1
PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP KINERJA PASAR PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN PUBLIK PERDANA (IPO) DI BURSA EFEK
INDONESIA ( STUDI PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN IPO DI BEI TAHUN 2007-2009 )
STIE INDONESIA BANKING SCHOOL Novi Annisak Uswatun Khasanah
ABSTRACT
This research was conducted to test the effect of earning management toward firm value(value IPO) when IPO and abnormal return after IPO. Examination of earning management conducted by using two approach, that is accrual earning management and real earning management. Accrual earning management in this study is using discretionary accruals which calculated by The Modified Jones Model and real earning management using Abnormal CFO as indicator of the existence of real earning management practices through sale manipulation. Sample which is used inn this reserch is consists 36 companies doing an IPO on the Indonesia Stock Exchange in 2007-2009. The result show that earning management during one year before IPO has significantly negative effect to firm value.
Second, earning mangement during one year before IPO has not significant effect to cummulative abnormal return. Beside that, this study also show that size companies and net profit margin as control variabel has significant effect to firm value (value IPO) and cummulative abnormal return.
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Setiap perusahaan membutuhkan dana dalam membiayai kegiatan bisnisnya, dana tersebut dapat bersumber dari pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Dana yang dari pihak internal dapat berasal dari setoran modal oleh pemilik atau dari laba perusahaan yang ditahan. Sedangkan dari pihak eksternal, salah satunya melalui pasar modal dengan melakukan penawaran publik perdana (Initial Public Offering, IPO). Menurut UU R.I No.8/1995 tentang Pasar Modal, Penawaran Umum adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang dan peraturan pelaksanaannya.
Pada peristiwa penawaran umum perdana, umumnya para calon investor kurang mengetahui informasi tentang perusahaan yang akan melakukan penawaran perdana sehingga mereka tidak mengetahui kinerja atau prospek dari perusahaan yang melakukan penawaran perdana tersebut. Sehingga, pada peristiwa seperti penawaran publik perdana (IPO) sering sekali terjadi adanya asimetri informasi. Menurut Rahmawati dkk (2006), asimetri informasi terjadi pada saat satu pihak atau lebih yang melangsungkan atau akan melangsungkan suatu transaksi usaha, atau transaksi usaha potensial memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain,
2
manajer perusahaan dan para pihak dalam (insiders) lainnya lebih mengetahui kondisi terkini dan prospek ke depan suatu perusahaan dibandingkan dengan para investor luar. Oleh sebab itu, untuk mengurangi tingkat asimetri informasi tersebut manajemen diharapkan memberikan informasi atau menjelaskan kondisi perusahaan secara menyeluruh kepada pihak yang berkepentingan sebelum perusahaan tersebut menawarkan sahamnya kepada publik, yaitu dengan menerbitkan prospektus perusahaan yang berisi informasi menyeluruh tentang perusahaanya.
Assih dkk.(2005) mengungkapkan bahwa penawaran perdana memberikan suatu kesempatan yang baik untuk manajemen laba, karena mereka ingin mempengaruhi persepsi investor mengenai kinerja perusahaan. Dengan melakukan manajemen laba diharapkan dapat mempengaruhi penilaian pihak eksternal untuk memaksimalkan dana yang diperoleh perusahaan pada saat melakukan penawaran umum. Sedangkan Gumanti dan Niagara (2007) dalam Nastiti dan Gumanti (2011) mengungkapkan bahwa pihak manajemen terdorong untuk melakukan manajemen laba pada suatu IPO adalah karena adanya ketakutan bahwa saham yang akan ditawarkan tidak direspon dengan baik oleh pasar jika laba yang dicatatkan perusahaan tidak menarik. Dengan kata lain, dengan menyajikan informasi yang lebih baik daripada informasi yang sesungguhnya diharapkan dapat membuat publik tertarik membeli saham yang ditawarkan dengan harga yang relatif lebih tinggi dari pada harga sesungguhnya.
Rahman dan Hutagaol (2008) melakukan penelitian mengenai manajemen laba melalui akrual dan aktivitas riil pada penawaran perdana dan hubungannya dengan kinerja jangka panjang. Dalam penelitiannya yang menggunakan sampel 149 perusahaan yang IPO di BEJ pada tahun 1994–2003 menunjukkan hasil bahwa manajemen laba melalui akrual terbukti mempengaruhi kinerja pasar dalam jangka pendek perusahaan dan tidak menemukan perbedaan kinerja saham pada setiap jangka waktu yang disebabkan oleh praktek manajemen laba yang konservatif dan agresif. Sedangkan Joni dan Jogianto (2009) melakukan penelitian untuk menginvestigasi hubungan antara manajemen laba sebelum Initial Public Offering (IPO) dan return saham dengan menggunakan kecerdasan investor sebagai pemoderasi dengan sample perusahaan yang melakukan IPO di BEI pada periode 1990-2002. Hasilnya adalah perusahaan terbukti melakukan manajemen laba periode dua tahun sebelum dan lima tahun setelah IPO. Selain itu penelitian tersebut juga menemukan bahwa manajemen laba periode dua tahun sebelum IPO mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap return saham (CAR).
3
Penelitian mengenai praktek manajemen laba pada perusahaan sekitar penawaran umum perdana atau IPO sebenarnya sudah banyak dilakukan, seperti oleh Hastoro dan Yuliana (2010), Rahman dan Hutagaol (2008), Assih dkk.(2005), Amin (2007), dan Kusumawardhani dan Siregar (2004). Namun hasil dari pelitian-penelitian tersebut masih beragam bahwa manajemen laba dilakukan oleh perusahaan pada periode sebelum IPO atau saat IPO. Selain itu, bagaimana dampak dari manajemen laba tersebut terhadap kinerja perusahaan juga masih beragam.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Kinerja Pasar Perusahaan Yang Melakukan Penawaran Publik Perdana (IPO) Di Bursa Efek Indonesia (Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan IPO Di BEI Tahun 2007-2009)”. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Rahman dan Hutagaol (2008) dan Joni dan Jogianto (2009).
Pebedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini menggunakan sampel perusahaan yang melakukan IPO tahun 2007-2009 serta menambahkan ukuran perusahaan dan rasio profitabilitas (net profit margin) sebagai variabel kontrol dalam menguji pengaruh manajemen laba sebelum IPO terhadap kinerja pasar perusahaan (nilai perusahaan saat IPO dan abnormal return setelah IPO).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode sebelum IPO berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan saat IPO?
