Sebagai kelanjutan dari seri buku sebelumnya, pada kesempatan ini diterbitkan seri buku terkait manajemen internal dengan topik Pengelolaan Cadangan Devisa di Bank Indonesia. Buku Seri Bank Sentral ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan tentang pengelolaan cadangan devisa oleh bank sentral dan ditulis dalam empat bab.
Seputar Cadangan Devisa
Pengertian Cadangan Devisa
Pembahasan mengenai pengelolaan cadangan devisa dapat dilihat dari dua aspek terkait, yaitu konsep cadangan devisa dan aspek pengelolaan devisa. tujuan memiliki cadangan devisa; dan komponen cadangan devisa. Untuk pengelolaan cadangan devisa, diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan manajemen risiko dan portofolio, termasuk pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan jumlah cadangan devisa dan komposisinya, aspek kelembagaan dan aspek transparansi.
Komponen Cadangan Devisa
Transaksi emas moneter dinilai berdasarkan harga pasar dari transaksi yang mendasarinya, sedangkan harga pasar digunakan untuk menilai posisi cadangan devisa yang berpengaruh pada akhir periode. Pembelian IMF dari negara-negara tersebut akan menyebabkan peningkatan devisa di dalam negeri dan penurunan posisi cadangan devisa anggota di IMF.
Tujuan Kepemilikan Cadangan Devisa
Pengelolaan Cadangan Devisa
Tujuan dan Prinsip Pengelolaan Cadangan Devisa
Selain itu, pengelolaan cadangan devisa yang buruk dapat menyebabkan kerugian baik secara finansial maupun reputasi. Meskipun pada hakekatnya ketiga prinsip tersebut sama pentingnya, namun dalam pengelolaan cadangan devisa umumnya prinsip pertama dan kedua lebih diutamakan.
Faktor yang Berpengaruh Terhadap Strategi Pengelolaan
- Kecukupan Cadangan Devisa
- Komposisi Mata Uang Cadangan Devisa
Jika kurs ditetapkan di atas harga pasar, pemerintah/otoritas moneter akan menjual mata uang asing atau cadangan mata uang asing. Dalam sistem ini, otoritas moneter pada dasarnya tidak membutuhkan cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar.
Kerangka Kerja Manajemen Risiko
Risiko ini pada dasarnya terdiri dari dua jenis, yaitu (a) risiko pendanaan (arus kas), yaitu risiko yang timbul karena lembaga tidak mampu menghimpun dana untuk memenuhi kewajibannya pada waktu yang ditentukan dan (b) risiko atau risiko likuiditas pasar. timbul karena institusi tidak dapat dengan mudah menyinkronkan posisi tertentu dengan harga pasar di masa lalu karena kondisi likuiditas pasar yang tidak memungkinkan. Sehubungan dengan berbagai jenis risiko tersebut di atas, pengelolaan cadangan devisa memerlukan adanya suatu kerangka yang mampu mengidentifikasi dan menilai risiko yang mungkin timbul dari aktivitas. Manajemen risiko ini dilakukan melalui pengukuran eksposur dan jika diperlukan diperlukan prosedur pendukung untuk mengurangi potensi dampak risiko yang mungkin timbul.
Selain hal tersebut di atas, kegiatan pemantauan ini juga bertujuan untuk memverifikasi apakah hasil yang diperoleh seimbang dengan risiko yang diambil. Verifikasi dan audit merupakan proses untuk menilai apakah proses manajemen risiko yang diterapkan telah dilakukan secara efektif sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.
Manajemen Portofolio/Investasi
Berkaitan dengan ketiga tujuan pengelolaan devisa yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu keamanan, likuiditas dan keuntungan, maka masing-masing lembaga pengelola cadangan devisa (Bank Sentral/Otoritas Moneter) memiliki risk appetite yang berbeda. Secara umum, bank sentral memandang perannya dalam pengelolaan cadangan devisa sangat konservatif, yang tercermin dari filosofi investasinya yang cenderung menghindari risiko (risk aversion) sehingga yang diinvestasikan hanya surat berharga yang berkualitas tinggi dan berjangka pendek ( Fisher at .al, 2001). Namun bank sentral yang memiliki cadangan devisa relatif besar untuk kewajiban luar negerinya sudah mulai melakukan investasi dengan konstruksi portofolio yang lebih efisien, yaitu dengan lebih mengutamakan aspek keuntungan daripada aspek keamanan dan likuiditas dengan memilih risk appetite yang lebih besar.
