• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DENGAN MENGGUNKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI SMPN 3 KATINGAN KUALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DENGAN MENGGUNKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI SMPN 3 KATINGAN KUALA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

213 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DENGAN MENGGUNKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI SMPN 3 KATINGAN KUALA

Sri Wahyuningsih

Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya E-mail: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Model Problem Based Learning dan peningkatan hasil belajar siwa setelah menggunakan Model Problem Based Learning pada mata pelajaran PAI materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran pada peserta didik kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala Tahun Pelajaran 2023/2024 yang berjumlah 20 orang dan objek penelitiannya adalah hasil belajar PAI pada materi Menghindari Minuman Keras, Judi dan Pertengkaran. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi dan tes. Selanjutnya diolah menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas guru dan siswa pada Siklus I ke siklus II semakin meningkat dari kategori cukup baik menjadi sangat baik. Hasil belajar PAI pada Pra Siklus sebesar 68,5%, pada siklus I sebesar 80,33% dan pada siklus II sebesar 95,24%. Peningkatan hasil belajar PAI pada Pra Siklus ke Siklus I sebesar 19,67%, selanjutnya pada Siklus I ke Siklus II sebesar 24,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PAI siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala.

Kata kunci: hasil belajar, problem based learning, pembelajaran PAI

Pendahuluan

Hasil belajar merupakan tujuan akhir dari pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Untuk memperoleh hasil belajar, peserta didik harus melalaui proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan peserta didik atau biasa disebut dengan belajar mengajar dan diakhiri dengan dilakukannya evaluasi untuk pembelajaran yang diberikan oleh guru untuk peserta didik. Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan dipelajari oleh peserta didik secara berkesinambungan.

Pembelajaran PAI adalah suatu proses belajar mengajar yang diajarkan sejak

(2)

214 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

dini untuk peserta didik. Permasalahan yang terjadi cenderungan dalam proses pembelajaran saat ini masih didominasi oleh guru. Guru menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik, oleh karena itu banyak sumber belajar lain yang tidak di manfaatkan secara optimal. Sehingga peserta didik kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Akibatnya tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran menjadi rendah. Di samping itu, media maupun variasi model pembelajaran jarang digunakan oleh guru sehingga pelajaran menjadi kering dan kurang bermakna.

Berdasarkan pengamatan di SMPN 3 Katingan Kuala, dalam proses pembelajaran PAI tentang materi menghindari minuman keras, judi, dan pertengkaran diperoleh keterangan bahwa peserta didik kelas VIII memiliki tingkat penguasaan materi yang masih rendah. Penyebab rendahnya hasil belajar tersebut dikarenakan kurangnya perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, rendahnya tingkat penguasaan peserta didik terhadap konsep materi pembelajaran yang disampaikan, motivasi belajar peserta didik yang kurang, dan modelserta teknik pembelajaran yang kurang bervariatif sehingga membuat peserta didik merasa jenuh.

Peserta didik terkesan jenuh dikarenakan pembelajaran PAI identik dengan mendengarkan, membaca, dan menghafal. Hal itu menyebabkan peneliti untuk membuat suatu variasi pembelajaran yang sekiranya dapat memacu peserta didik untuk lebih berminat dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran PAI. Oleh karena itu, peneliti menerapkan model Problem Based Learning. Karena dapat dianggap membangkitkan hasil belajar serta motivasi peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran PAI yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran. Proses pembelajaran erat kaitannya dengan KKM, KKM merupakan kriteria penilaian paling rendah yang menyatakan ketercapaian peserta didik terhadap materi dengan menunjukkan presentase tingkat pencapaian kompetensi berupa angka maksimal 100. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penilaian harian PAI hanya 60% siswa mencapai nilai ≥70. Padahal idealnya persentase tingkat ketuntasan klasikal yaitu 85% siswa memperoleh nilai ≥70.

Target ketuntasan secara nasional adalah sebesar 85%, sekolah berhak menentukan KKM, untuk mengatasi masalah ini yaitu menggunakan model Problem based learning. Bukan tanpa alasan mengapa problem based learning digunakan dalam sistem pembelajaran, karena memang kelebihan yang dimiliki mampu membantu peserta didik menemukan bagaimana cara memahami belajar itu sendiri. Salah satunya adalah peserta didik dilatih untuk bisa selalu menggunakan pikiran agar kritis dan bisa terampil dalam menyelesaikan suatu permasalahan, selain itu agar dapat memicu adanya

(3)

215 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

peningkatan aktivitas dari peserta didik di dalam kelas, dengan pembelajaran sambil mempraktekkan.

