PENGARUH KEPEMILKAN INSTITUSIONAL DAN KEPEMILIKAN KELUARGA, TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN PUBLIK YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 2015
Bestari Adji Putri1), Komarudin Achmad2) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
Jl. MT. Haryono 165, Malang 65145, Indonesia
ABSTRACT
This study aims at analyzing the effect of institutional ownership and family ownership on the performance of public companies listed on Indonesia Stock Exchange in 2018. The purposive sampling method is applied in this study. The kind of data in this study is the secondary data which is the financial report of the companies in 2018. Based on the criteria, there are 70 companies used as samples for this study. Then the data are analyzed by utilizing the multiple linear regression method. The result shows that institutional ownership has a positive or simultaneously significant effect on the companies’ performance. The equal result is also shown that the family ownership has a positive or significant influence on thecompany’s performance.
Key words:institutional ownership, family ownership, and company’s performance.
PENDAHULUAN Latar Belakang
Corporate Governance merupakan seperangkat peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi hubungan antara pengelola perusahaan dengan stakeholders untuk meningkatkan nilai suat perusahaan.
Good Corporate Governance diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisisen, transparan, dan konsisten dengan peraturan perundan-undang (Zakasyi, 2008:36). Penerapan Good Corporate Governance dapat mencegah kesalahan dalam pengambilan keputusan dan
perbuatan menguntungkan diri sendiri sehingga secara otomatis akan meningkatkan nilai yang tercermin pada kinerja keuangan perusahaan. Konsep Good Corporate Governance timbul karena adanya keterbatasan dari teori keagenan dalam mengatasi masalah keagenan. Hal ini terjadi dikarenakan dalam GCG mensyaratkan pengelola perusahaan mampu membawa kepentingan agen dan principal sejalan.
Agency theory merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara agen dan principal. Masalah yang timbul dalam teori agensi karena adanya pemisahan kepemilikan yang akan menimbulkan suatu konflik dalam pengendalian dan pelaksanaan pengelola perusahaan. Sebagai pengelola perusahaan, manajer memiliki infoemasi internal dan prospek perusahaan yang lebih banyak dibandingkan dengan pemegang saham. Manajer memiliki kewajiban untuk memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik sebagai wujud dari tanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan. Akan tetapi informasi yang diterima terkadang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Hal ini dapat memberikan kesempatan kepada manajemen untuk melakukan manajemen laba yang pada akhirnya menyebabkan
manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan para pemegang saham. Perbedaan kepentingan ini akan menimbulkan suatu konflik yang dinamakan dengan konfik keagenan (agency conflict). Konflik keagenan yang muncul pada suatu perusahaan akan menimbulkan biaya keagenan (agency cost).
Untuk mengurangi konflik keagenan yang terjadi antara agen dan prinsipal didalam suatu perusahaan dapat dilakukan dengan penerapan Good Corporate Governance.
Good Corporate Governance berkaitan dengan struktur kepemilikan saham perusahaan. Struktur kepemilikan merupakan komposisi atau persentase antara modal saham yang dimiliki oleh para investor. Struktur kepemilikan dapat mempengaruhi jalannya perusahaan, sehingga akan berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Agency cost dapat diminimalisir dengan adanya kepemilikan institusional dan kepemilikan keluarga. Adanya pihak institusi akan memiliki peran yang penting dalam mengurangi masalah keagenan yang terjadi antara pemegang saham dan manajer.
Keberadaan investor institusional mampu menjadi mekanisme pengawasan yang efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh pihak manajer, sehingga dapat
meningkatkan kinerja manajemen perusahaan. Perusahaan keluarga adalah perusahaan yang dijalankan oleh penerus dari keluarga sebelumnya yang bertanggung jawab terhadap perusahaan tersebut.
Perusahaan dengan kepemilikan saham keluarga lebih banyak memperkerjakan keluarganya sebagai pihak manajemen.
Pengambilan keputusan dalam perusahaan keluarga dapat dikatakan lebih fleksibel karena mayoritas pihak manajemen berasal dari pihak keluarga sendiri. Sehingga terdapat penyelasaran kepentingan antara pihak manajemen dan pemilik saham yang dapat meningkatkan kinerja suatu perusahaan.
TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Agency Theori
Teori keagenan (agency theory) teori yang menjelaskan bagaimana hubungan antara agen (manajer) dan principal (pemegang saham). Teori ini membutuhkan kontrak antara kedua belah pikah tersebut. Kontrak ini diharapkan dapat memaksimalkan utilitas principal dan dapat menjamin agen untuk menerima reward dari aktivitas pengelolaan perusahaan. Adanya hubungan antara agen dan principal maka akan menimbulkan
perbedaan kepentingan yang akan memunculkan konfil keagenan (agency conflict). Perbedaan kepentingan disini yaitu, agen sering kali bertindak untuk kepentingannya sendiri dan mengesampingkan kepentingan principal.
Konfik keagenan yang muncul pada perusahaan akan menimbulkan biaya keagenan (agency cost). Agency cost merupakan biaya yang diakibatkan karena perbedaan tujuan antara pemegang saham dan manajer (Jinkar, 2013). Biaya yang dikeluarkan semakin tinggi menandakan bahwa semakin kompleks konflik keagenan yang terjadi didalam perusahaan. Hal ini akan berdampak pada kinerja perusahaan, apabila kinerja perusaahn yang rendah maka berakibat pada profitabilitas perusahaan yang rendah pula.
Kinerja Perusahaan
Kinerja perusahaan adalah penentuan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu organisasi dalam memperoleh keuntungan melalui aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan (Petra dan Tarigan , 2017).
Kinerja dapat diartikan sebagai gambaran dari pencapaian pelaksanaan satu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi yang tercantum dalam strategic planning suatu organisasi dalam perusahaan.
Pengukuran kinerja perusahaan adalah parameter bagi manajemen perusahaan untuk menentukan kebijakan perusahaan dalam mengetahui keadaan kinerja perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu dalam segi keuangan maupun non keuangan. Kinerja perusahaan dalam penelitian ini diukur menggunakan rasio keuangan.
Rasio keuangan merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa keuangan suatu perusahaan. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rasio profitabilitas, rasio ini menunjukan tingkat imbalan yang dibandingkan dengan aset. Pengukuran rasio profitabilitas ini menggunakan rasio Return on Asset (ROA). Return on Asset merupakan perbandingan laba bersih dengan jumlah aktiva perusahaan.
Kepemilikan Institusional
Menurut Wiranata dan Nugrahanti (2013) kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perushaan yang dimiliki oleh pihak institusi (lembaga swadaya masyarakat, perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi maupun perusahaan swasta). Adanya kepemilikan institusional dapat meminimalisir adanya konflik agensi yaitu konflik antara principal dengan agen.
Kepemilikan intitusional juga memiliki arti penting dalam memonitoring manajemen
karena dengan adanya kepemilikan institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal. Monitoring yang dilakukan oleh kepemilikan institusional akan menjamin kemakmuran untuk pemegang saham, pengaruh kepemilikan institusional sebagai agen pengawas yang ditekan melalui investasi mereka yang cukup besar dalam pasar modal.
Tingkat saham institusional yang tinggi akan menghasilkan upaya-upaya pengawasan yang lebih intensif sehingga semakin besar saham yang dimiliki oleh pihak institusional maka semakin efisien pemanfaatan aset perusahaan yang diharapkan dapat mencegah terjadinya pemborosan yang dilakukan oleh pihak manajemen (Hadiprajitno, 2014).
