PENGARUH MEDIA KOTAK HURUF ELKONIN UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA KELAS III SDN DAWUAN BARAT III
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh
DIMAS ARNOLDI THOMAS 1986001
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Purwakarta 2023
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunianya selama penulisan proposal penelitian ini, yang akhirnya dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Proposal ini berjudul “Pengaruh Media Kotak Huruf Elkonin Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas III Sdn Dawuan Barat III”. Adapun maksud dan tujuan proposal penelitian ini diajukan adalah dalam upaya mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesetahatan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya .
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan Proposal ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT sehingga penulisan Proposal ini telah terselesaikan.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada:
Pak Atep Lesmana, M.Pd selaku ketua Prodi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Purwakarta yang telah memberi arahan serta motivasinya dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan Proposal ini.
Purwakarta, 03 Maret 2023
Penulis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi dalam hal ini pemerintah telah mangatur sedemikian rupa, baik dalam aturan undang-undang maupun kebijakan-kebijakan agar setiap individu berhak dan mendapatkan pendidikan yang layak. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana anak mengenali, menghargai, menghormati dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengadilan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Menurut Sugihartono dkk, (Utami, 2017) secara umum pendidikan merupakan suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh dengan tanggung jawab yang dilakukan orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicitacitakan dan berlangsung terus-menerus.
Pembelajaran bahasa indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa indonesia dengan baik dan benar, baik dengan membaca (lisan) maupun menulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Proses belajar mengajar dilaksanakan melalui komunikasi timbal balik dan tidak semata-mata merupakan pemberian informasi searah tanpa
mengembangkan gagasan, kreatifitas dan nilai serta keterampilan baik secara mandiri maupun dalam suasana kebersamaan. Siswa diaktifkan dalam belajar agar mampu mengembangkan, baik berupa pengetahuan sikap dan nilai maupun keterampilan serta mampu menerapkan proses belajar mengajar yang menganut cara belajar siswa aktif, berorientasi kepada siswa itu sendiri. Hal ini memungkinkan siswa itu berfikir, bersikap dan bertindak kreatif sehingga dikemudian hari mereka dapat menghadapi perubahan-perubahan masyarakat dan memberikan sumbangan bagi pembangunan bangsa. Dalam proses belajar mengajar yang menjadi masukan utama adalah materi pelajaran, metode, tujuan, sarana belajar mengajar dan penilaian. Dengan demikian sarana yang meliputi buku, alat pelajaran, media (video, radio dan lain-lain), perabot sekolah dengan bangunan sekolah ruang belajar, merupakan satu unsur dalam kegiatan belajar mengajar. Ini bertujuan memberi pedoman bagaimana merencanakan penggunaan sarana kegiatan belajar mengajar atau tujuan instruksional dapat tercapai secara optimal.
Berdasarkan observasi awal di Sekolah Dasar Negeri Dawuan Barat III Cikampek Karawang terlihat guru masih menggunakan pendekatan konvesional (ceramah) dan kurangnya penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut mengakibatkan murid menjadi kurang termotivasi dalam kegiatan pembelajaran dan membuat hasil belajar murid menjadi rendah.
Alat peraga yang di maksud adalah media kotak huruf yang dibuat menarik agar siswa menjadi termotivasi dan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran. Peneliti memilih media kotak huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas III SD Negeri Dawuan Barat III Cikampek Karawang karena sekolah tersebut jarang menggunakan media pembelajaran seperti kotak huruf. Dimana guru hanya menggunakan media buku dan papan tulis saja. Sehingga siswa hanya menghafal apa yang diucapkan guru dan mengutip apa yang ditulis oleh guru tanpa bisa membaca
atau menulis dalam arti yang sebenarnya yang mengakibatkan siswa tidak terlalu aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Media kotak huruf adalah media yang berupa potongan huruf bergambar yang menarik untuk meningkatkan konsep membaca dan menulis awal (Wulandari, 2008). Sehingga dengan menggunakan media kotak huruf siswa dapat belajar sambil bermain dan tidak membuat siswa cepat bosan dalam mengikuti proses belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh penggunaan media kotak huruf Elkonin terhadap kemampuan menulis siswa kelas III di SDN Dawuan Barat III”.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah “Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media kotak huruf terhadap kemampuan membaca permulaan siswa kelas III di SD Negeri Dawuan Barat III”.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat Penelitian yang diharapkan yaitu:
1. Bagi Guru
Memberikan pengalaman baru dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media kotak huruf sehingga meningkatkan profesionalisme guru.
