• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN UII DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Annissa Nisrinna

Academic year: 2023

Membagikan "PERAN UII DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Materi :

PERAN UII DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

Berdasarkan SK Rektor UII Nomor: 39/B.IV/Rek/1990 pada tanggal 20 Juni 1990, maka dibentuklah unit penunjang akademik yang memberikan manfaat pelayanan baik internal maupun eksternal, yang dinamakan dengan Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPM).

Kemudian pada tanggal 8 Maret 1979 di ubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M). Kemudian pada tanggal 8 Maret 1979 di ubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M). kemudian tanggal 16 Juni 1982 di ubah lagi menjadi Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Selanjutnya agar tercipta optimalisasi kerja, maka LPPM yang mempunyai tugas ganda yaitu penelitian dan pengabdian ini, pada tanggal 20 Juni 1990 di pisah menjadi dua lembaga yaitu Lembaga Penelitian (LP) dan Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPM) sampai sekarang.

Tujuan Lahirnya Universitas Islam Indonesia

Dilihat dari perjalanan sejarah umat Islam sejak timbulnya gerakan Salaf dan kebangkitan nasional di Indonesia keputusan Masyumi untuk mendirikan STI itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal:

 Kemerdekaan Negara Indonesia kelak pasti meminta pengisian intelektual Islam, calon-calon pemimpin yang sanggup memimpin dan mengurus negara, menggantikan pemerintah kolonial penerus generasi yang akan datang.

 Diperlukan satu perguruan tinggi yang dapat meng-himpun keserasian antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum, keseimbangan hidup duniawi dan ukhrawi.

 LPM adalah unsur pelaksana akademik yang mempunyai tugas melaksanakan, mengkoordinasikan, memantau dan menilai pelaksanaan pengabdian pada masyarakat serta ikut mengusahakan sumber daya yang diperlukan.

 LPM UII, dalam melaksanakan tugasnya, dibantu oleh pusat kuliah kerja nyata dan pusat pelatihan dan pengembangan masyarakat serta bagian administrasi umum

 LPM mendasar kegiatannya untuk mencapai tujuan antara lain: mengamalkan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial dan budaya demi pemberdayaan, kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Perpektif Ringkas Pencarian Ulang UII WAY Kelahiran UII Way: STI Berdiri

o Sejatinya UII Way sudah ada sejak Universitas Islam Indonesia (UII) berdiri,

o Idealnya nilai dan tujuan inti serta tafsir operasionalnya sudah tersedia dalam rumusan tertulis yang sistematis. Berbekal prinsip kenabian dan keikhlasan (ibadah)

(2)

o Usaha sistematis untuk menemukan kembali UII Way, dengan mengenali secara intens dan dalam perjalanan sejarahnya

Perspektif Pencarian Ulang UII Way

o Layaknya sebuah negara, dasar negara umumnya lahir bersama kelahiran negara itu.

o Tafsir dasar negara tidak mungkin dapat dipahami tanpa memahami pokok-pokok pikiran para pendiri negara tersebut dan secara bersamaan dengan seksama memperhatikan konteks ekonomi politik yang berlaku ketika negara itu menjelang berdiri dan saat berdiri.

Perspektif itu setidaknya membawa 3 akibat yaitu:

- Jika hendak merumuskan UII Way maka harus dikenali dengan dalam tentang ideologi para pendiri, termasuk latar belakang perjuangan sosial politik mereka.

- Perlu kajian yang mendalam tentang rapat dan peristiwa yang terjadi pada masa persiapan pendirian dan saat pendirian.

- Perhatian juga perlu ditujukan untuk memahami berjalannya organisasi pada masa awal

Hanya ada beberapa perguruan tinggi yang lahir mendahului UII dalam sejarah pendidikan tinggi Indonesia

1. perguruan tinggi yang didirikan oleh pemerintah Belanda seperti Technische Hoogeschool (1920), Recht Hoogeschool (1924), dan Pendidikan Tinggi Pertanian (1941).

