• Tidak ada hasil yang ditemukan

penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PENYELESAIAN PERSELISIHAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA PEKERJA PT. MEKARSARI ALAM LESTARI

DIPENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PEKANBARU

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum

Universitas Lancang Kuning Pekanbaru

Disusun Oleh :

Nama : RADESMAN NAINGGOLAN NIM : 1674201389

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU

2020

(2)

iv

(3)

v ABSTRAK

Perselisihan pemutusan hubungan kerja adalah perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak. Peradilan Hubungan Industrial merupakan pengadilan khusus yang berada pada lingkungan peradilan umum bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutus di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja.

Di bulan Mei tahun 2016 diawali proses pemeriksaan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT.Mekarsari Alam Lestari dan dipertengahan bulan Juli 2016 oleh Pengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru memutuskan menerima Gugatan pihak pekerja ,di Bulan Maret 2017 pengadilan kasasi memutuskan menolak kasasi PT.Mekarsari Alam Lestari dan menghukumnya untuk membayar biaya perkara tapi dimana sampai saat ini (saat penulisan Skripsi ini) para pekerja yang di PHK belum mendapat hak-hak sebagaimana yang sudah diputuskan oleh Pengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru dan Pengadilan Kasasi di Mahkamah Agung.

Dengan adanya permasalahan ini Penulis tertarik untuk menelitinya dengan memberi judul ”Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT.Mekarsari Alam Lestari di Pengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru “.

Tujuan penelitian ini Untuk menjelaskan Pelaksanaan, mengindetifikasikan hambatan-hambatan yang ditemui dan merumuskan upaya mengatasi hambatan- hambatan dalam Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT.

Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru.

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian hukum Sosiologis yang merupakan suatu penelitian yang dilakukan melalui wawancara kepada beberapa sampel. Dan Random Sampel Dalam penelitian ini, Populasi yang diambil merupakan pihak-pihak terkait yang mana populasi tersebut terdiri dari Kepaniteraan PHI, Mediator Disnaker Kabupaten Pelalawan, Pekerja, sehingga hasil analisa disusun secara teoritis dalam bentuk Skripsi.

Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru mengenai hak karyawan yang dilakukan pemutusan hubungan kerja belum sepenuhnya terlaksana dengan baik sesuai dengan ketentuan dalam Undang Undang tentang Ketenagakerjaan, Kendala dalam penerapan adalah kurang nya pengetahuan dari pihak Pekerja, dan seringnya pihak perusahaan menggunakan alasan mutasi dan jika karyawan tidak mau dianggap mengundurkan diri, serta eksekusi yang lambat dari pengadilan. Upaya yang seharusnya dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi dan juga pengawasan oleh pihak DISNAKER agar PT diawasi dan diberikan sanksi yang tegas serta adanya sosialisasi mengenai hak hak pekerja dan adanya revisi peraturan sehingga proses perkaranya tidak memakan waktu yang lama, dan juga karyawan mendapat hak nya.

Kata Kunci: PHK, Pekerja PT.Mekarsari Alam Lestari, PHI Pbr

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap manusia selalu membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mendapatkan biaya hidup seseorang perlu bekerja. Bekerja dapat dilakukan secara mandiri atau bekerja kepada orang lain. Bekerja kepada orang lain dapat dilakukan dengan bekerjakepada negara yang selanjutnya disebut sebagai pegawai atau bekerja kepada orang lain (swasta) yang disebut sebagai buruh atau pekerja.

Pengertian pekerja berdasarkan ketentuan pasal 1 angka 3. UU No 13 tahun 2003 adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.Iman Soepomo menyebutkan bahwa pekerja atau buruh adalah seseorang yang bekerja kepada orang lain dengan mendapatkan upah. Sedangkan tenaga kerja berdasarkan ketentuan pasal 1 angka 2 UU no. 13 tahun 2003 adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan / atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.1

Jumlah tenaga kerja yang tersedia di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Jumlah tenaga kerja jauh lebih banyak dari pada jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Terlebih lagi dari sebagian besar tenaga kerja yang tersedia adalah yang berpendidikan rendah atau tidak

1Lalu Husni, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm. 63

(5)

2 berpendidikan sama sekali. Mereka kebanyakan adalah unskillabour, sehingga posisi tawar mereka adalah rendah.2

Dalam rangka mengejar pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui industrialisaasi, membawa akibat meletakkan posisi pemilik modal sebagai pelopor dan basis pendukung bagi keberhasilan pembangunan nasional, sebaliknya menempatkan pekerja pada posisi pemancing sektor penarik investasi sehingga nilai pekerja Indonesia lebih rendah daripada nilai pekerja luar negeri.

