• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan dan Penyadartahuan Manfaat Intangible Hutan pada Masyarakat Dusun Rabakuan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Pengenalan dan Penyadartahuan Manfaat Intangible Hutan pada Masyarakat Dusun Rabakuan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 268 p-ISSN 2829-419X

Seminar Nasional Pengabdian Fakultas Pertanian UNS Tahun 2021

“Penguatan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Era New Normal melalui PenerapanTeknologi Tepat Guna Bidang Pertanian”

Pengenalan dan Penyadartahuan Manfaat Intangible Hutan pada Masyarakat Dusun Rabakuan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur

Emi Roslinda1, Deny Hardiansyah2, Adi Siswoyo1, Nikomedes Nantah1, dan Ningsih1

1FakultasKehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak 78124

2Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur, Sanggau 78516

Email: [email protected]

Abstrak

Masyarakat Dayak dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, namun dengan banyaknya alih fungsi lahan hutan untuk penggunaan lain, menyebabkan terjadinya pergeseran akan pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat. Tujuan pengabdian ini adalah menjelaskan tentang pentingnya hutan beserta fungsi dan manfaat intangible yang terkandung di dalamnya dalam menopang kehidupan sehari-hari. Mitra dalam kegiatan ini adalah masyarakat dusun Rabakuan yang terdiri dari pemuda, ibu-ibu, aparat desa, pemangku adat dan anggota kelompok tani hutan. Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan sosialisasi manfaat intangible hutan dan pendekatan partisipatif menggunakan latihan penilaian manfaat penggunaan lahan yang ada dengan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, serta diskusi sebagai media komunikasi dua arah. Hasil pelaksanaan kegiatan mencatat masyarakat menyadari bahwa hutan memiliki banyak manfaat yang bersifat intangible bagi masyarakat sebagai sumber air, pengatur iklim mikro, merupakan warisan, menyediakan mata pencaharian dan kesejahteraan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dengan banyak tumbuhan dan hewan yang berharga dan penting bagi kehidupan.

Kata kunci: hutan, manfaat intangible, latihan penilaian

Pendahuluan

Hutan memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat hutan terdiri atas manfaat yang bersifat tangible dan yang intangible (Nurfatriani dan Nugroho, 2007).

Manfaat tangible hutan adalah manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung dan terukur berupa kayu dan hasil hutan non kayu seperti buah-buahan, bambu, rotan, dan lain-lain. Sementara manfaat intangible hutan adalah manfaat yang tidak nyata dan sulit untuk diukur berupa manfaat

(2)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 269 p-ISSN 2829-419X

pewarisan, keanekaragaman hayati, perlindungan lingkungan dan lain-lain. Karena sulit terukur dan dinilai, maka manfaat intangible ini sering tidak diperhitungkan keberadaannya baik oleh masyarakat sekitar hutan dan masyarakat secara umum, padahal kenyataannya manfaat intangible hutan memberikan nilai potensi yang lebih besar dibandingkan manfaat tangible hutan (Roslinda et al., 2017; Roslinda, 2019; Roslinda et al., 2020). Kenyataan ini harus diketahui dan disadari oleh masyarakat agar eksploitasi hutan yang berlebihan dan alih fungsi lahan hutan untuk pemanfatan lainnya bisa dilakukan dengan bijaksana.

Masyarakat Dayak dan hutan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, karena hutan merupakan sumber penghidupan (Iskandar dan Ginanjar, 2002; Lahajir, 2002). Untuk kebutuhan makanan pokok masyarakat Dayak umumnya tergantung pada pertanian ladang (Samsoedin et al., 2010, Muryanti dan Rokhiman, 2016, Yogi 2018) dan kebutuhan lainnya tergantung pada hutan (Liswanti et al., 2004; Munawaroh et al., 2011; Neil et al., 2016). Seiring dengan kemajuan zaman, kegiatan pembangunan dan berjalannya waktu, sudah terjadi perubahan bentang lahan dan pemanfaatan lahan, sehingga luasan hutan yang ada juga semakin berkurang dan mengalami degradasi yang menyebabkan ketergantungan terhadap hutan juga berkurang. Areal hutan dialihfungsikan ke pemanfaatan yang lebih cepat menghasilkan manfaat yang langsung dapat dinikmati hasilnya. Karena manfaat tidak langsung dari hutan berupa fungsi-fungsi ekologis belum dihitung secara ekonomis dan belum disadari sebagai penopang dari pemanfaatan yang sifatnya menghasilkan manfaat langsung.

