• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peninjauan Yuridis Penjatuhan Sanksi Pidana Di Bawah Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi

N/A
N/A
SIPA JULIANA S1 Ilmu Hukum

Academic year: 2024

Membagikan "Peninjauan Yuridis Penjatuhan Sanksi Pidana Di Bawah Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

2258 Available online at

https://jim.usk.ac.id/sejarah

JIMPS: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 8(3), 2023, Hlm. 2258-2267 P-ISSN: 2964-7231, E-ISSN: 2614-3658

DOI: https://doi.org/10.24815/jimps.v8i3.25696

Tinjauan Yuridis Terhadap Penjatuhan Sanksi Pidana Di Bawah Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi

Stanley Oldy Pratasik

Fakultas Hukum, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia [email protected]

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan yuridis terhadap penjatuhan sanksi pidana penjara di bawah minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi. Penjatuhan sanksi pidana yang tepat sangat penting dalam kasus korupsi untuk memastikan keadilan dan efektivitas penegakan hukum.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, dan literatur terkait. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui analisis dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penjatuhan sanksi pidana penjara di bawah minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi dapat menjadi perdebatan dalam praktik peradilan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penjatuhan sanksi di bawah minimum khusus, termasuk pertimbangan pengadilan terhadap kepentingan umum, kerugian negara, peran terdakwa dalam tindak pidana korupsi, serta mitigasi yang diajukan oleh terdakwa. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang penjatuhan sanksi pidana dalam perkara tindak pidana korupsi, khususnya dalam konteks penjatuhan sanksi di bawah minimum khusus.

Rekomendasi dari penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para praktisi hukum, hakim, dan penegak hukum dalam mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan dalam penjatuhan sanksi pidana dalam perkara tindak pidana korupsi.

Abstract: This study aims to conduct a juridical review of the imposition of prison sentences below the specific minimum in cases of corruption. The imposition of appropriate criminal sanctions is essential in corruption cases to ensure fairness and effectiveness of law enforcement. This study uses a normative juridical approach by examining laws and regulations, court decisions, and related literature. The data used in this study is secondary data obtained through document analysis. The results of this study indicate that the imposition of prison sentences below the specific minimum in cases of corruption can be a debate in judicial practice. There are several factors that influence the imposition of sanctions under the specific minimum, including the court's consideration of the public interest, state losses, the role of the accused in corruption, as well as the mitigation proposed by the defendant. This research makes an important contribution to understanding the imposition of criminal sanctions in cases of corruption, especially in the context of imposing sanctions below a special minimum. Recommendations from this study can be a reference for legal practitioners, judges and law enforcers in considering relevant factors in imposing criminal sanctions in corruption cases.

Article history Received : 2023-04-22 Accepted : 2023-05-23 Published : 2023-06-30

Kata Kunci:

Tinjauan yuridis, sanksi pidana, penjara, minimum khusus, tindak pidana korupsi

JIMPS

(2)

2259 PENDAHULUAN

Tindak Pidana Korupsi merupakan salah satu masalah yang perlu dipecahkan menurut hukum positif di Indonesia. Sebab korupsi tergolong kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes) yang terjadi secara sistematis dengan melibatkan struktur kekuasaan negara.

Korupsi ada apabila seseorang secara tidak sah meletakkan kepentingan pribadi di atas kepentingan masyarakat dan sesuatu yang dipercayakan kepadanya untuk dilaksanakan.

Apabila korupsi dibiarkan maka dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan eksistensi prinsip berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi supremasi hukum sebagaimana yang diamanatkan konstitusi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara Hukum.

Gagasan Negara Hukum menurut Plato yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya Aristoteles melalui karya ilmiahnya Politica, dimana suatu negara yang baik yaitu negara yang diperintah dengan konstitusi dan menjunjung tinggi supremasi hukum.