Kebijakan pemerintah di bidang ketenagakerjaan seolah-olah kurang memperhatikan nasib pekerja. Hal ini ditunjang dengan adanya doktrin stabilitas yang semakin memperlemah posisi tawar buruh.

Keadaan ini menimbulkan adanya kecenderungan majikan untuk berbuat sewenang- wenang kepada pekerja / buruhnya. Buruh dipandang sebagai obyek.

Buruh dianggap sebagai faktor ektern yang berkedudukan sama dengan pelanggan pemasok atau pelanggan pembeli yang berfungsi menunjang kelangsungan perusahaan dan bukan faktor intern sebagai bagian yang tidak terpisahkan atau sebagai unsur konstitutip yang menjadikan perusahaan.

Majikan dapat dengan leluasa untuk menekan pekerja / buruhnya untuk bekerja secara maksimal, terkadang melebihi kemampuan kerjanya. Misalnya majikan dapat menetapkan upah hanya maksimal sebanyak upah minimum propinsi yang ada, tanpa melihat masa kerja dari pekerja itu. Seringkali pekerja dengan masa kerja yang lama upahnya hanya selisih sedikit lebih besar dari upah pekerja yang masa kerjanya kurang dari satu tahun. Majikan enggan untuk

2Ibid.,

(6)

3 meningkatkan atau menaikkan upah pekerja meskipun terjadi peningkatan hasil produksi dengan dalih bahwa takut diprotes oleh perusahaan – perusahaan lain yang sejenis.

Secara sosiologis kedudukan buruh adalah tidak bebas. Sebagai orang yang tidak mempunyai bekal hidup lain daripada itu, ia terpaksa bekerja pada orang lain. Majikan inilah yang pada dasarnya menentukan syarat-syarat kerja.Mengingat kedudukan pekerja yang lebih rendah daripada majikan maka perlu adanya campur tangan pemerintah untuk memberikan perlindungan hukumnya. Perlindungan hukum menurut Philipus, selalu berkaitan dengan kekuasaan. Ada dua kekuasaan yang selalu menjadi perhatian yakni kekuasaan pemerintah dan kekuasaan ekonomi.3

Dalam hubungan dengan kekuasaan pemerintah, permasalahan perlindungan hukum bagi rakyat (yang diperintah), terhadap pemerintah (yang memerintah).

Dalam hubungan dengan kekuasaan ekonomi, permasalahan perlindungan hukum adalah perlindungan bagi silemah (ekonomi) terhadap si kuat (ekonomi), misalnya perlindungan bagi pekerja terhadap pengusaha.

Perlindungan hukum bagi buruh sangat diperlukan mengingat kedudukannya yang lemah. Disebutkan oleh Zainal Asikin, yaitu Perlindungan hukum dari kekuasaan majikan terlaksana apabila peraturan perundang-undangan dalam bidang perburuhan yang mengharuskan atau memaksa majikan bertindak seperti dalam perundang-undangan tersebut benar-benar dilaksanakan semua

3F.X. Djumialdji dan Wiwoho Soejono, Perjanjian Perburuhan danHubunganPerburuhan Pancasila, Bina Aksara, Jakarta, 1985, hlm. 88.

(7)

4 pihak karena keberlakuan hukum tidak dapat diukur secara yuridis saja, tetapi diukur secara sosiologis dan filosofis.

Dalam hal ini jika terjadi PHK para karyawan memiliki hak hak seperti pesangon, dan juga apa bila perusahaan ingin melakukan PHK tentu ada prosedurnya sesuai dengan Undang Undng yang berlaku dan juga perusahaan tidak asal main usir saja karyawannya tanpa pemberitahuan dan surat PHK, apalagi sampai diusir dari perumahan karyawan yang notabene mereka tidak tahu kejelasan di berhentikan apa tidak karna tidak ada keputusan dari perusahaan, hal ini terjadi di PT. Mekar Alam Lestari yang mana karyawan langsung di usir dari perumahan tanpa tau apa apa, dan apa penyebab mereka di usir dan dikatakan sudah tidak lagi bekerja di Perusahaan tersebut, hal ini dibenarkan oleh Pihak PT yang menganggap karyawan sudah tidak mau bekerja lagi dikarenakan saat dimutasi mereka tidak mau oleh karna itu tentu perusahaan menganggap mereka sudah tidak mau bekerja dan tentu tidak diperbolehkan lagi tinggal di perumahan yang notabene adalah khusus karyawan perusahaan tersebut.

