• Tidak ada hasil yang ditemukan

peran pengasuh panti asuhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "peran pengasuh panti asuhan"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

Indah Wahyuni, 2017: Peran Pengasuh Panti Asuhan Dalam Membentuk Karakter Anak Yatim Piatu di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Perempuan Muhammadiyah Lumajang. Tujuan penelitian ini adalah : mendeskripsikan peran pengasuh dalam membentuk Karakter Religius, Disiplin, Percaya Diri dan Mandiri pada Anak Yatim Piatu di LKSA Putri Lumajang.

PENDAHULUAN

Latar belakang

Dalam hal ini, anak yatim dan anak terlantar menghadapi permasalahan pendidikan yang sangat rendah. Oleh karena itu didirikanlah sebuah lembaga yang mengasuh anak yatim dan anak terlantar, yaitu Panti Asuhan.

Fokus penelitian

Maka peneliti ingin mengkaji dan melakukan penelitian tentang “Peran Pengasuh Panti Asuhan Dalam Membentuk Karakter Anak Yatim Piatu di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Perempuan Muhammadiyah Lumajang”. Bagaimana peran pengasuh dalam membentuk karakter percaya diri anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang.

Tujuan penelitian

Untuk mendeskripsikan peran pengasuh dalam membentuk karakter disiplin anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang. Untuk mendeskripsikan peran pengasuh dalam membentuk sifat mandiri anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang.

Manfaat Penelitian

Yayasan berharap penelitian ini dapat dijadikan kontribusi dalam pembentukan karakter anak. Bagi anak-anak yatim/asuh, kami berharap penelitian ini dapat mengajarkan anak-anak untuk lebih memantapkan karakternya.

Definisi Istilah

Peran pengasuh adalah kedudukan seseorang pimpinan lembaga pendidikan di panti asuhan yang peduli terhadap nasib anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya atau anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi untuk melanjutkan pendidikannya. Sedangkan anak yatim piatu adalah anak yang kehilangan bapaknya karena meninggal dunia. Ia dianggap yatim piatu sampai ia mencapai pubertas.

Sistematika Pembahasan

18 Mediasi Hikmatusy, Peran Guru PAI Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Gemar Membaca Siswa di SMP Alam Banyuwangi Islamic School (BIS) Genteng Banyuwangi Tahun Pelajaran Jember: IAIN Jember, skripsi, 2016). Mengenalkan pendidikan karakter kepada siswa yang gemar membaca di Sekolah Menengah Islam (BIS) Alam Banyuwangi Genteng Banyuwangi tahun ajaran 2016-2017.

Kajian Teori

Pengasuh adalah seorang pengelola dalam suatu organisasi atau lembaga yang dipimpinnya Pengasuh bertugas mengelola panti asuhan. Kepemimpinan sama halnya dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. mengatur. Pengurus/pengasuh panti asuhan sebagai pengelola harus mampu memberikan bimbingan dan pengawasan untuk meningkatkan kemauan tenaga kependidikan serta harus mempunyai sifat-sifat khusus yang meliputi kepribadian, keterampilan dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional. Dalam menjalankan fungsinya sebagai Pendidik, pengelola/pengasuh harus mempunyai strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di panti asuhannya.

Ketiga, memanfaatkan waktu belajar di panti asuhan secara efektif dengan memberikan semangat kepada ustadz/ustadzah untuk memulai dan menyelesaikan pembelajaran. Pengasuh panti asuhan diharapkan selalu membesarkan anak-anak yatim dengan penuh kesabaran dan kasih sayang agar mereka cakap dalam segala hal dan tidak bergantung pada orang lain, baik itu panti asuhan, pengurus, tata tertib, penyusunan program kegiatan, dan lain-lain. Untuk itu para wali harus mampu menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan tenaga kependidikan serta menciptakan lingkungan yang aman dan menyenangkan di panti asuhan.

Orang tua merupakan orang yang paling berperan dan berperan penting dalam pembentukan karakter anak, karena anak pertama kali mendapat pendidikan dari keluarga khususnya orang tua, namun mengingat tidak semua anak berkesempatan memiliki orang tua maka pengasuh mempunyai peranan yang sangat penting. dalam menerapkan pendidikan karakter di panti asuhan, tempat berkumpulnya anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan perhatian dan pendidikan seperti anak-anak lainnya.