2. Bagi Siswa
Memberikan pengalaman belajar menggunakan media kotak huruf dalam kegiatan pembelajaran dan diharakan membantu untuk menumbuhkan semangat siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca.
3. Bagi Sekolah
Penerapan media kotak huruf diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sehingga dapat dijadikan referensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan menunjang peningkatan mutu pendidikan.
4. Bagi peneliti lain
Memberikan bahan pertimbangan bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang penggunaan media kotak huruf agar melakukan inovasi-inovasi baru sehingga perkembangan ilmu pengetahuan selalu berkembang dari masa ke masa.
5. Bagi pembaca
Penulis berharap dengan adanya penelitian ini dapat di jadikan sebagai masukan bagi para pembaca yang akan melakukan penelitian sehingga lebih mengetahui dan lebih mendalami penggunaan media kotak huruf.
E. Hipotesis
Menerapkan tindakan untuk meningkatkan konsep tulis awal Bahasa Indonesia kelas III perlu ditelaah secara mendalam melalui Penelitian ini yang berjudul “Penggunaan Media Belajar Kotak Huruf Elkonin Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menulis Kata Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas III SDN Dawuan Barat III” dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kata.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Media kotak huruf
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media dalam arti sempit berarti komponen bahan dan komponen alat dalam sistem pembelajaran. Dalam arti luas media berarti pemanfaatan secara maksimum semua komponen sistem dan sumber belajar diatas untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Menurut hamidjojo yang dimaksud media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar ide, sehingga gagasan itu sampai kepada penerima.
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan untuk membantu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Karena dengan media pembelajaran diharapkan pengetahuan yang diajarkan akan sampai kepada peserta didik yang mengikuti proses belajar mengajar yang dilakukan oleh pendidik.
Media pembelajaran juga merupakan komponen intruksional yang terdiri dari pesan pendidik dan peralatan/benda. Seiring dengan perkembangan zaman, pengetahuan dan teknologi, maka media pembelajaran juga mengalami perkembangan dan kemajuan. Artinya bahwa media pembelajaran sudah banyak jenis dan variasinya seiring
dengan perkembangan zaman, serta kemajuan pengetahuan dan teknologi tersebut.
Menurut latuheru, media pembelajaran adalah semua alat atau benda yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, dengan maksud menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lainnya) kepada penerima (peserta didik).
Menurut depdiknas istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentu jamak dari “medium” yang secara harfiah perantara atau pengantar.
Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang merupakan kombinasi antar perangkat lunak (bahan ajar) dan perangkat keras (alat ajar).
b. Jenis media pembelajaran
Ada berbagai cara dan sudut pandang untuk menggolongkan jenis media. Menurut Rudy bretz, bahwa mengidentifikasi jenis-jenis media berdasarkan tiga unsur pokok, yaitu: suara, visual dan gerak.
Berdasarkan tiga unsur tersebut , bretz mengklasifikasikan media ke dalam delapan kelompok , yaitu:
1) Media audio 2) Media cetak 3) Media visual diam 4) Media visual gerak 5) Media audio semi gerak 6) Media semi gerak 7) Media audio visual diam 8) Media audio visual gerak
c. Manfaat media pembelajaran
Media pembelajaran memiliki banyak manfaat bagi pelaksana pembelajaran, seperti dapat membantu dalam mempercepat menyampaian materi, mempermudah daya kepahaman siswa, dll.
