• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Jenis Biaya

N/A
N/A
zainal

Academic year: 2024

Membagikan " Pengertian dan Jenis Biaya"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Jenis dan Estimasi

Biaya Sulistyowati ST., MT

(2)

2.1. Pengertian Biaya

• Dalam ilmu ekonomi biaya adalah semua ‘beban’ atau

pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan

keluaran tertentu (output). Biaya dapat berbentuk uang,

barang, tenaga maupun kesempatan.

(3)

2.2. Jenis Biaya

• Cara klasifikasi biaya dibagi menurut sifat, waktu, penggunaan dan proses produksi.

Cara klasifikasi dapat digunakan sesuai dengan keadaan data di lapangan.

2.2.1. Klasifikasi biaya menurut sifat

1. Eksplisit : adalah biaya yang benar-benar terjadi. Biasanya biaya ini ditandai dengan pengurangan sejumlah uang sebagai pembayaran.

2. Implisit : adalah biaya yang ‘tidak terlihat’, tetapi tetap penting untuk diperhitungkan. Biaya implisit dapat diartikan sebagai representasi dari nilai dan/atau manfaat yang hilang Ketika sumber daya dialokasikan untuk melakukan kegiatan bisnis. Dalam ilmu ekonomi, opportunity cost merupakan salah satu biaya implisit yang sering dijadikan pertimbangan.

Opportunity Cost = Eksplisit Cost + Implisit Cost

3

(4)

Studi Kasus Opportunity Cost

Seorang manajer dimandatkan untuk memilih 1 diantara 2 proyek besar. Setelah dianalisis, proyek A membutuhkan biaya Rp. 300.000.000 dan proyek B Rp.

85.000.000. Sehingga secara rasional manajer lebih memilih proyek B yang memberi laba lebih besar.

Opportunity Cost yang tersirat dalam kasus di atas adalah biaya eksplisit Rp.

300.000.000 untuk mendanai proyek A dan biaya implisitnya yaitu Rp. 85.000.000 dari pendapatan proyek B yang hilang.

Namun dalam ekonomi Teknik, biaya implisit tidak

diperhitungkan. Basis perhitungan biaya dalam ekonomi Teknik

adalah biaya eksplisit.

(5)

2.2.2. Klasifikasi biaya menurut waktu

1. Biaya historis : adalah biaya-biaya yang terjadi di masa lampau. Dalam analisis ekonomi Teknik, biaya yang sudah terjadi tidak dibebankan kepada analisis ekonomi untuk proyek selanjutnya. Namun biaya historis bisa menjadi referensi untuk menentukan biaya suatu proyek, selama ditentukan dengan asumsi yang relevan.

Contoh, diketahui Analisis Harga Satuan Pekerjaan Konstruksi pada tahun perencanaan adalah :

5

Pekerjaan Harga Satuan

Pekerjaan Pasangan Bata Rp. 85.000/m2 Pekerjaan plester dan aci Rp. 60.000/m2 Upah pengecatan cat dinding Rp. 8.500/m2

(6)

Menurut data historis Bank Indonesia, selama 3 tahun terakhir, presentase inflasi berkisar di antara angka 3%-6%. Asumsi inflasi akan berada di angka 6%, sehingga estimasi kenaikan harga satuan pekerjaan adalah :

Pekerjaan Harga/Satuan Harga/Satuan (Inflasi)

Pekerjaan Pasangan

Bata Rp. 85.000/m2 Rp. 90.100/m2

Pekerjaan Plester dan Aci

Rp. 60.000/m2 Rp. 63.600/m2 Upah Pengecatan Cat

Dinding Rp. 8.500/m2 Rp. 9.010/m2

Biaya historis juga berfungsi untuk

mempertanggungjawabkan proyek, dalam hal ini adalah arus

kas atas biaya-biaya yang dikeluarkan.

(7)

2. Biaya aktual : Biaya actual merujuk pada biaya-biaya yang dikeluarkan secara nyata. Pada bidang akuntansi biaya actual ditentukan untuk menjustifikasi perubahan harga yang terjadi saat mengeluarkan biaya sebagai input dalam proses produksi. Dalam manajemen persediaan dikenal beberapa metoda pembebanan biaya seperti LIFO, FIFO, Average dan Standard Price.