Situasi seperti ini menjadi ancaman dalam mempertahankan dan melestarikan hutan yang masih tersisa, terutama pada daerah-daerah yang masih ada hutannya atau pada desa-desa yang berada dalam kawasan hutan. Dusun Rabakuan merupakan salah satu desa yang masih memiliki sumberdaya hutan yang cukup baik dan berada dalam binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur. Di dusun ini masyarakat umumnya mengelola sawah untuk bertanam padi, disamping tetap membuat ladang sebagai identitas. Kebun karet dan kebun sawit juga menjadi sumber pendapatan masyarakat, dimana kebun sawit lebih menjadi pilihan untuk saat ini. Kebun karet tua dan bekas ladang sudah banyak berubah menjadi kebun sawit, karena lebih mudah untuk dijual hasilnya. Bentuk lahan lainnya adalah tembawang (hutan rakyat tradisional masyarakat dayak yang berisikan pohon-pohon dan tanaman bawah lainnya) dan hutan alam yang umumnya berada di bukit-bukit sekitar pemukiman penduduk.

Karena bergantung pada sawah untuk pemenuhan kebutuhan pokok, masyarakat cenderung tidak begitu menganggap penting akan keberadaan lahan hutan. Padahal dengan adanya hutan yang masih baik kondisinya, kebutuhan akan air untuk pengairan sawah mereka tetap tersedia.

(3)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 270 p-ISSN 2829-419X

Selain itu, kebutuhan air rumah tangga juga tersedia secara cuma-cuma, udara sekitar masih segar yang semuanya membuat masyarakat nyaman untuk bermukim. Dimana manfaat tersebut adalah manfaat intangible dari keberadaan hutan. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu adanya pengenalan dan penyadartahuan kepada masyarakat tentang manfaat intangible hutan melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya dalam perlindungan dan pengamanan hutan. Kegiatan pengenalan dan penyadartahuan manfaat intangible hutan diperlukan karena masih banyak masyarakat sekitar hutan yang tidak tahu bagaimana memperlakukan hutan dengan bijaksana, termasuk menjaga, memanfaatkan dan melestarikan hutan. Tujuan pengabdian ini adalah menjelaskan tentang pentingnya hutan beserta fungsi dan manfaat intangible yang terkandung di dalamnya dalam menopang kehidupan sehari- hari.

Metode

Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada bulan Oktober 2021 di dusun Rabakuan desa Tanggung kecamatan Jangkang kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat, yang termasuk dalam wilayah pengelolaan KPH Sanggau Timur. Mitra yang terlibat dalam kegiatan adalah masyarakat dusun yang diwakili oleh para pemuda, kaum perempuan, aparat desa, tetua adat dan anggota kelompok tani hutan. Metode kegiatan dilakukan dengan metode community development practice, yaitu pengembangan pemberdayaan masyarakat dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek dan sekaligus objek pembangunan dan melibatkan mereka secara langsung dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat sebagai upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan demi kepentingan masyarakat(Vincent, 2009). Tahapan kegiatan terdiri dari: persiapan, pelaksanaan berupa sosialisasi dan diskusi serta evaluasi.

Metode kegiatan dilakukan dengan melakukan sosialisasi manfaat intangible hutan dan pendekatan partisipatif menggunakan latihan penilaian manfaat penggunaan lahan yang ada dengan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, serta diskusi sebagai media komunikasi dua arah. Kegiatan penilaian dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (Sheil et al., 2002 dan 2004). Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti, maksudnya sebelum kegiatan dimulai, pengabdi memperkenalkan setiap kartu bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan, dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua peserta pengabdian. Setelah diberikan penjelasan dan contoh, para informan kemudian di minta untuk menyebarkan alat penghitung (berupa biji saga) di atas kartu-kartu tersebut menurut

‘kepentingan’ masyarakat lokal. Sebagai ilustrasi, jika 10 biji diletakkan di kartu ‘sawah’ dan 5

(4)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 271 p-ISSN 2829-419X

biji di kartu ‘hutan’, ini artinya lahan sawah adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan hutan.

Hasil dan Pembahasan Kegiatan Persiapan

Kegiatan persiapan diawali dengan melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Tanggung melalui KPH Sanggau Timur, yang selanjutnya diarahkan langsung kepada kepala dusun dan ketua adat di dusun Rabakuan. Pada tanggal 7 Oktober 2021 dilakukan koordinasi langsung dengan ketua adat dan kelompok tani, dan melakukan observasi di sekitar tembawang masyarakat bersama dengan pihak KPH Sanggau Timur.

