• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MATA KULIAH AQIDAH AKHLAK TERHADAP NILAI BUDAYA ISLAMI MAHASISWA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH MATA KULIAH AQIDAH AKHLAK TERHADAP NILAI BUDAYA ISLAMI MAHASISWA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

81

PENGARUH MATA KULIAH AQIDAH AKHLAK TERHADAP NILAI BUDAYA ISLAMI MAHASISWA

DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI

Ika Sofia Rizqiani1 dan Fenty Sukmawaty2 E-mail : [email protected]

E-mail: [email protected]

1,2Universitas Muhammadiyah Sukabumi

ABSTRACT

Moral education in an era full of technological sophistication is needed so that life is not arbitrary.

If the morals of youth, especially ummi students, do not have good morals, it is difficult for lecturers to create the next generation of Islamic culture. Religion and culture influence each other.

Religion affects cultures, groups, communities, and ethnic groups. Culture tends to change which has implications for the authenticity of religion. The methodology of this research uses the distribution of questionnaires and filling out questionnaires aimed at students who have followed the Aqidah Morals course using a quantitative approach. The method used is descriptive associative method. This research uses descriptive because it is described based on the results of facts in the field. There are three variables, namely Y Islamic culture, XI course values, and X2 understanding.

The Regression Model/Equation Y -2.404 + 1.005x₁ + 0964x₂ Y Culture X₁ Value X₂ Understanding With the regression model above, it is known if the value and understanding are constant (zero ) then the Islamic culture of students at UMMI will have a negative value, so that it can be concluded "Students' values and understanding of Aqidah Akhlak courses play an important role in building Islamic culture of students at UMMI." become a person's culture and habits. So that the culture of having good morals becomes a good culture, both for individuals as servants of God, or as social beings. Research can be a tip to build and create students to become students who have Islamic culture and have good morals.

Keyword : Moral education, Aqidah akhlak, student at UMMI PENDAHULUAN

Pendidikan akhlak pada zaman yang penuh dengan kecanggihan teknologi tinggi seperti saat ini sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan jika seseorang memilikikeilmuan yang tidak diiringi dengan akhlak yang baik, maka kehidupan ini akan kacau, seenaknya, dan tidak ada batas aturan jelas tentang hal-hal yang baik dan benar.

Diperkuat dengan perintah Allah SWT dalam Al-Quran Surat Yunus ayat 44 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak mendholimi manusia sedikitpun, tetapi manusia itulah

(2)

82

yang mendholimi dirinya sendiri”, semakin membuat pendidikan akhlak jadi satu poin penting untuk perkembangan karakter anak di masa depan.

Penggalan ayat tersebut juga dapat bisa dihubungkan dengan situasi masa kini di kawasn kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Salah satu indikator keberhasilan para dosen dalam memberikan ilmu kepada mahasiswa yakni terciptanya kesadaran mereka dalam menerapkan budaya Islama dalam lini kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, keberadaan agama dan budaya saling berpengaruh untuk satu sama lain. Agama akan mempengaruhi budaya, kelompok, masyarakat, bahkan hingga suku bangsa. Kebudayaan biasanya akan cenderung berubah, yang dampaknya akan memberikan implikasi pada keaslian agama. Hal itulah yang membuat banyak pihak terkait dapat memiliki penafsiran yang berlainan (Bauto, 2014).

TINJAUAN TEORITIS 1. Aqidah

Al Aqidah jika dilihat secara etimologis berasal dari kata ‘Aqada, Ya’qidu, ‘Aqdan dan ‘Aqadatan yang dapat diartikan sebagai simpul, ikatan, atau perjanjian yang kokoh.

Namun, jika kata ini telah membentuk Al ‘Aqidah maka artinya menjadi sebuah keyakinan. melihat dari pengertian Aqidah Islam maka akan menjurus kepada bab keyakinan atau disebut dengan Iman. Sehingga Aqidah Islam selalu dikaitkan dengan Rukun Iman, yaitu Iman atau yakin kepada Allah, Iman kepada Malaikat-Nya, Kitab- kitabNya, Rasul-RasulNya, Iman kepada hari Akhir serta Iman kepada Qodho’ dan Qadar.