Sementara pengakuan pekerja jika alasannya mutasi tidak masuk di akal serta mereka sudah melayangkan surat ke perusahaan namun malah mereka dianggap tidak bekerja lagi dan diusir dari perumahan karyawan, tentunya dalam hal ini jika terjadi pemecatan para pekerja harus sesuai dengan undang undang yang berlaku, dan karyawan wajib mendapatkan hak nya berupa pesangon sebagaimana diatur didalam undang undang, hal ini lah yang melatar belakangi penulis tertarik membuat sebuah judul “Penyelesaian Perselisihan Pemutusan

(8)

5 Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan apa yang telah diuraikan diatas, maka beberapa pokok permasalahan yang akan di teliti antara lain :

1. Bagaimanakah Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru?

2. Bagaimanakah Hambatan Dalam Pelaksanaan Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru ?

3. Bagaimanakah Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Hambatan Dalam Pelaksanaan Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk menjelaskan Pelaksanaan Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru.

(9)

6 b. Untuk mengindetifikasikan hambatan-hambatan yang ditemui dalam Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru.

c. Untuk merumuskan upaya mengatasi hambatan-hambatan Pelaksanaan Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:

a. Agar bermanfaat secara praktis bagi mahasiswa kaum intelektual dan masyarakat dalam perkembangan hukum khususnya hukum Perdata berkaitan dengan Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja PT. Mekarsari Alam Lestari Dipengadilan Hubungan Industrial Pekanbaru.

b. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan atau sumbangan pemikiran bagi pihak yang berkopenten dalam hal ini untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi khusus nya dibidang Ketenaga kerjaan.

c. Untuk memberikan konstribusi bagi Pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan terkait masalah Ketenaga kerjaan.

(10)

7 D. Kerangka Teori

Pemerintah telah menetapkan kebijakan dibidang ketenagakerjaan yang dirumuskan dalam UU No. 13 tahun 2003. Berdasarkan ketentuan pasal 2 UU No. 13 tahun 2003 pembangunan ketenagakerjaan berlandaskan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan ketenagakerjaan dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Oleh sebab itu pembangunan ketenagakerjaan dilaksanakan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, makmur dan merata baik materiil maupun spiritual.

Selanjutnya, berdasarkan ketentuan pasal 3 UU No. 13 Tahun 2003 pembangunan ketenagkerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam penjelasannnya, yaitu Asas pembangunan ketenagakerjaan pada dasarnya sesuai dengan asas pembangunan nasional, khususnya asas demokrasi Pancasila serta asas adil dan merata. Pembangunan ketenagakerjaan mempunyai banyak dimensi dan keterkaitan dengan berbagai pihak yaitu antara pemerintah, pengusaha dan pekerja/ buruh. Oleh sebab itu, pembangunan ketenagakerjaan dilaksanakan secara terpadu dalam bentuk kerja sama yang saling mendukung.

Tujuan pembangunan ketenagakerjaan berdasarkan ketentuan pasal 4 UU No. 13 Tahun 2003 adalah :4

1. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi.

4Iman Soepomo, Hukum Perburuhan Bidang Hubungan Kerja, Djambatan, Jakarta, 1974, hlm. 143.

(11)

8 2. Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah.

3. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan dan.

4. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya

Pemberdayaan dan pendayagunaan tenaga kerja merupakan suatu kegiatan yang terpadu untuk dapat memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya bagi tenaga kerja Indonesia. Melalui pemberdayaan dan pendayagunaan ini diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan nasional, namun dengan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaannya.

Pemerataan kesempatan kerja harus diupayakan di seluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai satu kesatuan pasar kerja dengan memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan bagi seluruh tenaga kerja Indonesia sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Demikian pula pemerataan penempatan tenaga kerja perlu diupayakan agar dapat mengisi kebutuhan di seluruh sektor dan daerah.

