WALIKOTA TIDORE KEPULAUAN
PROVINSI MALUKU UTARA
PERATURAN DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN NOMOR 12 TAHUN 2022
TENTANG
PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN KETENTERAMAN MASYARAKAT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TIDORE KEPULAUAN,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 12 ayat (1) huruf e, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar di bidang Ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat;
b. bahwa untuk mengantisipasi munculnya dampak sosial di masyarakat sebagai akibat dari perkembangan dan kemajuan pembangunan di Kota Tidore Kepulauan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum dan ketentraman masyarakat di wilayah Kota Tidore Kepulauan;
c. bahwa untuk memberikan arah, landasan dan kepastian hukum kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat di Kota Tidore Kepulauan, maka diperlukan pengaturannya dalam suatu Peraturan Daerah;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat;
Mengingat : 1.
2.
Pasal 18 ayat (6) Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3895), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 46
3.
4.
5.
6.
7.
Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3961);
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Halmaheera Timur dan Kota Tidore Kepulauan di Provinsi Maluku Utara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4264);
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2018 tentang Satuan Polisi Pamong Praja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 72);
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum Dan Ketenteraman Masyarakat Serta Perlindungan Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 548);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN
dan
WALIKOTA TIDORE KEPULAUAN MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN KETENTERAMAN MASYARAKAT.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kota Tidore Kepulauan.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
3. Walikota adalah Walikota Tidore Kepulauan.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah DPRD Kota Tidore Kepulauan.
5. Organisasi Perangkat Daerah selanjutnya disebut OPD adalah unsur pembantu kepala daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah.
6. Satuan Polisi Pamong Praja selanjutnya disebut Satpol PP adalah Organisasi Perangkat Daerah yang memiliki Tugas pokok dan fungsi menegakkan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman serta menyelenggarakan perlindungan masyarakat;
7. Penyidik Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disingkat PPNS adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah Kota Tidore Kepulauan yang memuat ketentuan pidana.
8. Ketertiban Umum adalah suatu keadaan dinamis yang memungkinkan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dapat melakukan kegiatannya dengan tentram, tertib, teratur dan nyaman.
9. Tertib sosial adalah suatu keadaan keteraturan sosial yang sesuai dengan norma-norma, nilai-nilai, tatanan agama, adat istiadat dan budaya yang berlaku, dimana pemerintah daerah dan masyarakat dapat melakukan kegiatannya dengan tentram, tertib, teratur dan nyaman sesuai hukum dan norma-norma yang berlaku.
10. Ketenteraman Masyarakat adalah suatu keadaan dimana pemerintah daerah dan masyarakat dapat hidup dan melakukan kegiatannya dalam bebas dari gangguan dan ancaman fisik maupun psikis, bebas dari rasa ketakutan dan kekhawatiran dalam masyarakat.
11. Kawasan strategis kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota terhadap ekonomi, sosial, budaya/lingkungan.
12. Gangguan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat adalah semua kondisi yang disebabkan oleh perilaku tidak tertib yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan terganggunya kepentingan umum.
13. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga atau badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
14. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang diberikan kewenangan untuk melaksanakan suatu urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya.
15. Jalan adalah seluruh bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, yang berada pada permukaan tanah, diatas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan atau/air, serta diatas permukaan air, kecuali jalan kabel.
16. Jalur Hijau adalah setiap jalur yang terbuka tanpa bangunan permanen yang diperuntukan untuk pelestarian lingkungan sesuai dengan rencana Daerah yang pemanfaatan dan pengawasannya dilakukan oleh Pemerintah Kota.
17. Fasilitas umum adalah lahan, bangunan dan pelataran atau perlengkapan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk dipergunakan oleh masyarakat secara luas.
18. Bangunan adalah bangunan gedung beserta bangunan-bangunan yang secara langsung merupakan kelengkapan dari bangunan gedung tersebut dalam batas satu kepemilikan.
19. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
20. Pengemis adalah setiap orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain demi kepentingan pribadi
21. Pungutan liar adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan cara meminta pembayaran sejumlah uang yang tidak berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pembayaran tersebut.