Kepemilikan Keluarga
Kepemilikan keluarga merupakan perusahaan yang sahamnya didominasi oleh kepemilikan keluarga (Musallam, Fauzi, dan Nagu 2019). Perusahaan keluarga terdapat kecenderungan untuk mempekerjakan anggota keluarganya sebagai agen (manajemen) dalam perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa kepemilikan keluarga akan memunculkan masalah keagenan yang lebih sedikit, karena kepemilikan keluarga memiliki pengendalian yang lebih ketat
dapat mengatur penyelasaran kepentingan antara prinsipal dan agen. Selain kepemilikan keluarga akan memiliki saham yang terkonsentrasi, kepemilikan keluarga juga akan berlangsung lebih efisien dibandingkan dengan perusahaan yang dimiliki oleh publik karena biaya pengawasan dapat diminimalisir atau dapat dikeluarkan lebih kecil, dan didalam perusahaan dengan kepemilikan keluarga kinerja perusahaan akan lebih baik apabila pendiri perusahaan masih aktif menjadi CEO di dalam perusahaan tersebut.
Pengaruh Antar Variabel
1. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Perusahaan
Menurut Wisnuwardana dan Novianti (2018), terdapat pengaruh yang signifikan antara struktur kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan. Kepemilikan institusional dapat meminimalisasi adanya konflik kepentingan anatara prinsipal dan agen.
Adanya pengawasan dari pihak institusi dapat mengoptimalkan pengawasan kinerja manajemen untuk menghindari adanya perilaku penyelewengan yang dilakukan oleh pihak manajemen.
Sehingga dengan adanya keterlibatan
pihak institusi dapat berpengaruh untuk meningkatkan kinerja perusahaan yang lebih baik.
Persentase kepemilikan institusi yang tinggi maka akan semakin besar kekuatan suara dan dorongan institusi untuk mengawasi manajemen dan akan memberikan dorongan yang besar pula untuk mengoptimalkan nilai perusahaan sehingga kinerja perusahaan juga akan meningkat, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
H1 : Pengaruh Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan
2. Pengaruh Kepemilikan Keluarga terhadap Kinerja Perusahaan Menurut Morck dan Yeung (dalam Astuti, Rahman, dan Sudarno 2015) mendefinisikan perusahaan keluarga sebagai perusahaan yang dijalanlan berdasarkan keturunan atau warisan dari orang-orang yang sudah lebih dulu menjalanannya atau oleh keluarga yang secara langsung mewariskan perusahannya kepada generasi selanjutnya. Perusahaan milik keluarga pada umumnya cenderung memiliki sudut pandang jangka panjang terhadap bisninya. Rasa memiliki yang tinggi
kepada perusahaan, maka keluarga yang ditempatkan dalam dewan direksi dan struktur manajerial perusahaan akan memiliki rasa tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi untuk berbuat yang terbaik bagi perusahaan. Dewan direksi dan struktur manajerial yang ditempatkan oleh pihak keluarga akan meminimalisir aktivitas oportunistik yang lebih rendah. Hal ini juga dapat mengurangi konflik keagenan yang terjadi antara agen dan prinsipal.
Kepemilikan keluarga merupakan suatu kepemilikan yang lebih efisien dibandingkan dengan kepemilikan saham lainnya. Hal ini dikarenakan biaya pengendalian yang dikeluarkan lebih kecil. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Astuti, Rahman, dan Sudarno (2015) mengemukakan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan dengan kepemilikan keluarga sebagai pemilik perusahan publik memiliki kontrol manajemen dan pengawasan perusahaan.
H2 : Pengaruh Kepemilikan Keluarga berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan
METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan publik yang terdaftar di BEI pada tahun 2018. Metode pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan publik yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2018.
2. Laporan keuangan yang disajikan dalam mata uang rupiah.
3. Laporan keuangan perusahaan mencakup data yang dibutuhkan penelitian meliputi: (1) kepemilikan institusional ; (2) kepemilikan keluarga; dan (3) kinerja perusahaan (ROA).
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder, yaitu berupa laporan keuangan perusahaan.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi,
yaitu pengambilan data berdasarkan dokumen yang telah ada.
