• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK CUMI-CUMI DI PT. XYZ PPN MUARA ANGKE MENGGUNAKAN METODE SCOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK CUMI-CUMI DI PT. XYZ PPN MUARA ANGKE MENGGUNAKAN METODE SCOR"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK CUMI-CUMI DI PT. XYZ PPN MUARA ANGKE MENGGUNAKAN METODE SCOR

Measurement of Squid Supply Chain Performance at PT. XYZ Muara Angke Fishing Port Using SCOR Method

Oleh:

Ray Octa Firdaus

1

* , Iin Solihin

2

, Budhi Hascaryo Iskandar

2

1Program Studi Logistik Agro-Maritim, IPB University, Bogor, Indonesia

2Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, IPB University, Bogor, Indonesia

*

Korespondensi penulis: [email protected]

ABSTRAK

Cumi-cumi merupakan salah satu jenis komoditas perikanan hasil tangkapan laut yang memiliki jumlah produksi tinggi di Indonesia. Hasil tangkapan cumi-cumi didaratkan di pelabuhan perikanan, salah satunya di PPN Muara Angke yang merupakan pusat pendaratan, produksi dan pemasaran cumi- cumi di wilayah Jakarta. Produksi dan pemasaran cumi-cumi di PPN Muara Angke bergantung kepada jumlah pasokan cumi-cumi. Namun, pasokan cumi-cumi di unit pengolahan ikan (UPI) PPN Muara Angke salah satunya di PT. XYZ belum optimal dalam memenuhi pesanan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur rantai pasok cumi-cumi PT. XYZ PPN Muara Angke dan mengukur kinerja rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode Supply Chain Operation Reference (SCOR) level 1. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa struktur rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke sudah efisien dengan tidak ada jasa tengkulak pada proses jual beli antara perusahaan dengan nelayan. Hasil pengukuran kinerja rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke masih belum optimal yang mana pada atribut kinerja reliability dengan menggunakan perhitungan perfect order fullfilment sebesar 83%, kinerja responsiveness menggunakan perhitungan order fullfilment lifetime sebesar 24-25 hari, keduanya masih di bawah nilai benchmark. Adapun kinerja flexibelity sudah mencapai nilai parity dengan nilai aktual sebesar 29-30 hari, kinerja management cost sudah mencapai nilai superior dengan nilai aktual sebesar 2,20% dan kinerja management asset sudah mencapai nilai parity pada bencmark dengan nilai aktual selama 25 hari.

Kata kunci: cumi-cumi, metode SCOR, rantai pasok

ABSTRACT

Squid is one type of marine fisheries commodity that has a high production in Indonesia. Squid catches are landed at fishing ports, one of which is at PPN Muara Angke which is the center of squid landing, production and marketing in the Jakarta area. The production and marketing of squid at PPN Muara Angke depends on the amount of squid supply. However, the supply of squid at the Fish Processing Unit of PPN Muara Angke, one of which is PT XYZ has not been optimal in fulfilling consumer orders. This study aims to analyze the squid supply chain structure of PT XYZ PPN Muara Angke and Measure the performance of the squid supply chain at PT XYZ. This research uses descriptive method and Supply Chain Operation Reference (SCOR) level 1 method. The results of this study indicate that the squid supply chain structure at PT XYZ PPN Muara Angke is efficient with no middlemen services in the buying and selling process between the company and fishermen. The results of the squid supply chain performance measurement at PT XYZ VAT Muara Angke are still not optimal.

(2)

The reliability performance attribute using the calculation of perfect order fullfilment is about 83%, Responsiveness performance using the calculation of order fullfilment lifetime of 24-25 days, both are still below the benchmark value. Flexibelity performance has reached parity value with an actual value of 29-30 days, cost management performance has reached superior value with an actual value of 2.20%

and asset management performance has reached parity value at benchmark with an actual value of 25 days.

Key words: SCOR method, supply chain, squid

PENDAHULUAN

Cumi-cumi merupakan suatu jenis komoditas perikanan hasil tangkapan laut yang memiliki jumlah produksi tinggi di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (2021), produksi untuk komoditas cumi-cumi di Indonesia mencapai 204.156 ton. Penangkapan cumi-cumi dilakukan hampir di seluruh perairan laut di Indonesia, di antaranya Selat Malaka (Aceh, Sumatera Utara dan Riau) dan Utara Jawa (Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur) (Hartati et al. 2004). Cumi- cumi hasil tangkapan tersebut didaratkan di pelabuhan perikanan.