22. Unjuk rasa atau demonstrasi massa adalah bentuk penyampaian pendapat dimuka umum/dihadapan orang banyak atau orang lain pada tempat yang dapat didatangi dan/atau dilihat setiap orang.
23. Tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah, swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat.
24. Pembinaan adalah perbuatan membina yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
25. Pengendalian adalah usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan mengarahkan orang atau badan untuk mencapai tujuan tertentu melalui perilaku yang diharapkan.
26. Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
27. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data dan/atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan terhadap penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN Bagian Kesatu
Maksud Pasal 2
Maksud ditetapkannya Peraturan Daerah ini adalah:
a. memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
b. memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk taat dan patuh terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Bagian Kedua Tujuan Pasal 3
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat bertujuan untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang aman, damai dan tenteram dalam beraktivitas bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
BAB III
OBJEK DAN TANGGUNG JAWAB PENYELENGGARAAN Bagian Kesatu
Objek Penyelenggaraan Pasal 4
(1) Objek Penyelenggaraan ketertiban umum, meliputi:
a. tertib jalan;
b. tertib angkutan jalan;
c. tertib jalur hijau dan taman kota;
d. tertib fasilitas umum;
e. tertib pemanfaatan sungai, saluran dan pesisir pantai;
f. tertib lingkungan, dan g. tertib bangunan.
(2) Objek penyelenggaraan ketenteraman masyarakat, meliputi:
a. tertib berjualan;
b. tertib tempat hiburan dan keramaian;
c. tertib sosial; dan d. tertib kependudukan.
Pasal 5
(1) Setiap orang memiliki hak yang sama untuk merasakan dan menikmati manfaat tercapainya ketertiban umum dan ketenteraman.
(2) Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap ancaman dan bahaya sebagai akibat dari adanya gangguan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.
Bagian Kedua
Tanggung Jawab Penyelenggaraan Pasal 6
(1) Walikota bertanggung jawab atas penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat di daerah.
(2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Satpol PP.
(3) Satpol PP dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dapat bekerjasama dengan OPD lainnya bersama dengan Polri dan/atau TNI.
Pasal 7
(1) Satpol PP dalam melaksanakan tanggung jawab penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dapat melakukan kegiatan:
a. deteksi dan cegah dini;
b. pembinaan dan penyuluhan;
c. patroli;
d. pengamanan;
e. pengawalan;
f. penertiban; dan/atau
g. Penanganan unjuk rasa dan kerusuhan massa.
(2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan tahapan:
a. perencanaan;
b. pelaksanaan;
c. pelaporan; dan d. evaluasi.
(3) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama dengan OPD terkait, pihak Kecamatan, Kelurahan/Desa, tokoh Adat, tokoh Agama dan tokoh Masyarakat.
BAB IV
PENYELENGGARAAN PENANGANAN GANGGUAN KETERTIBAN UMUM
Bagian Kesatu Tertib Jalan
Pasal 8 Setiap orang dilarang:
a. merusak, menerobos dan/atau melompati pagar/taman pemisah jalan;
b. mempergunakan sarana jalan untuk acara seremonial pribadi dan/atau kelompok kecuali mendapat izin dari pejabat yang berwewenang;
c. menempatkan dan/atau menumpuk barang atau material bangunan diatas bahu jalan dan/atau trotoar;
d. melakukan pengaturan lalu lintas pada persimpangan Jalan, tikungan, atau tempat balik arah yang dapat mengganggu arus lalu lintas kecuali oleh pihak yang berwenang;
e. menggelar lapak dagangan, mendirikan warung tenda, warung semi permanen atau sejenisnya;
f. mendirikan bangunan tanpa izin sesuai ketentuan Peraturan Perundang- undangan;
g. menggunakan trotoar dan bahu Jalan sebagai tempat berjualan dan parkir kendaraan.
Pasal 9
(1) setiap orang atau badan dilarang menutup jalan kecuali atas izin pejabat yang berwewenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
(2) Izin penutupan jalan oleh pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan terhadap jalur yang tidak memiliki akses langsung dengan rumah sakit dan pos penempatan mobil pemadam kebakaran.
