PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah …
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sistematika Penulisan
LANDASAN TEORI
Tinjauan Pustaka
- Teori Keagenan
- Positive Accounting Theory
- Manajemen Laba
- Pengertian Manajemen Laba
- Motivasi Manajemen Laba
- Bentuk Manajemen Laba
- Bentuk Strategi Manajemen Laba
- Metode Untuk Mendeteksi Manajemen Laba (Earning Manajemen)
- Manajemen Laba Akuntansi Akrual dan Aktivitas Riil
- Kinerja Pasar Perusahaan
- Nilai Perusahaan
- Return Saham
Jadi, pada hipotesis rencana bonus, manajer akan melakukan manajemen laba dengan cara meningkatkan laba (pertumbuhan pendapatan). Jadi, dapat disimpulkan bahwa menurut hipotesis Debt Convention, manajemen melakukan manajemen laba dengan cara memindahkan laba dalam rangka meningkatkan laba kini. Oleh karena itu, menurut hipotesis ini, manajemen kemungkinan akan melakukan manajemen perataan laba untuk mengurangi fluktuasi laba yang terlalu tinggi sehingga laba yang dilaporkan setiap periode tampak stabil.
Hal ini menyebabkan para manajer perusahaan go public melakukan manajemen laba untuk memperoleh harga penawaran yang lebih tinggi atas sahamnya. Pergeseran laba merupakan manajemen laba dengan cara memindahkan laba dari satu periode ke periode lainnya. Model berbasis akrual total merupakan model yang digunakan untuk mendeteksi aktivitas rekayasa laba dengan menggunakan akrual diskresioner sebagai proksi manajemen laba.
Hal ini dikarenakan model Jones diyakini tidak mampu menangkap dampak manajemen laba berdasarkan manipulasi penjualan.
Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis
- Penelitian Terdahulu
- Pengembangan Hipotesis
Sedangkan pada periode tahun IPO (t0) perusahaan cenderung melakukan manajemen laba dengan pola pendapatan menurun. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa manajemen laba sebelum IPO (t-1) tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return. Hasil penelitian ini adalah perusahaan terbukti melakukan manajemen laba pada dua tahun lima tahun sebelumnya.
Penelitian ini juga menemukan bahwa manajemen laba mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap return saham (CAR) dua tahun sebelum IPO. Hasil penelitian membuktikan bahwa perusahaan melakukan praktik manajemen laba pada periode sebelum IPO dan tidak melakukan praktik manajemen laba pada periode pasca IPO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba melalui akrual terbukti berdampak terhadap kinerja pasar (cumulative abnormal return).
Namun belum terbukti perusahaan mengelola laba sebelum IPO melalui penggunaan komponen modal kerja akrual.
Rerangka Pemikiran
Perusahaan melakukan manajemen laba untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu, misalnya untuk menunjukkan kinerja yang baik. Adanya manajemen laba dapat menyesatkan investor mengenai prospek kinerja perusahaan di masa depan sehingga dapat berdampak pada abnormal return. Oktorina dan Yanthi (2008) menunjukkan bahwa manajemen laba akrual dilakukan dengan cara memanipulasi akrual murni yaitu akrual diskresioner yang tidak berpengaruh langsung terhadap arus kas perusahaan, sedangkan manipulasi aktivitas riil tidak hanya berpengaruh terhadap akrual perusahaan saja, tetapi juga pada arus kas perusahaan. juga berdampak pada arus kas perusahaan.
Lebih lanjut Farahmita (2011) menemukan bahwa manajemen laba melalui transaksi riil justru menyebabkan perubahan sumber daya perusahaan, sedangkan manajemen laba dengan menggunakan akrual hanya menyebabkan perubahan pada laporan keuangan. Armando dan Farahnita (2012), Manajemen laba melalui aktivitas nyata lebih sulit dideteksi karena tidak dapat dibedakan dengan keputusan bisnis. Manajemen laba yang masih harus dibayar dibatasi oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum sehingga manajemen terdorong untuk mengelola laba melalui aktivitas sebenarnya.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan dua metode untuk menguji manajemen laba, yaitu manipulasi aktivitas akrual dan riil.