2. Apakah manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode sebelum IPO berpengaruh terhadap abnormal return (CAR) setelah IPO?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keberadaan manajemen laba pada perusahaan yang akan melakukan penawaran perdana dan pengaruh manajemen laba pada kinerja pasar perusahaan yang melakukan penawaran perdana saham di BEI, yang secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Mengetahui apakah manajemen laba periode sebelum IPO berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan saat IPO.
2. Mengetahui apakah manajemen laba periode sebelum IPO berpengaruh terhadap abnormal return (CAR) setelah IPO.
4
II. TINJAUAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Menurut Jensen dan Meckling (1976), hubungan keagenan adalah kontrak dimana satu orang atau lebih (principal) melibatkan orang lain (agent) untuk mengambil tindakan atas nama principal yang disertai dengan delegasi dari beberapa otoritas pengambilan keputusan kepada agen. Manajer sebagai pihak yang mengelola perusahaan mengetahui lebih banyak informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Sehingga mengakibatkan asimetri informasi antara pihak principal dan agent. Adanya asimetri informasi membuat manajemen mempunyai insentif untuk melakukan manajemen laba sehingga informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Principal dan agent mempunyai tujuan yang berbeda dimana agent mungkin melakukan tindakan yang menyimpang untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya.
2.2 Positive Accounting Theory
Watts dan Zimmerman (1990) dalam Scott (2012) merumuskan tiga hipotesis PAT, yaitu:
1. The Bonus Plan Hypothesis : Jika laba dijadikan sebagai indikator penilaian prestasi manajer perusahaan dengan menetapkan tingkat laba yang harus dicapai (target laba) dalam suatu periode tertentu, maka akan memotivasi seorang manajer untuk melakukan manajemen laba agar memaksimalkan bonus yang didapatkan.
2. The Debt Covenant Hypothesis: Semakin dekat suatu perusahaan ke pelanggaran perjanjian hutang maka manajer akan cenderung memilih metode akuntansi yang dapat memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan sehingga dapat mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran kontrak.
3. The Political Cost Hypothesis, jika suatu perusahaan memiliki profitabilitas yang tinggi maka hal itu akan memperbesar biaya politik (political cost).
2.3. Manajemen Laba Akuntansi Akrual dan Manajemen Laba Aktivitas Riil
Healy dan Wahlen (1998), manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan pertimbangan (judgement) dalam pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, dengan tujuan untuk menyesatkan beberapa pihak yang berkepentingan (stakeholder) tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil perjanjian (kontrak) yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.
Menurut Sulistyanto (2008) discretionary accruals atau abnormal accruals merupakan komponen akrual yang diperoleh dari hasil rekayasa manajerial dengan
5
memanfaatkan kebebasan dan keleluasaan dalam estimasi dan pemakaian standar akuntansi.
Sedangkan non-discretionary accrual atau normal accruals merupakan komponen akrual yang diperoleh secara alamiah dari dasar pencatatan akrual dengan mengikuti standar akuntansi yang diterima secara umum. Menurut Utami (2005) dan Sulistyanto (2008) discretionary accruals merupakan akrual hasil dari manipulasi atau rekayasa yang dilakukan oleh manajemen, oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan discretionary accruals sebagai indikator keberadaan manajemen laba melalui komponen akrual.
Roychowdhury (2006) mendefinisikan manipulasi aktivitas riil sebagai suatu tindakan-tindakan manajemen yang menyimpang dari praktek bisnis normal yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mencapai laba pada target tertentu, yang dimotivasi oleh keinginan manajer untuk membuat setidaknya beberapa stakeholder percaya bahwa tujuan tertentu pelaporan keuangan sudah dipenuhi dalam kegiatan usaha normal perusahaan.
Menurut Roychowdhury (2006) manipulasi aktivitas riil dapat dilakukan dengan 3 (tiga) cara:
1. Manipulasi penjualan, merupakan usaha untuk meningkatkan penjualan secara temporer dalam periode tertentu dengan menawarkan diskon harga produk atau memberikan persyaratan kredit yang lebih lunak.
2. Penurunan beban-beban diskresionari (dicretionary expenditures), Strategi ini dapat meningkatkan laba dan arus kas periode saat ini namun dengan risiko menurunkan arus kas periode mendatang.
3. Produksi yang berlebihan (overproduction), Strategi ini dapat menurunkan biaya penjualan barang (cost of goods sold) dan meningkatkan laba operasi.
2.3.2 Motivasi Manajemen Laba
Menurut Scott (2012) ada beberapa motivasi terjadinya manajemen laba, yaitu :
1. Bonus Purpose : Manajer mungkin akan bertindak secara opportunistic mengatur laba bersih agar dapat memaksimalkan bonus mereka.
2. Political Motivation : Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena ingin menghindari biaya politik yang besar.
3. Taxation Motivation : Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.Motivasi penghematan pajak dianggap menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata.
4. Pergantian CEO : CEO yang mendekati masa pensiun cenderung akan menaikkan laba untuk meningkatkan bonus mereka. Demikian juga dengan CEO yang kurang berhasil
6
memperbaiki kinerja perusahaan, mereka akan memaksimalkan laba agar tidak diberhentikan.
5. Initial Public Offering (IPO) : Perusahaan yang going public melakukan manajemen laba untuk memperoleh harga penawaran yang lebih tinggi atas sahamnya.
2.4 Pengembangan Hipotesis
Scott (2012) mengungkapkan bahwa salah satu motivasi terjadinya manajemen laba adalah IPO, dimana manajer perusahaan yang going public melakukan manajemen laba untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas sahamnya. Menurut Teoh,Wong dan Rao (1998) sebelum periode penawaran publik beberapa manajer menaikkan laba yang dilaporkan dalam upaya untuk meningkatkan ekspektasi investor akan kinerja masa depan dan meningkatkan harga penawaran. Sehingga, perusahaan yang mempunyai kinerja baik akan mempunyai harga saham yang lebih tinggi atau meningkatkan nilai perusahaan saat IPO.
H1 : Manajemen laba sebelum IPO berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan saat IPO
Tujuan investor bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal adalah untuk memperoleh imbal hasil dari dana yang di investasikan. Imbal hasil yang diterima oleh investor bisa berupa dividen maupun return dari perubahan harga saham. Menurut Rangan (1998), tindakan manajemen laba yang menaikkan laba pada periode sebelum penawaran dapat membuat perusahaan dinilai overvalued, akan tetapi saat manajemen laba tersebut mengalami reversing sehingga perusahaan melaporkan penurunan laba pada periode setelah penawaran, maka pasar akan kecewa sehingga menurunkan penilaiannya. Sehingga manajemen laba yang dilakukan perusahaan dapat berpengaruh terhadap abnormal return.
