Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui peran spiritualis dalam meningkatkan karakter religius siswa di SMAN 1 Nguntoronadi. 2) Menggali faktor pemungkin dan penghambat pembentukan karakter siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler Rohis di SMAN 1 Nguntoronadi. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Adapun faktor pendukung dalam meningkatkan karakter religius siswa di SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri yaitu: kelengkapan sarana dan prasarana, dukungan dari berbagai pihak seperti guru dan pembimbing, serta semangat siswa untuk mengikuti organisasi Rohis hingga tutup.
Rumusan Masalah
Wonogiri. Tentu saja kehadiran Rohis akan banyak menambah keyakinan Islam dan kemampuan dalam menerapkan sikap keagamaannya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis ingin melakukan penelitian untuk melihat dan mengetahui lebih jauh tentang “Peran Rohis. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pembentukan karakter siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler Rohis di SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bagi siswa sebagai bahan pembelajaran bagi dirinya untuk menambah pengetahuannya tentang pendidikan Islam dan mempersiapkan siswa yang berakhlak mulia. Digunakan sebagai bahan informasi bagi peneliti dan menambah wawasan tentang kegiatan organisasi Rohis serta dapat mengetahui akhlak mulia mahasiswa muslim melalui organisasi Rohis.
Telaah Pustaka
Perbedaan penelitian terdahulu dengan peneliti adalah penelitian terdahulu bertujuan untuk mempelajari peran Rohis dalam membesarkan dan membentuk nilai-nilai moral santri, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran Rohi dalam meningkatkan karakter religius santri. . . 13 Suhada, “Efektivitas Program Ekstrakurikuler Kerohanian Islam Dalam Penanaman Nilai-Nilai Karakter Religius Pada Siswa SMA Negeri 1 Sambas,” Tarbiya Islamica 3 (2015).
Metode penelitian
Data sekunder merupakan data yang telah tersedia dan dapat diperoleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau mendengarkan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut digunakan untuk memperoleh data primer dan sekunder.
Sistematika Pembahasan
Tidak menutup kemungkinan data yang diperoleh peneliti bersifat bias, subjektif atau bahkan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Untuk itu, berdasarkan tahapan analisis data yang telah peneliti cantumkan sebelumnya, maka proses analisis keabsahan data dilakukan setelah peneliti memperoleh data dan sebelum peneliti menafsirkan dan menyajikan data. Ide dasar dari triangulasi data adalah semakin banyak sumber data yang memuat dan dapat menegaskan kebenaran suatu permasalahan, maka semakin valid peneliti dalam menafsirkan data yang diperoleh.24 Triangulasi digunakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bias data. dari sumber data yang peneliti peroleh.25.
BAB III TEMUAN PENELITIAN, Bab ini berisi tentang temuan data secara umum dan khusus
KAJIAN TEORI
KerohanianIslam(ROHIS)
- Dakwah Umum adalah proses penyebaran Fikrah Islamiyah dalam rangka menarik simpati, dan meraih dukungan dari lingkungan
Islam, karena jam mengajar di 31 sekolah sangat terbatas, maka Rohis dijadikan wadah pendalaman agama Islam.28. Fungsi Rohis adalah wadah yang mengajarkan, mendakwahkan dan berbagi ilmu keislaman.Struktur Rohis seperti IPM dimana ada Ketua, Wakil, Bendahara, Sekretaris dan Lingkungan yang bertugas di bagiannya masing-masing. 28MS Rohman, Moch Yasyakur dan Wartono, “Peranan Ekstrakurikuler Kerohanian Islam Dalam Mengembangkan Sikap Keagamaan Siswa, Di SMK Negeri 1 Dramaga Bogor Kegiatan dan Kegiatan Outdoor. 29
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Kegiatan Ekstrakurikuler Rohani Islam (ROHIS) adalah untuk memperluas dan memperdalam ilmu keislaman serta membentuk kepribadian peserta didik menjadi lebih Islami dan berakhlak mulia. Membimbing dan mengembangkan potensi dan bakat peserta didik agar menjadi manusia yang kreatif dan sibuk. Memberikan bimbingan dan pengarahan serta melatih peserta didik agar sehat jasmani, bugar, kuat, luwes dan terampil.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi ekstrakurikuler Islam Rohani (ROHIS) adalah untuk meningkatkan pemahaman agama dan memperdalam ilmu agama agar siswa dapat berperilaku sesuai dengan norma agama dan selalu menerapkan moralitas Islam dalam kehidupan sehari-hari, dapat mengembangkan potensi diri dan bakat siswa menjadi manusia yang terampil, kreatif dan selalu kreatif. Dapat melatih siswa berkomunikasi, bekerja sama dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.
