PERATURAN
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA NOMOR 40/PER-DJPB/2021
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENYALURAN BANTUAN PEMERINTAH PERCONTOHAN BUDIDAYA MAGOT DI MASYARAKAT
TAHUN ANGGARAN 2021
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA,
Menimbang : a. bahwa untuk mendukung optimasliasasi produksi perikanan budidaya diperlukan ketersediaan pakan ikan baik pakan ikan buatan maupun pakan ikan alami dalam jumlah dan kualitas yang sesuai kebutuhan, perlu disusun petunjuk teknis penyaluran bantuan pemerintah percontohan budidaya magot di masyarakat;
b. bahwa sebagai tindak lanjut Pasal 15 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penyaluran Bantuan Pemerintah di Kementerian Kelautan dan Perikanan;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot di Masyarakat Tahun Anggaran 2021;
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5073);
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5870);
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2017 tentang Pembudidayaan Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 166);
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 111), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 5);
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 33), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 63);
6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1340), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 173/PMK.05/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1745);
7. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 48/PERMEN-KP/2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1114);
8. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penyaluran Bantuan Pemerintah di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 20);
9. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 62/PERMEN-KP/2020 tentang Pembentukan Produk Hukum di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1665);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYALURAN BANTUAN PEMERINTAH PERCONTOHAN BUDIDAYA MAGOT DI MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2021.
Pasal 1
Petunjuk teknis penyaluran bantuan pemerintah percontohan budidaya magot di masyarakat tahun anggaran 2021 dipergunakan sebagai acuan dalam rangka melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan pemerintah
percontohan budidaya magot di masyarakat tahun anggaran 2021.
Pasal 2
Petunjuk teknis penyaluran bantuan pemerintah percontohan budidaya magot di masyarakat tahun anggaran 2021 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, tercantum dalam Lampiran I dan II, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini.
Pasal 3
Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Lembar Persetujuan
NO Jabatan Paraf
1 Sesditjen Perikanan Budidaya 2 Direktur Pakan dan Obat Ikan
3 Kepala Bagian Hukum, Kerjasama dan Humas Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 9 Februari 2021
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA, ttd.
SLAMET SOEBJAKTO
LAMPIRAN I
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERIKANAN BUDIDAYA
NOMOR 40/PER-DJPB/2021 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENYALURAN BANTUAN PEMERINTAH PERCONTOHAN BUDIDAYA MAGOT DI MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2021
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pakan ikan merupakan salah satu faktor penentu dalam mendukung keberhasilan usaha pembudidayaan ikan, dan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi usaha pembudidayaan yang mencapai 60-70% (enam puluh persen sampai dengan tujuh puluh persen). Pakan yang sering digunakan dalam budidaya ikan terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami biasanya digunakan dalam bentuk hidup seperti (cacing, larva, ulat Magot, dan lain-lain). Sifat pakan alami yang mudah dicerna digunakan sebagai pakan ikan, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan kebutuhannya.
Terkait penyediaan pakan ikan buatan yang bermutu dengan harga terjangkau, diperlukan pasokan bahan baku dengan mutu yang terjamin dan kontinu serta ketersediaannya sesuai persyaratan.
Tantangan terbesar dalam penyediaan pakan ikan adalah bahwa sebagian besar bahan baku yang digunakan dalam proses produksi pakan, masih diimpor sehingga menyebabkan harga pakan ikan selalu cenderung naik dari waktu ke waktu menyesuaikan nilai tukar mata uang, sementara disatu sisi harga ikan hasil budidaya khususnya ikan air tawar relatif stabil, yang pada akhirnya menyebabkan margin keuntungan yang didapat pembudi daya menjadi rendah.
Data impor tepung ikan, yang merupakan bahan baku utama sumber protein dalam formulasi pakan ikan, tahun 2018 menunjukkan
angka yang cukup tinggi mencapai sekitar 112.500 (seratus dua belas ribu lima ratus) ton dengan nilai 66,5 (enam puluh enam koma lima ) juta US $ atau setara kurang lebih Rp. 933.000.000.000,00 (sembilan ratus tiga puluh tiga milyar rupiah). Volume impor tahun 2018 ini mengalami kenaikan hampir 60 % (enam puluh persen) dibanding tahun 2017 yang mencapai 73.000 (tujuh puluh tiga ribu) ton dengan nilai 55,7 (lima puluh lima koma tujuh) juta US $. Hal ini menjadi tantangan yang perlu di cari solusinya sehingga ketergantungan akan impor bahan baku tepung ikan dapat dikurangi namun produksi pakan ikan dan kualitasnya dapat tetap terjamin. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan pakan ikan mandiri berbasis bahan baku lokal, yaitu melalui budidaya Magot (belatung) dari hewan serangga lalat hitam Black Soldier Fly (Hermetia illucens), dengan memanfaatkan sampah limbah organik sebagai media tumbuh Magot.
Usaha budidaya Magot ini selain bermanfaat sebagai alternatif sumber protein bahan baku dalam formulasi pakan ikan dan sebagai pakan ikan alami dalam budidaya ikan, juga mempunyai dampak lain yang lebih luas seperti:
1. mengurangi limbah organik yang merupakan permasalahan di pemukiman;
2. menciptakan lingkungan yang bersih dari sampah organik;
3. sarana pemberdayaan masyarakat umum; dan 4. alternatif sumber ekonomi/pendapatan masyarakat.
Dalam rangka memasyarakatkan usaha budidaya Magot sebagai sumber bahan baku dan pakan ikan ini, Direktorat Pakan dan Obat Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, pada tahun 2021 ini akan melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan percontohan budidaya Magot di masyarakat, yang merupakan kelanjutan dari kegiatan yang sama tahun 2020 yang tidak terselesaikan pembangunan fisiknya. Magot hasil produksi, baik dalam bentuk hidup maupun tepung, selanjutnya akan digunakan dalam formulasi pakan ikan di kelompok pakan mandiri dan juga sebagai pakan ikan kepada kelompok pembudi daya ikan.
Guna menunjang pelaksanaan kegiatan agar dapat berjalan secara efektif dan optimal sesuai target, perlu disusun petunjuk teknis
penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021.
B. Tujuan
Tujuan penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat ini adalah untuk mendorong peningkatan produksi Magot yang akan digunakan sebagai bahan baku dan pakan ikan dengan memanfaatkan limbah organik sebagai media budidayanya.
C. Sasaran
Sasaran penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat ini adalah kelompok pembudi daya Magot yang telah melakukan kegiatan Pembudidayaan Magot, yang terintegrasi atau mempunyai koneksitas dengan kelompok pembuat pakan ikan mandiri dan/atau pembudi daya ikan sebagai pengguna Magot, dengan target:
1. meningkatnya produksi Magot hidup (fresh) sebanyak 250 kg (dua ratus lima puluh kilogram) per siklus per paket (setelah 15 (lima belas) hari) sebagai pakan ikan; dan
2. Terserapnya tenaga kerja langsung sebanyak 10 (sepuluh) orang dalam 1 (satu) kelompok yang akan mengelola/mengoperasional 1 (satu) unit rumah produksi Magot dengan kapasitas olah limbah organik 2,5 ton/hari (dua koma lima ton per hari).
D. Indikator Keberhasilan
Tersalurkannya 1 (satu) paket percontohan budidaya Magot kepada kelompok masyarakat Penerima Bantuan Pemerintah.
E. Pengertian
Dalam Petunjuk Teknis ini, yang dimaksud dengan:
1. Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat, yang selanjutnya disebut Bantuan Pemerintah adalah bantuan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya berupa Paket Percontohan Budidaya Magot untuk bahan baku dan pakan ikan di masyarakat.
2. Pembudidayaan Magot untuk bahan baku dan pakan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan/atau membiakkan serangga lalat hitam Black Soldier Fly (Hermetia illucens) untuk menghasilkan larva Magot dan memanen hasilnya untuk selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan dan pakan alami ikan.
3. Magot adalah larva dewasa serangga Black Soldier Fly (Hermetia illucens).
4. Pendampingan adalah kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam rangka penyaluran dan pemanfaatan bantuan.