H2 : Manajemen laba sebelum IPO berpengaruh terhadap cumulative abnormal return saham perusahaan
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel
Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan penawaran perdana (initial public offering) di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2009 yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling dengan kriteria, berikut ini adalah tabel pemelihan sampel:
Perusahaan yang melakukan IPO saham pada tahun 2007-2009 52
Perusahaan yang bergerak dalam sektor industri keuangan dan perbankan (8)
Perusahaan yang tidak mempunyai prospektus keuangan perusahaan yang dipublikasikan dengan laporan
keuangan lengkap selama 3 tahun sebelum IPO (6)
Perusahaan yang sahamnya tidak aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (2)
Jumlah sampel yang memenuhi kriteria 36
Sumber : data yang diolah penulis
3.2 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data kuantitatif berupa data sekunder yang merupakan data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi berupa publikasi. Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini adalah daftar nama perusahaan dan prospektus keuangan perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007-2009, jumlah dan harga saham perusahaan tersebut saat IPO, harga saham perusahaan dan IHSG pada hari saat IPO sampai dengan tujuh hari perdagangan setelah IPO. Data-data tersebut diperoleh dari Indonesian Capital Market Electronic Library (ICAMELs), web Bursa Efek Indonesia, www.duniainvestasi.com dan web perusahaan tersebut.
3.3 Operasionalisasi Variabel 3.3.1 Variabel Independent
Variabel independent dalam penelitian ini adalah manajemen laba yang diukur dengan decretionary accruals (manajemen laba akrual) dan abnormal CFO (manajemen laba aktivitas riil). Discretionary accruals dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan perhitungan Modified Jones Model (Dechow et al., 1995) sebagai berikut:
1. Total akrual dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan rumus berikut : TAit = NIit – CFOit
2. Nilai total accrual (TA) diestimasi dengan persaman regresi OLS sebagai berikut:
TAit / Ait-1 = β1 (1 / Ait-1) + β2 (∆REVit/ Ait-1-∆RECit / Ait-1) + β3 (PPEit / Ait-1) + εit 3. Dengan menggunakan koefisien regresi diatas maka nilai non discretionary accruals
(NDA) dapat dihitung dengan rumus :
4. Selanjutnya tingkat discretionary accrual (tingkat akrual hasil rekayasa laba), dihitung dengan sebagai berikut:
Keterangan :
TAit : Total akrual perusahaan i pada tahun t
NIit : Laba bersih (net income) perusahaan i pada tahun t
NDAit = β1 (1 / Ait-1) + β2 (∆REVit / Ait-1 - ∆RECit / Ait-1) + β3 (PPEit / Ait-1)
DAit= TAit/Ait-1 – NDAit
7
CFOit : Kas dari operasi (cash flow from operation) perusahaan i tahun t.
∆REVit : Pendapatan perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan tahun t-1
∆RECit : Piutang usaha bersih perusahaan i pada tahun t dikurangi piutang tahun t-1 PPEit : Aktiva tetap perusahaan i pada tahun t
Ait-1 : Total aktiva perusahaan i pada tahun t
DAit : Discretionary accruals perusahaan i pada tahun t NDAit : Non discretionary accruals perusahaan i pada tahun t β1, β2, β3 : Koefisien regresi
εit : Error term perusahaan i pada tahun t
Pengukuran manajemen laba riil pada penelitian ini mengacu pada pengukuran yang dikembangkan oleh Roychowdhury (2006), yaitu dengan mengestimasi masing-masing abnormal CFO perusahaan i pada tahun t. Abnormal CFO adalah aktual CFO dikurangi dengan “normal” CFO yang dihitung dengan menggunakan model estimasi berikut:
CFOt/At-1 = α0 + α1 (1/ At-1 ) + α2(St / At-1 ) + α13(∆St / At-1) + εt
Keterangan :
CFOt : Arus kas operasi perusahaan pada tahun t At-1 : Total aset pada akhir periode t-1
St : Penjualan selama periode t
∆St : Selisih Penjualan (∆St = St - St-1) 3.3.2 Variabel Dependent
1) Nilai Perusahaan saat IPO
Dalam penelitian ini nilai perusahaan dihitung dengan menggunakan perhitungan yang digunakan oleh Assih dkk.(2005) yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Value IPOi = Shm IPOi x Hrg IPOi
Keterangan :
Value IPOi : Nilai perusahaan i pada ada saat IPO
Shm IPOi : Jumlah lembar saham yang dijual saat IPO untuk perusahaan i Hrg IPOi : Harga per lembar saham saat IPO untuk perusahaan i
2) Cummulative Abnormal Return
Kinerja saham perusahaan setelah IPO diukur dengan menggunakan cummulative abnormal return yang merupakan penjumlahan dari abnormal return perusahaan pada periode satu sampai dengan tujuh hari perdagangan setelah IPO. Cummulative abnormal return tersebut dihitung dengan menggunakan metode market adjusted model seperti yang digunakan oleh Rahman dan Hutagaol (2008) : CARi,t =
Dimana = imbal hasil saham i pada hari t yang dihitung denga menggunakan rumus sebagai berikut : ri, t =
8
Keterangan:
ri,t :Return harian perusahaan i pada hari ke-t.
Pi,t : Harga penutupan saham i pada hari t Pi,t-1 : Harga penutupan saham i pada hari t-1
sedangkan adalah imbal hasil dari indeks harga saham gabungan pada hari t yang diperoleh dari perhitungan sebagai berikut: =
Keterangan :
mi,t : Return indeks pasar pada hari ke-t.
IHSGt : Harga penutupan IHSG hari t IHSGt-1 : Harga penutupan IHSG hari t-1 3.3.3 Variabel Kontrol
1) Ukuran Perusahaan
Perusahaan yang besar dipercaya memiliki pertumbuhan yang relatif lebih besar, sehingga perusahaan besar memiliki tingkat pengembalian (return) saham lebih besar dibandingkan return saham pada perusahaan berskala kecil. Oleh karena itu, dalam penelitian ini memasukkan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini menggunakan nilai logaritma natural total aset perusahaan.