Pembentukan Karakter
Menurut Thomas Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knowledge), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior).40 Berdasarkan ketiga komponen tersebut dapat dikatakan bahwa karakter yang baik ditopang oleh pengetahuan tentang kebaikan dan keinginan. Sebagai penyempurnaannya, penanaman karakter diharapkan dapat meningkatkan peserta didik menjadi manusia yang lebih bermartabat dalam berbagai hal. Sebagai filter, dengan menumbuhkan karakter peserta didik, mereka dapat memilah budaya mana yang pantas dan mana yang sebaiknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.42.
Karakter yang dimaksud dalam penelitian ini adalah karakter remaja yang saat ini penting untuk mendapat perhatian khusus karena karakter remaja dipengaruhi oleh lingkungan teman sebayanya. Karakter religius ini merupakan karakter yang mewujudkan keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam pelaksanaan ajaran agama yang dianutnya.44. Seseorang yang memiliki nilai-nilai agama yang baik dalam dirinya akan lebih berhati-hati dalam berperilaku karena nilai-nilai agama yang dipelajari, diamalkan, diyakini dan dijalani dapat menjadi pengecekan agar ia tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai. dengan ajaran agama.
Agama dapat menjadi penstabil dalam berperilaku, agar seseorang tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain serta tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat sekitar.
Karakter Religius
- Rohis SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri
- Sejarah Singkat Rohis SMA 1 Nguntoronadi Wonogiri
- Visi dan misi FORSAIS
- Fungsi dan tujuan FORSAIS
- Kegiatan FORSAIS
- Struktur Kepengurusan Rohis SMA 1 Nguntoronadi Wonogiri Gambar 4.1
Dimensi pengetahuan adalah sejauh mana seseorang mengetahui tentang ajaran agama yang bersumber dari kitab suci, misalnya dalam Islam yaitu mengetahui ajaran Islam dari Al-Quran dan hadis. Membaca ayat suci Alquran, seminggu sekali pada hari Rabu 30 menit setelah bel berbunyi, melaksanakan sholat ashar berjamaah setiap hari, melaksanakan sholat jumat di Masjid Al-Ikhlas SMA Negeri 1 Nguntoronadi. khusus santri laki-laki), kajian Islam khusus anggota FORSAIS, dan pengumpulan infak dan uang ta'ziyah. Serta mendengarkan kajian yang berisi hikmah Aqidah, Akhlak, Cerita, Fiqh atau Tafsir Al-Qur'an.
Anggota FORSAIS dapat membaca Al-Quran dengan baik dan benar serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar anggota FORSAIS terbiasa dengan Al-Qur'an, belajar mencintai dan memahami isi Al-Qur'an diawali dengan tajwid sederhana. Dan anggota dapat menjadi teladan bagi santri yang belum pernah membaca Al-Quran.
Anggota FORSA dapat menghafal Al-Qur'an dengan mudah, dan belajar melafalkan Al-Qur'an dengan indah sehingga orang lain yang mendengarnya termotivasi.
Deskripsi data khusus
- Peran rohis dalam meningkatkan karakter religius siswa SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri
- Faktor pendukung dan penghambat dalam membentuk karakter siswa melalui kegiatan Rohis di SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri
Proses peningkatan karakter religius siswa melalui kegiatan spiritual di SMA Negeri 1 Nguntoronadi adalah: Dari pembiasaan tersebut akan muncul kepribadian atau karakter yang baik sebagai terbentuknya karakter religius siswa.62. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan narasumber menyatakan bahwa peran organisasi luar sekolah Rohis sangat berpengaruh dalam meningkatkan karakter religius siswa di SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri. Berdasarkan hasil wawancara disimpulkan bahwa peran kegiatan ekstrakurikuler Rohis dalam meningkatkan karakter religius siswa dilakukan dengan kegiatan ROHIS yang tercipta, sehingga menjadi program kerja yang bermanfaat bagi pembentukan sikap religius siswa, yaitu dengan menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam setiap aktivitasnya.
Dari wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa narasumber di atas, terlihat bahwa faktor pendukung terbentuknya karakter religius siswa melalui kegiatan spiritual tidak hanya dukungan dari pihak sekolah saja, namun juga dari para guru dan guru. orang tua dan semangat siswa yang bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan positif untuk membentuk karakter religius siswa. Faktor internal yang menghambat terbentuknya karakter religius siswa adalah karakter siswa yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Pelatih Rohis menggalakkan kegiatan untuk membentuk karakter religius siswa, salah satu contohnya adalah dengan memberikan bekal agar siswa tidak hanya menunaikan shalat wajib namun juga menunaikan shalat sunnah.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan narasumber dijelaskan bahwa faktor penghambat pengembangan karakter religius siswa melalui kegiatan rohani adalah faktor internal antara lain karakter setiap siswa yang berbeda-beda, kurangnya aktivitas siswa. , sehingga ketika kegiatan tidak memenuhi tujuan dan faktor eksternal antara lain jadwal yang tidak pasti dan waktu yang terbatas.
