• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh perceived ease of use, perceived usefulness, dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh perceived ease of use, perceived usefulness, dan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERCEIVED EASE OF USE, PERCEIVED USEFULNESS, DAN SALES PROMOTION TERHADAP IMPULSE BUYING PADA PENGGUNA

APLIKASI SHOPEE DI KOTA MALANG

THE EFFECT OF PERCEIVED EASE OF USE, PERCEIVED USEFULNESS, AND SALES PROMOTION TOWARDS THE IMPULSE BUYING OF SHOPEE

MOBILE APPLICATION CONSUMERS IN MALANG CITY Oleh: Audi Nadya

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh perceived ease of use, perceived usefulness dan sales promotion terhadap impulse buying pada pengguna aplikasi Shopee di Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah explanatory research yang menjelaskan atau membuktikan hubungan atau pengaruh antar variabel independen dan dependen.Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 100 responden, dimana penyebaran kuesioner dilaksanakan di Kota Malang.Pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik purposive sampling.

Sampel terdiri dari responden yang berdomisili di Kota Malang atau menetap sementara di Kota Malang yang pernah menggunakan aplikasi Shopee minimal lima kali. Analisis data menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda dengan menggunakan SPSS ver.

20.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga variabel yaitu pengaruh perceived ease of use, perceived usefulness dan sales promotion, ketiganya memiliki pengaruh positif signifikan terhadap impulse buying.

Kata kunci: Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness, Sales Promotion, Impulse Buying

ABSTRACT

This study aims to discover the influence of perceived ease of use, perceived usefulness, and sales promotion towards impulse buying of Shopee mobile application consumers in Malang City. This type of research is explanatory research that explains or proves the relationship or influence between independent and dependent variables. This study used a sample of 100 respondents where questionnaires were conducted in Malang City. Sampling uses a non-probability sampling method with a purposive sampling technique. The sample consisted of respondents who were domiciled in Malang City or temporarily settled in Malang City who already made transactions at least five times on Shopee mobile application. The data analysis using Multiple Linear Regression Analysis processed through SPSS software ver. 20. The results of the study shows that the three variables which is, perceived ease of use, perceived usefulness, and sales promotion, have a significant effect on impulse buying.

Keywords:.Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness, Sales Promotion, Impulse Buying.

(2)

PENDAHULUAN

Saat ini, zaman dengan segala kemudahannya telah membentuk perilaku konsumtif pada konsumen.Konsumen dapat melakukan pembelian hanya melalui smartphone dengan teknologi yang ada.Pencarian dan pembelian terhadap suatu produk dapat dilakukan di situs web atau aplikasi. Segala kemudahan ini, konsumen cenderung melakukan pembelian tidak terencana atau yang biasa disebut impulse buying. Aplikasi e-commerce memotivasi pembelian impulsif sebab pembeli tidak harus repot pergi ke toko atau membawa sejumlah uang tunai. Mendapatkan barang impian cukup dengan beberapa ketukan pada ponsel. Proses yang sangat cepat ini menciptakan kondisi ideal untuk pembelian impulsif (softwareseni.co.id, 2019).Konsumen yang berada pada lingkungan yang mudah untuk mengakses internet cenderung mudah untuk melakukan impulse buying (Zhang, Prybutok, dan Koh, 2006). Total penjualan Shopee pada periode quarter 4 2018 sebanyak 11 juta transaksi, bukan hal yang tidak mungkin transaksi tersebut merupakan hasil dari impulse buying konsumen.

Karena Shopee merupakan aplikasi yang paling banyak diunduh, dan pada periode tersebut Shopee gencar melakukan promosi yang dapat mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian tidak terencana yaitu promo gratis ongkir, flash-sale, dan promosi dengan tema Harbolnas 11:11 dan 12:12 Birthday Sale.

Shopee memfokuskan pada aplikasi berbasis mobile phone, maka dari itu kemudahan dalam menggunakan aplikasi dan kegunaan

dari aplikasi harus

diperhatikan.Kemudahan dalam menggunakan teknologi, atau dalam hal

ini kemudahan dalam menggunakan aplikasi, akan membantu konsumen dalam melakukan transaksi pada aplikasi Shopee.Dengan kemudahan yang diberikan dalam mencari informasi dan proses transaksi, akan membuat konsumen memiliki kecenderungan untuk membeli secara tidak terencana atau impulse buying (Wells, Parboteeah dan Valacich, 2011).Kemudahan dalam menggunakan aplikasi Shopee, dapat disebut dengan perceived ease of use.

