• Tidak ada hasil yang ditemukan

perbandingan stabilitas air mata antara pasien pascabedah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "perbandingan stabilitas air mata antara pasien pascabedah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

DENGAN AIR MATA BUATAN YANG MENGANDUNG ELEKTROLIT

Anita Oktaputri, Mayang Rini, Budiman

Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo Bandung

ABSTRACT

Background: Many patients who have undergone cataract surgery have complained dry eye symptoms postoperatively. Those complaints can be caused by tear film instability, conjunctival and corneal cell apoptosis, and inflammation post cataract surgery. Artificial tears is the first line therapy in managing dry eye syndrome. There are several agents contained in artificial tears with various effect on ocular surface.

Artificial tears use in patient after cataract surgery might be effective to reduce the dry eye symptoms that arise postoperatively.

Purpose: To compare the effect of artificial tears containing sodium hyaluronate 0,1% and artificial tears containing electrolytes on tear film stability after cataract surgery, in which was evaluated by tear break up time and Schirmer test I.

Methods: This was a double-blind, randomized controlled trial conducted from January to February 2016.

Study subjects were patients aged 30-65 who have undergone phacoemulsification in Cataract and Refractive Surgery Unit Cicendo Eye Hospital. Subjects were randomly assigned into 2 groups, those who were given artificial tears containing sodium hyaluronate 0,1% and artificial tears containing electrolytes, with each group comprised of 22 patients. Percentage of increase in TBUT and Schirmer test I value between both groups were compared. Statistical analyses used independent t-test for normally distributed data and Mann Whitney test if the distribution was not normal.

Results: Percentage of increase in TBUT value from day 1 to weeks 4 after cataract surgery was higher significantly on sodium hyaluronate group than electrolyte-containing artificial tears (p=0,010).

Percentage of increase in Schirmer test I value from day 1 to weeks 4 after cataract surgery was higher significantly on sodium hyaluronate group compared to electrolyte-containing artificial tears (p=0,029).

Conclusion: Artificial tears containing sodium hyaluronate 0,1% gave better effect on TBUT and Schirmer test I value of patients after cataract surgery compared to electrolyte-containing artificial tears.

Keywords: dry eyes, tear film stability, phacoemulsification, artificial tears, sodium hyaluronate, electrolyte solution, tear break up time, Schirmer test

Pendahuluan

Komplikasi terhadap kornea akibat tindakan bedah intraokular telah banyak menurun seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun angka tindakan bedah intraokular, terutama bedah katarak, terus meningkat karena tingginya prevalensi pasien katarak dengan gangguan fungsi visual yang bermakna dan membutuhkan terapi definitif berupa tindakan bedah. The Collaborative Eye Disease Prevalence memprediksi akan terjadi peningkatan angka bedah katarak sebanyak 50%

selama lebih dari dua dekade ke depan dari 6.7

juta pasien pada tahun 2000 menjadi 10 juta pasien pada 2020, sehingga tingkat komplikasi yang rendah masih dapat mempengaruhi sejumlah besar pasien. Keadaan dan penanganan komplikasi tersebut dapat menyebabkan beban kualitas hidup dan finansial yang cukup berarti, oleh karena itu kewaspadaan terhadap komplikasi kornea yang berhubungan dengan pembedahan penting sehingga dapat dilakukan penanganan dan pencegahan yang sesuai.7-9

Pasien yang telah dilakukan bedah katarak sering mengeluh gejala mata kering dan iritasi.

Keluhan tersebut dapat muncul segera setelah

(2)

tindakan bedah dan mengalami perbaikan pada waktu yang bervariasi. 1,10-14

Keluhan mata kering tersebut dapat terjadi karena kerusakan struktur kornea akibat pembedahan, efek samping dari obat anestesi topikal, dan obat-obatan tetes mata berpengawet, serta pajanan dari sinar mikroskop.10-12 Hal-hal tersebut dapat mendorong lapisan air mata ke dalam suatu siklus yang saling berkaitan, yaitu instabilitas air mata, hiperosmolaritas, apoptosis sel konjungtiva dan kornea, dan inflamasi.13

