PENGARUH SMALL GROUP DISCUSSION TERHADAP
PERKEMBANGAN KOGNITIF MAHASISWA PADA MASA REMAJA AKHIR
(Bab 4 buku A Topik: Perkembangan Kognitif) Dosen Pengampu: Dr. Drs. I Made Rustika, M.Si.,Psi.
Oleh
Shakira Jamil Achmawati Novel 2102531051
Kelas B
PROGRAM STUDI SARJANA PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan penugasan paper dengan judul Pengaruh Small Group Discussion Terhadap Perkembangan Kognitif Mahasiswa Pada Masa Remaja Akhir. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini.
Sebagai penyusun, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan baik dari penyusunan hingga tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar dapat menjadi bahan masukan supaya dapat memperbaiki paper ini menjadi lebih baik kedepannya. Penulis juga berharap semoga paper yang disusun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca.
Denpasar, 14 November 2022
Shakira Jamil Achmawati Novel
DAFTAR ISI
BAB 1...1
PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan...2
1.4 Lingkup Pembahasan...2
BAB 2...3
PEMBAHASAN...3
2.1 Perkembangan Kognitif...3
2.1.1 Perkembangan Kognitif Mahasiswa Pada Masa Remaja Akhir...5
2.2 Small Group Discussion...8
2.3 Pengaruh Small Group Discussion terhadap Perkembangan Kognitif Mahasiswa di Tahap Remaja Akhir...11
BAB 3...14
PENUTUP...14
3.1 Kesimpulan...14
3.2 Saran...14
DAFTAR PUSTAKA...16
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman, metode pengajaran di dunia pendidikan mulai beragam, terutama pada jenjang perkuliahan. Selama ini metode pengajaran lebih menekankan pada teacher centered, di mana pengajar menjadi sosok yang dominan dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, setiap mahasiswa memiliki karakteristik masing-masing dalam hal menerima pembelajaran. Dalam gencarnya persaingan di lingkup pendidikan, mahasiswa menjadi sangat kritis dalam menyampaikan sesuatu, mahasiswa juga dituntut untuk bisa menguasai banyak hal. Salah satu faktor untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran adalah penerapan model pembelajaran yang digunakan. Oleh karena itu, penggunaan model pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan materi pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat menerapkan mahasiswa berperan aktif, tidak hanya sebagai pendengar melainkan juga dapat menemukan sendiri jawaban suatu permasalahan dalam pembelajaran melalui proses berpikir, mencari, mengolah, menguraikan, menggabungkan, menyimpulkan hingga menyelesaikan permasalahan itu sendiri adalah model pembelajaran small group discussion. Saat ini pola pembelajaran SGD dinilai cukup efektif untuk para mahasiswa yang berada pada masa dewasa akhir.
Model pembelajaran small group discussion merupakan rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh mahasiswa dalam kelompok kecil antara 4 sampai 6 orang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan cara dimana setiap anggota kelompok siswa mendapat satu permasalahan tentang suatu materi bahasan untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Hardiansyah, 2014). Menurut Piaget masa remaja akhir yaitu pada rentang usia 18-24 tahun, masa dimana seorang individu menggunakan pemikiran kompleks untuk fokus pada konsep yang tidak mementingkan diri sendiri serta dalam pengambilan keputusan pribadi, pemikiran seorang individu yang semakin kompleks ini sangat cocok untuk diterapkan dalam small group discussion. Individu yang telah berada pada masa remaja akhir juga sering mengembangkan pandangan idealis tentang topik atau masalah tertentu dan ini cocok untuk small group discussion karena dalam metode
ini seorang individu akan bertukar pandangan dengan beberapa orang hingga menemukan suatu pandangan yang bisa disepakati bersama.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, berikut adalah permasalahan yang ingin dijawab dan dibahas dalam tulisan ini:
1. Bagaimana proses perkembangan kognitif pada masa remaja akhir?
2. Apakah Small Group Discussion efektif untuk digunakan mahasiswa?
3. Bagaimana pengaruh Small Group Discussion terhadap perkembangan kognitif mahasiswa?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan proses perkembangan kognitif pada masa remaja akhir.
