PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Masalah penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan metode Trip Class pada siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja. Field trip class sebagai upaya meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja.
TINJAUAN PUSTAKA
Hakikat Cerpen
Genre lain yang tidak terlalu menonjol dalam dunia cerpen Indonesia adalah aliran ekspresionisme. Kecenderungan yang muncul kuat dalam cerpen Indonesia adalah mistisisme.
Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
Tema dalam cerpen dapat disamakan dengan pondasi sebuah bangunan, namun tentunya anda tidak dapat membangun sebuah bangunan tanpa pondasi. Salah satu unsur yang membangun cerpen adalah sudut pandang tokoh yang dibangun oleh pengarang. Namun, latar dalam cerpen sastra bukan sekadar latar, melainkan harus mendukung cerita secara keseluruhan.
Apakah opsi atau setting tersebut tetap efektif di sepanjang cerpen jika diabaikan atau dihilangkan. Cerpen yang berhasil mampu menunjukkan bahwa latar berperan dan berfungsi untuk memperkuat karakter tokoh. Pada dasarnya setting atau latar mutlak diperlukan untuk menggarap tema dan alur cerita karena latar harus menyatu dengan tema dan alur untuk menghasilkan cerita pendek yang kaya, padat, dan berkualitas.
Extraneous factor adalah faktor luar atau hal-hal di luar cerita yang muncul dalam cerpen. Semua penjelasan dalam cerita disebut faktor internal, dan semua elemen terhubung satu sama lain, sehingga tercipta harmoni di bagian-bagian yang mengalir ke harmoni keseluruhan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Bobot atau kualitas karya juga tergantung pada tingkat kecerdasan, bakat, dan pencarian dan penemuan individu. Guru bukan lagi seorang praktisi yang puas dengan kerja bertahun-tahun tanpa upaya perbaikan dan inovasi, tetapi juga sebagai peneliti di bidangnya. Dengan menerapkan jenjang-jenjang di PTK, guru dapat meningkatkan proses pembelajaran dengan mempelajari secara mendalam apa yang terjadi di kelasnya.
Melaksanakan PTK menjadikan guru kreatif karena harus selalu melakukan upaya-upaya inovatif sebagai penerapan dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang digunakannya. Jenis penelitian ini dapat dilakukan dalam bidang pengembangan organisasi, manajemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Dalam skala mikro, misalnya, dilakukan di dalam kelas pada saat kegiatan belajar mengajar untuk mata pelajaran tertentu dalam suatu mata pelajaran.
Harjodipuro, (2012) mengatakan bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong guru untuk merefleksikan praktik pengajarannya sendiri, bersikap kritis terhadap praktik tersebut dan bersedia mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK memiliki arti sadar dan kritis mengajar dan dengan kesadaran kritis diri mempersiapkan proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran.
Metode Outing Class
Guru menugaskan beberapa siswa untuk menjelajahi obyek yang akan dikunjungi guna menyampaikan informasi tentang rencana kunjungan dan mengidentifikasi informasi terkait kunjungan untuk dijadikan masukan untuk mengubah dan menyempurnakan rencana pelaksanaan kunjungan lapangan. Siswa dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah disusun untuk memecahkan masalah dunia nyata. Siswa dapat bekerja sama dengan menggabungkan latar belakang dengan kemampuan kelompok yang berbeda dan latar belakang individu.
Memerlukan kerjasama yang kuat dan motivasi yang tinggi diantara mahasiswa untuk melakukan kunjungan lapangan. Metode field trip sangat tepat ketika: (1) siswa membutuhkan pengalaman belajar langsung di kehidupan nyata, (2) ada masalah yang dihadapi masyarakat atau lembaga yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki siswa, (3) siswa dengan latar belakang yang berbeda. dalam melakukan tugas dalam kehidupan nyata, kemampuan mereka akan dikembangkan melalui kunjungan ke objek nyata. Kunjungan lapangan akan dilakukan ke desa pemuda atau kelompok pramuka yang dinilai sudah maju.
Untuk itu, kami sedang mempersiapkan kunjungan lapangan dengan menggunakan langkah-langkah metode seperti yang dijelaskan sebelumnya. Setelah melakukan metode kunjungan lapangan, pendidik melakukan evaluasi bersama siswa terhadap proses dan hasil penggunaan metode tersebut, Sudjana, (Metode dan Teknik Pembelajaran Parsitipati. 2010).
Kerangka Pikir
Hipotesis Tindakan
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Kelas adalah sekelompok siswa yang sama dan menerima pelajaran yang sama dari seorang pendidik.
Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Subjek Penelitian
Pada siklus ini terlihat bahwa siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja belum berhasil dalam menulis cerpen, kompetensi peneliti mengelola kelas dan keaktifan siswa. Pada siklus kedua menunjukkan bahwa siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja sudah berhasil dalam menulis, kemampuan peneliti mengelola kelas dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran sudah baik, dan siswa mulai antusias untuk mempelajari cara menulis cerpen yang diberikan oleh peneliti kepada siswa. Berikut hasil tes kemampuan menulis cerpen siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja pada Siklus II, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel.
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, peneliti menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan metode Outing Class, terlihat dari tabel refleksi di atas bahwa 12 dari 17 siswa yang mendapat nilai 75 (KKM). ) ) skor ≥75. . Hasil tes pada siklus I dengan metode Outing Class menulis cerpen belum tercapai secara maksimal, hal ini terlihat pada tabel hasil tes siswa siklus I yang mendapat nilai di bawah 0-75 sebanyak 13 dari 17 siswa atau kurang lebih . 76,04%. Hasil tes pada Siklus II menunjukkan peningkatan dari Siklus I. Berikut grafik peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan menggunakan metode Outing Class.