2) Net profit margin
Semakin besar rasio ini maka dianggap semakin baik pula kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi.Selain itu, rasio ini juga merupakan indikasi seberapa efektif sebuah perusahaan mengendalikan biaya sehingga mampu mengkonversi pendapatan menjadi keuntungan yang sebenarnya. Rasio ini dihitung dengan menggunakan rumus:
Net Profit Margin(NPM) = x 100 %
IV. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS PENGUJIAN 4.1 Deteksi Indikasi Manajemen Laba sebelum IPO
Setelah melakukan perhitungan discretionary accruals dan abnormal CFO maka didapatkan hasil nilai discretionary accruals dan abnormal CFO masing-masing perusahaan selama periode dua tahun sebelum sampai dengan periode dua tahun setelah IPO. Adapun statistik deskriptif discretionary accruals dan abnormal CFO tersebut adalah sebagai berikut:
N Maximum Minimum Median Mean Std. Dev. Diff mean DA (t-1) 36 0.465700 0.005800 0.115650 0.128806 0.105249
DAt 36 0.435500 -0.616600 0.119700 0.118939 0.202559 DA(t+1) 36 0.664400 -0.178200 0.125950 0.130700 0.141055
AbnCFO(t-1) 36 0.363080 -0.212740 0.054710 0.059801 0.135369 AbnCFOt 36 1.219880 -0.246430 0.009715 0.056324 0.269395
AbnCFO(t-1) 36 0.356210 -0.143280 0.058235 0.071506 0.132897
9
10
DA( t-2)-DA (t-1) 36 0.2243499 0.037916 DA(t-1) – Dat 36 0.191658 0.009866 DAt – DA(t+1) 36 0.221110 -0.011761 DA( t+1)-DA (t+2) 36 0.2189734 0.047116 AbnCFO(t-2)-AbnCFO(t-1) 36 0.262163 -0.029685 AbnCFO(t-1)-AbnCFOt 36 0.263324 0.003477 AbnCFOt-AbnCFO(t+1) 36 0.257391 -0.015189 AbnCFO(t+1)-AbnCFO(t+2) 36 0.134883 0.008033
Sumber : data yang diolah penulis
Indikasi bahwa telah terjadi manajemen laba ditunjukkan oleh nilai DA positif atau negatif (DA ≠ 0). Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan ditunjukkan bahwa nilai discretionary accrualspada tahun t-1 dari masing-masing sampel tidak sama dengan nol (DA≠0). Hal tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan yang melakukan IPO tahun 2007- 2009 melakukan manajemen laba akrual dengan mengelola komponen discretionary accrualspada periode sebelum IPO.
Oktorina (2008), Manipulasi aktivitas riil melalui arus kas kegiatan operasi dapat terlihat dari nilai rerata atau meanabnormal CFO, jika manajemen bermaksud untuk menaikkan laba melalui manipulasi CFO maka memiliki arus kas operasi abnormal yang lebih rendah dari arus kas normal (abnormal CFO dibawah 0). Berdasarkan tabel diatas, rerata abnormal CFO perusahaan sebelum IPO memiliki nilai lebih besar dari nol artinya arus kas operasi aktual perusahaan lebih besar dari arus kas normal perusahaan. Sehingga, perusahaan yang melakukan IPO tahun 2007-2009 tidak terbukti terindikasi melakukan manajemen laba aktivitas rill.
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata perusahaan yang melakukan IPO tahun 2007-2009 terindikasi melakukan manajemen laba akrual dan tidak terindikasi melakukan manajemen laba riil atau manipulasi aktivitas riil. Sehingga, dalam pengujian pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan saat IPO dan cummulative abnormal return, nilai manajemen laba yang digunakan adalah manajemen laba akrual.
4.2 Hipotesis Pertama : Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan saat IPO
4.2.1 Statistik deskriptif dan Hasil Uji Asumsi Klasik
Jumlah sampel yang digunakan dalam pengujian hipotesis 1 adalah sebanyak 30 perusahaan. Statistik deskriptif data nilai perusahaan saat IPO, manajemen laba, ukuran perusahaan, dan net profit margin yang menjadi sampel dalam pengujian hipotesis 1 dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.
11
Tabel Statistik deskriptif Hipotesis 1
VAL_IPO EM LN_SIZE NPM
Mean 27.57057 0.134667 13.61344 0.094040 Median 27.33728 0.125350 13.71815 0.070000 Maximum 31.64444 0.465700 16.50260 0.468700 Minimum 24.44619 0.005800 11.15020 -0.091400 Std. Dev. 2.012242 0.111381 1.457338 0.104377
Observations 30 30 30 30
Tabel Hasil Uji Asumsi Klasik Hipotesis 1
Sumber : data yang diolah penulis
Value IPO mempunyai nilai rata-rata sebesar 27.53933, nilai maksimum 31.64444, dan nilai minimum 24.44 dengan standart deviasi sebesar 2.012242. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang melakukan IPO memiliki nilai perusahaan saat IPO diatas nilai tengah value IPO. Nilai maksimum earning management adalah 0.134667 dan nilai terendahnya 0.005800 serta mean sebesar 0.134667. Nilai earning management yang positif mengindikasikan bahwa pada periode sebelum IPO perusahaan melakukan manajemen laba akrual yang menaikkan laba. Sedangkan untuk ukuran dari perusahaan mempunyai nilai maksimum 16.50260, nilai minimum 11.15020 dan standart deviasi sebesar 1.457338. Net profit margin memiliki nilai maksimum sebesar 0.468700, nilai minimum -0.091400, dengan mean sebesar 0.094040, data ini menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan perusahaan menghasilkan keutungan dari setiap transaksi perjualan yang dilakukan oleh perusahaan yang melakukan IPO periode 2007-2009 adalah sebesar 0.094040.
4.2.2 Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Tabel Hasil Regresi Ordinary Least Squares (OLS) Hipotesis 1 VAL_IPO = 13.5695 - 3.56166*EM + 1.0293*LN_SIZE + 4.971073*NPM
Statistik/Variabel Koefisien t-stat Prob.
