Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kondisi budaya religi yang terjadi di SMPN 1 Kebonsari; (2) Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan kepala SMPN 1 Kebonsari dalam menjalankan perannya sebagai pendidik; dan (3) mengetahui hubungan peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari. Untuk mengetahui hubungan peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari.
Kepala Sekolah
Kepemimpinan kepala sekolah yang baik harus dapat mengupayakan peningkatan kinerja guru melalui program peningkatan kapasitas bagi tenaga kependidikan. Pimpinan SMK harus dapat mendorong agar tenaga kependidikan terlibat secara aktif dan kreatif dalam berbagai kegiatan.
Pengembangan Budaya Religius
Vertikalnya berupa hubungan manusia atau warga sekolah/madrasah/universitas dengan Allah (habl min Allah) seperti shalat, berdo'a, puasa, tahlil Al-Qur'an dan lain-lain. 34 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 64.
Keterkaitan peran kepala sekolah sebagai educator dengan pengembangan budaya religius
Kedudukan kepala sekolah sebagai penanggung jawab keberhasilan atau kegagalan sekolah dalam melaksanakan pembelajaran akan sangat tergantung pada upaya optimalisasi peran dan tugas kepemimpinan secara efektif. Strategi kekuasaan, yaitu strategi penanaman agama di sekolah dengan menggunakan kekerasan atau melalui kekuatan rakyat, dalam hal ini peran kepala sekolah dengan segala kekuatannya sangat dominan dalam melakukan perubahan. Hal-hal yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam kaitannya dengan peran seorang pendidik adalah membuat visi, misi, tujuan dan aturan yang berkaitan dengan budaya religius di sekolah.
Kepala sekolah menghubungkan perannya sebagai pendidik dalam implementasi strategi ini dengan pendekatan persuasif atau mengajak warga secara halus dengan mengemukakan alasan dan prospek yang baik yang dapat meyakinkan mereka akan pentingnya budaya religius di sekolah. Ajakan, imbauan ini tidak hanya ditujukan untuk siswa saja, tetapi kepala sekolah juga mengajak seluruh guru dan tenaga pendidik untuk setia. Dalam strategi ini peran kepala sekolah sebagai pendidik dapat dikembangkan melalui pembinaan dan keteladanan kepala sekolah yang akan diikuti oleh guru, tenaga kependidikan, pegawai hingga peserta didik.
Tak ketinggalan, dukungan warga sekolah terhadap upaya pengembangan budaya religius berupa: komitmen tokoh agama dan guru, komitmen siswa, komitmen orang tua dan komitmen guru lainnya. Komitmen dan kerjasama sinergis antara warga sekolah dan dukungan dari orang tua dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan dalam mengembangkan budaya religius.
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja profesional guru pendidikan agama Islam (studi kasus di Madrasah Aliyah Dipo Kerti Coper Jetis Ponorogo)”. Kemudian upaya kepala sekolah dalam menghadapi kendala tersebut yaitu mendorong dan memotivasi para guru untuk meningkatkan kompetensinya baik dari segi kualifikasi akademik maupun kompetensi mengajar. Sejak karya Aries, tesisnya lebih fokus pada peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru, sedangkan peneliti lebih fokus pada peran kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius.
Dari karya Mutaqim tersebut, dalam tesisnya lebih menitikberatkan pada peran kepala sekolah dalam memajukan akhlaqul karimah peserta didik, sedangkan peneliti lebih memfokuskan pada peran dan kontribusi kepala sekolah sebagai pendidik dalam pengembangan budaya religius, yang tidak hanya dilakukan oleh siswa, tetapi oleh seluruh warga sekolah. Dari karya Farihah Naily, dalam tesisnya lebih memfokuskan pada upaya kepala sekolah untuk meningkatkan profesionalisme guru pendidikan agama Islam, sedangkan peneliti lebih fokus pada peran kepala sekolah dalam pengembangan budaya religius. . Dari karya Nur Fauzi tersebut, dalam skripsinya lebih menitikberatkan pada peran manajerial kepala sekolah dalam menjalankan sekolah yang berdaya saing, sedangkan peneliti lebih memfokuskan pada peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator).
Penelitian yang peneliti lakukan dirancang untuk melihat proses peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari, sehingga peneliti memilih penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian studi kasus kualitatif, karena peran kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari akan berbeda dengan peran kepala sekolah di lembaga lain, maka peneliti memilih studi kasus. jenis .