Pendekatan dan jenis penelitian

Lokasi Penelitian

Subyek Penelitian

Misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dialah yang berwenang, sehingga akan memudahkan peneliti dalam mendalami objek/situasi yang diteliti. 34.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam observasi ini peneliti terlibat dalam aktivitas sehari-hari terhadap objek yang diamati atau dijadikan sumber data penelitian. Ditinjau dari proses pelaksanaan pengumpulan datanya, observasi dibedakan menjadi observasi partisipan (observasi partisipan) dan observasi non partisipan. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data ketika peneliti ingin melakukan penyelidikan pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang perlu diselidiki, namun juga ketika peneliti ingin mengetahui permasalahan yang dimiliki responden secara lebih mendalam dan jumlah responden yang lebih sedikit. 37.

Wawancara ini digunakan peneliti jika peneliti mengetahui secara pasti mengenai informasi yang ingin diperoleh. Dalam melakukan wawancara ini peneliti menggunakan alat-alat seperti tape recorder, gambar, brosur dan bahan-bahan lain yang dapat memudahkan proses wawancara.38. Wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data.

Kedua teknik wawancara di atas digunakan untuk mengetahui secara mendalam berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Dokumentasi

Analisis data

Menurut Miles dan Huberman, reduksi data diartikan sebagai proses seleksi, dengan fokus pada penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Penyajian data mewakili kumpulan informasi terstruktur yang memberikan kemampuan untuk menerima data dan mengambil tindakan. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat berupa uraian singkat, grafik, hubungan antar kategori, diagram alur, dan sejenisnya.

Milesn dan Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Metode Baru (Jakarta: UI Press, 2007), 16. Namun jika kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten ketika peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan adalah kesimpulan yang kredibel. 42 Kesimpulan yang kredibel adalah jawaban atas rumusan masalah atau pertanyaan peneliti. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan-temuan baru yang sebenarnya belum pernah ada, temuan berupa gambaran atau gambaran suatu objek yang sebelumnya tidak jelas, sehingga setelah dilakukan penelitian menjadi jelas.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin bisa menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, namun bisa juga tidak, karena permasalahan dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif hanya bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada di lapangan.43.

Keabsahan data

Triangulasi sumber adalah perbandingan dan pengecekan silang derajat keandalan informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat. Derajat keandalan seorang informan yang diperoleh dengan informasi yang berasal dari sumber lain 44 Informan tersebut adalah pengasuh, pengurus, dan anak asuh.

Tahap-tahap penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu meminta izin kepada pihak kampus dengan meminta surat pengantar kepada ketua program. Setelah semuanya siap, peneliti mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk penelitian sebelum terjun ke lapangan, dimulai dengan menyiapkan buku catatan, merakit instrumen dan wawancara, serta mendokumentasikan. Setelah persiapan dianggap selesai maka tahap selanjutnya adalah melakukan penelitian, pada tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan berbagai metode antara lain observasi, wawancara dan dokumentasi.

Setelah semua data terkumpul, menganalisis seluruh data kemudian menguraikannya dalam bentuk laporan dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

Gambaran obyek Penelitian

  • Sejarah Berdirinya LKSA Putri Muhammadiyah
  • PROFIL
  • Daftar Pegawai di LKSA Putri Muhammadiyah Tabel 3.1
  • Peraturan di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang
  • Sarana Prasarana a. Gedung Asrama
  • Pelayanan yang diperoleh anak asuh melalui Pembinaan a. Pembinaan spiritual
  • Kondisi Anak Yatim di LKSA Putri Muhammadiyah
  • Perkembangan Aktivitas

Namun lambat laun pihak panti asuhan merasa bahwa tidak hanya anak yatim piatu, anak-anak yang masih memiliki orang tua namun kurang mampu, serta anak-anak terlantar yang terancam putus sekolah, juga menjadi perhatian di panti asuhan ini. Tidak hanya anak-anak yang tinggal di asrama, panti asuhan juga memiliki anak-anak non-panti asuhan yang mendapat santunan setiap bulannya. Demikian sekilas tentang sejarah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Perempuan Muhammadiyah Lumajang seperti dikutip dari beberapa eks warga atau mantan pengurus panti asuhan.46.