5. Penerima Bantuan adalah kelompok masyarakat, kelompok masyarakat hukum adat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga keagamaan, yang diutamakan berbadan hukum dengan mengikuti ketentuan yang mengatur kelembagaan/organisasi dan lembaga pendidikan yang terdaftar di kementerian yang membidangi pendidikan atau Kementerian Agama.
6. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/Perangkat Daerah
7. Kuasa Pengguna Anggaran pada Pelaksanaan APBN yang selanjutnya disingkat KPA adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari PA untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan.
8. Kuasa Pengguna Barang yang selanjutnya disingkat KPB adalah adalah kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannyadengan sebaik-baiknya.
9. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara/anggaran belanja daerah.
10. Penyedia Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut Penyedia adalah Pelaku Usaha yang menyediakan barang/jasa berdasarkan kontrak.
11. Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan yang selanjutnya disingkat PPHP adalah tim yang bertugas memeriksa administrasi hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa Bantuan Pemerintah.
12. Tim Teknis Pemeriksa Barang adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh PPK yang bertugas membantu PPK memeriksa secara teknis barang/jasa sebelum diserahkan kepada penerima.
13. Petugas Operator SIMAK BMN adalah petugas yang diberi tugas melakukan pencatatan, pendistribusian, register, stok opname dan inventarisir terhadap Barang Milik Negara di suatu satuan kerja 14. Penyuluh Perikanan adalah Penyuluh Perikanan Pegawai Negeri
Sipil dan PPB.
15. Penyuluh Perikanan Pegawai Negeri Sipil adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup perikanan untuk melakukan kegiatan penyuluhan;
16. Penyuluh Perikanan Bantu yang selanjutnya disingkat PPB adalah tenaga teknis yang diberi tugas dan kewenangan oleh pejabat yang berwenang di pusat untuk melakukan tugas penyuluhan perikanan dalam suatu ikatan kerja selama jangka waktu tertentu.
17. Direktorat Jenderal adalah unit kerja eselon I pada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melaksanakan tugas teknis di bidang perikanan budidaya.
18. Direktorat Pakan dan Obat Ikan adalah direktorat di lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang melaksanakan tugas teknis di bidang pakan dan obat ikan, serta melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan percontohan budidaya Budidaya Magot di masyarakat.
19. Unit Pelaksana Teknis adalah unit pelakasana teknis untuk melaksanakan tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang di lingkup Direktorat Jenderal.
20. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Perikanan Budidaya.
21. Dinas Provinsi adalah satuan kerja perangkat daerah di provinsi yang membidangi urusan kelautan dan perikanan.
22. Dinas Kabupaten/Kota adalah satuan kerja daerah di kabupaten/kota yang membidangi urusan perikanan.
23. Kepala Dinas Kabupaten/Kota adalah kepala satuan kerja daerah di kabupaten/kota yang membidangi urusan perikanan.
BAB II
PEMBERI, PAKET, BENTUK, DAN SPESIFIKASI BANTUAN PEMERINTAH
A. Pemberi Bantuan Pemerintah
Satuan kerja pemberi Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021 adalah satuan kerja Direktorat Pakan dan Obat Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan
B. Bentuk Bantuan Pemerintah
Jenis Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot untuk bahan baku dan pakan ikan tahun anggaran 2021 adalah bantuan sarana/prasarana diberikan dalam bentuk barang (bangunan, bak, peralatan bahan, dan kendaraan), dengan uraian sebagaimana tercantum pada Tabel 1.
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan
1 Bangunan/
Ruang
1 bangunan produksi Magot ukuran (37,7m x 18m) (tiga puluh tujuh koma tujuh meter dikali delapan belas meter) =678 m2 (enam ratus tujuh puluh delapan meter persegi)
1 (satu) Unit
2 ruang pengolah
sampah ukuran (13,95m x 3,55m) (tiga belas koma sembilan puluh lima meter dikali tiga koma lima puluh lima meter) = 49,52 m2 (empat puluh sembilan koma lima puluh dua meter persegi) dalam bangunan produksi Magot
1 (satu) Unit
3 bangunan kandang
lalat (insektarium) ukuran (16m x 7m) (enam belas meter
1 (satu) Unit
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan dikali tujuh meter) =
112 m2 (seratus dua belas meter persegi), di luar bangunan produksi Magot
4 kandang lalat ukuran (4m x 4m) (empat meter dikali empat meter) = 16m2 (enam belas meter persegi) dengan dinding jaring hapa dan atap transparan, di dalam bangunan
insektarium
4 (empat) Unit
5 ruang kawin lalat ukuran (4m x 3m) (empat meter dikali tiga meter)= 12 m2 (dua belas meter persegi), ruang gelap di dalam bangunan insektarium
4 (empat) Unit
6 ruang kantor ukuran (4,575m x 3,85m) (empat koma lima ratus tujuh puluh lima mater dikali tiga koma delapan puluh lima meter) = 17,61 m2 (tujuh belas koma enam puluh satu meter persegi), di dalam bangunan produksiMagot
1 (satu) Unit
7 ruang panen dan pengolahan ukuran (7,85m x 3,85m) (tujuh koma delapan puluh lima meter) dikali tiga koma delapan puluh lima meter) = 30,22 m2 (tiga puluh koma dua dua meter persegi), di dalam bangunan produksiMagot
1 (satu) Unit
8 bangunan lele bioflok (10,5m x 9m) (sepuluh koma lima
1 (satu) Unit
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan meter dikali sembilan
meter) = 94,5 m2 (sembilan puluh empat koma lima meter persegi), diluar bangunan produksi Magot
9 ruang gudang ukuran (2,77m x 2,11m) (dua koma tujuh puluh tujuh meter dikali dua koma sebelas meter) = 5,84 m2 (lima koma delapan puluh empat meter persegi), di dalam bangunan produksiMagot
1 (satu) Unit
10 ruang toilet ukuran (1,57m x 1,42m) (satu koma lima puluh tujuh meter dikali satu koma empat puluh dua meter) = 2,23 m2 (dua koma dua puluh tiga meter persegi), di dalam bangunan produksi Magot
2 (Dua) Unit
11 menara air ukuran dasar (1,5m x 1,5m) (satu koma lima meter dikali satu koma meter) = 2,25 m2 (dua koma dua puluh lima meter persegi), tinggi 3 m (tiga meter), di luar bangunan produksi Magot
1 (satu) Unit
2 Bak/Rak 12 bak pembesaran Magot (biopond) ukuran (3,78m x 0,8m x 0,2m) (tiga koma tujuh puluh delapan meter dikali nol koma delapan meter dikali nol koma dua meter) = 0,6 m3 (nol koma enam
112 (seratus dua belas)
Unit
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan meter kubik)
bertingkat 2 (dua)
13 bak pemeliharaan pre-pupa (prepupa pond) ukuran (2,13m x 0,9m x 0,2m) (dua koma tiga belas meter dikali nol koma sembilan meter dikali nol koma dua meter)
= 0,38 m3 (nol koma tiga puluh delapan meter kubik)
70 (tujuh
puluh) Unit
14 rak penetasan / pemanenan telur baja ringan susun 9 (sembilan) total ukuran panjang 7,46 m (tujuh koma empat puluh enam meter), lebar 0,58 m (nol koma lima puluh delapan meter) dan tinggi 2,21 m (dua koma dua puluh satu meter)
1 (satu) Unit