Menurut Aristoteles, hukum merupakan akal atau kecerdasan yang tidak dapat dipengaruhi oleh nafsu sehingga negara hukum adalah penyelenggaraan negara yang tidak dapat dipengaruhi oleh nafsu. Oleh karena itu, memerintah dalam negara bukanlah manusia melainkan pikiran yang adil serta kesusilaan yang menentukan baik buruknya suatu hukum, sehingga diperlukan manusia baik dan bersusila serta bersikap adil. Apabila keadaan semacam ini terwujud, maka tercipta suatu “negara hukum”, karena tujuan negara adalah kesempurnaan warganya yang berdasarkan atas keadilan dan keadilan yang memerintah dalam kehidupan bernegara.

Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan telah masuk sampai keseluruh lapisan masyarakat. Korupsi menjadi sebuah masalah yang telah berakar dan sistemik dalam kehidupan bangsa dan menimbulkan dampak yang sangat merugikan dalam segenap sendi–sendi kehidupan.

Perkembangannya terus meningkat dari

tahun ke tahun, hal ini tidak lepas dari segi kualitas tindak pidana korupsi yang dilakukan semakin sistematis yang telah merasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Dalam rumusan delik Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana ketentuan Undang-Undang No.

31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah secara eksplisit ditentukan pidana minimum khususnya.

Namun tetap saja batas limit pidana minimum khusus tersebut dapat “diterobos” oleh hakim atau dengan kata lain terdapat distorsi mengenai ketentuan pidana minimum khusus yang telah diatur secara normatif dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sering ditemui adanya putusan dalam perkara korupsi yang menjatuhkan pidana dibawah pidana minimum khusus yang telah ditentukan oleh Undang – Undang.

Hakim atau Majelis Hakim memiliki kemerdekaan di dalam menjatuhkan pemidanaan maka perkara pidana yang sama kemungkinan Hakim atau Majelis Hakim akan menjatuhkan pemidanaan yang bervariasi terhadap terdakwa, inilah yang disebut sebagai disparitas pidana. Disparitas pidana sendiri merupakan penerapan pidana yang tidak sama terhadap tindak pidana yang sama atau terhadap tindak pidana yang sifat bahayanya dapat diperbandingkan tanpa dasar pembenaran yang jelas.

Disparitas pidana ini pun membawa problematika tersendiri dalam penegakan hukum. Di satu sisi pemidanaan yang berbeda atau disparitas pidana adalah bentuk dari diskresi hakim dalam menjatuhkan putusan, namun di sisi lain pemidanaan yang berbeda atau disparitas pidana membawa ketidakpuasan bagi terpidana bahkan masyarakat pada umumnya. Praktik pembuatan undang-undang di Indonesia yang

(3)

2260 menggunakan pidana sebagai bagian dari kebijakan hukum pidana sudah dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja, hingga terkesan tidak perlu dipersoalkan eksistensinya. Akibatnya adalah selalu dicantumkannya sanksi pidana, baik mengenai strafsoort, atau strafmaart ataupun strafmodus pada setiap kebijakan pembuatan undang-undang pidana di Indonesia dengan tanpa ada penjelasan tentang pemilihan atau penentunya. Dari bermacam produk perundang-undangan pidana di Indonesia, di dalam rumusan deliknya mencantumkan atau menentukan pidana maksimum khusus saja, namun pada delik-delik tertentu, selain menentukan pidana maksimum, juga menentukan pidana minimum. Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana penjara di bawah ketentuan minimum khusus yang ditentukan menurut Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Studi Putusan PN Jakarta Pusat nomor 127/Pid.Sus/TPK/2015.PN.JKT.PST atas nama terdakwa Amir Fauzi)?. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan mengkaji Putusan penjatuhan sanksi pidana di bawah minimum khusus dalam perkara Tindak Pidana Korupsi.

METODE

Dalam penelitian hukum ini, digunakan metode yuridis normatif yang adapun pengertian dari Penelitian Yuridis Normatif atau Penelitian Hukum Normatif, yakni berasal dari bahasa inggris, normatif legal research, dan bahasa Belanda yaitu normatif juridish onderzoek. Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doctrinal atau penelitian hukum dogmatik atau penelitian legistis yang dalam kepustakaan Anglo Almerical disebut sebagai legal research merupakan penelitian internal dalam disiplin ilmu hukum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Sanksi Pidana Penjara Di Bawah Ketentuan Minimum Khusus Yang Ditentukan Menurut Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Studi Putusan PN

Jakarta Pusat Nomor

127/Pid.Sus/TPK/2015.PN.JKT.PST Atas Nama Terdakwa Amir Fauzi)

Sanksi pidana minimum khusus tidak dikenal dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana yang selanjutnya disebut KUHP. Dalam KUHP hanya mengenal sanksi pidana minimum umum yakni selama 1 (satu) hari dan berlaku untuk semua tindak pidana baik itu berupa kejahatan maupun pelanggaran.