Gambar 1. Koordinasi dengan ketua adat, kelompok tani dan pihak KPH Sanggau Timur Hasil koordinasi, disepakati kegiatan PKM dikuti semua perwakilan masyarakat yang ada yaitu sekitar 30 orang. Pelaksanaan sosialisasi disepakati di tempat pertemuan di sekitar Riam Odong. Pada tahap persiapan ini juga pengabdi menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, disertakan juga alat peraga untuk pelaksanaan penilaian manfaat penggunaan lahan berupa gambar-gambar yang mewakili tipe-tipe lahan yang ada di lokasi pengabdian.

Kegiatan Pelaksanaan

Pelaksanaan pengabdian dilakukan pada hari Sabtu, 16 Oktober 2021 yang diikuti oleh para pemuda, kaum perempuan, aparat desa, tetua adat dan anggota kelompok tani hutan yaitu sekitar 30 orang. Kegiatan diawali dengan melakukan penilaian terhadap tipe-tipe penggunaan lahan yang ada, berupa sawah, ladang, kebun karet, kebun sawit, tembawang dan hutan sekunder seperti tergambar di Gambar 2.

Selanjutnya adalah penyuluhan/sosialisasi yang disampaikan oleh pengabdi dan juga pihak KPH Sanggau Timur. Materi sosialisasi berisikan penjelasan tentang manfaat-manfaat intangible hutan yang selama ini dirasakan dan digunakan, tapi tidak dianggap penting, Karena masih

(5)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 272 p-ISSN 2829-419X

tersedia dan digunakan secara gratis, seperti penyedia air bersih baik untuk konsumsi rumah tangga dan untuk produksi pertanian sawah masyarakat.

Gambar 2. Tipe penggunaan lahan di Dusun Rabakuan

Gambar 3. Pelaksanaan penilaian, sosialisasi dan FGD

Kegiatan selanjutnya adalah melakukan diskusi kelompok, membahas dan mendiskusikan hasil penilaian yang sudah dilakukan di awal kegiatan dengan materi yang sudah disampaikan saat sosialisasi. Selama pemaparan materi dan diskusi berlangsung, terlihat peserta dengan

(6)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 273 p-ISSN 2829-419X

seksama menyimak untuk memahami materi yang diberikan dan aktif bertanya untuk hal-hal yang belum jelas. Diskusi yang terjadi juga sangat dinamis, menunjukkan antusiasme peserta memahami tentang manfaat intangible hutan. Disaat diskusi proses penyadartahuan dilakukan, sehingga diharapkan masyarakat sadar dan semakin paham akan pentingnya ekosistem hutan tetap ada dan dipertahankan di lingkungan mereka. Hasil diskusi dan perubahan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya hutan yang memberikan manfaat tak langsung ini dapat dilihat dari hasil penilaian yang dilakukan setelah diskusi group terfokus dilaksanakan.

Kegiatan Evaluasi

Evaluasi kegiatan diperoleh penilaian sebelum dan sesudah kegiatan sosialisasi dan diskusi dilakukan, seperti yang tergambar pada Gambar 4.

Gambar 4. Perubahan pengetahuan peserta mengenai manfaat intangible hutan

Berdasarkan Gambar 4 diketahui para pemuda lebih mengetahui (mengenal dan menyadari) tentang manfaat intangible hutan bagi kehidupan dibanding kelompok masyarakat lainnya, dikarenakan para pemuda lebih aktif mencari dan mendapatkan informasi mengenai hal tersebut. Sementara kelompok masyarakat lainnya, lebih menilai manfaat hutan dari nilai moneternya. Namun setelah dilakukan kegiatan ini, pemahaman tentang manfaat intangible hutan terjadi peningkatan. Kelompok wanita mengalami peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan, karena mereka menyadari manfaat-manfaat yang diperoleh secara cuma-cuma saat ini, jika harus dibayar memerlukan biaya yang cukup besar. Sementara anggota kelompok tani dan ketua adat juga semakin menyadari tentang manfaat intangible hutan bagi kehidupan sehari- hari.

