PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata frekuensi siswa menjawab pertanyaan guru secara lisan dari pertemuan pertama hingga terakhir pada siklus ini adalah 14%. Setelah dihitung rata-rata frekuensi siswa yang memerlukan bimbingan dari pertemuan pertama hingga terakhir, ternyata sebesar 26%. Berbeda dengan hasil belajar siswa pada akhir Siklus I, rata-rata yang dicapai siswa hanya sebesar 70,96.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN TEORI
Kajian Pustaka
- Pengertian Belajar
- Karakteristik Belajar
- Hakekat Matematika
- Pembelajaran Matematika di SMP
- Pembelajaran Matematika di SMP
- Fungsi
- Pembelajaran Matematika di SMP
- Pendekatan Kontekstual
- Pembelajaran Matematika di SMP
Data mengenai aktivitas siswa dikumpulkan melalui observasi selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Jika dihitung rata-rata persentase frekuensi siswa memperhatikan materi pada siklus I, maka diperoleh hasil sebesar 95. Dilihat dari besarnya persentase frekuensi tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memperhatikan materi sehari-hari pada siklus ini dapat dikategorikan tinggi. .
Setelah dihitung rata-rata persentase siswa yang bertanya pada pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir pada siklus ini, diperoleh hasil sebesar 14% siswa yang bertanya pada saat pemaparan materi. Demikian pula kemampuan siswa dalam memberikan jawaban sangat buruk; jawabannya hanya didominasi oleh siswa yang cerdas. Keaktifan sosial terlihat dari kerjasama siswa dalam kegiatan kelompok, pada pertemuan pertama ternyata masih kurang karena masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam kegiatan kelompok.
Dari hasil yang diperoleh selama pertemuan pada Siklus I siswa yang aktif secara fisik, mental dan sosial dalam kegiatan pembelajaran mencapai 83%. Kehadiran siswa pada siklus ini yaitu pada pertemuan pertama ada 3 orang yang tidak hadir, sedangkan pada pertemuan kedua ada 2 siswa yang tidak hadir. Perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan pada siklus ini meningkat yaitu dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua kurang lebih 45 siswa memperhatikan materi yang diajarkan guru atau setelah dihitung rata-rata frekuensinya selama pertemuan pada siklus II maka besarnya hasil yang dicapai sebesar 98%, hal ini menunjukkan perhatian siswa semakin meningkat.
Hal ini berlanjut hingga akhir siklus, meskipun masih ada beberapa siswa yang cenderung pasif. Jika kita hitung rata-rata frekuensi siswa bertanya pada pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir siklus ini, maka diperoleh hasil sebesar 20% atau sekitar 7 siswa yang mengajukan pertanyaan pada siklus ini. Pada siklus ini proses belajar mengajar berlangsung cukup tertib karena tidak adanya keributan siswa pada saat proses belajar mengajar.
Kerangka Fikir
Hipotesis Tindakan
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Subjek Penelitian
- Lokasi dan Subjek Penelitian
- Faktor-faktor yang Diselidiki
- Prosedur Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Cara Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Indikator Keberhasilan
Kehadiran siswa pada siklus ini adalah pada pertemuan pertama dari 31 siswa ada 3 orang yang tidak hadir, namun pada pertemuan kedua dan ketiga ada 2 orang yang tidak hadir, hal ini dikarenakan siswa sakit. izin dan kelalaian. Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa berupa keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas tambahan berupa pekerjaan rumah (PR) yang diberikan guru pada setiap pertemuan siklus I, diperoleh informasi bahwa pada pertemuan pertama terdapat 28 siswa. mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Namun pada pertemuan kedua dan ketiga, jumlah siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah bertambah yaitu sekitar 31 siswa pada akhir pertemuan siklus I.