Selain perspektif kemudahan penggunaan atau perceived ease of use, Shopee juga harus memperhatikan persepsi kegunaan atau perceived usefulness. Kegunaan dari aplikasi Shopee dapat membantu konsumen dalam mencari, membandingkan dan membeli produk.Dari manfaat yang didapatkan dari kegunaan aplikasi Shopee yang dirasakan oleh pengguna, akan membuat konsumen cenderung melakukan impulse buying karena merasa percaya terhadap kegunaan dari fitur aplikasi Shopee tersebut yang dapat membantu mereka dalam mencari informasi barang secara akurat, membandingkan harga dari satu penjual dengan penjual yang lain dan memudahkan dalam melakukan transaksi.

Selanjutnya yaitu sales promotion, merupakan salah satu strategi yang dapat menarik konsumen atau pengguna baru dari aplikasi Shopee.Sales promotion selalu menjadi salah satu strategi andalan aplikasi Shopee dengan memberikan diskon atau promo free ongkir.Dengan menggunakan strategi pemasaran ini, selalu menjadi cara yang efektif karena konsumen cenderung melakukan pembelian tidak terencana saat adanya harga yang lebih murah, diskon, dan promo-promo yang menguntungkan.

(3)

LANDASAN TEORI

Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model pada awalnya dikembangkan oleh Davis (1985), yang terdiri dari motivasi pengguna (perceived ease of use, perceived usefulness, and attitudes toward technology) dan variabel hasil (behavioral intentions, technology use).TAM memiliki tujuan untuk menjelaskan berbagai kunci dari faktor sikap pengguna informasi teknologi terhadap penerimaan teknologi.Menurut Marangunić & Granić (2015) dari beberapa variabel yang disebut di atas, perceived ease of use dan perceived usefulness merupakan variable kunci yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi hasil.

Perceived Ease of Use

Perceived ease of use pada e-commerce dapat dikaitkan dengan kemudahan dalam mengakses situs dan kemudahan dalam menavigasi situs (Yang, 2010).

Menurut Davis (1989) Perceived ease of use adalah "the degree to which a person believes that using a particular system would be free from effort". Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa perceived ease of use adalah tingkatan kepercayaan seseorang dalam menggunakan sistem tertentu dapat membebaskan mereka dari usaha.

Membebaskan dari usaha yang dimaksud adalah terbebas dari kesulitan atau usaha yang besar.Menurut Hartono (2008) perceived ease of use dapat diukur dengan beberapa indikator yaitu mudah digunakan, mudah dikontrol, mudah dimengerti, fleksibel dan mudah dipelajari.

Perceived Usefulness

Secara sederhana perceived usefulness adalah kepercayaan seseorang terhadap suatu teknologi yang dapat membantu meningkatkan kinerjanya. Davis (1989) mendefinisikan perceived usefulness yaitu "the degree to which a person believes that using a particular system would enhance his or her job performance". Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa perceived usefulness adalah tingkatan dimana seseorang percaya dengan menggunakan suatu sistem tertentu dapat membantu meningkatkan kinerja mereka. Hal serupa juga diungkapkan oleh Shun Wang et al (2003) bahwa persepsi kegunaan merupakan definisi dimana seseorang percaya dengan menggunakan suatu sistem dapat meningkatkan kinerja mereka.Menurut Hartono (2008), perceived usefulness dapat diukur dengan indikator bekerja lebih cepat, bekerja lebih efektif, memudahkan pekerjaan, dan berguna.

Sales Promotion

Sales promotion termasuk dalam bauran promosi, dan merupakan salah satu alat pemasaran yang biasa digunakan oleh perusahaan.Menurut Kotler dan Armstrong (2014) sales promotion merupakan insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan dan untuk mencoba atau membeli suatu produk/jasa.Perusahaan menggunakan sales promotion untuk menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat.Sales promotion juga dapat digunakan untuk mendorong penjualan yang sedang lesu dan mendramatisasi penawaran untuk menarik konsumen.