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi maka pendidik dalam memberikan materi pelajaran harus mengikuti kemajuan tersebut. Pendidik harus mampu menggunakan media pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Sehingga peserta didik dapat dengan mudah menerima pelajaran yang diberikan oleh pendidik. Menurut Nasution, manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sbb:
1) Pengajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih dipahami siswa, serta memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran dengan baik.
3) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya.
4) Mendengarkan penjelasan dari pengajar saja, tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dll.
Kesimpulan dari manfaat media pembelajaran terbagi menjadi dua, yaitu manfaat media bagi pendidik dan peserta didik. Manfaat media bagi pendidik yakni memberikan pedoman bagi pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga dapat menjelaskan materi pembelajaran dengan mudah dan membantu dalam penyajian materi yang menarik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemudian manfaat media bagi peserta didik yakni, dapat meningkatkan motivasi
dan minat belajar peserta didik sehingga peserta didik dapat berfikir dan menganalisis materi pembelajaran yang diberikan oleh pendidik dengan baik dengan situasi belajar yang menyenangkan dan peserta didik dapat memahami materi pelajaran dengan mudah.
2. Pengertian Media Kotak Huruf
Kotak huruf ialah salah satu media pembelajaran yang digunakan dengan mengenalkan simbol huruf pada anak. Setelah itu anak diminta untuk merangkai suku kata yang telah ada, kemudian membantu anak agar membaca hasil dari rangkaianya tersebut. Pemakaian media kotak huruf sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak, sebab media kotak huruf sangat menarik serta dapat meningkatkan minat belajar peserta didik.
Media kotak huruf dapat digunakan untuk mengajar anak usia dini melalui metode bermain. Anak tidak hanya merangkai kemudian membunyikan huruf- huruf tetapi mereka juga bisa memegang dengan tujuan membentuk kepekaan dan terbiasa dengan macam- macam tekstur huruf.
Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwa media kotak huruf merupakan media pembelajaran berupa potongan-potongan huruf yang dapat menarik perhatian peserta didik, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan peserta didik dalam belajar.
a. Aturan penggunaan kotak huruf
Aturan penggunaan permainan kotak huruf sebagai salah satu pembelajaran, yakni mempersiapkan media yang hendak di pakai, setelah itu mengumpulkan anak yang mau mengikuti pembelajaran. Kemudian membagi anak menjadi sebagian kelompok agar anak tidak berebut serta
senantiasa mengantri ketika ingin menggunakannya. Agar lebih jelas, berikut langkah- langkah dalam menggunakan media kotak huruf, antara lain:
1) Membuat lingkungan belajar menjadi nyaman dan santai agar anak senang selama pembelajaran.
2) Pendidik dapat menggunakan 4 kartu pertama yaitu “NA” “NI”
“NU” NE. Kemudian menyimpan sebagian kartu lainnya agar menjadi kejutan bagi peserta didik anda. Perlihatkan satu persatu kartu anda dan ucapkan dengan jelas bunyi suku katanya beserta gambarnya, misalnya “a” “pe” “l” itu apel, kemudian pendidik melanjutkan menjelaskan secara singkat seputar apel tersebut agar menarik perhatian peserta didik.
3) Setelah keempat kartu huruf selesai guru sampaikan, jajarkan didepan mereka dan mulailah berdendang, misalnya mana huruf
“ca” mana huruf “be”. Dan biarkan peserta didik mencari dan menunjuk kartu yang di maksud, kemudian menyampaikan bahwa ini bacanya “cabe”.
4) Jajarkan kartu secara berderet disebuah ruang kelas. Ambil start bersamasama peserta didik kira-kira 1 meter dari jarak tersebut.
Ajaklah siswa anda berlomba mengambil kartu-kartu tersebut sesuai intruksi, misalnya sekarang kita ambil kartu “BA” sebagai pendidik berpura puralah tidak tahu sehingga peserta didik anda dengan bangga memberitahu jawaban yang benar kepada anda dan peserta didik yang lainnya. 5) Setelah itu guru menulis kata tersebut di papan tulis misalnya “ba” “ju” : BAJU.