2. perguruan tinggi yang didirikan oleh organisasi-organisasi Islam namun masih bersifat kedaerahan seperti Perguruan Tinggi Islam (PTI) Santi Ashrama, PTI Muhammadiyah, PTI di Solo, PTI di Padang, dsb.

Antusiasme itu muncul tidak lepas dari kenyataan bahwa:

Lembaga-lembaga pendidikan (Islam) yang ada sebelumnya lebih didominasi oleh semangat kedaerahan dan hanya memberikan pendidikan secara parsial terfragmentasi, dan Lembaga pendidikan Islam yang ada dan pada saat itu bisa bertahan hidup baru sebatas pendidikan menengah, sekalipun sebelumnya sudah dirintis pendidikan tinggi. Para pendiri (the founding father) STI memiliki keyakinan bahwa hanya dengan model pendidikan yang komprehensif (terpadu) pendidikan agama dan umum yang mampu menciptakan pemimpin yang bisa membawa Negara Indonesia sebagai negara yang diberkahi dan mendapat ampunan- baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

Nilai dalam sejarah panjang UII dalam penggalan-penggalan startegis:

(3)

- periode formatif dan ideologis- hendak menggali ajaran yang lahir sejak sebelum STI didirikan sampai berakhirnya masa kepemimpinan rektor pertama, Prof. Dr. K.H. Kahar Muzakir.

- masa transisi- mulai terjadi pergantian kepemimpinan UII dari rektor pertama ke beberapa rektor berikutnya sampai dengan rektor keempat, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) H.

Prabuningrat.

- era modern- pada masa ini UII sudah layak disebut sebagai universitas dan bisa mensejajarkan dirinya dengan perguruan tinggi lain baik pada tingkat nasional dan dalam batas tertentu yang amat terbatas mulai mengenal dunia global.

- Periode ini diawali dengan kepemimpinan Prof. Dr. Ace Partadiredja dan diakhiri oleh kepemimpinan Prof. Zaini Dahlan. Dengan berakhirnya kepemimpinan Prof. Zaini Dahlan, UII memasuki masa era kekinian.

periode transformasi.

- Pada masa ini anak-anak asuh UII di satu sisi mulai memimpin UII dan disisi yang lain UII mulai berkenalan dengan perkembangan peradaban dunia yang amat akseleratif.

- Inovasi dan kritis silih berganti bermunculan dan nilai-nilai lama dunia terguncang karenanya.

Setelah Sarikat Islam (SI), organisasi massa Islam yang relatif dapat dikatakan sebagai tempat bersatunya umat Islam adalah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang berdiri pada 15 Rajab 1356 atau 21 September 1937.

MIAI beranggotakan 7 ormas Islam: Parta Syarikat Islam Indonesia, Muhammadiyah, Al-Islam (Solo), Persyerikatan Ulama (Majalengka), Al- Irsyad (Surabaya), Hidayatul Islamiyah (Banyuwangi) dan Al-Khoiriyah (Surabaya). Keanggotaan MIAI terus bertambah, pada 1941 menjadi 20 Januari 1943, MIAI menerbitkan majalah dua mingguan “Soeara MIAI” diikuti dengan pendirian Baitul Mal.

2 gagasan lainnya – membangun masjid untuk tempat peribadatan dan mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) – tidak terlaksana sampai MIAI dibubarkan kembali September 1943. Kali ini diikuti dengan pembentukan Majelis Syuro’ Muslimin Indonesia (MASYUMI), sebagai pengganti Setelah dibubarkan Maret 1942, karena sisa-sisa ketangguhan yang dimiliki, MIAI lahir kembali September 1942

Secara formal Sekolah Tinggi Islam (STI) yang pada waktu itu disebut sebagai Sekolah Tinggi Djakarta (Djakarta Kaikyoo Daigaku) didirikan di Jakarta 27 Rajab 1364 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juli 1945 Masehi.