Bagian Kedua Tertib Angkutan Jalan
Pasal 10
Setiap pengemudi angkutan jalan dilarang membunyikan musik dan/atau bunyian lainnya yang dapat mengganggu kenyamanan dan keselamatan penumpang dan masyarakat.
Pasal 11 Setiap orang atau badan dilarang:
a. mengangkut bahan berdebu, berbau busuk dan mudah tercecer dengan menggunakan alat angkut yang terbuka; dan
b. menyelenggarakan angkutan tanah tanpa dilengkapi izin yang sah.
Bagian Ketiga
Tertib Jalur Hijau dan Taman Kota Pasal 12
Setiap orang atau badan dilarang:
a. melakukan perbuatan yang dapat merusak jalur hijau atau taman kota yang telah ditetapkan pemerintah;
b. merusak, melompat atau menerobos pagar disepanjang jalur hijau dan taman kota;
c. memasang, menempel atau menggantungkan benda/barang disepanjang jalur hijau, taman kota dan tempat umum kecuali atas izin pejabat yang berwewenang;
d. menyimpan, mencuci atau memperbaiki kendaraan bermotor/tidak bermotor di jalur hijau, taman kota dan tempat umum kecuali atas izin pejabat yang berwewenang;
e. melakukan aktifitas bongkar muat disepanjang jalur hijau, taman kota dan tempat umum, kecuali atas izin pejabat yang berwewenang;
f. menyimpan barang bangunan atau benda lain disepanjang jalur hijau, taman kota dan tempat umum, kecuali atas izin pejabat yang berwewenang;
g. memanfaatkan jalur hijau, taman kota dan tempat umum, serta di bawah jembatan yang tidak sesuai dengan fungsinya kecuali atas izin pejabat yang berwewenang;
h. menyalahgunakan atau mengalihkan fungsi jalur hijau dan taman kota;
i. membuang air besar dan/atau kecil di jalur hijau, taman kota dan tempat umum kecuali di tempat yang telah disediakan; dan,
j. melakukan perbuatan atau tindakan yang berakibat terjadinya kerusakan pada sarana-prasarana jalur hijau dan taman kota.
Bagian Keempat Tertib Fasilitas Umum
Pasal 13
(1) Setiap orang wajib menjaga dan memelihara keberadaan, kerapian dan kebersihan fasilitas umum.
(2) Setiap orang dilarang mengotori, merusak dan/atau mengubah fasilitas umum yang telah disediakan.
(3) Setiap orang dilarang mencoret, mengotori, merusak, menulis, melukis/menggambar, memasang/menempel iklan di dinding/tembok fasilitas umum.
(4) Setiap Orang dilarang mengemis di Jalan, persimpangan lampu pengatur lalu lintas, di dalam angkutan umum, jembatan penyeberangan, area perkantoran dan Tempat Umum lainnya.
Bagian Kelima
Tertib Pemanfaatan Sungai, Saluran Dan Pesisir Pantai Pasal 14
Setiap orang dan/atau badan dilarang:
a. tinggal dan/atau tidur pada bantaran sungai dan saluran air/drainase;
b. mencuci benda yang dapat menyebabkan tercemarnya air laut dan sungai;
c. memanfaatkan material pesisir pantai dan sungai untuk kepentingan usaha kecuali atas izin pejabat yang berwewenang;
d. memindahkan saluran air/drainase, menyumbat, menutup secara parmanen saluran air/drainase sehingga tidak berfungsinya saluran air/drainase tanpa izin dari pejabat yang berwewenang;
e. membangun bangunan di atas dan/atau bantaran sungai dan saluran air/drainase.
f. membuang dahan dan batang kayu, pohon/pelepah pisang dan/atau sisa material bangunan disungai, saluran air dan dipesisir pantai.
Bagian Keenam Tertib Lingkungan
Paragraf 1
Tertib Membuang Sampah Pasal 15
(1) Setiap orang atau badan dilarang membuang dan/atau menumpuk sampah di jalan, jalur hijau, taman kota, pesisir pantai, sungai, saluran air/drainase dan tempat-tempat lain, kecuali tempat yang telah disediakan.
(2) Setiap orang atau badan dilarang membuang benda yang menimbulkan bau busuk yang mengganggu warga sekitarnya.