Kategori nilai berbicara menggunakan metode Outing Class pada siklus 1 dan siklus II siswa kelas VII-10 SMPN 25 Makassar. Pada setiap siklus terjadi peningkatan kemampuan menulis cerpen siswa yang menunjukkan bahwa langkah-langkah yang dilakukan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan metode Outing Class pada siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai , Kabupaten Tana Toraja, hal tersebut terjadi karena adanya strategi tindakan korektif untuk memperbaiki kelemahan siklus I.
Instrumen Penelitian
Faktor-Faktor yang Diselidiki
Input: dengan mengamati persentase kehadiran siswa, keaktifan dalam memahami materi, siswa yang dapat menjawab soal, siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah, siswa yang aktif dalam kerja kelompok, dan siswa yang mengerjakan soal. Proses: mengamati siswa yang berpartisipasi aktif antara guru dengan siswa atau dengan siswa lainnya dalam proses belajar mengajar.
Rencana Tindakan
Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi semua tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil observasi dan menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan yang muncul berdasarkan observasi untuk digunakan pada siklus berikutnya. Pada tahap ini peneliti mengecek kesiapan dan persiapan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dan menjelaskan materi sebelumnya dan rencana keluar kelas. Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, termasuk mengamati interaksi pembelajaran yang sedang berlangsung dalam interaksi kelompok di lapangan.
Teknik Pengumpulan Data
- Indikator Keberhasilan
Setelah melakukan kegiatan observasi pada siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja, pada tahap perencanaan pembelajaran Siklus I, peneliti menyusun rencana tindakan untuk mengatasi masalah atau hambatan yang dialami dalam pembelajaran menulis cerpen yaitu dilaksanakan pada siklus I, RPP dilaksanakan 2 kali pertemuan dengan waktu 2 x 45 menit. Standar kompetensi yang diberikan adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis cerpen kreatif melalui penggunaan metode Outing Class yang akan dilaksanakan pada siklus I. a) Peneliti menjelaskan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dari hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I dapat diketahui bahwa hasil ketuntasan klasikal belum memenuhi kriteria 85% dari jumlah siswa yang mendapat nilai KKM ≥ 75.
Pada tahap perencanaan, pembelajaran yang mengacu pada siklus II disusun dengan beberapa perubahan tindakan sebagai penyempurnaan dari siklus I. Rencana pembelajaran menulis cerpen secara rinci pada siklus II adalah sebagai berikut. Pada kegiatan inti peneliti kembali menjelaskan hal-hal yang ingin disampaikan dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan metode Outing Class dan memberikan motivasi dan semangat, mendorong siswa untuk memahami isi teks cerpen, pada siklus II peneliti membimbing siswa dan memberikan penilaian kepada siswa. Hasil observasi pada siklus II menganalisis perilaku siswa responden terhadap pendekatan pembelajaran yang diterapkan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat sesuai dengan yang peneliti harapkan, semua siswa aktif mengikuti proses pembelajaran yang dilaksanakan. disediakan oleh peneliti. .
Keaktifan siswa pada siklus I menunjukkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran, siswa tidak berani bertanya yang belum dimengerti. C). Pada siklus I nilai rata-rata siswa 68,52% dan tidak mencapai standar keberhasilan karena siswa kurang memahami materi saat menulis cerpen.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil Penelitian
Pada tahap perencanaan peneliti menyusun rencana tindakan untuk mengatasi permasalahan atau kendala yang dialami dalam pembelajaran menulis cerpen yang terdapat pada kegiatan observasi, peneliti menyiapkan hal-hal yang akan dilaksanakan dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan Outgoing Classroom Metode untuk siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 Sopai Kabupaten Tana Toraja. Pada siklus I tingkat keberhasilan tidak mencapai 85%. Agar peneliti dapat menyelesaikan siklus II, maka peneliti harus meningkatkan kegiatan kinerjanya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Jadi secara klasikal dapat disimpulkan kriteria ini mengalami peningkatan karena telah mencapai standar ketuntasan klasikal yaitu ≥ 85%, dari jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 75. d).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik penulisan cerpen dengan metode Outing Class dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa. Oleh karena itu, diharapkan para guru menggunakan metode Outing Class sebagai model pembelajaran dalam menulis cerpen dengan menggunakan metode Outing Class untuk melatih keterampilan menulis cerpen. Penilaian proses dan hasil dalam kegiatan menulis cerpen dengan menggunakan metode Outing Class sangat cocok untuk menentukan perkembangan kemampuan menulis cerpen siswa.
Jika terlihat ada siswa yang membutuhkan bantuan pada bagian tertentu di kelas, guru perlu bergerak dan melakukan pendekatan secara seimbang dan tidak hanya terfokus pada beberapa siswa saja. Setiap hari jum'at kami bergotong royong membersihkan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah. Siswa yang tergabung dalam pengurus OSIS dan pecinta alam ditugaskan untuk membersihkan jalan di sekitar sekolah. 5.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
6 Siswa menghargai pendapat temannya 7 Mendiskusikan tugas yang diberikan 8 Bertanya kepada guru jika tugasnya kurang jelas. Jika ada masalah, guru dapat mengambil tindakan untuk mengambil keputusan yang terbaik agar pembelajaran tetap berjalan dengan efisien dan efektif. Guru selalu terbuka dan tidak berpikir negatif ketika siswa melakukan kesalahan dalam proses pembelajaran.
Banyak pohon ditanam di sekolah dan juga banyak pot berbagai bunga di sepanjang koridor kelas dan di ruang guru dan kepala sekolah.