2. Menjelaskan apakah penggunaan SGD efektif untuk digunakan mahasiswa.
3. Menjelaskan mengenai pengaruh SGD terhadap perkembangan kognitif mahasiswa.
1.4 Lingkup Pembahasan
Berdasarkan permasalahan dan tujuan tersebut, maka pembahasan dalam tulisan ini meliputi:
1. Perkembangan Kognitif remaja akhir
2. Penggunaan Metode Small Group Discussion 3. Pengaruh SGD terhadap mahasiswa remaja akhir
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Kognitif
Istilah kognitif dari kata cognition (inggris) berarti “pengenalan, kesadaran, pengertian, dan merupakan konsep umum yang mencakup aktivitas- aktivitas seperti berpikir, memahami dan menalar” (Reber & Reber, 2010).
Dengan kata lain, merupakan proses-proses psikologis yang melibatkan upaya dalam memperoleh, menyusun, dan menggunakan pengetahuan. Jadi secara keseluruhan arti dari konsep perkembangan kognitif, yaitu suatu rancangan atau gambaran yang menggunakan simbol-simbol untuk melihat pola perubahan dari proses-proses psikologis yang terlibat dalam memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan. Konsep perkembangan kognitif ini disampaikan oleh Al-Ghazali dan Jean Piaget. Konsep perkembangan kognitif atau akal menurut Al- Ghazali terdiri dari jiwa rasional yang memiliki dua daya, yaitu: al-amilat (praktis) dan al-alimat (teoritis). Kedua akal tersebut merupakan dua sisi dari akal yang sama, sisi yang menghadap ke bawah (badan) adalah akal praktis dan sisi yang menghadap ke atas (akal aktif) adalah akal teoritis.
Al-Ghazali menekankan pentingnya arti dari akal praktis ini bagi manusia khususnya ketika ingin berkreativitas dan terciptanya akhlak yang mulia bagi individu tersebut. Akal praktis ini semestinya bisa menguasai daya-daya jiwa yang dibawahnya untuk mencapai akhlak yang mulia. Selanjutnya pemikiran dari Al-Ghazali ini adalah akal teoritis yang berfungsi untuk menyempurnakan substansi. Substansi ini berupa immateri dan abstrak, hubungannya adalah dengan pengetahuan-pengetahuan yang abstrak dan universal. Dari sudut pandang teoritis ini akal memiliki empat tingkat kemampuan yaitu: al-aqal al-hayulani (akal materi), al-aqal bi al-malakat (habitual intellect), al-aqal bi al-fi (akal aktual), dan al-aql al-mustafad (akal perolehan). Akal materi disini merupakan tingkatan akal yang paling rendah dan masih bersifat potensi belaka, sedangkan tingkat akal yang lebih tinggi disebut akal perolehan (akal yang pada tingkat ini menyadari pengetahuan secara aktual dan faktual, akal ini hanya diperoleh oleh orang-orang tertentu dengan jumlah terbatas dan diperoleh dengan usaha yang sungguh- sungguh).
Tokoh selanjutnya ada Jean Piaget yang mengarahkan penelitiannya secara khusus ke arah perkembangan intelektual, perkembangan intelegensi dan pemikiran. Istilah kognisi menurut Piaget adalah istilah yang berarti berbagai hal yang berbeda yang secara garis besar dapat dikatakan suatu proses-proses mental dimana manusia dapat memperoleh pengetahuan. Teori kognitif menegaskan bahwa tingkah laku manusia berdasarkan atas kognisi, sebuah pengetahuan atau pikiran tentang situasi di dalamnya tingkah laku itu dilakukan. Jean Piaget membagi taraf-taraf kognitif kedalam empat taraf pokok yang dijelaskannya sebagai berikut :
1. Taraf sensori-motoris
Tahap yang pertama dari empat tahap teori Piaget yang dimana sang anak berada di rentang usia 18-24 bulan, selama periode ini bayi mengembangkan pemahaman tentang dunia melalui koordinasi pengalaman sensorik (melihat, mendengar) dengan tindakan motorik (menggapai, menyentuh).