Sistem pemidanaan pada tindak pidana korupsi menetapkan ancaman minimum khusus dan maksimum khusus, baik mengenai pidana penjara maupun pidana denda dan tidak menggunakan sistem dengan menetapkan ancaman pidana maksimum umum dan minimum umum seperti dalam KUHP. Maksimum khusus pidana penjara yang diancamkan jauh melebihi maksimum umum dalam KUHP, yakni paling tinggi sampai 20 tahun lebih tinggi dari ketentuan KUHP yaitu 15 tahun. Dalam KUHP boleh menjatuhkan pidana penjara sampai melebihi batas maksimum 15 (lima belas) tahun yakni 20 (dua puluh tahun), dalam hal apabila terjadi pengulangan atau perbarengan (karena dapat ditambah sepertiganya) atau tindak pidana tertentu sebagai alternatif dari pidana mati. Dalam KUHP sendiri tidak dikenal adanya ancaman pidana minimal khusus yang ada hanya ancaman pidana minimal umum sehingga aturan umum berorientasi pada sistem maksimum.

Hal ini berbeda dengan aturan/Undang- Undang khusus yang dibuat untuk suatu tindak pidana tertentu yang pengaturannya berada di luar KUHP. Terhadap undang- undang khusus tersebut dikenal adanya ancaman pidana minimum khusus terhadap sanksi pidananya baik berupa pidana penjara maupun pidana denda. Namun ancaman

(4)

2261 minimum khusus tersebut bervariasi dan tidak berpola tergantung kepada jenis tindak pidananya sehingga dalam aturan dan pedoman untuk pelaksanaan/penerapannya tidak ada secara baku yang akan dijadikan acuan untuk melaksanakannya. Pola minimal dan maksimal umum yang diatur dalam KUHP menyebutkan bahwa untuk pidana penjara lamanya seseorang dipenjara adalah satu hari dan maksimal 15 tahun atau 20 tahun untuk tindak pidana pemberatan sedangkan dalam tindak pidana diluar KUHP pola pidana minimum khusus untuk pidana penjara bervariasi, tidak ada pola yang baku dan untuk ancaman maksimum khususnya juga bervariasi tergantung kepada delik atau tindak pidana yang diperbuat.

Menurut Barda Nawawi Arief, secara teoritis pembahasan mengenai pidana meliputi tiga hal, yaitu jenis pidana (strafsoort), lamanya sanksi pidana (strafmaat), dan aturan pelaksanaan pidana (strafmodus). Pidana minimum khusus termasuk ke dalam kategori lamanya sanksi pidana yang berkaitan dengan sanksi pidana minimal dalam setiap tindak pidana yang dirumuskan dalam pasal tertentu.

Peraturan perundang – undangan pidana di luar KUHP sudah banyak diatur pasal – pasal yang mengatur ketentuan mengenai sanksi pidana minimum tidak saja hanya terdapat dalam Undang – Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saja, melainkan juga terdapat undang – undang yang lain yang memuat sanksi pidana.

Pada perkembangannya, peraturan mengenai pemberantasan korupsi yang pertama, yaitu pada tahun 1957 dengan terbitnya Peraturan Penguasa Militer Nomor 6 tahun 1957 tentang pemberantasan korupsi, Peraturan Penguasa Militer Nomor 8 tahun 1957 tentang penilikan harta benda, Peraturan Penguasa Militer Nomor 11 tahun 1957 tentang penyitaan dan perampasan harta benda, kemudian Peraturan Penguasa Perang Pusat Nomor 13 tahun 1958 tentang pengusutan, penuntutan dan pemeriksaan

