BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Tempat Penelitian
Rumah Sakit Wava Husada adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. RS Wava Husada merupakan Rumah Sakit Umum tipe B yang beralamatkan di Jl.
Panglima Soedirman no 99A Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada bulan November 2023, diketahui bahwa Rumah Sakit Wava Husada memiliki 15 unit rawat inap dan 23 unit penunjang layanan.
4.2. Hasil
4.2.1. Data Umum 1. Usia Ibu
Karakteristik responden berdasarkan usia ibu adalah salah satu cara untuk mengetahui karakteristik ibu yang melahirkan di RS Wava Husada Kepanjen tahun 2023. Hasil yang disajikan dalam bentuk tabel 4.1 sebagai berikut :
Tabel 4.1 Karakteristik responden berdasarkan Usia Ibu
Usia Frekuensi Presentase (%)
1 16-25 tahun 11 29
2 26-35 tahun 23 60
3 36-45 tahun 4 11
Total 38 100
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diinterpretasikan bahwa melebihi separuhnya (60%) atau sebanyak 23 responden atau ibu bayi yang melahirkan di Rs Wava Husada Kepanjen berusia 26-35 tahun. Sebanyak 16-25 tahun sebanyak 11 responden (29%) dan 4 (11%) responden berusia 36-45 tahun.
2. Pendidikan
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan ibu adalah suatu cara untuk mengetahui tingkat pendidikan ibu yang melahirkan di RS Wava Husada Kepanjen pada agustus 2023. Hasilnya disajikan dalam bentuk tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2 karakteristik responden berdasarkan pendidikan ibu.
Pendidikan Frekuensi Presentase (%)
1 SD-SMP 14 37
2 SMA 18 47
3 Sarjana 6 16
Total 38 100
(sumber : data primer yang diolah, 2023)
Berdasarkan tabel 4.2 diatas diinterpretasikan hampir dari separuh reponden adalah berpendidikan SMA yaiitu sebanyak 18 responden (47%) untuk sisanya ialah berpendidikan SD-SMP sebanyak 14 responden (37%) dan presentasi paling sedikit yaitu 6 responden (16%) berpendidikan Sarjana.
3. Pekerjaan
Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan adalah suatu cara untuk mengetahui karakteristik jenis pekerjaan yang dilakukan oleh ibu yang melahirkan di RS Wava Husada kepanjen bulan Agustus 2023. Hasil yang di sajikan dlam bentuk tabel 4.3 sebagai berikut :
Tabel 4.3 karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ibu.
Pekerjaan Frekuensi Presentase (%)
1 Wirausaha 6 16
2 Karyawan 12 32
3 IRT 20 52
Total 38 100
(sumber Data primer yang diolah, November 2023)
Bredasarkan tabel 4.3 diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian bersar responden adalah ibu pekerjaannya sebagai IRT yaitu sebannyak 20 responden (52%), yang mempunyai pekerjaan sebagai karyawan adalah 12 responden (32%) dan menjadi wirausaha adalah sebanyak 6 responden (16%).
4.2.2. Data Khusus
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil data khusus sebagai gambaran umum variabel Pengetahuan Ibu Tentang hyperbillirubin yang dilakukan blue light foto terapi di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen. Dapat ditampilkan dengan tabl distribusi sebagai berikut :
Tabel 4.4 tabel distribusi pengehuan ibu terhadap hiperbillitubin yang dilakukan foto terapi
Karakteristik
Responden Frekuensi (n) Presentase (%) Pengetahuan
Baik 9 23,7
Cukup 16 42,1
Kurang 13 34,2
Total 38 100
( Sumber : Data Primer Kuesioner Penelitian, November 2023 )
Berdasarkan tabel 4.4 diatas didapatkan nilai tertinggi adalah ibu bayi memiliki pengetahuan cukup yaitu sebanyak 16 atau (42,1 %). Kemudian disusul dengan
pengetahuan kurang sebanyak 13 ibu atau ( 34,2%) dan paling sedikit adalah pengetahuan baik sebanyak 9 ibu bayi yaitu (23,7%).
Tabel 4.5 tabel distribusi tingkat kecemasan ibu terhadap hiperbillirubin yang dilakukan blue light foto terapi di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen.
Karakteristik
Responden Frekuensi (n) Presentase (%)
Tingkat kecemasan
Ringan 13 34,2
Sedang 10 26,3
Berat 15 39,5
Total 38 100
( Sumber : Data Primer Kuesioner Penelitian, November 2023 ) Berdasarkan tabel 4.5 diatas didapatkan data bahwa ibu yang mengalami kecemasan karena bayinya di lakukan foto terapi relative banyak yang mengalami kecemasan berat yaitu sebanyak 15 ibu atau (39,5%). Kemudian 13 ibu mengalami kecemasan ringan (34,2%) dan yang paling sedikit mengalami kecemasan sedang yaitu 10 ibu bayi atau (26,3%).