Gerakan yang lebih intensif mengubah pola pendidikan mulai terjadi setelah awal 1930an, sekalipun jauh sebelumnya sudah dimulai, misalnya dengan berdirinya Perguruan Santi Ashrama di Majalengka oleh Persatoean Oemat Islam (POI) 1917.

(4)

1936 dalam muktamar seperempat abad Muhammadiyah misalnya memutuskan mendirikan Sekolah Tinggi Islam, dengan mendirikan fakultas dagang dan industri. Nahdlatul Ulama juga memiliki keinginan yang sama. Di Sumtara Barat Mahmud Junus pada 1932 merencanakan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam di Batu Sangkar yang diikuti oleh perguruan yang sama di Padang. Di Jawa Tengah Dr. Sukiman pada 1938 melakukan upaya yang sama.

Harian Pandji Poestaka (20-3-1940) memberitakan rencana didirikannya Sekolah Tinggi Islam (Pesantren Loehoer) dengan lokasi pilihan di antara Sala atau Salatiga.

2 program pendukung berdirinya STI berhasil dikerjakan. MIAI terlebih dahulu mendirikan Perpustakaan Islam dan Balai Kebudayaan Islam (Darul Kutubil Islamiyah dan Darul Ababil Islamiyah) pertengahan Agustus 1943. (Pandji Poestaka, 10-10-1943).

Pada dasarnya panitia pendirian STI terdiri dari 3 unsur: Masyumi, Intelektual Muslim, dan Pemerintah Jepang (diwakili Kantor Pengajaran dan Shumubu)

Panitia Pendirian STI berhasil membuat keputusan keputusan strategis, antara Lain: Peraturan Umum, Peraturan Rumah Tangga, Badan Wakaf Pendiri STI, Badan Penyelenggara dan Badan Pengawas dan Susunan Senat. tujuan didirikannya STI, Peraturan Umum menyebutkan, STI adalah perguruan tinggi yang memberikan pendidikan dan pelajaran tinggi tentang ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu masyarakat agar menjadi Pusat Penyiaran Agama dan memberikan pengaruh Agama Islam di Indonesia. Bertujuan untuk mencetak kader-kader bangsa- mencetak pemimpin Islam yang memiliki pengetahuanyang seimbang dan sangat luas baik di bidang agama maupun kemasyarakatan.

Berdasarkan tujuan tersebut dibuat slogan yang sangat popular di kalangan mahasiswa: Berilmu Amaliyah dan Beramal Ilmiah

Sultan Hamengku Buwono IX memberikan sambutan positif.

Komentar dan harapan Sultan terhadap STI (Harian Asia Raya, 24-11-1944):

Isi sambutan Sultan Hamengku Buwono IX:

“Indonesia Merdeka jang sedang kita bentoek haroes berdiri atas dasar jang tegoeh-kokoh, baik lahir maoepoen bathin. Tanah air kita memboetoehkan pimpinan jang baik dan pemimpin- pemimpin bidjaksana jang bersemangat serta bertanggoengdjawab. Dalam hal ini agama menpoenjai pengaroeh jang sangat besar sebagai soember kekoeatan bathin, djika kita mengingat pertanjaan Saikoo Shikikan jang kedoea pada Sidang Chuuoo Sangi-In jang ke VI tentang mentjari djalan oentoek mempertinggi deradjat rakjat, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa petingnja soeal itoe. Dalam hal itoe, Agama adalah satoe-satoenja djalan jang teroetama oentoek mempertinggi deradjat rakjat. Oleh karena itoe, pendirian sekolah Tinggi Islam, kami samboet dengan gembira sebagai salah satoe oesaha oenoek meninggikan deradja rakjat, jang berarti poela memperkokoh dasar Negara Indonesia. Sedjarah Agama Islam sendiri telah memperlihatkan boekti jang seterang-terangnja betapa besar pengaroeh Agama terhadap Agama terhadap kemadjoean sesoeatoe bangsa. Pada zaman djahilijah, ialah Arab hanja terkenal sebagai

(5)

bangsa penggembala di padang pasir jang tandoes dan terik, terdiri dari soekoe-soekoe bangsa jang tidak bisa hidoep dengan damai serta senantiasa berselisihan. Tetapi setelah lahir Agama Islam maka bangsa itoe dapat bersatoe dan meningkat kepada deradjat jang sangat tinggi.