DESKRIPSI DATA
Struktur Organisasi
Paparan Data
- Kondisi budaya religius yang berlangsung di SMPN 1 Kebonsari
- Upaya kepala SMPN 1 Kebonsari dalam menjalankan peran sebagai educator
- Keterkaitan peran kepala sekolah sebagai educator dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari
Semua kegiatan ini direncanakan. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Umar Sanusi selaku guru PAI yaitu “Keadaan budaya religi disini baik dan kegiatannya terencana dengan baik. Para siswa memiliki buku pedoman yang isinya lengkap termasuk jadwal pembiasaan harian.”77. Salah satu manfaat budaya religi ini dirasakan dalam pembelajaran PAI yaitu memudahkan siswa dalam membaca, melafalkan dalil-dalil Al-Qur’an sesuai materi PAI yang diajarkan. Kebonsari, lingkungan sekolah yang hijau juga tercipta.
Kaitan peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam pengembangan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari dengan pengembangan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari. Di SMPN 1 Kebonsari kurikulum yang digunakan adalah KTSP 2006 dan untuk mewujudkan budaya religius tersebut ada tim pengembang kurikulum yang salah satu anggotanya adalah kepala sekolah. Perkembangan budaya religi ini disambut baik oleh semua guru, termasuk ustadz, yang dapat membantu meningkatkan kemampuan anak khususnya dalam membaca Al-Qur’an.
Kemudian untuk terciptanya budaya religius, tujuan utamanya adalah menyeimbangkan pendidikan karakter dan akademik sehingga dapat mengontrol. Berdasarkan data yang disajikan, hubungan antara pengembangan budaya religius dengan peran kepala sekolah sebagai pendidik adalah (1) kepala sekolah ikut serta dalam pengembangan kurikulum dan berorientasi pada pengembangan budaya religius, (2) kepala sekolah berusaha meningkatkan kemampuan guru dalam hal mengaji dan disiplin, (3) kepala sekolah memberikan keteladanan yang baik dengan nasehat dan tindakan.
ANALISIS DATA
Analisis tentang kondisi budaya religius yang berlangsung di SMPN 1 Kebonsari
Pemanfaatan mushola di SMPN 1 Kebonsari tidak hanya untuk ibadah sholat, tetapi juga untuk memasyarakatkan seni membaca Al-Qur'an, hadroh, kadang digunakan untuk pertemuan OSIS, juga digunakan untuk kegiatan belajar mengajar 97 2. Ketersediaan . Pemanfaatan perpustakaan di SMPN 1 Kebonsari tidak hanya digunakan untuk membaca dan menyimpan buku, tetapi juga digunakan untuk pembelajaran. Di lingkungan SMPN 1 Kebonsari terdapat tulisan kata-kata motivasi yang berguna untuk memotivasi anak secara psikologis.
Lingkungan sekolah yang bersih dan hijau membuat suasana di SMPN 1 Kebonsari sejuk dan rindang. Meskipun SMPN 1 Kebonsari memiliki pohon peneduh, namun kebersihan tetap terjaga karena prinsip kerjasama dengan seluruh komponen sekolah. Kondisi budaya beragama di SMPN 1 Kebonsari yang tercermin dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan pendapat Djamaluddin Anchok yang membagi dimensi keagamaan menjadi tiga yaitu aqidah, syariah dan akhlak.
Di SMPN 1 Kebonsari dimensi ini berlaku dengan melaksanakan amalan ibadah yang sudah ada dalam pembelajaran PAI dan diterapkan di sekolah misalnya amalan sholat, di SMPN 1 Kebonsari tertib dalam pelaksanaan sholat Dhuhur berjamaah, namun karena kurangnya fasilitas sholat yang hanya mampu menampung sekitar 100 jemaah, maka sholat dhuhur di SMPN 1 Kebonsari dilaksanakan secara bergantian dan demi efisiensi dan efektifitas ada guru yang memantau kegiatan ini. Cakap Al-Qur'an) dimana pentingnya kegiatan ini adalah kemampuan mengajinya yang berbeda, karena latar belakang siswa yang berbeda dilihat dari lingkungan, tingkat ekonomi keluarga juga dari sekolah, sehingga diharapkan adanya CQ untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Quran-Quran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kondisi budaya religi di SMPN 1 Kebonsari yang tercermin dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan sudah cukup dan perlu ditingkatkan, sehingga ketiga dimensi tersebut dapat dimaksimalkan.