Dalam pengelolaan portofolio, bank sentral sebagai upaya optimalisasi kegiatan investasi terkait dengan volume kewajiban internasional biasanya membagi cadangan devisa menjadi beberapa sub-portofolio (tranche) yang disesuaikan dengan tujuan pengelolaan cadangan devisa. Meskipun tidak ada ketentuan yang pasti, namun secara umum penentuan proporsi cadangan devisa yang dialokasikan pada masing-masing subportofolio biasanya didasarkan pada beberapa pertimbangan terkait dengan tujuan diadakannya cadangan devisa tersebut dan faktor-faktor seperti misalnya.
Kerangka Kerja Kelembagaan
Sumber: Materi mata kuliah Paket I Lanjutan “Peran Manajemen Risiko dalam Optimalisasi Pengelolaan Cadangan Devisa” yang disusun oleh Tim Manajemen Risiko DPD RI. Selain memberikan arahan strategis, Dewan juga harus memantau pelaksanaan pengelolaan devisa minimal satu kali dalam setahun. Komite ini biasanya diketuai oleh seorang anggota Dewan yang bertanggung jawab atas pengelolaan cadangan devisa.
Saat ini, dalam kerangka operasional, lembaga umumnya membentuk unit manajemen risiko tersendiri untuk memantau dan mengendalikan pengelolaan cadangan devisa sehari-hari. Hal lain yang dianggap penting dalam kerangka kelembagaan adalah pengawasan yang efektif terhadap pelaksanaan operasional pengelolaan cadangan devisa.
Akuntabilitas dan Transparansi
SDDS antara lain mengatur bagaimana pencatatan dan pelaporan berbagai indikator ekonomi negara anggota, termasuk pelaporan cadangan devisa yang dipantau oleh otoritas moneter. Sehubungan dengan dikeluarkannya ketentuan SDDS, IMF berhak mengaudit proses pencatatan cadangan devisa apabila diperlukan dengan menunjuk auditor standar internasional, misalnya Price Water House Cooper (PWC)24.
Tujuan Cadangan Devisa di Beberapa Negara
Sementara itu, mengenai jumlah cadangan devisa yang harus dimiliki negara, hasil penelitian lembaga-lembaga tersebut di atas menggambarkan bahwa (a) sulit untuk menentukan besarnya cadangan devisa yang optimal yang harus dimiliki suatu negara; cadangan devisa sebesar $800 miliar mungkin terlalu besar, tetapi cadangan devisa sebesar $5 miliar mungkin terlalu kecil; (b) negara yang menganut sistem nilai tukar tetap membutuhkan dukungan cadangan devisa penuh, sedangkan negara yang menganut sistem nilai tukar mengambang membutuhkan cadangan devisa yang relatif sedikit untuk melakukan kebijakan moneter, dan (c) cadangan devisa dapat mengurangi serangan spekulatif; Bank-bank sentral di negara-negara Asia sejak tahun 1997 telah meningkatkan cadangan devisanya.
Penerapan Kerangka Kerja Kelembagaan
Penerapan Strategi Pengelolaan Cadangan Devisa
Semakin besar kebutuhan untuk mengoptimalkan pengelolaan cadangan devisa, semakin penting untuk menerapkan tolok ukur sebagai sarana yang efektif untuk mengelola keseimbangan antara risiko dan pengembalian investasi. Karena arus kas dan arus keluar dari cadangan devisa tidak stabil dan mata uang yang digunakan untuk intervensi adalah USD, maka acuan yang digunakan adalah suku bunga instrumen jangka pendek dalam USD. Dalam setiap benchmark, disediakan ruang bagi staf yang mengelola cadangan devisa untuk memanfaatkan perkembangan pasar, namun dibatasi dengan langkah-langkah untuk meminimalkan risiko, khususnya risiko pasar.