Air mata buatan adalah terapi lini pertama untuk mata kering. Air mata buatan meningkatkan volume air mata, meminimalisir desikasi, dan melubrikasi permukaan okular, sehingga memberikan perbaikan gejala iritasi pada berbagai keadaan mata kering.18,19 Beberapa diantara jenis air mata buatan yang tersedia adalah air mata buatan yang mengandung sodium hyaluronat dan air mata buatan yang mengandung elektrolit. Penelitian sebelumnya mengenai penggunaan beberapa jenis air mata buatan, seperti HPMC, CMC, dan HP-Guar, pada pasien pascabedah katarak sudah pernah dilakukan dan memberikan hasil yang baik. Penggunaan sodium hyaluronat pada pasien dengan sindroma mata kering juga menunjukkan pengaruh yang baik.13,21-23 Air mata buatan dengan kandungan elektrolit terbukti membantu memperbaiki permukaan kornea yang rusak dan memperbaiki stabilitas air mata.4-19

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh pemberian air mata buatan yang mengandung sodium hyaluronat 0,1% dengan larutan yang mengandung elektrolit terhadap nilai TBUT (tear break up time) dan nilai tes Schirmer I pasien pascabedah katarak.

Subjek dan Metode

Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis desain paralel tanpa matching tersamar ganda.

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien berusia 30-65 tahun yang telah menjalani tindakan fakoemulsifikasi dengan anestesi topikal. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah pasien dengan penyakit mata kering berat sebelumnya (nilai TBUT <5 dan nilai tes Schirmer I <5), penyakit yang mempengaruhi sekresi air mata (sindroma Sjögren, sindroma Steven-Johnson, diabetes melitus, penyakit tiroid), riwayat operasi, trauma mata, atau

riwayat alergi sebelumnya, riwayat penggunaan lensa kontak, penggunaan obat yang mempengaruhi sekresi dan stabilitas air mata (antiglaukoma, antihistamin, antidepresan, air mata buatan), penyakit mata lainnya (glaukoma, uveitis, kelainan kelopak mata dan jalur nasolakrimal, pterigium, blefaritis), merokok dan mengkonsumsi alkohol, pasien dengan total waktu operasi > 20 menit, komplikasi pascabedah pada mata yang diteliti, dan pasien yang tidak kooperatif. Subjek dianggap drop out apabila tidak datang pada hari kontrol yang ditentukan.

Sampel dipilih berdasarkan urutan kedatangan (consecutive admission) kemudian dibagi menjadi 2 kelompok secara blok permutasi acak, yaitu kelompok yang diberikan air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% dan kelompok yang diberikan air mata buatan yang mengandung elektrolit. Subjek penelitian adalah pasien yang telah dilakukan tindakan fakoemulsifikasi dengan pemberian tetes anestesi topikal 2% sebanyak 2 kali sebelum operasi dan insisi clear cornea yang dilakukan pada daerah temporal di arah jam 9 sepanjang 2,7 mm. Pascabedah seluruh pasien diberikan terapi obat tetes kombinasi tetap antibiotik dan steroid tanpa pengawet sebanyak 6 kali dalam satu hari selama 1 minggu dan dosis tapering off pada minggu selanjutnya serta diberikan terapi tambahan tetes air mata buatan tanpa pengawet sesuai dengan kelompoknya sebanyak 4 kali dalam satu hari selama 4 minggu pascabedah, tanpa mengetahui obat apa yang akan diberikan (blinding).

Pasien yang termasuk ke dalam kriteria inklusi dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian dievaluasi oleh seorang dokter spesialis mata untuk menyingkirkan adanya penyakit mata lainnya. Pada kedatangan kontrol satu hari pascabedah, pasien dilakukan pemeriksaan biomikroskop lampu celah untuk menilai keadaan segmen anterior mata, kemudian dilakukan pemeriksaan variabel tergantung tahap pertama, yaitu tes TBUT dan tes Schirmer I oleh dokter spesialis mata bagian Infeksi dan Imunologi. Pemeriksaan TBUT dan Schirmer I tahap kedua dilakukan pada kontrol 4 minggu pascabedah. Untuk memastikan compliance pasien dalam penggunaan obat, akan dilakukan konfirmasi melalui telepon setiap minggunya dan pengecekan sisa kemasan obat yang dimiliki

pasien.