5) Lakukan secara continue (terus menerus) minimal 15 menit / hari.
Ditarik kesimpulan berdasarkan penjelasan diatas bahwa, peserta didik diharuskan merasa aman serta bahagia dengan suasana
belajar sembari bermain agar peserta didik dapat lebih mudah menguasai perbendaharan kosa kata baru.
b. Manfaat media kotak huruf
Manfaat yang dapat diambil dari penggunaan media kotak huruf yakni, dapat meningkatkan perkembangan bahasa anak sebab media ini dimainkan dengan menggunakan kartu huruf yang mampu menstimulasi penambahan kosa pada anak. Lerner dalam jurnal penerapan metode bermain dengan media kotak huruf untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak, mengemukakan mamfaat dari penggunaan media kotak huruf, di antaranya:
1) Mengenal huruf
2) Memadukan stimulasi otak kanan dan otak kiri 3) Meningkatkan kecerdasan
4) Melatih konsentrasi
5) Dapat melatih koordinasi anggota tubuh
6) Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
7) Melatih kemampuan bahasa anak (penambahan kosa kata) 8) Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
9) Memberikan sensasi gairah atau semanngat untuk belajar membentuk kata-kata.
Media kotak huruf mempunyai banyak manfaat yang sangat mempengaruhi aspek perkembangan bahasa anak. Media ini berhubungan dengan bagaimana anak menyambungkan huruf demi huruf untuk membentuk sesuatu kata baru. Kemudian media ini dapat menstimulasi penambahan kosa kata pada anak.
B. Hakikat Keterampilan Menulis 1. Pengertian Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Banyak ahli telah mengemukakan pengertian menulis. Menurut pendapat Saleh Abbas (2006:125), keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis.
Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung dengan ketepatan bahasa yang digunakan, kosakata dan gramatikal dan penggunaan ejaan.
Menurut Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuhdi (1999: 159), keterampilan menulis merupakan suatu keterampilan menuangkan pikiran, gagasan, pendapat tentang sesuatu, tanggapan terhadap suatu pernyataan keinginan, atau pengungkapan perasaan dengan menggunakan bahas tulis.
Menurut Henry Guntur Tarigan (2008), keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain. Sedangkan menurut Byrne (Haryadi dan Zamzani, 1996: 77), keterampilan menulis karangan atau mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai secara utuh dan jelas sehingga dapat dikomunikasikan kepada pembaca dengan berhasil.
Menurut pendapat Burhan Nurgiyantoro (2001: 273), menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Menulis merupakan kegiatan produktif dan ekspresif sehingga penulis harus memiliki kemampuan dalam menggunakan kosakata, tata tulis,dan struktur Bahasa.
Menurut The Liang Gie (2002:3 ), keterampilan menulis adalah keterampilan dalam pembuatan huruf, angka, nama, suatu tanda bahasa apapun dengan suatu alat tulis pada suatu halaman tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa keterampilan menulis adalah keterampilan menuangkan ide, gagasan,
perasaan dalam bentuk bahasa tulis sehingga orang lain yang membaca dapat memahami isi tulisan tersebut dengan baik.
2. Tujuan Menulis
Setiap penulis harus mempunyai tujuan yang jelas dari tulisan yang akan ditulisnya. Menurut Suriamiharja (1997: 10), tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami dengan benar oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan. Sedangkan menurut Suparno dan Mohamad Yunus (2008: 3.7), tujuan yang ingin dicapai seorang penulis bermacam-macam sebagai berikut.
a. Menjadikan pembaca ikut berpikir dan bernalar.
b. Membuat pembaca tahu tentang hal yang diberitakan.
c. Menjadikan pembaca beropini.
d. Menjadikan pembaca mengerti.
e. Membuat pembaca terpersuasi oleh isi karangan.
f. Membuat pembaca senang dengan menghayati nilai-nilai yang dikemukakan seperti nilai kebenaran, nilai agama, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai moral, nilai kemanusiaan dan nilai estetika.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis adalah agar pembaca mengetahui, mengerti dan memahami nilai-nilai dalam sebuah tulisan sehingga pembaca ikut berpikir, berpendapat atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan isi tulisan.