4.2.3. Uji analisa Hubungan pengetahuan ibu dengan tingkat kecemasan terhadap bayi hiperbillirubin yang dilakukan foto terapi du Rs Wava Husada Kepanjen
Tabel 4.6 analisa hubungan pengetahuan ibu dengan tingkat kecemasan pada bayi hiperbillirubin yang dilakukan foto terapi di Rs Wava Husada Kepanjen.
Pengetahu an
Tingkat Kecemasan
Total P
Value Ringan Sedang Berat
N % N % N % N %
Baik 4 10,5 5 13,1 0 0 9 23,7
Cukup 8 21 3 7,8 5 13,1 16 42,1 0,003
Kurang 1 2,6 2 5,4 10 26,3 13 34,2
Total 13 34,2 10 26,4 15 39,4 38 100
( Sumber : Data Primer Kuesioner Penelitian, November 2023 )
Analisa data dilakukan dengan menggunakan Chi Square. Pada tabel 4.6 diatas dari jumlah 38 responden didapatkan p-value (0,003) > 0,05 artinya H1 diterima H0 ditolak sehingga ada hubungan signifikan antara variabel pengetahuan ibu dengan tingkat kecemasan pada bayi yang dilakukan Blue light terapi di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen.
4.3. Pembahasan
4.3.1. Gambaran Karakreristik Ibu Menurut Usia, Pendidikan Terakhir, dan Pekerjaan di Ruang Perinatologi Rs Wava Huasada Kepanjen
1. Usia
Hasil statistic pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen berada pada usia. Sebagian besar yaitu (60%) atau sebanyak 23 responden atau ibu bayi yang melahirkan di Rs Wava Husada Kepanjen berusia 26-35 tahun Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat beberapa tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini juga berpengaruh terhadap kognitif seseorang (Suwaryo & Yuwono, 2017). Usia akan
mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan fakta dan teori Usia seseorang juga mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, selain itu pengetahuan yang diperolehnya semakin baik sehingga ibu megetahui tentang pentingnya penatalaksanaan blue light foto terapi untuk bayi hiperbillirubin. Usia bukan merupakan faktor untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama untuk penyakit yang dialami oleh bayi, karena sama-sama mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi sesuatu yang terjadi pada bayi nya salah satunya aware nya ibu dengan penanganan hiperbillirubin dengan foto terapi. Potter dan perry (2005) mempercayai bahwa pada usia 35-43 tahun adalah individu mengalami perubahan dalam kehidupan pribadi dan social. Pada usia ini sering kali menimbulkan stress, yang dapat mengakibatkan krisis usia baya. Selama masa dewasa awal ini, seseorang biasanya memperhatikan pada pengerjaan karir dan social. Orang tua pada rentang umur dewasa awal akan mengalami kecemasan sehubungan dengan penyakit penyebab bayinya dirawat, dikarenakan akan mengancam kehidupan karir dan sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui pada usia 31-40 tahun mengalami kecemasan sedang dengan demikiam hasil dari penelitian ini mendukung pernyataan diatas dimana pada rentang usia tersebut orang tua
sering kali mengalami stress karena lebih berfokus pada pengerjaan karir dan social.
2. Pendidikan
Hasil penelitian ini diinterpretasikan hampir dari separuh reponden adalah berpendidikan SMA yaiitu sebanyak 18 responden (47%) untuk sisanya ialah berpendidikan SD-SMP sebanyak 14 responden (37%) dan presentasi paling sedikit yaitu 6 responden (16%) berpendidikan Sarjana.
Pendidikan merupakan suatu proses yang mencakup tiga dimensi, individu, masyarakat atau komunitas nasional dari individu tersebut, dan seluruh kandungan realitas, baik material maupun spiritual yang memainkan peranan dalam menentukan sifat, nasib, bentuk manusia maupun masyarakat ( Dharmawati & Wirata, 2016). Menurut (Fatmayati, 2009) dalam penelitianya Semakin tinggi tingkat pendidikan formal ibu maka semakin baik tingkat kesadaran ibu untuk sadar bahwa bayi sedang membutuhkan penanganan pemberian foto terapi . Terlihat pada ibu dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi lebih memahami bagaimana bahaya hiperbillirubin bila tidak ditangani dan dampak jika terlalu cemas dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah. Ibu yang berpendidikan menengah dan tinggi sadar akan pentingnya penanganan hiperbillirubin menggunakan blue light foto terapi., sehingga tidak akan merasa cemas secara berlebihan ketika bayi sedang membutuhkan penanganan medis semaksimal mungkin. Dengan demikian responden yang berpendidikan tinggi akan memiliki tingkat kecemasan
lebih rendah dibandingkan dengan yang berpendidikan menengah . hasil penelitian Notoadmojo (2003) menjelaskan bahwa seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih rasional dalam menghadapi masalah sehingga akan menurukan tingkat kecemasan. Tingkat pendidikan tinggi dinilai akan mampu mengatasi, menggunakan koping efektif dan konstruktif. Hal ini berbanding terbalik dengan teori gass dan Curiel (2011) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi pula tingkat kecemasan seseorang karena secara tidak langsung ingin mrngetahui lebih banyak penyakit yang diderita bayinya, dengan demikian semakin bannyak informasi yang diperoleh dari dokter dan perawat maka semakin meningkat kecemasan yang di alaminya.
