Pengalaman negara-negara dan pendapat di atas menunjukkan bahwa target inflasi yang ‘tepat’ adalah (1) target inflasi yang rendah (minimal satu angka), (2) dapat meminimalkan fluktuasi inflasi relatif untuk mencapai ekspektasi yang stabil, (3) Hal ini cukup tantangan yang harus dicapai untuk meningkatkan kredibilitas bank sentral, dan (4) dapat dicapai dengan pengorbanan produksi yang minimal. Penelaahan terhadap tingkat sasaran inflasi yang tepat untuk Indonesia dilakukan dengan menggunakan pendekatan berikut. Penentuan jangka waktu pencapaian sasaran inflasi sangat ditentukan oleh lamanya efek jeda (lag) dampak kebijakan moneter terhadap inflasi.
Hasil survei menunjukkan sasaran inflasi yang tepat dalam jangka menengah (2-5 tahun ke depan) adalah sekitar 6% hingga 8%, dan dapat diturunkan menjadi sekitar 4% dalam jangka panjang (6-10 tahun ke depan). ) . /d 6. Dengan mempertimbangkan lagging effect kebijakan moneter selama kurang lebih satu sampai dua tahun, dan dalam upaya meminimalkan pengorbanan output, maka strategi kebijakan moneter untuk mencapai sasaran inflasi sebaiknya dilakukan secara bertahap (bertahap). Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa sasaran inflasi yang ditetapkan merupakan sasaran inflasi yang: (1) rendah (minimal satu digit), (2) meminimalkan volatilitas inflasi relatif untuk memberikan ekspektasi yang stabil, (3) cukup sulit dicapai secara berurutan. menjaga kredibilitas bank sentral, dan (4) dapat dicapai dengan resesi yang minimal.
Pengalaman di negara lain juga menunjukkan bahwa sasaran inflasi biasanya ditetapkan dalam suatu kisaran sasaran dan bukan dalam satu angka saja. Dalam praktiknya, negara-negara yang menetapkan target inflasi sebagai target tunggal (inflation-targeting regimes) sangat memperhatikan dampak lagging dari kebijakan moneter ketika menentukan target inflasi yang ingin dicapai. Pada tabel berikut ini Anda dapat melihat informasi mengenai lag effect dalam menentukan jangka waktu pencapaian target inflasi di negara-negara yang menerapkan inflasi penargetan.
Pembahasan permasalahan ini tidak lepas dari kajian terkait (a) mekanisme transmisi kebijakan moneter dalam rezim penargetan inflasi, (b) kerangka pengendalian inflasi melalui kebijakan moneter (inflation control framework), dan (c) kecepatan pengendalian inflasi. inflasi. sasaran, tujuan.
Pengukuran Level Target Inflasi
Simulasi Policy Rules
Penggunaan simulasi kaidah kebijakan dalam menentukan tingkat sasaran inflasi yang tepat dilakukan dengan asumsi bahwa mekanisme transmisi kebijakan moneter berlangsung dalam kerangka penargetan harga dengan inflasi sebagai satu-satunya sasaran, seperti terlihat pada Grafik 1. Secara formal, kerangka kebijakan moneter bersifat preventif melalui aturan kebijakan berwawasan ke depan adalah sebagai berikut. Simulasi dilakukan dengan membuat skenario target inflasi dan memvariasikan bobot preferensi kebijakan bank sentral dalam persamaan aturan Taylor.
3 variasi bobot tersebut adalah (1) produksi 25%, inflasi 75% jika bank sentral lebih memilih untuk merangsang produksi, (2) produksi 75%, inflasi 25% jika bank sentral lebih memilih disinflasi, dan (3) inflasi 50%. % output, inflasi adalah 50% jika bank sentral mempunyai ketidakpedulian antara output dan inflasi. Oleh karena itu, berdasarkan pendekatan simulasi Aturan Kebijakan, besaran target inflasi yang dapat diminimalkan MAE adalah kisaran target 4% hingga 6% dan kisaran 6%. Secara keseluruhan, berdasarkan keempat metode yang digunakan, dapat disimpulkan bahwa secara umum perkiraan sasaran inflasi berdasarkan perilaku historis dan dapat meminimalkan fluktuasi dibandingkan ekspektasi adalah antara 4% dan 8%.
Namun demikian, mengingat kondisi dimana penerapan target inflasi yang rendah berimplikasi pada kebijakan moneter yang ketat, maka disarankan untuk menetapkan target inflasi pada kisaran yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah untuk memberikan ruang bagi peningkatan output perekonomian. . Oleh karena itu, penerapan hasil perhitungan target inflasi sebagaimana tersebut di atas dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu kisaran target 6% hingga 8% untuk jangka menengah (2 hingga 5 tahun ke depan) dan kisaran 4 %. hingga 6% untuk jangka panjang (6 hingga 10 tahun ke depan).