METODOLOGI PENELITIAN …
Jenis Penelitian
Populasi Dan Sampel
Jenis dan Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Operasionalisasi Variabel
- Variabel Independent
- Variabel Dependent
- Variabel Kontrol
Dengan menggunakan koefisien regresi di atas, nilai non-discretionary accruals (NDA) dapat dihitung dengan menggunakan rumus. DAit : Akrual diskresi perusahaan pada tahun t NDAit : Akrual non-diskresioner perusahaan pada tahun t β1, β2, β3 : Koefisien regresi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja pasar perusahaan yang didasarkan pada nilai perusahaan pada saat IPO (IPO value) dan kumulatif abnormal return (CAR). 1) Nilai perusahaan pada pencatatan bursa.
Dalam penelitian ini nilai perusahaan dihitung dengan menggunakan perhitungan yang digunakan oleh Assih dkk (2005), yaitu diperoleh dengan cara mengalikan harga penawaran awal saham perusahaan pada saat IPO dengan jumlah saham yang ditawarkan kepada perusahaan. publik pada saat IPO. penawaran umum perdana. Kinerja saham suatu perusahaan pasca IPO diukur dengan kumulatif abnormal return, yaitu jumlah abnormal return selama suatu periode. Nilai CAR yang digunakan dalam menguji hipotesis penelitian ini merupakan penjumlahan dari abnormal return perusahaan selama periode satu sampai tujuh hari perdagangan setelah IPO.
Perhitungan abnormal return kumulatif menggunakan metode market-adjusted model yang digunakan oleh Rahman dan Hutagaol (2008).
Model Penelitian
Metode Analisis Data
- Statistik Deskriptif
- Uji Asumsi Klasik
- Uji Normalitas
- Uji Multikolinearitas
- Uji Heteroskedastisitas
- Uji Autokorelasi
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi kedua variabel (variabel terikat dan variabel bebas) berdistribusi normal atau tidak. Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linier atau deterministik antara beberapa atau seluruh variabel independen yang menjelaskan model regresi (Ajija et al., 2011). Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan varians dari residu pengamatan yang satu dengan pengamatan yang lain.
Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap maka disebut homoskedastisitas, dan jika berbeda maka disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2006). Menurut Aji dkk (2011), autokorelasi adalah perbandingan antara sisa satu pengamatan dengan sisa pengamatan yang lain. Tujuan dari uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya) dalam model regresi linier.
Pengujian Hipotesis
- Hipotesis Pertama
- Hippotesis Kedua
Ha : Manajemen laba pada periode pra IPO tidak berpengaruh terhadap abnormal return kumulatif perusahaan setelah IPO.
Uji F (Pengujian Signifikan Simultan)
Uji Koefisien Determinasi (R 2 )
Uji t (Pengujian Signifikan Parsial)
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007-2009 melakukan manajemen laba akrual dengan mengelola komponen akrual pada periode sebelum IPO. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007-2009 tidak terbukti melakukan aktivitas manajemen laba secara riil. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO pada periode 2007-2009 rata-rata tidak terindikasi melakukan manajemen laba melalui aktivitas sebenarnya.
Manajemen laba pra IPO yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan sampel penelitian ternyata tidak berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan pada saat IPO, namun justru berpengaruh negatif. Oleh karena itu, manajemen laba pada masa pra IPO berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan yang melakukan IPO. Selain itu, manajemen laba akrual yang dilakukan perusahaan pada tahun sebelum IPO terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan pada saat IPO.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode sebelum IPO terhadap nilai perusahaan dan abnormal return perusahaan setelah IPO. Manajemen laba yang dilakukan perusahaan dalam kurun waktu satu tahun sebelum IPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (IPO value) pada saat IPO. Manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode satu tahun sebelum IPO tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kumulatif abnormal return tujuh hari perdagangan setelah IPO.
ANALISA DAN PEMBAHASAN …
Gambaran Umum Obyek Penelitian
Deteksi Indikasi Manajemen Laba Sebelum IPO
Sedangkan nilai diskresi akrual yang negatif berarti terjadi manajemen laba dengan pola manajemen laba yang mengurangi laba. Meskipun perusahaan juga terindikasi melakukan manajemen laba yang meningkatkan laba pada periode satu tahun sebelum IPO dibandingkan dengan periode dua tahun sebelum IPO, namun nilai mean positif selisih diskresi akrual menunjukkan bahwa perusahaan mengelola akrualnya. lebih banyak dalam dua tahun sebelum IPO. Hal ini bertolak belakang dengan pemikiran awal peneliti bahwa pada periode satu tahun sebelum IPO, perusahaan cenderung melakukan pengelolaan laba secara agresif dibandingkan periode sebelumnya dengan cara memaksimalkan keuntungan guna mempengaruhi persepsi investor sehingga memberikan penilaian yang tinggi terhadap perusahaan. kinerja dan kemudian memberikan harga penawaran yang lebih tinggi.
