• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Mulsa terhadap Serangan Hama pada Tanaman Terung (Solanum melongena L.) di Desa Timbangan Kecamatan Indralaya Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pengaruh Mulsa terhadap Serangan Hama pada Tanaman Terung (Solanum melongena L.) di Desa Timbangan Kecamatan Indralaya Utara "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Mulsa terhadap Serangan Hama pada Tanaman Terung (Solanum melongena L.) di Desa Timbangan Kecamatan Indralaya Utara

Kabupaten Ogan Ilir

The Effect off Mulch on Pest Attack on Eggplant (Solanum melongena L.) in Village Timbangan, Subdisctrict Indralaya North, Ogan Ilir City

Arsi Arsi1*), Fitra Gustiar2, Rahmat Pratama1, Suparman SHK1, Harman Hamidson1, Abu Umayah1, Bambang Gunawan1, Yulia Pujiastuti1, Wanda Helmi Riansyah1,

Dhanillo Djulian3, Muhari Muhari1

1Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Univeristas Sriwjaya, Ogan Ilir 30662, Indralaya, Sumatera Selatan, Indonesia

2Program Studi Proteksi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Univeristas Sriwjaya,Ogan Ilir 30662, Indralaya, Sumatera Selatan, Indonesia

*)Penulis untuk korespondensi: [email protected]

Sitasi: Arsi A, Gustiar F, Pratama R, SHK Suparman, Hamidson H, Umayah A, Gunawan B, Pujiastuti Y, Riansyah WH, Djulian D, Muhari M. 2022. The effect off mulch on pest attack on eggplant (Solanum melongena L.) in village Timbangan, Subdisctrict Indralaya North, Ogan Ilir City. In: Herlinda S et al.

(Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-10 Tahun 2022, Palembang 27 Oktober 2022. pp.

1023-1032. Palembang: Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).

ABSTRACT

Eggplant is a type of vegetable that is favored by the community because besides having a good taste, it also contains lots of vitamins and nutrients. In eggplant cultivation, there are several obstacles that must be faced. This obstacle cannot be separated from the attack by plant pests. Plant damage caused by pests results in decreased production due to the growth and development phase of eggplant plants cannot grow and develop optimally. The purpose of this research is to determine the effect of technical culture on the types of pests, population and intensity of pest attacks on purple eggplant (Solanum melongena L.) in Timbangan Village, Indralaya Utara District, Ogan Ilir Regency. The method used includes determining the land, determining sample plots and sample plants, as well as observing population numbers and intensity of pest attacks. The research was conducted in two eggplant fields with different plant ages. The population number and intensity of pest attacks were analyzed using the t test at the 5% confidence level. The pests found in eggplant are Spodoptera litura, Cheilomenes sexmaculata, and Atractomorpha crenulata.

Statistical analysis shows that there are significant differences in the two fields due to different cultivation techniques.

Keywords: eggplant, cultural technique and pest ABSTRAK

Tanaman terung merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang digemari oleh masyarakat karena selain memiliki rasa yang enak, juga banyak mengandung vitamin dan gizi. Dalam budidaya tanaman terung, ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Kendala ini tidak terlepas dari adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Kerusakan tanaman yang disebabkan oleh hama mengakibatkan penurunan produksi akibat pada saat fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman terung tidak bisa tumbuh dan juga berkembang dengan optimum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

(2)

kultur teknis terhadap jenis hama, populasi dan intensitas serangan hama pada pertanaman terung ungu (Solanum melongena L.) di Desa Timbangan Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir. Metode yang dilakukan meliputi penentuan lahan, penentuan petak tanaman contoh dan tanaman contoh, serta pengamatan jumlah populasi dan intensitas serangan hama. Penelitian dilakukan di dua lahan pertanaman terung dengan umur tanaman yang berbeda. Jumlah populasi dan intensitas serangan hama dianalisis menggunakan uji t pada taraf kepercayaan 5%. Hama yang ditemukan pada tanaman terung adalah Spodoptera litura, Cheilomenes sexmaculata, dan Atractomorpha crenulata.

Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua lahan disebabkan oleh teknik budidaya yang berbeda.

Kata kunci: hama, terung dan teknik kultur

PENDAHULUAN

Tanaman terung merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang yang banyak diminati oleh masyarakat untuk dikonsumsi, karena memiliki rasa yang enak, juga banyak mengandung vitamin dan gizi (Alfiandi et al., 2022; Faizin & Saputra, 2020; Sulisyawati, 2022; Widani, 2019). Selain itu, terung juga mempunyai khasiat sebagai obat karena mengandung alkaloid solanin, dan solasodin. Selain itu, buah terung dapat dikonsumsi sebagai sayuran dan dapat dijadikan sebagai makan ringan (Alfiandi et al., 2022; Amanda

& Kurniaty, 2017; Estiasih & Mustaniroh, 2015; Sahri et al., 2022; Sulisyawati, 2022) Permintaan terhadap buah terung selama ini terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk yang diikuti dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat sayur- sayuran dalam memenuhi gizi keluarga, sehingga produksi tanaman terung perlu ditingkatkan (Faizin & Saputra, 2020; Helilusiatiningsih, 2020; Poto & Rato, 2022;

Sulisyawati, 2022; Ulfa et al., 2019). Untuk meningkatkan produksi tanaman terung dapat dilakukan melalui program ekstensifikasi dan intensifikasi, namun dalam usaha peningkatan produktivitas dan efisiensi penggunaan tanah, cara intensifikasilah merupakan pilihan yang tepat untuk diterapkan salah satunya penggunaan pupuk. Pupuk yang sering digunakan adalah pupuk anorganik (Badar et al., 2021; Hisani & Herman, 2019; Mariyono et al., 2022; Putri et al., 2022). Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat merusak kualitas tanah sehingga tanaman akan kekurangan asupan hara yang diperlukan, lebih parah, tanah tanah dapat mengalami pencemaran, yaitu keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan alami tanah. Penggunaan pupuk yang organic dapat membantu kesuburan tanah (Hali & Telan, 2018; Hisani & Herman, 2019;

Putri et al., 2022).

Budidaya tanaman terung banyak sekali kendala yang dihadapi, kendala yang sering dialami oleh tanaman terung yaitu, organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT yang menyerang tanaman terung dimulai benih sampai pasca panen (I et al., 2022; Rahman et al., 2021). Akibat serangan OPT akan menyebabkan produksi tanaman akan menurun dan bahkan gagal panen. Selain itu, rendahnya hasil terung dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu, tanah yang kurang subur, tindakan budidaya yang kurang baik, kondisi iklim yang kurang mendukung serta kurangnya keahlian petani dalam menganalisis secara lebih akurat tentang kondisi dan tingkat produktivitas tanaman tersebut (Apriliyanto, 2019; Arsi et al., 2021, 2022; I et al., 2022; Jumiati & Anshary, 2021; Rahman et al., 2021; Syukur et al., 2022). Analisis pertumbuhan tanaman bermanfaat untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan suatu tanaman. Kendala utama dalam meningkatkan produksi terung di daerah tropis adalah serangan hama dan tungau. Hama utama terung diantaranya adalah penggerek pucuk dan buah terong, wereng daun, kutu putih (whitefly), thrips, aphid,

(3)

kumbang lembing, penggulung daun, penggerek batang, kumbang melepuh, tungau merah dan penyakit daun (Apriliyanto, 2019; Jumiati & Anshary, 2021; Sari et al., 2022; Syukur et al., 2022; Wulandari et al., 2019). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa terhadap populasi dan intensitas serangan hama pada pertanaman terung di Kecamatan Indralaya Utara, Sumatera Selatan

