1149
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR MEREK NASA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TREMBESI (Samanea saman) di
SHADEHOUSE FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
The Effect of NASA Brand Liquid Organic Fertilizer on the Growth of Trembesi Seedlings (Samanea saman) at Shadehouse Faculty of Forestry, Lambung
Mangkurat University
Awaliah, Damaris Payung, dan Adistina Fitriani Jurusan kehutanan
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat
ABSTRACT. The purpose of this research is to know the effect of liquid compost fertilizer on growth of Samanea saman seedlings, some parameters of growth such as life percentage, height, number of leaves are measured and diameter increament. Is used in the research Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 10 replications. The reseach results showed that the height, number of leaves and diameter have a significant difference among the four parameters of growth.
Keywords: Influence; liquid fertilizer; NASA; trembesi
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair merek NASA terhadap pertumbuhan bibit Samanea saman, beberapa parameter pertumbuhan yang diukur seperti persentase hidup, pertambahan tinggi jumlah daun dan diameter. Penelitian yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 10 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi, jumlah daun dan diameter memiliki perbedaan signifikan antara empat parameter pertumbuhan.
Kata kunci: pengaruh, pupuk cair, NASA, trembesi
Penulis untuk korespondensi, surel: [email protected]
PENDAHULUAN
Trembesi (Samanea saman) disebut pohon hujan dengan ukuran pohon yang besar, ketinggian mencapai 20 meter dengan tajuk yang lebar. Jaringan akar pada trembesi sangat luas sehingga kurang cocok ditanam di perkarangan rumah.
Pemerintah melakukan kegiatan “one man one tree” di seluruh wilayah Indonesia menggalakkan penanaman trembesi karena satu batang trembesi dewasa mampu menyerap karbondioksida CO2 sebanyak pertahunnya 28 ton, sehingga keberadaan trembesi di pinggir jalan dan taman di pusat kota sangat diperlukan (Dahlan, 2007).
Trembesi dikenali dari kanopinya yang berbentuk payung, diameter kanopi trembesi lebih besar dari tingginya. Trembesi termasuk dalam famili Mimosaceae biasanya ditanam sebagai tumbuhan peduhan, tanaman pelindung, dan tanaman penyerap polutan. Penyerapan
karbondioksida trembesi sangat besar kemampuannya dari udara. (Hanafi, 2011).
Trembesi tidak hanya menyerap karbondioksida, tetapi juga menghasilkan oksigen melalui stomata, memberikan kesejukan dan perlindungan dari sengatan matahari (Dahlan, 2007). Trembesi mempunyai banyak manfaat bagi lingkungan, namun kehidupan trembesi terkadang mempunyai kendala, kesadaran masyarakat masih kurang untuk menjaga lingkungan, sehingga terkadang penanaman trembesi bisa terhambat.
Bahan alami misalnya kotoran binatang, bagian tubuh dari binatang, tumbuhan, merupakan bahan baku pembuatan pupuk organik yang terbuat dari yang kaya mineral serta baik untuk penyuburan tanah.
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibedakan menjadi cair dan padat. Larutan yang mudah larut atau dikenal dengan pupuk cair didalamnya terkandung satu atau lebih daripada unsur yang tanaman perlukan. Unggulnya pupuk cair salah
1150
satunya adalah karena mampunya memberikan unsur hara yang diperlukan tanaman sedangkan pupuk organik padat terbuat dari kotoran binatang atau sisa tanaman yang berbentuk padat (Calvin, 2015).
Pertumbuhan trembesi banyak dikembangkan dengan menggunakan berbagai macam media tanam dan perlakuan eksternal lainnya. Penelitian ini menggunakan top soil, sekam bakar dan pasir yang digunakan sebagai media tanam kurang kandungan hara, sehingga mempengaruhi akan pertumbuhan.
Kekurangan unsur hara dapat dilakukan dengan pemupukan atau pemberian pupuk yang banyak mengandung unsur penting bagi pertumbuhan makanan, diantaranya pupuk organik cair yang diberikan adalah merek NASA.
Pupuk cair organik merek NASA dibuat dari limbah ternak, unggas, limbah tanaman bahan-bahan organik murni. Dicampurkan dengan bahan yang di dalamnya mengandung zat alami subur kemudian proses selanjutnya dengan teknologi terbarukan. Pupuk cair ini mudah diserap tanaman karena sudah berbentuk ion.
Berwarna seperti air teh coklat tua. Bau dari pupuk cair merek NASA seperti bau minuman yang tidak menyengat (Sarief, S.