Dari tren diskresi akrual dapat dikatakan bahwa manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode satu tahun sebelum IPO tidak seagresif dua tahun sebelum IPO. Sedangkan pada periode pasca IPO, diskresi akrual menunjukkan nilai positif dan tidak sama dengan nol serta mengalami peningkatan dibandingkan periode pasca IPO, maka dapat disimpulkan bahwa pada periode pasca IPO perusahaan juga mengindikasikan bahwa itu melakukan manajemen akrual untuk membuat keuntungan lebih tinggi. Sedangkan rata-rata abnormal CFO pada periode pasca IPO juga menunjukkan nilai positif diatas nol, sehingga dapat dikatakan perusahaan pada periode pasca IPO juga terindikasi tidak melakukan manajemen laba riil.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007-2009 terbukti melakukan manajemen laba akrual dan tidak terbukti melakukan manajemen laba riil atau manipulasi aktivitas riil.
Pengujian Hipotesis
- Hipotesis Pertama
- Statistik Deskriptif
- Uji Asumsi Klasik
- Analisis Regresi Linier Berganda
- Hipotesis Kedua
- Statistik Deskriptif
- Uji Asumsi Klasik
- Analisis Regresi Linier Berganda
-statistics) dari persamaan regresi Hipotesis 1 sebesar 0,000001 yang berarti manajemen laba, ukuran perusahaan, dan net profit margin secara bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan pada saat IPO (IPO value). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil Assih dkk (2005) yang menunjukkan bahwa manajemen laba akrual yang dilakukan perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Jika total aset bertambah 1 satuan dan variabel lain dianggap konstan maka nilai perusahaan IPO akan meningkat sebesar 1,029362.
Jika net profit margin bertambah 1 satuan dan nilai variabel lain tetap, maka nilai perusahaan yang melakukan IPO akan meningkat sebesar 4,971072. Oleh karena itu, hipotesis 2 dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa manajemen laba yang dilakukan perusahaan sebelum IPO berpengaruh terhadap kumulatif abnormal return (CAR) setelah penolakan IPO. Jika ukuran perusahaan bertambah 1 satuan dan nilai variabel lain tetap, maka nilai perusahaan yang melakukan IPO akan turun sebesar 0,098.
Jika margin laba bersih meningkat sebesar 1 satuan dan variabel lain dianggap konstan, maka abnormal return kumulatif perusahaan IPO akan meningkat sebesar 0,357155.
Implikasi Manajerial
Tabel 4.1 Pemilihan sampel penelitian
Oleh karena itu, perlu juga disertakan manipulasi nyata dalam memeriksa tindakan manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba dilakukan oleh perusahaan IPO melalui diskresi akrual, dan bukan dengan memanipulasi aktivitas riil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan IPO terindikasi adanya manajemen laba pada periode sebelum dan sesudah IPO.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana melakukan manajemen laba yang meningkatkan laba selama periode penawaran umum perdana. Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007-2009 berpengaruh terhadap kinerja pasar perusahaan pada saat dan setelah IPO. Apakah manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada periode sebelum IPO berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan pada saat IPO?
Apakah manajemen laba perusahaan sebelum IPO berpengaruh terhadap abnormal return (CAR) pasca IPO? Oleh karena itu, dalam penelitian ini dinyatakan bahwa perusahaan melakukan praktik manajemen laba yang wajar ketika nilai DA≠. Nilai manajemen laba yang positif berarti pada periode sebelum IPO perusahaan melakukan manajemen laba berbasis akrual sehingga meningkatkan laba.
Tabel 4.5 Statistik deskriptif DA dan Abnormal CFO
Tabel 4.7 Statistik deskriptif Hipotesis 1
Tabel 8 Hasil Uji Asumsi Klasik hipotesis 1
Tabel 4.9 Hasil Regresi Ordinary Least Squares (OLS) Hipotesis 1
Tabel 4.11 Statistik deskriptif Hipotesis 2
Tabel 4.12 Hasil Uji Asumsi Klasik Hipotesis 2
Tabel 4.13 Hasil Regresi Ordinary Least Squares (OLS) Hipotesis 2