2. Taraf pra-operasional
Perkembangan kognitif anak di tahap ini berada di rentang usia 2-7 tahun dan selama periode ini, anak sudah mulai berpikira pada tingkat simbolik tapi belum menggunakan operasi kognitif, maksudnya anak tidak bisa menggunakan logika atau mengubah, menggabungkan atau memisahkan ide atau pikiran. Anak berkembang melalui pengalamannya tentang dunia adaptasi dan bekerja menuju tahap konkret ketika ia bisa menggunakan pemikiran logis. Ketika berada di akhir tahap ini, anak secara mental bisa merepresentasikan peristiwa dan objek (fungsi semiotik atau tanda).
3. Taraf periode operasional konkret
Perkembangan kognitif anak di tahap ini berlangsung di rentang usia 7-11 tahun dan ditandai dengan perkembangan pemikiran yang terorganisir dan rasional, di tahap ini merupakan titik balik utama dalam perkembangan kognitif anak karena di tahap ini akan menandai awal pemikiran logis. Anak yang berada di tahap ini
menurut piaget mulai bisa memecahkan masalah dengan cara logis, namun mereka belum bisa berpikir secara abstrak.
4. Taraf periode operasional formal
Perkembangan kognitif anak menurut tahap akhir dari Piaget adalah dimulai di usia 12 tahun hingga mereka dewasa. Ketika anak sudah memasuki tahap ini mereka memperoleh kemampuan untuk berpikira secara abstrak dengan memanipulasi ide di kepalanya. Sang anak tersebut sudah bisa berpikir kreatif, menggunakan penalaran abstrak, dan membayangkan hasil dari tindakan tertentu.
2.1.1 Perkembangan Kognitif Mahasiswa Pada Masa Remaja Akhir
Mahasiswa sebagai makhluk hidup mengalami tahapan perkembangan, di mana jika dilihat dari tahapan perkembangan remaja, maka mahasiswa termasuk ke dalam masa remaja akhir. Hurlock (1964) menyebutkan bahwa masa remaja akhir dimulai dari usia 18 tahun hingga 22 tahun. Menurut teori Piaget, masa remaja termasuk pada tahap perkembangan operasional formal. Pada tahap perkembangan kognitif operasional frontal, remaja menjadi lebih konseptual, mampu membuat perencanaan jangka panjang, mampu membuat generalisasi, mengaplikasikan pola berpikir abstrak dan memakai prinsip logika dalam berpikir teoritis. Terdapat dua sifat khas pada tahap ini, yakni kemampuan deduktif- hipotesis dan sifat kombinatoris. Kemampuan deduktif-hipotesis berperan dalam proses penyelesaian masalah. Remaja mampu melakukan analisis masalah dengan mengembangkan penyelesaian melalui beberapa hipotesis yang mungkin ada.
Berdasar dari analisis ini, strategi penyelesaian masalah akan didapatkan. Sifat kombinatoris menjadi pelengkap cara berpikir operasional. Sifat kombinatoris menyerupai tahap trial and error pada stadium 12 – 18 bulan, namun pada stadium operasional formal, langkah coba-coba memiliki dasar teoritis dan hipotesis pasti.
Kualitas abstrak dari pemikiran operasional formal tampak jelas dalam pemecahan problem verbal. Selain memiliki kemampuan abstraksi, pemikir operasional formal juga memiliki kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Pada tahap ini, individu mulai melakukan pemikiran spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan
dalam diri mereka dan diri orang lain. Konsep operasional formal juga menyatakan bahwa individu dapat mengembangkan hipotesis deduktif tentang cara untuk memecahkan problem dan mencapai kesimpulan secara sistematis.
Menurut Santrock, perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis.
Piaget lebih lanjut merumuskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif:
1. Maturasi
Proses sinaptogenesis mielinisasi sel saraf dalam proses maturasi otak berperan dalam menentukan kemampuan kognitif. Fase penting maturasi otak terjadi pada masa kanak-kanak sampai dengan dua dekade awal kehidupan.
