PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
- Bagi Peneliti
- Bagi Instansi Kesehatan
- Bagi Sekolah
- Bagi Mahasiswa
TINJAUAN PUSTAKA
- Pengertian Kecacingan
- Dampak Infeksi Kececingan
- Faktor-faktor Lingkungan yang Mempengaruhi
- Tanah
- Iklim/Suhu
- Kelembaban
- Angin
- Mekanisme Penurunan Kognitif pada Infeksi STH
- Efek Langsung
- Efek Tidak Langsung
- Hubungan Antara Infeksi STH dengan Kemampuan Kognitif Anak
- Jenis Spesies STH yang Sering Menyebabkan Infeksi Kecacingan
- Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)
- Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)
- Cacing Tambang (Necator americanus)
- Macam-Macam Obat Cacing
- Mebendasol
- Pirantel Pamol
- Tehnik Pemeriksaan Tinja (Feses) 20
- Pemeriksaan Kuantitatif
Infeksi cacing tambang menyebabkan anemia defisiensi besi sedangkan Trichuris trichiura menyebabkan angka kesakitan yang tinggi (Satari, 2010). Infeksi cacing tambang biasanya berlangsung selama beberapa tahun, dan cacing ini diketahui menghisap darah. Tanah lempung yang lembab dan teduh merupakan tanah yang cocok untuk pertumbuhan telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.
Tanah berpasir gembur bercampur humus sangat cocok untuk pertumbuhan larva cacing tambang selain sebagai tempat berteduh (Margono, 2008). Uji klinis acak berlabel terbuka di Indonesia menunjukkan bahwa infeksi cacing tambang berdampak negatif pada daya ingat anak. Cacing dewasa hidup di saluran usus halus, seekor cacing betina dapat menghasilkan telur sebanyak 240.000 butir per hari, yang akan dikeluarkan melalui feses.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan mengetahui adanya telur pada tinja, namun terkadang dapat ditemukan cacing dewasa yang dikeluarkan melalui tinja, muntahan, atau dengan pemeriksaan radiologi dengan kontras barium (Soedarmo, 2012). Gangguan patologis yang disebabkan oleh cacing dewasa terutama disebabkan oleh kerusakan mekanis pada mukosa usus dan reaksi alergi. Cacing dewasa banyak ditemukan di sekum, namun bisa juga menetap di usus besar.
Cacing dewasa hidup di usus halus manusia, cacing menempel pada mukosa usus dengan mulut yang berkembang dengan baik. Telur cacing tambang sulit dibedakan sehingga jika ditemukan pada tinja disebut telur cacing tambang atau telur cacing tambang. Cacing betina panjangnya sekitar 1 cm, cacing jantan sekitar 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti S atau C dan terdapat beberapa gigi di mulutnya.
Daur hidup cacing jarum diawali dengan keluarnya telur cacing bersama feses, setelah 1-1,5 hari berada di dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rhabditiform. Dari laring, larva tertelan dan masuk ke usus halus dan menjadi cacing dewasa. Cacing kremi bertelur di usus halus yang kemudian dikeluarkan bersama feses di alam dan akan menyebar kemana-mana (Gracia, 2011).
Cacing tambang bertelur di dalam usus, yang kemudian dikeluarkan bersama feses di alam dan akan menyebar kemana-mana (Gracia, 2011). Dosis untuk dewasa dan anak diatas 2 tahun adalah 2 X 100 mg/hari selama 3 hari berturut-turut untuk penyakit ascariasis, cacing tambang dan trikuriasis.
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Jumlah Sampel
- Kriteria Penelitian
- Kriteria Inklusi
- Kriteria Ekslusi
- Variabel Penelitian
- Variabel Independen
- Variabel Dependen
- Definisi Operasional
- Alat dan Bahan
- Alat
- Bahan
- Pengumpulan, Pengolalahan Dan Analisa Data
- Pengumpulan Data
- Analisa Data
- Pengolahan Data
- Prosedur Pemeriksaan
- Cara Pengumpulan Sampel Feses
- Prosedur Pembuatan Eosin 2%
- Cara Pemeriksaan Langsung Dengan Larutan Eosin 2%
- Prosedur Pemberian Obat Cacing Pada Murid yang Positif
- Pemeriksaan Feses Setelah Pemberian Obat Cacing
- Analisa Data
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah eosin (2%), formalin (10%), obat cacing bakar x, peralatan gelas, wadah spesimen, lidi, kertas roti. Analisis univariat merupakan data pemeriksaan telur cacing STH sebelum dan sesudah pemberian obat anthelmintik. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat perbedaan distribusi frekuensi infeksi cacing sebelum dan sesudah pemberian obat cacing dengan menggunakan uji frekuensi.
