Kata kunci: Peran, Dewan Pengawas Daerah Kabupaten Semarang, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. Hal itu ditandai dengan keberhasilan pemerintah Orde Reformasi untuk mengesahkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
Memahami Jabatan Notaris
UU no. 30 Tahun 2004 untuk jabatan notaris sejak diumumkannya reformasi pada tanggal 6 Oktober 2004; Dan. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang merupakan penyempurnaan dari UUJN Nomor 30 Tahun 2004.15.
Dasar Hukum Notaris
Kode Etik Notaris Tahun 2015 dalam pasal 1 angka 4 menjelaskan bahwa notaris adalah setiap orang yang mengemban dan menjalankan tugas sebagai pejabat umum sebagaimana dimaksud dan dijelaskan dalam undang-undang tentang jabatan notaris. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang merupakan penyempurnaan dari UUJN Nomor 30 Tahun 2004.19.
Kewenangan Notaris
Kewenangan Notaris diatur dalam pasal 1 angka 1 UUJN 2014 yaitu pembuatan akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UUJN. Oleh karena itu, untuk dapat membuat akta otentik berdasarkan pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris, ia harus berkedudukan sebagai “pejabat umum”.
Kewajiban Notaris
Mengirimkan daftar surat dari huruf h atau daftar nol yang berkaitan dengan surat wasiat kepada Pusat daftar surat wasiat Kementerian yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang notaris, dalam waktu 5 (lima) hari pada setiap minggu pertama berikutnya. bulan; Memiliki stempel/stempel lambang negara Republik Indonesia dan nama, jabatan, dan tempat tinggal tetap dari yang bersangkutan dituliskan di ruang yang mengelilinginya; Membacakan akta di hadapan para hadirin, sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi yang hadir dan ditandatangani oleh para hadirin, saksi dan notaris sekaligus;
Saya tidak wajib melakukannya jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan karena pengunjuk telah membacanya sendiri, mengetahui dan memahami isinya, dengan syarat disebutkan pada sampul akta dan pada setiap halaman akta. , penghadap, saksi dan paraf notaris akta.
Produk Hukum Notaris
Klasifikasi akta otentik, yaitu: pertama akta otentik yang dibuat sebelum pejabat publik (akta laporan) dan kedua akta otentik yang dibuat sebelum pejabat publik (akta pihak). Akta Notaris yang dibuat oleh pejabat publik disebut akta resmi/relaas acte (ambtelijke acte), adalah perbuatan Notaris yang hanya memuat apa yang telah dialami, didengar dan disaksikan oleh Notaris sebagai pejabat publik. Pejabat publik atau disebut juga akta partii (akta para pihak), adalah dokumen yang selain berisi catatan tentang apa yang dialami dan disaksikan Notaris, juga memuat apa yang disepakati atau ditentukan oleh para pihak yang menghadapi tatapan Notaris.
Kode Etik Notaris
Kode Etik Profesi Notaris
Perilaku notaris yang baik adalah perilaku yang berdasarkan kode etik profesi notaris, yaitu kode etik notaris mengatur hak-hak yang harus dipatuhi notaris dalam menjalankan tugasnya dan juga di luar jabatannya. Kode etik profesi adalah kriteria prinsip-prinsip profesional yang telah ditetapkan, untuk mengakui dengan pasti kewajiban profesional dari anggota profesi lama, baru atau yang akan datang. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara anggota kelompok profesi lain atau anggota masyarakat yang dapat melakukan kontrol melalui penyusunan kode etik profesi dapat dicegah.
Kode etik profesi merupakan produk etika terapan yang dikembangkan atas dasar penerapan penelitian etika dalam profesi. Kode etik profesi merupakan rumusan norma moral manusia yang menjalankan suatu profesi dan menjadi tolok ukur kinerja anggota kelompok profesi. Kode etik notaris ini berlaku dan harus dipatuhi oleh semua anggota persekutuan dan oleh semua orang yang menjalankan tugas dan jabatannya sebagai notaris.