Menurut Philip

Kotler (2009) terdapat beberapa alat promosi penjualan bagi konsumen, bisnis dan wiraniaga , serta bagi

(4)

perdagangan. Alat promosi konsumen (major consumer promotion tools), terdiri dariSample, Coupons, Cash refund offers / rabats, Price pack (cents off deal), Premium (gifts), Prize (contest, Sweep stakes, games), Patronage awards, Free trials, Product waranties, Tie in promotions, Cross promotions, dan Point of purchase (POP) displays and demonstration

Impulse Buying

Impulse buying merupakan fenomena yang terjadi selama beberapa tahun terakhir dan seketika menjadi sesuatu yang layak untuk diperbincangkan.Banyak konsumen yang melakukan impulse buying dan tidak sedikit yang terpengaruh dari kemudahan dan promosi yang dilakukan oleh pemasar.Pembelian impulsif merupakan kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian secara spontan, tanpa pertimbangan dan cepat.Menurut Mohan et al. (2013) impulse buying merupakan kecenderungan untuk melakukan pembelian yang tidak direncanakan dan untuk membeli spontan, dengan sedikit atau tanpa musyawarah atau pertimbangan akan konsekuensi yang mungkin diterima. Menurut Solomon &

Rabolt (2009) menyatakan bahwa impulse buying adalah suatu kondisi yang terjadi ketika individu mengalami perasaan terdesak secara tiba-tiba yang tidak dapat dilawan. Sementara itu menurut Rook & Fisher (1995) dalam Solomon & Rabolt (2009) kecenderungan untuk membeli secara spontan ini umumnya dapat menghasilkan pembelian ketika konsumen percaya bahwa tindakan tersebut adalah hal yang wajar.Yu K.

Han et al (1991) dalam Solomon &

Rabolt (2009) menyatakan tipe impulse buying terdiri dari :

1. Pure Impulse Buying (pembelian Impulsif murni)

2. Suggestion Impulse Buying (Pembelian impulsif yang timbul karena sugesti)

3. Reminder Impulse Buying (pembelian impulsif karena pengalaman masa lampau) 4. Planned Impulse Buying

(Pembelian tergantung pada kondisi penjualan)

HIPOTESIS

Gambar 1: Model Hipotesis

H₁:Perceived ease of use memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying pada pengguna aplikasi Shopee di Kota Malang.

H₁: Perceived usefulness memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying pada pengguna aplikasi Shopee di Kota Malang.

H₁: Sales promotion memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying pada pengguna aplikasi Shopee di Kota Malang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research) dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi Penelitian dilakukan di kota Malang.

Populasi dalam penelitian ini adalah

(5)

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

100 .0000000 13.42625523 .085 .085 -.075 .853 .461 N

Mean Std. Deviation Normal Parametersa,b

Absolute Positive Negative Most Extreme

Differences

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Unstandardiz ed Residual

Test distribution is Normal.

a.

Calculated from data.

b.

Scatterplot

Dependent Variable: Impulse Buying

Regression Standardized Predicted Value

3 2 1 0 -1 -2 -3

Regression Studentized Residual

3

2

1

0

-1

-2 -3

pengguna aplikasi Shopee di kota Malang yang jumlahnya tidak diketahui, berumur 17 tahun keatas dan pernah menggunakan aplikasi Shopee sebanyak lima kali. Teknik pengambilan sampling menggunakan teknik non- probability sampling dengan metode purposive sampling. Penentuan besaran sampel berdasarkan teori Roscoe yaitu (5 sampai dengan 10) lebih besar dari jumlah variabel atau item indikator penelitian, maka dalam penelitian ini 10 dikali 4 variabel = 40 responden, namun pada penelitian ini menggunakan 100 responden. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dan dilakukan uji statistik menggunakan SPSS versi 22. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah uji instrument, uji asumsi klasik, uji analisis linier berganda serta pengujian hipotesis.

HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1: Hasil Uji Normalitas

Sumber: Data Diolah, 2019.

Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa nilai sig. sebesar 0.461 yang berarti lebih besar dari 0.05; maka ketentuan H₀ : residual tersebar normal dapat diterima.

Tabel 2: Hasil Uji Multikolinieritas

Variabel Independent Tolerance VIF

Perceived Ease of Use (X1) 0.934 1.070 Perceived Usefulness (X2) 0.960 1.042 Sales Promotion (X3) 0.960 1.042

Sumber: Data Diolah, 2019.

Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa nilai tolerance dari seluruh variabel independent ≥0.10, sedangkan nilai VIF dari seluruh variabel independent ≤10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolineritas antara variabel independent dalam penelitian ini.

Gambar 1: Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Data Diolah, 2019.

Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa diagram tampilan scatterplot menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.

(6)

Coefficientsa

-1.036 .836 -1.240 .218

.225 .087 .268 2.597 .011

.264 .101 .264 2.617 .010

.484 .117 .412 4.121 .000

(Constant) Persepsi Kemudahan Persepsi Kegunaan Promosi Penjualan Model

1

B Std. Error Unstandardized

Coefficients

Beta Standardized

Coefficients

t Sig.

Dependent Variable: Impulse Buying a.

Model Summary

.904a .818 .812 1.434

Model 1

R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Predictors: (Constant), Promosi Penjualan, Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan

a.

ANOVAb

884.898 3 294.966 143.403 .000a

197.462 96 2.057

1082.360 99

Regression Residual Total Model 1

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), Promosi Penjualan, Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan

a.

Dependent Variable: Impulse Buying b.

Tabel 3: Hasil Uji Linieritas

Variabel Sig. Keterangan

X1 - Y 0.134 Linier X2 - Y 0.060 Linier X3 - Y 0.695 Linier

Sumber: Data Diolah, 2019.

Berdasarkan hasil uji pada Tabel 3 di atas, dapat dilihat bahwa signifikansi masing-masing > 0.05, yang berarti bahwa variabel independen dan dependen dalam penelitian ini memiliki hubungan linier.

Tabel 4: Uji Regresi Linier Berganda

Sumber: Data Diolah, 2019.

Berdasarkan tabel diatas, persamaan yang digunakan adalah

Y = 0.268X1 + 0.264X2 + 0.412 X3 + e Tabel 5: Uji Koefisien Determinasi

Sumber: Data Diolah, 2019.

Berdasarkan Tabel 5 di atas, dapat dilihat bahwa nilai adjusted R² sebesar 0.812. Hal ini menunjukkan bahwa 81,2% dari impulse buying pada pengguna Shopee di kota Malang akan

dijelaskan oleh variabel independen yang ada di penelitian ini yaitu perceived ease of use, perceived usefulness, dan sales promotion.

Sedangkan sisanya 18,8% akan dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas pada penelitian ini.

Tabel 6: Uji Ketepatan Model

Sumber: Data Diolah, 2019.

Berdasarkan Tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa sebesar 143.403, dan dapat diketahui pula bahwa df regresi = 3 ; df residual = 96 ; dengan ∝= 0.05 maka dapat diketahui bahwa nilai = 2.70. Hal ini dapat disimpulkan bahwa >

yaitu 143.403 > 2.70, maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh bersamaan antara variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 7: Uji Hipotesis

Variabel Independen T Sig. Keterangan

Perceived Ease of Use (X1) 2.597 0.011 Signifikan Perceived Usefulness (X2) 2.617 0.010 Signifikan Sales Promotion (X3) 4.121 0.000 Signifikan

Sumber: Data Diolah, 2019

Berdasarkan tabel di atas, dengan nilai sebesar 1.984 (∝=0.05 ; df residual = 96 ) hasil uji t dapat di simpulkan sebagai berikut:

H₁: perceived ease of use (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying (Y)

(7)

Berdasarkan tabel 4.15 di atas, dapat diketahui bahwa > yaitu 2.597 > 1.984 dengan nilai sig. <∝ = 0.05 yaitu 0.011<0.05.. Hal ini berarti bahwa H1 diterima dan H0 ditolak, maka pengaruh perceived ease of use (X1) terhadap impulse buying (Y) adalah signifikan atau dengan meningkatkan perceived ease of use makaimpulse buying mengalami peningkatan.

H₁: perceived usefulness (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying (Y)

Berdasarkan tabel 4.15 di atas, dapat diketahui bahwa >

yaitu 2.617 > 1.984 dengan nilai sig.

<∝ = 0.05 yaitu 0.010<0.05.. Hal ini berarti bahwa H1 diterima dan H0 ditolak, maka pengaruh perceived usefulness (X2) terhadap impulse buying (Y) adalah signifikan atau dengan meningkatkan perceived usefulness maka impulse buying akan mengalami peningkatan.