PPN Muara Angke merupakan salah satu wilayah penting yang menjadi pusat pendaratan, produksi dan pemasaran hasil tangkapan ikan di Jakarta setelah Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Nizam Zachman (Rizki 2018). Cumi-cumi menjadi komoditas tertinggi yang didaratkan di PPN Muara Angke. Data PPN Muara Angke (2018) menyatakan bahwa jumlah produksi cumi-cumi mencapai 21.624 ton dengan persentase 52% dari keseluruhan komposisi hasil tangkapan. Produksi dan pemasaran cumi-cumi di PPN Muara Angke bergantung kepada jumlah pasokan cumi-cumi.

Faktor krusial yang mempengaruhi terjaminnya pasokan cumi-cumi yakni rantai pasok komoditas tersebut. Untuk membuat proses rantai pasok menjadi optimal, maka membutuhkan sistem manajemen rantai pasok yang baik. Menurut Marimin dan Maghfiroh (2010), manajemen rantai pasok merupakan sebaris pendekatan yang diterapkan untuk menghubungkan pemasok, perusahaan, gudang dan tempat penyimpanan lain secara efisien. Manajemen rantai pasok cumi-cumi di PPN Muara Angke berfungsi untuk memberikan kepastian pasokan dan menjaga mutu cumi-cumi demi mendapatkan kepuasan konsumen.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, menurut Sucahyowati (2011), setiap pelaku usaha secara optimal berusaha dengan menggunakan aset dan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan nilai tambah terhadap permintaan konsumen. Namun menurut data PPN Muara Angke (2022), pasokan cumi-cumi di Unit Pengolahan Ikan (UPI) PPN Muara Angke salah satunya di PT. XYZ belum optimal dikarenakan berbagai faktor seperti fluktuasi jumlah pasokan cumi-cumi dari nelayan dan sifat cumi- cumi yang mudah rusak membutuhkan penanganan yang khusus. Faktor-faktor tersebut akan berdampak pada kuantitas produksi cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke sehingga menyebabkan kinerja rantai pasok menjadi terganggu. Efisiensi kinerja rantai pasok dapat mempengaruhi daya saing pada suatu perusahaan (Setiadi et al. 2018). Berdasarkan hal tersebut maka performance perusahaan memerlukan pengukuran kinerja rantai pasok.

Pengukuran kinerja rantai pasok suatu perusahaan bisa menggunakan berbagai metode salah satunya dengan metode Supply Chain Operation Reference (SCOR). Metode SCOR merupakan metode yang dibangun oleh The Association for Operation Management (APICS) yang berisi tentang metodologi, alat benchmarking dan diagnosis untuk membantu organisasi dalam perubahan dan perbaikan proses rantai pasok dengan lebih cepat (APICS 2017). Dari uraian di atas maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis struktur rantai pasok dan mengukur kinerja rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke.

(3)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di PPN Muara Angke Jakarta Utara dengan studi kasus di PT. XYZ pada bulan April-Juli 2023 dengan melakukan observasi dan wawancara langsung ke seorang manajer produksi dan operasional PT. XYZ dan penyebaran kuesioner dilakukan ke tiga kelompok nelayan pemasok. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data sekunder dan data primer. Data sekunder diambil dari data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia serta data statistik Pelabuhan Perikanan Muara Angke. Data primer pada penelitian ini diambil dari PT. XYZ yang dipilih berdasarkan kriteria memiliki segmentasi pasar lokal dan luar negeri serta supplier (kelompok nelayan) yang memasok cumi-cumi ke perusahaan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling.

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini yakni metode analisis deskriptif untuk menganalisis struktur kinerja rantai pasok dan metode Supply Chain Operation Reference untuk mengukur kinerja rantai pasok. Berikut rumus matriks kinerja rantai pasok (metode SCOR) dari Wulandari et al. (2021) yang digunakan pada penelitian ini:

A. Perfect Order Fulfilment (POF) untuk mengukur atribut reabilitas 𝑃𝑂𝐹 =!"#$%& ()*%+%+ *)#(",+%

-./%$ 0"#$%& ()*%+%+ × 100 (1)

B. Order Fulfilment Cycle-Time (OFCT) untuk mengukur atribut responsibilitas 𝑂𝐹𝐶𝑇 =!"#$%& 1%2/" ()+34,4#%+ ()*%+%+

!"#$%& /./%$ ()*%+%+ 5%+3 6424,4# (2)