perbuatan korupsi pidana dan penilik harta benda. Peraturan tersebut kemudian diganti dengan Undang – Undang Nomor 24/prp/1960 tentang pengusutan, penuntutan dan pemeriksaan tindak pidana korupsi, kemudian pada tahun 1971 Undang – Undang tersebut diganti Undang – Undang Nomor 3 tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, kemudian karena masih kurang sempurna maka pada tahun 1999 Undang – Undang pemberantasan tindak pidana korupsi diganti lagi dengan Undang – Undang Nomor 31 tahun 1999 yang kemudian ditambah dan dirubah pada tahun 2001 dengan Undang – Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Alasan dari diadakannya perubahan terhadap undang–undang pemberantasan tindak pidana korupsi tercermin dalam konsideran butir b Undang–Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang–

Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, yaitu:

1) Untuk lebih menjamin kepastian hukum;

2) Menghindari keragaman penafsiran hukum;

3) Memberikan perlindungan terhadap hak – hak sosial dan ekonomi masyarakat;

4) Perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi.

Berlakunya sanksi pidana minimum khusus ini dalam ranah hukum pidana tentunya tidak lepas dari adanya asas lex specialis derogate legi generalis yang berarti bahwa hukum yang bersifat khusus mengesampingkan hukum yang bersifat umum.

Tujuan ditentukannya sanksi pidana minimum khusus dalam undang – undang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana ditulis oleh departemen hukum dan perundang– undangan Republik Indonesia dalam buku sejarah Pembentukan

(5)

2262 Undang–Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengenai arah kebijakan dari pemerintah, dalam hal ini adalah lembaga legislatif sebagai pembuat undang-undang yang memuat ancaman sanksi pidana minimum khusus tersebut dengan tujuan agar para jaksa penuntut umum tidak memiliki diskresi yang luas dalam menetapkan tuntutannya, hal ini sejalan pula untuk para hakim agar penjatuhan pidananya dapat membatasi kesewenangan hakim. Dengan ditentukannya ancaman sanksi pidana minimum khusus tersebut diharapkan dapat mencegah disparitas pidana (disparity of sentencing), baik itu disparitas pidana yang berdasar (warranted disparity) maupun disparitas yang tidak berdasar (unwarranted disparity), serta memberikan rasa keadilan terkait penjatuhan pidana yang dijatuhkan oleh hakim terhadap para pelaku tindak pidana korupsi.

Pemidanaan pada dasarnya merupakan perwujudan dari sanksi yang bersifat mutlak yang dijatuhkan oleh Negara yang diwakili oleh hakim pada umumnya bertujuan menanggulangi terjadinya tindak pidana, baik itu menjatuhkan pidana sebagai bentuk pembalasan, serta memberikan efek jera kepada pelaku, dalam hal ini pelaku tindak pidana korupsi, dan memasyarakatkan kembali terpidana dengan memberikan pembinaan sehingga nantinya dapat menjadi orang baik dan berguna.

Filosofi pemidanaan itu sendiri berfungsi sebagai teori yang mendasari dan melatarbelakangi setiap penjatuhan pidana.

Dengan demikian filsafat pemidanaan juga berorientasi kepada model keadilan yang ingin dicapai dalam suatu sistem peradilan pidana yang pada kenyataannya ini terlihat pada penjatuhan pidana oleh hakim, dimana suatu putusannya harus lah berorientasi kepada peraturan perundang–undangan secara teoritik dan juga harus mengacu kepada nilai–nilai keadilan yang ingin dicapai dari adanya penjatuhan putusan pidana baik

itu pada diri pelaku tindak pidana korupsi itu sendiri maupun masyarakat yang dalam konteks korupsi sebagai korban.

Pidana minimum khusus itu sendiri merupakan penyimpangan dari asas–asas hukum pidana umum, karena dalam hukum pidana umum tidak mengenal pidana minimum khusus, dan hanya mengenal pidana minimum umum yakni selama 1 (satu) hari dan pidana maksimum umum selama 15 (lima belas) tahun atau 20 (dua puluh) tahun untuk tindak pidana pemberatan. Oleh karena itu sanksi pidana minimum khusus dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi bertujuan agar para jaksa penuntut umum tidak memiliki diskresi yang luas dalam menetapkan tuntutannya, hal ini sejalan pula untuk para hakim dalam membatasi kesewenangan hakim.