KONSTANTA 13.56957 6.483429 0.0000*
EM -3.561660 -1.734981 0.0946**
LN_SIZE 1.029362 6.714265 0.0000*
NPM 4.971072 2.242817 0.0337**
Adjusted R-squared: 0.651069
F-statistic 19.03701 Prob(F-statistic): 0.000001 Val_IPO : Nilai perusahaan saat IPO LN_SIZE :LN nilai total aset (t-1) EM : Manajemen laba (t-1) NPM : Net profit margin (t-1)
*Signifikan pada level α= 1%, *** Signifikan pada level α= 10%,
** Signifikan pada level α= 5%, Sumber : data yang diolah penulis
Nilai Prob (F-statistik) dari persamaan regresi hipotesis 1 adalah sebesar 0.000001 artinya earning management, ukuran perusahaan dan net profit margin secara bersama-sama atau simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan saat IPO (value IPO). Sedangkan nilai Adjusted R-squared sebesar 0.651069 atau 65,10%, menunjukkan bahwa earning management, ukuran perusahaan dan net profit margin mampu
12
mempengaruhi dan menjelaskan value IPO sebesar 65,10%, sisanya sebesar 34,90%
dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.
Konstanta dalam persamaan hipotesis 2 ini memiliki nilai koefisien dan prob. sebesar 13.56957 dan 0.0000. Artinya, jika variabel independent dan variabel kontrol bernilai konstan maka nilai perusahaan saat IPO akan bernilai 13.56957. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pada derajat kepercayaan 95% (α=5%) dan prob. EM 0.0473< 0.05 artinya manajemen laba sebelum IPO berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan saat IPO. Akan tetapi nilai t-hitung (-1.7349) <-1.697 menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan (value IPO). Oleh karena itu, hipotesis 1 yang menyatakan bahwa manajemen laba pada periode sebelum IPO berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan saat IPO ditolak. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Assih dkk (2005) yang membuktikan bahwa manajemen laba akrual yang dilakukan perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Dengan adanya manajemen laba tersebut mengurangi kualitas laba yang dilaporkan sehingga investor yang melakukan analisis laba secara mendetail sebelum pengambilan keputusan investasi meragukan kualitas laba dan memberikan penilaian kinerja perusahaan yang rendah sehingga memberikan harga penawaran yang lebih rendah.Oleh karena itu, manajemen laba pada periode sebelum IPO berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan yang melakukan IPO.
Ukuran perusahaan dalam hipotesis 1 ini mempunyai koefisien sebesar 1.029362 dan prob. 0.0000 serta t hitung (6.714265)> t-tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan saat IPO (value IPO).
Sedangkan Nilai koefisien ukuran perusahaan menunjukkan nilai positif yaitu 1.029362 mengindikasikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan saat IPO. Net profit margin mempunyai nilai koefisien sebesar 4.971072 dan prob. 0.0337 serta t-hitung= 2.242817 > t-tabel maka net profit margin terbukti berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.3. Hipotesis Kedua : Pengaruh Manajemen Laba Sebelum IPO terhadap Cummulative Abnormal Return setelah IPO
4.3.1 Statistik deskriptif dan Hasil Uji Asumsi Klasik
Jumlah sampel yang digunakan dalam pengujian hipotesis 2 adalah 32 perusahaan.
Statistik deskriptif data nilai perusahaan saat IPO, manajemen laba, ukuran perusahaan, dan net profit margin yang menjadi sampel dalam pengujian hipotesis 2 dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.
Tabel Hasil Uji Asumsi Klasik Hipotesis 2 Tabel Statistik deskriptif hipotesis 2
CAR EM LN_SIZE NPM
Mean 0.047597 0.127950 13.45857 0.049778 Median -0.011150 0.100300 13.59350 0.067500 Maximum 0.614900 0.465700 15.42690 0.468700 Minimum -0.301300 0.005800 10.93090 -1.033600 Std. Dev. 0.225282 0.111167 1.320769 0.246225 Observations 32 32 32 32
Cummulative abnormal return (CAR) mempunyai nilai mean sebesar 0.047597, standart deviasi sebesar 0.225282, artinya bentuk distribusi data CAR tidak simetris dan rata- rata perusahaan memiliki nilai CAR di atas nilai tengahnya. Dari tabel diatas juga dapat diketahui bahwa rata-rata CAR mempunyai nilai positif, artinya rata-rata perusahaan memiliki return yang realisasi lebih besar dari tingkat keuntungan atau return yang diharapkan. Sedangkan manajemen laba (EM) dalam hipotesis 2 ini memiliki nilai maksimum 0.465700 dan minimum 0.005800 sehingga terdapat nilai EM yang jauh berbeda dari yang lainnya. Dengan nilai rata-rata 0.127950 dan median 0.100300, serta standart deviasi sebesar 0.111167 maka bentuk distribusi data EM tidak simetris. Ukuran perusahaan memiliki nilai rata-rata 13.45857 yang berada dibawah nilai median 13.59350 dan dengan standart deviasi 1.320769 artinya rata-rata perusahaan yang melakukan IPO memiliki total aset yang lebih kecil dari nilai tengahnya. Net profit margin (NPM) memiliki nilai mean 0.049778 dan median 0.067500 serta standart deviasi 0.246225, artinya NPM memiliki bentuk distribusi yang tidak simetris melainkan cenderung menjulur kekanan. Sedangkan nilai NPM yang negatif mengindikasikan bahwa terdapat perusahaan yang mengalami kerugian pada periode satu tahun sebelum IPO.
Sumber : data yang diolah penulis
4.3.2 Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Tabel Hasil Regresi Ordinary Least Squares (OLS) Hipotesis 2 CAR = 1.3465 + 0.0892*EM - 0.0986*LN_SIZE + 0.3571*NPM
Statistik/Variabel Koefisien t-stat Prob.
C 1.346558 3.182979 0.0036
EM 0.089217 0.263180 0.7943
LN_SIZE -0.098685 -3.176157 0.0036*
NPM 0.357155 2.062633 0.0485**
Adjusted R-squared: 0.209509
F-statistic 3.738718 Prob(F-statistic): 0.022352 CAR : cummmulative abnormal retturn LN_SIZE : log nilai total aset (t-1) EM : manajemen laba (t-1) NPM : Net profit margin (t-1)
*Signifikan pada level α= 1%, **Signifikan pada level α= 5%, Sumber : data yang diolah penulis
Nilai Prob (F-statistik) dari persamaan regresi hipotesis 2 adalah sebesar 0.022352 <
0,05 (signifikan pada level α= 5%) artinya manajemen laba, ukuran perusahaan dan net profit margin secara bersama-sama atau simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
13
14
cummulative abnormal return (CAR) pada periode tujuh hari perdagangan setelah IPO.