(3)

Pengaruh air mata buatan yang lebih baik dinilai dengan melihat persentase kenaikan nilai TBUT dan nilai tes Schirmer I pada minggu ke-4 dibandingkan dengan hari ke-1 pascabedah antar kedua kelompok. Uji statistik yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan untuk membandingkan dua rata-rata perbedaan (antar kelompok); atau uji Mann-Whitney jika data tidak berdistribusi normal. Kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p <0,05. Semua perhitungan akan menggunakan program SPSS for Windows versi 15.0.

Hasil Penelitian

Subjek penelitian yang ikut berpartisipasi sebanyak 44 pasien dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pasien pascabedah katarak yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% dan kelompok pasien pascabedah katarak yang diberikan tetes air mata buatan yang mengandung elektrolit, masing-masing sebanyak 22 pasien. Tidak ada pasien yang drop out dalam penelitian ini.

Berdasarkan tabel 4.1 tampak jenis kelamin, usia, dan waktu pembedahan antar kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna (nilai p>0,05). Nilai TBUT prabedah dan nilai tes Schirmer I prabedah tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai p=0,968 dan p=0,902. Data tersebut menunjukkan bahwa karakteristik subjek penelitian bersifat homogen dan layak untuk diperbandingkan.

Tabel 4.2 menampilkan perbandingan nilai TBUT pada kedua kelompok penelitian.

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa perubahan nilai TBUT dari hari ke-1 pascabedah ke minggu ke-4 pascabedah lebih tinggi pada kelompok subjek yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% dibandingkan dengan pada kelompok yang diberikan tetes air mata buatan yang mengandung elektrolit (p=0,003). Persentase perubahan nilai TBUT dari hari ke-1 pascabedah ke minggu ke-4 pascabedah juga lebih tinggi secara bermakna pada kelompok subjek yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% dibandingkan dengan pada kelompok yang diberikan tetes air mata buatan yang mengandung elektrolit (p=0,010).

Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik

Kelompok air mata buatan

Nilai p Larutan

elektrolit (n=22)

Sodium hyaluronat

0,1%

(n=22) 1. Jenis kelamin

Laki-laki Perempuan 2. Usia (tahun) Median Rentang 3. Waktu

pembedahan (menit) Median Rentang 4. Nilai TBUT

prabedah (detik) Rerata (SD) Rentang 5. Nilai tes

Schirmer I prabedah (mm) Rerata (SD) Rentang

10 12 61 30-65

7,11 3,59-15,0

16,05 (4,49) 10,2-28,4

18,27 (4,37) 12-27

10 12 61,5 46-65

6,0 3,35-17,0

15,99 (4,42) 10,1-24,2

18,09 (5,28) 10-34

1,00*

0,822**

0,270**

0,968***

0,902***

Keterangan: *) Uji Chi Square, **) Uji Mann-Whitney, ***) Uji t

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa perubahan nilai tes Schirmer I dari hari ke-1 pascabedah ke minggu ke-4 pascabedah lebih tinggi secara bermakna pada kelompok subjek yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1%

dibandingkan dengan pada kelompok yang diberikan tetes air mata buatan yang mengandung elektrolit (p=0,008). Persentase perubahan nilai tes Schirmer I dari hari ke-1 pascabedah ke minggu ke-4 pascabedah juga lebih tinggi secara bermakna pada kelompok subjek yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1%

dibandingkan dengan pada kelompok yang diberikan tetes air mata buatan yang mengandung elektrolit (p=0,029).

(4)

Tabel 4.2 Perbandingan Nilai TBUT pada Kedua Kelompok Penelitian

Nilai TBUT (detik)

Kelompok air mata buatan

Nilai p Larutan

elektrolit (n=22)

Sodium hyaluronat

0,1%

(n=22) 1. Hari ke-1

pascabedah Rerata (SD) Median Rentang 2. Minggu ke-4

pascabedah Rerata (SD) Median Rentang

9,38 (4,69) 9,1 3,0 - 17,8

12,66 (3,64) 12,9 6,0 - 20,0

7,15 ( 2,50) 6,45 3,6 - 13,1

14,7 (3,50) 14,7 3,0 - 21,4

0,058*

0,017**

Perubahan nilai TBUT Rerata (SD) Median Rentang Persentase

kenaikan nilai TBUT (%) Rerata Median

3,28 (4,03) 4,15 -4,6 - 11,6

66,7 37,8

7,55 (4,54) 8,05 -2 - 17,8

131,6 118,1

0,003**

0,010**

Keterangan: *) Uji t, **) Uji Mann-Whitney

Tabel 4.3 Perbandingan Nilai Tes Schirmer I pada Kedua Kelompok Penelitian

Nilai tes Schirmer I

(mm)