Tata cara pemeriksaan feses adalah dengan meneteskan satu tetes eosin 2% pada benda kaca, ambil sedikit feses dengan menggunakan lidi, kira-kira 2 mg, dan campurkan dengan larutan eosin hingga tercampur sempurna dan homogen, keluarkan. bagian feses yang kasar dan tutup dengan piring kaca.dan pastikan tidak ada gelembung udara, periksa dengan mikroskop dengan lensa 10 X. Siswa yang positif nematoda usus diberikan obat anthelmintik merek x sesuai dosis yang tertera pada lepuh obat. Satu bulan setelah pemberian obat cacing, dilakukan pemeriksaan ulang tinja pada anak yang sebelumnya telah mendapat obat cacing.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan telur cacing STH sebelum dan sesudah pemberian obat anthelmintik pada siswa di SDN 06 Pasir Jambak, maka hasil yang diperoleh seperti terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.1. Dari penelitian yang dilakukan terhadap 30 sampel tinja siswa SDN 06 Pasir Jambak, setelah dilakukan pemeriksaan diperoleh sampel yang memenuhi kriteria penelitian dan hasil positif (+) dari 15 sampel tinja siswa (50%). Dari hasil pemeriksaan 15 siswa yang positif (+), adanya telur Ascaris lumbricoides pada tinja 11 siswa (73%), Trichuris trichiura pada 3 sampel tinja (20%), cacing tambang pada 1 sampel tinja siswa. (13%) ).
Satu bulan setelah pemberian obat cacing, dilakukan pemeriksaan feses kembali, namun tidak ditemukan telur cacing pada sampel feses ke-15 anak tersebut. Tiga bulan setelah pemberian obat cacing, dilakukan pemeriksaan ulang feses 15 siswa tersebut dan ditemukan 3 sampel feses yang mengandung telur cacing (+), dan 12 sampel feses siswa yang tidak ditemukan telur cacing. Ketiga jenis tanah tersebut berdasarkan kadar airnya sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan telur cacing tular tanah seperti A.
Dari hasil pemeriksaan telur cacing STH sebelum dan sesudah pemberian obat cacing kepada siswa SDN 06 Pasir Jambak, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Distribusi frekuensi infeksi STH sebelum pemberian obat cacing menunjukkan dari 30 sampel yang diperiksa, 15 orang (50%) mendapat hasil positif (+), dan 15 orang (50%) negatif (-). Distribusi frekuensi jenis cacing STH satu bulan setelah pemberian obat, tidak ditemukan hasil positif (+) (0%), ditemukan telur cacing, hasil negatif (-) ditemukan pada 15 orang (100%).
Disarankan bagi pelajar yang pernah mengonsumsi obat cacing untuk menjaga kebersihan diri agar tidak tertular kembali. Hubungan aspek kebersihan diri dengan aspek perilaku pada kontaminasi telur cacing pada kuku siswa kelompok 3, 4 dan 5 di SDN 2 Rajabasa Kabupaten Bandar Lampung tahun ajaran 2012/2013.
HASIL PENELITIAN
Hasil Setelah Pemberian Obat
PEMBAHASAN
PENUTUP
Kesimpulan
Distribusi frekuensi jenis cacing STH yang ditemukan adalah Ascaris lumbricoides sebanyak 11 orang (73,3%), Trichuris trichiura sebanyak 3 orang (20%) dan cacing tambang sebanyak 1 orang (6,6%). Harus ada toilet pribadi di setiap rumah dan di sekitar SDN 06 Pasir Jambak harus ada toilet umum agar penyebaran cacing golongan STH dapat dicegah. Pihak-pihak yang berhubungan dengan kesehatan hendaknya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan lingkungan dan bahaya cacingan bagi anak usia sekolah.
Pengaruh infeksi cacingan yang ditularkan melalui tanah terhadap pertumbuhan fisik anak usia sekolah dasar. Konferensi Internasional Penentu Sosial Kesehatan .(Online), (http: //www.who.int/social_determinants/Background-paper-final.pdf) diakses pada 13 April 2017.
Saran
Distribusi Frekuensi infeksi STH sebelum pemberian obat cacing
Jenis telur cacing yang ditemukan sebelum pemberian obat cacing
Distribusi Frekuensi infeksi STH satu bulan setelah pemberian obat
Distribusi Frekuensi infeksi STH tiga bulan setelah pemberian obat