Sedangkan nilai Adjusted R-squared sebesar 0.209509 atau 20,95%, menunjukkan bahwa manajemen laba, ukuran perusahaan, net profit margin mampu mempengaruhi dan menjelaskan CAR (cummulative abnormal return) sebesar 20,95%, sisanya sebesar 79,05%
dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.
Konstanta dalam persamaan hipotesis 2 memiliki nilai koefisien sebesar 1.346558 artinya jika variabel independent dan variabel kontrol bernilai konstan maka cummulative abnormal return (CAR) akan bernilai 1.346558. Manajemen laba dalam hipotesis 2 memiliki prob. 0.7943 jauh diatas 0.05 (α= 5%) sehingga manajemen laba satu tahun sebelum IPO tidak berpengaruh secara signifikan terhadap cummulative abnormal return (CAR) perusahaan selama 7 hari perdagangan setelah IPO. Oleh karena itu, hipotesis 2 yang menyatakan bahwa manajemen laba yang dilakukan perusahaan sebelum IPO berpengaruh terhadap cummulative abnormal return (CAR) setelah IPO ditolak. Manajemen laba pada periode 1 tahun menjelang IPO tidak terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap pergerakan abnormal return saham selama 7 hari perdagangan setelah IPO. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Surya dan Januarti (2012).Namun, tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2006) dan Restuningdiah (2010) yang membuktikan manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap abnormal return. Perbedaan ini mungkin dikarenakan faktor fundamental perusahaan yang lebih berpengaruh terhadap abnormal return perusahaan dari pada manajemen laba. Seperti yang dikemukakan oleh Martani dkk (2009) faktor fundamental internal perusahaan seperti rasio profitabilitas (NPM da ROE), TATO, market value (PBV) berpengaruh signifikan terhadap adjusted return dan abnormal return perusahaan.
Variabel ukuran perusahaan dalam hipotesis 2 ini mempunyai koefisien -0.098 dan signifikasi 0.0036 (lebih kecil dari 0.01 atau α= 1%) artinya ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap cummulative abnormal return. Koefisien ukuran perusahaan yang bernilai negatif menujukkan bahwa ukuran perusahaan berhubungan negatif dengan CAR.
Jika ukuran perusahaan mengalami kenaikan sebesar 1 satuan dan nilai variabel lainnya konstan, maka nilai perusahaan yang melakukan IPO mengalami penurunan sebesar 0.098.
Hal ini mungkin dikarenakan perusahaan dengan ukuran besar memiliki kinerja yang cenderung lebih stabil dan memiliki risiko investasi yang lebih rendah sehingga para pemilik atau pemegang saham lebih cenderung untuk menyimpan atau hold saham perusahaan
15
tersebut dibanding untuk menjualnya, sehingga perusahaan berukuran besar mempunyai harga saham yang cenderung lebih stabil dibandingkan dengan perusahaan yang berukuran kecil. Oleh karena itu, perusahaan yang berukuran besar mempunyai abnormal return yang lebih kecil. Sedangkan semakin kecil ukuran perusahaan maka mengalami abnormal return yang lebih besar. Penelitian ini konsisten dengan Banz (1981) dalam Sulistio (2005) yang menemukan bahwa perusahaan berukuran kecil cenderung mengalami abnormal return yang besar dibandingkan dengan perusahaan besar.
Net profit margin dalam hipotesis 2 ini mempunyai koefisien 0.357155, prob. 0.0485 dan t-statistik (2.062633) > t-tabel.Sehingga pada tingkat kepercayaan 95% (α=5%) net profit margin berpengaruh secara signifikan terhadap cummulative abnormal return. Koefisien yang bernilai positif menujukkan bahwa net profit margin mempunyai hubungan yang positif dengan CAR. Jika net profit margin mengalami kenaikan sebesar 1 satuan dan nilai variabel lainnya konstan, maka cummulative abnormal return perusahaan yang melakukan IPO mengalami kenaikan sebesar 0.357155. Hasil penelitian ini sejalan dengan Martani dkk.
(2009) yang juga menemukan bukti bahwa profitabiitas perusahaan (NPM dan ROE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap abnormal return perusahaan.
4.4 Implikasi Manajerial
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007 sampai dengan 2009 yang bergerak disektor industri selain sektor keuangan dan perbankan terindikasi melakukan praktek manajemen laba pada periode dua tahun sebelum dan setelah IPO, yaitu melalui manajemen laba akrual.
Manajemen laba akrual yang dilakukan perusahaan pada satu tahun sebelum IPO terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan saat IPO. Oleh karena itu, kedepannya manajemen perusahaan yang akan melakukan IPO atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia diharapkan untuk tidak melakukan manajemen laba. Meskipun manajemen laba yang dilakukan dapat membuat laba yang dilaporkan menjadi lebih tinggi sehingga kinerja perusahaan terlihat baik atau manajemen berhasil mencapai target laba, akan tetapi tindakan manajemen laba tersebut dapat berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan sehingga menjadi dinilai lebih rendah oleh investor.
Selain itu, ukuran perusahaan dan profitabilitas merupakan variabel yang baik dalam menjelaskan hubungan antara manajemen laba sebelum IPO dengan nilai perusahaan saat IPO dan abnormal return perusahaan setelah IPO. Implikasi lain dari penelitian ini adalah investor tidak perlu menghawatirkan adanya manajemen laba riil melalui manipulasi arus kas
16
operasi satu tahun sebelum IPO oleh perusahaan yang melakukan penawaran perdana karena perusahaan yang melakukan IPO tidak terbukti terindikasi melakukan manajemen laba aktivitas riil.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pengujian, maka diperoleh kesimpulan bahwa penelitian ini menemukan hal-hal sebagai berikut:
1. Manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode satu tahun sebelum IPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (value IPO) saat IPO.
2. Manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode satu tahun sebelum IPO tidak berpengaruh signifikan terhadap cummulative abnormal return tujuh hari perdagangan setelah IPO.
Adapun saran-saran peneliti adalah sebagai berikut:
1) Bagi Penelitian Selanjutnya
Untuk memperpanjang periode penelitian dan memperbanyak sampel penelitian, menggunakan sampel perusahaan yang bergerak disektor industri sejenis dan menambahkan variabel independen atau variabel kontrol lainnya yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan saat IPO dan abnormal return, misalnya leverage.