Kelompok air mata buatan Nilai

p*

Larutan elektrolit

(n=22)

Sodium hyaluronat

0,1%

(n=22) 1. Hari ke-1

pascabedah Rerata (SD) Median Rentang 2. Minggu ke-4

pascabedah Rerata (SD) Median Rentang

11,05 (6,12) 10 3 - 26

13,45 (6,71) 12,5 3 - 30

10,5 (7,14) 9 3 -34

14,77 (6,89) 13,5 6 - 35

0,588

0,510

Perubahan nilai tes Schirmer I Rerata (SD) Median Rentang Persentase

kenaikan nilai tes Schirmer I (%)

Rerata Median

2,40 (2,56) 3,0 -4 – 6

30,2 28,1

4,27 (1,69) 5,0 1 – 6

58,3 47,7

0,008

0,029

Keterangan: *) Uji Mann-Whitney

Diskusi

Insidensi mata kering setelah tindakan fakoemulsifikasi adalah 9,8% berdasarkan penelitian oleh Kasetsuwan dkk di Thailand.1 Keluhan mata kering tersebut dapat muncul segera setelah dilakukan tindakan bedah dan dapat bertahan hingga beberapa waktu setelahnya. Barabino dkk melaporkan bahwa pasien pascabedah fakoemulsifikasi dapat mengalami gejala mata kering sejak hari ke-1 hingga hari ke-7.1 Li dkk mendapatkan bahwa tanda dan gejala mata kering muncul pada hari ke-7 pascabedah dengan puncaknya pada 1 bulan dan mulai mengalami perbaikan setelahnya walaupun tetap lebih rendah dibandingkan nilai prabedah pada bulan ke-3 pascabedah.12 Han dkk mengemukakan bahwa keluhan mata kering dapat bertahan hingga 3 bulan pascabedah katarak.14

Gejala mata kering sendiri merupakan keadaan yang dapat disebabkan oleh banyak faktor. Penelitian ini melibatkan 44 subjek dengan rentang usia 30 hingga 65 tahun dan rerata usia 57,2 tahun pada kelompok yang diberikan tetes air mata buatan yang mengandung elektrolit dan 58,8 tahun pada kelompok yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1%. Prevalensi mata kering meningkat seiring dengan usia. Diperkirakan 10% pasien berusia 30-60 tahun dapat mengeluhkan gejala mata kering dan meningkat 15% pada pasien lanjut diatas 65 tahun.2,3,6 Walaupun rerata usia pasien pada kedua kelompok penelitian ini berada dalam kelompok usia dengan kecenderungan mengalami sindroma mata kering, pada penelitian ini tidak terdapat subjek dengan keadaan mata kering prabedah yang tampak dari hasil nilai TBUT dan tes Schirmer prabedah.

Pada kedua kelompok dalam penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari segi usia dengan nilai p=0,822. Jenis kelamin wanita sebagai salah satu faktor risiko terjadinya mata kering juga terdistribusi secara merata pada kedua kelompok, dengan jumlah 12 orang wanita pada masing-masing kelompok.

Salah satu kriteria inklusi pada penelitian ini adalah waktu pembedahan kurang dari 20 menit, karena waktu pembedahan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan terjadinya gangguan stabilitas air mata pascabedah.

Sitompul dkk menyatakan bahwa kerusakan

(5)

terhadap saraf kornea akan lebih besar dengan waktu pembedahan yang lebih lama. Waktu pembedahan yang lebih lama juga berarti kemungkinan adanya irigasi yang berlebihan terhadap kornea, pajanan terhadap sinar mikroskop yang lebih lama, serta manipulasi permukaan okular yang lebih banyak yang dapat menurunkan densitas sel goblet dan dapat mengganggu stabilitas air mata. Penelitian oleh Oh dkk melaporkan adanya korelasi antara penurunan densitas sel goblet dengan waktu pembedahan, yang belum pulih pada bulan ke-3 pascabedah katarak.1,11 Waktu pembedahan pada penelitian ini berkisar antara 3,35 hingga 17,0 menit dengan rerata pada masing-masing kelompok tidak berbeda bermakna, yaitu 8,03 menit dan 7,24 menit (p<0,05; uji Mann- Whitney).