2003). Berdasarkan dari latar belakang tersebut, maka diperlukan penelitian tentang pupuk organik cair merek NASA terhadap pertumbuhan bibit trembesi.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitan
Dilaksanakannya penelitian ini di Shade house Fakultas Kehutanan Unlam Banjarbaru. Waktu penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan.
Alat dan Bahan Penelitian
Peralatan yang digunakan diantaranya label plastik, sigmat/kaliper, polibag, gembor, hand sprayer, gelas ukur, gelas beaker, penggaris, kamera, alat tulis dan laptop. Yang dipergunakan sebagai bahan yaitu semai trembesi umur tiga bulan yang diperoleh dari Badan Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) wilayah
Kalimantan Selatan sebanyak 40 bibit, Pupuk organik cair merek NASA, media tanam (Top soil : sekam bakar : pasir) dengan kombinasi 2:1:1 dan Polibag.
Prosedur penelitian
Cara kerja penelitian ini yang pertama membersihkan media tanam dari kotoran seperti batu dan plastik, kemudian mencampur top soil, sekam bakar dan pasir dengan perbandingan 2:1:1 (gram). Setelah media tanam tercampur dengan baik, masukan campuran media kedalam polibag berukuran 23 cm × 15 cm kemudian memindahkan semai trembesi berumur 3 bulan ke polibag yang lebih besar beserta tanah yang masih utuh setelah itu menambahkan media yang baru dan melakukan penyiraman, selanjutnya pemberian pupuk organik cair merek NASA setiap 2 minggu sekali diberikan dengan cara disemprot keseluruh permukaan helaian daun, batang serta media tanam dengan dosis 100 ml pada setiap bibit dan terakhir pemeliharaan dan penyiraman.
Parameter pengamatan
Penelitian ini mengamati parameter yaitu menghitung persentase hidup bibit, pengukuran tinggi, menghitung pertambahan jumlah daun dan pengukuran diameter.
Analisis data
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang digunakan dalam penelitian ini, adalah dengan perlakuan sebanyak 4 buah yang setiap perlakuan terdiri dari 10 pengulangan, sehingga seluruhnya terdapat 40 satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari A = Kontrol, B = 4 ml Air, C = 6 ml Air, D = 8 ml Air. Bentuk umum RAL menurut (Hanafiah, 2014), sebagai berikut:
𝐘𝐢𝐣 = µ + 𝐆𝐢 + 𝐇𝐢𝐣
Data yang diperoleh kenormalannya diuji normalitas Kolmogorov Smirnov, dan homogenitas menurut ragam Bartlett.
Dengan analisis keragaman dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan.
1151 Tabel 1. Analisis Keragaman RAL
Sumber
Keragaman Db JK KT F.Hitung
F.Tabel 5% 1%
Perlakuan (t-1) JKP JKP/(t-1) KTP/KTG Galat/Sisa t(r-1) JKG JKG/t(r-1)
Total tr-1 JKT Keterangan:
JKP = Jumlah Kuadrat Perlakuan JKG = Jumlah Kuadrat Galat KTP = Kuadrat Tengah Perlakuan KTG = Kuadrat Tengah Galat t = Jumlah Perlakuan r = Jumlah Ulangan
Ditetapkannya pengaruh perlakuan dilihat dari perbandingan nilai F Hitung dengan F Tabel pada tingkat 5% dan 1%.
Kriteria uji yang digunakan, diantara:
1. Perlakuan berpengaruh nyata apabila F Hitung > F Tabel
2. Perlakuan berpengaruh tidak nyata apabila F Hitung ≤ F Tabel
Jika berpengaruh nyata pada perlakuan, maka dilakukan uji beda nyata berdasarkan nilai koefisien keragaman (KK). Menurut Hanafiah, (2014). Perhitungan KK dikatakan dalam persen dengan rumus, sebagai berikut:
KK =√𝐊𝐓𝐆Ȳ x 100%
Keterangan:
KK = Koefesien Keragaman KTG = Kuadrat Tengah Galat
Ȳ = Rata-rata seluruh pengamatan
1. Jika besar KK (minimal 10% pada kondisi homogen atau minimum 20%
pada kondisi heterogen), maka uji lanjutannya Duncan.
2. Jika sedang KK (antara 5 - 10% pada kondisi homogen atau antara 10 - 20%
pada kondisi heterogen), maka uji lanjutannya BNT.
3. Jika kecil KK (maksimal 5% pada kondisi homogen atau maksimal 10%
pada kondisi heterogen), maka uji lanjutannya BNJ.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Hidup Bibit Trembesi (Samanea saman)
Persentase hidup bibit merupakan kriteria keberhasilan dalam kegiatan pembuatan persemaian. Kemampuan hidup bibit merupakan jumlah bibit yang hidup dibandingkan dengan semua bibit yang ditanam dikalikan 100%. Berdasarkan pengamatan selama penelitian, diperoleh hasil bahwa bibit trembesi (Samanea saman) yang mampu bertahan hidup adalah 40 bibit dari 40 bibit yang ditanam, sehingga persentase hidup bibit 100%. Data persentase hidup bibit trembesi (Samanea saman) dari setiap perlakuan Tabel 2.