3. Biaya Prediktif : salah satu fungsi biaya historis adalah untuk merumuskan biaya prediktif. Biaya ini diperlukan untuk memperkirakan secara komprehensif biaya suatu proyek. Prediksi biaya ini biasanya dijadikan landasan untuk menganalisis dan mengambil Keputusan terhadap realisasi suatu proyek. Contoh analisis dan pengambilan Keputusan yang dipengaruhi biaya prediksi :

 Total biaya suatu proyek

 Pendanaan dan alur kas

 Kewajaran total biaya

 Efektivitas dan efisiensi total biaya

7

(8)

2.2.3. Klasifikasi biaya menurut penggunaannya

Klasifikasi ini berkaitan erat dengan waktu. Penggunaan nama kelompok biaya ini sering kali dijumpai pada tahap perencanaan, yaitu pada proposal bisnis.

1. Biaya Investasi : biaya ini umumnya dilakukan pada tahap awal sebelum pekerjaan dimulai, karena biaya ini mengelompokkan biaya dengan mengidentifikasi kapan biaya tersebut diperlukan (yaitu di awal program). Inilah alasan kelompok biaya ini tidak bisa dilepaskan dari waktu.

Selain itu kelompok biaya ini juga memiliki karakteristik dari frekuensi total biaya yang dikeluarkan. Contohnya : biaya investasi cenderung hanya dikeluarkan satu kali, yaitu di awal. Biaya investasi juga ditujukan untuk jangka Panjang.

2. Biaya operasional dan perawatan : Biaya ini merujuk pada biaya yang diperlukan agar suatu proyek atau kegiatan dapat terus berjalan. Umumnya biaya ini dibutuhkan secara bulanan, misalnya gaji, perawatan kendaraan. Volume biaya bermacam-macam, bisa terjadi selama proyek berlangsung atau untuk perkantoran dapat terjadi dengan atau tanpa proyek berjalan.

(9)

2.2.4. Klasifikasi biaya dalam proses produksi

 Proses Produksi

Dalam sebuah produksi, klasifikasi biaya dibutuhkan, khususnya untuk menentukan harga dan penentuan anggaran yang sesuai. Pada proses produksi terdapat dua klasifikasi biaya :

 Biaya langsung : biaya yang diperlukan saat proses produksi secara spesifik. Biaya langsung dapat dilihat dari sifatnya serta dapat dilihat langsung pada proses dan hasil produksi, misalnya bahan pembelian bahan mentah.

 Biaya tidak langsung : merujuk pada biaya yang diperlukan pada proses produksi, walaupun tidak spesifik dan tidak dapat diobservasi langsung pada proses dan hasil produksi, mencakup juga biaya yang diperlukan untuk merawat suatu usaha. Disebut tidak langsung karena tidak memiliki kaitan langsung dengan produksi. Misalnya : biaya utilitas, biaya pemasaran dan biaya sewa bangunan kantor.

9

(10)

 Volume Produksi

Berdasarkan hubungannya dengan volume produksi, biaya dibagi menjadi :

1. Biaya tetap : adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh keluaran atau output yang diproduksi. Contohnya biaya sewa, pembelian mesin dan pembelian bangunan.

2. Biaya variable : adalah biaya yang salah satu faktornya adalah jumlah produksi. Umumnya, biaya variable memiliki gradual konstan, seperti biaya upah dan biaya kapital, yang memiliki kenaikan tetap di setiap penambahan.

3. Biaya semivariabel : adalah biaya yang dalam beberapa kasus bisa mempunyai karakteristik tetap dan tergantung pada output. Contohnya : biaya Listrik pada pabrik produksi. Pada saat terjadi proses produksi selama beberapa hari, biaya Listrik yang diperlukan dipengaruhi oleh banyaknya output yang diproduksi. Namun pada periode tertentu, misalnya saat pabrik

(11)

11

 

(12)

Studi kasus :

PT. Kelola Digital bergerak di bidang jasa pembuatan perangkat lunak. Agar operasional dapat bergerak dengan normal, Perusahaan mengalokasikan dana untuk membayar

overhead bulanan senilai Rp. 18.000.000. Selain itu biaya untuk membuat perangkat lunak berkisar Rp. 10.000.000 per satuan. Ketika mempersiapkan finalisasi proyek besar,

karyawan PT. Kelola Digital mengajukan lembur. Biaya lembur adalah Rp. 8000/hari. Satu perangkat lunak biasanya memakan waktu hingga 50 jam overtime dan dilakukan Ketika jumlah proyek yang dikerjakan melebihi tiga proyek.

TC = TFC + TVC

TC = TFC + (Q x VC)

TC = 18.000.000 + (10.000.000)Q

Ketika mempersiapkan finalisasi proyek besar, karyawan PT. Kelola Digital mengajuka lembur. Biaya lembur Rp. 100.000/jam. Satu perangkat lunak biasanya memakan waktu sampai dengan 50 jam overtime dan dilakukan Ketika jumlah proyek yang dikerjakan

(13)

13

Saat Perusahaan mengerjakan tiga proyek, variable cost yang dikeluarkan menjadi lebih tinggi. Biaya ini sering disebut biaya marginal Dimana MC menjelaskan kebutuhan biaya untuk memproduksi 1 unit selanjutnya

.