Terdapat beberapa evaluasi yang dapat dilakukan untuk menilai keadaan mata kering, baik secara subjektif maupun objektif. TBUT merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan untuk menilai keadaan mata kering yaitu dengan melihat stabilitas lapisan air mata pasien. Nilai TBUT prabedah pada kedua kelompok penelitian tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan nilai p=0,968. Penelitian- penelitian sebelumnya mendapatkan penurunan nilai TBUT pascabedah katarak. Pada penelitian ini seluruh pasien (100%) mengalami penurunan nilai TBUT pada hari pertama pascabedah dibandingkan dengan nilai prabedah, dengan rerata penurunan nilai sebanyak 6,67 detik (41,1%) pada kelompok larutan elektrolit dan 8,84 detik (52,1%) pada kelompok sodium hyaluronat 0,1%. Penelitian oleh Cetinkaya dkk yang melihat perjalanan sindroma mata kering setelah tindakan fakoemulsifikasi menunjukkan penurunan nilai TBUT yang bermakna pada hari ke-1, minggu ke-1, dan minggu ke-4 dibandingkan dengan nilai prabedah (nilai p<0,001), namun nilai pada bulan ke-3, bulan ke- 6, tahun ke-1, dan tahun ke-2 pascabedah tidak berbeda bemakna dibandingkan nilai prabedah.11 Pemeriksaan TBUT berguna tidak hanya untuk mendiagnosis mata kering, namun juga untuk pemantauan lanjut dari terapinya, oleh karena itu pemeriksaan ulang TBUT dapat dijadikan dasar untuk mengevaluasi efikasi dari penggunaan air mata buatan. 2,3,6,19,36 Seluruh subjek pada penelitian ini diberikan tetes air mata buatan

sebagai terapi tambahan pascabedah, sesuai dengan kelompoknya. Pemeriksaan pada penelitian ini dilakukan pada hari ke-1 dan minggu ke-4 pascabedah, kemudian perubahan nilai TBUT antar kedua pemeriksaan dihitung.

Sebagian besar subjek penelitian mengalami kenaikan nilai TBUT pada minggu ke-4 dibanding dengan hari ke-1 pascabedah, namun rerata persentase kenaikan nilai TBUT lebih tinggi secara bermakna pada yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% dengan nilai p=0,010 berdasarkan uji Mann-Whitney.

Penelitian oleh Mencucci dkk yang menggunakan tambahan terapi air mata buatan yang mengandung sodium hyaluronat 0.1% dan CMC 0.5% mendapatkan kenaikan nilai TBUT yang bermakna pada minggu ke-5 dibandingkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan tambahan air mata buatan. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan integritas lapisan air mata, yang dapat mencegah terjadinya evaporasi, hiperosmolaritas, dan progresivitas keadaan mata kering, dengan pemberian air mata buatan pada pasien pascabedah katarak seperti halnya pada penelitian ini. Hyaluronat adalah agen viskositas yang sering dijadikan larutan air mata buatan dan memberikan perbaikan keadaan mata kering pada banyak pasien. Hyaluronat memiliki waktu penempelan pada permukaan okular yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan HPMC dan polyvinyl alcohol, yang juga merupakan agen viskositas.6 Hyaluronat selain memiliki properti mempertahankan air sehingga memperbaiki wettability permukaan okular, juga dapat efektif digunakan pada pasien pascabedah katarak karena konsentrasi hyaluronat akan meningkat ketika terjadi kerusakan pada jaringan okular dan selama penyembuhan luka kornea. Pada penelitian sebelumnya, hyaluronat membantu migrasi sel dan menstabilisasi sawar epitel pada permukaan okular. Hal tersebut menunjukkan bahwa hyaluronat mungkin terlibat langsung dalam proses perbaikan sel epitel melalui aktivasi CD44 (reseptor hyaluronat). CD44 diekspresikan pada sel kornea dan konjungtiva, dan aktivasinya memungkinkan terjadinya interaksi dengan protein sitoskeletal, sehingga menunjukkan peran hyaluronat dalam penempelan dan motilitas sel.