H₁: sales promotion (X3) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap impulse buying (Y)

Berdasarkan tabel 4.15 di atas, dapat diketahui bahwa >

yaitu 4.121 > 1.984 dengan nilai sig.

<∝ = 0.05 yaitu 0.000<0.05.. Hal ini berarti bahwa H1 diterima dan H0

ditolak, maka pengaruh sales promotion (X3) terhadap impulse buying (Y) adalah signifikan atau dengan meningkatkan sales promotion maka impulse buying akan mengalami peningkatan.

KESIMPULAN

1. Perceived ease of use memiliki pengaruh signifikan terhadap impulse buying pada pengguna Shopee, artinya perceived ease

of use dapat mendorong terjadinya impulse buying, apabila perceived of use mengalami peningkatan maka akan diikuti peningkatan impulse buying pada pengguna aplikasi Shopee di kota Malang.

2. Perceived usefulnes memiliki pengaruh signifikan terhadap impulse buying pada pengguna Shopee, artinya perceived usefulness dapat mendorong terjadinya impulse buying, apabila perceived usefulness mengalami peningkatan maka akan diikuti peningkatan impulse buying pengguna aplikasi Shopee di kota Malang.

3. Sales promotion memiliki pengaruh signifikan terhadap impulse buying pada pengguna Shopee, artinya sales promotion dapat mendorong terjadinya impulse buying, apabila sales promotion mengalami peningkatan maka akan diikuti peningkatan impulse buying pengguna aplikasi Shopee.

SARAN

1. Aplikasi Shopee perlu mengembangkan fitur-fitur yang telah ada dalam memudahkan pengguna.

2. Aplikasi Shopee perlu bekerja sama dengan jasa pengiriman barang yang disediakan Shopee, untuk menambahkan fitur tracking pada informasi pesanan agar memudahkan pengguna untuk melihat barang yang dipesannya.

3. Aplikasi Shopee perlu menambahkan promosi-promosi

(8)

baru, seperti loyalty points dan kupon.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Luthfi. 2019. Ini Peta Persaingan E-Commerce Indonesia Q4 2018, diakses 4

Maret 2019.

https://techno.okezone.com/read /2019/01/30/207/2011416/ini- peta-persaingan-e-commerce- indonesia-q4-2018.

Basu Swasatha dan Irawan. 2005. Asas- Asas Marketing. Yogyakarta:

Liberty

Brunn P, Jensen M, dan Skovgaard Jakob. 2002.e-Marketplaces:

Crafting A Winning Strategy.

European Management Journal, 20 (3): 286-298.

Buchory, Achmad Herry, dan Saladin Djaslim. 2010. Manajemen Pemasaran :Edisi Cetakan Ketiga. Bandung: Linda Karya.

C. Nagadeepa, J. Tamil Selvi, dan Pushpa A. 2015. Impact of Sale Promotıon Technıques on Consumers’ Impulse Buyıng Behavıour towards Apparels at Bangalore.Asian Journal of Management Sciences &

Education, 4(1): 116-124

Davis, F. D., Bagozzi, R. P., &

Warshaw, P. R. 1989.User Acceptance of Computer Technology: A Comparison of Two Theoritical Models.

Management Science, 35 (8):

982-1003.

Delone, W. H., dan Mclean, E. R.

(2004). Measuring e-commerce success: Applying the DeLone dan McLean information

systems success model.

International Journal of Electronic Commerce, 9(1), 31- 47.

Fatiha Rahmalita Fitri. 2018. The influence of web quality and sales promotion toward impulse buying behavior with openness personality as moderating variable. Journal of Accounting Management and Economics, 20 (1): 48-55.

Ghozali, I. 2016. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19, Edisi 8.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hartono, J. 2008. Sistem Informasi Keperilakuan, Edisi 2.

Yogyakarta: ANDI.

Hoffman, D. L., dan Fodor, M. (2010).

Can you measure the ROI of your social media marketing?.

MIT Sloan Management Review, 52(1), 41-49.

Iprice. 2019. The Map of E-commerce in Indonesia, diakses 3 Maret 2019.

https://iprice.co.id/insights/mapo fecommerce/en/.

J.C.Athapaththu, dan

K.M.S.D.Kulathunga. 2018.