Akibat hukum terhadap putusan penjatuhan sanksi pidana penjara di bawah ketentuan minimum khusus yang ditentukan menurut Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi

Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, di samping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat.

Hakim dalam pemeriksaan suatu perkara juga memerlukan adanya pembuktian, dimana hasil dari pembuktian itu akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memutus perkara. Pembuktian merupakan tahap yang paling penting dalam pemeriksaan di persidangan. Pembuktian bertujuan untuk memperoleh kepastian bahwa suatu peristiwa/fakta yang diajukan itu benar-benar terjadi, guna mendapatkan putusan hakim yang benar dan adil. Pada prinsipnya, tugas Hakim adalah menjatuhkan putusan yang mempunyai akibat hukum bagi

(6)

2263 pihak lain. Namun, Hakim tidak dapat menolak menjatuhkan putusan apabila perkaranya sudah dimulai atau diperiksa.

Kebebasan dalam menetapkan pertimbangan bagi hakim adalah mutlak dan tidak ada suatu pihak manapun yang dapat mengintervensi dalam menjatuhkan putusan. Hal ini bertujuan untuk menjamin agar putusan pengadilan benar-benar obyektif. Selain itu putusan pengadilan oleh Hakim harus dapat dipertanggungjawabkan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Dasar hakim dalam menjatuhkan putusan pengadilan perlu didasarkan kepada teori dan hasil penelitian yang saling berkaitan sehingga didapatkan hasil penelitian yang maksimal dan seimbang dalam tataran teori dan praktek. Salah satu usaha untuk mencapai kepastian hukum kehakiman, di mana hakim merupakan aparat penegak hukum melalui putusannya dapat menjadi tolak ukur tercapainya suatu kepastian hukum.

Kebebasan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara merupakan mahkota bagi hakim dan harus tetap dikawal dan dihormati oleh semua pihak tanpa kesuali, sehingga tidak ada satupun pihak yang dapat mengintervensi hakim dalam menjalankan tugasnya tersebut. Hakim dalam menjatuhkan putusan, harus mempertimbangkan banyak hal, baik itu yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa, tingkat perbuatan dan kesalahan yang dilakukan pelaku, sampai kepentingan pihak korban maupun keluarganya serta mempertimbangkan pula rasa keadilan masyarakat.

Menurut Mackenzie, ada beberapa teori atau pendekatan yang dapat dipergunakan oleh hakim dalam mempertimbangkan penjatuhan putusan dalam suatu perkara, yaitu sebagai berikut:

a) Teori Keseimbangan, yaitu keseimbangan antara syarat-syarat yang ditentukan oleh Undang-undang dan kepentingan pihak-pihak yang tersangkut atau berkaitan dengan perkara;

b) Teori Pendekatan Seni dan Intuisi.

Yang dimaksud dengan teori Pendekatan Seni dan Intuisi adalah penjatuhan putusan hakim merupakan diskresi atau kewenangan dari hakim. Sebagai diskresi, dalam penjatuhan putusan, hakim akan menyesuaikan dengan keadaan dan hukuman yang wajar bagi setiap pelaku tindak pidana;

c) Teori Pendekatan Pengalaman.

Pengalaman dari seorang hakim merupakan hal yang dapat membantunya dalam menghadapi perkara yang dihadapinya sehari-hari;

d) Teori Pendekatan Keilmuan. Titik tolak dari ilmu ini adalah pemikiran bahwa proses penjatuhan pidana harus dilakukan secara sistematik dan penuh kehati- hatian khususnya dalam kaitannya dengan putusan- putusan terdahulu dalam rangka menjamin konsistensi putusan hakim;

e) Teori Ratio Decidendi. Teori ini didasarkan pada landasan filsafat mendasar yang mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang disengketakan kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam penjatuhan putusan serta pertimbangan hakim harus didasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi pihak yang berperkara;

f) Teori Kebijaksanaan. Aspek teori ini menekankan bahwa pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua ikut bertanggungjawab membimbing, membina, mendidik, dan melindungi terdakwa, agar kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, dan bangsanya.