Temuan lain dari survei Pringle dan Carver mengenai kegiatan pengelolaan cadangan devisa adalah sebagai berikut. 3) Persentase 50% responden mengelola cadangan devisa dengan tujuan utama tercapainya kecukupan cadangan devisa bruto, faktor yang paling berpengaruh adalah pelunasan utang luar negeri dan kebutuhan impor barang dan jasa.
Penerapan Transparansi
Tujuan pengelolaan cadangan devisa dalam jangka panjang adalah untuk menjaga daya beli riil. Tujuan pengelolaan cadangan devisa adalah untuk (1) mendukung kebijakan moneter, yang merupakan bagian integral dari kebijakan pemeliharaan nilai tukar, (2) membantu negara dalam pembayaran utang luar negeri secara tepat waktu, dan (3) membiayai impor. kegiatan untuk mendukung kegiatan ekonomi di rumah. Struktur pengelolaan cadangan devisa dapat dibagi menjadi dua level, yaitu level strategis dan level operasional.
Pengukuran dan pemantauan risiko likuiditas dalam pengelolaan cadangan devisa dilakukan oleh Bank Indonesia dengan memperhatikan (a) arus kas yang diharapkan, yaitu dengan menilai kemungkinan pembiayaan jangka pendek baik harian maupun jangka menengah ( 3-4 bulan sebelumnya). Evaluasi kinerja dilakukan baik dalam pengelolaan cadangan devisa yang dilakukan secara internal oleh Bank Indonesia maupun dalam pengelolaan cadangan devisa oleh klien eksternal yaitu external portfolio manager (EPM). Metode return on investment assets (ROIA)17 digunakan untuk mengukur dan memantau kinerja pengelolaan cadangan devisa yang dilakukan secara internal oleh Bank Indonesia.
Pengelolaan cadangan devisa Bank Indonesia, makalah yang disampaikan pada seminar sehari portofolio dan manajemen risiko cadangan devisa.
Contoh Pengelolaan Cadangan Devisa di Hongkong
Gambaran Umum
Di Indonesia, pengaturan mengenai lembaga yang berwenang mengelola cadangan devisa diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia No. Berdasarkan pasal 13 undang-undang tersebut, Bank Indonesia berwenang mengelola cadangan devisa dalam rangka pelaksanaan pengendalian kebijakan moneter. Dalam pengelolaan cadangan devisa, Bank Indonesia harus berupaya semaksimal mungkin agar cadangan devisa mencapai jumlah yang dianggap cukup untuk melaksanakan kebijakan moneter.
Jenis transaksi valuta asing yang dapat dilakukan oleh Bank Indonesia dalam kegiatan penanaman modal yang berkaitan dengan pengelolaan cadangan devisa antara lain pembelian, penjualan dan/atau penempatan emas, valuta asing dan surat berharga secara tunai atau berjangka. Kegiatan pengelolaan cadangan devisa dilakukan dengan melakukan berbagai jenis transaksi valuta asing, yang meliputi transaksi pembelian dan penjualan serta penempatan valuta asing, emas dan surat berharga valuta asing.
Kelembagaan Unit Kerja Pengelola Cadangan Devisa
Selain penanaman cadangan devisa yang dilakukan secara eksklusif oleh Bank Indonesia, pengelolaan cadangan devisa juga dilakukan oleh fund manager eksternal (EPM atau External Portfolio Manager) yang ditunjuk oleh Bank Indonesia dalam kondisi tertentu. EPM yang digunakan oleh Bank Indonesia adalah lembaga keuangan internasional dengan kualifikasi yang baik, serta memiliki filosofi dan tujuan investasi yang sama dengan Bank Indonesia. Front office Bank Indonesia memiliki dua fungsi yaitu (1) fungsi pengelolaan likuiditas valuta asing (treasury) dan transaksi valuta asing di pasar obligasi (bond market), pasar uang (money market), pasar emas (gold market), pasar luar negeri pasar valuta asing (foreign exchange market), dan pasar keuangan lainnya; dan (2) fungsi pemantauan informasi pasar secara up-to-date, tepat waktu dan terpercaya melalui sarana komunikasi antara lain Reuters News, Telerate, Bloomberg, Reuters, serta informasi dari peer Bank Indonesia.