Al Aqidah jika dilihat dari segi istilah, dapat diartikan juga sebagai keyakinan yang kokoh. Di dalam istilah, Aqidah juga dapat diartikan sebagai

1. Sebuah keputusan yang yakin dan mantap,

2. Hasil dari sebuah pemikiran yang diputuskan tanpa keraguan

Dalam hal Aqidah ini, contoh konkritmya adalah meyakini bahwa Allah satu- satunya tuhan yang berhak disembah, dan meyakini bahwa Allah itu Tunggal atau Esa, dan tidak ada Tuhan selain Allah. Seperti halnya dalam QS. Al Ikhlas : 1-3.

(3)

83

Sebagai dalil atau dasar Aqidah Islam, Allah juga menyeru di dalam QS. Thaha ayat 14, yakni :

يِنَّنِا اَنَا هٰاللّ َل َهٰلِا َّلِا اَنَا يِن دهب عاَف ِمِقَا َو َةوٰلَّصلا لِِ ي ِر كِذ

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku. Maka Sembahlah Aku dan laksanakanlah Shalat untuk mengingatKu.”

Ayat tersebut juga menegaskan bahwa Allah benar-benar ada, Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diibadahi, tidak ada Illah selain Allah.Dalampenerapannya, aqidahislammemangharusdiyakinitanpakeraguan di dalamnyasedikitpun.

Pada dasarnya, qqidah memiliki kedudukan yang tertinggidalam proses keimananseseorang. Maka, seseorangdenganaqidah yang benar, harusmemilikiprinsip yang kokohtanpa ada pencemaran aqidah dan penyakit yang mencemarinya, sebagai contoh penyakit TBC (Tahayul, Bid’ah, Churofat)

Aqidah seseorang diibaratkan sebagai pondasi suatu bangunan, jika pondasisebuah bangunan itu kokoh, maka bangunan itu akan berdiri lebih kuat.

Namun, jika pondasinya rapuh maka bangunannyapunbisadipastikanakan.mudah roboh. Jika aqidah seseorang rapuh, bahkan rusak maka amalan lainnya pun akan rusak.

Oleh karena itu, Aqidah Islam dapat dipahami sebagai suatu kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang berhak disembah.Segala nama dan sifat yang dimiliki Allah merupakan suatu hal yang benar. Kemudian meyakini rukun iman pertama sampai rukuniman terakhir. Selanjutnya betul menyimani dengan sungguh-sungguh bahwa akhirat itu ada. (Prof.Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Halaman 2)

Pembagian Aqidah

Aqidah Islam memiliki tiga pilar yang dapat dibagi sesuai pengertiannya, yaitu antara lain :

a. Tauhid Rububiyah, suatu keyakinan yang benar dan kokoh dari hati, meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya tuhan yang berhak disembah, tidak ada tuhan selain

(4)

84

Allah, Allah maha Esa dan bersifat tunggal.“Allah menciptakan segala sesuatu…”

(QS. Az-Zumar:62). Hanya Allah tuhan yang memberi rizki hambaNya, “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya,…” (QS. Hud: 6).

b. Tauhid Uluhiyyah, keyakinan yang kokoh bahwa Allah itu ada, keyakinan dengan mengesakan Allah dan mengaplikasikannya melalui perbuatan-perbuatan peribadahan, seperti halnya berdoa hanya kepada Allah, memiliki sifat Roja (penuh pengharapan), tawakkal (berserah diri hanya kepada Allah), dan bertaubat (Memohon ampun hanya kepada Allah). Tauhid Uluhiyyah disebut juga dengan tauhid bab ibadah, karena merupakan pondasi segala amal sholih, wajib dimiliki seorang hamba secara ikhlas, dan bebas tercemar dari kesyirikan. Sebab Allah tidak mengampuni dosa Syirik. Tercantum dalam QS. An Nisa ayat 46.