2. Pengalaman psikologis dan kontak dengan lingkungan
Kontak dengan lingkungan akan mengakibatkan dua ciri pengalaman mental yakni pengalaman fisik dan pengalaman logika matematik.
3. Transmisi sosial dan pembelajaran
Stimulasi sosial dari media massa, lingkungan pergaulan, lingkungan keluarga, lembaga sekolah, dan klub sosial menyediakan berbagai informasi pembelajaran untuk mengembangkan kognitif remaja. Kualitas sekolah, alokasi waktu belajar, dan kualitas tenaga pendidik juga mempengaruhi perkembangan kognitif remaja.
4. Ekuilibrasi
Ekuilibrasi adalah kemampuan alamiah yang dimiliki masing - masing individu sejak lahir (innate tendency) untuk mengubah pemikiran dari satu kondisi ke kondisi lain. Perubahan ini berlangsung ketika remaja mengalami konflik kognitif atau ketidakseimbangan (disequilibrium) saat mencoba memahami dunianya.
Remaja akhir sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan. Kemampuan ini menjadi penting mengingat tugas mahasiswa yang membutuhkan keterampilan tersebut. Para remaja akhir tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta
mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Menurut teori perkembangan operasional formal milik Piaget, remaja sudah mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Pembelajaran yang diterapkan pada mahasiswa harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif remaja akhir. Struktur proses kognitif dalam dimensi taksonomi Bloom terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi dan mencipta (Krathwohl, 2002: 214). Proses kognitif tersebut digolongkan dari tingkatan ranah pengetahuan yang sederhana sampai pada tingkatan untuk mencipta/membuat. Jadi, mahasiswa sangat perlu untuk menggali dan melatih kemampuan kognitifnya. Karena kemampuan kognitif dihasilkan dari adanya kegiatan berpikir sebagai pusat pengendali dari aktivitas manusia.
2.2 Small Group Discussion
Small Group Discussion merupakan suatu metode pembelajaran dengan sistem student centered. Mahasiswa melakukan pembelajaran melalui diskusi kelompok kecil yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah terkait materi yang diberikan, di mana materi tersebut sesuai dengan standar kompetensi. Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2000, p. 20) Small Group Discussion berarti proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara global dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Melalui metode pembelajaran ini, pengetahuan yang terdapat dalam kelompok cenderung akan lebih besar dibandingkan dengan belajar secara individu, hal tersebut dikarenakan dalam proses diskusi memungkinkan para mahasiswa untuk bertukar pendapat mengenai suatu permasalahan dan berusaha mencari solusi bersama-sama. Maka dari itu, SGD menjadi salah satu metode pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa untuk berpikir kritis dan sistematis (Arifin, 2021). Metode SGD juga dapat meningkatkan level intelektualitas dan kemampuan dalam problem solving, pengembangan perilaku, dan keahlian dalam kemampuan interpersonal, seperti berargumen,
mendengarkan, dan memimpin sebuah kelompok. Sejatinya, SGD menekankan pada keaktifan mahasiswa karena keaktifan dalam belajar merupakan hal mendasar dan penting yang harus disadari, dipahami, dan dikembangkan.
Keaktifan tersebut dapat ditandai dengan adanya keterlibatan yang aktif dari segi intelektual, fisik, dan emosional. Piaget dengan konsepnya “active learning”
berpendapat bahwa para siswa belajar lebih baik jika mereka berpikir secara kelompok. Piaget juga berpendapat bila suatu kelompok aktif kelompok tersebut akan melibatkan yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik (Smith, B.L. and Mac Gregor, 2004). Maka dari itu, dalam proses pembelajaran sebaiknya mahasiswa dapat lebih aktif dan interaktif sehingga dapat mengurangi dominasi dosen. Keaktifan tersebut juga dapat dijadikan tolak ukur pemahaman mahasiswa (Muhamadiah, 2021).
Small group discussion sebagaimana pembelajaran kelompok lainnya memiliki unsur-unsur yang saling terkait, yakni:
1. Saling ketergantungan positif (positive interdependence).
Cooperative learning menghendaki adanya ketergantungan positif saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi antara mahasiswa.