Penekanan pembangunan ketenagakerjaan pada pekerja mengingat bahwa pekerja adalah pelaku pembangunan. Berhasil tidaknya pembangunan teletak pada kemampuan, dan kualitas pekerja. Apabila kemampuan pekerja (tenaga kerja) tinggi maka produktifitas akan tinggi pula, yang dapat mengakibatkan kesejahteraan meningkat, tenaga kerja menduduki posisi yang strategis untuk meningkatkan produktifitas nasional dan kesejahteraan masyarakat.

(12)

9 Sebelum membahas tentang perlindungan hukum bagi pekerja yang di putus hubungan kerjanya, perlu dikaji tentang hubungan kerja. Berdasarkan ketentuan pasal 1 angka 15 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 pengertian hubungan kerja yaitu ”Hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan,upah dan perintah”.

Hubungan kerja terjadi setelah adanya perjanjian kerja antara buruh dan majikan, yaitu suatu perjanjian dimana pihak kesatu, buruh, mengikatkan diri untuk bekerja dengan menerima upah pada pihak lainnya, majikan, yang mengikatkan diri untuk mempekerjakan buruh itu dengan membayar upah. “Pada pihak lainnya” mengandung arti bahwa pihak buruh dalam melakukan pekerjaan itu berada di bawah pimpinan pihak majikan.

Hubungan kerja dilakukan oleh subyek hukum. Subyek hukum yang terikat dalam hubungan kerja ini adalah pengusaha dan pekerja. Pengertian pekerja/buruh berdasarkan pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yaitu ”Setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”.Undang-Undang No.13 Tahun 2003 membedakan pengertian antara pengusaha, pemberi kerja dan perusahaan. Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 pengertian pemberi kerja yaitu ”Orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Pengertian pengusaha menurut pasal 1 angka 5 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 adalah:

(13)

10 1. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan

suatu perusahaan bukan miliknya

2. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya

3. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

Berdasarkan ketentuan UU No. 13 Tahun 2003, pengusaha dapat melakukan PHK terhadap pekerja karena alasan-alasan sebagai berikut :

1. Pekerja melakukan kesalahan ringan;

2. Pekerja melakukan kesalahan berat;

3. Perusahaan tutup karena pailit;

4. Force majeur;

5. Adanya efisiensi;

6. Perubahan status, milik, lokasi dan pekerja menolak;

7. Perubahan status, milik, lokasi dan majikan menolak;

8. Pekerja sakit berkepanjangan dan mengalami cacat akibatkecelakaan kerja.

Alasan dapat dibenarkan adanya PHK menurut Ridwan Halim dan Sunindhia yaitu :

1. Menurutnya hasil produksi yang dapat pula disebabkan oleh beberapa faktor misalnya :

a. Merosotnya kapasitas produksi perusahaan yang bersangkutan.

(14)

11 b. Menurunnya permintaan masyarakat atas hasil produksi perusahaan

yang bersangkutan.

c. Menurunnya persediaan bahan dasar.

d. Tidak lakunya hasil produksi yang lebih dahulu dilemparkan ke pasaran dan sebagainya, yang semua ini secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan kerugian.

2. Merosotnya penghasilan perusahaan, yang secara langsung mengakibatkan kerugian pula.

3. Merosotnya kemampuan perusahaan tersebut membayar upah atau gaji atau imbalan kerja lain dalam keadaan yang sama dengan sebelumnya.

4. Dilaksanakan rasionalisasi atau penyederhanaan yang berarti pengurangan karyawan dalam jumlah besar dalam perusahaan bersangkutan.

Alasan lain yang bersumber dari keadaan yang luar biasa, misalnya : 1. Karena keadaan perang yang tidak memungkinkan diteruskannya

hubungan kerja

2. Karena bencana alam yang menghancurkan tempat kerja dan sebagainya

3. Karena perusahaan lain yang menjadi penyelenggara pekerjaan yang bersangkutan ternyata tidak mampu lagi meneruskan pengadaan lapangan pekerjaan selama ini ada. Sedangkan perusahaan atau majikan yang secara langsung mempekerjakan para karyawan selama ini hanyalah merupakan kuasa yang bertindak untuk dan atas nama

(15)

12 perusahaan yang lain yang menjadi penyelenggara atau pengada lapangan pekerjaan tersebut

4. Karena meninggalnya majikan dan tidak ada ahli waris yang mampu melanjutkan hubungan kerja denga karyawan yang bersangkutan.