(7)

2264 Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditentukan bahwa hakim merupakan sebuah jabatan yang mewakili Tuhan untuk menegakkan keadilan berdasarkan asas-asas hukum yang berlaku dan memutuskan perkara dengan prinsip kebijaksanaan dan keilmuan yang dimilikinya.

Pertimbangan putusan pengadilan dalam menjatuhkan pidana kepada pelaku tindak pidana korupsi pada prinsipnya bahwa setiap putusan hakim merupakan mahkota bagi hakim dan inti mahkota tersebut terletak pada pertimbangan hukumnya. Pertimbangan hukum putusan merupakan bagian paling penting karena ada korelasinya dengan pertanggungjawaban hakim terhadap putusannya. Dalam pertimbangan hukum putusan hakim memuat suatu hukum penalaran dan penalaran hukum, baik berdasarkan konstruksi hukum maupun berdasarkan interpretasi hukum yang digunakan sebagai dasar argumentasi dalam menilai dan menguji alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan. Untuk menguji dalil-dalil atau dasar hukum tersebut, maka perlu dilakukan uji verifikasi dengan fakta hukum yang terungkap di persidangan, dengan menerapkan teori kebenaran dan keadilan.

Secara implementatif dalam tataran praktik di pengadilan tindak pidana korupsi terdapat beberapa putusan hakim yang menjatuhkan pemidanaan kepada pelaku di bawah batas (limit) ancaman yang diatur dalam ketentuan pemidanaan minimum Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hakim yang dalam putusannya menerobos ketentuan pemidanaan minimum ini tentunya memiliki legal reasoning yang dapat dipertanggungjawabkan. Putusan yang sedemikian rupa itu dapat disebut sebagai putusan hakim infra petita dikarenakan akan menimbulkan pertentangan antara dimensi kepastian hukum (prosedural) dengan dimensi keadilan hukum (substantif)

sekalipun tidak sepenuhnya juga dapat demikian.

Bahwa Hakim di dalam menjatuhkan sanksi minimum khusus jika dilihat dari undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Hakim hanya menggunakan asas kekuasaan kehakiman dan kebebasan kehakiman di tunjang dengan bukti-bukti di lapangan. Penjatuhan putusan di bawah ancaman minimum khusus itu dapat disimpangi dengan pertimbangan asas keadilan namun dampak terhadap putusan tersebut akan menjadi sebuah preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia apalagi dalam perkara Tindak Pidana Korupsi yang notabene merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Suatu keputusan Yudisial dapat memiliki karakter sebagai preseden, yaitu keputusan yang mengikat keputusan yang akan datang pada kasus yang serupa.

Bahwa akibat hukum dalam putusan penjatuhan putusan pidana penjara dibawah ketentuan minimum khusus sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang pemberantasan tindak pidana korupsi berpotensi dapat menjadi Yurisrudensi dan mengkhawatirkan terhadap perkara-perkara tindak pidana korupsi yang lainnya.

Sebenarnya Hakim memiliki kebebasan termasuk dalam hal penjatuhan putusan terhadap pelaku tindak pidana korupsi dimana dalam putusan tersebut pemidanaannya di bawah batas minimum khusus dari ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Namun, apabila berperilaku demikian maka akan terlihat bahwa Hakim tidak lagi memposisikan dirinya sebagai corong pembentuk undang-undang, sebab putusan yang dijatuhkan oleh Hakim tidak sama dengan ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(8)

2265 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terhadap Putusan

PN Jakarta Pusat nomor

127/Pid.Sus/TPK/2015.PN.JKT.PST atas nama terdakwa Amir Fauzi yang menjatuhkan putusan pidana penjara dibawah ketentuan batas minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi sekalipun yang menjadi dasar pertimbangan putusan hakim bahwa terdakwa telah mengembalikan uang yang diterimanya sebagai hadiah dan terdakwa belum menikmatinya sangatlah tidak relevan dengan prinsip keadilan, kepastian, dan kemanfaatan yang seharusnya dicapai dalam penegakan hukum sesuai dengan tujuan pemidanaan.