3. Pekerjaan
Hasil penelitian ini diinterpretasikan bahwa sebagian bersar responden adalah ibu pekerjaannya sebagai IRT yaitu sebannyak 20 responden (52%), yang mempunyai pekerjaan sebagai karyawan adalah 12 responden (32%) dan menjadi wirausaha adalah sebanyak 6 responden (16%).
Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga lebih banyak tau bagaimana melihat perunahan yan signifikan pada bayinya sehingga secara cepat mereka sadar ketika bayinya terlihat lebih ikterik atau kekuningan pada klinis kulitnya. Sedangkan ibu yang bekerja pada masa kehamilannya mengatakan lebih sibuk dan setiba mereka dirumah waktu luang mereka
gunakan untuk beristirhat. Hasil dari penelitian variabel tentang pekerjaan atau penghasilan orang tua menjelaskan ahwa sebsgian besar orang tua yaitu adalah IRT sebanyak (52%) supartini (2004) memaparkan bahwa orang tua akan merasa cemas dan takut pembiayaan yang harus dikeluarkan untuk perawatan bayinya. Pembiayaan yang harus dikaluarkan membuat orang tua dituntut untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Orang tua akan melakukan aktivitas pekerjaan dengan maksimal dengan harapan penghasilan akan berrtambah. Sekalipun bayi memakai BPJS dan tertanggung keseluruhan perawatan selama dirumah sakit oleh BPJS beberapa orang tua khawatir dan cemas untuk biaya transportasi dan pembelian perlengkapan bayi yang diperlukan selama di rumah sakit.
4.3.2. Gambaran Pengetahuan Ibu di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen
Dari penelitian ini didapatkan nilai tertinggi adalah ibu bayi memiliki pengetahuan cukup yaitu sebanyak 16 atau (42,1 %). Kemudian disusul dengan pengetahuan kurang sebanyak 13 ibu atau ( 34,2%) dan paling sedikit adalah pengetahuan baik sebanyak 9 ibu bayi yaitu (23,7%).
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas
perhatian dan persepsi terhadap obyek (Notoatmodjo, 2010). Menurut Puspitaningrum (2015) menyatakan bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan semakin baik tingkat pendidikan maka semakin baik pula tingkat pengetahuan, selain pendidikan faktor-faktor yang mempengaruhi pada peningkatan pengetahuan seseorang adalah keikutsertaan dalam pelatihan atau penyuluhan, pengetahuan seseorang dapat bertambah pula dengan cara memperkaya khasanah pengetahuan melalui membaca baik melalui media massa dan media elektrik (internet). Pengetahuan seseorang dapat meningkat dengan demikian harapan tentang keberhasilan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai penanganan blue light foto terapi ini nantinya tidak akan menambah dampak dari hiperbillirubin dan mengurangi kadar bilirubin yang tinggi pada bayi tersebut.
4.3.3. Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu pada Hiperbillirubin yang Dilakukan Foto Terapi di Rs wava Husada Kepanjen
Dari penelitian ini didapatkan data bahwa ibu yang mengalami kecemasan karena bayinya di lakukan foto terapi relative banyak yang mengalami kecemasan berat yaitu sebanyak 15 ibu atau (39,5%). Kemudian 13 ibu mengalami kecemasan ringan (34,2%) dan yang paling sedikit mengalami kecemasan sedang yaitu 10 ibu bayi atau (26,3%).
Kecemasan yang dirasakan oleh orang tua akan bertambah ketika peran pengasuhan terganggu. Hospitalisasi akan menimbulkan kecemasan, tingkat
dan bentuk kecemasan akan berbeda pada masing-masing orang tua . kecemasan yang sering ditemukan oleh orang tua meburut Hawari (2016) diantarannya adalah : cemas, khawatir akan firasat buruk akan terjadi pada bayi saat dilakukan foto terapi, firasat buruk akan terjadinya dampak selama proses foto terapi. Efendi (2011) meneiliti tingkat kecemasan orang tua saat bayinya dirawat di Ruang Perinatologi secara umum orang tua mengalami cemas berat dikarenakan orang tua membutuhkan konseling dan pendampingan dari perawat. Berdasarkan tingkat kecemasan pada orang tua terhadap bayinya yang dilakukan foto terapi mengalami beberapa keluhan somatic seperti rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging, berdebar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.