2) Bagi Pengguna Laporan Keuangan dan Investor
Penulis menyarankan untuk melakukan analisis yang memadai sebelum mengambil keputusan tentang investasi agar menghindari pengambilan keputusan yang salah dikarenakan informasi laporan keuangan yang bersifat menyesatkan seperti manajemen laba.
3) Bagi Emiten dan Regulator
Hasil penelitian ini diharapkan juga bisa menjadi masukan bagi pihak regulator untuk meregulasi dan membuat ketentuan yang lebih ketat lagi mengenai persyaratan pengungkapan informasi agar dapat meningkatkan perlindungan terhadap para investor dari tindakan kecurangan yang mungkin dilakukan oleh perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.
4) Bagi Perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia
Peneliti menyarankan agar perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia meningkatkan kualitas laba dan laporan keuangannya serta menghindari praktek manajemen laba karena praktek manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan dapat menurunkan atau berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan tersebut.
17
DAFTAR PUSTAKA
Adhikara, M.F. Arrozi. 2011. Perilaku Mental Discounting Analis Efek Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Simposium Nasional Akuntansi 14. Banda aceh. 21-22 juli 2011.
Ajija, Shocrul R, Dyah W. Sari. RahmatH.Setianto, Martha R Primanti. 2011. Cara Cerdas Menguasai Eviews. Jakarta :SalembaEmpat
Amin, Aminul. 2007. Pendeteksian Earnings Management, Underpricing dan Pengukuran Kinerja Perusahaan yang Melakukan Kebijakan IPO di Indonesia.Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar. 26-28 juli 2007.
Ardiati, Aloysia Yanti. 2003. Pengaruh Manajemen Laba, Underpricing, Dan Pengukuran Kinerja Perusahaan Yang Melakukan Kebijakan IPO Di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar. 26-28 juli 2007.
Ardi, Azhar., Kiryanto, dan Dista Amalia. 2008. Overreaksi Pasar Terhadap Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Di Indonesia (Studi Kasus pada Bursa Efek Indonesia). Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XI, Pontianak
Armando, Equivalent dan Aria Farahnita. 2012. Manajemen Laba Melalui Akrual dan Aktivitas Riil Di Sekitar Penawaran Saham Tambahan dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Perusahaan: Studi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2001-2007. Simposium Nasionl Akuntansi XV. Yogyakarta. 4-5 Juni 2012.
Assih, P., Ambar W Hastuti, dan Parawiyati. 2005. Pengaruh Manajemen Laba Pada Nilai dan Kinerja Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Volume 2, Nomor 1, Juli-Desember 2005, pp 125-144
Brigham, Eugene F., et al. 2002. Financial Management Theory and Practice. 10th ed.
Orlando:Harcourt College Publisher.
Cohen, Daniel A. dan Paul Zarowin. 2008. Accrual-Based and Real Earnings Management Activities around Seasoned Equity Offerings.
http://papers.ssrn.com/abstract=1081939.
Data-data pergerakan harga saham perusahaan dan IHSG selama tujuh hari perdagangan setelah IPO. 2013. www.duniainvestasi.com
Data-data nama perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007, 2008, dan 2009 serta jumlah saham yang dicatatkan dan harga saham saat IPO. 2013.
www.idx.co.id
Dechow, P.M., Sloan, R.G., dan Sweeney, A.P. 1995. Detecting Earnings Management. The Accounting Review. Vol 70. No 2. hal.193-225
Djakman C.D. 2003. Manajemen Laba dan Pengaruh Kebijakan Multipapan Bursa efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VI:141-161.
DuCharme,Larry L., Paul H. Malatesta, dan Stephan E. Sefcik. 2000. Earning Management: IPO Valuation And Subsequent Performance. Journal of Accounting , Auditing & Finance, Autumn 2001. Volume: 16 Issue : 4 pp: 369-400.
Eisenhardt, K. 1989. Agency theory: An assessment and review. Academy of Management Review, 14(1): 57-74
18
Fanani, Zaenal. 2006. Manajemen Laba: Bukti dan Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos Politis, dan Konsentrasi Pasar Pada Pasar Yang Sedang Berkembang.
Simposium Nasional Akuntansi 9. Padang 23-26 Agustus.
Fisher, Marilyn,dan Kenneth Rosenzweigh. 1995. Attitudes of Students and accounting Practitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Management. Journal of Business Ethics, Volume 14, hal. 443-444
Ghaemi, Mohammad H., Ali Akbar Dorosti, dan Javad Masoumi. 2012. Earnings Management through Real Activities Manipulation: The Evidence from Tehran Stock Exchange. American Journal of Scientific Research, ISSN 2301-2005 Issue 66 (2012), pp. 162-166.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Cetakan IV Semarang : BPFE Universitas Diponegoro.
Govindarajan, Vijay dan Robert N. Anthony. 2007. Management Control Systems. 12th ed.
Boston: McGraw-Hill
Hastoro, H. A., dan Yuliana, A. 2010. Manajemen Laba di Sekitar Panawaran Harga Saham Perdana ( Initial Public Offering / IPO ) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Vol 1, No 1 , 67-80.
Healy, P. 1985. The effect of bonus schemes on accounting decisions. Journal of Accounting and Economics 7,85–107
Healy, Paul M. dan J.M. Wahlen. 1999. A Review Of The Earnings Management Literature And Its Implications For Standard Setting. Accounting Horizons 13, 365- 383.
Irawan dan Gumanti. 2009. Indikasi Earnings Management Pada Initial Public Offering.
Simposium Nasional Akuntansi XII-Palembang
Jensen, Michael C. dan William H.. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics.
October, 1976. Vol. 3 No 4 pp 305-360
Jiraporn, Pornsit, Gary A Miller, Soon Suk Yoon, dan Young San Kim. 2006. Is Earning Management Opportunistic Or Beneficial? An Agency Theory Perspective.
SSRNid917941
Jones, J. J. 1991. Earnings Management During Import Relief Investigations. Journal of Acounting Research 29, 193-228.