2. Akuntabilitas individual (individual accountability)
Small group discussion menuntut adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan bahan belajar tiap anggota kelompok, dan diberi balikan tentang prestasi belajar anggota-anggotanya sehingga mereka saling mengetahui rekan yang memerlukan bantuan. Berbeda dengan kelompok tradisional, akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering dikerjakan oleh sebagian anggota. Dalam small group discussion, mahasiswa harus bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban masing - masing anggota.
3. Tatap muka (face to face interaction)
Small group discussion menuntut semua anggota dalam kelompok belajar dapat saling tatap muka sehingga mereka dapat berdialog tidak hanya dengan guru atau dosen tapi juga bersama dengan teman. Interaksi semacam itu memungkinkan anak-anak atau mahasiswa menjadi sumber
belajar bagi sesamanya. Hal ini diperlukan karena mahasiswa sering merasa lebih mudah belajar dari sesamanya dari pada dari dosen.
4. Keterampilan sosial (social skill)
Unsur ini menghendaki mahasiswa untuk dibekali berbagai keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan kepada teman, mengkritik ide, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi yang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.
5. Proses kelompok (group processing)
Proses ini terjadi ketika tiap anggota kelompok mengevaluasi sejauh mana mereka berinteraksi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.
Kelompok perlu membahas perilaku anggota yang kooperatif dan tidak kooperatif serta membuat keputusan perilaku mana yang harus diubah atau dipertahankan.
Sebagai metode belajar, belajar kelompok diskusi atau small group discussion mengandung tujuan yang ingin dikembangkan. Tujuan diskusi atau small group discussion antara lain :
1. Agar mahasiswa berdiskusi sesuai dengan topik bahasan dan tujuan yang telah ditentukan.
2. Agar mahasiswa berbincang-bincang mengenai masalah-masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan kehidupan mereka di sekolah atau perguruan tinggi, dengan sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar mereka dan sebagainya.
3. Agar mahasiswa berbincang-bincang mengenai pelajaran di kelas dengan maksud saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang diterimanya, agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Sedangkan menurut Ismail SM, tujuan penerapan strategi ini adalah agar peserta didik memiliki keterampilan memecahkan masalah terkait materi pokok dan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pengajaran yang dimiliki dalam metode small group discussion, maka posisi dan peran dosen harus menempatkan diri sebagai:
1. Pemimpin belajar, artinya merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengontrol kegiatan belajar mahasiswa.
2. Fasilitator belajar, artinya memberikan kemudahan-kemudahan mahasiswa dalam melakukan kegiatan belajarnya misal, menyediakan sumber dan alat belajar, menyediakan waktu belajar yang cukup, memberi bantuan, menunjukkan jalan keluar pemecahan masalah, menengahi perdebatan pendapat dan sebagainya.
3. Moderator belajar, artinya sebagai pengatur arus belajar mahasiswa, dosen menampung persoalan yang diajukan oleh mahasiswa dan mengembalikan lagi persoalan tersebut kepada yang lain, untuk dijawab dan dipecahkan.
Jawaban tersebut dikembalikan kepada penanya atau kepada kelas untuk dinilai benar salahnya.
4. Motivator belajar, sebagai pendorong agar mahasiswa mau melakukan kegiatan belajar.
5. Evaluator, artinya sebagai penilai yang objektif dan komprehensif, dosen berkewajiban memantau, mengawasi, proses belajar peserta didik dan hasil belajar yang dicapainya.
Dalam penerapan metode small group discussion perlu diperhatikan langkah - langkah diantaranya sebagai berikut :
1. Bagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil (maksimal 5 murid) dengan menunjuk ketua dan sekretaris.
2. Berikan soal studi kasus (yang dipersiapkan oleh dosen) sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) & Kemampuan Akhir Yang Direncanakan.