Penempelan hyaluronat pada CD44 juga dapat menstimulasi proliferasi sel melalui kaskade kinase. 13,20,21,22

(6)

Tes Schirmer merupakan tes objektif lain yang dapat digunakan untuk menilai keadaan mata kering dengan melihat produksi air mata pasien.

Instabilitas lapisan air mata dapat terjadi apabila terdapat gangguan dari penyusun lapisan air mata, oleh karena itu penilaian produksi air mata melalui tes Schirmer dapat digunakan untuk menilai stabilitas lapisan air mata secara tidak langsung. 2,24,25,36,37 Nilai tes Schirmer I prabedah pada kedua kelompok penelitian tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan nilai p=0,902.

Cetinkaya dkk mendapatkan penurunan nilai tes Schirmer I yang bermakna pada hari ke-1, minggu ke-1, dan minggu ke-4 dibandingkan dengan nilai prabedah (nilai p<0,001), namun nilai pada bulan ke-3, bulan ke-6, tahun ke-1, dan tahun ke-2 pascabedah tidak berbeda bemakna dibandingkan nilai prabedah fakoemulsifikasi.11 Pada penelitian ini seluruh pasien (100%) mengalami penurunan nilai tes Schirmer I pada hari pertama pascabedah dibandingkan dengan nilai prabedah, dengan rerata penurunan nilai sebanyak 7,22 mm (39,8%) pada kelompok larutan elektrolit dan 7,60 mm (43,7%) pada kelompok sodium hyaluronat 0,1%.

Kornea mendapatkan inervasi dari nervus siliaris longus dari cabang oftalmik nervus trigeminal. Pada keadaan normal, saraf-saraf tersebut mengirimkan stimulus aferen ke batang otak dan sinyal parasimpatetik dan simpatetik menstimulasi kelenjar lakrimal untuk produksi dan sekresi air mata. Refleks mengedip dan pengeluaran air mata yang normal membutuhkan inervasi kornea yang intak. Gangguan sirkuit persarafan tersebut dapat mencetuskan terjadinya mata kering. Prosedur bedah seperti keratotomi fotorefraktif, laser in situ keratomileusis (LASIK), ekstraksi katarak ekstrakapsular, dan fakoemulsifikasi dapat menyebabkan denervasi pada kornea yang mengakibatkan terjadinya penurunan refleks mengedip dan produksi air mata, sehingga lebih jauh lagi dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas epitel, penurunan aktivitas metabolik epitel, dan gangguan penyembuhan luka.1,6,11 Mediator inflamasi yang dilepaskan setelah insisi kornea juga dapat merubah aktivitas saraf kornea dan menurunkan sensitivitas kornea sehingga terjadi instabilitas lapisan air mata. Dalam proses penyembuhan, neural growth factor dilepaskan untuk meregenerasi akson subepitel kornea dan

proses tersebut membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Hal tersebut menjelaskan mengapa tanda dan gejala mata kering lebih jelas segera setelah tindakan bedah dan mengalami perbaikan di kemudian hari.1,11 Elektrolit terdapat secara alami di dalam cairan fisiologis dan membantu meregulasi proses metabolik pada lapisan air mata.4,6,19 Penambahan terapi air mata buatan yang mengandung elektrolit pada penelitian ini diharapkan dapat membantu memperbaiki proses metabolik yang terganggu dan memperbaiki permukaan kornea yang rusak. Pada penelitian ini, pemeriksaan tes Schirmer I dilakukan pada hari ke-1 dan minggu ke-4 pascabedah, kemudian perubahan nilai tes Schirmer I antar kedua pemeriksaan dihitung. Sebagian besar subjek penelitian mengalami kenaikan nilai tes Schirmer I pada minggu ke-4 dibanding dengan hari ke-1 pascabedah, namun berdasarkan uji Mann- Whitney rerata persentase kenaikan nilai tes Schirmer I lebih lebih tinggi secara bermakna pada yang diberikan tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% dengan nilai p=0,029. Sodium hyaluronat selain berperan langsung dalam penyembuhan luka, juga membantu dalam proses transpor protein seperti faktor pertumbuhan, yang berguna untuk meregenerasi akson kornea yang rusak setelah tindakan bedah, sehingga dapat memperbaiki sirkuit persarafan kornea yang terganggu dan memberikan produksi air mata yang lebih baik.1,11