15 bak pelataran pemilahan sampah ukuran (9,05m x 3,55m x 1m) (sembilan koma nol lima meter dikali tiga koma lima puluh lima meter dikali satu meter)= 32,13 m3 (tiga puluh dua koma tiga belas meter kubik)
1 (satu) Unit
16 bak pencacahan sampah ukuran (4,9m x 3,55m x 1m) empat koma sembilan meter dikali tiga koma lima puluh lima meter dikali satu meter) = 17,40 m3 (tujuh belas koma empat puluh meter kubik)
1 (satu) Unit
17 bak pemeliharaan lele 6 (enam) Unit
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan bioflok ukuran
diameter 3 m (tiga meter), tinggi 1 m (satu meter) = 3 m3 (tiga meter kubik) didalam bangunan lele bioflok
3 Peralatan 18 conveyer 1 (satu) Unit
19 mesin pencacah sampah kapasitas 1000 kg/jam (seribu kilogram per jam)
1 (satu) Unit
20 mesin pengayak 3
(tiga) layer 1 (satu) Unit
21 mesin steam
pembersih 1 (satu) Unit
22 mesin sprayer kabut 1 (satu) Unit
23 mesin pengering
rotari 1 (satu) Unit
24 mesin penepung 1 (satu) Unit
25 mesin press minyak
Magot 1 (satu) Unit
26 mesin genset portable
5.000 (lima ribu) Watt 1 (satu) Unit 27 trolley kapasitas 300
kg (tiga ratus
kilogram) 3 (tiga) Unit
28 timbangan duduk digital, kapasitas 500 kg (lima ratus kilogram)
2 (dua) Unit
29 container box untuk minilarvae ukuran (75cm x55cm x45cm) (tujuh puluh lima centimeter dikali lima
puluh lima
centimeter dikali empat puluh lima centimeter)
45 (empat puluh
lima)
Unit
30 cutter alat panen
telur 25 (Dua
puluh Unit
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan lima)
31 baskom tempat telur ukuran (59cm x 45cm x 15cm) (lima puluh sembilan centimeter dikali empat puluh lima centimeter dikali lima belas centimeter)
325 (tiga ratus dua
puluh lima)
Unit
32 ember kapasitas 120 (seratus dua puluh) liter
40 (empat puluh)
Unit
33 perlengkapan kerja (wearpack, sepatu alat pelindung diri, helm proyek, sarung tangan,)
10
(sepuluh) Set
34 Sekop
3 (tiga) Unit 4 Instalasi/
Jaringan
35 listrik PLN 1 (satu) Paket
36 air bersih 1 (satu) Paket
5 Bahan
Operasional 37 sampah organik 75 (tujuh puluh
lima)
Ton
38 telur Magot 1600
(seribu enam ratus)
Gram
39 pre-puppa black
soldier fly 250 (Dua ratus lima
puluh)
Kilogram
40 kemasan pupuk 60 (enam
puluh) Unit 41 Bahan bakar minyak 1 (satu) OB
42 pemeliharaan 1 (satu) OB
6 Kendaraan 43 kendaraan roda tiga 3 (tiga) Unit 7 Bahan uji
coba lele bioflok
44 benih lele 21.000
(dua puluh satu ribu)
Ekor
No Jenis Barang No Item Jumlah Satuan 45 pakan ikan lele 3.070 (tiga
ribu tujuh puluh)
Kg
C. Rincian Jenis, Jumlah, dan Spesifikasi Bantuan Pemerintah
Rincian jenis, jumlah, dan spesifikasi Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot sebagai bahan baku dan pakan ikan tahun anggaran 2021, sebagaimana tercantum pada Tabel-2 berikut.
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi
1 Bangunan
produksi Magot 1 (satu) Unit ukuran 37,7m x 18 m (tiga puluh tujuh koma tujuh meter dikali delapan belas meter) = 678 m2 (enam ratus tujuh puluh delapan meter persegi), kerangka dan tiang atap baja ringan, atap spandek, lantai dasar semen
2 Ruang pengolah sampah (di dalam gedung Magot)
1 (satu) Unit ukuran 13,95 m x 3,55m (tiga belas koma sembilan puluh lima meter dikali tiga koma lima puluh lima meter) = 49,52 m2 (empat puluh sembilan koma lima puluh dua meter persegi).
3 Bangunan kandang lalat (insektarium)
1 (satu) Unit ukuran 16m x 7m (enam belas meter dikali tujuh meter) = 112 m2 (Seratus dua belas meter persegi).
ruang insektarium tertutup rapat dengan jaring hapa hitam mesh size 2-3 mm (dua sampai dengan tiga millimeter), atap transparan
4 Kandang pemeliharaan lalat
4 (empat) Unit ukuran (4m x 4m) (empat meter dikali empat meter)
= 16 m2 (enam belas meter persegi), dinding jaring hapa, atap transparan
5 Ruang kawin lalat 4 (empat) Unit ukuran (4m x 3m) (empat meter dikali tiga meter) = 12 m2 (dua belas meter persegi), dinding jaring hapa, atap gelap
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi
6 Ruang kantor 1 (satu) Unit ukuran 4,575m x 3,85m (empat koma lima ratus tujuh puluh lima meter dikali tiga koma delapan puluh lima meter) = 17,61 m2 (tujuh belas koma enam puluh satu meter persegi), dengan pintu penghubung ruang produksi
7 Ruang panen dan
pengolahan 1 (satu) Unit Ukuran 7,85m x 3,85m (tujuh koma delapan puluh lima meter dikali tiga koma delapan puluh lima meter) = 30,22 m2 (tiga puluh koma dua puluh dua meter persegi), didalam bangunan produksi Magot,
8 Bangunan lele
bioflok 1 (satu) Unit ukuran 10,5m x 9 m (sepuluh koma lima meter dikali sembilan meter) = 94,5 m2 (sembilan puluh empat koma lima meter persegi), di luar bangunan produksi Magot, tanpa dinding, atap transparan 9 Ruang gudang
penyimpanan 1 (satu) Unit Ukuran 2,77m x 2,11m (dua koma tujuh puluh tujuh meter dikali dua koma sebelas meter) = 5,84 m2 (lima koma delapan puluh empat meter persegi), didalam bangunan produksi Magot, dinding penyekat dengan ruang produksi 10 Toilet 2 (Dua) Unit Ukuran 1,57m x 1,42m
(satu koma lima puluh tujuh meter dikali satu koma empat puluh dua meter) = 2,23 m2 (dua koma dua puluh tiga meter persegi), didalam bangunan produksi Magot, dinding penyekat dengan ruang produksi 11 Menara air 1 (satu) Unit Ukuran kaki dasar
menara 1,5m x 1,5m (satu koma lima meter dikali satu koma lima meter) = 2,25 m2 (dua
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi
koma dua puluh lima meter persegi), tinggi 3 m (tiga meter), kerangka menara besi baja
12 Bak pembesaran
Magot (biopond) 112 (Seratus dua belas)
Unit Ukuran bak 3,78m x 0,8m x 0,2m (tiga koma tujuh puluh delapan meter dikali nol koma delapan meter dikali nol koma dua meter) = 0,6 m3 (nol koma enam meter kubik), bertingkat 2 (dua) Bak terbuat dari hebel ukuran 60cm x 20cm x 10cm (enam puluh centimeter dikali dua puluh centimeter dikali sepuluh centimeter)
13 Bak pemeliharaan Pupa (Pre-pupa pond)
70 (tujuh
puluh) Unit Ukuran bak 2,13m x 0,9m x 0,2m (dua koma tiga belas meter dikali nol koma sembilan meter dikali nol koma dua meter) = 0,38 m3 (nol koma tiga puluh delapan meter kubik)
Bak terbuat dari hebel ukuran 60cm x 20cm x 10cm (enam puluh centimeter dikali dua puluh centimeter dikali sepuluh centimeter)
14 Rak penetasan /
pemanen telur 1 (satu) Unit Rak terdiri dari 9 (sembilan) susun, dari dasar 40 cm (empat puluh centimeter);
panjang total rak 7,46 m (tujuh koma empat puluh enam meter), lebar total rak 0,58 m (nol koma lima puluh delapan meter), dan tinggi total 2,21 m (dua koma dua puluh satu meter), terbuat dari baja ringan holo
15 Bak pelataran pemilahan sampah
1 (satu) Unit Bak pelataran pemilahan sampah terbuat dari semen ukuran 9,05m x 3,55m x 1m (sembilan koma nol lima meter dikali tiga koma lima puluh lima meter dikali
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi
satu meter) = 32,13 m3 (tiga puluh dua koma tiga belas meter kubik) 16 Bak pelataran
pencacahan sampah