c. Tauhid Asma’ Wassifat, keyakinan kepada Allah dengan mengimani dan Yakinini Allah sekaligus dengan nama nama-Nya dan sifat yang dimilikiNya. Mengimani Allah dengan segala yang dijelaskan dan digambarkan dalam AlQuran, bahwa Allah itu ada namun tidak ada satupun yang menyerupaiNya, dengan kata lain, Allah berbeda dengan makhlukNya, namun Allah Maha mendengar dan Allah juga maha melihat. Seperti tertera dalam Al-Qur’an Surat Asysyura’ ayat 11 : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” Nama-nama Allah juga wajib diyakini karena mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat namun berbeda dengan makhluknya, nama-nama yang mengandung sifat yang baik itu disebut dengan Asmaul Husna.

2. Akhlak

Secara etimologi Akhlak berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti perangai (al-Sajiyah), akhlak juga dapat diartikan sebagai kebiasaan (al-Adat), budi pekerti dan tabiat dalam diri manusia.

Akhlak merupakan pola kebiasaan dan tingkah laku yang tertancap dalam jiwa dan hati seseorang. Akhlak merupakan sebuah aplikasi dari pemikiran dan segala sesuatu yang tertanam dan menjadi identitas.

(5)

85

Akhlak merupakan manifestasi perilaku yang dilahirkan menjadi perbuatan spontan, tanpa memerlukan pertimbangan. Akhlak bisa disebut juga dengan manifestasi dari sebuah aqidah. Jika aqidahnya baik, maka akan menghasilkan akhlak yang baik. Sebaliknya jika aqidahnya buruk, maka akan melahirkan akhlak yang buruk juga. (Prof.Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak hal.2)

Mengutip dari pendapat lain dari Dzakiah Darajat, di dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, menyebutkan bahwa akhlak merupakan perilaku yang diciptakan karena hasil dari Analisa Nurani. Yakni perpaduan dari pikiran dan kebiasaan yang menjadi satu, sehingga membentuk suatu tindakan yang disebut dengan akhlak. Hal ini terjadi karena pembiasaan yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlak memiliki kedudukan yang tinggi setelah aqidah, karena akhlak merupakan identitas seseorang. Betapa pentingnya Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadistnya “Sesungguhnya aku diutus Allah hanya untuk menyempurnakan akhlak.”(HR.Baihaqi)

Berdasarkan hadits tersebut, akhlak suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena akhlak merupakan manifestasi aqidah seseorang. Akhlak bisa menjadi bagian dari tolok ukur karakter seseorang, sebagaimana aqidahnya yang bisa diukur dari akhlak.

3. Budaya

Budaya merupakan adat kebiasaan atau cara hidup yang berlaku dan berkembang pada suatu kelompok, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Budaya tidak ada dengan sendirinya, tapi terlahir karena penciptaan, baik oleh lingkungan, alam, atau lainnya.

Koentjaraningrat (2000:181) lebih luas mendefinisikan budaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah. Kata ini memiliki bentuk jamak yaitu buddhi atau budi yang berarti akal. Maka, budaya merupakan daya, karsa, dan cipta dari manusia.

Kebudayaan merupakan hasil dari segala hal yang menjadi budaya masyarakat.

(6)

86

Dalam bahas Inggris, kebudayaan adalah culture yang berasal dari kata latin cultura. Kata tersebut diartikan sebagai kata benda dan sebagai kata kerja yakni colere dan colo. Kata tersebut mempunyai arti mengolah tanah atau bercocok tanam.

Djojodigono menjelaskan definisi dari kebudayaan yaitu daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa (Aridarmayasa, 2018). Di sisi lain, menurut Koentjaraningrat, kebudayaan merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan gagasan dan karya sehingga harus dibiasakan oleh seluruh masyarakat (Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, 1982)

Secaralebih global, budayabisa diperoleh melalui belajar, pengalaman hidup, informasi turun-temurun secara lisan, pergaulan, media sosial, peristiwa menyedihkan dan menyenangkan.