Tabel 2. Persentase Hidup Bibit Trembesi (Samanea saman)
Perlakuan Semai yang diteliti Semai yang hidup Persentase Hidup (%)
A 10 10 100
B 10 10 100
C 10 10 100
D 10 10 100
Jumlah 40 40 400
Sumber. Data primer lapangan, 2018
1152
Tabel 2. Menunjukan persentase hidup bibit 100%, artinya bibit berhasil hidup sebanyak jumlah bibit yang ditanam di awal hingga akhir penelitian dan ini masuk kedalam kelas terbaik. (Sindusuwarsono dalam Ma’rief 2013) berpendapat bahwa
persentase hidup 91-100% terbaik ; 76-90%
baik ; 55-75% sedang dan persentase hidup
< 55% tergolong kurang baik, berdasarkan kriteria tersebut dalam penelitian ini persentase hidup bibit trembesi tergolong dalam kategori sangat baik
.
.
Sumber. Data primer lapangan, 2018
Gambar 1. Diagram hasil rata-rata persentase hidup bibit trembesi (Samanea saman) Keterangan:
A: Kontrol B: 4 ccc/l air C: 6 cc/l air D: 8 ccc/l air
Hasil penelitian pada Gambar 2 menunjukan bahwa persentase hidup bibit trembesi (Samanea saman) pada seluruh perlakuan dengan dosis yang berbeda adalah 100%. Hal ini menunjukan bahwa
bibit tersebut mendapatkan banyak unsur hara, tempat dan kondisi penelitian cukup baik untuk menyemai bibit. Keadaan bibit trembesi dilapangan Gambar 2:
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018
Gambar 2. Keadaan fisik bibit trembesi (Samanea saman) Keadaan fisik bibit trembesi dikatakan
baik karena tidak terserang hama penyakit, berwarna hijau segar dan bibit siap untuk ditanam hal ini karena faktor yang
mendukung pertumbuhan tanaman, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal atau faktor gen adalah kualitas hidup semai itu sendiri dalam
10 10 10 10
0 2 4 6 8 10 12
A B C D
jumlah bibit yang tumbuh
Diagram Batang Persentase Hidup
1153 kemampuannya bertahan terhadap
serangan hama dan penyakit, serta mampu memproduksi makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup tanaman itu sendiri oleh Soekotjo (2010).
Faktor eksternal (lingkungan) yang mempengaruhi seperti air yang cukup dengan penyiraman, unsur hara tersedia dari media dan pupuk serta bebas dari gangguan hama dan penyakit karena pengontrolan dan pemeliharaan serta penempatan tanaman di Shadehouse.
Tempat ini mengatur intensitas cahaya atau mengurangi intensitas cahaya, sehingga penguapan tanaman rendah dan tanaman tidak mudah kehilangan air yang menyebabkan terjadinya stagnasi pertumbuhan. Shadehouse sangat efektif untuk menjaga kelembaban udara, melindungi tanaman dari curah hujan dan penurunan suhu yang ekstrim pada malam hari. Penyiraman dan pemeliharaan yang rutin mendukung kemampuan hidup tanaman oleh Soekotjo (2010).
Pemupukan sangat penting bagi bibit atau pertumbuhan. Pemberian pupuk organik cair merek NASA memberikan efek positif terhadap persentase hidup bibit trembesi selama pertumbuhannya, karena pupuk ini memiliki kandungan unsur hara yang cukup juga selain ramah lingkungan cara penggunaannya langsung disemprotkan ke bagian daun, batang dan media tanam sehingga bibit tersebut dapat menyerap kandungan yang ada pada pupuk dengan maksimal. Dwidjoseputro (2009) mengatakan bahwa pertumbuhan akan baik dan subur apabila ketersediaan unsur hara yang ada di dalamnya seimbang dan juga cukup.
Pertambahan Tinggi Bibit Trembesi (Samanea saman)
tinggi bibit pada setiap perlakuan, rata- rata pertambahan tinggi bibit terlihat sangat jelas pada perlakuan D dengan konsentrasi pupuk 8 (cc/liter air) yang berbeda sangat jauh dari perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk cair merek NASA pada penelitian merpengaruhi pertumbuhan tinggi bibit trembesi dengan sangat nyata
.
