• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh pendapatan asli daerah dan dana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh pendapatan asli daerah dan dana"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitaian

Manfaat penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Kerangka Teori

  • Pengertian Pendapatan Asli Daerah
  • Pendapatan Asli Daerah (PAD)
  • Jenis-Jenis Pendapatan Asli Daerah
  • Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah
  • Pengertian Dana Perimbangan
  • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dana Perimbangan
  • Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
  • Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi 23

Pendapatan asli daerah yang dimaksud adalah pendapatan daerah yang bergantung pada kondisi perekonomian secara umum dan potensi sumber pendapatan asli daerah itu sendiri. Pengelolaan kekayaan daerah secara terpisah merupakan bagian dari keuntungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang terdiri dari keuntungan bank pembangunan daerah dan bagian lain dari keuntungan BUMD (Ema, 2013). Pendapatan sektor kehutanan yang berasal dari Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Sumberdaya Hutan Provinsi (PSDH) yang dihasilkan dari wilayah daerah bersangkutan, dibagi dengan perimbangan sebesar 20% untuk pemerintah dan 60% untuk daerah.

Dana Bagi Hasil dan pendapatan Pertambangan Umum yang dihasilkan dari daerah yang bersangkutan dibagi menjadi perimbangan sebesar 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah. Pendapatan pertambangan minyak bumi menurut wilayah merupakan pendapatan pemerintah dari sumber daya alam pertambangan minyak bumi. Sedangkan dana bagi hasil pertambangan minyak ke daerah sisa 0,5% dialokasikan untuk peningkatan anggaran pendidikan dasar, dimana 0,1% disalurkan ke provinsi terkait, 0,2% disalurkan ke kabupaten/kota penghasil, 0,2%.

Sedangkan sisa dana bagi hasil pertambangan gas bumi sebesar 0,5% dialokasikan ke daerah untuk meningkatkan anggaran pendidikan dasar, dimana 0,1% disalurkan ke provinsi terkait, 0,2% disalurkan ke kabupaten dan kota yang menghasilkan 0,2% menjadi Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari daerah yang bersangkutan, yang merupakan Pendapatan Negara Bukan Pajak, dibagi dengan perimbangan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah. Hibah, Dana Darurat, Bagi Hasil Pajak Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus serta Pendapatan Daerah lainnya yang sah.

Kerangka Pikir

Hipotesis

Pertumbuhan ekonomi merupakan proses dimana produksi per kapita atau nilai produk domestik regional bruto (PDRB) kota Makassar meningkat setiap tahunnya. Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan pertumbuhan ekonomi Kota Makassar, berikut peneliti sajikan data PDRB berdasarkan harga konstan. Berdasarkan Tabel 4.4 terlihat dari hasil regresi bahwa pendapatan awal daerah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar.

Variabel Dana Perimbangan dari hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar. Dari hasil penelitian, Dana Perimbangan mempunyai hubungan yang positif terhadap pertumbuhan perekonomian Kota Makassar, menunjukkan bahwa ketergantungan Kota Makassar terhadap pemerintah pusat sangat tinggi, hal ini terlihat dari lebih banyak lagi. Untuk mencari koefisien variabel pendapatan asli daerah dan dana perimbangan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Sulfadli “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar” Universitas Muslim Indonesia 2015.

Jenis Data dan Sumber Data

Metode Analisis Data

Untuk membuktikan hipotesis metode yang digunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi masing-masing sumber pendapatan asli daerah di Kota Makassar dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan pendapatan asli daerah di Kota Makassar, maka secara deskriptif menggunakan metode analisis komparatif yaitu metode yang membandingkan dan menjelaskan data dari tahun ke tahun. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda, yaitu metode deskriptif kuantitatif untuk menganalisis data lebih dari satu variabel penelitian. Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara confounding error pada periode t-1 (sebelumnya) pada model regresi linier.

Salah satu uji yang digunakan untuk mengetahui adanya autokorelasi adalah dengan menggunakan uji statistik Durbin Watson. Nilai R yang kecil atau mendekati nol berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi dependen sangat terbatas. Sebaliknya jika 𝑅2 mendekati satu berarti variabel independen memberikan hampir seluruh informasi yang diperlukan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Gujarati dalam Mukhtar, 2014: 61).