Joni dan Jogianto H.M. 2009. Hubungan Manajemen Laba Sebelum IPO Dan Return Saham Dengan Kecerdasan Investor Sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.Vol.12 No.1, Januari 2009. Hal: 51-67
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Kustinah, Siti. 2011. Model Pendeteksian Manajemen Laba Dan Pengaruhnya Terhadap Kapitalisasi Aset Dan Besarnya Dividen Survei Pada Perusahaan Manufaktur Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Perioda 2005-2009. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Volume 16 Nomor 2, Juli-Desember 2011
Kusumawardhani, Niken Astria S. dan Sylvia Veronica Siregar. 2009. Fenomena Manajemen Laba Menjelang Ipo Dan Kaitannya Dengan Nilai Perusahaan Perdana
19
Serta Kinerja Perusahaan Pasca–Ipo: Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Ipo Di Indonesia Tahun 2000-2003. Simposium Nasional Akuntansi XII-Palembang
Martani, Dwi, Mulyono dan Rahfiani Khairurizk. 2009. The Effect Of Fiancial Ratio, Firm Size, And Cash Flow From Operating Activities In The Interim Report To The Stock Return. Chiness Bussiness Review. Vol. 83, No.6, 2008 (serial No.72), USA Jun 2009.
ISSN 1537-1506
McNichols, Maureen F. dan Stephen R Stubben. 2008. Does Earnings Management Affect Fims Investment Decition?. The Accounting Review. Vol 83 No 6, 2008. pp.1571-1603 Muid, Dul dan Nanang Catur . 2005. Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Reaksi Pasar Dan Risiko Investasi Pada Perusahaan Publik Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi dan Auditing. Vol 01/No. 02/Mei 2005: 139-161
Nastiti, Ari Sita dan Tatang Ary Gumanti. 2011. Kualitas Audit dan Manajemen Laba Pada Initial Public Offering Di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi 14. Banda Aceh, 21-22 Juli 2011.
Peasnel.K.V, P.F Pope dan S Young. 1999. Detecting Earning Management Using Cross- Setional Abnormal Accrual Model. Journal of Lancaster university.UK Presiden Republik Indonesia. 1995. Undang-Undang Republik Indonesia No 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal. Menteri Negara Sekretaris Negara Republik Indonesia. 1995.
Jakarta
Rahman, Annisaa’ dan Yanthi Hutagaol. 2008. Manajemen Laba Melalui Akrual Dan Aktivitas Real Pada Penawaran Perdanan dan Hubungannya Dengan Kinerja Jangka Panjang (Studi Empiris Pada BEJ). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Volume 5, Nomor 1, Juni 2008
Rahmawati, Anastasia Riani Suprapti, dan Sri Seventi, 2010. Model Strategi Manajemen Laba Pada Perusahaan Publik Di Bursa Efek Indonesia: Suatu Pemeriksaan Pergeseran Klasifikasi Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Saham, Pemilihan Metoda Akuntansi, Dan Pengaturan Waktu Transaksi. Jurnal Akuntansi, Tahun XIV, No.1, Januari: 11-24
Rahmawati, Yacob Suparno, dan Nurul Qomariyah. 2006. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap Praktik Manajemen Laba Pada Perusahaan Perbankan Publik Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi 9. Padang 23-26 Agustus.
Rangan, Srinivasan. 1998. Earning Management And The Performance Of Seasoned Equity Offerings. Journal of Financial Economics No 50 (1998) pp 101-102
Restuningdiah, Nurika. 2010. Perataan Laba Terhadap Reaksi Pasar Dengan Mekanisme GCG dan CSR Disclosure. Jurnal Manajemen Bisnis. Vol.3 No.3. Desember 2010-Maret 2011 (241-260)
Roychowdhury, S. 2006. Earnings Management through Real Activities Manipulation.
Journal of Accounting and Economics 42: 335-370.
Saputro, Julianto Agung dan Lilis Setiawati. 2004. Kesempatan Bertumbuh Dan Manajemen Laba: Uji Hipotesis Political Cost. Riset Akuntansi Indonesia. Vol.7 No.2,Mei 2004. Hal 251-263
Sarwono, Jonathan. 2010. Pintar Menulis Karya Ilmiah-Kunci Sukses Dalam Menulis Ilmiah. Yogyakarta: Andi.
20
Schroeder, Richard G., Myrle W. Clark, dan Jack M. Cathey. 2009. Financial Accounting Theory 9th ed. New York : Wiley
Scott, W. R. 2012. Financial Accounting Theory. 6/e. Canada: Prentice Hall.Subramanyam, K.R. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Edisi 10. Jakarta: Salemba Empat.
Sugiarto, Sopa. 2003. Perataan Laba Dalam Mengantisipasi Laba Masa Depan Perusahaaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakata. Simposium Nasional Akuntansi VI. Surabaya, 16-17 Oktober 2003.
Sulistio, Helen. 2005. Pengaruh Informasi Akuntasi Dan Non Akuntansi Terhadap Initial Return: Hasil Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan Initial Public Offering Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII. Solo, 15-16 September 2005.
Sulistyanto, H. S. 2008. Manajemen Laba ( Teori dan Model Empiris). Jakarta: Grasindo.
Surya,Angga, dan Indira Januarti. 2012. Hubungan Manajemen Laba Sebelum IPO Terhadap Return Saham Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Moderasi.
Diponegoro Journal Of Accounting,Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Suyudi, Muhammad. 2009. Sintesis Teori Dalam Akuntansi Untuk Manajemen Laba.
Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, Vol 7, Nomor 1, Maret 2009
Teoh, Siew Hong, Ivo Welch, dan T. J. Wong. 1998. Earnings Management and the Long- Run Market Performance of Initial Public Offerings. The Journal Of Finance. Vol. LIII No. 6, December 1998.
Utami, Wiwik. 2005. Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas (Studi Pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur). Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo, 15–16 September 2005
Veronica, Sylvia dan Yanivi S. Bachtiar. 2004. Corporate Governance, Information Asymmetry, and Earning Management. Simposium Nasional Akuntansi VII. Bali, 2-3 Desember 2004
Watt, Ross L. dan Jerold L Zimmerman. 1990. Positive Accounting Theory: A Ten Year Perspective. The Accounting Review. Vol.65 No. 1 pp 131-156
Widyaningdyah, Agnes Utari. 2005. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earning Management Pada Perusahaan Go Public Di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol 2 No. 1, Juli-Desember 2005. pp 125-144
Wibisono, Dermawan. 2003. Riset Bisnis: Panduan bagi Praktisi dan Akademisi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Winarno, Wing Wahyu. 2009. Analisis Ekonometrika dan Statistik dengan Eviews. Edisi Kedua. UPP STIM YKPN. Jakarta
Zhang, yan, Pinghsun Huang, Donald R. Deis, dan Jacquelyn Sue Moffitt. 2006.
Discretionary Accruals, Hedging, And Firm Value. Proceeding 11th New Zealand Finance Colloquium