Kesimpulan dan Saran

0 2 4 6 8 10

Pemuda Wanita Kelompok Tani Ketua adat

Pengetahuan mengenai manfaat intangible hutan

Sebelum Sesudah

(7)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 274 p-ISSN 2829-419X

Pengabdian yang dilakukan untuk mengenalkan dan menyadartahukan masyarakat terhadap manfaat intangible hutan mendapatkan antusias dari semua peserta. Selama ini manfaat- manfaat intangible hutan belum dimaknai dan dinilai, karena dirasakan selalu tersedia dan diperoleh secara cuma-cuma tanpa membayar. Adanya sosialisasi dan diskusi yang dilakukan oleh tim pengabdi membuat masyarakat mengenal dan menyadari akan manfaat-manfaat tersebut dan diharapkan dapat memperlakukan hutan dengan bijaksana, termasuk menjaga, memanfaatkan dan melestarikannya.

Kegiatan pengenalan dan penyadartahuan tentang manfaat intangible hutan perlu ditindaklanjuti dengan aksi nyata melakukan pelestarian dan menanami kembali lahan hutan yang saat ini sudah rusak. Kegiatan ini memerlukan dukungan dari semua pihak yaitu masyarakat, aparat desa, pihak KPH dan pihak pemerintah, sebagai upaya melestarikan hutan, agar manfaat-manfaat hutan terus dapat dinikmati.

Ucapan Terimakasih

Terimakasih disampaikan kepada KPH Sanggau Timur yang sudah memfasilitasi dan semua masyarakat dusun Rabakuan yang berperan aktif dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini.

Daftar Pustaka

Iskandar, J dan Ginanjar A. 2002. Perubahan pengelolaan hutan oleh masyarakat Dayak akibat kegiatan HPH/HPHH di Kutai Barat Kalimantan Timur. Jurnal Sosiohumaniora 4(3): 209- 223.

Lahajir. 2002. Ethnoekologi Perladangan Orang Dayak tujung Linggang. Yogyakarta: Galang Press.

Liswanti N, Indawan A, Sumardjo, Sheil D. 2004. Persepsi masyarakat Dayak Merap dan Punan tentang pentingnya hutan di lansekap hutan tropis di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 10(2):1-13.

Munawaroh E, Saparita R, Purwanto Y. 2011. Ketergantungan masyarakat pada hasil hutan non kayu di Malinau Kalimantan Timur: Suatu Analisis Etnobotani dan Implikasinya Bagi Konservasi Hutan. Bogor: LIPI.

Muryanti dan Rokhiman. 2016. Bambi Ari’ sebagai wujud kearifan lokal masyarakat dayak dalam penanganan bencana kabut asap di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. 2016.

Sosiologi Reflektif. 11(1):21-39.

Neil A, Golar, Hamzari. 2016. Analisis ketergantungan masyarakat terhadap hasil hutan bukan kayu pada Taman Nasional Lore Lindu. e-Jurnal Mitra Sains 4(1): 29-39.

(8)

e-ISSN 2829-3134 Vol 1, No. 1 (2021) 275 p-ISSN 2829-419X

Nurfatriani, F dan Nugroho IA. 2007. Manfaat hidrologis hutan di hulu DAS Citarum sebagai jasa lingkungan bernilai ekonomis. Info Sosial Ekonomi 7(3): 175-194.

Roslinda, E, Kartikawati, S.M., dan Rabudin. 2017. Economic valuation for tembawang ecosystem, in Sanggau District, West Kalimantan. Biodiversitas 18(4): 1506-1516.

Roslinda, E. 2019. Economic valuation of the Danau Sentarum National Park, West Kalimantan, Indonesia. Biodiversitas. 20(7): 1983-1989.

Roslinda, E, Munir, A, Haryono, A, dan Ansyari A. 2020. Nilai ekonomi Arboretum Sylva Universit4as Tanjungpura Pontianak. Jurnal Sylva Lestari 8(1): 42-53.

Samsoedin I, Wijaya A, Sukiman H. 2010. Konsep tata ruang dan pengelolaan lahan pada masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan 7(2): 145-168.

Vincent, I.I.J.W. 2009. Community development practice. In Philips R, Pittman RH (Editor). An Introduction to Community Development. Page: 58–74. New York (US): Routledge.

Yogi IBPP. 2018. Padi gunung pada masyarakat Dayak, sebuah budaya bercocok tanam penutur Austronesia (melalui pendekatan Etnoarkeologi). Forum Arkeologi 31(1): 45-52.

Referensi

Dokumen terkait

Based on data analysis that has been carried out, the cultivation of Islamic values in Muhammadiyah schools is carried out through making teachers role models for

Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat ISSN 2963-2552 Volume 2 Nomor 1, Mei 2023 Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM Di Desa Sembung” yang dalam hal ini mengambil objek