• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENJELASAN LI NYERI DADA NON-CARDIAC ; DISEKSI AORTA & PERIKARDITIS PDF FIX

N/A
N/A
Luvena Esther

Academic year: 2025

Membagikan "PENJELASAN LI NYERI DADA NON-CARDIAC ; DISEKSI AORTA & PERIKARDITIS PDF FIX"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

DISEKSI AORTA

Diseksi aorta (AD) adalah kondisi yang ditandai dengan robeknya lapisan dalam dinding aorta. Yaitu terbelahnya tunika intima dan tunika media aorta. Hal ini dapat menyebabkan darah masuk ke dinding aorta, menciptakan saluran baru untuk darah, yang dikenal sebagai "lumen palsu." Aliran darah ke dalam lumen palsu dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke organ-organ vital.

ETIOLOGY

Etiologi terjadinya diseksi aorta biasanya terkait dengan beberapa jenis perubahan degeneratif pada dinding aorta, khususnya pada lapisan media. Beberapa kelainan kongenital jaringan ikat diketahui menyebabkan degenerasi tersebut, seperti sindrom Marfan, sindrom Turner, dan sindrom Ehlers –Danlos.

KLASIFIKASI

berdasarkan waktu munculnya gejala, klasifikasi AD oleh International Registry of Acute Aortic Dissection (IRAD) menggambarkan empat periode waktu:

• hiperakut (timbul dalam 24 jam),

• akut (timbul dalam 2–7 hari),

• subakut (timbul dalam 8–30 hari), dan

• kronis (timbul dalam >30 hari).

Dalam klasifikasi AD Stanford, diseksi yang terjadi pada aorta asendens diklasifikasikan sebagai diseksi tipe A. Diseksi yang terjadi pada aorta desendens diklasifikasikan sebagai diseksi tipe B.

MANIFESTASI KLINIS

• nyeri hebat secara tiba-tiba di dada, punggung, atau perut

• sesak napas,

• nyeri di lengan atau kaki,

• lemas, atau kehilangan kesadaran (pingsan).

CMD

ANAMNESIS

Riwayat penyakit kongenital dapat berperan dalam meningkatkan risiko diseksi aorta. Kelainan jaringan ikat seperti sindrom Marfan, Ehlers-Danlos, dan Loeys-Dietz melemahkan dinding aorta, membuatnya rentan terhadap robekan dan pelebaran.

PEMFIS

Dokter melakukan pemeriksaan fisik lengkap, termasuk vital sign. Ciri-ciri seperti murmur jantung dapat mengindikasikan kebocoran katup aorta dan meningkatkan kecurigaan dokter terhadap diseksi aorta.

(2)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tes yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosis diseksi aorta : pemindaian CT scan, ekokardiogram transesofageal, (TEE) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI). Ketiga tes tersebut sangat akurat dalam mendiagnosis diseksi aorta.

• CT SCAN

• TEE

• MRI

Ketiganya menunjukkan adanya flap intima (lapisan aorta yang robek) dan hematoma intimural (penumpukan darah di dinding aorta). Perbedaan nya hanya pada metode pemeriksaan nya. Saat ini, belum ada tes darah yang tersedia untuk mendiagnosis diseksi aorta akut.

Referensi :

Kano HD. FAKTOR RESIKO DISEKSI AORTA. US Cardiol Rev [Internet]. 2023;36. Available from:

https://www.uscjournal.com/articles/risk-factors-aortic-dissection

PERIKARDITIS

Perikardium berasal dari kata Yunani ‘peri’ yang berarti di sekitar dan ‘kardia’ yang berarti jantung.

Sehingga mengisyaratkan suatu struktur yang membungkus. pembungkus ini terdiri dari lapisan viseral serosa (bagian dalam) dan lapisan parietal fibrosa (bagian luar).

Pada kondisi peradangan perikardium disebut perikarditis.

ETIOLOGY

Penyebab perikarditis dapat secara umum diklasifikasikan menjadi idiopatik, infeksi dan non-infeksi.

Secara khusus, penyebab perikarditis yang paling umum di negara-negara maju adalah virus, sedangkan tuberkulosis merupakan penyebab yang paling sering di negara-negara berkembang.

(3)

KLASIFIKASI

Berdasarkan durasi klinis, perikarditis dapat diklasifikasikan menajdi : perikarditis akut, subakut, kronik, dan relaps.