Menurut Goffar(2019: 43), tindakan-tindakan kebudayaan yang dapat dipelajari antara lain mengeani cara makan, caraminum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang,hingga berelasi dalam masyarakat.

Meski demikian, budaya tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis saja, melainkan juga dalam gagasan danpikiran seseorang. Kemudian, segala pemikiran tersebut terwujud dalam seni, tatanan masyarakat, etos kerja, dan pandangan hidup yang diterapkan dalam masyarakat.

4. Budaya dan Akhlak

Lembaga pendidikan Islam pesantren yang lahir dan berkembang di bumi Nusantara telah berlangsung semenjak Islam masuk di kawasan ini. Salah tiga mata pelajaran utamanya adalah pengajaran aqidah, syari’ah, dan akhlak. Kitab-kitab seperti qatr al-ghaits1untuk aqidah, safinat al-naja untuk fiqh, dan Akhlak Lil Banin (akhlak putra) dan Akhlak lil Banat (akhlak putri) untuk bidang akhlak. Dua kitab terakhir memuat tentang perilaku terpuji yang harus dibiasakan dan perilaku tercela yang harus dijauhi. Kunci dari pendidikan aqidah dan akhlak di atas terletak pada pembiasaan agar melekat pada jiwa anak suatu kebiasaan (habit) baik hingga secara tidak sadar

1 Karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, salah seorang ulama Sunda yang bereputasi internasional sebagai pengajar mahab Syafi’I di Mekkah Al-Mukarramah. Beliau juga seorang ulama produktif yang menulis sejumlah kitab dalam berbagai disiplin ilmu.

(7)

87

kebaikan-kebaikan tersebut menjadi jiwa dan kemudian turun temurun diwariskan sebagai budaya.

Relasi antara budaya-aqidah-akhlak dalam kehidupan bermasyarakat, seharusnya merupakan kesatuan utuh dan tidak terpisahkan.Sebagai agama yang menjadi rahmatan lil ‘alamin, Islam menuntut para pemeluknya untuk berperilaku baik (karimah) dan berkeyakinan lurus (hanif). Budaya yang baik dan benar lahir dari aqidah yang lurus dan akhlak yang terpuji. Sebaliknya, budaya yang tidak baik dan tidak benar menurut aturan agama, akan menjerumuskan kepada akhlak manusia ke dalam kebejatan moral dan kesesatan aqidah.

Untuk menjalankan kaidah-kaidah tersebut, para mahasiswa harus diberi pengetahuan khususnya ilmu tentang aqidah-akhlak. Kampus UMMI telah mempersiapkan mata kuliah Aqidah Akhlak yang menjadi mata kuliah wajib.

Penelitian ini dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan mata kuliah aqidah- akhlak dan menjawab pertanyaan apakah para mahasiswa UMMI mampu mengimplementasikan mata kuliah aqidah-akhlak dalam kehidupan kesehariannya?

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi penelitian yang dilakukan di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, yang berada di alamat Jl. R. Syamsudin, S.H. No. 50, Cikole, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43113.

Metodologi penelitian ini menggunakan penelitian lapangan dengan menggunakan penyebaran angket dan pengisian questioner yang ditujukan kepada mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah aqidah akhlak.

PEMBAHASAN

Responden yang tercatat sebanyak 96 orang, kemudian data yang diterima diolah dengan menggunakan likert.

(8)

88

Metode yang digunakan dalam pengolahan data itu yakni deskriptif asosiatif. Lebih lanjut, hasil akan diuraikan secara deskriptif untuk menjabarkan hasil fakta di lapangan dengan lebih detail.

Adapun yang menjadi variabel dalam teknik pengambilan data terbagi dalam terdapat tiga hal: (1) Y = budaya islami, (2) XI = nilai mata kuliah, dan (3) X2 = pemahaman.