Definisi Operasional 1. Kinerja Perusahaan
Kinerja perusahaan merupakan gambaran mengenai suatu pencapaian dari suatu kegiatan dalam mewujudkan tujuan, visi, dan misi dari suatu perusahaan. Pengukuran kinerja perusahaan pada penelitian ini menggunakan rasio profitabilitas yang dihitung dengan ratio Return On Assets (ROA). Perhitungan ROA dinyatakan sebagai berikut :
2. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional merupakan proporsi saham yang dimiliki oleh suatu lembaga institusi yaitu lembaga swadaya masyarakat, perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi maupun perusahaan swasta. Perhitungan kepemilikan institusional dinyatakan sebagai berikut :
3. Kepemilikan Keluarga
Kepemilikan keluarga merupakan persentase saham yang dimiliki oleh
keluarga dengan pemegang saham dominan. Untuk mengetahui porsi saham yang dimiliki oleh keluarga, dapat dilihat pada nama dewan direksi dan dewan komisaris yang cenderung sama dan memiliki saham kepemilikan selama 5 tahun dalam perusahaan tersebut.
Perhitungan kepemilikan institusional dinyatakan sebagai berikut :
Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linear berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel independen yaitu kepemilikan institusional dan kepemilikan keluarga.
Bentuk persamaannya adalah :
PERF = Kinerja Perusahaan α = Konstanta
β1-β2 = Koefisien Regresi
IOWN = Kepemilikan Institusional FOWN = Kepemilikan Keluarga e = error
PERF = α + β1IOWN + β2FOWN + e
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik merupakan suatu prasyarat yang harus dilakukan sebelum melakukan analisis regresi. Uji asumsi klasik terdiri dari tiga jenis yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heterokedastisitas.
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah nilai residual tersebar dengan normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov (K- S).
Table 1. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
70 .0000000 4.32293568
.077 .069 -.077 .646 .799 N
Mean
Std. Deviation Normal Parametersa,b
Absolute Positive Negative Most Extreme
Differences
Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz ed Residual
Test distribution is Normal.
a.
Calculated from data.
b.
Hasil pengujian menunjukan nilai sig.sebesar 0.799 (dapat dilihat pada Tabel 1) atau lebih besar dari 0.05 ; maka
ketentuan H0 diterima yaitu bahwa asumsi normalitas terpenuhi.
Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas ini dilakukan untuk mengetahui bahwa tidak terjadi hubungan yang sangat kuat atau tidak terjadi hubungan linier yang sempurna atau dapat pula dikatakan bahwa antar variabel bebas tidak saling berkaitan. Gejala multikolinieritas dapat dilihat melalui nilai tolerance atau nilai Variance Inflation Factors (VIF).
Tabel 2. Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
.849 1.177
.849 1.177
Institusi Keluarga Model
1
Tolerance VIF Collinearity Statistics
Dependent Variable: ROA a.
Hasil pengujian uji multikolinieritas jika dilihat dengan nilai tolerance yaitu kepemilikan institusional dan kepemilikan keluarga sebesar 0.849 maka hasil nilai tolerance > 0.1 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinieritas antar variabel bebas. Hasil uji multikolinieritas jika dilihat dengan VIF yaitu 1.177, yang berarti nilai VIF < 10 maka dapat diasumsikan uji ini tidak beradapat multikolinieritas.
Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah terjadi ketidaksamaan nilai simpangan residual akibat besar kecilnya nilai salah satu variabel bebas.
Varian dari satu pengamatan tetap dinamakan hooskedastisitas, sedangkan varian yang berbeda dinamakan heterokedastisitas.
Pengujian heterokedastisitas dapat dilihat dari ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot.
Gambar 1. Uji Heteroskedastisistas
Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa diagram tampilan scatterplot menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai
ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.
Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen.
Tabel 3. Koefisien Determinasi
Model Summaryb
.762a .581 .568 4.38698 1.831 Model
1
R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
Predictors: (Constant), Keluarga, Institusi a.
Dependent Variable: ROA b.
Hasil dari koefisien determinasi menunjukan besar kontribusi variabel bebas (Kepemilikan Institusional (X1) dan Kepemilikan Keluarga (X2)) terhadap variabel terikat (Kinerja Perusahaan) digunakan nilai R2, diperoleh hasil adjusted R2(koefisien determinasi) sebesar 0,568.
Artinya bahwa 56,8% variabel kinerja perusahaan akan dipengaruhi oleh variabel bebasnya, yaitu Kepemilikan Institusional (X1) dan Kepemilikan Keluarga (X2).