Factors Affecting Online Purchase Intention: A Study Of Sri Lankan Online Customers.

International Journal of Scientific and Technology Research, 7(9): 120-128.

Kotler, Philip. 2009. Manajemen Pemasaran. Edisi 13.Jakarta;

Erlangga.

(9)

Kotler, Philip & Gary Armstrong. 2012.

Prinsip-Prinsip Pemasaran.

Edisi 13.Jilid 1. Jakarta:

Erlangga.

Kotler, Philip & Gary Armstrong. 2014.

Principle of Marketing. 15th ed.

New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Kotler, Philip & Kevin Lane Keller.

2016. Marketing Management.

15th ed, Pearson Education, Inc.

Kozinets, R. V., De Valck, K., Wojnicki, A. C., dan Wilner, S.

J. (2010). Networked narratives:

Understanding word-of-mouth marketing in online communities. Journal of marketing, 74(2), 71-89.

Laudon, K., dan Laudon, J. (2009).

Management Information Systems: International Edition, 11/E. Pearson Higher Education, 2009.

Lee Heejung. 2018. Intrinsic and Extrinsic Motivations Affecting Impulse Buying Tendency in Mobile Shopping. Scientific Journal Publisher, 46(4): 683- 694.

Marangunić, N., & Granić, A.

2015.Technology Acceptance Model: A Literature Review From 1986 to 2013. Information Society International Journal, 14(1): 1-15

Mohan, G., Sivakumaran, B., dan SharmaP. 2013. Impact of Store Environment on Impulse Buying Behaviour. European Journal of Marketing, 47(10): 1-33

Nadine Freischlad. 2017. Shopee claims to have entered Indonesian

ecommerce’s top league in less than 3 years, diakses 3 Maret 2019.

https://www.techinasia.com/sho pee-winning-indonesia.

Nasution, M.N. 2004.Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.

Rambat Lupiyoadi dan A.

Hamdani.2008. Bauran Pemasaran Barang vs Jasa.

Jakarta: Salemba Empat.

Rangkuti, Freddy.2009. Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing

Communication.Jakarta : GramediaPustakaUtama

Rook, D. W. and Hoch, S. J. (1985), Consuming impulses, Advances in Consumer Research,Vol. 12 Sandhusen, R. 2008. Marketing.

Hauppauge, N.Y: Barron’s Educational Series.

Saviq Bachdar. 2018. Mengapa Shopee Jadi E-Commerce yang Paling Sering Diakses?,diakses 3 Maret 2019.

https://marketeers.com/mengapa -shopee-jadi-e-commerce-yang- paling-sering-diakses/.

Sekaran, U., & Bougie, R. 2016.

Research Methods for Business 1st Edition.Chichester, West Sussex, UK: John Wiley &

Sons.

Solomon, M.R. & Rabolt, N.

2009.Consumer Behaviour in Fashion, 2nd.Edition. USA:

Prentice Hall

Softwareseni. 2018. Tren, Biaya & Tips Mobile Aplikasi E-Commerce

(10)

2019, diakses 4 Maret 2019.

https://www.softwareseni.co.id/

mobile-aplikasi-e-commerce- 2019/.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dn R&D.

Bandung: Alfabeta

Wells,John D., Veena Parboteeah, dan Joseph S. Valacich. 2011.

Online Impulse Buying:

Understanding the Interplay

between Consumer

Impulsiveness and Website Quality. Journal of The Association for Information Systems, 12 (1): 32-56.

Wikipedia. 2019. Shopee, diakses 3

Maret 2019.

https://id.wikipedia.org/wiki/Sho pee.

Xiaoni Zhang,Victor R. Prybutok, dan Chang E. Koh. 2006. The Role of Impulsiveness in a TAM- Based Online Purchasing Behavior. Information Resources Management Journal, 19 (2): 54-68.

Yang, K. 2010.Deteminants of U.S Consumer Mobile Shopping Services Adoption: Implications for Designing Mobile Shopping Services. Journal of Consumer Marketing, 27: 262-270.

Yi-Shun Wang, Yu-Min Wang, Yu-Min Wang, Hsin-Hui Lin dan Tzung- I Tang. 2003. Determinants of User Acceptance of Internet Banking: An Empirical Study.

International Journal of Service Industry Management 14(5):501-519.

Referensi

Dokumen terkait