Dalam rangka memberikan pelayanan prima dan manajemen yang efektif dan efisien, ICU harus dikelola sesuai dengan standar yang tidak hanya dapat digunakan secara nasional, tetapi juga mengikuti perkembangan terbaru dalam "Intensive Care Medicine". Unit perawatan intensif (ICU) adalah bagian dari rumah sakit terpisah, dengan staf khusus dan peralatan khusus, yang dimaksudkan untuk observasi, perawatan, dan terapi pasien yang menderita penyakit, cedera, atau komplikasi yang mengancam jiwa atau berpotensi mengancam jiwa. prognosis ganda. Perkembangan “perawatan intensif” tidak terlepas dari terjadinya epidemik poliomielitis di Eropa dan Amerika Utara pada tahun 1947–1948 dimana banyak pasien meninggal karena kelumpuhan otot pernafasan.
Pelaksanaan pelayanan perawatan intensif berbasis rumah sakit, ditunjuk dan ditentukan oleh kebutuhan pasien sakit kritis. Pekerjaan intensif harus menjadi bagian dari sistem yang menjamin kesinambungan dalam layanan intensif sepanjang waktu. Semua pasien yang dirawat di bangsal harus dirujuk untuk perawatan oleh spesialis perawatan intensif.
Dikelola oleh ahli anestesi perawatan kritis atau spesialis konsultan perawatan kritis lainnya dengan tanggung jawab keseluruhan dan seorang dokter panggilan yang setidaknya mampu melakukan resusitasi kardiopulmoner (penyangga hidup dasar dan penunjang hidup lanjutan). Dalam situasi penggunaan tempat tidur yang tinggi, pasien yang membutuhkan terapi intensif (prioritas satu -1) dirawat di ICU lebih awal daripada pasien yang membutuhkan pemantauan intensif (prioritas dua-2) dan pasien sakit kritis atau sakit terminal dengan prognosis buruk untuk pemulihan (prioritas dua) . tiga-3).
PRASARANA a. Lokasi
Setiap ICU harus menetapkan aturan dan prosedur untuk masuk dan keluar, standar perawatan pasien, dan kriteria hasil tertentu. Perangkat ini harus dikembangkan oleh tim multidisiplin, yang diwakili oleh dokter, perawat, dan administrator rumah sakit, serta ditinjau dan diperbaiki seperlunya berdasarkan hasil pasien dan ukuran kinerja lainnya. Kepatuhan terhadap peraturan masuk dan keluar harus diperiksa oleh tim multidisiplin dan setiap penyimpangan dilaporkan ke departemen peningkatan mutu rumah sakit untuk ditindaklanjuti.
Area Pasien
ICU tersier minimal 3 outlet udara tekan dan 3 pompa hisap dan minimal 16 outlet per tempat tidur.
Area Kerja, meliputi
Lingkungan
Ruang Isolasi
Ruang Penyimpanan Peralatan dan Barang Bersih
Ruang Tempat Pembuangan Alat/Bahan Kotor
Ruang Perawat
Ruang Staf Dokter
Ruang Tunggu Keluarga Pasien 10) Laboratorium
PERALATAN
MONITORING PERALATAN
Saat menggunakan ventilator otomatis, harus ada perangkat yang segera mendeteksi kegagalan sistem pernapasan atau ventilator kontinu. Tekanan jalan napas dan tekanan sirkuit pernapasan harus dipantau terus menerus dan dapat mendeteksi tekanan yang berlebihan. f) Temperatur pelembab udara. Emboli udara harus dipantau jika pasien menjalani hemodialisis, plasmaferesis, atau perangkat perfusi. j) Jika ada indikasi klinis, peralatan harus tersedia untuk mengukur variabel fisiologis lainnya seperti tekanan intra-arterial dan arteri pulmonalis, curah jantung, tekanan inspirasi dan aliran jalan napas, tekanan intrakranial, suhu, transmisi neuromuskuler, kadar CO2 saat ekshalasi.
Banyak dokter yang tidak memahami indikasi pengiriman pasien ke ICU, sehingga banyak pasien yang sudah tidak ada harapan hidup dirujuk ke ICU. Perlu diketahui bahwa ICU bukanlah tempat untuk merawat pasien dengan kasus terminal, atau dengan kata lain bukan merupakan bandara untuk pengiriman pasien ke akhirat. Angka kematian di ICU terutama ditentukan oleh pemilihan triase pasien seperti di atas, disamping jenis penyakit, penatalaksanaan dan fasilitas yang baik.