3. Instruksikan setiap kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut.
4. Pastikan setiap anggota berpartisipasi aktif dalam diskusi.
5. Instruksikan setiap kelompok melalui juru bicara yang ditunjuk menyajikan hasil diskusinya dalam forum kelas.
6. Klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut (Dosen).
Model belajar small group discussion memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan metode lain, diantaranya adalah :
1. Membentuk kreativitas mahasiswa dalam bentuk ide, gagasan, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.
2. Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
3. Memperluas wawasan.
4. Membiasakan untuk musyawarah dalam memecahkan suatu masalah.
2.3 Pengaruh Small Group Discussion terhadap Perkembangan Kognitif Mahasiswa di Tahap Remaja Akhir
Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2000, p. 20), Small Group Discussion berarti proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara global dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Metode pembelajaran ini bagus untuk digunakan mahasiswa karena mahasiswa bisa berbincang-bincang untuk memecahkan masalah-masalah sendiri, mahasiswa berbincang-bincang mengenai masalah-masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan kehidupan mereka di sekolah atau perguruan tinggi dengan sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar mereka dan sebagainya, selain itu mahasiswa bisa berbincang-bincang mengenai pembelajaran di kelas dengan maksud saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang diterimanya agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Metode Small Group Discussion berpengaruh terhadap perkembangan kognitif mahasiswa di tahap remaja akhir jika merujuk pada teori Jean Piaget yaitu tahap operasional formal. Di tahap operasional formal remaja tersebut sudah mulai mengembangkan pemikirannya lebih dari pemikiran logis, remaja tersebut sudah mulai bisa mengembangkan konstruk ide yang ada di kepala mereka dan dengan adanya metode Small Group Discussion mereka bisa mengembangkan ide-ide di kepala mereka dengan cara bertukar pikiran dengan orang lain atau melalui pengalaman orang lain yang belum pernah mereka rasakan.
Dalam pernyataan Piaget mengenai faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif, terdapat dua poin penting yang dapat diperoleh dari diterapkannya metode small group discussion. Kedua poin tersebut adalah (1) Pengalaman psikologis dan kontak dengan lingkungan (2) Transmisi sosial dan pembelajaran. Dengan adanya diskusi kelompok, mahasiswa mendapatkan pengalaman dan pemahaman baru dari anggota kelompok lain dengan bertukar informasi. Pemahaman mahasiswa tidak hanya dari pengetahuan dan wawasannya
saja, akan tetapi mereka mampu bersikap sosial dengan teman yang lainnya dalam membangun kerjasama tim, dan saling belajar dan mengutarakan pendapatnya masing-masing. Secara tidak langsung mereka sudah melakukan interaksi dengan melibatkan sikap sosial didalamnya.
Dengan diterapkannya metode pembelajaran Small Group Discussion dalam perkuliahan, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan kognitif yang didapat dari manfaat dan tujuan Small Group Discussion. Kemampuan kognitif tersebut antara lain adalah kemampuan pemecahan masalah dengan cara kerjasama kelompoknya secara demokratis. Sebagai dampak lanjutan dari pengaruh penerapan Small Group Discussion, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan kognitif lain yang sesuai dengan struktur proses kognitif dalam dimensi taksonomi Bloom yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi dan mencipta. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penerapan Small Group Discussion mampu membantu mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman dan memperluas wawasan serta meningkatkan kemampuan berpikir yang kritis, analitis dan sistematis dari adanya diskusi antar anggota kelompok. Kapabilitas strategi kognitif merupakan kemampuan untuk mengkoordinasikan dan mengembangkan proses berpikir dengan cara merekam, membuat analisis sintesis. Kapabilitas ini terorganisir secara internal sehingga memmungkinkan perhatian, belajar, mengingat dan berfikir menjadi terarah. Penelitian lain menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pola pikir kreativitas mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan metode Small Group Discussion.