Peristiwa itoe, aiklah dipakai sebagi tjontoh dan tjermin oleh oemat Islam Indonesia. Di Djawa terdapat pemoeda-pemoeda Indonesia jang telah menerima pendidikan, pengadjaran dan pengetahoean Agama pada Sekolah Tinggi Islam di Mesir dan India. Diantara mereka itoe, kini banjak jang memangkoe djabatan penting, baik di lapangan Agama, maoepoen di lapangan lainnja. Kami mengharapkan semoga Sekolah Tinggi Islam jang akan didirikan di Tanah Air kita sendiri itoe, akan menghasilkan

Pembukaan Kuliah

Penentuan waktu upacara pembukaan resmi STI pada 8 Juli1945 secara kebetulan bertepatan dengan Hari Pembangunan Asia Timur Raya, seperti yang diberitakan Harian Sinar Baroe (9-7- 1945). Dalam acara resmi pembukaan tersebut P.J.M Gunseikan memberikan amanat:

- “Saja merasa amat gembira sekali pada hari Mi’radj jang dibesarkan oleh oemat Islam ini dapat menghadirkan oepatjara pemboekaan SEKOLAH TINGGI ISLAM jang mendjadi idam-idaman oemmat Islam.

- Sekolah Tinggi Islam ini tentoe akan mengadjarkan ilmoe-ilmoe Agama jang tertinggi di Indonesia. Oleh sebab itoe adalah kewadjibannja mendidik orang-orang jang tjakap benar oentoek memenoehi panggilan zaman. Dan bekerdja teroes-meneroes goena mendidik pemimpin oemat Islam Soepaja bersatoe-padoe sebagai rakjat dalam Negara merdeka jang akan datang. Dan beroesaha oentoek menjelenggarakan pendirian soeatoe negara merdeka dihadapan mata moesoeh.

- Peladjar-peladjar jang telah diizinkan oentoek menjadi mahasiswa djanganlah hanja mentjari ilmoe jang dalam sadja, tetapi hendaklah melatih rohani dan djasmani dengan soenggoeh- soenggoeh soepaja mendjadi tjontoh teladan bagi seloeroeh rakdjat Indonesia.

- Sekian amanat saja.”

Tidak kalah pentingnya, pada saat upacara pembukaan juga itu juga diucapkan janji mahasiswa diwakili oleh Zainul Abidin. Mahasiswa berjanji bahwa mereka akan mencurahkan tenaga dalam menuntut ilmu, menjunjung tinggi budi pekerti Islam agar dengan pertolongan Allah menjadi mulia Indonesia yang utama dan anggota yang berguna bagi masyarakat Indonesia yang sejajar dengan lain-lain bangsa di Asia Timur Raya serta dapat menunaikan kewajiban sebagi pemimpin-pemimpin Islam Indonesia pada masa yang akan datang.

Sebagi penutup upacara K. H. Mas Mansoer membaca doa dan diakhiri dengan seruan

“Allahuakbar” 3 kali dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Tidak kalah pentingnya dan perlu untuk terus diingat bahwa Harian Indonesia Merdeka (10-7- 1945) juga menyebut tujuan pokok didirikannya STI dan sekaligus memberikan peringatanamat

(6)

dini yang dengan jelas dan tegas mengingatkan agar STI tidak terjebak pada paham kapitalisme- imperialisme.

D. Tujuan Inti STI

3 tujuan inti (core purpose) pendirian STI:

1. tujuan kelembagaan. Inilah yang tercantum secara eksplisit dalam Peraturan Umum STI.

STI “memberikan pendidikan dan pelajaran tinggi tentang ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu Masyarakat.” Dengan tujuan “agar supaya menjadi Pusat Penyiaran Agama dan memberikan pengaruh Agama Islam di Indonesia.”