3. Pembelajaran Keterampilan Menulis di Sekolah Dasar
Keterampilan menulis seperti halnya keterampilan berbahasa yang lain perlu dimiliki oleh siswa. Keterampilan menulis sudah mulai dilatihkan di tingkat Sekolah Dasar. Sebelumnya, pada kelas rendah ditanamkan dasardasar menulis. Jika dasarnya sudah kuat dan dikuasai dengan benar maka siswa dapat menulis dengan baik dan benar. Sabarti
Akhadiah, (1993: 64) mengemukakan bahwa keterampilan menulis sangat kompleks karena menuntut siswa untuk menguasai komponen – komponen di dalamnya, misalnya penggunaan ejaan yang benar, pemilihan kosakata yang tepat, penggunaan kalimat efektif, dan penyusunan paragraf yang baik. Membelajarkan menulis harus memperhatikan perkembangan menulis anak. Perkembangan anak dalam menulis terjadi secara perlahan – lahan. Anak perlu mendapatkan bimbingan dalam memahami dan menguasai cara mentransfer pikiran ke dalam tulisan. Menurut Temple (Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuhdi, 1999: 77), perkembangan tulisan anak meliputi 4 tahap sebagai berikut.
a. Tahap prafonemik
Pada tahap ini anak sudah mengenal bentuk dan ukuran huruf tetapi belum bisa menyusunnya untuk menulis kata. Anak belum bisa mengetahui prinsip fonetik yakni huruf mewakili bunyi-bunyi yang membentuk kata.
b. Tahap fonemik awal
Pada tahap ini anak sudah mengenali prinsip fonetik, tahu cara kerja tulisan tetapi belum bisa mengoperasikan prinsip tersebut.
c. Tahap nama huruf
Pada tahap ini, anak sudah bisa menggunakan prinsip fonetik , dia dapat menggunakan huruf-huruf yang mewakili bunyi-bunyi yang membentuk suatu kata.
d. Tahap transisi
Tahap ini ditandai dengan penguasaan anak terhadap tata tulis yang semakin lengkap, dia juga sudah bisa menggunakan ejaan dan tanda baca dalam tulisan.
Dalam pembelajaran keterampilan menulis ini guru harus menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif. Di samping itu guru
juga harus melakukan penilaian proses yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan belajar siswa, kesulitan yang dialami dan pola strategi belajar yang tepat.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN A. Prosedur Penelitian
Rancangan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus.
Setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Pada masing-masing siklus, pertemuan pertama digunakan untuk pembelajaran dan diakhiri refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, sedangkan pada pertemuan kedua digunakan untuk pembelajaran diakhiri dengan test evaluasi. Setiap siklus melalui 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan Tindakan
Tahap ini berupa menyusun rancangan tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
Pada tahap ini peneliti menetapkan seluruh rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki praktek pembelajaran, yaitu menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran mengenai materi bentuk permukaan bumi.
2. Pelaksanaan Tindakan
Penelitian dipusatkan pada pelaksanaan serangkaian pembelajaran yang dipilih kedalam beberapa siklus tindakan. Pada setiap siklus tindakan diobservasi, dievaluasi dan direfleksi data-data atau temuan yang berhubungan dengan kinerja guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual dan prestasi belajar siswa.
3. Pengamatan atau Observasi
Tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan.
Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pengamat melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini mencatat setiap aktivitas siswa dan kinerja guru pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung.
Kegiatan pengamatan ini dilakukan dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran, hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah aktivitas siswa dan kinerja guru sudah sesuai dengan apa yang tercantum dalam lembar observasi atau belum. Sehingga dari hasil observasi ini, pelaksanaan pada siklus berikutnya dapat diperbaiki.
4. Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.
B. Tahapan Penelitian
Pendekatan kontekstual sebagai upaya pemecahan masalah dalam penelitian ini direncanakan kedalam bentuk siklus, yaitu sebagai berikut:
1. Siklus I
a. Perencanaan
1) Mengidentifikasi masalah, mengdiagnosis masalah, dan mengembangkan pemecahan masalah.
2) Merancang rencana pemberlajaran sesuai materi pengaruh media kotak l konin.
3) Merancang bahan dan lembar kegiatan siswa.
4) Menyusun lembar pengamatan keaktifan belajar siswa dan peroformasi guru.
b. Pelaksanaan
1) Melaksanakan rencana pembelajaran siklus I yang sudah direncanakan
2) Menyiapkan bahan dan lembar kegiatan siswa 3) Mengadakan presensi siswa
4) Membimbing siswa keluar kelas untuk mengamati secara nyata dan mendiskusikan bentuk daratan yang terdapat di sekitar lingkungan sekolah
5) Menyimpulkan materi dan kegiatan yang telah dilakukan 6) Pada akhir siklus I, siswa mengerjakan tes formatif I c. Pengamatan
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengamatan difokuskan pada :
1) Prestasi belajar siswa a) Rata-rata kelas
b) Banyaknya siswa yang tuntas belajar (skor ≥ 65) c) Presentasi tuntas belajar secara klasikal
2) Keaktifan siswa a) Kehadiran siswa
b) Perhatian dan kesungguhan siswa saat belajar di kelas c) Keberanian siswa mengajukan dan menjawab pertanyaan 3) Performansi guru dalam proses pembelajaran
a) Penguasaan materi b) Penguasaan kelas
c) Penguasaan model pembalajaran.
d. Refleksi
Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis semua kegiatan yang dilakukan pada siklus I. Analisis dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan hal-hal yang diamati (hasil belajar siswa dan pembelajaran yang dilakukan guru) pada siklus I, kemudian peneliti merefleksikan hasil analisis tersebut untuk merencanakan siklus II.
2. Siklus II
Siklus II dilakukan apabila hasil refleksi siklus I belum mencapai indikator keberhasilan. Kekurangan yang terdapat pada siklus I dijadikan landasan untuk perbaikan proses pembelajaran siklus II.
a. Perencanaan
1) Mengidentifikasi masalah, mendiagnosis masalah, dan mengembangkan pemecahan masalah sesuai hasil refleksi siklus I 2) Merancang rencana pembelajaran sesuai materi bentuk permukaan
bumi sub pokok lautan Merancang lembar kegiatan siswa
3) Menyusun lembar pengamatan keaktifan belajar siswa dan performansi guru
4) Menyusun tes formatif II b. Pelaksanaan
1) Melaksanakan rencana pembelajaran siklus II yang sudah direncanakan
2) Menyiapkan lembar kegiatan siswa 3) Mengadakan presensi siswa
4) Membimbing siswa melakukan diskusi dengan bantuan media gambar (pemodelan) mengenai materi bentuk permukaan bumi sub pokok lautan
5) Menyimpulkan materi pembelajaran
6) Pada akhir siklus II, siswa mengerjakan tes formatif II c. Pengamatan
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengamatan difokuskan pada :
1) Prestasi belajar siswa a) Rata-rata kelas
b) Banyaknya siswa yang tuntas belajar (skor ≥ 62) c) Persentase tuntas belajar secara klasikal
2) Keaktifan siswa a) Kehadiran siswa
b) Perhatian dan kesungguhan siswa saat belajar di kelas c) Keberanian siswa mengajukan dan menjawab pertanyaan 3) Performansi guru dalam proses belajar mengajar
a) Penguasaan materi
b) Penguasaan model pembelajaran kontekstual 4) Refleksi
Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis semua kegiatan yang dilakukan pada siklus II. Analisis dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan hal-hal yang diamati pada siklus II, kemudian peneliti merefleksikan hasil analisis tersebut.