Siswa yang bertanya pada pertemuan pertama tentang materi pelajaran yang belum dipahami selama proses belajar mengajar masih sangat sedikit yaitu hanya 4 orang siswa, mereka hanya cenderung diam dalam menerima pelajaran, hal tersebut dikarenakan siswa masih mempunyai keberanian. untuk menanyakan pertanyaan. Begitu pula dengan siswa yang masih banyak memerlukan bimbingan dalam pembelajaran khususnya pada pembelajaran kelompok yaitu pada pertemuan pertama dan kedua berjumlah sekitar 15 orang. Selain itu jumlah siswa yang mengerjakan tugas tambahan berupa pekerjaan rumah (PR) juga bertambah hingga pertemuan terakhir pada siklus ini, yaitu dari perhitungan rata-rata frekuensi pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir, hasilnya adalah 95% siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah atau 30 orang siswa yang mengerjakan tugas tambahan pada siklus II.
Hasil observasi topik ini yang dilakukan dari pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang melakukan aktivitas di luar pembelajaran pada pertemuan-pertemuan pada siklus ini. Hal ini terlihat dari kekompakan siswa dalam melakukan kegiatan kelompok dan masih kurangnya siswa berperilaku pasif dalam kegiatan kelompok. Dalam kegiatan kelompok, siswa juga mengalami peningkatan yang cukup besar, hal ini tercermin dari banyaknya siswa yang aktif mendominasi kelas terutama pada saat mengerjakan LKS.
Walaupun mata pelajaran klasikal pada Siklus I belum tuntas, namun setelah Siklus II sudah tuntas ketuntasan klasikalnya yaitu 96% siswa telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (MCC) atau berhasil mencapai nilai minimal 75.
HASIL PENELITIAN
Hasil Analisis Kuantitatif
- Siklus I
- Siklus II
Berdasarkan Tabel 4.1 diperoleh informasi bahwa hasil belajar siklus I siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Salomekko setelah dilakukan proses belajar mengajar dengan pendekatan kontekstual masih dalam kategori rendah. Hal ini terlihat dari rata-rata skor yang dicapai pada siklus ini sebesar 70,96. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus ini secara klasikal belum memenuhi standar ketuntasan. Berdasarkan Tabel 4.1 diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Salomekko setelah dilakukan proses belajar mengajar dengan pendekatan kontekstual yang dilaksanakan pada siklus II mengalami peningkatan dengan kategori tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tabel di atas menunjukkan bahwa pada II. Siklus pembelajaran matematika dalam bentuk pendekatan kontekstual berhasil, seiring dengan peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil Analisis Kualitatif
Jika dilihat dari penjelasan tersebut, frekuensi kehadiran siswa masih dalam kategori tinggi yaitu 95% siswa yang berlangsung pada siklus I. Berbeda dengan siswa yang mengerjakan soal latihan di papan tulis, masih sedikit sekali yang secara sukarela mengerjakan soal latihan di papan tulis, hanya 3 sampai 5 orang yang berani tampil di papan tulis untuk mengerjakan soal latihan hingga akhir siklus ini. atau persentase frekuensi siswa Yang dengan sukarela mengerjakan tugas di papan tulis pada pertemuan pertama hingga akhir pertemuan pada siklus ini rata-rata hanya berjumlah 8% dari jumlah siswa. Hal ini terjadi karena umumnya masih ada siswa yang belum memahami cara mengerjakan Lembar Kerja Siswa (SWK) sehingga memerlukan bimbingan untuk mengerjakan SWK ini, namun pada pertemuan ketiga cenderung menurun yaitu hanya 8 orang yang memerlukan bimbingan guru. .
Selain itu, salah satu kegiatan yang dinilai adalah siswa melakukan kegiatan lain seperti masuk dan keluar ruangan, mengganggu teman, membuat keributan, dan lain-lain. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa jumlah siswa yang melakukan kegiatan tersebut dari pertemuan pertama hingga pertemuan ketiga cenderung menurun yaitu dari 9 orang menjadi hanya 5 orang atau 18% siswa yang melakukan kegiatan di luar. kegiatan belajar mengajar (rata-rata frekuensi siswa yang melakukan kegiatan lain selama pertemuan pada siklus I). Ketidakhadiran siswa bukan berarti ada pemotongan, namun disebabkan oleh siswa yang sakit dan sedang cuti.