C. Supply Chain Response Time (SCRT) untuk mengukur atribut fleksibilitas 𝑆𝐶𝑅𝑇 = 0"#$%& 1%2/" ()+34,4#%+ ()*%+%+

0"#$%& /./%$7()+%#8%&%+ ()*%+%+ (3)

D. Supply Chain Management Cost (SCMC) untuk mengukur atribut biaya

𝑆𝐶𝑀𝐶 = 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 − 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 − 𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑡𝑜 𝑠𝑒𝑟𝑣𝑒 (4)

E. Cash-to-Cash Cycle Time (CTCCT) untuk mengukur atribut asset

𝐶𝑇𝐶𝐶𝑇 = 𝑗𝑎𝑑𝑤𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑖𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛 + 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘𝑎𝑛 − 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 (5)

Setelah mendapatkan hasil matriks kinerja dari rumus di atas kemudian divisualisasi dalam tabel kartu SCOR (SCORCARD) kemudian dibandingkan dengan nilai benchmark. Nilai benchmark yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari tiga range yakni parity sebagai range terendah, advantage sebagai range pertengahan dan superior sebagai range tertinggi, sementara nilai aktual yang belum mencapai range dianggap underperformance. Adapun nilai benchmark yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.

(4)

Tabel 1. Nilai benchmark rantai pasok

Performance SCOR matrix Parity Advantage Superior

Eksternal Reliability Pemenuhan pesanan sempurna (%) 94-95 96-97 ≥95 Responsiveness order fullfilment lead time (hari) 7-6 5-4 ≤3

Agility flexibility (hari) 42-27 26-11 ≤10

Internal

Cost supply chain management cost (%) 13-9 8-4 ≤3

Asset cash to cash cycle time(hari) 27-14 13-1 =0 Sumber: Apriyani et al. (2018)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Struktur Rantai Pasok Cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke

Struktur rantai pasok merupakan bagian penting dalam mengukur kinerja rantai pasok. Untuk mengukur kinerja rantai pasok melalui strukturnya dapat dilakukan dengan melihat aliran rantai pasok cumi-cumi tersebut. Aliran rantai pasok cumi-cumi harus mengintegrasikan kegiatan hulu hingga hilir rantai pasok cumi-cumi. Menurut Khadijah (2021), hulu sampai hilir produk perikanan merupakan kegiatan dari nelayan hingga ke konsumen terakhir. Adapun aktor yang terlibat dalam struktur rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ disusun dalam Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Aktor rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke

Aktor Peran / Fungsi Anggota Rantai Pasok

Supplier Sebagai penyedia cumi-cumi Nelayan bouke ami, jaring cumi dan pancing cumi PPN Muara

Angke Manufactur Sebagai pengelola, penyimpan dan

pendistribusian produk cumi-cumi frozen PT. XYZ

Konsumen Sebagai pembeli Konsumen lokal (restoran dan

hotel di Jakarta), konsumen internasional (China dan Taiwan) Pedagang Pasar Sebagai penampung cumi-cumi yang telah

mengalami penurunan mutu Pedagang eceran pasar grosir PPN Muara Angke

Nelayan merupakan produsen tingkat pertama dalam struktur rantai pasok cumi-cumi di PPN Muara Angke. Kelompok nelayan yang mendaratkan hasil tangkapan di PPN Muara Angke menangkap cumi-cumi di WPP 711 dan 712 dengan alat tangkap bouke ami, jaring cumi dan pancing cumi. Setelah itu nelayan bertugas mensuplai cumi-cumi hasil tangkapan ke PT. XYZ.

UPI merupakan produsen tingkat kedua setelah nelayan dalam struktur rantai pasok cumi-cumi.

Menurut Solihin et al. (2020), hampir seluruh pelabuhan perikanan di wilayah Indonesia memiliki unit pengolahan ikan di sekitarnya. Demikian pula PT. XYZ yang merupakan salah satu unit pengolahan

(5)

ikan di PPN Muara Angke. PT. XYZ melakukan hubungan kerjasama langsung ke-supplier dalam mendapatkan cumi-cumi. PT. XYZ berfungsi melakukan penyimpanan produk, repacking produk dan pendistribusian produk cumi-cumi frozen ke konsumen.