Selain kemampuan pemecahan masalah, mahasiswa juga dapat mengasah kemampuan dalam menyimpulkan hasil diskusi. Kemampuan menyimpulkan menempati ranah kognitif pada tingkat yang tinggi yaitu C5 atau evaluasi dan mencipta (Krathwohl, 2002: 214). Kemampuan dalam menyimpulkan hasil diskusi secara tidak langsung dapat memacu siswa menemukan sendiri pengetahuan sesuai tujuan yang yang diharapkan. Selain itu, siswa lebih banyak mendapat pengetahuan serta adanya saling tukar pikiran saat proses pembelajaran sehingga siswa lebih mudah mengingat dari hasil yang ia peroleh sendiri tersebut lalu. Menurut Suryosubroto dalam Taniredja (2013: 24), metode diskusi
melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar, dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah. Hal ini sesuai dengan pendapat Alma (2009:53), bahwa kesimpulan-kesimpulan diskusi mudah dipahami anak karena anak didik mengikuti proses berpikir sebelum sampai kepada kesimpulan. Oleh karena itu, kesimpulan-kesimpulan yang berasal dari pemikiran sendiri dengan tambahan berbagai sumber akan lebih mempermudah siswa dalam mengingat pembelajaran yang didapat.
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Small Group Discussion memiliki pengaruh terhadap perkembangan kognitif mahasiswa di tahap remaja akhir. Small Group Discussion efektif untuk diterapkan di pembelajaran kampus dengan subjek mahasiswa karena dengan metode ini, perkembangan pola pikir mahasiswa yang sudah semakin kompleks bisa terasah dengan baik, ide-ide yang ada di dalam kepala mereka bisa ditarik keluar dengan diskusi bersama teman-temannya. Perkembangan berpikir kritis juga bisa berkembang disini. Kemampuan lainnya yang bisa diasah oleh mahasiswa adalah kemampuan pemecahan masalah, ketika dihadapkan dengan berbagai tugas dan pekerjaan baik itu akademik maupun non-akademik mahasiswa bisa melatih kemampuan pemecahan masalah ini dengan menerapkan metode Small Group Discussion. Ketika mahasiswa sudah bisa melatih kemampuan pemecahan masalah ini mahasiswa juga dapat melatih kemampuan menyimpulkan hasil diskusi. Kemampuan menyimpulkan menempati ranah kognitif pada tingkat yang tinggi yaitu C5 atau evaluasi dan mencipta (Krathwohl, 2002: 214).
3.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan untuk bisa lebih aktif dalam sesi pembelajaran di kelas dan melakukan kerjasama yang baik pada saat berdiskusi dengan siswa lain dalam memecahkan masalah serta memberikan pemikiran kritisnya kepada mahasiswa lain dengan menggunakan metode Small Group Discussion.
2. Bagi Dosen
Dosen hendaknya lebih meningkatkan motivasi pembelajaran, baik dalam metode pembelajaran, dan media pembelajaran seperti menerapkan model Small Group Discussion dengan membagi mahasiswa dalam kelompok- kelompok belajar kecil agar mengembangkan motivasi mahasiswa dalam
belajar bekerja sama dengan temannya, belajar berpikir kritis, dan memecahkan masalah dengan temannya.
DAFTAR PUSTAKA
AD, Y. (2018). Konsep Perkembangan Kognitif Perspektif Al-Ghazali Dan Jean Piaget. KONSELI: Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E-Journal), 5(2), 97.
https://doi.org/10.24042/kons.v5i2.3501
Arifin, M. J., Cahyanto, I., & Ulfa’ngin, N. (2021). Efektivitas Model Pembelajaran Small Group Discussion (SGD) dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Ekonomi Syariah Mahasiswa (Studi di Institut Agama Islam Negeri Ponorogo). Lisyabab Jurnal Studi Islam dan Sosial (Vol. 2, Issue 1). https://lisyabab-staimas.e-journal.id/lisyabab
Dewi, N. P. S. & Wulanyani, N. M. S. (2016). Hubungan Kecerdasan Sosial dengan Kepuasan Kerja Sama Kelompok dalam Small Group Discussion Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jurnal Psikologi Udayana (Vol. 3, Issue 1).
Hsieh, M. Y., Lin, T. J., Sallade, R., Ha, S. Y., Kraatz, E., & Shin, S. (2021). A Collaborative Small-group Discussion Approach to Improving Fifth Graders’ Use of Academic, Relational, Social, and Emotional Vocabulary.