1 (satu) Unit bak pelataran pemilahan sampah terbuat dari semen ukuran 4,9m x 3,55m x 1m (empat koma sembilan meter dikali tiga koma lima puluh lima meter dikali satu meter) = 17,40 m3 (tujuh belas koma empat puluh meter kubik)
17 Bak pemeliharaan ikan lele model bioflok
6 (enam) Unit Ukuran diameter 3 m (tiga meter), tinggi 1 m (satu meter), volume 3 m3 (tiga meter kubik), dinding bak besi dan dilapisi plasti HDPE
18 Conveyer 1 (satu) Unit panjang 6 m (enam meter) lebar 50 cm (lima puluh centimeter), lebar Belt min 50 cm (lima puluh centimeter) cotton rubber 2 (dua) ply, sistem jalan vertikal 70% (tujuh puluh persen) maks, motor 2 HP (dua horsepower) 3 (tiga) phase
19 Mesin Pencacah
Sampah 1 (satu) Unit kapasitas 1000 kg/jam (seribu kilogram per jam), motor 10 HP (sepuluh horsepower) 3 (tiga) phase, jumlah pisau 24 (dua puluh empat), model zigzag, bahan baja 20 Mesin Pengayak 1 (satu) Unit susun 3 (tiga), Screening
mesh 3 mm (tiga milimeter), 5 mm (lima milimeter), 10 mm (sepuluh milimeter), kapasitas 50 – 100 kg/jam (lima puluh sampai dengan seratus kilogram per jam), dimensi 70cm x 70cm x 100cm (tujuh puluh centimeter dikali tujuh puluh centimeter dikali seratus centimeter)
21 Mesin Steam 1 (satu) Unit Pressure 50 (lima puluh)
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi
Pembersih kgf/cm2 (kilogram force
per centimeter persegi), daya listrik 1,5 – 3 HP (satu koma lima sampai dengan tiga horsepower), kecepatan mesin 300- 1000 RPM (tiga ratus sampai dengan seribu rotary per menit), daya hisap air max 30 l/menit (tiga puluh liter per menit)
22 Mesin Sprayer
Kabut 1 (satu) Unit 1 (satu) set dengan pompa, max tekanan 130 (seratus tiga puluh) PSI, selang 3/8” 100 m (seratus meter),
23 Mesin pengering rotari
1 (satu) Unit dimensi 600cm x 60cm x 100cm (enam ratus cenitmeter dikali enam puluh centimeter dikali seratus centimeter), motor 3 HP (tiga horse power), electric panel, compressor 2 HP (dua horse power), bahan bakar gas, kapasitas + 300 kg/hari (kurang lebih tiga ratus kilogram per hari)
24 Mesin penepung 1 (satu) Unit dimensi 60cm x 85cm x 120cm (enam puluh centimeter dikali delapan puluh lima centimeter dikali seratus dua puluh centimeter), penggerak mesin Kubota 10 HP (sepuluh horsepower) 3 (tiga) phase, ukuran saringan 0,5 mm (nol koma lima millimeter), 2 mm (dua millimeter) dan 3 mm (tiga milimeter), bahan stainless steel 25 Mesin Press
Minyak Magot 1 (satu) Unit Dimensi 60cm x 60cm x 120cm (enam puluh centimeter dikali enam puluh centimeter dikali seratus dua puluh centimeter), 300 (tiga ratus) watt kapasitas 2-3 kg/jam (dua sampai dengan tiga kilogram per
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi
jam), bahan stainless steel
26 Mesin genset portable 5.000 Watt
1 (satu) Unit 5.000 (lima ribu) watt, silent, portable
27 Trolley kapasitas 300 Kg (tiga ratus kilogram))
3 (tiga) Unit trolley stainless steel, kapasitas 300 kg (tiga ratus kilogram), dimensi min 70cm x45cm x 85cm (tujuh puluh centimeter dikali empat puluh lima centimeter dikali delapan puluh lima centimeter) 28 Timbangan duduk 2 (dua) Unit timbangan duduk digital
kapasitas maksimal 500 kg (lima ratus kilogram) 29 Container Box
untuk minilarvae 45 (empat puluh
lima)
Unit bahan plastik, dimensi 75cm x 75cm x 45cm (tujuh puluh lima centimeter dikali tujuh puluh lima centimeter dikali empat puluh lima centimeter), volume min 150 (seratus lima puluh) liter, dilengkapi roda 30 Cutter alat Panen
Telur 25 (dua
puluh lima)
Set tipe cutter besar L-500 dengan autolock, dapat di isi ulang
31 Baskom (tempat
panen telur) 325 (tiga ratus dua
puluh lima)
Unit bahan plastik, ukuran panjang 59 cm (lima
puluh sembilan
centimeter), lebar 45 cm (empat puluh lima centimeter), tinggi 15 cm (lima belas centimeter) 32 Ember plastik 40 (empat
puluh) Unit Bahan plastik kapasitas 120 l (Seratus dua puluh liter)
33 Perlengkapan
Kerja (Orang) 10
(sepuluh) Set Sekop, sepatu alat pelindung diri, sarung tangan, masker, dan kacamata
34 Sekop 3 (Tiga) Unit sekop besar, dimensi panjang total 95cm – 105 cm (sembilan puluh lima centimeter dikali seratus lima centimeter), lebar kepala sekop 23cm -24 cm (dua puluh tiga centimeter sampai dengan dua puluh empat centimeter),
No Item Jumlah Satuan Spesifikasi 35 Listrik PLN 1 (satu) Paket panel, kabel, dan trafo 36 Air Bersih 1 (satu) Paket pemipaan dan pompa air 37 Sampah Organik 75 (tujuh
puluh lima)
Ton sampah bersih, dari jenis buah sayuran, sisa restoran, pertanian, dan lain-lain.
38 Telur Magot 1600 (seribu
enam ratus)
Gram kondisi baik, segar tidak rusak/busuk, dan penetasan tinggi
39 Pre – Puppa Black
Soldier Fly 250 (dua ratus
lima puluh)
Kilo
gram kondisi sehat, 7-12 (tujuh sampai dengan dua belas) hari siap menjadi indukan,
40 Kemasan pupuk 60 (enam
puluh) Unit karung plastik, ukuran 60cm x 100 cm (enam puluh centimeter dikali seratus centimeter), setara isi 50 kg (lima puluh kilogram)
41 Bahan Bakar
Minyak (BBM) 1 (satu) OB PLN/Solar 42 Pemeliharaan 1 (satu) OB
43 Kendaraan roda tiga
3 (tiga) Unit TRISEDA; KAISAR, 2 (dua), Viar kapasitas 500 kg (lima ratus kilogram);
bank sampah keliling 44 Benih ikan lele 21.000
(Dua puluh satu ribu)
Ekor Ukuran min 10 cm (sepuluh centimeter), benih sehat, tidak cacat 45 Pakan ikan lele 3.070
(Tiga ribu tujuh puluh)
Kg Ukuran 2mm – 3 mm (dua milimeter sampai dengan tiga milimeter), protein min 30% (tiga puluh persen), pakan teregister di Kementerian Kelautan dan Perikanan
Gambar-1 Denah Tata Letak Percontohan Budidaya Magot
Keterangan :
1. Bak pemeliharaan Magot/larva ukuran (3,78 x 0,8 x 0,2) meter berjumlah 112 unit
2. Bak prepupa dengan bidang miring ukuran (2,13 x 0,8 x 0,2) meter berjumlah 70 unit
2 1
BAB III
PERSYARATAN PENERIMA,
TATA KELOLA, PENETAPAN DAN PENYALURAN BANTUAN PEMERINTAH
A. Persyaratan Penerima Bantuan Pemerintah
Penerima Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021 harus memenuhi:
1. Persyaratan Lokasi
Persyaratan lokasi Penerima Bantuan Pemerintah adalah:
a. tersedia limbah organik, minimal 2 ton/hari (dua ton perhari);
b. tersedia lahan siap pakai minimal 1.500 m2 (seribu lima ratus meter persegi) yang dikuasai secara legal dan dibuktikan dengan surat pernyataan kesepakatan kelompok;
c. mendapat persetujuan dari pemerintah setempat;
d. diutamakan berada di dekat sentra kelompok pembuat pakan ikan mandiri (gerakan pakan ikan mandiri) dan/atau sentra kawasan budidaya ikan;
e. tersedia sumber energi listrik (minimal 11 (sebelas) KwH) dan/atau bahan bakar minyak;
f. tersedia sumber air tawar; dan
g. memiliki kemudahan aksesbilitas (transportasi minimal mudah dijangkau kendaraan roda tiga dan akses komunikasi).
2. Persyaratan Administratif:
a. Kriteria calon Penerima Bantuan Pemerintah yaitu:
1) kelompok masyarakat, kelompok masyarakat hukum adat, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan, dan lembaga keagamaan;
2) kelompok masyarakat sebagaimana yang dimaksud pada angka 1), dengan persyaratan:
a) terdaftar di laman satu data; dan
b) berbadan hukum atau terdaftar di dinas.