Berikut ini adalah tabel hasil olah datayang disimpulkan dari pendapat para mahasiswa yang menjadi responden untuk penelitian kali ini.

Variabel Koefisien Sig

Α -2,404 0,728

X1 0,964 0,37

X2 1,005 0,000

Fhit 24,03

34,6

Model/Persamaan Regresinya Y= -2,404 + 1,005x₁ + 0964x₂ Y = Budaya

X₁= Nilai

X₂ = Pemahaman

Dengan model regresi tersebut,dapat dilihat bahwa nilai dan pemahaman bernilai konstan (nol) maka budaya Islami mahasiswa di UMMI akan bernilai negative. Hal ini mengukuhkan kesimpulan bahwa “Nilai dan pemahaman mahasiswaterhadap mata kuliah Aqidah Akhlak berperan penting dalam membangun budaya Islami mahasiswa di UMMI.”

Pertanyaan tentang pemahaman aqidah, akhlak dan budaya yang diajukan pada responden berkaitan dengan adab dan tata laku dengan sesama, guru, dan sosok yang lebih tua. Pada aspek budaya, pertanyaan diarahkan pada hal-hal yang sedang viral dan banyak diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir.

Berikut ini hasil persentase berdasarkan kuisioner yang diajukan.

1. Pertanyaan tentang Aqidah

(9)

89

Pada pertanyaan mengenai akidah, 90% mahasiswa percaya bahwa Allah menjadi satu- satunya Tuhan dan Nabi Muhammad adalah sosok pembawa risalah terakhir. Sebanyak 70%

mahasiswa setuju bahwa Rasulullah merupakan salah satu suri teladan terbaik dalam pembenahan aqidah dan akhlak manusia.

Pada pertanyaan selanjutnya, tak semua mahasiswa melaksanakan sholat berjamaah tepat waktu karena hanya 57% mahasiswa yang menyatakan sangat setuju bahwa sholat berjamaah punya fadhilah yang besar. Selanjutnya 90% mahasiswa merasa sangat setuju bahwa pengamalan ibadah yang benar harus dilakukan demi mendapatkan ridha Allah, bukan karena riya’ ingin pujian manusia.

2. Pertanyaan mengenai Akhlak

Pada pertanyaan akhlak, salah satu pertanyaan membahas tentang adab kepada orang tua yang harus dihormati, sebanyak 67% responden menyatakan sangat setuju dengan pertanyaan tersebut.

Jawaban cukup variatif ketika pertanyaan tentang ucapan “Assalamualaikum”

sebaiknya dilontarkan pada orang yang dikenal maupun tidak dikenal karena adat dan kebiasaan. Sebanyak 5% Sangat Setuju, 26% Setuju, 20% Netral, 18% Tidak Setuju, 31% Sangat Tidak Setuju.

Dominasi jawaban mahasiswa tidak menyetujui pernyataan tersebut sebenarnya bertentangan dengan hadist yang termaktub dalam Haqqul Muslim ‘alal Muslim: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.

Meski demikian, poin tersebut hanya sebagian kecil identifikasi tentang pemahaman akhlak para mahasiswa. Pada poin pertanyaan tentang bully-ing, tercatat 23% Tidak Setuju dan 66% Sangat Tidak Setuju tentang normalisasi kegiatan yang merugikan satu ini.

Terkaitpenggunaan jilbab, 30% TidakSetuju, 48% Sangat TidakSetujujika jilbab hanya sekadar symbol sebagai seorang muslim dan hanya sebagai budaya. Pada dasarnya, jilbab merupakan perintah Allah SWT yang wajib dijalankan oleh setiap muslimah di seluruh dunia.

3. Pertanyaan tentang Budaya

(10)

90

Pada pertanyaan terkait budaya, kuisioner diajukan berdasarkan fenomena yang tengah viral. Ketika pertanyaan terkait semakin majunya zaman karena perkembangan teknologi, 30%

responden sangat setuju, dan 35% setuju bahwa saat ini budaya tradisional kurang relevan jika diterapkan.