Nilai tertinggi untuk rata-rata pertambahan tinggi terdapat pada perlakuan D, diikuti oleh perlakuan A selanjutnya perlakuan C dan rata-rata pertambahan tinggi terendah terdapat pada perlakuan B.
Perlakuan D mengalami pertambahan tinggi yang relatif besar, sedangkan perlakuan B (4 cc/liter air) mengalami pertambahan tinggi relatif kecil. Hal ini dikarenakan bibit yang digunakan berumur ± 3 bulan, pemberian pupuk organik cair merek NASA diperlukan bibit untuk memacu pertumbuhan maka dengan dosis 8 cc/1iter liter air merupakan dosis yang tepat digunakan untuk pertumbuhan tanaman, khususnya bibit trembesi yang berumur ± 3 bulan.
Sebelum menggunakan analisis keragaman untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian Kolmogorov Smirnov untuk menormalkan data dan uji homogenitas menggunakan uji ragam Bartlett. Uji kenormalan Kolmogorov Smirnov memperlihatkan data tersebut normal tersebar, dimana Ki max = 0,043 < Ki tabel 0,1935, setelah data normal tersebar setelah itu dilanjutkan dengan uji homogenitas menurut ragam Bartlett, dimana hasil uji menunjukkan bahwa data homogen yaitu X2 hitung = 1.721 < X2 tabel (0,05) = 7.81. Pengaruh pemberian pupuk terhadap tinggi bibit trembesi dapat kita lihat dengan melakukan analisis keragaman Tabel 3.
Tabel 3. Analisis Keragaman Terhadap Pertambahan Tinggi Bibit Trembesi (Samanea saman)
Sumber Keragaman
derajat
bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat
Tengah Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan 3 1.55 0.52 4.44 ** 2.87 4.38
Galat 36 4.19 0.12
Total 39 5.74
Sumber. Data primer lapangan, 2018 Keterangan :
** = Berpengaruh sangat nyata KK = 8,69%
1154
Hasil yang diperoleh dari tabel analisis keragaman rancangan acak lengkap dapat dijelaskan bahwa nilai F hitung > F tabel 5%
dan 1% sehingga mempengaruhi sangat nyata kepada pertambahan tinggi sehingga perlu adanya uji lanjutan. Uji lanjutan
dilakukan berdasarkan perhitungan nilai KK (Koefisien Kergaman) diperoleh nilai KK sebesar 8,69% dengan nilai KK diantara 5- 10% maka uji lanjutannya adalah BNT Tabel 4.
Tabel 4. Uji Lanjut BNT Rata-Rata Pertambahan Tinggi Bibit Trembesi (Samanea saman)
Perlakuan Nilai tengah Nilai beda
D A C
D 42.50
A 38.91 3.59**
C 38.09 4.41** 0.82**
B 37.38 5.12** 1.53** 0.71**
BNT 5% 0.31
1% 0.55
Sumber. Data primer lapangan, 2018 Keterangan :
** = Berbeda sangat nyata Tb (hitam) = Tidak berbeda nyata
BNT memberikan hasil D berbeda sangat nyata terhadap perlakuan A, C dan B.
Perlakuan D dengan menambahkan pupuk 8 cc/liter air menghasilkan pertambahan tinggi bibit lebih bagus dan efektif dibandingkan dengan perlakuan 4, 6 dan kontrol. Hal ini menunjukkan dosis 8 cc/liter air adalah dosis cukup untuk memenuhi keperluan unsur hara yang diperlukan bibit trembesi sudah terpenuhi. Hal ini sejalan dengan Fanny Malwani et al (2014) dengan menggunakan pupuk urin sapi dengan dosis 75 cc/liter air memberikan pertumbuhan tinggi bibit trembesi terbaik bila dibandingkan dengan dosis 25, 50, dan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa dosis 75 cc/liter air adalah dosis cukup yang
memenuhi keperluan unsur hara yang diperlukan oleh bibit trembesi sudah terpenuhi. Puspitasari (2010), mengatakan suatu bibit ditempatkan pada kondisi yang mendukung unsur hara dan unsur mineral sesuai, maka tanaman tersebut mengalami pertumbuhan ke atas dan menjadi lebih tinggi.
Selanjutnya untuk mengetahui besarnya kenaikan pertambahan tinggi bibit trembesi terhadap perlakuan pupuk organik cair merek NASA pada setiap pengamatan dari seluruh perlakuan. Berdasarkan data pertambahan tinggi Rata-rata penambahan tinggi bibit trembesi selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Sumber. Pengolahan Data Primer, 2018
Gambar 4. Diagram Pertambahan Tinggi Bibit Trembesi (Samanea saman).