Berdasarkan hasil analisis ataupun refleksi pada siklus I dan siklus II terhadap prestasi belajar siswa, keaktifan belajar siswa dan performansi guru, maka peneliti akan menyimpulkan apakah hipotesis tindakan diterima atau tidak. Jika prestasi belajar siswa, keaktifan 30 belajar siswa dan performansi guru sesuai indikator (meningkat), maka hipotesis tindakan diterima, artinya pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang diterapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dan kualitas pembelajaran Bahasa SD.
C. Sumber Data dan Lokasi
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Dawuan Barat III Kecamatan Cikampek Kabupaten Karawang yang berjumlah 28 siswa, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan, 1 orang guru peneliti.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Dawuan Barat III Kecamatan Cikampek Kabupaten Karawang.
D. Tehnik Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi:
a. Data kuantitatif, yang terdiri dari nilai awal dan nilai hasil tes pada setiap akhir siklus Tindakan
b. Data kualitatif, yaitu hasil dari pengamatan aktivitas belajar siswa dan performansi guru dengan menggunakan lembar pengamatan.
2. Sumber Data
a. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari: Guru kelas III SD Negeri Dawuan Barat III Kecamatan Cikampek Kabupaten Karawang, data yang diperoleh dari guru berupa keterangan tentang permasalahan yang dihadapi dan kondisi proses kegiatan belajar mengajar yang sudah berjalan.
b. Siswa kelas III SD Negeri Dawuan Barat III Kecamatan Cikampek Kabupaten Karawang, dari siswa diperoleh data berupa nilai tes hasil belajar.
c. Dokumen, dokumen yang didapatkan berupa nilai test formatif mata pelajaran Bahasa media kotak huruf elkonin.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini antara lain:
a. Teknik tes untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam mata pelajaran Bahasa.
b. Tes berisi soal-soal yang mencakup materi Bahasa khususnya media kotak elkonin beserta kisi-kisinya.
c. Observasi untuk memperoleh data tentang aktivitas belajar siswa dan performansi guru ketika pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa menggunakan pendekatan kontekstual berlangsung.
d. Dokumentasi untuk memperoleh data nilai awal hasil evaluasi siswa.
E. Tehnik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan penulis sebagai berikut (Depdiknas, 2006:26) :
1.
Untuk menentukan nilai akhir masing-masing siswa Nilai akhir = Skor yang diperoleh siswaSkor maksimal x 100 = 2. Untuk menentukan rata-rata kelas
Nilai rata-rata kelas = Jumlah nilai akhir
Jumlah siswa x 100 = 3. Untuk menentukan tuntas belajar klasikal
Tuntas belajar klasikal = Jumlah siswa yang memenuhi KKM
Jumlah seluruh siswa x 100 =
F. Kriteria Keberhasilan
Pendekatan kontekstual dikatakan efektif untuk meningkatkan pembelajaran IPA, jika
1.
Prestasi Belajar Siswaa. Rata-rata kelas sekurang-kurangnya 70
b. Persentase tuntas klasikal hasil belajar IPA sekurang-kurangnya 80%
(minimal 80% siswa yang memperoleh skor ≥ 62) 2. Keaktifan Belajar Siswa
a. Ketidakhadiran siswa maksimal 10 %
b. Keterlibatan siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran klasikal mata pelajaran Bahasa dengan pendekatan kontekstual lebih dari 75%
3. Performansi Guru dalam Pembelajaran Skor performansi minimal B.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Saleh. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif di Sekolah Dasar.
Jakarata: Departemen Pendidikan Nasional. 2006
M Miftah, Fungsi Dan Peran Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Belajar Siswa, Jurnal Kwangsan 1, no. 2 (2013)
Muhammad Hasan, Media Pembelajaran (Klaten: Tahta Media Group, 2021), h. 85
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Balai Pustaka.