2. tujuan keluaran. mau jadi apa mahasiswa yang diasuh. terkait langsung dengan suasana perjuangan sosial-politik ketika itu juga dikaitkan dengan sambutan yang diberikan oleh Sultan Hamengku Buwono IX menjelang pendirian STI, amanat P.J.M. Guneikan pada upacara pembukaan resmi STI, sumpah mahasiswa yang diwakili oleh Zainul Abidin, dan ulasan Harian Indonesia Merdeka beberapa hari setelah upacara pembukaan.

3. Tujuan STI yang bersifat menegasikan, “tujuan mazhab keilmuan (ideologis)” - yakni anti kapitalisme, setidaknya jika digunakan bahasa yang lugas. Ini terlihat pada ulasan yang dibuat oleh Harian Indonesia Merdeka beberapa hari setelah STI berdiri.

Tujuan ini sebut saja sebagai tujuan madzab keilmuan yang hendak dikembangkan oleh STI.

“Djangan sampai misalnja kedjadian, bahwa nantinja Sekolah Islam itoe akan melahirkan orang-orang Islam jang berpaham kapitalisme atau imperalisme-tjap-Barat. Boekan itoe toedjoeannja.”

E. Nilai-Nilai: Stratifikasi, Imajinasi Kreatif dan Pengabdian

Tanpa harus katakan, dapat diketahui bahwa para pendiri STI berasal dari strata sosial (paling) atas masyarakat Indonesia.

- Pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban adalah apa yang menjadi latar belakang lahirnya ide itu.Dalam konteksi ini, ide itu pantas disebut sebagai imajinasi kreatif (a creative imagination)

- Merdeka saja belum, mangapa mesti berniat mendirikan pendidikan tinggi?

Sepertinya sulit ditemukan alasan lain kecuali bahwa pendiri STI menghendaki agar Masyarakat Islam Indonesia (MII) sedikit atau banyak memiliki karakteristik seperti mereka, alih-alih dapat seperti orang barat yang ketika itu telah begitu perkasa terletak di posisi tinggi melebihi bangsa lain. MII harus terbebas dari kedudukanya sebagi anggota strata (ter) rendah.

Namun demikian, rasanya masih diperlukan dorongan lain. Untuk apa harus terlihat pada proyek sulit untuk jangka waktu yang pasti akan berlangsung demikian panjang? Proyek pendirian STI bukan proyek bisnis. Mereka justru menyediakan rumah ibadah baru: STI.

Tidak kalah pentingnya, bukan suatu yang luar biasa jika jati diri yang melekat pada MIAI, Masyumi, dan pendiri STI secara perseorangan tertinggal tidak terpisakan pada institusi yang dibentuk. MIAI dan Masyumi adalah tempat bersatunya umat Islam Indonesia. Ketika itu, karena bersatu organisasi menjadi kuat. Secara sengaja dan tidak, nilai-nilai tersebut tertanam

(7)

dengan akar yang dalam. Sedari mula terlihat bahwa STI boleh dikata berjiwa Islam, non- sektarian, non-partisan dan sekaligus nasionalisme

TEMPAT UMAT BERSATU PADU.

F. Seleksi & Matrikulasi menuju Ekselensi & Kesempurnaan Panduan Asuhan

- Ujian masuk calon mahasiswa pria diselenggarakan Juni 1945, dan calon mahasiswi Juli 1945.

- Calon mahasiswa STI adalah pelajaran tamatan sekolah umum yang berasal dari AMS, HBS 5 tahun, HIK, SMT dan sekolah-sekolah yang sederajat. Sementara itu pelajar dari Madrasah Menengah Tinggi yang mempunyai pengetahuan umum setingkat dengan Sekolah Menengah Umum juga diizinkan untuk mendaftar.

- Ujian masuk dilakukan dengan wawancara mengenai pengetahuan agama dan umum seperti Al-Qur’an, Ilmu Fikih, Manthik, Pengetahuan Umum, Aljabar, dsb.