3) kelompok masyarakat hukum adat sebagaimana yang dimaksud pada angka 1), dengan persyaratan:
a) terdaftar di laman satu data;
b) mendapatkan penetapan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c) melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian kearifan lokal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
4) lembaga swadaya masyarakat sebagaimana yang dimaksud pada angka 1), dengan persyaratan:
a) terdaftar di laman satu data; dan b) berbadan hukum.
5) Lembaga pendidikan sebagaimana yang dimaksud pada angka 1), dengan persyaratan:
a) terdaftar di laman satu data; dan
b) terdaftar pada kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pendidikan, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama, atau Dinas Provinsi atau kabupaten/kota yang membidangi urusan pendidikan.
6) Lembaga Keagamaan sebagaimana yang dimaksud pada angka 1), dengan persyaratan:
a) terdaftar di laman satu data; dan
b) berbadan hukum atau terdaftar di kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama.
b. memiliki identitas yang legal dan alamat jelas;
c. belum pernah menerima bantuan sejenis pada 1 (satu) tahun sebelumnya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan atau instansi lainnya;
d. menyediakan tempat produksi yang dikuasai secara legal yang dibuktikan dengan surat pernyataan;
e. anggota atau pengurus kelompok calon penerima bukan kepala desa/lurah dan perangkat desa/kelurahan, Aparatur Sipil Negara/Badan Usanha Milik Negara/Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia/Anggota Legislatif dan Penyuluh/PPB;
f. jumlah anggota kelompok bantuan minimal 10 (sepuluh) orang;
g. penanggung jawab memiliki sarana komunikasi telepon gengggam/Smartphone yang dapat dihubungi;
h. memiliki sumber daya manusia yang memahami pengetahuan tentang operasional mesin, budidaya Magot, dan/atau pembuatan pakan ikan; dan
i. bersedia mendapatkan Pendampingan dari petugas teknis/
Penyuluh Perikanan.
B. Tata Kelola Bantuan Pemerintah
Tata kelola Bantuan Pemerintah ini melibatkan organisasi pelaksana yang terdiri dari kelompok kerja Pusat, Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota, Penyuluh Perikanan, dan Penerima Bantuan. Organisasi tata laksana mempunyai tugas sebagaimana uraian di bawah ini:
1. Kelompok Kerja Pusat:
Kelompok kerja pusat terdiri dari Direktorat Jenderal dan unit pelaksana teknis lingkup Direktorat Jenderal, mempunyai tugas:
a. menyusun petunjuk teknis penyaluran Bantuan Pemerintah;
b. melakukan koordinasi dengan instansi terkait;
c. melakukan sosialisasi Bantuan Pemerintah ke Dinas Provinsi, Kabupaten/Kota dan penyuluh;
d. menerima usulan Bantuan Pemerintah;
e. melakukan verifikasi calon penerima yang dituangkan dalam berita acara hasil identifikasi dan verifikasi sebagaimana pada Formulir 3b;
f. melakukan evaluasi hasil verifikasi dan mengusulkan calon Penerima Bantuan kepada PPK, dengan mempertimbangkan persyaratan dalam petunjuk teknis dan ketersediaan jumlah Bantuan Pemerintah;
g. menetapkan Penerima Bantuan Pemerintah;
h. melaksanakan penyaluran Bantuan Pemerintah;
i. melakukan monitoring dan evaluasi penyaluran Bantuan Pemerintah terhadap realisasi produksi Magot, pemanfaatan Bantuan Pemerintah, dan kesesuaian tujuan Bantuan Pemerintah;
j. membuat dan menyampaikan laporan penyaluran Bantuan Pemerintah secara berkala kepada Direktur Jenderal sebagaimana pada Formulir 11; dan
k. menugaskan Unit Pelaksana Teknis untuk melakukan Pendampingan teknis dan monitoring penyaluran Bantuan Pemerintah.
2. Dinas Provinsi:
a. melakukan koordinasi dengan kelompok kerja pusat dan Dinas Kabupaten/Kota ;
b. melakukan sosialisasi Bantuan Pemerintah kepada kabupaten/kota;
c. dapat melakukan pendampingan pelaksanaan verifikasi calon Penerima Bantuan Pemerintah bersama dengan kelompok kerja pusat dan Dinas Kabupaten/Kota;
d. menerima tembusan laporan hasil monitoring dan evaluasi dari Dinas Kabupaten/Kota untuk dapat digunakan sebagai bahan penyusunan kebijakan pengembangan budidaya Magot atau perikanan budidaya di provinsi; dan
e. menyampaikan/meneruskan laporan hasil monitoring dan evaluasi Dinas Kabupaten/Kota kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya C.q Direktorat Pakan dan Obat Ikan.
3. Dinas Kabupaten/Kota:
a. melakukan koordinasi dengan kelompok kerja pusat dan Dinas Provinsi ;
b. melakukan sosialisasi Bantuan Pemerintah kepada kelompok pembudi daya Magot dan pembudi daya ikan;
c. melakukan identifikasi kelompok calon Penerima Bantuan Pemerintah bersama Penyuluh Perikanan;
d. mendampingi Kelompok kerja pusat dalam melakukan verifikasi calon Penerima Bantuan Pemerintah;
e. melakukan Pendampingan dalam penyusunan proposal dan dokumen yang dipersyaratkan dalam petunjuk teknis;
f. menyampaikan proposal calon Penerima Bantuan Pemerintah kepada Direktur Jenderal dengan ditembuskan ke Dinas
Provinsi dan melakukan input calon Penerima Bantuan melalui laman satudata.kkp.go.id pada modul Kusuka;
g. melakukan Pendampingan kepada Penerima Bantuan pada saat menerima Bantuan Pemerintah;
h. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan penyaluran Bantuan Pemerintah; dan
i. menyampaikan laporan produksi/pemanfaatan bantuan kendala/permasalahan berdasarkan hasil monitoring kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya C.q Direktorat Pakan dan Obat Ikan.
4. Penyuluh Perikanan:
a. bersama Dinas Kabupaten/Kota melakukan identifikasi calon penerima bantuan;
b. mendampingi kelompok kerja pusat melakukan verifikasi calon Penerima Bantuan Pemerintah;
c. membantu dan mendampingi calon penerima bantuan dalam penyusunan dokumen persyaratan adminstrasi, persyaratan teknis, dan persyaratan lokasi;
d. menginput data calon penerima bantuan melalui laman www.satudata.kkp.go.id pada modul kusuka atau mengirimkan langsung ke Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya cq. Direktorat Pakan dan Obat Ikan;
e. memberikan penyuluhan dan bimbingan teknis serta manajemen usaha kepada Penerima Bantuan;
f. membantu memfasilitasi kemudahan akses terhadap pengadaan sarana produksi, teknologi, pasar, dan permodalan usaha maupun penguatan kegiatan lainnya untuk keberlanjutan;
g. membantu penerima bantuan membuat laporan pemanfaatan Bantuan Pemerintah; dan
h. membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan pendampingan setiap bulannya kepada Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal sesuai dengan format yang telah ditetapkan.
5. Penerima Bantuan Pemerintah:
a. membuat dan mengusulkan proposal yang ditujukan kepada Direktur Jenderal dan disampaikan melalui dinas sebagaimana pada Formulir 1;
b. membuat dan menandatangani surat pernyataan kesanggupan kelompok/lembaga Penerima Bantuan Pemerintah sebagaimana pada Formulir 3c;
c. menandatangani pakta integritas sebagaimana pada Formulir 5;
d. menandatangani berita acara serah terima dari KPB Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya atau Unit Pelaksana Teknis sebagaimana pada Formulir 10;
e. melaporkan penggunaan dan pemanfaatan hasil Bantuan Pemerintah kepada pusat pemberi bantuan sebagaimana pada Formulir-13 dengan tembuskan kepada dinas yang membidangi perikanan di daerah; dan
f. mengikuti ketentuan penerapan teknologi anjuran, bimbingan, dan pembinaan serta Pendampingan teknologi.