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada pertanaman Terung Hijau Timbangan, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, Map Kuning, Bambu, Spidol. Bahan yang digunakan yaitu, Tanaman Terung. Penelitian ini menggunakan metode survey atau observasi langsung di lapangan dengan pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Data yang diperoleh berupa data primer yang di dapat dari pengamatan langsung ke lapangan dan data sekunder yang di dapat dari wawancara petani atau dengan pemilik lahan. Obeservasi adalah salah satu teknik yang digunakan untuk melihat dan mengamati populasi dan gejala serangan hama pada tanaman terung, sehingga diperlukan untuk melakukan obsevasi sebagai acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Observasi dilakukan dengan cara pengamatan dan mencatat jumlah populasi dan gejala serangan hama. Wawancara dilaksanakan dengan cara melakukan percakapan dan Tanya jawab. Wawancara dilakukan dengan petani atau pemilik lahan tanaman terung seputar cara kultur teknis yang dilakukan oleh petani dalam melakukan budidaya tanaman terung dan alasan dalam memilih tanaman terung. Dokumentasi merupakan salah satu bagian dari teknik pengumpulan data. Dokumentasi sebagai bukti nyata di lapangan terhadap apa yang telah diteliti. Dokumentasi dilaksanakan untuk memperkuat data yang telah di peroleh di lapangan dengan menggunakan Kamera Handphone. Hasil dokumentasi berupa foto-foto di lapangan yang akan dilampikan sebagai data personal peneliti. Lokasi lahan yang digunakan 2 lahan yaitu, lahan tanaman terung pakai mulsa dan lagan tanaman terung tidak menggunakan mulsa. Pengamatan hama dilakukan pada Tanaman Terung Hijau dengan 2 lahan yang berberbeda. Lahan 1 Terdapat 14 Guludan. sedangkan Lahan 2 terdapat 9 Guludan. Pengamatan dilakukan Sebanyak 4 kali dengan interval waktu 1 minggu sekali, dengan mengamati bagian tanaman yang terserang hama lalu masukkan pada tabel pengamatan.

Analisis Data

Adapun data dari hasil penelitian ini ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar yang diolah dengan menggunakan uji t dengan tarif kepercayaan 5%. Adapun rumus dari uji t ini adalah

Keterangan:

X = Data pada lahan pertama Y = Data pada lahan kedua

∑D = Jumlah X-Y

∑D2 = jumlah (X-Y)2

(∑ D)2 = jumlah (X-Y) dikuadratkan

Keparahan penyakit dihitung berdasarkan gejala dengan menggunakan rumus sebagai berikut, (Prabaningrum dan Moekasan, 2014).

(4)

Keterangan:

KP = Keparahan Penyakit (%)

n = Jumlah tanaman atau bagian tanaman pada skala-v v = Nilai skala kerusakan tanaman

N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh yang diamati z = Nilai skala kerusakan tertingi

Tabel 1. Tabel skor intensitas serangan hama dan penyakit

Skor Keterangan

0 Tanaman tidak menunjukkan gejala dan terserang (0%) 1 Tanaman bergejala dan terserang dengan persentase (≤ 25%) 2 Tanaman bergejala dan terserang dengan persentase (> 25-50%) 3 Tanaman bergejala dan terserang dengan persentase (> 50-75%) 4 Tanaman bergejala dan terserang dengan persentase (≥ 75%)

HASIL

Pengamatan Tanaman Terung pada lahan pertama dan lahan kedua berumur 1 bulan pada saat pengamatan. Teknik budidaya tanaman terung pada lahan pertama, Saat pengolahan tanah dilakukan dengan membuat guludan dan tidak memakai mulsa, untuk pengendalian hama dan penyakit memakai pestisida sintetik, pemanenan dilakukan dengan memetik buah dan penjualan langsung dengan agen penjual sayur-sayuran. Keuntungan yang diperoleh tergantung harga pasaran.