MANIFESTASI KLINIS

Pasien dengan perikarditis akut biasanya datang dengan nyeri dada dengan onset yang cepat. Nyeri dada bersifat tajam dan pleuritik di daerah retrosternal. Nyeri dapat menjalar ke leher, dagu, lengan, juga ke daerah otot trapezius (karena terdapat hubungan antara saraf frenikus (menginervasi otot trapezius) dan pericardium). Nyeri memberat saat inspirasi dan berbaring terlentang, membaik saat duduk dan condong ke depan (karena tekanan di perikardium parietal berkurang).

Temuan klinis lain tergantung etiologi. Pasien dengan etiologi infeksi virus dapat mengalami gejala seperti flu atau gejala gastrointestinal, sedangkan pasien dengan etiologi infeksi bakteri dapat mengalami demam, menggigil, dan leukositosis.

CMD

Berdasarkan pedoman European Society of Cardiology, kriteria diagnosis klinis perikarditis akut dapat ditegakkan dengan ditemukannya minimal 2 dari 4 kriteria berikut:

1) nyeri dada

2) gesekan perikardial (saat auskultasi)

3) perubahan elektrokardiogram (EKG) (

elevasi ST atau depresi PR baru yang meluas)

dan 4) efusi perikardial

ANAMNESIS

Evaluasi diagnostik utama terdiri dari riwayat medis (infeksi virus terkini) PEMFIS

Dokter melakukan pemeriksaan fisik lengkap, termasuk tanda vital.

Pasien dengan perikarditis akut sering kali mengalami demam ringan (suhu >38°C). Temuan khas pada auskultasi jantung adalah pericardial friction rub (tanda patognomonik untuk perikarditis) yang disebabkan oleh gesekan antara 2 lapisan perikardial yang meradang. Bunyi ini berupa suara berderit atau berderit yang dangkal, paling baik didengar dengan diafragma stetoskop di atas batas sternum kiri, dengan posisi pasien mencondongkan tubuh ke depan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM (WBC, LED, CRP)

2. RADIOLOGY (ekokardiografi transtorakal (TTE), Cardiac Magnetic Resonance (CT/CMR)) 3. EKG

(4)

Tes laboratorium

Pemeriksaan meliputi penanda inflamasi (peradangan) yang meliputi leukosit (WBC), laju endap darah (LED), dan C-reactive protein (CRP).

• White Blood Cell (WBC) : pada pericarditis akut terutama yang disebabkan oleh infeksi, akan menunjukkan leukositosis (peningkatan leukosit)

• Laju Endap Darah (LED) : LED meningkat, menunjukkan adanya inflamasi

• C-reactive protein (CRP) : peningkatan CRP yang mencerminkan adanya peradangan

Radiology

1. Ekokardiografi

Ekokardiografi adalah tes pencitraan pertama dan seringkali satu-satunya yang diperlukan pada pasien dengan perikarditis akut. Tes ini penting untuk memantau evolusi efusi perikardial dari waktu ke waktu dan respons terhadap terapi medis. Ekokardiografi berfungsi untuk melihat ada atau tidaknya efusi perikardium, volumenya dan efek hemodinamik yang menyertainya (tamponade, restriksi).

2. CT/CMR

Selain ekokardiografi yang dianggap sebagai tes lini pertama, Computed tomography (CT) atau cardiac magnetic resonance (CMR) (tes pencitraan lini kedua). Digunakan ketika gambaran ekokardiografi ambigu atau digunakan dalam kasus dugaan keterlibatan miokardium.

Referensi :

Prof. John Skoularigis FDAX. Diagnosis perikarditis akut. European Society of Cardiology. 2019;15.

Supit AI, Willim HA. Diagnosis dan Tatalaksana Perikarditis Akut. Cermin Dunia Kedokteran. 2020;46:12.

Chiabrando JG, Bonaventura A, Vecchié A, Wohlford GF, Mauro AG, Jordan JH, Grizzard JD, Montecucco F, Berrocal DH, Brucato A, Imazio M, Abbate A. Management of Acute and Recurrent Pericarditis: JACC State-of-the-Art Review. J Am Coll Cardiol. 2020 Jan 7;75(1):76-92. doi: 10.1016/j.jacc.2019.11.021.

PMID: 31918837.

Referensi

Dokumen terkait