MAKALAH
PERAN SENI TERHADAP PERKEMBANGAN PEMAHAMAN ISLAM
Disusun Oleh Faizal Ramadan Harahap
2010786015 Dosen Pengampu
MUCHAMMAD MACHFUDS, M. Si FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN PROGRAM STUDI ETNOMUSIKOLOGI
INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah dan juga hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Peran seni terhadap perkembangan pemahaman islam”.
Saya ucapkan terimakasih kepada bapak selaku dosen pengampu mata kuliah Agama Islam yang sudah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah
pengetahuan baru di mata kuliah ini. Terimakasih juga untuk teman-teman yang sudah mendukung saya sehingga saya bisa menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Saya menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan saya. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Saya berharap makalah ini bermanfaat dan menambah wawasan untuk para pembaca, dan bermanfaat bagi yang memerlukan.
Sekura, 15 Desember 2020
Faizal Ramadan Harahap
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR...2 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang……….4 1.2 Rumusan Masalah………5 1.3 Tujuan ……….5 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Seni music dalam pandangan perkembangan islam………6 2.2 Unsur-unsur seni music………...9 BAB III
PENUTUP
Kesimpulan………..11
Daftar Pustaka………..12
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Lata Belakang
Kebudayaan tidak terlepas dari dinamika kehidupan saat ini dan masa lalu.
Islam adalah agama yang mencintai keindahan, jadi dalam Islam ada hubungan tertentu antara Islam dengan seni dan budaya. Islam adalah agama yang
berkembang, fleksibel dan mudah beradaptasi, serta agama yang menjunjung tinggi seni. Hampir di setiap penyebaran di dunia Islam, seni selalu dianggap sebagai cara dakwah yang paling tepat. Karena masyarakat akan lebih mudah memahami nilai yang dibawa Islam melalui seni tanpa kekerasan dan paksaan.
Jenis budayanya berbeda di setiap daerah. Namun, kini seluruh budaya Islam telah mengalami perkembangan yang sangat penting dan terus berkembang.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan budaya Islam adalah
perkembangan konsep budaya Islam Upaya penyebaran Islam melalui budaya di Indonesia dibuktikan dengan besarnya peran Lagu Wali Jawa, salah satu cara yang digunakan adalah melalui seni. Hal ini menunjukkan bahwa Wang Songo lebih mengutamakan jalan yang menarik dan penuh perpajakan yang baik, daripada jalan yang normatif dan tekstual.
1.2 Rumusan Masalah
a) Bagaimana pandangan islam terhadap seni musik? b) Bagaimana unsur- unsur seni musik?
1.3 Tujuan
a) Untuk mengetahui peran seni terhadap perkembangan pemahaman islam b) Untuk mengetahui karakeristik lain dalam bentuk seni Islam
BAB II PEMBAHASAN
2.1 SENI MUSIK DALAM PANDANGAN PERKEMBANGAN ISLAM Dalam bahasa Yunani, musik tidak sekedar seni, tetapi memiliki cakupan yang sangat luas, seperti pendidikan, ilmu, tingkah laku yang baik, bahkan dipercaya sebagai seuatu yang memiliki dimensi ritual, magis dan etis. Hal inilah barangkali yang menjadi alasan al Mubarrak dalam Muhaya (2003: 17) menulis at-Tashawwuf al-Islam fi al-Adab wa al-Akhlaq menggunakan istilah al-Musiq wa al-Ghina ketika membahas al-Sama dalam Tasawuf. Buku lain adalah Bawariq al-Ilma fi al-Rad ‘ala Man Yucharrim bi al-Ijma’ (kilauan cahaya yang sangat terang dalam menolak orang- orang yang mengharamkan al-Sama melalui ij ma) yang ditulis oleh Ahmad alGhazali adik Imam Muhammad al-Ghazali. Dalam bukunya Ahmad alGhazali membantah pendapat yang mengharamkan musik. Buku tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mengharamkan musik, supaya mereka dapat mengubah sikap dan pandangannya yang tadinya mengharamkan musik menjadi simpati dan mengamalkannya karena cahaya ilahi. Hal tersebut disebabkan karena kata bawariq adalah bentuk jamak dari barqun yang berarti “sesuatu yang mula-mula muncul bagi seorang hamba dari berbagai kilauan cahaya ilahi”. Dengan serta merta seorang hamba tersebut tertarik untuk masuk kedalam kedekatan Tuhan untuk mengadakan perjalanan ke hadhirat Allah SWT. Menurut Muhaya (2003:18) bahwa kata “al-ma” berarti cahaya yang sangat terang yang menyinari para sufi pemula dan sinar tersebut tidak hanya berkesan pada imajinasi saja, tetapi menambah juga pada indera bersama sehingga sufi tersebut dapat ber-musyahadah melalui indera lahir. Dengan demikian, maksud dari “bawariq alma” adalah imunisasi cahaya Allah SWT.