Teknik budidaya tanaman terung pada lahan kedua pengolahan tanah dilakukan dengan membuat guludan dan memakai mulsa, benih diperoleh dengan membeli ditoko pertanian, untuk pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida sintetik, pemanenan dilakukan dengan memetik buah tanpa perlakuan pasca panen dan langsung dijual dengan agen pemasaran sayur-sayuran. Keuntungan yang diperoleh berdasarkan harga pasar dan kualitas produk. Kedua lahan baik yang pakai mulsa maupun tidka menggunakan mulsa pupuk kandang juga diberikan untuk pupuk dasar pada lahan tersebut. Lahan yang menggunakan mulsa pemupukkan dilakukan sebelum mulsa pasang. Pupuk yang digunakan oleh kedua lahan tersebut seperti, pupuk NPK, KCL dan TSP (Arsi et al., 2021;

Badar et al., 2021; Hisani & Herman, 2019; MARIYONO et al., 2022; Nuraida & Yulia, 2022). Akan tetapi, pada lahan yang tanpa mulsa menggunakan perangsang zat pengatur tumbuh pada tanaman tersebut. Pengendalian hama dan penyakit dilapangan lahan yang menggunakan mulsa menggunakan pestisida, untuk mengendalikan vektor penyakit.

Pestisida yang digunakan oleh petani untuk pengendalian vektor penyakit yaitu, jenis insektisida yang berbahan aktif lamda sihalotirin 106 g/l + tiametokam 141 g/l. sedangkan untuk lahan tanpa mulsa menggunakan pestisida berbahan aktif yaitu, Extramec 37 EC, Abamektin 37%, lamda sihalotirin 106 g/l + tiametokam 141 g/l, Spinetoram 60 g/l + Methoxyfenozide 300 g/l. Rotasi tanaman pada masing-masing lahan sama dalam melakukan rotasi tanaman. Rotasi tanaman bertujuan untuk mengurangi hama dan penyakit yang ada di lapangan. Jarak tanam yang digunakan oleh kedua lahan yaitu, 25 x 50 cm (Gambar 1).

(5)

Gambar 1. Lahan yang digunakan dalam penelitian lahan mulsa (a) dan lahan tanpa mulsa (b)

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa hama yang terdapat pada tanaman terung di kedua lahan pengamatan. Hama yang menyerang anakan trembesi yaitu Belalang hijau (Atractomorpha crenulata), yang memiliki tubuh terdiri toraks, abdomen dan caput. Seluruh Bagian tubuhnya memiliki warna hiaju, dan bagian toraks belalang hijau satu pasang mata majemuk, satu pasang mata antena, dan satu pasang alat-alat mulut. Kumpulan organ belalang sangat berguna untuk menjaga pusat koordinasi tubuh, mengunyah makanan, koordinasi aktifitas tubuh, dan indra persepsi. Serangga genus Epilachna sebagai hama utama tanaman terung. Fase larva dan dewasa memiliki tipe mulut menggigit mengunyah. Gejala serangan kumbang koksi dapat ditemukan pada daun tanaman terung. Daun terong memiliki kandungan nitrogen dan metabolit sekunder seperti alkaloid sehingga sangat disukai oleh serangga hama ini. Kumbang koksi akan memakan bagian lamina sedangkan bagian tulang dan urat daun tidak dikomsumsi. Hal tersebut dikarenakan lamina daun lebih lunak sehingga mudah untuk dikomsumsi. Ulat grayak merupakan salah satu ham yang menyebabkan tingkat kerusakan yang cukup parah di Indonesia dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya mencapai 23-45%. Ulat ini menyerang tanaman pada fase larva yang dimulai dari instar 1 sampai dengan instar 6. Ulat grayak yang sudah memasuki instar 4 sampai 6 memiliki gejala serangan yang berbeda yaitu tidak meninggalkan sisa-sisa bagian epidermis daun bagian atas dan tulang daun akan tetapi larva akan membentuk lubang-lubang daun yang berukuran besar.