E. Metode Penelitian

Soerjono Soekanto berpendapat bahwa penelitian hukum dapat dibagi dalam penelitian hukum normatif dan penelitian hukum sosiologis atau empiris5. Soerjono Soekanto menambahkan bahwa dalam penelitian hukum sosiologis dapat berupa penelitian yang hendak melihat korelasi antara hukum dengan masyarkat. Dengan demikian, diharapkan mampu mengungkapkan efektifitas berlakunya hukum dalam masyarakat dan mengidentifikasi hukum yang tidak tertulis yang berlaku dalam masyarakat.

Zainuddin ali membagi jeni penelitian hukum sosiologis atau yuridis empiris dalam beberapa jenis diantaranya yaitu penelitian terhadap identifikasi hukum dan penelitian terhadap efektifitas hukum sejalan dengan penelitian yang berlaku di Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning.6

Penelitian hukum sosiologis menurut Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) lebih diarahkan pada suatu penelitian yang membahas tentang;7

1. Berlakunya hukum positif,

5 Buku Pedoman Penulisan Skripsi Edisi III (Fakultas Hukum Unifersitas Lancang Kuning 2019) hlm.7

6 Buku Pedoman Penulisan Skripsi Edisi III (Fakultas Hukum Unifersitas Lancang Kuning 2019) hlm.1

7 T.kelizman Devi,”Perkembangan Hukum Sejak Masa Kolonial Sampai Kemerdekaan”, Citra Justicia, Volume II No.2, Desember 2006, hal 4

(16)

13 2. Pengaruh berlakunya hukum positif terhadap kehidupan masyarakat, 3. Pengaruh faktor-faktor non hukum terhadap terbentuknya ketentuan-

ketentuan hukum positif, Pengaruh faktor-faktor non hukum terhadap berlakunya ketentuan-ketentuan hukum positif.

3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Hukum Sosiologis, yaitu penelitian yang dilakukan langsung dilokasi penelitian (penelitian lapangan) yaitu mempelajari tentang berlakunya hukum ditengah-tengah masyarakat.

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Pengadilan Negeri Pekanbaru, PT.

MekarSari Alam Lestari sesuai dengan kewewenangannya yang diberikan oleh undang-undang satu-satunya untuk mengadili Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di wilayah propinsi Riau.

5. Populasi dan Sampel 1) Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari pada elemen-elemen yang menjadi objek penelitian, dari pengertian diatas dapat ditentukan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah :

1. Kepaniteraan Muda PHI 1 Orang

2. Mediator Disnaker Kabupaten Pelalawan 3 Orang 3. Serikat Buruh PT. Mekarsari Alam Lestari 8 orang

(17)

14 4. Pekerja yang di PHK 8 orang.

b. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan dijadikan objek penelitian.Adapun jumlah sampel pada penelitian ini terdiri atas :

1. Kepaniteraan Muda PHI 1 Orang

2. Mediator Disnaker Kabupaten Pelalawan 1 Orang 3. Serikat Buruh PT. Mekar Sari Alam Lestari 2 Orang 4. Pekerja yang di PHK 4 orang.

Tabel I.1 Populasi dan Sampel

No Responden Populasi Sampel Persentase 1 Panitera Muda PHI PN.

Pekanbaru

1 orang 1 orang 100%

2 Mediator Disnaker Kab.

Pelalawan 3 orang 1 orang 37%

3 Serikat Buruh 8 Orang 2 Orang 25%

3 Pekerja yang di PHK 8 orang 4 orang 40 % Jumlah 20 orang 8 orang 43%

Sumber: Data Olahan Tahun 2020 6. Sumber Data

Dalam penelitian ini penulis mengambil beberapa data yang bersumber dari :

a. Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil penelitian lapangan berupa hasil wawancara penulis dengan responden (sampel) penelitian serta hasil observasi (pengamatan penulis).

(18)

15 b. Data Sekunder yaitu data yang bersumber dari bahan-bahan hukum

seperti :

1) Buku-buku literatur yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

2) Pendapat para pakar hukum.

3) Hasil penelitian hukum sebelumnya.

c. Data Tertier, terdiri dari : 1) Kamus dan ensikplodia.

2) Majalah-majalah, jurnal atau tabloid yang berkaitan dengan skripsi ini

7. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

a. Observasi, yaitu suatu alat pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.

b. Wawancara, yaitu suatu alat pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden dengan maksud memperoleh gambaran yang jelas tentang permasalahan yang diteliti.

c. Kajian Kepustakaan, yaitu suatu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mempelajari data-data tertulis seperti

(19)

16 literatur-literatur dan bahan-bahan hukum yang berhubungan dengan permasalahan peneli

8. Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan dikumpulkan dan disusun secara sistematik kemudian dianalisis secara kualitatif, yaitu menjelaskan atau mengambarkan data dan keterangan yang diperoleh dari hasil penelitian. Sedangkan untuk mengambil kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu mengambarkan apa adanya tentang data-data yang diolah dan hasil analisis data tersebut.