Transaksi valuta asing dilakukan dengan menggunakan peralatan pendukung transaksi seperti Reuter Monitor Dealing System (RMDS), telepon, teleks dan faksimili. Fungsi back office Bank Indonesia meliputi (1) penyelesaian transaksi valuta asing yang dilakukan oleh biro MDNT di Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan tertentu, dan (2) melakukan rekonsiliasi rekening di bank koresponden (rekening nostro) dan rekening kustodian.
Struktur dan Mekanisme Pengambilan Keputusan
Strategi Manajemen Risiko
- Pengembangan Sistem Tresuri
- Pengukuran dan Monitoring Risiko
- Evaluasi Kinerja
- Pelaporan Risiko
Sedangkan dalam lingkup pelaksanaan sterilisasi/intervensi, DPD mengacu pada arah dan kebijakan umum yang ditetapkan oleh Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Untuk mengelola risiko tersebut, Bank Indonesia menetapkan limit counterparty yang mencerminkan toleransi eksposur investasi pada instrumen pasar uang dan transaksi valuta asing. Selain mengacu pada pemeringkatan yang dilakukan pihak eksternal, DPD juga menghitung limit yang disiapkan secara internal, antara lain dengan menetapkan limit berdasarkan persentase tertentu dari cadangan devisa Bank Indonesia.
Untuk mengelola risiko kredit tersebut, Bank Indonesia secara aktif memantau kemungkinan terjadinya perubahan peringkat counterparty yang akan mempengaruhi perubahan limit level. Meskipun tidak ada pengukuran risiko operasional secara formal dalam melakukan investasi, Bank Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk mengelola risiko tersebut, antara lain upaya-upaya sebagai berikut:
Sistem Tresuri
Laporan Evaluasi Kinerja Manajemen Cadangan Valas berisi laporan tentang (a) evaluasi kinerja pengelolaan dana yang dilakukan oleh Biro MDNT sehubungan dengan tolok ukur dan kepatuhan terhadap pedoman investasi. Pemantauan kegiatan Pengelolaan Cadangan Devisa oleh External Manager (EPM) dilakukan setiap hari, sedangkan evaluasi kinerja dilaporkan setiap bulan. Laporan di atas ditujukan kepada pimpinan DPD dan Wakil Gubernur dalam rangka pengawasan kegiatan pengelolaan cadangan devisa, sehingga dapat memberikan masukan yang berguna untuk menentukan arah kegiatan penanaman modal dan membuat antisipasi kebijakan bila diperlukan.
Bank Indonesia menggunakan kemampuan sistem aplikasi Intellimatch untuk mencocokkan data rekening akuntansi dengan data dari pengelolaan portofolio; informasi akun nostro dengan informasi akun akuntansi; serta informasi akun trust SSB dengan informasi manajemen portofolio. Anda dapat membaca alur kerja dan aliran data sistem treasury pada gambar di bawah ini.
Transparansi
Mengingat pentingnya kecukupan cadangan devisa yang dimiliki suatu negara, maka aspek pengelolaannya mendapat perhatian yang cukup besar. Sebagai acuan, beberapa lembaga internasional, termasuk IMF, berpendapat bahwa pengelolaan cadangan devisa memerlukan sistem, organisasi, dan prinsip pengelolaan yang dapat menjamin keamanan, likuiditas, dan profitabilitas. Karena kewenangan yang cukup besar diberikan kepada otoritas moneter atau bank sentral dalam pengelolaan cadangan devisa tersebut maka aspek transparansi dan akuntabilitas menjadi penting.
Dengan makin diutamakannya prinsip profitabilitas, maka strategi manajemen risiko dalam pengelolaan cadangan devisa akan semakin penting di masa mendatang. Kajian strategi pengelolaan cadangan devisa di berbagai bank sentral di wilayah kerja KPW BI Singapura, Singapura.