Gambar 2. Serangga hama yang menyerang tanaman terung Belalang (Atractomorpha crenulata) (a), umbang Koksi (Epilachna sparsa) (b) dan Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Berdasarkan hasil penelitian terhadap tanaman terung terdapat 3 jenis hama yang ditemukan pada lahan mulsa dan tanpa mulsa. Intensitas serangan hama pada lahan mulsa dan tanpa mulsa berbeda signifikan. Tingkat serangan hama meningkat terus menerus selama proses pengamatan (Tabel 2).

a b

a b c

(6)

Tabel 2. Hasil pengamatan intensitas serangan hama yang menyerang tanaman terung Pengamatan

Minggu ke- Spesies Hama Intensitas Hama lahan

T Hitung T Tabel mulsa Tanpa mulsa

1

Spodoptera litura 10,00 14,00 8.00* 2,38

Epilachna sparsa 5,00 8,00 4.00* 2,38

Atractomorpha crenulata 6,00 6,00 5.00* 2,38

2

Spodoptera litura 15,00 24,00 13.00* 2,38

Epilachna sparsa 12,00 13,00 11.00* 2,38

Atractomorpha crenulata 9,00 8,00 7.00* 2,38

3

Spodoptera litura 29,00 36,00 26.00* 2,38

Epilachna sparsa 20,00 24,00 18.00* 2,38

Atractomorpha crenulata 10,00 10,00 9.00* 2,38

4

Spodoptera litura 42,00 49,00 39.00* 2,38

Epilachna sparsa 25,00 27,00 23.00* 2,38

Atractomorpha crenulata 9,00 11,00 8.00* 2,38

Keterangan : *) Berbeda nyata, tn) berbeda tidak nyata pada taraf uji P < 0,05

Hasil pengamatan intensitas serangan hama Ulat Gerayak (S. litura) selama empat kali pengamatan dengan interval waktu tujuh hari persetiap pengamatan. Intensitas serangan hama pada perbedaan teknik budidaya mengalami peningkatan dan penurunan selama empat kali pengamatan. Laju pertumbuhan intensitas serangan hama S. litura pada lahan pertama yaitu 0.71, 2.00, dan 1.85 perhari. Sedangkan laju pertumbuhan hama S. litura pada tanaman lahan kedua selama empat kali pengamatan mengalami kenaikan yaitu 1.42, 1.71,dan 1.85 perhari (Gambar 3).

Gambar 3. Intensitas serangan hama Spodoptera litura L. pada pertanaman terung

Intensitas serangan hama Kumbang Koksi (E. sparsa) pada lahan mulsa lebih rendah dibandingkan lahan tanpa mulsa. Sedangkan laju pertumbuhan intensitas serangan hama Kumbang Koksi (E. sparsa) pada tanaman lahan kedua selama empat kali pengamatan mengalami kenaikan yaitu 0.71, 1.57, dan 3.00 perhari (Gambar 4).

Hasil pengamatan intensitas serangan hama Belalang Hijau (A. crenulata) selama empat kali pengamatan dengan interval waktu tujuh hari setiap pengamatan. Laju pertumbuhan intensitas serangan hama A. crenulata pada perbedaan teknik budidaya mengalami kenaikan dan penurunan pada lahan pertama yaitu 0.42, 0.14, dan -0.14. sedangkan laju pertumbuhan intensitas serangan hama pada lahan kedua yaitu 0.28, 0.28, 0.14 (Gambar 5).

(7)

Gambar 4. Intensitas serangan hama Epilachna sparsa pada pertanaman terung

Gambar 5. Laju pertumbuhan intensitas serangan hama Atractomorpha crenulata

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada lahan yang sama dengan perlakuan berbeda dengan menggunakan mulsa dan tidak menggunakan mulsa. Varietas benih terung hijau yang digunakan petani adalah Kenari. Benih tersebut didapat dari toko pertanian. Benih terung yang di tanam merupakan benih yang hibrida. Benih hibrida merupakan benih yang unggul yang dapat menekan pertumbuhan dan perkembangan penyakit. Selain itu, benih yang unggul dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Pupuk merupakan salah satu cara untuk menambah tingkat kesuburan tanah untuk ditanamn. Petani menggunakan pupuk Kandang, NPK, TSP, dan KCL untuk lahan menggunakan mulsa, sedangkan pada lahan tanpa mulsa, pupuk yang digunakan sama, akan tetapi petani menambahkan zat pengatur tumbuh Antonik. Pupuk-pupuk yang digunakan dapat membantu petani dalam menghasilkan tanaman yang baik dan produksi yang baik (Badar et al., 2021; Hidayat et al., 2019; Hisani

& Herman, 2019; Putri et al., 2022).