C. Penetapan Penerima Bantuan Pemerintah
Mekanisme penetapan Penerima Bantuan Pemerintah dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut :
Gambar 2 Mekanisme Penetapan Penerima Bantuan Pemerintah
Keterangan Gambar:
1. PPK menetapkan kelompok kerja pusat;
2. Kelompok kerja pusat menyusun petunjuk teknis penyaluran Bantuan Pemerintah;
3. Kelompok kerja pusat, Unit Pelaksana Teknis, Dinas Provinsi, dan Dinas Kabupaten/Kota melakukan sosialisasi;
4. Dinas Kabupaten/Kota dibantu Penyuluh Perikanan melakukan identifikasi dan menyampaikan proposal calon Penerima Bantuan Pemerintah kepada Direktur Jenderal secara online melalui laman www.satudata.kkp.go.id atau langsung ke Direktur Jenderal Perikanan Budidaya cq. Direktur Pakan dan Obat Ikan dengan alamat Direktorat Pakan dan Obat Ikan, Gedung Mina Bahari IV Lantai 5, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 16 Gambir Jakarta
Start
PPK membentuk Pokja
Pokja menyusun Juknis
Sosialisasi Juknis
Identifikasi CP
Verifikasioleh Pokja dan Dinas Kab/Kota
Evaluasi Hasil Verifikasi
Penetapan Penerima BP oleh PPK
Selesai SK Pokja
Juknis
Proposal
BA Verifikasi
Usulan CP
SK Penerima BP
Oleh PPK Oleh Pokja Pokja dan DinasKab/Kota DinasKab/Kota/Penyuluh
Pembentuk Pokja
10
9
4
8
7 6
5 3 2 1
Keterangan:
Pusat Kode pos 10110 dalam hal calon penerima bantuan/penerima bantuan tidak mampu mengakses laman www.satudata.kkp.go.id;
5. Proposal disertai surat pengantar dari Dinas Kabupaten/Kota, surat pernyataan komitmen Kepala Dinas Kabupaten/Kota dan ditembuskan ke Dinas Provinsi sesuai formulir 2 dan formulir 4;
6. Kelompok kerja pusat dan Unit Pelaksana Teknis dibantu Dinas Provinsi serta Dinas Kabupaten/Kota dan Penyuluh Perikanan untuk melakukan verifikasi calon Penerima Bantuan Pemerintah sesuai formulir 3a;
7. Kelompok kerja pusat dan Unit Pelaksana Teknis menyampaikan hasil verifikasi kepada PPK dalam bentuk Berita Acara sesuai formulir 3b;
8. PPK menugaskan kelompok kerja pusat untuk mengevaluasi hasil verifikasi dan mengusulkan calon Penerima Bantuan dengan mempertimbangkan persyaratan dalam petunjuk teknis dan ketersediaan jumlah Bantuan Pemerintah;
9. Kelompok kerja pusat mengusulkan calon Penerima Bantuan kepada PPK; dan
10. PPK menetapkan Penerima Bantuan dan disahkan oleh KPA.
D. Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah
Penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pengadaan dan Penyaluran Bangunan, Mesin, dan Alat
Pengadaan dan Penyaluran Bangunan, Mesin, dan Alat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. PPK memerintahkan kelompok kerja dan/atau pejabat pengadaan untuk melakukan pengadaan bangunan/bak, mesin/alat serta bahan operasional \ melalui mekanisme:
1) lelang umum;
2) pengadaan e-katalog untuk mesin/alat yang telah ada dalam e-katalog; dan
3) swakelola untuk bahan operasional.
b. kelompok kerja dan/atau pejabat pengadaan menyusun daftar barang termasuk biaya pengiriman dan disampaikan kepada PPK;
c. PPK memberikan persetujuan atas dokumen yang disampaikan kelompok kerja dan/atau pejabat pengadaan;
d. kelompok kerja dan/atau pejabat pengadaan sesuai persetujuan PPK melaksanakan:
1) lelang umum;
2) pengadaan e-katalog; dan 3) swakelola.
e. kelompok kerja dan/atau pejabat pengadaan menyusun kontrak pengadaan yang ditandatangan oleh Penyedia dan PPK;
f. Penyedia melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak;
g. PPK memberikan perintah pengiriman Bantuan Pemerintah kepada Penyedia ke lokasi Penerima Bantuan sesuai kontrak;
h. bangunan/mesin/alat yang sudah diterima oleh Penerima Bantuan dilakukan serah terima dari Penyedia dan kelompok serta dilengkapi oleh berita acara serah terima sesuai Formulir 6a dan lampirannya sesuai formulir 6b;
i. PPK membentuk dan menetapkan Tim Teknis Pemeriksa Barang untuk membantu PPK dalam melaksanakan pemeriksaan barang secara teknis;
j. Tim Teknis Pemeriksa Barang melaksanakan pemeriksaan barang di lokasi penerima, hasil pemeriksaan disampaikan kepada PPK dalam bentuk berita acara serah terima pemeriksaan barang sesuai Formulir 7a dan lampirannya sesuai Formulir 7b;
k. Penyedia melakukan uji coba mesin dan memberikan pelatihan penggunaan mesin kepada Penerima Bantuan yang dapat didampingi oleh:
1) Dinas Kabupaten/Kota;
2) Penyuluh Perikanan; dan/atau 3) kelompok kerja pusat.
l. Dinas Kabupaten/Kota dan Penerima Bantuan menandatangani bentuk berita acara serah terima beserta lampirannya sesuai Formulir 10a dan Formulir 10b.
2. Penatausahaan Barang Persediaan
Penatausahaan Barang Persediaan Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. berita acara penyelesaian pekerjaan dari Penyedia kepada PPK sesuai Formulir 7;
b. Bantuan Pemerintah dicatat sebagai barang persediaan oleh Petugas Operator SIMAK BMN dalam aplikasi sistem informasi manajemen dan akuntansi barang milik negara berdasarkan surat perintah pencairan dana;
c. PPK menyerahkan hasil pekerjaan kepada KPA dalam bentuk berita acara serah terima hasil pekerjaan beserta lampirannya sesuai Formulir 9a dan 9b;
d. KPA menyerahkan hasil pekerjaan kepada KPB dalam bentuk berita acara serah terima hasil pekerjaan beserta lampirannya sesuai Formulir 10a dan 10b;
e. KPB menyerahkan Bantuan Pemerintah kepada Penerima Bantuan dalam bentuk berita acara serah terima beserta lampirannya sesuai Formulir 11a dan 11b; dan
f. berita acara serah terima KPB kepada Penerima Bantuan selanjutnya dijadikan dasar untuk dilakukan transfer keluar barang persediaan.
E. Sosialisasi
Sosialisasi dilaksanakan dalam bentuk surat menyurat/rapat koordinasi/video conference yang ditujukan kepada pelaksana di daerah maupun calon Penerima Bantuan Pemerintah. Kegiatan sosialisasi bertujuan menyamakan persepsi, tujuan, dan langkah setiap stakeholder yang terlibat sesuai perencanaan yang sudah ditetapkan untuk keberhasilan pelaksanaan Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021.
F. Pembinaan
Pembinaan kepada Penerima Bantuan Pemerintah meliputi aspek teknis dan manajemen usaha. Bentuk pembinaan dapat berupa:
a. manajemen administrasi dan pengelolaan bantuan;
b. Pendampingan teknologi; dan
c. Pendampingan pengembangan usaha.
BAB IV
PERTANGGUNGJAWABAN BANTUAN PEMERINTAH, KETENTUAN PERPAJAKAN, SANKSI, MONITORING DAN EVALUASI, DAN PELAPORAN
A. Pertanggungjawaban Bantuan Pemerintah 1. Pertanggungjawaban Penerima Bantuan.
Penerima Bantuan memberikan pertanggung jawaban sebagai berikut:
a. menyampaikan seluruh kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan di dalam petunjuk teknis sesuai formulir 1, formulir 3c, formulir 5, formulir 10a, formulir 10b, dan formulir 11;
b. melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Dinas Kabupaten/Kota dalam bentuk laporan produksi triwulan sesuai formulir 13; dan c. wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana yang tertuang
dan telah ditandatangani di dalam pakta integritas yang meliputi :
1) bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pemanfaatan Bantuan Pemerintah;
2) menyetujui pengalihan Bantuan Pemerintah apabila tidak dimanfaatkan dalam kurun waktu tertentu; dan
3) tidak melakukan perubahan dan mengalihkan fungsi Bantuan Pemerintah.