Citayem fashion week merupakan kejadian yang tengah ramai diperbincangkan dalam beberapa bulan kebelakang, 50% mahasiswa tidak setuju bila kegiatan tersebut dinyatakn sebagai cerminan budaya pemuda masa depan.

Perkembangan media sosial seperti Tiktok juga menjadi perhatian penelitian ini.

Ketika ditanya mengenai Tiktok sebagai jalan pintas ketenaran, jawaban responden cukup variatif. 2% Sangat Setuju, 22% Setuju, 29% Netral, 18% Tidak Setuju, 29% Sangat Tidak Setuju.

Dominasi jawaban netral dan sangat tidak setuju menjadi salah satu tolok ukur bahwa para mahasiswa dalam rentang usia 18-22 tahun yang menjadi responden penelitian ini masih dalam tahapan gamang dalam mencari jati diri. Oleh karena itu, dibutuhkan pendidikan dan penerapan keilmuan Aqidah Akhlak agar mereka bisa mengimbangi dunia saat ini.

Secara umum, keberadaaan akhlak merupakan bentuk dari pengamalan darai pemahaman akidah yang baik. Ketika aqidah seseorang baik, bisa dipastikan akan membentuk karakter akhlak Islami yang baik pula.

Jika akhlak baik merupakan bentuk pengamanan aqidah dan pemahaman berdasarkan Al Quran, maka bisa dikatakan bahwa akhlak baik merupakan akhlak yang cerminan dari Kitabullah tersebut.

Salah satu jurnal yang seimbang untuk dijadikan rujukan pada penelitian kali ini diambil dari Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah karya Miftahul Jannah Dosen PGMI STIQ Amuntai yang membahas tentang “Peran Pembelajaran Aqidah Akhlak untuk Menanamkan Nilai Pendidikan Karakter Siswa”.

Di dalamnya menjelaskan hasil dari wawancara dan observasi yang dilakukan bahwa salah satu faktor pendukung keberhasilan penanaman karakter siswa yakni berasal dari guru/dosen yang punya kualitas di bidangnya. Sedangkan faktor penghambat

(11)

91

penanaman aqidah akhlak yang sesuai dengan ajaran islam yakni berasal dari lingkungan, terutama adab yang berbeda antara di sekolah dan di rumah.

Mengutip dari Muhammad Daud Ali dalam bukunya, yang berjudul Pendidikan Agama Islam, sejatinya akhlak memiliki ruang lingkup yangdapat didefinisikan dalam beberapa persepsi.

Pertama ialah kita harus memiliki akhlak yang baik terhadap Allah sebagai sang Khaliq dan menanamkan aqidah mengasilkan akhlak yang terpuji, menghasilkan sikap : a. Akhlak terhadap Allah SWT sebagai sang Khaliq, dengan cara mentauhidkan Allah.

Meyakini bahwa tidak ada sekutu bagi Allahdan meyakini bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

b. Taqwa, artinya menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang Allah. Dan meyakini bahwa segala yan diperintahkan dan dilarang merupakan suatu kebenaran.

c. Senantiasa berdoa kepada Allah, menjadikan Allah satu-satunya sandaran dan harapan seorang hamba. (QS. Al Fatihah : 5)

d. Tawakal, sikap menyerahkan segala segala sesuatu yang terjadi hanya kepada Allah.

Kedua, akhlak karimah terhadap diri sendiri dengan cara menjaga kesucian diri dengan tidak mengumbar aurat.Selain itu, laki-laki dan perempuan perlu memahami batasan-batasan mahramnya, serta menjaga hubungan dengan lawan jenis.