Penggunaan mulsa lahan pertanian dapat membantu menjaga kelembaban. Mulsa juga dapat mengurangi tumbuhnya gulma-gulma yang dapat menganggu pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan, sedangkan lahan kedua petani tidak menggunakan mulsa.

Berdasarkan hasil penelitian lahan menggunakan mulsa, intensitas serangan hama lebih rendah dibandingkan lahan tanpa mulsa. Mulsa juga dapat mempengaruhi tingkat serangan hama ke tanaman terung. Walaupun serangga hama yang menyerang tanaman terung sama.

Pengendalian hama yang dilakukan oleh petani menggunakan pestisida. Petani menanam tanaman terung sebagai rotasi tanam, yang sebelumnya ditanami tanaman cabai. Pestisida yang digunakan menggunakan bahan aktif Abamektin 37%, bahan aktif lamda sihalotirin 106 g/l + tiametokam 141 g/l, Spinetoram 60 g/l + Methoxyfenozide 300 g/l. yang

(8)

merupakan racun kontak. Racun kontak yang digunakan oleh petani, karena serangga yang menyerang tanaman terung merupakan serangga hama yang aktif. Penggunaan pestisida ini dilakukan juga untuk penyemprotan hama pada tanaman terung. Lahan terung kedua ini memiliki karakteristik tanah yang lembab dan ditumbuhi banyak gulma.

Berdasarkan hasil penelitian menyerang tanaman terung yaitu, ulat grayak (Spodoptera litura), Kumbang Koksi (Epilachna sparsa) dan Belalalng Hijau (Atractomorpha crenulata). Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji t, diperoleh intensitas serangan hama menunjukkan hasil thitung lebih besar dari ttabel. Ketiga hama ini sama-sama menunjukkan hasil berbeda nyata pada taraf kepercayaan 5%. Adanya perbedaan teknik budidaya pada kedua lahan sehingga berpengaruh signifikan terhadap serangan hama pada tanaman terung.

Intensitas serangan hama Ulat Gerayak pada pengamatan pertama sampai dengan pengamatan keempat berdasarkan hasil analisis uji t menunjukkan adanya perbedaan nyata pada taraf kepercayaan 5% di kedua lahan pengamatan. Hasil analisis uji t untuk Intensitas serangan hama ulat gerayak pada pengamatan pertama, kedua, ketiga dan keempat menunjukkan adanya perbedaan nyata. Kemudian Intensitas hama Kumbang Koksi pada pengamatan pertama sampai dengan pengamatan keempat berdasarkan hasil analisis uji t menunjukkan adanya perbedaan nyata pada taraf kepercayaan 5% di kedua lahan pengamatan. Hasil analisis uji t untuk Intensitas serangan hama kumbang koksi pada pengamatan pertama, kedua, ketiga dan keempat menunjukkan adanya perbedaan nyata.

Dan Intensitas serangan hama belalalng hijau pada pengamatan pertama sampai dengan pengamatan keempat berdasarkan hasil analisis uji t menunjukkan adanya perbedaan nyata pada taraf kepercayaan 5% di kedua lahan pengamatan. Hasil analisis uji t untuk Intensitas serangan hama belalang hijau pada pengamatan pertama, kedua, ketiga dan keempat menunjukkan adanya perbedaan nyata. Perbedaan teknik budidaya dalam proses budidaya terung dapat mempengaruhi tingkat serangan serangga pada tanaman.