Pengukuran Efek Tunda Kebijakan Moneter
Oleh karena itu, penerapan hasil penghitungan target inflasi sebagaimana disebutkan di atas dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kisaran sasaran 6% hingga 8% untuk jangka menengah (2 hingga 5 tahun ke depan) dan kisaran 4 % . hingga 6% untuk jangka panjang (6 hingga 10 tahun ke depan). Dalam tulisan ini, efek penundaan diukur dengan menggunakan beberapa metode, yaitu: 1) analisis grafis, 2) analisis kurva IS dan model kurva Phillips sederhana, dan 3) analisis struktural VAR. Pengukuran lag effect dengan analisis grafis dilakukan dengan memplot grafik SBI dan grafik inflasi secara bersamaan. Dalam hal ini, hubungan negatif (berbanding terbalik) antara SBI dan inflasi dapat diamati dengan menentukan periode puncak dari grafik SBI yang disertai dengan titik terendah dari grafik inflasi, dan sebaliknya.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa berdasarkan analisis grafis, panjang lag effect instrumen kebijakan moneter adalah 7 triwulan. Analisis menggunakan model struktural dilakukan dengan melihat mekanisme transmisi instrumen kebijakan moneter terhadap inflasi. Dalam hal ini transmisi terjadi melalui pengaruh SBI terhadap kesenjangan output (kurva IS), dan selanjutnya melalui tekanan terhadap inflasi (kurva Philips).
Dengan menggunakan data bulanan, menghitung kesenjangan output menggunakan prosedur HP-Filter pada data PDB riil dengan data triwulanan diinterpolasi ke bulanan, diperoleh persamaan berikut. Berdasarkan kedua persamaan di atas dapat diamati bahwa untuk mekanisme transmisi melalui kurva IS besarnya efek delay dari SBI sebesar 3 s/. Dengan transfer melalui kurva Phillips, jeda dampak kesenjangan output terhadap inflasi adalah 7 hingga 9 bulan, atau sekitar 3 kuartal.
Dengan demikian, total lag inflasi SBI berdasarkan pendekatan model struktural adalah 4 sampai 6 triwulan. Metode pengukuran efek lagging dengan menggunakan VAR struktural dilakukan dengan asumsi bahwa dinamika dasar perekonomian dicirikan oleh adanya hubungan struktural antara tekanan kesenjangan output (keseimbangan AS dan AD), harga impor, inflasi dan kebijakan moneter melalui suku bunga ( Haldane, 1997). Terhadap hal ini, vektor SVAR = {GAP, IMPP, INFLATION, SBI} dibentuk, dengan penundaan SVAR ditetapkan hingga 12 bulan tanpa batas.
Dengan demikian, durasi lag effect kebijakan moneter berdasarkan metode analisis struktural VAR adalah 4 hingga 8 triwulan atau 1 hingga 2 tahun. Secara umum, melihat hasil analisis dari 3 metode yang digunakan, dapat disimpulkan bahwa rata-rata dampak penundaan kebijakan moneter bervariasi antara 4 hingga 8 kuartal atau setara dengan 1 hingga 2 tahun.
Strategi Pencapaian Target Inflasi
Dengan menggunakan persamaan simultan, proyeksi inflasi inti dalam jangka panjang (sampai dengan tahun 2010) adalah sebesar 7,5% (Grafik 9). Dengan menetapkan sasaran inflasi, bank sentral mempunyai kewajiban untuk memastikan proyeksi inflasi sebesar 7,5% dapat diturunkan hingga berada dalam kisaran sasarannya. Selain itu, jika target inflasi yang ditetapkan bank sentral berhasil tercapai, maka kredibilitas bank sentral diharapkan meningkat.
Peningkatan kredibilitas tersebut antara lain tercermin pada semakin tingginya bobot ekspektasi yang dibentuk masyarakat atas dasar proyeksi inflasi bank sentral dan semakin rendahnya bobot ekspektasi yang dibentuk atas dasar inflasi yang terjadi pada periode sebelumnya. Dalam hal ini, simulasi kredibilitas bank sentral dilakukan dengan mengubah koefisien inflasi inersia (LIHKAN(-1)) pada persamaan inflasi (LIHKAN). Selanjutnya kedua simulasi jalur suku bunga dan kredibilitas diterapkan pada perbandingan simultan di atas (pada variabel SBI dan LIHKAN (lag)), sehingga diperoleh proyeksi inflasi dari masing-masing skenario (Grafik 11 dan 12).
Dengan jalur suku bunga SBI seperti terlihat pada Grafik 10, terlihat bahwa tanpa peningkatan kredibilitas bank sentral, inflasi masih berada di atas kisaran yang ditetapkan selama tahun 2006-2010. Dengan kata lain, agar proyeksi inflasi berada pada kisaran pada periode tersebut, bank sentral harus menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih banyak. Di sisi lain, dengan peningkatan kredibilitas, suku bunga sebesar 13% dan 15% berhasil membawa inflasi berada dalam kisaran sasarannya.
Dalam hal ini, bank sentral menerapkan strategi dengan biaya yang minimum, diukur dalam tingkat penurunan output. Sebagaimana diketahui, tingkat suku bunga akan mempengaruhi tingkat output dalam perekonomian, sehingga perubahan tingkat suku bunga akan mempengaruhi tingkat output yang dihasilkan. Untuk mengetahui tingkat output dari masing-masing strategi, dilakukan simulasi dengan menggunakan perbandingan simultan seperti yang disebutkan di atas.
Oleh karena itu, bank sentral harus melakukan kebijakan kenaikan suku bunga secara perlahan (bertahap) guna mencapai sasaran inflasi. Selain itu, hasil simulasi juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat kredibilitas bank sentral dengan tingkat output yang dihasilkan. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat kredibilitas bank sentral, semakin tinggi pula tingkat output perekonomian.
Kesimpulan