Kewajiban, Larangan Dan Pengecualian Bagi Notaris
Kode etik profesi adalah suatu norma yang ditetapkan dan dianut oleh kelompok profesi yang mengarahkan dan memberi petunjuk kepada anggota tentang bagaimana bertindak dengan tetap menjamin mutu moral profesi di mata masyarakat. Hal ini tidak hanya diatur dalam UUJN sebagai ketentuan pokok yang dijadikan pedoman bagi Notaris dalam menjalankan jabatannya, tetapi juga tertuang dalam Kode Etik Notaris yang disusun oleh I.N.I. Membuat akta dalam batas kewajaran untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan, khususnya Undang-undang tentang Status Kenotariatan dan Kode Etik.
Larangan bagi Notaris diatur dalam Kode Etik Profesi Notaris yaitu dalam pasal 4 Kode Etik I.N.I Tahun 2015, dimana dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa Notaris dan orang lain (sepanjang yang bersangkutan menjabat sebagai Notaris). notaris) dilarang. Tidak melakukan kewajiban dan melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Kode Etik dengan menggunakan media elektronik, termasuk namun tidak terbatas pada penggunaan internet atau media sosial; Dari uraian di atas telah dijelaskan kewajiban dan larangan Notaris, namun untuk larangan ini juga terdapat pengecualian yang diatur dalam pasal 5 Kode Etik.
Sanksi Atas Pelanggaran Kode Etik Notaris
Jika ditelaah menurut ketentuan undang-undang, maka akan diketahui bahwa Kode Etik Notaris mempunyai upaya paksa yang bersumber dari undang-undang. Pengenaan sanksi tersebut di atas terhadap anggota yang melanggar Kode Etik disesuaikan dengan kuantitas dan kualitas pelanggaran yang dilakukan oleh anggota tersebut; Pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh orang lain (sedang bekerja di kantor notaris) dapat berupa teguran dan/atau peringatan;
Keputusan Dewan Kehormatan Daerah/Dewan Kehormatan Daerah berupa pemberhentian sementara atau pemberhentian dengan hormat atau tidak hormat dari keanggotaan dalam perkumpulan dapat diajukan banding ke Dewan Kehormatan Pusat; Keputusan Dewan Kehormatan Pusat tentang pemberhentian sementara atau dengan hormat atau pemberhentian tidak dengan hormat dari keanggotaan asosiasi dapat diajukan banding ke Kongres; Majelis Kehormatan Pusat juga berwenang memberikan rekomendasi beserta usul pemberhentian notaris kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Pengawas Terhadap Notaris oleh Majelis Pengawas Daerah
Pada dasarnya menteri hukum dan hak asasi manusia yang berwenang melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap notaris, maka menteri tersebut membentuk Majelis Pengawas Notaris. Dalam pelaksanaan pengawasan notaris yang dilakukan oleh majelis pengawas daerah sesuai dengan UUJN 2014 disebutkan bahwa berdasarkan pasal 1 angka 6 disebutkan: Majelis Pengawas Notaris yang selanjutnya disebut Majelis Pengawas adalah suatu badan yang mempunyai wewenang dan kewajiban untuk melakukan pengurusan dan pengawasan Notaris. Majelis Pengawas Daerah (MPD) memiliki kewenangan yang diatur masing-masing dalam Pasal 70 Undang-Undang Jabatan Notaris.
Jika seorang anggota MPD yang berasal dari notaris memahami lembaga notaris dengan benar, tentu ia akan mempertahankan jabatan notaris sebagai jabatan amanah. Hasil akhir pemeriksaan yang dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD) berupa surat keputusan (yang merupakan keputusan tertulis). Peran Dewan Pengawas Daerah Kabupaten Semarang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang.