Pada beberapa penelitian sebelumnya yang telah menggunakan Model PBL dalam proses pembelajaran. Fandi (2016) melakukan penelitian tentang penerapan model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SDIT Al MUHSIN Metro. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa telah mengalami peningkatan sehingga 69% siswa mampu mencapai kkm, yang menunjukan pencapaian indikator keberhasilan yang di tetapkan. Hasil tersebut menunjukan bahwa metode Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan penerapan dan peningkatan setelah menggunakan Model Problem based Learning pada mata pelajaran PAI materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran pada peserta didik kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala

Metode/Metodologi

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dipilih karena peneliti ingin memperbaiki proses pembelajaran dengan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2023 sampai 21 Agustus 2023. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala yang berjumlah 20 orang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan.

Adapun rancangan dari penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam siklus, masing- masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu (1) Tahap Perencanaan (2) Tahap Tindakan (3) Tahap Observasi (4) Tahap Refleksi.

Rancangan penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 Alur pelaksanaan PTK

(4)

216 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

Tahap Perencanaan tersebut adalah sebagai berikut: peneliti memeriksa segala perangkat pembelajaran yang sudah disiapkan oleh guru meliputi CP, Modul Ajar, materi ajar, media pembelajaran, Lembar kerja siswa (LKS) dan soal evaluasi. Peneliti juga menyiapkan instrument penilaian yang berupa lembar penilaian afektif. Tindakan yang dilakukan pada siklus ini adalah penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning untuk mempelajari materi menghindari minuman keras, judi dan pertengkaran pada pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Tahap Tindakan tindakan ini disesuaikan dengan Modul Ajar yang telah dibuat. (1) Guru meminta siswa mengamati PPT yang tersedia. (2) Siswa bersama-sama memahami perbedaan gambar minuman keras, judi dan pertengkaran sambil memperhatikan PPT. (3) Guru melakukan pengamatan terhadap peserta didik. (4) Guru memberikan pertanyaan penguatan terhadap peserta didik.

Tahap Observasi Observasi dilakukan oleh peneliti selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dalam observasi ini peneliti mengisi lembar pengamatan yang telah peneliti susun. Lembar pengamatan tersebut meliputi lembar observasi minat atau lembar penilaian afektif.

Tahap Refleksi Pada tahap ini peneliti kembali mengkaji proses pelaksanaan penelitian dari awal hingga akhir guna melihat pengaruh pemberian treatment dan juga mengolah data-data yang telah didapatkan selama pelaksanaan siklus II tersebut guna melihat keberhasilan siklus.

Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini melakukan pengumpulan data observasi untuk mengetahui kondisi kelas pada awalnya dan melakukan observasi langsung ketempat lokasi penelitian untuk mengamati proses berlangsungnya pembelajaran dengan strategi yang sudah kita buat. Berdasarkan deskripsi yang telah dibuat dan dilaksanakan dalam tindakan, selanjutnya dapat ditarik kesimpulan hasil pelaksanaan rencana tindakan yang telah dilakukan. Untuk dapat menetapkan keberhasilan tindakan yang dilakukan, penetapan kriteria atau indikator keberhasilan mutlak diperlukan. Indikator keberhasilan ditetapkan sebagai berikut: (1) Pemahaman siswa berdasarkan tes akhir siklus dikatakan meningkat apabila dalam proses pembelajaran terlihat adanya peningkatan jumlah siswa yang tuntas pemahaman dari siklus 1 ke siklus berikutnya dengan kriteria 85% dari total siswa dalam kelas (2) Aktivitas belajar siswa di katakan meningkat apabila dalam proses pembelajaran terlihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dari minimum aktivitas belajar siswa berkategori aktif atau baik (3) Persentase hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus berikutnya dengan Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70.

(5)

217 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2023 sampai dengan 21 Agustus 2023. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala tahun pelajaran 2023/2024 yang berjumlah 20 orang yang terdiri dari 6 orang siswa laki-laki dan 14 orang siswa perempuan.

Pra Siklus berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran terlihat bahwa hasil belajar PAI siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala masih rendah. Hal ini bisa dilihat dari nilai hasil pretest siswa pada mata pelajaran PAI yang telah dilakukan di mana sebagian besar siswa belum mencapai nilai KKM yaitu sebanyak 8 siswa belum mencapai nilai KKM sedangkan 12 siswa sudah mencapai nilai KKM dengan jumlah rata-rata nilai 68,5 dengan persentase 60%. Di bawah ini adalah rekapitulasi persentase hasil belajar siswa pada Pra Siklus:

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Nilai PAI Siswa Kelas VIII (Pra Siklus) No. Rentang Nilai Jumlah Persentase (%) Keterangan

1. 90 - 100 2 13.42% Tuntas

2. 80 - 89 8 38,10% Tuntas

3. 70 - 79 7 28,81% Tuntas

4. 60 - 69 1 6.25% Belum Tuntas

5. < 60 2 13.42% Belum Tuntas

Jumlah 20 100%

Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa ketuntasan belajar siswa sebelum diadakan tindakan berjumlah 8 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 40% dengan rata-rata 68,5. Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan berjumlah 12 siswa dengan persentase 60%. Nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi 80. Sehingga peneliti perlu melakukan tindakan pembelajaran demi membantu meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala.