Pengeluaran rumah sakit untuk biaya ICU (biaya rumah sakit) sekitar 25% dari seluruh pengeluaran rumah sakit atau berjumlah US$20–40 miliar per tahun, dengan anggaran kesehatan sekitar 200 miliar. Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 240 juta jiwa, di mana anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2006–2007 hanya sekitar Rp 17,5 triliun atau sekitar US$20 miliar. Pengeluaran untuk rumah sakit di AS kira-kira sama atau lebih besar dari anggaran pemerintah untuk kesehatan di Indonesia pada tahun 2006–2007.
Mengingat biaya perawatan ICU cukup mahal, sebaiknya dokter di Indonesia lebih berhati-hati dan mengetahui lebih dalam tentang syarat merujuk pasien ke ICU. Pirngadi Medan tahun 2006, dimana data tersebut tidak menggambarkan hubungan antara jenis penyakit dengan angka kematian. Angka Kematian Pasien ICU yang Dirawat di Rumah Sakit Pirngadi Medan Tahun 2006 No Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agu Sep Okt Nov Des Ket.
Medan Tahun 2006 No Jan Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Des Sab.
Faktor internal terdiri dari kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan paramedis di dalam negeri, kebutuhan akan pelayanan yang lebih baik, keinginan untuk sembuh dengan cepat, kepercayaan terhadap diagnosa yang diberikan oleh dokter dan keterbukaan tentang penyakit. Yang menonjol dari faktor internal adalah kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan paramedis di dalam negeri (36,5%). Dari sisi ekonomi, meningkatnya kecenderungan masyarakat Sumut berobat ke luar negeri berdampak pada aliran uang ke luar negeri (cash out).
Sebagai gambaran, berdasarkan data yang diperoleh dari Tourism Board Malaysia, setiap tahunnya diperkirakan jumlah masyarakat Sumut yang berobat ke luar negeri (Malaysia dan Singapura) diperkirakan ± 100 ribu orang per tahun, yang berarti dalam satu tahun tahun terjadi arus keluar uang ke luar negeri sebesar Rp.
Ikatan Dokter Indonesia
Dinas Kesehatan
Rumah Sakit
Dokter
Paramedis
Asuransi Kesehatan
Laboratorium Kesehatan
Pemerintah
Sebelum saya mengakhiri pidato pengukuhan saya, izinkan saya sekali lagi mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga pada hari ini saya dapat dikukuhkan sebagai guru besar tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Utara. Sumatra. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak atas peran, dukungan dan bantuan yang diberikan kepada saya untuk mencapai posisi terhormat ini. Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Prof.
Dodi Nandika, MS, dan seluruh staf, atas kepercayaan dan kehormatan yang diberikan kepada saya untuk menerima jabatan Guru Besar Tetap bidang Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Demikian juga kepada ketua, sekretaris dan seluruh anggota Dewan Guru Besar Universitas Sumatera Utara, terima kasih telah memperkenalkan dan menerima saya di lingkungan yang terhormat ini. Siregar, SpPD, KGEH beserta para Pembantu Dekan, serta seluruh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas dukungan dan sarannya untuk saya sebagai Guru Besar.
Iskandar Djapardi, SpBS(K) yang telah banyak membantu, menyemangati dan memotivasi saya dalam mengelola guru besar ini. Nadi Zaini, SpAn, Dr., Syamsul Bahri Siregar, SpAn dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, tanpa bantuan dan kesempatan yang telah diberikan kepada saya, tidak mungkin mendapatkan gelar Guru Besar ini. Rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada para perawat, keluarga besar staf di Departemen Anestesiologi dan Reanimasi/ICU FK-USU/RSUP Haji Adam Malik dan dr.
Kepada guru-guru saya dari SD sampai SLTP, SLTA, FK-USU terima kasih, semoga Allah SWT membalas budi guru-guru saya semua. Feraluna Nasution, SpA, MHA dan anak saya Feby, Adam dan Wulan beserta menantu saya Ivan serta tidak lupa cucu saya Dhila yang telah membahagiakan saya dan memberikan ketenangan dalam hidup saya, saya ucapkan terima kasih yang tiada henti. Wasis Warsa, SpB, Agus Azhar/Ninuk, Nurhasanah/Kisman Kamil, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas segala dukungan dan doa dalam hidup saya.