Konsumen merupakan seseorang atau kelompok yang membeli produk cumi-cumi frozen dari PT. XYZ. Konsumen PT. XYZ dibedakan menjadi konsumen luar negeri dan konsumen dalam negeri.

Konsumen luar negeri yakni konsumen personal, pihak hotel dan restoran dari Cina dan Taiwan sementara konsumen dalam negeri yakni konsumen restoran dan hotel yang berada di wilayah Jakarta.

Pedagang yang menjual cumi-cumi di pasar grosir Muara Angke merupakan aktor yang berperan sebagai penampung produk cumi-cumi yang sudah menurun mutunya atau dianggap tidak layak dijual ke konsumen oleh PT. XYZ. Jumlah cumi-cumi yang dijual pihak PT. XYZ ke pedagang pasar grosir sangat minim, rata-rata di bawah 3% dari stok bulanan. Oleh karena itu pedagang pasar grosir Muara Angke lebih banyak membeli bahan dagangannya dari nelayan luar Pelabuhan Muara Angke.

Alur Material, Informasi dan Finansial Produk Cumi-cumi di PT. XYZ

Hulu dan hilir rantai pasok berkenaan dengan kegiatan pendistribusian fisik produk cumi-cumi, aliran informasi dan aliran dana para aktor yang terlibat. Maka menganalisis struktur rantai pasok komoditas cumi-cumi telah diimplementasikan ke dalam tiga kegiatan tersebut.

Gambar 1 Alur rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ

Gambar 1 menunjukkan bahwa tidak ada pihak perantara antara nelayan (supplier) dan UPI (buyer) dalam kegiatan jual beli cumi-cumi. Pada sistem pemasaran, PT. XYZ memasarkan produknya ke luar negeri dan dalam negeri di mana konsumen luar negeri merupakan pihak hotel dan restoran dari negara Cina dan Taiwan dengan produk cumi-cumi susun 2, 3, 4 dan 5. Sementara konsumen dalam negeri merupakan pihak hotel dengan produk cumi-cumi CK, adapun produk cumi-cumi status reject karena mutunya turun dijual ke pedagang pasar grosir Muara Angke. Menurut Sudana (2019), saluran pasokan yang paling pendek merupakan saluran pasokan yang paling efisien di mana melibatkan satu pedagang perantara. Dapat dikatakan struktur rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ termasuk pada kategori efisien.

Berdasarkan hasil observasi penelitian diketahui bahwa saluran rantai pasok fisik (alur material) dari produk cumi-cumi di PT. XYZ sangat pendek. Saluran pasokan fisik cumi-cumi hanya berjalan satu arah yakni dari hulu ke hilir tidak ada saluran hilir ke hulu (reverse logistic) karena produk cumi-

(6)

cumi dalam bentuk beku merupakan komoditas highly perishable, tidak memakai sistem return produk.

Aliran Material

Alur material produk cumi-cumi berawal dari nelayan yang menangkap cumi-cumi di WPP 711 dan 712 menggunakan alat tangkap jaring dan pancing cumi-cumi, hasil tangkapan tersebut dilakukan handling di atas kapal dengan melakukan pembersihan dan packing. Kapal-kapal nelayan mitra sudah dilengkapi oleh freezer sehingga membantu proses pengawetan dan mempertahankan mutu cumi-cumi. Setelah sampai di dermaga TPI PPN Muara Angke, produk cumi-cumi dibongkar dan dilakukan penimbangan berat cumi-cumi, lalu cumi-cumi yang sudah disepakati oleh nelayan dan PT.

XYZ diangkut menggunakan mobil berpendingin milik PT. XYZ. Setelah sampai di UPI, produk cumi- cumi dimasukkan dan dikumpulkan terlebih dahulu ke cold storage dengan kapasitas muat 400 ton.

Ketika jumlah produksi cumi-cumi dianggap memenuhi jumlah permintaan konsumen dari luar negeri maupun dalam negeri, produk cumi-cumi dilakukan repacking dengan lapisan terluar dari bahan kardus dan dimasukkan ke mobil cool box untuk dikirim ke wilayah masing-masing konsumen.

Pendistribusian ke konsumen dalam negeri cukup menggunakan mobil berpendingin karena berada di wilayah Jabodetabek. Sementara pendistribusian produk cumi-cumi ke luar negeri setelah pengangkutan memakai mobil berpendingin dilanjutkan dengan menggunakan kapal yang berada di pelabuhan umum Tanjung Priok menuju Cina dan Taiwan.