4.3.4. Hubungan Pengetauhan Ibu denngan tingkat Kecemasan pada bayi Hiperbillirubin yang Dilakukan Foto Terapi di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen
Analisa data dilakukan dengan menggunakan Chi Square. Pada tabel 4.6 diatas dari jumlah 38 responden didapatkan p-value (0,003) > 0,05 artinya H1 diterima H0 ditolak sehingga ada hubungan signifikan antara variabel pengetahuan ibu dengan tingkat kecemasan pada bayi yang dilakukan Blue light terapi di Ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tiningsih (2012) memaparkan bahwa kecemasan dipengaruhi oleh pengetahuan dan kognitif.
Tian individu lahir dan berada ditengah-tengah keluarga, sehingga individu
lainnya dalam dalam suatu keluarga dapat mempengaruhi seseorang dalan hal pengetahuan, sikap maupun perilaku dalam hal menghadapi kecemasan, merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Seseorang akan mengalami gangguan cemas, jika tidak mengatasi stressor psikososial yang dihadapu (Hawari, 2006). Efendy (2011) meneliti tingkat kecemasan pada orang tua saat bayinya dirawat di RSUD Dr. Suroto Ngawi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara umum orang tua mengalami cemas berat (37%) cemas ringan (50%) dan sisanya tidak cemas. Orang tua yang bayinya mengalami suatu penyakit yang mengharuskan untuk dirawat sebagian besar akan cemas. Tingkatan cemas orang tua relative dikarenakan banyak factor yang mempengaruhinya. Berdasarkan tingkat kecemasan orang tua terhadap bayinya yang dirawat di Ruang Nicu juga bervariasi sehingga orang tua akan mengalami gejala yang jjuga bervariasi. Variasi tersebut dapat disebabkan oleh factor internal yang meliputi usia, pekerjaan, pengetahuan dan tingkat pendidikan, sedangkan factor eksternal meliputi diagnosis penyakit bayo, kondisi lingkungan, dan suku bangsa orang tua. Dengan demikian orang tua membutuhkan dukungan dan pendampingan dari tenaga kesehatan. Menurut sarjavi (2006) dukungan yang dapat diberikan perawat berupa konseling, pendampingan, kunjungan, pemberian informasi untuk menambah pengetahuan ibu bayi terkait kondisi bayi untuk mengurangi tingkat kecemasan.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari penelitian dan analisa yang sudah dilakukan peneliti didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil Identifikasi di dapatkan hasil ibu atau responden di yang paling banyak berusia 26-35 tahun , Pendidikan paling banyak (SMA) dan juga 52% responden ibu Tidak Bekerja atau IRT.
2. Hasil Identifikasi pengetahuan di peroleh hasil Pengetahuan Ibu Paling banyak adalah dengan kategori cukup.
3. Hasil Identifikasi kepatuhan ibu diperoleh Hasil sebagian besar ibu bayi atau responden mengalami tingkat kecemasan berat.
4. Hasil Analisa data diperoleh hasil ada hubungan signifikan antara variabel Pengetahuan Ibu dengan Tingkat Kecemasan pada bayi Hiperbillirubin yang dilakukan foto terapi di ruang Perinatologi Rs Wava Husada Kepanjen
5.2 Saran
1. Bagi Profesi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi profesi perawat dan bidan untuk memberikan penatalaksanaan dalam memberikan pengetahuan ibu tentang proses penanganan bayi hiperbillirubin salah satunya dengan dilakukan fototerapi
2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pada ibu mengenai pentingnya penanganan hiperbillirubin dengan dilakukan foto terapi
3. Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan untuk memberikan masukan kepada pelayanan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya penggunaan foto terapi sehingga dapat digunakan sebagai dasar institusi kesehatan untuk penanganan hiperbillirubin di rumah sakit salah satunya dengan pemberian foto terapi
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat memberikan informasi untuk memiliki perhatian terhadap hubungan pengetahuan ibu tentang pengetahuan ibu dan tingkat kecemasan pada ibu yang bayinya dilakukan foto terapi
5. Bagi Responden
Sebagai informasi tentang pentingnya pengetahuan ibu terhadap penanganan hiperbillirubin dirumah sakit salah satunya yaitu dengan pemberian foto terapi agar ibu tidak cemas secara berlebihan.