Paragraf 2
Tertib Keindahan Kota Pasal 16
Setiap orang atau badan dilarang merusak, mencoret, menulis, melukis dan menempel iklan yang bukan pada tempatnya yang dapat mengganggu keindahan kota, seperti:
a. sarana umum yang berupa dinding atau tembok, pagar, halte, tiang listrik dan pohon kecuali atas izin pejabat yang berwenang.
b. bangunan milik perorangan atau badan tanpa seizin pemiliknya.
Paragraf 3
Tertib Penggalian Dan Pengurugan Tanah Pasal 17
Setiap orang atau badan dilarang melakukan penggalian dan/atau pengurugan tanah yang tidak sesuai dengan izin/rekomendasi dari pejabat yang berwewenang dan dapat membahayakan orang lain dan lingkungan di sekitar.
Bagian Ketujuh Tertib Bangunan
Pasal 18
Setiap orang atau badan dilarang mendirikan bangunan di atas tanah milik negara atau pemerintah daerah, fasilitas sosial atau fasilitas umum milik pemerintah, ruang jalan dan saluran sungai kecuali bangunan yang bersifat sementara dengan izin pejabat yang berwewenang.
Bagian Kedelapan Tertib Pendidikan
Pasal 19 Setiap peserta didik dilarang:
a. berada di luar sekolah atau bepergian pada jam pelajaran tanpa izin dari lembaga pendidikan yang bersangkutan;
b. mengikuti kegiatan, kampanye politik dengan menggunakan seragam sekolah di waktu belajar atau sedang mengikuti program kegiatan belajar mengajar;
dan
c. menggunakan atribut lambang atau simbol yang dilarang oleh ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
BAB V
PENYELENGGARAAN PENANGANAN GANGGUAN KETENTERAMAN MASYARAKAT
Bagian Kesatu Tertib Berjualan
Pasal 20
Setiap orang atau badan dilarang berjualan ditepian jalan/trotoar, jalur hijau, taman kota, lampu pengatur lalu lintas, drainase, jembatan penyeberangan orang dan bantaran sungai serta tempat umum lainnya, kecuali diizinkan pejabat yang berwewenang.
Pasal 21
(1) Setiap orang atau badan dilarang berjualan daging dan ikan mentah di halaman rumah pribadi dan/atau tanah kosong milik pribadi, kawasan strategis yang berdampak pada ketidaknyamanan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
(2) Larangan berjualan daging dan ikan mentah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kecuali atas izin pejabat berwenang.
Pasal 22
Setiap orang atau badan dilarang menjual dan/atau memperdagangkan kembang/bunga api, petasan dan segala bentuk mainan yang dapat membahayakan anak-anak, pengguna dan/atau masyarakat, kecuali atas izin pejabat yang berwewenang.
Bagian Kedua
Tertib Tempat Hiburan Dan Keramaian Paragraf 1
Tertib Jasa Hiburan Pasal 23
(1) Setiap orang atau badan yang menyediakan jasa usaha hiburan wajib mendapat izin dari pejabat yang berwewenang.
(2) Setiap orang atau badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menjamin usahanya tidak mengganggu kenyamanan, ketertiban dan ketenteraman masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Paragraf 2 Tertib Keramaian
Pasal 24
(1) Setiap orang, badan atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan keramaian umum wajib memperoleh izin dari pejabat yang berwewenang.
(2) Pelaksanaan keramaian umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan batasan waktu sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
(3) Musik yang digunakan dalam keramaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengganggu waktu beribadah, kenyamanan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Bagian Ketiga Tertib Sosial
Paragraf 1 Pungutan Liar
Pasal 25
Setiap orang atau badan dilarang melakukan dan/atau mengorganisir dan menyuruh melakukan aktifitas pungutan liar dengan dalil apapun di areal jalan persimpangan lampu pengatur lalu lintas, di dalam angkutan umum, jembatan penyeberangan, areal perkantoran dan tempat umum lainnya.
Paragraf 3 Tertib Bermasyarakat
Pasal 26
(1) Setiap orang dilarang melakukan dan/atau mengajak atau menyuruh melakukan perkelahian antara sesama warga, kelompok dan/atau antar kelurahan/desa.