Adanya penjatuhan pidana di bawah minimum khusus memberikan konsekuensi hukum yang mana bertentangan dengan asas legalitas, menurut asas legalitas sebagaimana yang dimaksud di dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu nulla poena sine lege memberikan makna bahwa setiap sanksi pidana haruslah ada peraturan hukum yang mengatur sebelumnya, penerapan sanksi di bawah ancaman pidana minimum khusus dari ketentuan undang-undang dalam perkara tindak pidana korupsi jelas tidak dapat dibenarkan sebab asas nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang), mengandung arti hakim dilarang menorobos ketentuan yang secara tegas diatur dalam undang-undang termasuk ancaman pidana minimum khusus dalam undang-undang tindak pidana korupsi. Salah satu rasio terciptanya asas legalitas tersebut adalah hakim tidak dapat atau tidak boleh menjatuhkan pidana selain dari apa yang telah ditentukan oleh undang-undang.

DAFTAR PUSTAKA

Arianus Harefa. (2020). Analisis Hukum Terhadap Penjatuhan Pidana Di Bawah Ancaman Minimum Kepada Pelaku Tindak Pidana Korupsi, Vol.8 No.1

Astika Nurul Hidayah. (2018). Analisis Aspek Hukum Tindak Pidana Korupsi dalam Rangka Pendidikan Anti Korupsi.

Jurnal Kosmik Hukum, Vol. 18, No. 2.

Anshar. (2018). Infra Petita Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Yang Menerobos Ketentuan Pemidanaan Minimum, Jurnal Yudisial Vol. 11 No.2.

Bambang Sutiyoso, Sri Hastuti Puspitasari, Aspek-aspek Perkembangan Kekuasaan Kehahakiman Di Indonesia, dikutip dari Sahlan Said,S.H,Kemandirian Kekuasaan Kehakiman- Pengalaman Praktek Menuju Kemandirian Hakim Tolok Ukur dan Kendalanya, Seminar 50 Tahun Kemandirian Kekuasaan Kehakiman di Indonesia di Universitas Gadjah Mada Tanggal 26 Agustus 1995, UII Press, Yogyakarta, 2005.

H. Muslihin Rais. (2017). Nilai Keadilan Putusan Hakim pada Perkara Tindak Pidana Korupsi, Jurnal Al-Daylah, Vol.

6/No.1.

Immanuel Christophel Liwe. (2014).

Kewenangan Hakim Dalam Memeriksa Dan Memutus Perkara Pidana Yang Diajukan Ke Pengadilan, Lex Crimen, Vol. III/No. 1.

Malrial Eleonoral Novenal P. & Hery Firmalnsyalh. (2020). Alnallisis Yuridis Penjaltuhaln Pidalnal Dendal Di Balwalh Ketentualn Minimum Khusus Oleh Halkim Dallalm Perkalral Tindalk Pidalnal Korupsi (Studi Putusaln Pengaldilaln Tinggi Medaln Nomor 12/PID.SUS-TPK/2017/PT.MDN), Volume 3 Nomor 2. E-ISSN: 2655-7347

| PISSN: 2747-0873.

Matitaputty, J. K., & Sopacua, J. (2023). The Effectiveness of the Learning Cycle 5E Learning Model in an Effort to Improve

(9)

2266 Learning Outcomes of History. JIM:

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 8(2), 740–747.

https://doi.org/10.24815/jimps.v8i2.

24816

Mulyaldi, M. (2012). Riset Desalin Dallalm Metodologi Penelitialn. Jurnall Studi Komunikalsi daln Medial, Vol. 16, No. 1.

Nurasiah, N., Kusnafizal, T., Azis, A., Amalina, S.

N., Zulfan, Z., & Sakdiyah, S. (2022).

Registration of Geographic Indications of Alcohol Beverages from Abroad in Indonesia. Humaniora, 13(2), 145–152.

https://doi.org/10.21512/humaniora.

v13i2.7718

Nurlailah, N., & Ardiansyah, H. (2022). The Influence of the School Environment on Character Form Students in PKN Lessons. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 5(2), 281–

289.

https://doi.org/10.24815/jr.v5i2.273 47

Oheo K. Haris. (2017). Telaah Yuridis Penerapan Sanksi Di Bawah Minimum Khusus Pada Perkara Pidana Khusus.