Aliran Informasi

Alur informasi pada struktur rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ berjalan secara dua arah, di mana pihak perusahaan mendapatkan informasi jumlah permintaan cumi-cumi frozen dari konsumen sementara konsumen membutuhkan informasi mengenai harga dan jumlah produk yang disanggupi oleh perusahaan. Begitu pun pada tingkat nelayan dan perusahaan, di mana nelayan mendapatkan informasi jumlah permintaan cumi-cumi hasil laut dari perusahaan dan perusahaan membutuhkan informasi mengenai harga dan jumlah hasil tangkapan dari nelayan langganannya. Kelancaran informasi antar aktor rantai pasok cumi-cumi didasari hubungan kerjasama yang telah dijalin. Alur informasi sangat penting untuk menyepakati harga serta jumlah pesanan cumi-cumi.

Namun alur informasi cumi-cumi di PT. XYZ hanya melalui komunikasi chat atau telepon, sehingga sistem informasi antar sesama aktor terbatas dan sering terjadi miskonsepsi. Hal ini sama seperti penelitian Duwila et al. (2022) bahwa pengiriman informasi mengenai pemesanan masih dilakukan melalui sarana komunikasi elektronik sehingga informasi perubahan harga dan jumlah pesanan hanya didapatkan melalui pemberitahuan melalui aplikasiwhatsapp dan telepon.

Pada era teknologi yang maju sekarang, PT. XYZ harus mempertimbangkan membangun sistem informasi berbasis digital sehingga miskonsepsi dan pekerjaan berulang-ulang bisa dihindari pada alur informasi cumi-cumi. Permasalahan pembangunan perikanan Indonesia yakni keterbatasan data dan informasi yang dapat dijadikan rujukan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya perikanan (Tangke 2011). Jika sistem informasi berbasis website sudah dibuat maka akan menghindari perbedaan data dan informasi bagi pelaku rantai pasok.

Aliran Finansial

Aliranuang pada rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ terjadi secara satu arah yang dimulai dari hilir, di mana konsumen membeli produk cumi-cumi frozen ke perusahaan dan perusahaan membeli cumi-cumi hasil tangkapan dari nelayan langganannya. Proses pembayaran konsumen ke perusahaan maupun perusahaan ke nelayan dilakukan secara utang dengan tempo 7 hari, dibayar melalui sistem transfer bank. Berbeda dengan Duwila et al. (2022) yang menyatakan pembelian produk dilakukan cash dengan cara transfer bank, namun sebenarnya tidak ada permasalahan pembayaran dilakukan hutang

(7)

asalkan terdapat nota yang menjadi manifestasi untuk bukti hutang. Selama ini sistem pembayaran di PT. XYZ berjalan dengan baik.

Aliran uang pada rantai pasok cumi-cumi memiliki margin harga yang berbeda pada tiap tingkatan aktornya. Perusahaan membeli cumi-cumi hasil tangkapan laut dari nelayan berupa cumi- cumi susun 2 seharga Rp80.000/kg, cumi-cumi susun 3 seharga Rp65.000/kg, cumi-cumi susun 4 seharga Rp55.000/kg, cumi-cumi susun 5 seharga Rp45.000/kg dan cumi-cumi CK seharga Rp35.000/kg. Lalu perusahaan menjual cumi-cumi packing ulang dalam bentuk frozen ke konsumen luar negeri berupa cumi-cumi susun 2 seharga Rp135.000/kg, cumi-cumi susun 3 seharga Rp100.000/kg, cumi-cumi susun 4 seharga Rp90.000/kg, cumi-cumi susun 5 seharga Rp80.000/kg. Sementara PT. XYZ menjual produk cumi-cumi ke konsumen dalam negeri yang berada di wilayah Jakarta berupa cumi- cumi CK seharga Rp60.000/kg. Menurut Batubara et al. (2017), dimensi ekonomi (net profit unit, profit margin) merupakan salah satu dimensi yang diukur untuk mengetahui indeks keberlanjutan suatu rantai pasok. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan bisnis cumi-cumi di PT. XYZ memberikan keuntungan (profit) yang baik bagi perusahaan.

Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke

Pengukuran kinerja rantai pasok cumi-cumi menggunakan metode Supply Chain Operation Reference (SCOR) dengan mengukur metrik kinerja yang ada pada rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ.