Akhlakul karimah terhadap diri sendiri juga dapat diaplikasikan dengan selalu berkata jujur, amanah, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Di sisi lain, menjauhi sifat sombong, iri, dengki dan jenis penyakit hati lainnya juga bisa dimanifastikan sebagai upaya menjaga adab diri sendiri

Ketiga, Akhlakul karimah terhadap orang tuadapat dilakukan dengan cara menghormatinya. Langkah yang bisa dilakukan anak yakni dengan berkomunikasi menggunakan kata-kata yang baik, makruf, dan lemah lembut.

Adab yang baik dari seorang anak yakni dengan selalu meminta doa restu dengan mencium tangan, kemudian minta didoakan kepada Allah. Hal ini bisa dilakukan karena doa orang tua adalah lembaran “mantra” yang mustajab.

(12)

92 KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembentukan sebuah aqidah keislaman dalam diri manusia bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk lingkungan pendidikan. Selain itu, pembentukan aqidah dan akhlak yang terus menerus akan membentuk sebuah pola sehingga menghasilkan budaya tertentu.

Ketika budaya punya peran penting dalam membantu aqidah dan akhlak, maka budaya juga bisa dijadikan sebuah senjata untuk terus menebarkan kebaikan, baik sebagai pribadi sebagai hamba Allah maupun sebagai makhluk sosial.

Pada penelitian ini, hasil didapatkan berdasarkan data faktual yang berada di lapangan terkait pemahaman mahasiswa terhadap keilmuan dalam bidang mata kuliah Pendidikan Aqidah dan Akhlak. Lebih jauh, mata pembelajaran pada perkuliahan Aqidah Akhlak diharapkan bisa menjadi salah satu perpanjangan tangan dalam menciptakan mahasiswa yang berbudaya islami dan berakhlakul karimah. Tentu semua terbentuk dari kokohnya aqidah Islam yang sesuai dengan syariat.

DAFTAR PUSTAKA

Aridarmayasa. 2018. Edisi9 April . Kebudayan Menurut Para Ahli. Opgehaald van Aridarmayasa blog: https://blog.isi-dps.ac.id/aridarmayasa/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli

AbuAhmadi dan Noor Salimi.1991. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara Abudin Nata.1997.Akhlak Tasawuf , Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Aminuddin, dkk, (2006), Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Graha Ilmu

C A Van, P. 1993. Strategi Kebudayaan, Terjemahan Dick Hartoko. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Dzakiah Darajat. 1993.Pendidikan Islam dalam Keluarga dan sekolah. Jakarta :CV.Ruhama.

Hamzah Ya’qub.2013.Etika dalam Islam. Bandung : Diponegoro

Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Laraasati, P. P. 2020. Teori Evolusionisme (Antropologi Hukum).

Mazzia, L. 1994. Kebudayaan. padang: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) M.Daud Ali.1998.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada

Rachmat Syafei.2000.Hadits tentang Aqidah Akhlak Sosial dan Hukum. Bandung : Pustaka Setia.

Robita, I. 2021. TEORI EVOLUSIONISME DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ANTROPOLOGI.

Padang: Universitas Ekasakti Padang.

Syaltut Mahmud.1995. Aqidah dan Syariah Islam. Jakarta : Bina Aksara.

Sugiono, 2013. metode penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

(13)

93

Ulil Amri Syafri, 2014.Pendidikan Karakter Berbasis Al Quran, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Yunahar Ilyas, 2011. Kuliah Aqidah Islam, Cet. XIV, Yogyakarta: LPPI (Lembaga Pengkajiandan

Pengamalan Islam)

Yunahar Ilyas, 2011. Kuliah Akhlak, cet. XI (Yogyakarta: LPPI Lembaga pengkajian dan pengamalan Islam.

Zainal Arifin. 2007. Penelitian Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Referensi

Dokumen terkait

The an adoption of a child based on the applicable rules before the prospective adoptive parents submit an application to the District Court or the local Religious

129 Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran Akidah Akhlak merupakan tindakan atau pelaksanaan Rencana Pelajaran (RPP) Aqidah Ahlak yang matang dan mendetail