PEMBAHASAN
Peran rohis dalam meningkatkan karakter religius siswa SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri
Hasil analisis peneliti dalam hal ini menyatakan bahwa ekstrakurikuler Rohis berperan dalam meningkatkan karakter religius siswa di SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri. 73 Hambali dan Eva Yulianti, “Ekstrakurikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa di Kota Majapahit,” Jurnal Pedagogi 5 (2018). 74Hambali dan Eva Yulianti, “Ekstrakurikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Di Kota Majapahit,” Jurnal Pedagogi 5 (2018).
75Hambali dan Eva Yulianti, “Ekstrakurikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa di Kota Majapahit,” Jurnal Pedagogi 5 (2018). 76Hambali dan Eva Yulianti, “Ekstrakurikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa di Kota Majapahit,” Jurnal Pedagogi 5 (2018). 77Hambali dan Eva Yulianti, “Ekstrakurikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Di Kota Majapahit,” Jurnal Pedagogi 5 (2018).
78 Hambali dan Eva Yulianti, “Ekstrakurikuler Keagamaan Tentang Pembentukan Karakter Religius Siswa Di Kota Majapahit”, Jurnal Pedagogi 5 (2018).
Faktor pendukung dan penghambat dalam membentuk karakter siswa melalui kegiatan Rohis di SMAN 1 Nguntoronadi Wonogiri
Hasil analisis penelitian menyimpulkan bahwa Rohis berperan dalam meningkatkan karakter religius siswa di SMA 1 Nguntoronadi Wonogiri. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas yang ada di organisasi Rohis jika dianalisis dengan menggunakan teori Glock dan Stark, yang termasuk dalam 3 dimensi teori ini yaitu pengamalan keagamaan, pengaruh keagamaan dan pengetahuan agama, dimana ketiga dimensi tersebut merupakan aspek dari upaya pembentukan karakter keagamaan seseorang. Faktor pendukung internal dalam meningkatkan karakter religius siswa di SMAN 1 Nguntoronadi adalah kelengkapan sarana dan prasarana berupa masjid, LCD/proyektor, ruang kelas, dengan adanya sarana prasarana seperti pengembangan sikap keagamaan melalui ekstrakurikuler Rohis, akan lebih mudah dalam mengkondisikan mereka. Selain itu adanya dukungan dari pihak sekolah, semakin banyaknya guru pembimbing menambah semangat siswa untuk mengikuti program-program organisasi Rohis. Selain faktor pendukung yang membantu membentuk karakter religius siswa, terdapat beberapa faktor penghambat yang tidak banyak berpengaruh bahkan menghambat terjadinya sesuatu yang lebih dari sebelumnya.80 Faktor penghambat juga terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal yang menghambat pembentukan karakter religius siswa adalah karakter siswa yang memiliki latar belakang berbeda-beda, seperti kesadaran diri, konflik yang ditimbulkan pada anak. Kurangnya aktivitas siswa juga menjadi faktor penghambat internal dalam mengembangkan karakter religius siswa karena sebagian siswa beranggapan masih banyak kegiatan yang harus dilakukan sedangkan sebagian lainnya tidak boleh dilakukan sehingga membuat siswa memilih untuk tidak ikut serta. dalam kegiatan ini jika tidak diperlukan. Berbagai kegiatan yang dilakukan mampu membentuk dan meningkatkan karakter religius peserta didik, yaitu mendekatkan diri pada Al-Quran, disiplin, peduli sesama dan peduli lingkungan.
Sedangkan faktor penghambat proses peningkatan karakter religius siswa adalah faktor internal antara lain karakter siswa yang berbeda latar belakang, kurangnya aktivitas siswa, jadwal yang tidak menentu, dan waktu yang terbatas.
SARAN
“Pengaruh Ekstrakurikuler Kerohanian Islam (Rohis) Terhadap Akhlak Siswa SMK Negeri 29 (STM Penerbangan) Jakarta.” Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, 2018. Kontribusi Rohis dalam meningkatkan karakter religius siswa MAN 1 Magetan Tahun Pelajaran, IAIN Ponorogo, 2021. Implementasi program Rohis dalam pembentukan akhlak siswa di MAN 1 Tangerang Selatan.” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2020.
“Penetapan Nilai Karakter Religius dalam Perspektif Pendidikan Islam di Lingkungan Sekolah RA Hidayatus Shibyan Temulus.” Jurnal Zaman Keemasan 5 (2021). Upaya Ekstrakurikuler Kerohanian Islam (Rohis) Untuk Meningkatkan Sikap Keagamaan Siswa di SMK Ibnu Taimiyah Pekanbaru." Jurnal AlThariqah 2 (2017). Peran Ekstrakurikuler Kerohanian Islam Dalam Pengembangan Sikap Keagamaan Siswa di SMK Negeri 1 Dramaga Bogor."