15.2 14.1 14.6
18.2
0 5 10 15 20
A B C D
jumlah pertambahan tinggi
Diagram Batang Pertambahan Tinggi
1155 Keterangan
A : (Kontrol) B : (4 cc/liter air) C : (6 cc/liter air) D : (8 ccc/liter air)
Hasil pertambahan tinggi menunjukkan perbedaan nilai rata-rata setiap perlakuan.
Perlakuan D (dosis 8 cc/liter air) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai pertambahan tinggi sebesar 18,2 cm Sedangkan perlakuan A (kontrol) sebesar 15,2 cm, perlakuan B (dosis 4 cc/ltter air) sebesar 14,1 cm, dan perlakuan C (dosis 6 cc/liter air) sebesar 14,6 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 4 cc dan 6 cc menghasilkan pertumbuhan tinggi bibit trembesi terendah bila dibandingkan dengan kontrol, disebabkan karena konsentrasi pupuk yang diberikan belum mencapai konsentrasi yang diperlukan bibit trembesi sehingga menghambat pertumbuhan tinggi bibit dan karena dipengaruhi faktor genetik dari bibit trembesi tersebut, seperti tinggi, jumlah daun dan diameter setiap bibit tidak sama sehingga mengakibatkan pertumbuhan bibit trembesi tidak bertambah setiap diberikan perlakuan dengan dosis yang berbeda dan karena dosis 4 cc dan 6 cc tersebut kurang mencapai dosis yang diperlukan bibit trembesi sehingga pertumbuhannya sama saja dengan kontrol bahkan lebih tinggi kontrol dibandingkan dengan pemberian dosis 4 cc dan 6 cc sehingga dosis 4 dan 6 tidak dianjurkan untuk bibit trembesi.
Wijaya (2008) menyatakan setiap unsur hara mempunyai fungsi tersendiri dan mempengaruh proses-proses tertentu dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman jika terjadi kekurangan atau kelebihan kandungan hara, akan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan gagalnya pemupukan karena tidak sesuai konsentrasinya, sehingga tidak efektif.
Tanaman tidak dapat dukungan unsur hara yang diperlukan untuk tumbuh dengan baik dan disebabkan karena bibit trembesi hanya mendapat unsur hara dari media tanam, sehingga pertumbuhannya jadi terendah.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan dosis 4 dan 6 cc/liter air memberikan pertumbuhan tinggi bibit trembesi rendah bila dibandingkan dengan dosis 8 cc/liter air. Hal ini karena dosis 4 dan 6 cc/liter air terjadi kurangnya unsur hara sehingga mengakibatkan rendahnya pertumbuhan tinggi trembesi. Winarso
(2005), bibit yang kurang unsur hara pertumbuhannya terhambat. Ditambahkan Wijaya (2008), Kandungaan tingkat hara yang tidak maksimal memberi respon yang rendah terhadap pertumbuhan bibit, Sehingga walau tepatnya frekuensi tapi karena zat terlarut rendah, maka unsur hara yang dibutuhkan menjadi kurang sesuai.
Pertambahan Jumlah Daun Bibit Trembesi (Samanea saman)
Pertambahan jumlah daun merupakan hasil pertambahan aktif dari pertumbuhan pucuk. Daun merupakan tempat berlangsungnya proses fotosintesis karena klorofil berperan penting dalam merubah CO2 dan H20 jadi zat organik berupa karbohidrat yang digunakan untuk proses fisiologis lainnya di seluruh bagian anakan Dwidjoseputro (2009).
Hasil pertambahan jumlah daun bibit trembesi (Samanea saman) menunjukkan perbedaan rata-rata pada setiap perlakuan.
Rata-rata pertambahan jumlah daun terlihat sangat jelas pada perlakuan D dengan konsentrasi pupuk 8 (cc/liter air) yang berbeda sangat jauh dari perlakuan A (kontrol), B (4 cc/liter air) dan C (6 cc/liter air). Hal ini menunjukkan pupuk cair merek NASA pada penelitian mempengaruhi sangat nyata pada jumlah daun bibit trembesi terhadap pertambahannya.
Sebelum menggunakan analisis keragaman untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan jumlah daun, terlebih dahulu dilakukan pengujian Kolmogorov Smirnov untuk menormalkan data dan uji homogenitas menggunakan uji ragam Bartlett. Uji kenormalan Kolmogorov Smirnov memperlihatkan data tersebut normal tersebar, dimana Ki max = 0.178 < Ki tabel 0.1935. setelah diketahui data normal tersebar, selanjutnya dilakukan uji homogenitas menurut ragam Bartlett, dimana hasil uji menunjukkan data homogen yaitu X2 hitung = 5.266 < X2 tabel 7.81.