KESIMPULAN

Hama yang ditemukan pada pertanamaan terung yaitu, Spodoptera litura, Epilachna sparsa, dan Atractomorpha crenulata. Berbedanya teknik budidaya pada kedua lahan mempengaruhi intensitas serangan hama pada tanaman terung. Dengan adannya kultur teknis yang berbeda pada lahan terung berpengaruh nyata terhadap populasi hama dan intensitas serangan dari hama

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim Penelitia Dosen dan Mahasiswa Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sriwjaya

DAFTAR PUSTAKA

Alfiandi MTC, Hasbi H, Suroso B. 2022. Respon pertumbuhan dan produksi tanaman terung (Solanum melongena L.) terhadap pemberian pupuk oraganik cairazolla (Azolla pinata) dan pupuk P. National Multidisciplinary Sciences. 1 (2): 123–137.

Amanda A, Kurniaty I. 2017. Pengaruh waktu maserasi terhadap rendemen zat antosianin pewarna alami minuman jelly dari terong ungu. Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2017. 1–7.

(9)

Apriliyanto E. 2019. Intensitas serangan hama pada beberapa jenis terung dan pengaruhnya terhadap hasil. Agrotechnology Research Journal. 3 (1): 8–12. DOI:

10.20961/agrotechresj.v3i1.25254.

Arsi, Abdindra GG, Suparman, Gunawan B. 2021. Pengaruh teknik budidaya terhadap serangan penyakit pada tanaman terung ronggo (Solanum melongena) di Desa Gunung Cahya Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Jurnal Planta Simbiosa. 3 (2).

Arsi, Lailaturrahmi, Suparman SHK, Hamidson H, Pujiastuti Y, Gunawan B, Pratama R, Umayah A. 2022. Inventarisasi spesies dan intensitas serangan hama tanaman terung (Solanum melongena L.) pada dua sistem kultur teknis di Daerah Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Jurnal Agrikultura. 33 (2): 126–137.

Badar U, Jaenudin A, Wahyuni S. 2021. Pengaruh dosis pupuk kandang kambing dan urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung (Solanum melongena L.) kultivar silila.

Jurnal AGROSWAGATI. 9 (1): 1–9.

Estiasih T, Mustaniroh SA. 2015. Peningkatan performansi dan kapasitas produksi makanan sehat brownte (brownies terong) melalui alih teknologi menuju konsep ”open kitchen” dan ”franchise” sebagai oleh-oleh khas Kota Batu. Journal of Innovation and Applied Technologi. 5 (1): 44–52.

Faizin M dan Saputra DAW. 2020. Keripik terong sebagai alternatif olahan hasil pertanian dusun Pondok, Sendang, Jambon, Ponorogo. Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa. 3 (November): 79–87.

Hali AS, Telan AB. 2018. Pengaruh beberapa kombinasi media tanam organik arang sekam, pupuk kandang kotoran sapi, arang serbuk sabut kelapa dan tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung (Solanum melongena L.). Jurnal Info Kesehatan.

16 (1): 83–95.

Helilusiatiningsih N. 2020. Analisa senyawa bioaktif antioksidan dan zat gizi terhadap buah terung pokak (Solanum torvum) sebagai bahan pangan fungsional. Buana Sains.

20 (1): 7–19.

Hidayat T, Susylowati, Nazari APD. 2019. Pertumbuhan dan hasil dua jenis tanaman terung (Solanum melongena L.) dengan pengaplikasian beberapa jenis pupuk kotoran hewan. Ziraa’ah. 44 (3): 337–346.

Hisani W, Herman. 2019. Pemanfaatan pupuk organik dan arang sekam dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman terong (Selanum melogena L.).

Jurnal Pertanian Berkelanjutan. 7 (2): 147–155.

IATP, Rahayu S, Oktarianti S. 2022. Pengendalian hama tanpa pestisida kimia dalam budidaya tanaman sayuran di kelurahan Kotabaru Pontianak. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia. 2 (3): 991–998.