Akhir kata, izinkan saya merakamkan setinggi-tinggi penghargaan dan terima kasih kepada Tuan/Puan. yang meluangkan masa untuk menghadiri majlis pengesahan ini.
RIWAYAT PENDIDIKAN
RIWAYAT PENDIDIKAN TAMBAHAN
RIWAYAT JABATAN/PANGKAT/GOLONGAN
RIWAYAT PEKERJAAN
RIWAYAT ORGANISASI
DAFTAR KARYA ILMIAH
The 1st annual meeting of PERDICI, with the theme: "Evidence-based medicine in the intensive care unit". Topic: "Current Management of Severe Sepsis and Septic Shock" Symposium "Management of Critical Illness an Update". 2nd Annual Meeting of the Indonesian Society of Intensive Care Medicine (ISICM) with the theme: a novel on intensive care medicine: To Be or Not To Be, an evidence-based process.
Recent Symposium and Progress in Sepsis Management Related to PERDICI Sepsis Survivor Campaign Road Show Makassar. Recent Symposium and Progress in Sepsis Management Related to PERDICI Sepsis Survivor Campaign Road Show Makassar.
KARYA ILMIAH YANG DIPUBLIKASIKAN DALAM JURNAL ILMIAH
DAFTAR KEGIATAN MENGHADIRI ACARA SIMPOSIUM NASIONAL DAN INTERNATIONAL
Peserta Simposium dan Diskusi Panel Transfusi Darah dan Nutrisi Parenteral, 8 Juli 1995, di Medan. Peserta Seminar Pencegahan Hipertensi, Gagal Ginjal, Penyakit Jantung Koroner dan Infark, 21 Agustus 1999, di Medan. Peserta Simposium Penggunaan Formulir Sebagai Panduan Penanganan dan Kendala yang Ditemui di RSU Dr.
Peserta Mini Symposium on Low Molecular Weight Heparin Management in Daily Practice, 22 Juli 2000, di Jakarta. Peserta Simposium Internasional ke-22 tentang Perawatan Intensif dan Pengobatan Darurat, 19-22 Maret 2002, di Brussel, Belgia. Peserta Simposium Internasional ke-23 tentang Perawatan Intensif dan Pengobatan Darurat, 19-22 Maret 2003, di Brussel, Belgia.
Peserta Simposium Internasional ke-24 tentang Perawatan Intensif dan Pengobatan Darurat, 19-22 Maret 2004, di Brussel, Belgia. Menghadiri: 11th International Symposium on Shock and Critical Care”, Bali International Conference Center, Nusa Dua, Bali-Indonesia. Peserta Simposium Internasional ke-25 tentang Perawatan Intensif dan Pengobatan Darurat, 19-22 Maret 2005, di Brussel, Belgia.
Menghadiri acara: "26th International Symposium on Intensive Care and Emergency Medicine", Brussels, Exhibition & Convention Center, Maret. Hadir dalam acara: "13th International Symposium on Shock and Critical Care 2006", bekerjasama dengan 3rd Symposium of Nutri Indonesia, 3–5 Agustus 2006, Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali, Indonesia. Peserta Simposium Internasional ke-27 tentang Perawatan Intensif dan Pengobatan Darurat, 19-22 Maret 2007, di Brussel.
Hadir dalam acara: "14th International Symposium on Shock and Critical Care 2006", bekerjasama dengan 4th Symposium of Nutri Indonesia, 18-20 Agustus 2007, Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali, Indonesia.
KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT
Hadir dalam acara: "Peran Loratadine dalam Penatalaksanaan Alergi Anak", yang diselenggarakan oleh IDAI Cabang Sumut dan Departemen Ilmu Penyakit Anak FK-USU Medan. Berpartisipasi dalam acara: "2nd Annual Meeting of Indonesian Obstetric Anestesi, Indonesian Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine". Menghadiri acara: "The 6th Meeting of The Asian Society of Cardiothoracic Anesthesia", di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali-Indonesia pada 20-22 Juli 2005.
Saya mengikuti acara: "Refresher Course and Enhancing the Science of Anesthesia" yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Anestesiologi Indonesia (IDSAI).