Pengaruh pemberian pupuk terhadap jumlah daun bibit trembesi dapat kita lihat dengan melakukan analisis keragaman Tabel 5.
1156
Tabel 5. Analisis Keragaman Terhadap Pertambahan Jumlah Daun Bibit Trembesi
Sumber. Data primer lapangan, 2018 Keterangan :
** = berpengaruh sangat nyata KK = 4,61%
Hasil analisis keragaman pertambahan jumlah daun bibit trembesi menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel 5% dan 1%. Hal ini menujukkan bahwa pemberian pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan jumlah daun, sehingga perlunya uji lanjutan. Pemilihan jenis uji
lanjutan dilakukan berdasarkan perhitungan nilai KK (Koefisisen Keragaman) karena perlakuan mempengaruhi sangat nyata maka diperoleh nilai KK sebesar 4,61%
dengan nilai KK kurang dari 5% maka jenis uji lanjut yang digunakan adalah BNJ Tabel 6.
Tabel 6. Beda Nyata Jujur Pertambahan Jumlah Daun Bibit Trembesi (Samanea saman)
Perlakuan Nilai tengah Nilai beda
D C B
D 58.92
C 57.19 1.73**
B 56.37 2.55** 0.82**
A 54.38 4.54** 2.82** 1.99**
BNJ 5% 0.24 0.29 0.32
1% 0.32 0.37 0.40
Sumber. Data primer lapangan, 2018 Keterangan :
** = berbeda sangat nyata Tb (hitam) = tidak berbeda nyata
Hasil analisis keragaman menunjukkan pemberian pupuk dengan berbagai macam konsentrasi berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan jumlah daun bibit trembesi. Pemupukan memberikan respon positif bagi pertambahan jumlah daun, tersedianya unsur hara yang cukup memacu bibit untuk tumbuh dan berkembang. Tabel
BNJ menunjukkan D berbeda sangat nyata dengan C, B dan A. Berdasarkan analisis keragaman dan uji BNJ pada D menambahkan pupuk 8 cc/liter air menghasilkan pertambahan jumlah daun lebih bagus dan efektif dibandingkan dengan perlakuan yang ada Gambar 5.
Sumber Keragaman
derajat
bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat
Tengah Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan 3 1.06 0.35 5.20 ** 2.87 4.38
Galat 36 2.46 0.07
Total 39 3.52
1157 Sumber. Data primer pribadi, 2018
Gambar 5. Diagram Batang Data Hasil Rata-Rata Pertumbuhan Daun Bibit Trembesi (Samanea saman).
Keterangan A : (Kontrol) B : (4 cc/liter air) C : (6 cc/liter air) D : (8 cc/liter air)
Perlakuan D (dosis 8 cc/liter air) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai pertambahan jumlah daun sebesar 34,8 helai, sedangkan perlakuan C (dosis 6 cc/liter air) sebesar 32,8 helai, perlakuan B (dosis 4 cc/liter air) sebesar 31,8 helai dan perlakuan A (kontrol) sebesar 29,6 helai. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan respon pertambahan jumlah daun bibit trembesi semakin baik sejalan dengan Emmy Winarni (2009) dengan menggunakan pupuk organik cair merek NASA dengan dosis A0 (Kontrol), A1 (1 cc/liter air), A2 (2 cc/liter air) dan A3 (3 cc/liter air) dan menggunakan bibit gaharu dapat dilihat bahwa perlakuan A3 (dosis 3cc/lititer air) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai pertambahan jumlah daun sebesar 8,3 helai, sedangkan perlakuan A2 (dosis 2cc/lliter air) sebesar 7,2 helai, perlakuan A1 (dosis 1cc/lliter air) sebesar 7,1 helai dan perlakuan A0 (kontrol) sebesar 6,3 helai.
Berdasarkan hasil Penelitian, kontrol memberikan pertumbuhan jumlah daun bibit trembesi terendah bila dibandingkan dengan perlakuan dosis 4, 6 dan 8 cc/liter air.
Tanaman kurang unsur hara N, P, K, Ca dan Mg dapat menurunkan pertumbuhan jumlah daun trembesi. Di lapangan menghasilkan daun tanaman berwarna hijau kekuning- kuningan (klorosis), kerdil. Winarso (2005),
bibit kurang unsur hara N daun akan klorosis karena kurangannya klorofil, pertambahan jumlah daun bibit tidak cepat, Ditambahkan oleh Nyakpa et al. (1998), kurang Mg adalah kehilangan warna hijau diantara tulang- tulang daun yang diikuti oleh klorosis.
Klorosis terjadi pada pinggiran atau pucuk- pucuk daun dan kemudian berkembang ke arah dalam antar tulang daun.