Jumiati, Anshar A. 2021. Aplikasi cendawan Aspergillus flavus untuk pengendalian hama kutu putih (Pseudococcus sp.) pada tanaman terung (Solanum molegenna L.). Jurnal Agrotekbis. 9 (1): 219–226.

Mariyono, Supandji, Hadiyanti N. 2022. Pengaruh dosis pupuk KCL terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terung (Solanum melongena L.). Jurnal Ilmu Pertanian dan Peternakan. 10 (1): 147–152.

Nuraida, Yulia AEY. 2022. Pengaruh pemberian kompos ampas tahu dan pupuk npk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terung ungu (Solanum melongena L.).

Jurnal Dinamika Pertanian. 38 (1): 25–34.

Poto A, Rato YYD. 2022. Strategi pengembangan usahatani terung (Solanum melongena L.) di Kebun Pratek Pertanian Universitas Nusa Nipa Indonesia. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan. 8 (1): 436–449. DOI: 10.5281/zenodo.5879963.

(10)

Prabaningrum L, Moekasan T. 2014. Pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi. Jurnal Hortikultura. 24 (2): 179–188.

Putri YS, Utamin SD, Fitriani H. 2022. Pengaruh variasi pupuk terhadap pertumbuhan benih terung hijau (Solanum melongena L.). Jurnal Kajian Biologi. 2 (1): 33–40.

Rahman RZ, Garno, Padilah TN. 2021. Sistem pakar hama dan penyakit cabai berbasis teorema bayes. Jurnal Teknik Informatika. 9 (1): 1–10.

Sahri, Fuaziah Z, Ningrum IK, Nf T, NRS N. 2022. Pemberdayaan kelompok wanita dalam pembuatan bolu terong (Borong) untuk meningkatkan perekonomian. Indonesian Community Journal. 2 (1): 1–7.

Sari KN, Prawanto A, Rasyid M, Wildayana M, Syahrin A. 2022. Efektivitas ekstrak daun serai (Cymbopogon citratus) untuk pengendalian serangan wereng hijau pada tanaman terung. Jurnal Ilmu Tanaman. 2 (1): 29–34.

Sulisyawati F. 2022. Penerapan metode enkapsulasi dalam pembuatan minu- man serbuk sari buah terong belanda (Solanum beta- ceum). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian. 2 (7): 20–27.

Syukur A, Aidawawati N, Rosa HO. 2022. Kemampuan Pseudomonas kelompok fluorescens dan Bacillus spp. menghambat perkembangan Fusarium spp. penyebab penyakit layu tanaman terung. Proteksi Tanaman Tropika. 5 (1): 429–435.

Ulfa R, Harsanti RS, Azis MR. 2019. Analisis penggunaan bahan pengemas pada manisan kering terong hijau (Solanum melongena L.). Jurnal Biologi dan Pembelajaran Biologi.

4 (1): 45–54.

Widani NL. 2019. Penyuluhan pentingnya konsumsi buah dan sayur pada remaja di sos desataruna Jakarta. Jurnal PATRIA. 1 (1): 57–68.

Wulandari DR, Sudana IM, Singarsa IDP. 2019. Tingkat fekunditas nematoda (Meloidogyne spp .) pada beberapa tanaman yang tergolong Familia Solanaceae. Jurnal Agroekoteknologi Tropika. 8 (4): 468–477.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik warna hitam dan hitam-perak nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil terung baik yang ditanam secara

MONITORING PENYAKIT VIRUS KUNING KERITING (Yellow Leaf Curl Virus) PADA TANAMAN Terung (Solanum.. Melongena) DI KECAMATAN

Musnamar (2003) bahwa pemberian bahan organik jenis bokashi ke dalam tanah adalah hal yang sangat penting dilakukan untuk mempertahankan lahan pertanian agar tetap

SOSIALISASI BUDIDAYA TANAMAN PINANG BETARA ARECA CATECHU L PENGOLAHAN LAHAN, PEMELIHARAAN DAN PANEN DI DESA OMBOLATA KECAMATAN AFULU KABUPATEN NIAS UTARA Karunia Gea1,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,