Peranan Majelis Pengawas Daerah Kabupaten Semarang Menurut Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Majelis Pengawas Daerah (MPD) memiliki kewajiban yang diatur dalam pasal 71.46 Akta Notaris yaitu. Meneliti laporan masyarakat terhadap notaris dan menyampaikannya kepada Majelis Pengawas Daerah dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak. Dewan Pengawas Daerah Kabupaten Semarang telah melakukan sesuai dengan apa yang ada dalam peraturan perundang-undangan, yaitu dalam Pasal 16 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
53Indonesia, Surat Tugas nomor: UM.MPDN KAB.SMG 02.20-01 berdasarkan surat keputusan Ketua Dewan Pengawas Notaris Daerah Kabupaten Semarang nomor: M.01/PN/MPDN KAB.SMG 02.20 Tahun 2020 re. pembentukan tim pemeriksa notaris di Kabupaten Semarang Tahun 2020 56. Peran Majelis Pengawas Daerah di Kabupaten Semarang menjalankan tugas dan wewenangnya hampir sesuai dengan aturan perundang-undangan tentang tugas dan wewenang Majelis Pengawas Daerah Notaris di Kabupaten Semarang sesuai aturan yang dianut. Hambatan Dewan Pengawas Daerah Kabupaten Semarang berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang.
Hambatan Majelis Pengawas Daerah Kabupaten Semarang Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-
Penyempurnaan sarana dan prasarana masih ditambah, misalnya kantor sekretariat masih terhubung dengan Kantor Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Semarang. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengawasan adalah masih banyaknya Notaris yang lalai mengumpulkan laporan bulanan, atau tidak menyampaikan laporan tepat waktu, sehingga Majelis Pengawas Daerah Notaris kesulitan untuk mencatat dan merekapitulasi Protokol Notaris. Salah satu contoh perkara yang dilakukan oleh Notaris berdasarkan Surat Mediasi Notaris Nomor : 06/BAP/MPDN/10 TAHUN Tahun 2020 pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2020 pukul 17.30 kami Majelis Pengawas Notaris Daerah Kabupaten Semarang yang terdiri dari Ketua, Moch.
Setelah Majelis Pemeriksa Daerah Notaris Kabupaten Semarang bersidang dan melakukan pemeriksaan terhadap Pelapor, Terlapor dan keterangan PT. Serta mengedepankan rasa percaya atau rasa aman di masyarakat terhadap kinerja notaris. Solusi dewan pengawas daerah Kabupaten Semarang menurut undang-undang nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan undang-undang.
Solusi Majelis Pengawas Daerah Kabupaten Semarang Menurut Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Menanggapi permintaan Notaris agar jadwal pemeriksaannya diundur dari jadwal pemeriksaan yang telah ditentukan MPD, Tim Pemeriksa MPD merekomendasikan Notaris untuk mengikuti jadwal pemeriksaan tim MPD pada minggu berikutnya, sehingga meskipun terjadi pergumulan. MPD masih menyempatkan diri untuk datang ke kantornya dengan tim lengkap. Untuk mempercepat tugas kesekretariatan MPD, MPD mengajukan permintaan perangkat komputer dan printer kepada Pengurus Daerah INI Kabupaten Semarang, dan terakhir dibeli satu set komputer dan printer dari Pengurus Daerah INI Kabupaten Semarang untuk melengkapi MPD- untuk mempercepat mengerjakan tugas kesekretariatan. Memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris untuk melaporkan kepada Majelis Pengawas Daerah Notaris Kabupaten Semarang khususnya, agar kerjasama antara masyarakat dan Majelis Pengawas Daerah dalam pelaksanaan pengawasan lebih optimal.
Dan apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris maka akan dilakukan mediasi kepada para pihak, dengan tujuan untuk mencari jalan keluar atau hasil yang menguntungkan kedua belah pihak.
PENUTUP
Saran
Ada beberapa saran yang dapat diajukan sesuai dengan pertanyaan tentang peran Dewan Pengawas Daerah Kabupaten Semarang sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, yaitu. Habib Adjie, Tafsir Tematik Hukum Kenotariatan Indonesia Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Fungsi Kenotariatan, Surabaya: Refika Aditama, 2007. Indonesia, Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia No. 49/PUU-X/2012 tentang Perubahan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Fungsi Notaris.
Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Fungsi Notaris. Muhammad Haris, Pengawasan Majelis Pengawas Daerah bagi Notaris pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Fungsi Notaris (diakses 20 Oktober 2020). Surat Perikatan Nomor: UM.MPDN KAB.SMG 02.20-01 Keputusan Dewan Pengawas Daerah Kabupaten Semarang Nomor Notaris: M.01/PN/MPDN Kab.Smg.02.2020.