Begitu pula dengan siswa yang menjawab pertanyaan lisan dari guru, dari pertemuan pertama hingga akhir siklus ini terlihat mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan guru pada pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir. , sekitar 9 orang per pertemuan atau dengan persentase frekuensi rata-rata 19%. Siswa mengerjakan soal latihan di papan tulis juga meningkat dari pertemuan awal siklus hingga akhir siklus, terlihat dari antusias siswa dalam mengerjakan soal latihan di papan tulis dan tidak risih lagi untuk menyerahkannya. . diri. Tidak lagi hanya didominasi oleh siswa yang cerdas saja, namun siswa lain juga sudah berani memberikan jawaban.
Penilaian pada siklus ini salah satunya adalah siswa melakukan aktivitas lain, seperti siswa keluar masuk kelas saat pembelajaran, siswa berkelahi, siswa mengganggu tema, dan sebagainya.
Refleksi Umum (Tanggapan Siswa)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil dari Siklus II baik hasil belajar siswa maupun aktivitas siswa selama proses pembelajaran telah tercapai sepenuhnya sehingga tidak perlu melanjutkan tindakan ke siklus berikutnya. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa matematika itu menyenangkan, dan ada juga yang menganggap matematika itu sulit, namun jika dipahami maka pelajaran matematika itu menyenangkan. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa siswa yang hasil belajar individunya belum tuntas menyatakan bahwa permasalahan yang mereka alami adalah kemampuan dasar mereka yang sangat buruk dalam menghitung dan menguasai rumus matematika itu sendiri.
Pembahasan Hasil Penelitian
Sedangkan hasil belajar matematika pada topik yang diajarkan pada Siklus II dengan menggunakan pendekatan kontekstual mencapai skor rata-rata sebesar 88,70 berdasarkan skor ideal yang dapat dicapai yaitu 100. Berdasarkan hasil analisis kualitatif dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pendekatan kontekstual dari siklus I ke siklus II, kualitas pendidikan matematika siswa dapat ditingkatkan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disampaikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kualitas pendidikan matematika.
Memilih pendekatan pembelajaran, aktivitas guru dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Salomekko memberikan perlakuan dengan persentase rata-rata sebesar 93%. Pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Salomekko memperoleh rata-rata tingkat respon sebesar 96%. Dilihat dari kurikulum, penerapan pendekatan kontekstual relevan atau konsisten dengan penerapan kurikulum baru, hanya saja penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika menunjukkan hasil yang lebih baik, sehingga diharapkan para guru khususnya guru matematika. , dapat secara efektif menerapkan pendekatan kontekstual perubahan yang relevan.
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Aritmatika Sosial Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VII.A SMP Neregi 3 Malili Kabupaten Luwu Timur. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VII.A SMP Neregi 3 Malili Kabupaten Luwu Timur. Peningkatan hasil belajar matematika melalui pendekatan kontekstual pada siswa kelas III SD Negeri I Simo Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali. Tesis.
Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis pada Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 33 Makassar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dilihat dari keaktifan proses yang dilakukan yaitu aktivitas fisik, mental dan sosial sudah menunjukkan hal yang baik dan mengalami peningkatan yaitu mencapai 96% siswa yang aktif hingga akhir siklus II. 2. Berdasarkan ketuntasan individu juga meningkat dari 20 siswa pada siklus I menjadi 30 siswa pada siklus II.
Saran-saran
Peningkatan Kualitas Bahan Ajar Matematika Sistem Persamaan Linier Dua Variabel melalui Pendekatan Cooperative Problem Setting Think-Pair-Share di Kelas VIIIA SMA Negeri Satap Burungloe Kecamatan Sinjai. Efektivitas Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 14 Makassar.