(20)

76 DAFTAR PUSTAKA

A. Buku Buku

Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Ed. 1, Cet. 2, Sinar Grafika, Jakarta, 2010.

Asfinnawati,Pemutusan Hubungan Kerja Ditinjau dari Hukum Perburuhan, Universitas Sumatera Utara, Jakarta, 2007

Asyhadie zaini, Hukum ketenagakerjaan bidang Hubungan kerja. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.2011.

Basri, Amran, Hukum Perburuhan Dan Ketenagakerjaan Indonesia, Medan, 2006.

Djumadi, “Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja”, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008.

Ferianto dan Darmanto, Himpunan Putusan Mahkamah Agung dalam perkara PHI Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) disertai ulasan hukum, PT.

RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010.

Halili, Toha dan Hari Pramono, Hubungan Kerja antara Majikan dan Buruh, Cet.

I,Bina Aksara, 1987.

Husni, Lalu, “Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan dan Di luar Pengadilan” , Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

---, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia,PT Raja Persada, Jakarta, 2007.

---,Dasar-dasar Hukum Perburuhan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008

(21)

77 ---, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Cet. 11, PT.

RajaGrafindo, Jakarta, 2012

Hans Kelsen, Dasar-dasar Hukum Normatif, Bandung : Nusa Media, 2008 Kertasapoetra.G, Hukum Perburuhan di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta, 1988.

Khakim,Abdul,Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti.2002.

Manullang, Sendjun H, Pokok-Pokok Hukum Ketenaga Kerjaan di Indonesia, Sinar Grafindo, 1992.

Prodjodikoro, Wiryono, Hukum Perdata tentang Persetujuan Persetujuan Tertentu, Sumur, Bandung, 1991.

Pratiwi, Retna, Pemutusan Hubungan Kerja, Erlangga, Jakarta, 2007.

Soepomo, Iman, Hukum Perburuhan Bidang Hubungan Kerja. Djambatan, Jakarta, 1957.

Supramono Gatot, Kedudukan Perusahaan, Rineka cipta, Jakarta, 2007.

Sutedi, Adrian, Hukum Perburuhan,Sinar Grafika, Jakarta, 2009.

Soebekti, Hukum Perjanjian, Cet. VIII, PT. Inter Masa, 1984.

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 2008.

Sugiono, Metode Penelitian Ilmu Administrasi, Alfabeta, Jakarta, 2002.

Satjipto Raharjo, Penyelenggaraan Keadilan Dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jurnal masalah hukum, 1993

Zainal Ali, Askin, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006. .

(22)

78 B. Jurnal

T.kelizman Devi, Perkembangan Hukum Sejak Masa Kolonial Sampai Kemerdekaan, Citra Justicia, Volume II No.2, Desember 2006.

Abdul. KhaidirMuhammad,”Etika Profesi Hukum” vol ke- 2, Citra Aditia Bakti, Bandung, 2001.

Suhartoyo. ,Perlindungan Hukum bagi Buruh dalam sistem ketenagakerjaan nasional, Vol 1, Fakultas Hukum Universitas diponegoro, Semarang, 2009.

C. Peraturan Per Undang-undang

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan industrial

Gambar

Tabel I.1  Populasi dan Sampel

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui upaya mediasi di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui upaya mediasi di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan

Majelis hakim yang memimpin persidangan dengan perkara perselisihan pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah melihat bukti-bukti perjanjian-perjanjian

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dilakukan oleh pengusaha karena perusahaan melakukan efisiensi, maka pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 2 (dua) kali

Hubungan kerja termasuk kategori perselisihan hubungan industrial bersama perselisihan hak, perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat karyawan. Perselisihan

2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI), yang dimaksud dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja adalah perselisihan yang timbul karena

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 secara spesifik merinci kompetensi arbitrase hubungan industrial yang hanya berwenang menyelesaikan perselisihan hubungan industrial

Dalam Hubungan Industrial baik pihak perusahaan maupun. pekerja/buruh mempunyai hak yang sama dan sah untuk melindungi