Grafik di atas menunjukkan bahwa biaya marginal untuk memproduksi 1 unit pada Q

= 1=2=3 adalah sama, yaitu senilai Rp. 10.000.000 (VC). Tetapi pada saat Q=4MC, naik menjadi Rp. 15.000.000. Jadi grafik dari total biaya produksi suatu usaha tidak selalu linear tergantung dari sifat biaya tersebut terhadap produksi.

(14)

Selanjutnya diketahui bahwa PT. Kelola Digital menghargai satu perangkat lunak untuk kliennya senilai Rp. 17.500.000. Pada kuantitas berapa Perusahaan akan BEP ?

BEP = TR = TC TR = TC

PxQ = FC + (QxFC)

17.500.000 x Q = 18.000.000 + ( Q x 10.000.000 ) 17.500.000Q = 18.000.000 + 10.000.000Q

Q = 18.000.000/7.500.000 Q = 2,4 unit

Oleh karena itu PT. Kelola Digital harus menjual lebih dari dua unit perangkat

lunak kepada klien untuk BEP.

(15)

15

Grafik di atas menunjukkan TR = TC bertemu pada saat Q = 2,4 unit. Artinya Ketika PT.

Kelola Digital dapat menjual lebih dari 2,4 unit, yang terjadi adalah TR > TC, sehingga PT. Kelola Digital mendapatkan laba. Laba pada grafik di atas ditunjukkan pada area Ketika TR berada di atas TC. Sebaliknya, Ketika Perusahaan tidak dapat mencapai target 2,4 Perusahaan akan mengalami kerugian. Hal ini ditunjukkan Ketika TC > TR.

(16)

2.3. Model Estimasi Biaya

• Pendekatan perhitungan estimasi biaya pada awalnya

dilakukan secara bottom-up, tetapi di era sekarang

pendekatan dilakukan secara top-down. Pendekatan

bottom-up bekerja dengan baik saat persaingan bukan

menjadi factor dominan. Perbedaan pendekatan

bottom-up dan top-down adalah sebagai berikut :

(17)

17

 Bottom-up dan Top Down Cost Estimation Approach :

(18)

• Metoda bottom-up mengedepankan kesesuaian desain dengan biaya yang dipeerlukan. Artinya estimasi biaya dilandasi oleh biaya-biaya yang harus dikeluarkan Ketika desain terealisasi.

• Pendekatan top-down berlandaskan pada anggaran awal. Artinya, desain dapat disesuaikan dengan biaya nyata di lapangan.

• Sebagai contoh, jika metoda bottom-up dilakukan Ketika desain sebuah rumah dibuat dengan asumsi material daun pintu dari meranti dengan harga yang lebih tinggi, hal ini akan mempengaruhi harga jual.

Sementara itu dengan pendekatan top-down, riset pasar telah mengetahui harga yang sanggup dibeli oleh calon konsumen.

Sehingga, dari anggaran tersebut manajer proyek menetapkan daun

pintu dapat diganti HPL.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena tambahan produksi satu unit output tidak akan menambah atau. mengurangi biaya produksi tetap (TFC), maka tambahan biaya marginal ini

Merupakan metode penentuan biaya produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam biaya produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung,

Menurut Supriyadi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Penerapan Target Costing Dalam Upaya Pengurangan Biaya Produksi Untuk Meningkatkan Laba Perusahaan (Studi Kasus

Biaya produksi adalah biaya yang terkait dengan fungsi produksi, yaitu biaya yang timbul dalam pengolahan bahan menjadi produk jadi sampai akhirnya produk tersebut

Sedangkan menurut Kartadinata (2008) harga pokok produksi meliputi semua biaya dan pengorbanan yang perlu dikeluarkan dan dilakukan untuk menghasilkan produk jadi. Tahu Mama Kokom

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa harga pokok produksi adalah semua biaya, baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu

Biay a ( cost ) berbeda dengan beban ( expense) , cost adalah pengorbanan ekonom is yang dikeluarkan unt uk m em peroleh barang dan j asa, sedangkan beban ( expense) adalah

Dalam bisnis, biaya ini menjadi biaya ekonomi yang harus dikeluarkan untuk suatu kegiatan produksi barang atau jasa yang berkaitan dengan pilihan aktivitas lain yang dikorbankan..