International Journal of Educational Research, 106.
https://doi.org/10.1016/j.ijer.2021.101744
Jannah, E. S. N. (2019). Penerapan Metode Pembelajaran “Active Learning-Small Group Discussion” di Perguruan Tinggi Sebagai Upaya Peningkatan Proses Pembelajaran. FONDATIA, 3(2), 19-34.
Kurnia R. (2017). Konsep Perkembangan Kognitif (Akal) Menurut Al-Ghazali Dan Jean Piaget (Studi Komparatif Akal Menurut Al-Ghazali Dan Akal Menurut Jean Piaget). UIN Raden Intan Lampung, Tesis Sarjana.
http://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/2373
Lin, T. J., Ha, S. Y., Li, W. T., Chiu, Y. J., Hong, Y. R., & Tsai, C. C. (2019).
Effects of Collaborative Small-group Discussions on Early Adolescents’
Social Reasoning. Reading and Writing, 32(9), 2223–2249.
https://doi.org/10.1007/s11145-019-09946-7
Lin, T. J., Kraatz, E., Ha, S. Y., Hsieh, M. Y., Glassman, M., Nagpal, M., Sallade, R., & Shin, S. (2022). Shaping Classroom Social Experiences Through Collaborative Small-group Discussions. British Journal of Educational Psychology, 92(1), 131–154. https://doi.org/10.1111/bjep.12442
Masnunah, M. (2020). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SMALL GROUP DISCUSSION BERBASIS MULTIMEDIA TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATERI SEJARAH SASTRA.
JURNAL DIDACTIQUE BAHASA INDONESIA, 1(1).
Matondang, R. R. (2019). Perilaku Prososial Pada Remaja Ditinjau Dari Big Five Personality di SMA Negeri 2 Binjai.
Mutahidah, U. & Muhamadiah (2021). Penerapan Metode Small Group Discussion untuk Meningkatkan Keaktifan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. STKIP Bima Jurnal Guiding World, 04(01), 40–47.
Nur, Y., Sary, E., Hafshawaty, S., & Hasan, Z. (2017). PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN EMOSI PSIKOLOGI MASA REMAJA AWAL. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 6–12.
Pratiwi, D. I., & Susanti, A. D. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF AKUNTANSI MELALUI MODEL SMALL GROUP DISCUSSION DENGAN MEDIA KARTU DI SMK. Tata Arta: Jurnal Pendidikan Akuntansi, 6(2).
Putriawati, W. (2019). Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram (Vol. 7, Issue 1).
http://ojs.ikipmataram.ac.id/index.php/prismasains/
Qamariyah, S. N. (2019). Perkembangan Kognitif Remaja.
https://www.academia.edu/11623352/Perkembangan_Kognitif_Remaja
Sari, D. N. A. (2017). Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Dengan Small Group Discussion (SGD) Untuk Mengukur Kognitif Pada Mahasiswa. Jurnal Kesehatan Karya Husada, 5(1).
Sulistyowati, N. W. (2017). Implementasi small group discussion dan collaborative learning untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiswa program studi pendidikan akuntansi ikip pgri madiun. Assets: jurnal akuntansi dan pendidikan, 5(2), 173-190.
Ulfah, H. R., Sundari, S., & Afandi, M. (2017). Evaluasi Implementasi Metode Pembelajaran SGD (Small Group Discussion). Jurnal Kebidanan.
Van Blankenstein, F. M., Dolmans, D. H. J. M., van der Vleuten, C. P. M., & Schmidt, H. G. (2011). Which Cognitive Processes Support Learning During Small-group Discussion? The Role of Providing Explanations and Listening to Others.
Instructional Science, 39(2), 189–204. https://doi.org/10.1007/s11251-009-9124-7 Williams, A. T., & Svensson, M. (2020). Student Teachers’ Collaborative Learning of Science in Small-Group Discussions. Scandinavian Journal of Educational Research, 1–14. https://doi.org/10.1080/00313831.2020.1788141