Pertambahan Diameter Batang Trembesi (Samanea saman)
Hasil pengamatan pertambahan diameter bibit trembesi (Samanea saman) menunjukkan perbedaan nilai rata-rata pertambahan diameter bibit pada setiap perlakuan, rata-rata pertambahan diameter bibit terlihat sangat jelas pada perlakuan perlakuan D pupuk 8 (cc/liter air) berbeda sangat jauh dari perlakuan A (kontrol), B (4 cc/liter air) dan C (6 cc/liter air). Hal ini menunjukkan bahwa pupuk cair merek NASA pada penelitian ini mempengaruhi nyata kepada pertumbuhan diameter bibit trembesi.
Sebelum menggunakan analisis keragaman untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan diameter bibit, terlebih dahulu dilakukan pengujian Kolmogorov Smirnov untuk menormalkan data dan uji homogenitas menggunakan uji 29.6
31.8
32.8
34.8
26 28 30 32 34 36
A B C D
jumlah pertambahan daun
Diagram Batang Pertambahan Jumlah
Daun
1158
ragam Bartlett. Uji kenormalan Kolmogorov Smirnov menunjukkan data tersebut normal tersebar, dimana Ki max = 0.069 < Ki tabel 0.1935. Setelah diketahui data menyebar normal selanjutnya dilakukan uji homogenitas menurut ragam Bartlett, hasil
uji menunjukkan bahwa data homogen yaitu X2 hitung = 1.816 < X2 tabel 7.81. Pengaruh pemberian pupuk terhadap diameter trembesi dapat kita lihat dengan melakukan analisis keragaman Tabel 7.
Tabel 7. Analisis Keragaman terhadap Pertambahan Diameter Bibit Trembesi (Samanea saman)
Sumber Keragaman
derajat bebas
Jumlah Kuadrat
Kuadrat
Tengah Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan 3 0.47 0.16 3.29 ** 2.87 4.38
Galat 36 1.72 0.05
Total 39 2.19
Sumber. Data primer lapangan, 2018 Keterangan:
** = berpengaruh nyata KK sebesar 15,38%
Hasil analisis keragaman rancangan percobaan acak lengkap dapat dijelaskan bahwa nilai F hitung > F tabel 5% berarti berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter bibit sehingga perlunya uji lanjutan.
Uji lanjutan dilakukan berdasarkan
perhitungan nilai KK (Koefisisen Keragaman) karena perlakuan mempengaruhi sangat nyata sehingga nilai KK sebesar 15,38% dengan nilai KK lebih dari 10% maka jenis uji lanjutnya Duncan Tabel 8.
Tabel 8. Duncan Pertambahan Diameter Bibit Trembesi (Samanea saman)
Perlakuan Nilai tengah Nilai beda
D A B
D 15.58
A 14.96 0.62**
B 13.31 2.27** 1.65**
C 12.99 2.59** 1.97** 0.32**
D 5% 0.28 0.30 0.30
1% 0.38 0.39 0.40
Sumber. Data primer lapangan, 2018 Keterangan:
** = berbeda sangat nyata Tb (hitam) = tidak berbeda nyata
Hasil analisis keragaman menunjukkan pemberian pupuk dengan berbagai macam konsentrasi berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter bibit trembesi.
Sesuai dengan data yang ditunjukkan pada tabel Duncan memperlihatkan D berbeda nyata dengan perlakuan A, B dan C.
Berdasarkan analisis keragaman dan uji Duncan pada perlakuan D pupuk 8 cc/liter air menghasilkan pertambahan diameter lebih bagus dan efektif dibandingkan dengan perlakuan yang ada. Pupuk cair merek NASA didalamnya terkandung unsur hara makro dan mikro yang diperlukan oleh
1159 bibit trembesi untuk memperbaiki
perkembangan dan pertumbuhannya. Hal ini sejalan dengan Fanny Malwani et al (2014) dengan menggunakan pupuk urin sapi dengan dosis 75 cc/liter air memberikan
pertumbuhan diameter tertinggi dibandingkan dengan dosis 50, 25 dan Kontrol. Pengaruh pemberian pupuk cair NASA dapat dilihat pada Gambar 7.
Sumber. Data primer pribadi, 2018
Gambar 6. Diagram Batang Rata-Rata Pertambahan diameter Bibit trembesi (Samanea saman)
Keterangan : A : (Kontrol) B : (4 cc/liter air) C : (6 cc/liter air) D : (8 cc/liter air)
Pupuk cair NASA mempengaruhi nyata terhadap pertumbuhan diameter. Perlakuan D (dosis 8 cc/liter air) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai pertambahan diameter sebesar 2, 45 cm, sedangkan perlakuan C (dosis 6 cc/liter air) sebesar 1,736 cm, perlakuan B (dosis 1cc/litter air) sebesar 1,818 cm dan perlakuan A (kontrol) sebesar 2,293 cm hal ini karena bibit trembesi mendapatkan tambahan unsur hara yang terdapat didalam pupuk cair NASA seperti Nitrogen (N), Posfat (P) dan Kalium (K).