Siklus I Dalam tahap ini, peneliti memeriksa segala perangkat pembelajaran yang sudah disiapkan oleh guru meliputi peneliti memeriksa segala perangkat pembelajaran yang sudah disiapkan oleh guru meliputi CP, Modul Ajar, materi ajar, media, Lembar kerja siswa (LKS) dan soal evaluasi.

Peneliti juga menyiapkan instrument penilaian yang berupa lembar penilaian

(6)

218 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

afektif. Tindakan yang dilakukan pada siklus ini adalah penggunaan strategi model pembelajaran Problem Based Learning untuk mempelajari materi menghindari minuman keras, judi, dan pertengkaran pada pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Pada pelaksanaan tindakan Siklus I, langkah-langkah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut: Pada tahap ini dilakukan : (1) Guru menjelaskan materi Materi Menghindari minuman keras, judi dan pertengkaran. (2) Pengorganisasian siswa yaitu dengan membentuk 4 kelompok, masing–masing kelompok terdiri dari 5 orang siswa, kemudian LKS dan siswa diminta untuk mempelajari LKS. (3) Dalam kegiatan pembelajaran secara umum siswa melakukan kegiatan sesuai dengan langkah–langkah kegiatan yang tertera dalam LKS, diskusi kelompok, diskusi antar kelompok, dan menjawab soal–soal. Dalam bekerja kelompok siswa saling membantu dan berbagi tugas. Setiap anggota bertanggung jawab terhadap kelompoknya. Siklus I menunjukkan yang tuntas pada Siklus 1 ada 17 orang dengan nilai tertinggi 90, sedangkan yang belum tuntas berjumlah 3 siswa dengan nilai terendah 50.

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Nilai PAI pada siswa kelas VIII (Siklus I)

No. Rentang Nilai Jumlah Persentase (%) Keterangan

1. 90 - 100 2 13.42% Tuntas

2. 80 - 89 8 38,10% Tuntas

3. 70 - 79 7 28,81% Tuntas

4. 60 - 69 1 6.25% Belum

Tuntas

5. < 60 2 13.42% Belum

Tuntas

Jumlah 20 100%

Dapat dilihat bahwa nilai ketuntasan belajar siswa setelah diadakan model pembelajaran Problem Based Learning tersebut pada siklus I berjumlah 3 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 19.67% dengan rata-rata 70.

Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan berjumlah 17 siswa dengan persentase 80.33%. Nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi 90. Dari tabel nilai hasil kentuntasan belajar siklus I dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PAI di kelas VIII

(7)

219 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

terbukti dengan hasil peningkatan pada siklus I tersebut yang sudah mencapai nilai KKM 70.

Pengamatan pada siklus II ini setelah dilakukan penerapan dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Pada siklus II ini peneliti memperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus II telah berjalan sesuai dengan rencana awal yang telah dibuat sebelum pelaksanaan tindakan siklus I. Hal tersebut dapat dibuktikan pada pertemuan siklus II. Proses pembelajaran terlihat tenang, siswa tertarik dengan materi yang diberikan oleh guru. Pada saat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru siswa sudah meningkat aktivitasnya sehingga tidak lagi mengandalkan hasil pekerjaan teman yang dianggap mampu / pintar. Terbukti bahwa ketika guru memberi sebuah pertanyaan hampir semua siswa mnegacungkan jari karena ingin bertanya. Disamping itu juga terlihat pada nilai siklus II yang meningkat dengan signifikan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel hasil nilai di bawah ini:

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Nilai PAI pada siswa kelas VIII (Siklus II) No. Rentang Nilai Jumlah Persentase (%) Keterangan

1. 90 - 100 5 28,57% Tuntas

2. 80 - 89 11 38,10% Tuntas

3. 70 - 79 3 28,57% Tuntas

4. 60 - 69 1 4,76% Belum Tuntas

5. < 60 0 0,00% Belum Tuntas

Jumlah 20 100%

Berdasarkan tabel 4.12 dapat dilihat bahwa nilai ketuntasan belajar siswa setelah diadakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning tersebut pada siklus II berjumlah 19 siswa (95,24%) dengan kategori tuntas sedangkan 1 siswa (4,76%) dengan kategori tidak tuntas. Nilai terendah yaitu 60 sedangkan nilai tertinggi 90. Hal dapat menjadi bukti bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learing dapat meningkatkan nilai belajar dan keaktifan siswa ketika di dalam kelas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram lingkaran dibawah ini.

