Pentingnya PrinsipIntentional Teachersdalam Pemanfaatan Teknologi sebagai Media Pembelajaran
Pengalaman saya dalam mengikuti salah satu program Kampus Merdeka yakni WMK (Wirausahawan Kemerdekaan) yang diselenggarakan oleh ITB (Institut Teknologi Bandung) menumbuhkan tantangan dan gagasan ide baru dalam mengembangkan media pembelajaran yang secara komprehensif dapat memanfaatkan penggunaan teknologi tetapi tetap meminimalisir efek negatif yang ditimbulkan. Hal ini agar sesuai prinsipintentional teachers dimana tugas pengajar tidak menggantungkan sepenuhnya kepada media pembelajaran berbasis teknologi tetapi secara terencana menggunakan potensi teknologi untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiswa (Slavin, 2018).
Dalam program yang saya jalani kurang lebih empat bulan ini, pihak penyelenggara memanfaatkan teknologi sebagai media belajar yang diejawantahkan dalam penggunaan online learning management system, aplikasi komunikasi seperti Zoom, Google Meet, dan Telegram, serta aplikasi yang digunakan dalam business dan management seperti Miro, Trello, Jira, Figma, Canva, Docs, Spreadsheets, dsb. Hadirnya aplikasi tersebut tentunya memudahkan peserta dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Berkat penggunaan media pembelajaran tersebut, saya dan teman-teman merasa sangat terbantu dan termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Penggunaan online learning management system yang langsung terintegrasi dengan Google Calendar, link Zoom memudahkan peserta agar dapat langsung mengatur dan menyesuaikan jadwal yang ada. Sistem presensi self-record, penugasan, progress penilaian, dan tools peer review yang terintegrasi dalam platform tersebut, memudahkan peserta untuk bisa memaksimalkan penggunaan media belajar yang terfokus hanya pada beberapa platform saja. Hal ini memudahkan di satu sisi, tetapi karena mayoritas frekuensi penggunaan media pembelajaran menitikberatkan hal itu, maka terdapat hal-hal yang kurang diperhatikan sehingga menurunkan efektivitas dan motivasi dalam pembelajaran. Hal-hal yang kami alami seperti penggunaan gadgetdan internet dalam waktu yang lama(over-consumption), multitasking, berkurangnya interaksi langsung dengan dosen, mentor, dan peserta lainnya, hingga isu kredibilitas data hasil pencapaian siswa melaluiessay atau kuis yang diberikan secara terbuka. Isu-isu tersebut tentunya menimbulkan beberapa efek psikis dan psikologis seperti kelelahan, depresi, kecemasan, antisosial, dan berkurangnya keterampilan sosial yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran, motivasi belajar, dan hasil pembelajaran (Shows dkk., 2018; Wang dkk., 2022). Efek negatif tersebut tentunya menjadi sebuah perhatian dan tantangan bagi semua pihak agar kedepannya dapat terminimalisir efek negatifnya dengan tetap mengakomodasikan perkembangan media belajar berbasis teknologi yang ada.
Melalui pengalaman tersebut, saya menjadi belajar bahwa media belajar berbasis teknologi memiliki beberapa keunggulan dan dapat membantu seluruh pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar sehingga menunjang tercapainya efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Akan tetapi penggunaan yang sepenuhnya bergantung pada teknologi dapat menimbulkan efek negatif yang mengurangi nilai efektifitas dan esensi dari pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu perlunya prinsipintentional teachersdalam setiap pembelajaran yang dilakukan agar terakomodasi berbagai macam manfaat teknologi dalam pembelajaran dengan meminimalisir efek negatif yang ditimbulkan (Slavin, 2018).
Referensi:
Shows, G., Albinsson, P., Ruseva, T., & Waryold, D. (2018). The impact of technology on attention and fatigue in college age students.Atlantic Marketing Journal,7(1),1-24.
ISSN 2165-3879
Slavin, R. E. (2018).Educational psychology: Theory and practice. Pearson.
https://books.google.co.id/books?id=iKUatAEACAAJ
Wang, D., Wei, W., & Zhao, J. (2022). The Impact of Education Based on New Internet Media Technology on College Students’ Mental Health and Biomedical Diagnosis.
Computational Intelligence & Neuroscience, 1–7.
https://doi-org.ezproxy.ugm.ac.id/10.1155/2022/3617938