Secara tekstual (nash) terdapat. satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya, yaitu alat musik berupa rebana (ad-duff atau al-ghirbal) berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebagai berikut:
ِ س نو ي ْ بْن َ عِ سي حَدَثَن َى قَ لا َا عَمْر َ بْ و ن وَ لاْخَلِ لي جَهْضَمِي لا عَلِي ْ بْن نَصْر حَدَثَنَا نلا َبِي َى عَن ِ عَ ئا ِشَة ْ عَن َ لاْقَ سا ِم ْ عَن ِ رلا َحْمَن ْ ِ ع َبْد أَب ِ بْن ِي رَبِ عي َة ِ عَن َ ِلْيَسا ْ بْن َ خَ لاِد ِ عَن لاْغِرْبَ لا عَلَيْه ِ وَ ضا ْرِ و ب ِ كَ ا حا نلا َ هَذ ِ أَعْلِ و ن َا قَ ا لا وَسَلَم َ عَلَيْه َ َللا ِ صَل َِ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami dan Al Khalil bin Amru keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Khalid bin Ilyas dari Rabi'ah bin Abu 'Abdurrahman dari Al Qasim dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Umumkanlah pernikahan ini, dan tabuhlah rebana." (HR. Ibnu Majah, Hadits No. 1885)
Selain alat musik berupa rebana, seperti gitar, piano, drum, gamelan dan sebagainya, ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya. Pendapat ulama tentang alat musik rebana itu terbelah menjadi dua kelompok, yakni ada sebagian ulama yang mengharamkan dan ada sebagian pula yang membolehkannya. Bagi kelompok hadits yang mengharamkan alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya menurut Syaikh al-Albani adalah dha’if. Menurut al-Albani dalam kitabnya Dha’if al-Adab alMufrad menyetujui pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi’. Sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hazm (dalam al-Baghdadi, 1991):“Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memainkan alat musik jenis apapun hukum dasarnya adalah mubah(dibolehkan). Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah.
Selanjutnya mengenai hukum mendengarkan musik, Islam memandang bahwa mendengarkan musik hukumnya adalah mubah, baik itu berupa musik yang dikombinasikan dengan nyanyian (vokal), mendengar secara langsung melalui
pertunjukan atau konser sepanjang tidak ada unsur kemaksiatan dan kemunkaran yang terkandung di dalamnya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya adalah haram. Akan tetapi jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah.
2.1 UNSUR-UNSUR SENI MUSIK
Dalam menjelaskan unsur-unsur pokok yang terdapat dalam musik, para ahli berbeda dalam memberikan penjelasan. Ikhwan al-Safa misalnya menyatakan bahwa musik adalah suara yang mengandung lagu (lahn), nada (naghm) dan cengkok (iqa’at). Lain halnya dengan Ikhwan al-Safa, al-Farabi menjelaskan bahwa musik adalah lagu (alalhan), yaitu kumpulan ritme yang disusun dengan urutan dan ketentuan tertentu. Oleh karena itu, lagu dan ritme merupakan sumber utama bagi musik (Muhaya, 2003: 28).
Secara ontologis, musik merupakan perpaduan antara unsur material dengan immaterial, ia tersusun dari elemen-elemen yang bersifat jasmaniah dan rohaniah.
Oleh karena itu, musik mempunyai kekuatan untuk menspiritualkan hal yang materi dan sebaliknya mematerialkan yang spiritual. Adapun esensi musik itu berupa substansi rohaniah, yaitu jiwa pendengar.
Dalam tradisi keagamaan sering dibedakan antara musik vokal (suara manusia) dan musik yang dihasilkan oleh instrumen. Biasanya musik jenis pertama lebih tinggi nilainya dari pada yang kedua. Keutamaan musik vokal disebabkan oleh kemampuan kapasitasnya dalam berkomunikasi dengan makna (pesan). Menurut al- Farabi, dilihat dari fungsinya, musik yang digunakan oleh pendengarnya, pertama, sebagai alat untuk menghibur diri. Ini adalah fenomena yang sering kita jumpai. Ke dua, musik yang bertujuan untuk terjadinya suatu aksi dan reaksi. (perbuatan
tertentu). Ketiga, musik yang membangunkan atau membangkitkan imajinasi. Ketiga jenis musik itu terangkum dan termuat dalam suara manusia. Di samping alasan di atas, keutamaan musik vokal juga disebabkan sumber musik. Pengikut pendapat ini berkeyakinan bahwa musik vokal lebih mulia dari pada musik instrumental karena keutamaan sumbernya. Musik vokal bersumber dari manusia, sedang musik instrumental bersumber dari benda. Karena manusia lebih mulia dari pada benda, musik vokal pun lebih mulia. Disamping itu sumber musik vokal diciptakan oleh Tuhan, sedangkan instrumen diciptakan oleh manusia.