Uji F digunakan untuk menguji apakah secara statistik koefisien regresi variabel bebas secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang berarti dengan cara membandingkan nilai probabilitas (F-statistik) dengan F-tabel, dengan pengertian jika F-statistik > F-tabel Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

Definisi Operasional

Y = Pertumbuhan Ekonomi Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel independen yaitu PDB atas dasar harga konstan terhadap Pendapatan Asli Daerah dan dana perimbangan sebagai variabel dependen. Nilai koefisien regresi positif ini menunjukkan bahwa dana perimbangan berpengaruh positif terhadap nilai BRDP.

Artinya hubungan variabel independen yaitu PAD dan Dana Perimbangan dengan BPV adalah sebesar 864%. Berdasarkan tabel ANOVA (Analysis of Variance) 4.11 di atas terlihat hasil uji F menunjukkan nilai F hitung lebih besar dari 5,878 dengan nilai signifikan sebesar 0,064. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen yaitu PAD dan Dana Perimbangan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga hipotesis yang diajukan diterima atau dikatakan signifikan. Nilai koefisien regresi positif ini menunjukkan bahwa Dana Perimbangan berpengaruh positif terhadap nilai PDB.

Artinya setiap kenaikan Dana Perimbangan sebesar 1 persen akan terjadi kenaikan sebesar 20,95% jika variabel independen lainnya dianggap konstan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Kota Makassar sebagai salah satu wilayah Kabupaten/Kota dalam Provinsi Sulawesi Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Selawesi, sebagaimana tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74 dan tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1822, maka Kota Makassar menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1965, (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 94), dan selanjutnya berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1965, Daerah Tingkat II Kota Makassar diubah menjadi Tinkat Wilayah II Koa Madya Makassar. Dalam perkembangan selanjutnya nama Kota Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 tentang Perubahan Nama Kotamadya Ujung Pandang menjadi Kota Makassar, hal ini berdasarkan keinginan masyarakat yang diungkapkan oleh Tingkat Saya akan didukung. DPRD. Ujung Pandang saat itu, serta masukan dari kalangan budayawan, sejarawan, pemerhati hukum, dan pelaku bisnis.

Sesuai dengan peraturan daerah no. 1 Tahun 2000 yang menentukan hari jadi kota Makassar yaitu tanggal 9 November 1597. Secara administratif kota Makassar sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan terletak di daerah Barta pulau Sulawesi pada jarak ketinggian 0-25 m di atas permukaan laut. di atas permukaan laut. Secara administratif wilayah kota Makassar tercatat sebesar 175,77 km² yang meliputi 15 kelurahan dan terbagi menjadi 146 kelurahan, 996 RW dan 4.917 RT dimana Kecamatan Biringkanaya mempunyai luas wilayah yang sangat luas yaitu 48,22 km atau Kelurahan. luas wilayah kecamatannya adalah 27,43 persen dari luas wilayah Kota Makassar dan yang terkecil adalah Kecamatan Mariso, 1,82 km atau 1,04 persen dari luas wilayah Kota Makassar.

Di bawah ini pada Tabel 1 dan Tabel 2 kita dapat melihat jumlah kecamatan menurut kelurahan dan luas wilayah serta persentase luas menurut kelurahan di Kota Makassar.

Gambar 2 : Peta Wilaya Kota Makassar
Gambar 2 : Peta Wilaya Kota Makassar

Pembahasan

Dalam kajian PDB selalu dibedakan atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga berlaku. Selain itu, pengertian PDB berdasarkan harga konstan adalah nilai barang dan jasa atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai berdasarkan harga tetap. PDB berdasarkan harga konstan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi karena nilainya tidak dipengaruhi oleh perubahan harga.

Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku adalah nilai barang dan jasa (komoditas) atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai berdasarkan harga yang berlaku pada saat atau tahun berjalan. Hal ini digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Pendapatan asli daerah merupakan sumber pembiayaan daerah yang sangat berpengaruh karena merupakan pendapatan yang dihasilkan sendiri dan dimanfaatkan secara wajar oleh daerah. Oleh karena itu, pendapatan asli daerah perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah setempat untuk mengurangi ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat. pemerintah. Ketidakseimbangan anggaran antara pemerintah pusat dan daerah menyebabkan pemerintah daerah bergantung secara finansial pada bantuan pemerintah pusat.

Oleh karena itu, bantuan dari pemerintah pusat hanya untuk merangsang daerah agar lebih meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah yang merupakan bagian penting dari sumber pendapatan daerah, bukan menjadikannya sebagai prioritas utama dalam pendapatan daerah.\.

Statistik Deskriptif

  • Uji Autokorelasi
  • Multikolinearritas

Variabel Pendapatan Asli Daerah pada periode pengamatan 2011-2017 mempunyai nilai rata-rata (mean) sebesar 7,6171 dengan nilai standar deviasi sebesar 32,91244 yang menunjukkan bahwa nilai standar deviasi tersebut lebih tinggi dari nilai rata-rata (mean). Variabel Dana Perimbangan selama periode pengamatan 2011-2017 mempunyai nilai mean (rata-rata) sebesar 1,4395 dengan standar deviasi sebesar 406,93185 yang menunjukkan bahwa nilai deviasi tersebut lebih tinggi dari nilai mean (mean). Variabel PDRB pada periode pengamatan 2011-2017 mempunyai nilai mean (rata-rata) sebesar 8,4829 dengan nilai standar deviasi sebesar 1,12571 yang menunjukkan bahwa nilai standar deviasi tersebut lebih besar dari nilai mean (mean).

Untuk mengetahui adanya autokorelasi pada suatu model regresi dilakukan dengan menguji nilai uji Durbin Watson (DW Test). Dari tabel diatas terlihat nilai Durbin-Watson sebesar 1,459 sehingga dapat disimpulkan terdapat autokorelasi pada model regresi pada penelitian ini. Multikolinearitas berarti adanya hubungan linier yang sempurna (terdefinisi) antara sebagian atau seluruh variabel bebas model regresi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat permasalahan pada model regresi, sehingga model regresi yang ada tidak dapat digunakan.

Pengujian Hipotesis

  • Analisis Regresi Berganda
  • Analisis Koefisien Determinasi
  • Uji F
  • Uji t

Angka tersebut menunjukkan bahwa jika variabel independen diasumsikan konstan maka variabel dependen yaitu nilai PDRB akan meningkat sebesar 975%. Artinya setiap kenaikan PAD sebesar 1 persen maka nilai PDRB akan meningkat sebesar 88,6^% dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Saldo sebesar 1 persen berarti nilai PDRB akan meningkat sebesar 209% dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan.

Nilai R Square (R²) pada Tabel 10 sebesar 0,746 atau 74,6% yang artinya variabel independen yaitu PAD dan Dana Perimbangan dapat menjelaskan variabel dependen yaitu PDRB sebesar 74,6 atau R² sebesar 0,746 yang menunjukkan terjadi perubahan sebesar 74,6 pada PDRB. nilai yang disebabkan oleh PAD dan Dana Perimbangan. Nilai signifikansi Dana Perimbangan sebesar 0,316 nilai signifikan tersebut lebih besar dari nilai probabilitas sebesar 0,05 atau nilai tersebut maka Ha ditolak dan Ho diterima. Angka tersebut menunjukkan bahwa jika variabel independen diasumsikan konstan, maka variabel dependen yaitu nilai PDRB akan meningkat sebesar 919%.

Artinya setiap kenaikan PAD sebesar 1 persen maka nilai PDRB akan meningkat sebesar 88,6% dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan.

Tabel 4.10  Koefisien Determinasi
Tabel 4.10 Koefisien Determinasi

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, penulis mencoba menarik kesimpulan pada bab ini sebagai berikut.

Saran

UU Yogyakarta No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah BPFE Tahun 1999 Edisi Pertama. Kasus yang digunakan Statistik didasarkan pada kasus yang tidak ada nilai hilang untuk setiap variabel yang digunakan.

Referensi

Dokumen terkait