(8)

220 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

Dapat dijelaskan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning mengalami peningkatan yakni sebesar 95,24%

dengan kategori tuntas, sedangkan 4,76% dengan kategori tidak tuntas.

Jumlah nilai tertinggi 90 sebanyak 19 siswa tuntas belajar. Berdasarkan hasil perolehan nilai hasil evaluasi yang dicapai pada pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat melatih siswa dalam berbicara dan melatih daya fikir agar terus berkembang. Selain itu juga dapat meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan penelitian Krisna (2013), Fandi Israwan (2016) dan Yuli Hapsari (2013) yang menyatakan penerapan model pembelajaran Prob;em Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa melalui model Problem Based Learning ada peningkatan dalam beberapa hal yaitu (1) aktivitas guru dan siswa meningkat menjadi lebih aktif (2) Hasil belajar siswa meningkat dari Pra Siklus, siklus I dan Siklus II. Dari seluruh kegiatan yang diberikan kepada siswa dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan merupakan hal baru, siswa merasa senang mengikuti pelajaran, siswa tidak merasa jenuh saat penyampaian materi, tugas lebih mudah dikerjakan, merasa siap untuk menjawab pertanyaan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar PAI mendapat respon positif dari siswa. Dengan model pembelajaran Problem Based Learning siswa lebih mudah belajar, hal ini disebabkan adanya bimbingan dari teman sekelompoknya melalui diskusi yang berlangsung.

Kesimpulan

Hasil analisis data dan pembahasan dapat menunjukkan beberapa kemajuan yang dicapai selama pembelajaran baik aktivitas guru dan siswa maupun hasil belajar. Maka hasil penelitian tindakan kelas ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Aktivitas guru dan siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan.

Hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran setelah diterapkannya Problem Based Learning adalah munculnya kreatifitas siswa, banyaknya pertanyaan yang diajukan siswa, adanya tanggung jawab menyelesaikan tugas, hilangnya keluhan bosan, bahkan siswa lebih senang menyelesaikan tugas dari pada beristirahat.

Hasil belajar siswa setelah diterapkannya Problem Based Learning mengalami peningkatan yang signifikan dari pra Siklus, Siklus I dan Siklus II.

(9)

221 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

Dengan adanya penerapan model Problem Based Learning terjadi peningkatan hasil belajar PAI pada siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala. Hal ini berdasarkan persentase hasil belajar PAI siswa kelas IV pada Pra Siklus sebesar 60% mengalami peningkatan sebesar 19.67% pada Siklus I akan tetapi belum mencapai indikator keberhasilan yaitu sebesar 85% maka dilanjutkan pada Siklus II. Pada Siklus II menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan yaitu sebesar 95,24%. Ini artinya hasil belajar meningkat sebesar 24,5% pada Siklus II. Hal ini menjadi bukti bahwa dengan menggunakan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PAI pada siswa kelas VIII SMPN 3 Katingan Kuala.

Berdasarkan beberapa kemajuan yang dicapai dan hasil simpulan penelitian ini, maka perlu disampaikan beberapa saran yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil penelitian tindakan kelas yang menerapkan Problem Based Learning. Beberapa saran yang perlu disampaikan adalah: (1) Bagi teman- teman guru, untuk mengatasi permasalahan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang cenderung tidak disukai oleh siswa, maka sebagai alternatif penyelesaiannya adalah menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (2) Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian lanjutan sesuai dengan penelitian ini juga disarankan agar membuat persiapan yang lebih sempurna terutama dalam mempersiapkan instrumen pengamatan dan tes.

Referensi

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran.

Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hakim, Lukmanul. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Huda, Miftachul. 2014. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran Isu-isu Metodis dan Pradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2015. Strategi Pembelajaran Bahasa.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

(10)

222 Vol. 3 No. 2, Agustus 2023 | Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

“Peran Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan di Era Digital”

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hamidah. 2016. Filsafat Pembelajaran Bahasa Perspektif Strukturalisme dan Pragmatisme. Yogyakarta: Naila Pustaka. ←Book

Fadhilaturrahmi. (2017). ANALISIS KEMAMPUAN GURU SEKOLAH DASAR DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK DI SD. Jurnal Basicedu, 1(1), 1–9.

Faisal. (2014). Sukses Mengawal Kurikulum 2013 Di SD. Yogyakarta:Diandara Creative

Arikunto, Suharsimi. 2005. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, S. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Rineka Cipt.

Djamarah, S. B. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hurlock, B. (2008). Psikologi perkembangan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.

Hurlock, B. (2013). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung:

Rafika Aditama.

Mulyono, Abdurrahman. (2003). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:

Rineka Cipta. Arsyad, Azhar. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Ennis, R. H. (1993).

Ngalimun. 2017. Strategi Pendidikan. Parama Ilmu.

Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Referensi

Dokumen terkait