Apresiasi terhadap musik vokal, secara historis, sudah ada sejak pra-Islam baik di kalangan bangsa Arab maupun bangsabangsa lain. Posisi tersebut tidak bergeser pada masa Islam. Hal itu dapat kita lihat pada sikap Nabi Muhammad SAW penyampai risalah keislaman. Nabi Muhammad SAW membiarkan kehadiran
penyanyi di hadapan isterinya. Nabi pun pernah meminta salah seorang sahabat untuk melantunkan khuda dikala beliau sedang naik unta (Muhaya, 2003: 31) Machlis dalam Muhaya (2003:28) lebih detail menjelaskan unsur-unsur penting yang ada dalam seni musik. Menurutnya, musik mempunyai lima materi pokok yaitu: pertama, Musical line, yakni lagu, atau pergantian nada-nada yang dirasakan oleh akal sebagai sesuatu yang ada “entity”, lagu yang ada dalam musik disebut seagai roh nya musik.
Kedua, musical space, adalah harmoni. Menurut Phytagoras, harmoni ini terletak pada nada-nada yang serasi dan sebanding dengan panjang dawai dalam bentuk bilangan yang sederhana, seperti “oktav” adalah 2:1, fift h adalah 3:2, atau fourth adalah 4:3. Hubungan ini disebut armonia yang kemudian menjadi istilah harmoni.
Ketiga, musical times, yaitu ritme yang terdiri dari ketentuan perpindahan musik dalam waktu. Ritme merupakan suatu aturan dalam pengorganisasian dan
pembentukan lagu, serta berfungsi mengontrol jarak antara nada satu dengan nada berikutnya. Ritme ini diulang-ulang dapat memengaruhi pendengarnya. Keempat, musical face, yaitu tempo. Tempo adalah ketentuan dari kecepatan sebuah musik.
Tempo mempunyai implikasi emosional. Kelima, musical color, yaitu timbre. Nada yang sama akan menghasilkan suara yang berbeda ketika nada tersebut disuarakan melalui terompet atau biola. Perbedaan ini terletak pada sifat warna nada yang dimiliki oleh setiap instrumen. Timbre ini berfungsi untuk memfokuskan impresi musik yang kita alami. Warna nada ini mengarahkan imajinasi gaya suara kepada karakter khusus yang dimiliki.
BAB III
PENUTUP 3.1 KESIMPULAN
Seni dan musik keduanya mengandung nilai estetik sebagai buah dari kreativitas manusia yang pada akhirnya merupakan bagian dari kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karya dan karsa umat manusia. Dalam Islam, nyayian ada yang diharamkan dan ada pula yang dihalalkan.Sebuah nyanyian dinyatakan haram apabila di dalam nyanyian itu terkandung unsur-unsur kemaksiatan atau kemunkaran, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, atau dalam bentuk sarana, misalnya dalam praktek nyanyian itu disertai dengan minuman-minuman keras, zina, penampakan aurat, adanya campur baur pria-wanita, atau pesan-pesan dalam syairnya bertentangan dengan syara’, misalnya mempropagandakan ajakan berpacaran, mendorong
pergaulan bebas, mempropagandakan sekulerisme, liberalisme dan sebagainya.
Sementara itu, nyanyian dihalalkan adalah nyanyian yang mengandung kriteria bersih dari unsur-unsur kemaksiatan atau kemunkaran, misalnya syair-syair yang
mengandung pujian atas sifat-sifat Allah SWT, memotivasi untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW, mengajak bertaubat kembali ke jalan Allah SWT dari perbuatan- perbuatan maksiat, mendorong orang untuk menuntut ilmu, menceritakan keagungan Allah dalam penciptaan alam semesta, dan sebagainya.
Berkaitan dengan mendengarkan musik, Islam memandang hukumnya adalah mubah, baik itu berupa musik yang dikombinasikan dengan nyanyian (vokal),
mendengar secara langsung melalui pertunjukan atau konser sepanjang tidak ada unsur kemaksiatan dan kemunkaran yang terkandung di dalamnya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya adalah haram. Akan tetapi jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah atau dibolehkan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.kompasiana.com/mahanivesa/5528f8b2f17e61e0258b45ee/seni-musik- dalam-pandanganislam
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/6/jtptiain-gdl-s1-2004-pujiastuti-286- BAB+II+1-2.pdf