Adapun kinerja yang diukur yakni pemenuhan pesanan sempurna (perfect order fullfilment), waktu pemenuhan pesanan (order fullfilment lifetime), flexibility, supply chain management cost dan cash to cash cycle time. Metrik kinerja dari metode SCOR tersebut dituangkan ke dalam Tabel 3. Kartu SCOR dibandingkan dengan benchmark yang digunakan pada penelitian Mawangi dan Supriono (2021).

Tabel 3. Kartu SCOR rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ

Performance SCOR matrix Aktual Parity Advantage Superior

Eksternal Reliability Pemenuhan pesanan

sempurna (%) 83 94-95 96-97 ≥95

Responsiveness

order fullfilment

lead time (hari)

24-25 7-6 5-4 ≤3

Agility flexibility

(hari) 29-30 42-27 26-11 ≤10

Internal

Cost supply chain management

cost (%) 2,20 13-9 8-4 ≤3

Asset cash to cash cycle

time(hari) 25 27-14 13-1 =0

Sumber: hasil observasi penelitian (2023)

Kartu SCOR menyajikan nilai pemenuhan pesanan sempurna cumi-cumi sebesar 83% di bawah nilai bencmark status parity dengan margin 11%. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan cumi-cumi di PT. XYZ saat ini belum mampu memenuhi permintaan pesanan dari konsumen dengan sempurna.

Menurut Prayoga et al. (2017), pembeli komoditas hasil tangkapan ikan (HTI) sangat berisiko tidak memperoleh pesanannya seperti yang diinginkan apabila sedang musim paceklik dan berkualitas kurang baik. Maka PT. XYZ harus memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pemenuhan pesanan sempurna dari pasokan cumi-cumi mereka termasuk mempertimbangkan faktor musim penangkapan cumi-cumi.

(8)

Pada nilai aktual waktu pemenuhan pesanan, PT. XYZ membutuhkan 24-25 hari untuk memenuhi pesanan konsumen. Nilai aktual tersebut jauh dari nilai benchmark status parity dengan margin 17 hari. Menurut penelitian Sylvia et al. (2018), salah satu strategi rantai pasok perikanan yakni pengurangan waktu atau usaha untuk melakukan suatu aktivitas. Hasil observasi penelitian menunjukkan PT. XYZ harus menunggu suplai cumi-cumi dari kelompok nelayan mitra sebelum mengirim produk cumi-cumi beku ke konsumen, sementara perusahaan tidak memiliki banyak alternatif pemasok supaya lead time bisa lebih cepat. Oleh karena itu pihak perusahaan harus memperbanyak pilihan supplier sebagai pemasok cumi-cumi ke perusahaan. agar nilai aktual waktu pemenuhan pesanan mencapai nilai benchmark.

Pada kartu SCOR flexibelity, jika terjadi penambahan pesanan sekitar 20% maka membutuhkan waktu tambahan 5 hari dan total waktu yang dibutuhkan menjadi 29-30 hari untuk memenuhi pesanan. Nilai aktual tersebut berada di kategori parity pada nilai benchmark. Menurut hasil wawancara penambahan pesanan dari konsumen sangat jarang terjadi, namun jika terdapat penambahan pesanan tidak terduga maka pihak perusahaan akan mencari hasil tangkapan cumi-cumi dari luar Pelabuhan Muara Angke seperti dari PPS Nizam Zachman.

Nilai aktual supply chain management cost dan management asset PT. XYZ mampu mencapai nilai benchmark. Nilai aktual supply chain management cost dari PT. XYZ sebesar 2,20% nilai tersebut masuk ke dalam kategori superior yang menunjukkan management cost pasokan cumi-cumi sangat baik dan kinerjanya harus dipertahankan. Pada nilai aktual management asset PT. XYZ sebesar 25 hari. Nilai tersebut masuk ke dalam kategori parity pada benchmark. Dengan demikian management asset PT.

XYZ dikategorikan cukup baik sehingga harus dipertahankan atau ditingkatkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Struktur rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke terdiri dari nelayan, UPI, konsumen. Tidak ada tengkulak selaku penjual perantara menjadi peluang untuk mengembangkan kinerja rantai pasok menjadi lebih efisien. Kinerja rantai pasok cumi-cumi di PT. XYZ PPN Muara Angke masih belum optimal yang mana pada atribut kinerja reliability, responsiveness masih di bawah nilai benchmark sedangkan kinerja flexibelity sudah mencapai nilai parity, kinerja management cost sudah mencapai nilai superior dan kinerja management asset sudah mencapai nilai parity pada benchmark.