- calon mahasiswa yang berasal dari sekolah umum terlebih dahulu dilakukan tes bahasa Arab dan calon mahasiswa yang berasal dari madrasah dites bahasa Inggris

- Bentuk tes yang begitu komprehensif ini menunjukkan bahwa STI sejak awal berniat sungguh-sungguh untuk menjaga kualitas dalam rangka mencetak kader bangsa yang mempunyai pengetahuan luas

Harian Asia Raya (7-6-1945) menyebutkan calon mahasiswa yang diterima dari hasil tes wawancara sebanyak 14 orang untuk tingkat satu dan 46 orang untuk tingkat pendahuluan dari jumlah keseluruhan 150 pendaftar.

Keempat belas calon mahasiswa tersebut adalah 3 orang dari lulusan madrasah (Mochtar, Samd Djafar, dan A. Nasochi) dan 11 orang dari lulusan Sekolah Menengah Tinggi (Zainal Abidin, Hasim Abdullah Hassan, M. Sjarwani, Husny Abbas, Ambo Rachmat, Karim Halim, A.

Nasution, Soewali, Hidajat, Sadali, dan Abdulrachman Shahab).

Diperlukannya satu perguruan tinggi yang dimiliki oleh seluruh umat Islam yang berlandaskan ajaran-ajaran Islam dan meru-pakan wadah persatuan seluruh umat Islam dalam usaha menanggulangi pengaruh kehidupan barat yang dibawa oleh penjajah.

Pengaruh kebangkitan dan kebangkitan dunia Islam pada umumnya yang melahirkan gerakan- gerakan melawan penjajah dengan memakai sistem modern, yang dimulai dengan berdirinya Syarikat Dagang Islam (1904), Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926), Jam'iyatul Washliyah (1930), Persatuan Oelama (1915), Musyawarah Thalibin (1932) dan lain-lain.

Peraturan Umum Yang Mengandung Pokok-Pokok Ketentuan:

(8)

1) Tujuan didirikannya STI ialah untuk adanya perguruan tinggi yang memberikan pelajaran dan pendidikan tinggi tentang ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu masyarakat agar menjadi pusat penyiaran agama dan memberikan pengaruh Islam di Indonesia.

2) STI didirikan oleh Badan Wakaf dan dari umat Islam yang kelengkapan organisasinya terdiri dari:

a) Badan Penyelenggara b) Badan Pengawas c) Senat STI

d) Peraturan-peraturan tentang rencana pelajaran, lamanya pelajaran, tingkatan pelajaran, ujian, promosi dan se-bagainya.

e) Peraturan tentang pengangkatan guru besar.

STI Pindah ke Yogyakarta

Dalam kurun waktu empat puluh (40) hari setelah STI dibuka dengan resmi terjadilah peristiwa mahapenting bagi bangsa Indonesia, yakni peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Beberapa bulan sesudah itu tentara NICA datang ke Indonesia dengan membawa kepentingan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia, menggatikan Jepang dan terjadilah bentrok senjata antara kedua pihak (NICA lawan INDONESIA).

Keadaan itu pada akhirnya (tahun 1946), memaksa Pemerintah Negara Republik Indonesia mengambil langkah untuk pindah ke Yogyakarta meninggalkan Jakarta.

Yogyakarta kemudian dijadikan ibukota negara Republik Indonesia yang kedua.

Dua Alasan STI Pindah Ke Yogyakarta

1. Pertama, Jakarta berada dalam suasana perang yang tentu saja tidak menjamin kelancaran perkuliahan.

2. Kedua, hijrahnya Pemerintah Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta sangat mempengaruhi kelangsungan STI karena banyak sekali dosen-dosen dan pengurus STI waktu itu ikut pindah ke Yogyakarta sebagai pejabat pemerintah; seperti diketahui banyak sekali pengurus STI waktu itu yang menjadi pemimpin negara Indonesia merdeka seperti Wakil Presiden (PM), Menteri atau jabatan tinggi lainnya.

Keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam tersebut karena beberapa faktor yang telah melandasinya, yaitu:

1. Di dalam Islam tidak ada pemisahan antara paham kenegaraan dengan agama.

2. Adanya kewajiban bagi umat Islam untuk melaksanakan hukum-hukum Allah.

3. Belum adanya perguruan yang berdasarkan Islam yang mampu menyiapkan tenaga ahli dalam berbagai lapangan.

(9)

4. Pada zaman penjajahan pendidikan hanya diseleng garakan untuk mendukung kepentingan penjajah.

5. Umat Islam kekurangan tenaga-tenaga ahli dalam berbagai lapangan.

6. Dirasakan perlunya memberi kesempatan (penyaluran) kepada sekolah-sekolah agama (madrasah) dan pelajar pelajar dari pesantren untuk dapat meneruskan pelajaran ke perguruan tinggi yang memberikan ilmu-ilmu keahlian

Pengesahan STI Menjadi UII

Untuk memulai secara resmi mengubah STI menjadi UII pada bulan Maret 1948 diadakanlah upacara pembukaan pendahuluan yakni pembukaan kelas pendahuluan. Pem bukaan kelas pendahuluan ini resmi dibuka di Pendopo Dalem BPH Poerbojo di Ngasem Yogyakarta.

Hari yang dipilih untuk pembukaan UII itu adalah hari Dies Natalis STI yang ke 3. Tepat pada tanggal 27 Rajjab 1367 H yang bersamaan dengan tanggal 10 Maret 1948 M, Ull dibuka dengan resmi menggantikan STI.

Peristiwa Penting Dari Perjalanan Sejarah UII

Pada awal tahun 1945 Masyumi melahirkan beberapa kepu-tusan yang sangat penting dalam perjuangan dalam bidang politik dan pendidikan:

1. Pertama, membentuk barisan mujahidin dengan nama Hizbullah. Barisan ini terbukti memainkan peranan penting dalam sejarah perjuangan Indonesia menjelang dan sesudah merdeka.

2. Kedua, mendirikan perguruan tinggi Islam dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI).

Peristiwa Penting Dari Perjalanan Sejarah UII

Peristiwa penting yang disajikan pada upacara pembukaan UII tanggal 27 Rajjab 1367 H itu antara lain:

1. Pembacaan Keputusan Dewan Pengurus tentang berdirinya UII yang dibacakan oleh Mr.

Soenardjo,

2. Pidato pembukaan dan peringatan Isra’ dan Mi’raj yang disampaikan oleh Prof. KHA. Kahar Muzakkir serta kuliah umum tentang Dasar-dasar Hukum dalam Masyarakat oleh Dr. Mr.

Kusumah Atmadja.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Peraturan Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Nomor DJ.I/212/2011 tentang Persyaratan dan Prosedur Pembukaan Program Studi Perguruan Tinggi Agama Islam,

Amin Abdullah menggarisbawahi lima tugas utama pendidikan (agama) Islam, khususnya di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), dalam menghadapi keragaman agama, yaitu

Penjambaran visi dan misi seba- gaimana diatas diturunkan kedalam rumusan tujuan umum Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk perguruan tinggi pada program studi umum (non

Sehubungan dengan itu pula kepada umat Islam diberikan pemerintah pula Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang dinegerikan dari Fakultas Agama Universitas

kasus empat perguruan tinggi di daerah istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta:LKiS, 2016), 91. Ilmu Islam Terapan: Menggagas Paradigma Amali dalam Agama Islam.. epistemogi profetik dimana

RAPAT KOORDINASI NASIONAL SERTIFIKASI DOSEN PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM TAHUN 2012.. DIREKTORAT PENDIDIKAN TINGGI ISLAM DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN AGAMA RI

Cisarua Bogor, 15 - 17 Desember 201 0.. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PERGURUAN TINGGI UMUM YANG MENGACU PADA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SESUAI DENGAN PERATURAN PEMERLNTAH..

Buku Ajar Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi.. Ilmu Pendidikan