Hasil penelitian menunjukkan dosis 4 dan 6 cc/liter air memberikan pertumbuhan diameter bibit trembesi rendah dibandingkan dengan kontrol. Hal ini dosis 4 dan 6 cc/liter air tidak mendapat dukungan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman bibit trembesi untuk tumbuh dengan baik dan disebabkan karena bibit trembesi hanya mendapat unsur hara dari media tanah, sehingga diameter trembesi jadi terendah dan disebabkan karena konsentrasi pupuk yang diberikan belum mencapai konsentrasi yang diperlukan bibit sehingga menghambat pertumbuhan diameter bibit tersebut dan dipengaruhi faktor genetik, seperti tinggi,
jumlah daun dan diameter setiap bibit tidak sama sehingga mengakibatkan pertumbuhan tidak bertambah setiap diberikan perlakuan dengan dosis yang berbeda dan karena dosis 4 cc dan 6 cc tersebut kurang mencapai dosis yang diperlukan sehingga pertumbuhannya sama saja dengan kontrol bahkan lebih tinggi kontrol dibandingkan dengan pemberian dosis 4 cc dan 6 cc sehingga dosis 4 dan 6 tidak dianjurkan untuk bibit trembesi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Persentase hidup bibit trembesi (samanea saman) terhadap pemberian pupuk organik cair merek NASA pada penelitian sebesar 100%, Konsentrasi pupuk organik cair merek NASA 8 cc/liter air memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tinggi (18,2 cm), pertumbuhan jumlah daun (34,8 helai) dan pertambahan diameter (2,450 cm) dan Perlakuan 2.293
1.818 1.736
2.45
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
A B C D
jumlah pertambahan diameter
Diagram Batang Pertambahan
Diameter
1160
berpengaruh nyata terhadap diameter dan mempengaruhi sangat nyata kepada jumlah daun dan tinggi.
Saran
Untuk pengembangan bibit trembesi dengan pemberian pupuk organik cair NASA, dianjurkan menggunakan dosis 8 cc/liter air.
DAFTAR PUSTAKA
Calvin 2015. Perbedaan pupuk cair dan padat (Online) www .Kebunpedia.com Diakses pada hari senin 2 Juli 2018 pukul 20.07 Wita
Dahlan. 2007. Trembesi Disebut Pohon Hujan atau Ki Hujan. Simplex: Jakarta Dwidjoseputro, D. 2009. Pengantar Fisiologi
Tumbuhan. PT. Gramedia: Jakarta.
Fanny Malwani , Yuli Rosianty, Delfy Lensari Alumni & Dosen 2014. Pengaruh Dosis Urine Sapi Terhadap Pertumbuhan Bibit Trembesi (Samanea saman). Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang.
Jurnal SYLVA III – (1): 2301 - 4164 Hanafi, M. 2011. Trembesi (Samanea
saman).
http://www.agrilands.net/read/full/agriwac ana/budidaya/2011/01/03/trembesisaman ea-saman.html. (diakses pada tanggal 2 juli 2018).
Hanafiah K A, 2014. Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi Edisi Ketiga.PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Ma’rief 2013. Perlindungan Hutan Terhadap Hama. Balai Informasi Pertanian. Ciawi Nyakpa, M.Y, M. A. Pulung, A. G. Amrah, A.
Munawar, G. B, Hong dan H. Nurhayati.
1998. Kesuburan Tanah. BKS/PTN/SAID Universitas Lampung Press
Puspitasari, D. 2010. Bakteri Pelarur Fosfat sebagai Biofertillizer pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays L.), Skripsi Jurusan Biologi fakultas Sains dan Teknolofi Universitas Airlangga.
Sarief, S. 2003. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.
Bandung
Soekotjo, 2010 silvika Proyek Peningkatan / Pengembangan Perguruan Tinggi. IPB, Bogor.
Wijaya. K.A. 2008. Nutrisi Tanaman.
Prestasi Pustaka. Jakarta.
Winarni Emmy, 2009. Pertumbuhan Semai Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) pada Berbagai Dosis Pemberian Pupuk Organik Cair”NASA”. Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Jurnal Hutan Tropis Borneo 10 (27): 237-246 Winarso. S. 2005. Kesuburan Tanah. Gaya
Media. Yogyakarta.