2. Pertanggungjawaban Pemberi Bantuan
Pemberi bantuan memberikan pertanggungjawaban sebagai berikut:
a. melengkapi seluruh dokumen pertanggungjawaban penggunaan dana Bantuan Pemerintah;
b. terlaksananya penyaluran Bantuan Pemerintah;
c. melakukan monitoring dan evaluasi pemanfaatan Bantuan Pemerintah;
d. menyampaikan laporan penyaluran Bantuan Pemerintah dalam bentuk laporan kinerja Direktorat Jenderal.
B. Ketentuan Perpajakan
Ketentuan perpajakan pada Penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran ini terkait pengadaan barang/jasa mengikuti ketentuan perundang-undangan.
C. Larangan
Dalam penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021, Penerima Bantuan dilarang:
1. tidak memanfaatkan dan mengelola Bantuan Pemerintah dalam kurun waktu (tiga) bulan sejak diterimanya Bantuan Pemerintah dengan lengkap;
2. memanfaatkan dan mengelola Bantuan Pemerintah dengan melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku;
3. menghilangkan bantuan yang telah diterima dengan tidak dapat membuktikannya dengan berita acara kehilangan oleh Kepolisian;
4. Melakukan pengalihan bantuan tanpa persetujuan pemerintah.
Penerima Bantuan yang melakukan pelanggaran sebagai mana dimaksud pada angka 1, 2, 3, dan 4 dikenakan sanksi antara lain tidak diikutsertakan kembali dalam program Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dalam hal Penerima Bantuan yang melakukan pelanggaran sebagai mana dimaksud pada huruf C maka Penerima Bantuan bertanggung jawab secara hukum atas penyalahgunaan bantuan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
D. Sanksi
Penerima Bantuan yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada huruf C angka 1, 2, 3, dan 4 dikenakan sanksi yaitu:
a. tidak diikutsertakan kembali dalam program Kementerian Kelautan dan Perikanan selama 1(satu) tahun;
b. bertanggung jawab secara hukum atas penyalahgunaan bantuan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan c. bersedia untuk dialihkan bantuan pemerintah yang telah diterima
kepada kelompok lain yang membutuhkan.
Mekanisme pemberian sanksi kepada Penerima Bantuan:
1) Direktorat Jenderal cq. Direktur Pakan dan Obat Ikan memberikan peringatan tertulis kepada Penerima Bantuan atas tindak pelanggaran yang dilakukan sebagaimana dimaksud di dalam huruf C angka 1 yang harus dilakukan perbaikan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan; dan
2) apabila sampai dengan jangka waktu berakhirnya peringatan tertulis tidak ditindaklanjuti, maka Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021 dialihkan kepada Penerima Bantuan lain dan dilaporkan kepada Direktur Pakan dan Obat Ikan.
E. Monitoring dan Evaluasi
Dalam rangka keberhasilan pencapaian target kinerja, dan memenuhi asa efektifitas, transparansi, dan keberlanjutan pemanfaatan Bantuan Pemerintah, dilakukan monitoring dan evaluasi oleh Direktorat Jenderal termasuk unit pelaksana teknis, Dinas Provinsi, dan Dinas Kabupaten/Kota. Monitoring dan evaluasi dilakukan paling sedikit terhadap hal-hal :
a. kesesuaian antara pelaksanaan Bantuan Pemerintah dengan petunjuk teknis;
b. kesesuaian target dan realisasi ;
c. pemanfaatan Bantuan Pemerintah (realisasi produksi), dan d. kesesuaian tujuan Bantuan Pemerintah.
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan selama 3 (tiga) tahun, yaitu pada 1 (satu) tahun pelaksanaan penyaluran bantuan pemerintah dan 2 (dua) tahun berikutnya.
Metode monitoring dan evaluasi dilakukan dengan persuratan, komunikasi elektronik, dan/atau pemeriksaan lapangan. Selanjutnya berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, Direktur Jenderal
mengambil langkah-langkah tindak lanjut untuk perbaikan kinerja Bantuan Pemerintah lingkup Direktorat Jenderal.
F. Pelaporan
Penyampaian laporan penyaluran Bantuan Pemerintah dalam bentuk laporan kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
Adapun jenis laporan, pembuat laporan, tujuan penyampaian laporan, waktu pelaporan, dan format laporan, tercantum sebagaimana tabel-3.
Tabel-3. Jenis Laporan, Tujuan Pelaporan, Waktu dan Format Laporan
No Jenis
Laporan Pembuat Laporan Tujuan
Pelaporan Waktu
Pelaporan Format 1 Laporan
Pelaksanaan Kegiatan (Kinerja)
Pokja Direktur
Jenderal Selesai
Pelaksanaan Form 12
2 Laporan Monitoring dan Evaluasi
1. Pokja
2. Unit Pelaksana Teknis
3. dinas
Direktur Pakan dan Obat
Selesai
Monev Form 12
3 Laporan Produksi dan Pemanfaatan
1.Dinas Prov
2. Dinas Kab/Kota 3. Kelompok
Direktur Pakan dan Obat
Triwulanan Form 13 (Lampiran)
Adapun tata cara pelaporan diatur sebagai berikut :
1. laporan pelaksanaan kegiatan (kinerja) disusun oleh tim pokja pasca selesainya kegiatan paket bantuan budidaya Magot dan ditanda tangani oleh Direktur Pakan dan Obat untuk selanjutnya disampaikan kepada Direktur Jenderal;
2. laporan monitoring dan evaluasi disusun oleh personil pusat dan Unit Pelaksana Teknis yang melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi di lokasi Penerima Bantuan, untuk selanjutnya disampaikan kepada Direktur Pakan dan Obat Ikan. Dinas Perikanan yang melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi juga menyampaikan laporannya kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya c.q Direktorat Pakan dan Obat Ikan;
3. laporan pemanfaatan dan produksi disusun oleh Penerima Bantuan secara triwulanan dan disampaikan kepada Direktur Pakan dan Obat Ikan, dengan tembusan dinas perikanan
kabupaten/ kota. Dinas perikanan kabupaten /kota selanjutnya mengirimkan laporan dari kelompok kepada Direktur Pakan dan Obat Ikan, dengan tembusan dinas kelautan dan perikanan provinsi.
BAB V PENUTUP
Petunjuk teknis penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021 ini merupakan acuan bagi pelaksanaan kegiatan Bantuan Pemerintah secara akuntabel, transparan, dan efektif sehingga penyaluran bantuan dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan perikanan budidaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Persetujuan
No Jabatan Paraf
1 Sesditjen Perikanan Budidaya 2 Direktur Pakan dan Obat Ikan
3 Koordinator Hukum, Organisasi dan Humas
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA ttd.