50 LKSA Putri Tata Usaha Muhammadiyah, Dokumentasi. pendidikan sekolah formal dan pendidikan di lingkungan panti asuhan. Pihak panti baik pengurus maupun wali tidak meminta anak yatim untuk berbuat apa-apa, anak hanya diharapkan menjaga dengan baik semua tempat yang ada, giat belajar dan mengikuti tata tertib panti. Kegiatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Perempuan dan Anak Muhammadiyah Lumajang adalah menyantuni anak yatim piatu, yatim piatu dan anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Di panti asuhan ini pengasuhan dilakukan dengan cara menangani panti asuhan dan sistem non panti asuhan dengan pembangunan asrama yang terus berkembang hingga saat ini.

Tabel 4.1  No.  HARI/
Tabel 4.1 No. HARI/

Penyajian Data dan Analisis

Selain karakter religius, panti asuhan ini juga membentuk anak untuk memiliki karakter disiplin dalam segala hal, karena kedisiplinan sangat diperlukan agar anak dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Kita selalu mengajarkan anak untuk disiplin, baik itu disiplin terhadap Allah dengan menjalankan perintah Allah maupun disiplin dengan manusia yaitu dengan menjalankan tugas di rumah anak. Cara kita mengajarkan disiplin adalah dengan mengajarkan anak untuk selalu tepat waktu dalam segala hal.

Oleh karena itu, di sini anak-anak dibentuk untuk memiliki rasa percaya diri dan tidak putus asa. Oleh karena itu anak-anak di Panti Asuhan ini diajarkan sikap mandiri sejak dini, segala kegiatan harus mereka persiapkan sendiri. Agar anak-anak siap menjalani kehidupan setelah lulus dari panti asuhan dan dapat menciptakan karya sendiri.

Anak-anak yang baru datang ke sini kebanyakan masih memiliki sifat manja karena merupakan warisan dari rumahnya masing-masing.

Pembahasan Temuan

Kendala yang kita temui dalam pembentukan karakter anak adalah karakter anak itu sendiri, karena latar belakang anak berbeda-beda dan sebagian besar berasal dari keluarga Broken Home yang menjadikan anak kurang berpendidikan, atau dari pergaulannya sebelum masuk ke panti asuhan. kurang terkontrol sehingga anak mempunyai karakter bawaan yang kurang baik sehingga sulit diatur sehingga pembentukan karakter mengalami kendala. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh data mengenai peran wali dalam pembentukan karakter religius anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dengan melakukan beberapa wawancara dengan pihak terkait, peneliti menemukan bahwa wali sebagai orang tua pengganti mempunyai tanggung jawab dalam mendidik anak dan membentuk anak mempunyai karakter yang baik.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh data mengenai peran wali dalam pembentukan karakter disiplin anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang. Untuk dapat membentuk karakter yang baik, kegiatan harus dilakukan secara konsisten dan disiplin. Oleh karena itu, peran wali dalam pembentukan karakter disiplin diawali dengan mengajarkan anak shalat berjamaah tepat waktu.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh informasi mengenai peran pengasuh dalam membentuk karakter percaya diri anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang.

PENUTUP

Kesimpulan

Peran pengasuh panti asuhan dalam membentuk karakter mandiri anak yatim piatu di LKSA Putri Muhammadiyah Lumajang adalah dengan melatih anak agar tidak mudah bergantung pada orang lain dengan mempersiapkan segala kebutuhannya sendiri dan memberikan keterampilan kepada anak agar bekerja dapat berkreasi untuk meningkatkan perekonomian keluarga. . .

Saran

DAFTAR PUSTAKA

Pedoman wawancara untuk Ustadz dan Ustadzah

Pedoman wawancara untuk anak asuh

DOKUMENTASI

Referensi

Dokumen terkait