Pihak manajemen perusahaan harus mampu memanfaatkan struktur rantai pasok yang pendek untuk menekan margin biaya dan mempercepat waktu pemenuhan pesanan konsumen. Pihak perusahaan juga harus memperbaiki atribut kinerja reliabilty, responsiveness yang masih di bawah nilai benchmark.

DAFTAR PUSTAKA

APICS, 2017. Supply Chain Operations Reference Model 12.0. Chicago (USA): APICS

Apriyani, D., Nurmalina, R., dan Burhanuddin. 2018. Evaluasi Kinerja Rantai Pasok Sayuran Organik dengan Pendekatan Supply Chain Operation Reference (SCOR). Jurnal Ilmiah Manajemen, 8(2):

312–335.

Batubara, S.C., Maarif, M.S., Irianto, H.E., 2017. Model Manajemen Rantai Pasok Industri Perikanan Tangkap Berkelanjutan di Propinsi Maluku. Marine Fisheries 8, 137-148.

Duwila, I.R., Suaidi, Ari, S., 2022. Pelajaran Dari Pengelolaan Rantai Pasok Pada Masa Pandemi Covid- 19 Oleh PT ASTB di Maluku Tengah. Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.

Hartati T, Wahyuni I, Awaluddin. 2004. Musim Penangkapan Ikan di Indonesia Edisi Cetakan 1.

(9)

Jakarta: Balai Riset Perikanan Laut. P. 80-93.

Khadijah, A, Hasanah, H., Suherlan, A., 2021. Pengukuran Model Scor dan Analisis SWOT pada Rantai Pasok Cumi-Cumi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu. Jurnal Tent 4, 11–24.

[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2022. Statistik Perikanan 2021. Jakarta (ID). Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Marimin. Maghfiroh, N. 2010. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Rantai Pasok. PT. Penerbit IPB Press. Bogor.

Mawangi, D.E., Supriono, A., 2021. Pengukuran Performasi Rantai Pasok Canned Sardines PT. Sumber Yalasamudra: Pendekatan SCOR (Supply Chain Operation Reference). Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. 14, 111–124.

Prayoga, M.Y., Iskandar, B.H., Wisudo, S.H., 2017. Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasok Tuna Segar di PPS Nizam Zachman Jakarta (PPSNJ). Albacore I, 77–88.

Rizki, K., 2018. Sistem Rantai Pasok Cumi-Cumi (Loligo Sp) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Setiadi, Nurmalina, R., Suharno, 2018. Analisis Kinerja Rantai Pasok Ikan Nila Pada Bandar Sriandoyo Di Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas. Jurnal Ilmu Manajemen 8, 166–185.

Solihin, I., Ketut, N., Meilani, L., Muninggar, R., 2020. Strategi Pengelolaan Pasar Ikan Modern di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta. Marine Fisheries 11, 101–110.

Sucahyowati, H., 2011. Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management). Gema Maritim. 13, 20–28.

Sudana, I.. W., 2019. Analisis Efisiensi Pemasaran Ikan Teri Segar Hasil Tangkapan Nelayan di Desa Sanggalangit Kabupaten Buleleng. Jurnal Pendidikan Ekonomi. 11.

Sylvia, T., Harto, K., Ismoyowati, D., 2018. Strategi Pengurangan Biaya Logistik Perikanan Lele (Clarias Sp.) Jurnal Sosek KP. 13, 205–218.

Tangke, U., 2011. Pemanfaatan sistem informasi perikanan dalam pengelolaan sumberdaya. Jurnal Ilmu Agribisnis dan Perikanan (Agrikan UMMU-Ternate) 4.

UPP Muara Angke Jakarta (ID). 2018. Data Stock Ikan di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Direktorat jenderal kementerian kelautan dan perikanan (KKP).

UPP Muara Angke Jakarta (ID). 2022. Data Stock Ikan di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Direktorat jenderal kementerian kelautan dan perikanan (KKP).

Wulandari, I.P., Setyaningsih, W., Wrdhana, A.P., Jumaryadi, Y., 2021. Implementasi Metode SCOR 11.0 dalam Pengukuran Kinerja Supply Chain Management. Jurnal Sistem Informasi. 10.

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian kinerja manajemen rantai pasok antara pemasok, perusahaan dan pelanggan yang baik dapat diukur dengan salah satu model pengukuran kinerja SCM, yaitu model Supply