Sedangkan sisanya 43,2% variabel kinerja perusahaan akan dipengaruhi oleh variabel- variabel yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
Uji model Regresi (F test / Serempak) Uji F atau uji model dilakukan untuk mengetahui apakah hasil dari analisis regresi signifikan atau tidak, dengan kata lain model yang diduga tepat / sesuai atau tidak.
Tabel 4. Uji F
ANOVAb
1787.763 2 893.881 46.446 .000a 1289.456 67 19.246
3077.219 69 Regression
Residual Total Model 1
Sum of
Squares df Mean SquareF Sig.
Predictors: (Constant), Keluarga, Institusi a.
Dependent Variable: ROA b.
Hasil dari uji F menunjukan nilai F hitung sebesar 46,446 dan nilai F tabel (α = 0.05 ; db regresi = 2 : db residual = 67) adalah sebesar 3,134. Karena F hitung > F tabel yaitu 46,446 > 3,134 atau nilai sig F (0,000)
< α = 0.05 maka model analisis regresi adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat (Kinerja Perusahaan) dapat dipengaruhi secara signifikan oleh variabel bebas (Kepemilikan Institusional (X1) dan Kepemilikan Keluarga (X2)).
Pengujian Partial (t test / Parsial)
Uji t dilakukan untuk mengukur secara terpisah sejauh mana kontribusi yang ditimbulkan dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji
t dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dan t table.
Table 5. Uji t
Coefficientsa
-8.445 1.483 -5.693 .000
.151 .025 .523 6.100 .000 .098 .022 .387 4.509 .000 (Constant)
Institusi Keluarga Model
1
B Std. Error Unstandardized
Coefficients
Beta Standardized
Coefficients
t Sig.
Dependent Variable: ROA a.
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel dapat diketahui bahwa :
1) Hasil t test antara X1 (Kepemilikan Institusional) dengan Y (Kinerja Perusahaan) menunjukkan t hitung = 6,100. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 67) adalah sebesar 1,996. Karena t hitung > t tabel yaitu 6,100 > 1,994 atau nilai sig t (0,000)
<α = 0.05 maka pengaruh X1
(Kepemilikan Institusional) terhadap kinerja perusahaan adalah signifikan.
Hal ini berarti H0 ditolak dan H1
diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan dapat dipengaruhi secara signifikan oleh kepemilikan institusional.
2) Hasil t test antara X2 (Kepemilikan Keluarga) dengan Y (Kinerja Perusahaan) menunjukkan t hitung =
4,509. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 67) adalah sebesar 1,996. Karena t hitung > t tabel yaitu 4.509 > 1,996 atau nilai sig t (0,000)
<α = 0.05 maka pengaruh X2
(Kepemilikan Keluarga) terhadap kinerja perusahaan adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0
ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan dapat dipengaruhi secara signifikan oleh kepemilikan keluarga.
Pembahasan dan Analisis Hasil Penelitian 1. Pengaruh Kepemilikan
Institusional (X1) terhadap Kinerja Perusahaan (Y)
Hasil penelitian ini dapat menerima hipotesis H1 yang menyatakan kepemilikan institusional berpengarruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Proporsi saham yang didominasi oleh pihak institusi dapat meningkatkan pengawasan kinerja manajemen dengan memantau setiap keputusan yang diambil oleh pihak pengelola perusahaan. Semakin tinggi pengawasan terhadap manajemen maka akan semakin tinggi pula
pengaruh terhadap manajemen untuk melakukan kinerja yang baik.
Pengawasan yang semakin meningkat maka pengendalian manajemen akan semakin baik sehingga dapat menyelaraskan antara kepentingan manajeman dan kepentingan pemilik perusahaan. Hal ini dapat meminimalisir untuk terjadinya konflik keagenan di perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mathova, Perdana, dan Rahmawati (2017) melakukan penelitian menganai “Pengaruh Kepemilikan Keluarga dan Good Corporate Governance Terhadap Kualitas Laba dan Kinerja Perusahaan mengemukakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan.
