeli menjawab: “Saya akan membeli itu seharga sepuluh ribu rupiah". 3 ).Ijab dan qabul dilakukan sekaligus, artinya kedua belah pihak yang mengadakan akad jual beli hadir dan membicarakan hal yang sama.
Jika penjual mengucapkan ijab, kemudian pembeli pergi sebelum mengucapkan qabul, atau pembeli melakukan aktivitas lain yang tidak ada hubungannya dengan akad jual beli, kemudian mengucapkan qabul setelahnya, maka menurut kesepakatan para ulama fiqh, jual beli tersebut tidak sah. , padahal mereka berpendapat ijab tersebut tidak perlu dijawab langsung dengan qabul.90. Bahwa orang yang membeli dan menjual suatu barang adalah pemilik sah barang tersebut atau telah mendapat izin dari pemilik sah barang tersebut. Barang yang diperjualbelikan harus diketahui jumlah, berat, takaran atau besarnya, sehingga tidak sah untuk jual beli yang menimbulkan keragu-raguan bagi salah satu pihak.
Selain harus diketahui barangnya, juga harus diketahui harga barangnya sah atau tidaknya jual beli tersebut karena mengandung unsur gharar. Karena adanya larangan jual beli gharar, maka selain memakan harta milik orang lain untuk kepentingan batil juga merupakan transaksi yang mengandung unsur perjudian, misalnya. Jual beli gharar dilarang karena mengandung kerancuan seperti pertaruhan atau perjudian, jumlah dan ukurannya tidak dapat dipastikan.
PENUTUP
Kesimpulan
Ma qud alaih (benda atau barang) Merupakan benda dan transaksi jual beli yang berupa benda atau barang. Dalam setiap transaksi kegiatan jual beli dapat dikatakan sah atau tidaknya tergantung pada terpenuhinya rukun-rukun transaksi tersebut. Rukun berarti tiang atau penopang atau unsur yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan suatu perbuatan yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan itu dan ada tidaknya sesuatu.
Menurut ulama Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan kabul, yang menggambarkan pertukaran barang dengan persetujuan, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Saran
Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Syārh Al-Muhazzāb (terjemahan Muhammad Najib Al-Muthi'i), (Jakarta: PustakjaAzzam, 2003). Al-Amin Ad-Dhahir, Transaksi dan Etika Bisnis Islam, (diterjemahkan oleh Saptono Budi Satryo dan Fauziah R.), (Jakarta: VisiInsani, 2005). Al-Jamal, Muhammad Abdul Mun'im. Ensiklopedia Ekonomi Islam. (Trans. Selangor), (Malaysia: DewanBahasa Dan Pustaka Malaysia, 1997).
Al Imam Al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, (Terj. Muhammad Najib Al Muthi‟i), (Džakarta: PustakaAzzam, 2003). Al-Gharar fi al-‘Uqud wa Atsaruhu fi al- Tatbiqat al-Mu’asirah, Savdska Arabija: al-Ma‟had al-Islamic Lilbuhuts wa al-Tadrib [IDB], Cet. Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, Tahqiq Shu‟aib al-Arnauti in Ba‟du al-Qadir al-Arnauti, Bejrut: Muassasah al-Risalah, Set.
Ma’alim al-Sunan Sharh Sunan Abu Dawud, Bejrut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyah, Cet. Jami al-Usul fi Ahadits al-Rasul Saw, Tahqiq oleh Abd al-Qadir al-Arnaut Damask: Dar al-Bayan, 1969. Mausu'ah al-Fiqhi al-Islami wa al-Qadayah al-Mu'asirah, Damask: Dar al-Fikir al-Mu'asir, Set.
Mu‟jam al-Wasit (Istanbul: Dar al-Da‟wah, tt) Sharh Imam Nawawi „ala Sahih Muslim,. syaikh al-Islam) Nazariyat al-‘Aqd, Bejrut: Dar al-Ma‟rifah, tt. Majumu’ Fatawa, Tahqiq oleh Abdul Rahman bin Muhammad bin Qasim, (Madinah Munawwarah: Majma‟ al-Malik Fahd, tt.