(2) Setiap orang atau badan dilarang membunyikan sesuatu yang berasal dari kembang/bunga api atau bunyian lain yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat, kecuali atas izin pejabat berwewenang.
(3) Setiap orang atau badan dan kelompok orang dilarang melakukan perbuatan yang menimbulkan kegaduhan di sekitar tempat tinggal dan/atau suatu perbuatan yang dapat menganggu ketenteraman orang lain.
Paragraf 4 Tertib Berunjuk Rasa
Pasal 27
Setiap orang atau badan yang melakukan aktifitas unjuk rasa menyampaikan pendapat di muka umum/demonstrasi dilarang merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.
Bagian Keempat Tertib Kependudukan
Pasal 28
Setiap orang atau badan yang datang berkunjung atau bertamu lebih dari 1 x 24 jam (satu kali dua puluh empat jam) wajib melaporkan diri kepada pengurus rukun tetangga/rukun warga atau aparat kelurahan setempat.
Pasal 29
Setiap pemilik rumah kontrakan dan/atau rumah kos wajib melaporkan setiap penghuni kontrakan dan/atau rumah kosnya kepada ketua rukun tetangga dan ketua rukun warga setempat secara periodik setiap 3 (tiga) bulan sekali.
BAB VI
PENGENDALIAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 30
(1) Tindakan pengendalian gangguan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dilakukan oleh Satpol PP, melalui tindakan:
a. pencegahan;
b. pengawasan; dan c. penertiban
(2) Tindakan pembinaan dilaksanakan melalui kegiatan:
a. Sosialisasi dan penyuluhan peraturan perundang-undangan; dan b. pendidikan/pelatihan/bimbingan teknis.
(3) Tindakan pengendalian dan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat melibatkan dan/atau bekerjasama dengan Organisasi Perangkat Daerah terkait lainnya dan Institusi Polri dan TNI.
(4) Pembinaan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.
Pasal 31
Pelaksanaan pengawasan gangguan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat, dilakukan melalui kegiatan:
a. Pengamanan fasilitas pemerintahan, fasilitas umum, taman kota dan ruang terbuka publik;
b. Kegiatan patroli;
c. Pengawalan; dan
d. Pemanfaatan teknologi informasi yang dipasang pada fasilitas pemerintahan, fasilitas umum, taman kota dan ruang terbuka publik.
BAB VII
PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 32
(1) Masyarakat diberikan kesempatan untuk berperan serta dalam membantu upaya penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melapor kepada pihak yang berwewenang apabila mengetahui adanya pelanggaran terhadap ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.
(3) Pemerintah daerah wajib menindaklanjuti dan memberikan jaminan serta perlindungan kepada pelapor sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
BAB VIII PENDANAAN
Pasal 33
(1) Pendanaan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat bersumber dari:
a. anggaran pendapatan dan belanja daerah; dan b. sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
(2) Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
BAB IX
SANKSI ADMINISTRASI Pasal 34
(1) Setiap orang dan/atau badan usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11 a, Pasal 12 huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, Pasal 13, Pasal 14 huruf a, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 26 ayat (2) dan ayat (3) dan Pasal 27, Pasal 28 dan Pasal 29, akan dikenakan sanksi administrasi.
(2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. pencabutan izin;
d. pembubaran
e. penghentian/penutupan kegiatan; dan/atau f. pembongkaran/pengosongan/pemindahan.
BAB X
KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 36
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan yang diberikan kewewenangan khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang- udangan.
(3) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap atau jelas;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dialakukan sehubungan dengan tindak pidana penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
c. meminta keterangan atau barang bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
e. melakukan penggeledahan, untuk mengetahui barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau sanksi;
j. menghentikan penyidikan; dan/atau
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan disampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
BAB XI
KETENTUAN PIDANA Pasal 37
Setiap orang dan/atau badan dan kelompok masyarakat yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf b, Pasal 12 huruf a, Pasal 14 huruf b, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 23, dan Pasal 25, Pasal 26 ayat (1), diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Pasal 38
(1) Denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 merupakan pendapatan Daerah dan disetor ke kas Daerah.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 adalah pelanggaran.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39
Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini maka semua ketentuan yang berkaitan dengan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat di Kota Tidore Kepulauan dinyatakan tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini.
BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 40
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengeundangan Peraturan daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Tidore Kepulauan.
Ditetapkan di Tidore
pada tanggal 27 Oktober 2022 WALIKOTA TIDORE KEPULAUAN,
ALI IBRAHIM
Diundangkan di Tidore
pada tanggal 27 Oktober 2022 SEKRETARIS DAERAH
KOTA TIDORE KEPULAUAN,
ISMAIL DUKOMALAMO
LEMBARAN DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN TAHUN 2022 NOMOR 230.
NOMOR REGISTER PERATURAN DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN PROVINSI MALUKU UTARA NOMOR 13 TAHUN 2022.
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN NOMOR 12 TAHUN 2022
TENTANG
PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN KETENTERAMAN MASYARAKAT
I. UMUM
Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan sebagai sebuah daerah otonom yang diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan urusan yang bersifat wajib berkaitan dengan pelayanan dasar di bidang ketertiban umum, ketenteraman dan perlindungan masyarakat, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Pemberian kewenangan ini merupakan perwujudan dari tanggung jawab pemerintah daerah untuk dapat menciptakan rasa aman, tertib, tentram dalam berperilaku, disiplin, saling menghormati dalam tatanan hubungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu diperlukan sebuah regulasi yang dapat mengatur dan memberikan kepastian hukum bagi pemerintah dan masyarakat agar terciptanya ketertiban dan ketenteraman dalam masyarakat sebagai bentuk investasi sosial yang multiplier efek dan tidak bisa ditakar dengan ukuran material.
Untuk tercapainya tujuan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat, maka dibutuhkan kolaborasi antar Organisasi Perangkat Daerah khususnya Satuan Polisi Pamong Praja yang mempunyai tugas pokok dan fungsi menegakkan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah serta menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman dengan masyarakat dan intitusi Polri dan TNI guna terwujudnya rasa aman, damai, aman dan tenteram dalam kehidupan masyarakat dan dunia usaha demi kemajuan dan kesejahteraan seluruh warga masyarakat Kota Tidore Kepulauan.
Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat telah mendapat persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tidore Kepulauan pada tanggal 27 September 2022 dengan Keputusan DPRD Nomor 170/17/02/2022 tentang Persetujuan Terhadap 3 (tiga) Buah Rancangan Peraturan Daerah Menjadi Peraturan Daerah Kota Tidore Kepulauan.
II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Cukup jelas Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas Pasal 6
Cukup jelas Pasal 7
Cukup jelas Pasal 8
Cukup jelas Pasal 9
Cukup jelas Pasal 10
Cukup jelas Pasal 11
Cukup jelas Pasal 12
Cukup jelas Pasal 13
Cukup jelas Pasal 14
Cukup jelas Pasal 15
Cukup jelas Pasal 16
Cukup jelas Pasal 17
Cukup jelas Pasal 18
Cukup jelas Pasal 19
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Yang dimaksudkan dengan simbol yang dilarang antara lain yang mengandung profokasi, asusila, suku, ras, dan agama, organisasi terlarang dan lain-lain yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan adat istiadat setempat.
Pasal 20
Cukup jelas Pasal 21
Cukup jelas Pasal 22
Cukup jelas Pasal 23
Cukup jelas Pasal 24
Cukup jelas Pasal 25
Cukup jelas Pasal 26
Ayat (2) yang dimaksud kembang api atau bunga api adalah benda yang dapat mengeluarkan percikan api tunggal atau tersusun dan/atau semacamnya yang dapat menyala dan berwarna disertai letusan maupun tidak yang dapat menggangu ketentraman, kenyamanan dan keselamatan.
Pasal 27
Cukup jelas Pasal 28
Cukup jelas Pasal 29
Cukup jelas Pasal 30
Cukup jelas Pasal 31
Cukup jelas Pasal 32
Cukup jelas
Pasal 33
Cukup jelas Pasal 34
Cukup jelas Pasal 35
Cukup jelas Pasal 36
Cukup jelas Pasal 37
Cukup jelas Pasal 38
Cukup jelas Pasal 39
Cukup jelas Pasal 40
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN PROVINSI MALUKU UTARA TAHUN 2022 NOMOR 173.