SLAMET SOEBJAKTO
LAMPIRAN II
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
NOMOR 40/PER-DJPB/2021 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENYALURAN BANTUAN PEMERINTAH PERCONTOHAN BUDIDAYA MAGOT DI MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2021
DAFTAR FORMULIR KELENGKAPAN DOKUMEN ADMINISTRASI BANTUAN PEMERINTAH PERCONTOHAN BUDIDAYA MAGOT DI MASYARAKAT
TAHUN ANGGARAN 2021
No. Daftar Lampiran Penyusun
1. Formulir 1 : Surat Permohonan Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot di
Masyarakat Tahun Anggaran 2021
Ketua Kelompok
2. Formulir 2 : Surat Pengantar Calon Penerima Bantuan
Pemerintah Percontohan Budidaya Magot di
Masyarakat Tahun Anggaran 2021
Dinas Kabupaten/Kota
3. Formulir 3a : Formulir Identifikasi dan Verifikasi Calon Penerima Bantuan Pemerintah
Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat Tahun
Anggaran 2021
Pokja Pusat
No. Daftar Lampiran Penyusun 4. Formulir 3b : Berita Acara Hasil Identifikasi
dan Verifikasi Calon Penerima Bantuan Pemerintah
Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat Tahun
Anggaran 2021
Pokja Pusat
5. Formulir 3c : Surat Pernyataan Kesiapan dan Kesanggupan Calon Penerima Bantuan
Pemerintah Percontohan Budidaya Magot di
Masyarakat Tahun Anggaran 2021
Ketua Kelompok
6. Formulir 4 : Surat Pernyataan Komitmen Kepala Dinas Kabupaten/Kota
Kepala Dinas Kabupaten/Kota 7. Formulir 5 : Pakta Integritas Ketua Kelompok
8 Formulir 6a : Berita Acara Serah Terima Barang
Penyedia dan Kelompok 9 Formulir 6b : Lampiran Berita Acara Serah
Terima Barang
Penyedia dan Kelompok 10. Formulir 7a : Berita Acara Pemeriksaan
Barang
Tim Teknis Pemeriksaan Hasil Pekerjaan 11. Formulir 7b : Lampiran Berita Acara
Pemeriksaan Barang
Tim Teknis Pemeriksaan Hasil Pekerjaan 12. Formulir 8 : Berita Acara Penyelesaian
Pekerjaan Penyedia dan PPK
PPK dan Penyedia Barang 13 Formulir 9a : Berita Acara Serah Terima
Hasil Pekerjaan PPK dan KPA
PPK dan KPA
14 Formulir 9b : Lampiran Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan
PPK dan KPA
15. Formulir 10a : Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan KPA dan KPB
KPA dan KPB
16. Formulir 10b : Lampiran Berita Acara Serah KPA dan KPB
No. Daftar Lampiran Penyusun Terima Hasil Pekerjaan
17. Formulir 11a : Berita Acara Serah Terima Barang
KPB dan Ketua Kelompok 18. Formulir 11b : Lampiran Berita Acara Serah
Terima Barang
KPB dan Ketua Kelompok 19 Formulir 12 : Outline Laporan Pelaksanaan
Kegiatan dan laporan Monitoring Evaluasi
Pokja dan Unit Pelaksana Teknis
20. Formulir 13 : Laporan Triwulan Produksi Magot
Ketua Kelompok
21. Formulir 14 : Surat Peringatan Dinas Kabupaten/Kota 22. Formulir 15 : Surat Pernyataan
Ketidaksanggupan
Ketua Kelompok
23. Formulir 16 : Berita Acara Pengalihan Barang
Dinas dan Ketua Kelompok
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA,
ttd.
SLAMET SOEBJAKTO
Lembar Persetujuan
NO Jabatan Paraf
1 Sesditjen Perikanan Budidaya 2 Direktur Pakan dan Obat Ikan
3 Kepala Bagian Hukum, Kerjasama dan Humas
Formulir 1 Surat Permohonan Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot di Masyarakat Tahun Anggaran 2021
<KOP SURAT KELOMPOK >
Nomor : ………..
Perihal : Permohonan Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021
Lampiran : (jumlah) ….. Berkas
Yth. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya cq. Direktur Pakan dan Obat Ikan
di Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Kantor Pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan Gedung Mina Bahari IV, Lantai 5
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat
Bersama ini kami sampaikan permohonan kelompok sebagai calon Penerima Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021. Sebagai bahan pertimbangan, terlampir kami sampaikan proposal kelompok pembudi daya Magot sesuai dengan komponen yang tertuang dalam petunjuk teknis penyaluran Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021.
Demikian permohonan ini disampaikan, atas perhatian dan Kerjasama Saudara diucapkan terima kasih.
...,...2021 Ketua Kelompok/Lembaga
………
Cap basah dan tanda tangan
(...
..) Tembusan:
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten/Kota ...
Formulir 2 Surat Pengantar Calon Penerima Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat Tahun Anggaran 2021
KOP DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN/KOTA
Nomor : ………..
Perihal : Surat Pengantar Calon Penerima Bantuan Pemerintah
Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat Tahun Anggaran 2021
Lampiran : (jumlah) ….. Berkas
Yth. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya cq. Direktur Pakan dan Obat Ikan
Kantor Pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan Gedung Mina Bahari IV, Lantai 5
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat
Sesuai permohonan kelompok, bersama ini kami sampaikan surat pengantar calon kelompok Penerima Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021 sebagai berikut :
No Nama Kelompok Nama Ketua
dan No. Hp Alamat Jenis Bantuan
Demikian disampaikan, atas perhatian dan Kerjasama Saudara diucapkan terimakasih.
...,...2021 Kepala Dinas
Kabupaten/Kota...
(...) NIP...
Tembusan:
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi ...
Formulir 3a.
Formulir Identifikasi dan Verifikasi Calon Penerima Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat Tahun Anggaran 2021
Formulir Identifikasi dan Verifikasi Calon Penerima Bantuan Pemerintah Percontohan Budidaya Magot Di Masyarakat Tahun Anggaran 2021
Nama Kelompok : ...
Nama Ketua : ...
Jalan : ... (jalan, kampung, RT/RW) Desa : ... (nama desa)
Kecamatan : ... (nama Kecamatan) Kabupaten/Kota : ... (nama Kab/Kota) Tanggal : ... (tanggal/bulan/tahun) Jenis bantuan yang
Diusulkan : ...
Budidaya Magot sebagai bahan baku dan pakan ikan
NO KOMPONEN YA
**)
TIDAK
**) KETERANGAN***) A LOKASI
1 Lokasi harus memiliki akses dan ketersediaan sumber bahan limbah organik
2 Tersedia lahan minimal 1.500 m2 (seribu lima ratus meter persegi) yang dikuasai kelompok
3 Telah mendapatkan persetujuan pemerintah daerah setempat
4 Berada dekat dengan kawasan kelompok pembuat pakan mandiri dan/atau di sentra budidaya air tawar
5 Tersedia sumber energi listrik (PLN) dan atau bahan bakar minyak
6 Tersedia sumber air tawar
7 Kemudahan akses transportasi minimal roda tiga
8 Kemudahan akses komunikasi
B KELOMPOK
1 a. Diutamakan memiliki status badan hukum (akta notaris yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM) atau terdaftar pada kementerian yang membidangi pendidikan/Kementerian Agama
b. Diutamakan sudah melakukan kegiatan budidaya Magot dan
terintegrasi atau terkoneksi dengan kelompok pembuatan pakan ikan dan/atau pembudi daya ikan 2 memiliki identitas yang legal, alamat
jelas, dan dapat dihubungi
3 Belum pernah menerima bantuan sejenis pada tahun sebelumnya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan atau instansi lainnya
4 menyediakan tempat produksi yang dikuasai secara legal yang dibuktikan dengan surat pernyataan
5 anggota atau pengurus kelompok calon penerima bukan kepala desa dan
perangkat desa/kelurahan, Aparatur Sipil Negara
(ASN)/BUMN/TNI/POLRI/anggota lesgislatif, dan penyuluh/PPB
6 Jumlah anggota kelompok minimal 10 (sepuluh) orang
7 Memiliki smartphone sebagai sarana komunikasi.
8 Memiliki sumber daya manusia yang memahami pengetahuan tentang
operasional mesin, budidaya Magot, dan/atau pembuatan pakan
9 Bersedia mendapatkan Pendampingan dari petugas teknis/Penyuluh Perikanan Keterangan:
*) Coret yang tidak perlu
**) Beri tanda √√√
***) Isi dengan eksisting lokasi
Rekomendasi :
Pokja Pusat/Pokja Unit Pelaksana Teknis,
(...) NIP………
Formulir 3b.
Berita Acara Hasil Identifikasi dan Verifikasi Calon Penerima Bantuan Pemerintah Paket Budidaya Magot di Masyarakat Tahun
Anggaran 2021
KOP DIT. PAKAN DAN OBAT IKAN
BERITA ACARA HASIL IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI
CALON PENERIMA BANTUAN PEMERINTAH PERCONTOHAN BUDIDAYA MAGOT DI MASYARAKAT TAHUN ANGGARAN 2021
Nomor : ...
Pada hari ini, ……...………,tanggal ..., bulan
…... tahun 2021 (dua ribu dua puluh satu), saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama ... : NIP ... : Jabatan ... :
Dengan ini menyatakan bahwa telah melaksanakan verifikasi terhadap kelompok calon Penerima Bantuan Pemerintah percontohan budidaya Magot di masyarakat tahun anggaran 2021, dengan data calon penerima sebagaimana berikut :
Nama Kelompok : ...
Nama Ketua : ...
Alamat : ...
1. Desa : ...
2. Kecamatan : ...
3. Kab/Kota : ...
4. Propinsi : ...
Nomor Badan Hukum : ...