Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan tugas akhir saya yang bertajuk perbandingan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan dan tanpa penyakit penyerta. Seseorang dengan penyakit penyerta memiliki risiko lebih besar tertular virus selama pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan dan tanpa penyakit penyerta.
Sampel dalam penelitian ini adalah 30 sampel pasien COVID-19 tanpa penyakit penyerta dan 30 sampel pasien COVID-19 dengan penyakit penyerta di RSUD Pasar Rebo. Hasil penelitian menunjukkan jenis penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien COVID-19 adalah penyakit penyerta hipertensi tipe 1 serta penyakit penyerta hipertensi dan diabetes tipe 2 (20,0%). Pada uji statistik Man Whitney, hasil yang diperoleh menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna kadar D-dimer pada pasien dengan dan tanpa penyakit penyerta Asymp.
The aim of this study was to determine if there were differences in D-dimer levels in COVID-19 patients with and without comorbidity. The results showed that the most common comorbid types in COVID-19 patients were type 1 hypertension comorbid hypertension comorbid and type 2 DM (20.0%).
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Manfaat Penelitian
- Bagi Akademisi
- Bagi Masyarakat
- Bagi Klinisi
Skrining D-dimer ini sering dilakukan sebelum merebaknya pandemi COVID-19, khususnya pada skrining terkait demam berdarah dengue (DBD). Kadar D-dimer dapat meningkat selama kondisi peradangan kronis seperti anemia, keganasan aktif, anemia sel sabit, artritis reumatoid, dan asma. Dalam kasus COVID-19, tingkat D-dimer yang lebih tinggi dilaporkan terjadi pada pasien yang sakit kritis atau sakit parah. (7) D-dimer merupakan salah satu tes untuk mendeteksi trombosis pada pasien COVID-19.
Selain itu, penyakit seperti diabetes, kanker, stroke, dan kehamilan dapat memicu peningkatan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 (8). Permana dkk melaporkan pada tahun 2021 bahwa 60% pasien COVID-19 memiliki kadar D-dimer yang tidak normal. (9) Pada tahun 2021, Poudel et al menunjukkan bahwa nilai D-dimer pasien saat masuk rumah sakit merupakan biomarker yang akurat untuk memprediksi kematian pada pasien COVID-19.19 dengan batas optimal sebesar 1,5 mg/ml. (10) Pada tahun 2020, Guan dkk melaporkan bahwa pasien COVID-19 yang memiliki kadar d-dimer lebih tinggi (median 2,12 mg/ml) tidak dapat bertahan hidup (median 0,61 mg/ml) pada pasien yang selamat.(11) Penelitian belum pernah membandingkan kadar D-dimer pada pasien COVID-19. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan dan tanpa penyakit penyerta.
TINJAUAN PUSTAKA
- COVID-19
- Etiologi COVID-19
- Patogenesis COVID-19
- Gejala Klinis
- Epidemiologi
- Parameter pemeriksaan COVID-19
- Metode Pemeriksaan D-dimer
- Komorbid dan tanpa komorbid
- Kerangka Teori
- Hipotesis
Pneumonia berat pada pasien COVID-19, seperti gejala demam, harus diinterpretasikan dengan hati-hati; ini mungkin sedang atau bahkan tidak ada. Pada pasien COVID-19, seringkali terjadi peningkatan kadar D-dimer, yaitu fragmen protein hasil pemecahan fibrin yang menandakan adanya trombosis. Pasien COVID-19 juga sering mengalami endotelialitis vaskular, trombosis, dan angiogenesis di paru-paru, yang berhubungan dengan ARDS (20).
Pemeriksaannya dilakukan dengan mengetahui keberadaan protein virus (antigen) COVID-19 dari sampel yang berasal dari saluran pernapasan seseorang. Tingginya tingkat PCT pada kelompok dengan gejala berat menunjukkan bahwa pasien dengan gejala COVID-19 yang parah dapat mengalami superinfeksi bakteri yang berkontribusi terhadap komplikasi klinis (27). Dalam studi yang dilakukan Lin dkk pada tahun 2020, analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa kadar feritin serum saat masuk merupakan faktor risiko keparahan penyakit pada pasien COVID-19.
Ferritin serum yang lebih tinggi diduga meningkatkan risiko keparahan penyakit pada pasien COVID-19. Karena kadar feritin serum berkorelasi dengan derajat peradangan paru dan sistemik, hiperferritinemia pasti berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit dan kematian pada pasien COVID-19 (28). Dalam studi kohort retrospektif yang dilakukan Yu dkk pada tahun 2020, kadar D-dimer meningkat pada pasien dengan COVID-19 parah dan.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan kadar D-dimer dikaitkan dengan perjalanan penyakit COVID-19. (32) Pengujian D-dimer dilakukan dengan cepat, dapat direproduksi, murah, dan mudah diakses. Peningkatan kadar D-dimer pada COVID-19 dapat diidentifikasi dengan cepat sehubungan dengan tingkat keparahan penyakit, komplikasi paru, dan risiko tromboemboli vena dalam keadaan pro-trombotik. Hal ini dapat membantu stratifikasi risiko dan pemilihan terapi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat COVID-19.
Perhatian klinis terhadap tromboemboli vena (VTE) harus diberikan terutama pada pasien COVID-19 yang parah, yang sering terbaring di tempat tidur dan memiliki fungsi koagulasi abnormal. Prevalensi pasien COVID-19 dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus (41,7%), hipertensi (56,6%) dan obesitas (41,7%) memiliki risiko kematian 1,95 kali lebih besar dibandingkan pasien COVID-19 dengan hipertensi. Seseorang dengan riwayat obesitas memiliki peningkatan risiko kematian dua kali lipat pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.
Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi, diabetes melitus, pneumonia, kardiovaskular, asma, ginjal, liver, PPOK dan gangguan imunitas yang merupakan penyakit penyerta utama penyebab kematian pada pasien COVID-19. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat perbandingan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan dan tanpa penyakit penyerta.
METODELOGI PENELITIAN
- Jenis dan Desain Penelitian
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Variabel dan Kerangka Konsep
- Definisi Operasional
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Pengolahan Data
- Teknik Analisa Data
- Alur Penelitian
Pasien COVID-19 Pasien yang terinfeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2) dengan hasil RT-PCR positif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dikumpulkan dengan menggunakan metode studi dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian diolah, data sekunder ini menggunakan software Microsoft.excel dan statistik.
Syarat pengujian ini adalah data harus berdistribusi normal dan homogen, jika data tidak berdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji alternatif yaitu Uji Mann Whitney. Alur penelitian merupakan kronologi prosedural seorang peneliti dalam karya tulisnya dan bukan sekedar urutan yang diikuti, alur penelitian merupakan suatu penataan atau hubungan metodologis yang berkesinambungan, alur penelitian dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Karakterisitik Sampel
- Komorbid pada pasien COVID-19
- Kadar D-dimer
- Perbandingan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan
Data pada tabel di atas menunjukkan kelompok umur penderita D-dimer tanpa penyakit penyerta mencapai hasil tertinggi pada umur 46-65 tahun (lansia) sebanyak 13 penderita dan terendah pada umur 5-11 tahun (masa kanak-kanak). ). ). ) dan usia 17-25 (remaja awal) sebanyak 1 pasien. Data pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa kelompok umur pasien COVID-19 terkait penyakit penyerta memperoleh hasil terbanyak pada kelompok umur 46-55 tahun (masa lanjut usia) dengan jumlah sebanyak 15 pasien (50%). Data pada Tabel 4.3 menunjukkan jumlah pasien COVID-19 tanpa penyakit penyerta berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yaitu sebanyak 15 orang dengan persentase 50%.
Data pada tabel di atas menunjukkan pasien komorbiditas COVID-19 berjenis kelamin perempuan lebih banyak (66,7%) dibandingkan pasien laki-laki (33,3%). Data pada Tabel 4.5 menunjukkan jenis komorbiditas tertinggi pada pasien COVID-19 adalah hipertensi terkait tipe 1 dengan jumlah 10 orang (33,3%) menjadi komorbiditas tertinggi yang terdapat pada pasien COVID-19. Pasien COVID-19 dengan penyakit penyerta menunjukkan variasi jumlah penyakit penyerta yang diderita seperti terlihat pada Gambar 4.1 di bawah ini.
Yang paling tinggi persentasenya adalah jumlah penyakit penyerta yang diderita pasien COVID-19, yaitu pasien yang memiliki 1 penyakit penyerta sebesar 44%, disusul pasien dengan 2 jenis penyakit penyerta masing-masing sebesar 43%. Data kadar D-dimer pasien COVID-19 dengan dan tanpa penyakit penyerta dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini. Data pada Tabel 4.6 untuk kategori pasien dengan penyakit penyerta COVID-19 menunjukkan jumlah pasien dengan kadar D-dimer normal sebanyak 18 sampel dan 12 sampel tidak normal dengan nilai minimal kadar D-dimer sebesar 0,29 dan maksimal. dari 27.21 .
Sedangkan pada kategori pasien tanpa penyakit penyerta, jumlah pasien dengan kadar D-dimer normal sebanyak 22 sampel dan diperoleh 8 sampel dengan kadar tidak normal dengan nilai kadar minimum 0,37 dan kadar maksimum 20,74.
Pembahasan
- Karakteristik sampel Berdasarkan Usia dan jenis kelamin
- Komorbid COVID-19
- Perbandingan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan
Kadar D-dimer pada pasien komorbid dan non-covid-19 sebagian besar normal, yaitu 60% pada pasien komorbiditas Covid-19 dan 73,3% pada pasien non-komorbiditas Covid-19. COVID-19), yang menyebabkan gangguan hemostasis berupa koagulopati. (44) Dan pasien terkonfirmasi COVID-19 rata-rata mengalami peningkatan kadar D-dimer, D-dimer umumnya meningkat pada pasien COVID-19. Kadar D-dimer yang tidak normal lebih tinggi pada pasien komorbid Covid-19 (40%) dibandingkan pasien komorbid Covid-19 (26,7%).
Rostami menyatakan pada tahun 2020 bahwa penyakit yang mendasari seperti diabetes dapat menyebabkan peningkatan kadar D-dimer pada pasien COVID-19. (46) Penyakit penyerta (komorbid) biasanya dapat menyebabkan peningkatan kadar D-dimer. Hasil tersebut menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan dan tanpa penyakit penyerta.
PENUTUP
Simpulan
Saran
Hubungan antara tingkat D-dimer dan kematian pada pasien dengan penyakit virus corona 2019 (COVID-19): tinjauan sistematis dan analisis gabungan. Hipertensi, diabetes mellitus, dan obesitas sebagai faktor komorbiditas utama kematian pada pasien COVID-19: studi literatur.