2. Pengaruh Kepemilikan
Keluarga (X2) terhadap Kinerja Perusahaan (Y)
Hasil penelitian ini dapat menerima hipotesis H2 yang menyatakan kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Kepemilikan keluarga
merupakan kepemilikan saham yang didominasi oleh pihak keluarga.
Perusahaan dengan kepemilikan keluarga dapat memantau secara langsung bagaimana kinerja manajemen perusahaan yang pihak manajemennya berasar dari keluarga tersebut, sehingga dapat mengurangi perilaku oportunistik. Kepemilikan keluarga juga memiliki kemampuan utuk mengelola dan pengawasan yang maksimal terhadap manajemen perusahaan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan yang semakin meningkat akan memudahkan perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan dari luar, seperti pinjaman dana yang akan memudahan keuangan perusahaan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti, Rahman, dan Sudarno (2015) mengenai
“Pengaruh Kepemilikan Keluarga Terhadap Kinerja Perusahaan Dengan Agency Cost sebagai Variabel Moderating yang menemukan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ppengaruh kepemilikan institusional dan kepemilikan keluarga terhadap kinerja perusahaan. Penelitian dilakukan pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2018. Sampel pada penelitian ini berjumlah 70 perusahaan.
Berdasarkan hasil pengujian pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional dan kepemilikan keluarga memiliki pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah periode waktu pengamatan terbatas hanya satu tahun yaitu tahun 2018. Selain itu, data kepemilikan keluarga yang terbatas karena tidak semua annual report menjelaskan jika terdapat kepemilikan keluarga.
Saran
Berdasarkan keterbatasan di atas, maka dapat dikemukakan saran bagi peneliti selanjutnya, yaitu dapat menggunakan penelitian dengan time series dengan menambah periode penelitian yang lebih lama. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan data yang bersifat primer bukan data yang bersifat sekunder, karena
dengan menggunakan data yang bersifat primer akan lebih mudah didapatan sampel
perusahaan yang memiliki saham keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Apri D., Rahman, Abdul dan Sudarno. (2015). Pengaruh Kepemilikan Keluarga Terhadap Kinerja Perusahaan dengan Agency Cost sebagai Variabel Moderating.
Jurnal Dinamika Akuntansi. Vol. 7, No. 2, 98-108.
K. Krisnauli, and P. B. Hadiprajitno,
"Pengaruh Mekanisme Tata Kelola Perusahaan Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Agency Cost (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bei Tahun 2010-2012)," Diponegoro Journal of Accounting, vol. 3, no. 2, pp. 669-681, Mar. 2014.
Indonesia Stock Exchange (2018). Data Daftar Saham . Diakses dari http://www.idnfinancials.com.
Indonesia Stock Exchange (2018). Data Keuangan: Laporan. Diakses dari http://www.idnfinancials.com.
Indonesia Stock Exchange. (2018). Laporan Keuangan Perusahaan Tercatat.
Diakses darihttp://www.idx.co.id
Jinkar, Rebecca Theresia. (2013). Analisis Faktor-faktor Penentu Kebijakan Cash Holding Perushaan Manufaktur di Indonesia. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Musallam, R.M S., Fauzi, H., Nagu, N.
(2019). Family, Intitusional Investors Ownerships and Corporate Performance : The Case of Indonesia.
Vol. 15, 1-10.
Petta, Brigitta Clarabella dan Tarigan, Josua.
(2017). Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Keuangan Melalui Struktur Modal Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Business Accounting Review, Vol. 5, No.2, (625-636).
Wiranata, Yulius Ardy dan Nugrahanti, Yeterinan Widi. (2013). Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur di Indonesia. Jurnal
Akuntansi Dan Keuangan, Vol. 15, No. 1, 15-26.
Wisnuwardana, Arief Nur Ardha. (2018).
Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Perusahaan Dengan Kualitas Audit Sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya.
Zarkavi, Moh. Wahyudi. (2008). Good Corporate Governance Pada Badan Usaha Manufaktur Perbankan Dan Jasa Keuangan Lainnya. Bandung : Alfabeta.