Jurnal Ius Constituendum Volume 2 Nomor 2 Tahun 2017.

Paln Mohalmald Faliz. (2009). Teori Kealdilaln John Ralwls. Jurnall Konstitusi, Volume Perdana, Y., Sumargono, S., Pratama, R.

A., & Lestari, N. I. (2022). The Gait of Islamic Unions in the Political Stage of the National Movement. Riwayat:

Educational Journal of History and Humanities, 5(2), 269–275.6 Nomor 1.

Pattiasina, J., & Sopacua, J. (2022). The Effectiveness Of Problem Based Learning Model In Increasing Historical Learning Outcomes.

Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 5(2), 374–380.

https://doi.org/10.24815/jr.v5i2.288 08

Rasjidi Lili dan Ira Thania Rasjidt. (2004).

Dasar-Dasar Filsaft dun Teori hukum, PT. Cipta Aditya Bakti.

Romulus. (2016). Penjatuhan Sanksi Pidana Di Bawah Batas Minimum Khusus Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Tesis dari Internet, Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura.

Reza Noor Ihsan. (2017). Sanksi Pidana Minimum Khusus Dalam Tindak Pidana Korupsi Ditinjau Dari Sudut Pandang Keadilan, Volume IX Nomor 3, ISSN 1979-4940/ISSN-E 2477-0124.

Ristian H. Panelewan. (2015). Tinjauan Yuridis Perlindungan Terhadap Hak- Hak Tersangka Dalam Proses Penyelesaian Perkara Pidana, Social Science Journal, Vol. 2 No. 2.

Rumawatine, Z. (2023). The Effect Of Personal Learning Models On Self-Confidence And Learning Outcomes To Play Soccer In Extracurricular Men’s Soccer. JIM:

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 8(2), 864–873

Samudra Putra Indratanto, Nurainun, and Kristoforus Laga Kleden. (2020). Asas Kepastian Hukum Dalam Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Berbentuk Peraturan Lembaga Negara Dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Jurnal Imu Hukum V 16, no. 1: 88–100.

Sulthani, D. A., & Thoifah, I. (2022). Urgency of Stakeholders in Improving the Quality of Education. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 5(2), 443–451.

https://doi.org/10.24815/jr.v5i2.276 00

(10)

2267 Wahyuni. (2017). Penerapan Sanksi Pidana Di

Bawah Ancaman Minimum Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi, e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 6, ISSN: 2302-2019.

Referensi

Dokumen terkait

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA 2014.. Judul : Pengembalian Kerugian Keuangan Negara melalui Penjatuhan Sanksi Pembayaran Uang Pengganti dalam Tindak Pidana

3.2 Penjatuhan Sanksi Tindakan Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Persetubuhan Di Luar Perkawinan Dengan Perempuan Di Bawah Umur Lima Belas Tahun Ditinjau Dari

a) Untuk mengetahui konstruksi berpikir hakim dalam penjatuhan putusan pidana minimum khusus pada perkara tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Pekanbaru

Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, anugerah, hidayah, serta ridho-Nya, sehingga skripsi dengan judul “ Analisis Yuridis Penjatuhan Pidana Di

SUS/ 2020 dapat dikemukakan bahwa, Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara dalam telah salah menerapkan hukum karena telah menjatuhkan pidana dibawah ancaman sanksi

Oleh karena itu, putusan yang diambil harus benar-benar diyakini dapat membuat jerah agar pelaku tindak pidana korupsi tidak melakukan perbuatan yang merugikan

Untuk penerapan pidana minimum khusus pada tindak pidana narkotika yang tertuang dalam putusan hakim dalam perkara ini, Dari segi kepastian hukum, penerapan sanksi

Untuk penerapan pidana minimum khusus pada tindak pidana narkotika yang tertuang dalam putusan hakim dalam perkara ini, Dari segi kepastian hukum, penerapan sanksi