Analisis tentang kepala SMPN 1 Kebonsari dalam menjalankan peran sebagai educator
Penggunaan waktu belajar yang efektif dan efisien bertujuan agar semua materi dapat diselesaikan sesuai jadwal dan menghindari keterlambatan agenda yang ada serta disiplin belajar. Beliau berperan dalam memotivasi dan menggerakkan seluruh warga sekolah untuk ketertiban, dan juga berpesan kepada para guru untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap siswa. Menjadi contoh yang baik Sebagai kepala sekolah, semua warga sekolah akan memperhatikan setiap perkataan, tindakan sopan santun.
Hal inilah yang membuat budaya terlambat di SMPN 1 Kebonsari berangsur-angsur berkurang, selain itu beliau sangat menyukai lingkungan sehingga kebersihan sangat terjaga. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peran kepala SMPN 1 Kebonsari sebagai pendidik adalah (a) meningkatkan kompetensi guru SMPN 1 Kebonsari melalui kegiatan MGMP, workshop internal. Mulyasa bahwa kodratnya memenuhi perannya sebagai pendidik, maka kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalitas tenaga pengajar di sekolahnya, menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, mendorong seluruh tenaga pendidik dan menerapkannya secara menarik. model pembelajaran seperti team teaching, pindah kelas dan mengadakan program akselerasi untuk siswa yang lebih pintar dari biasanya.112 Namun ada beberapa peran yang belum optimal yaitu terkait dengan penyelenggaraan program akselerasi.
Belum ada program akselerasi di SMPN 1 Kebonsari karena sarana dan prasarana serta tenaga yang kurang memadai dan kurang berpengalaman di bidang akselerasi. Analisis hubungan peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari.
Analisis tentang keterkaitan peran kepala sekolah sebagai educator dalam mengembangkan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari
Sikap yang ditunjukkan oleh kepala sekolah sebagai panutan di sekolah akan dengan mudah mempengaruhi sikap dan penghargaan seluruh warga sekolah. Setiap kepala sekolah memiliki karakteristik dalam kepemimpinan, seperti halnya kepala sekolah SMPN 1 Kebonsari yang lebih menekankan pada budaya religius dan cinta lingkungan. Kepala SMPN 1 Kebonsari mengajak dan menghimbau kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk memulai istiqomah dalam pembangunan budaya religius.
Himbauan kepala sekolah disampaikan amanat upacara bendera, saat musyawarah dengan guru dan nasehat kepada siswa. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah terkait peran pendidik adalah membuat visi, misi, tujuan dan aturan yang berkaitan dengan budaya religi di sekolah. . Kepala sekolah berkaitan dengan peran pendidik dalam menjalankan strategi tersebut melalui pendekatan persuasif atau mengajak warga secara halus, dengan memberikan alasan dan prospek yang baik yang dapat meyakinkan mereka akan pentingnya budaya religius di sekolah.
Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara peran kepala sekolah sebagai pendidik dengan pengembangan budaya religius di SMPN 1 Kebonsari. Dan strategi yang digunakan terkait dengan peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam mengembangkan budaya religius Kepala SMPN 1 Kebonsari adalah (1) strategi kekuasaan (2) strategi persuasi dan (3) strategi reedukasi normatif.
PENUTUP
SARAN
Sudah banyak program kegiatan keagamaan di SMPN 1 Kebonsari, namun akan lebih baik jika ditambahkan sholat dhuha berjamaah, agar siswa diajarkan sholat dhuha karena fadhilah/prioritasnya banyak. Sarana dan prasarana di SMPN 1 Kebonsari memang sudah lengkap, namun akan lebih indah dan bermanfaat jika ada dinding kosong untuk memasang kaligrafi ayat suci Al-Qur'an atau Hadits, kata-kata bijak tentang semangat belajar, pengabdian pada agama dan pembangunan tanah air dan bangsa yang berguna untuk memotivasi siswa agar menjadi manusia yang cinta agama dan cinta tanah air. Saran bagi kepala sekolah, guru, staf dan siswa agar lebih konsisten dalam mengembangkan budaya religius agar semakin meningkat di tahun-tahun mendatang.
Saran bagi peneliti yang akan melakukan penelitian agar lebih memperhatikan pertanyaan yang akan diajukan, sehingga dapat dikupas semua permasalahannya.