Keterbatasan dari penelitian ini adalah waktu pengamatan, yaitu selama 4 minggu pascabedah, sedangkan beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pasien mengalami tanda dan gejala mata kering pada waktu yang bervariasi, hingga lebih dari 4 minggu, serta pada penelitian ini walaupun tampak terdapat perbaikan nilai TBUT dan tes Schirmer I pada minggu ke-4 namun tidak semua pasien mencapai nilai prabedah, sehingga pengaruh secara lengkap dari pemberian air mata buatan sodium hyaluronat maupun larutan elektrolit pada pasien pascabedah katarak belum dapat tergambarkan. Kelebihan dari penelitian ini adalah memberikan perbandingan pengaruh pemberian dua jenis air mata buatan yang sering digunakan pada pasien pascabedah katarak, yang sebelumnya belum pernah dibandingkan antar satu sama lain.

(7)

Simpulan

Pemberian air mata buatan yang mengandung sodium hyaluronat 0,1% pada pasien pascabedah katarak memberikan pengaruh yang lebih baik secara bermakna terhadap nilai TBUT dan nilai tes Schirmer I pasien dibandingkan dengan pemberian air mata buatan yang mengandung elektrolit saja.

Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan pemeriksaan TBUT dan Schirmer pada pasien yang akan dilakukan tindakan bedah katarak untuk melihat adanya keadaan mata kering prabedah dan dapat diberikan terapi tambahan pascabedah katarak berupa tetes air mata buatan sodium hyaluronat 0,1% untuk memperbaiki stabilitas air mata pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kasetsuwan N, Satitpitakul V, Changul T, Jariyakosol S.

Incidence and Pattern of Dry Eye after Cataract Surgery. PLoS ONE 8(11): e78657.doi:10.1371/journal.pone.0078657 2. American Academy of Ophthalmology. External Eye Disease.

BCSC Section 8. San Francisco: AAO; 2010-2011.

3. Lemp MA, Foulks GN. The Definition and Classification of Dry Eye Disease. Guidelines from the 2007 International Dry Eye Workshop. 2008

4. Dartt DA. Formation and Function of the Tear Film. Dalam:

Levin LA, Nilsson SFE, Ver Hoeve J, Wu SM, Kaufman PL, Alm A. Adler's Physiology of the Eye. China: Saunders; 2011.

Hlm 350-62

5. Lemp MA, Beuerman RW. Tear Film. Dalam: Krachmer JH, Mannis MJ, Holland EJ. Cornea. Edisi ke-2. China: Mosby;

2005. hlm 33-39.

6. DEWS. The Definition and Classification of Dry Eye Disease:

Report of the Definition and Classification Subcommittee of the International Dry Eye Workshop (2007). The Ocular Surface. 2007; 5(2): hlm 75-92

7. Mian SI, Sugar A. Corneal Complications of Intraocular Surgery. Dalam: Krachmer JH, Mannis MJ, Holland EJ.

Cornea. Edisi ke-2. China: Mosby; 2005. hlm 1155-1168 8. World Health Organization. Universal eye health: A global

action plan 2014-2019. Geneva: World Health Organization, 2013. WHO Library Cataloguing 2013.

9. Sovani I, Syumarti, Ratnaningsih N, Rini M, Halim A. Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB): Survey kebutaan dan gangguan penglihatan di Jawa Barat. Bandung:

Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo; 2014

10. Cho YK, Kim MS. Dry eye after cataract surgery and associated intraoperative risk factors. Korean J Ophthalmol - June 1, 2009; 23 (2); 65-73

11. Cetinkaya S, Mestan E, Acir NO, Cetinkaya YF, Dadaci Z, dkk. The course of dry eye after phacoemulsification surgery.

BMC Ophthalmol. 2015 Jun 30;15:68. doi: 10.1186/s12886- 015-0058-3.

12. Li XM, Hu L, Hu J, Wang W. Investigation of dry eye disease and analysis of the pathogenic factors in patients after cataract surgery. Cornea. 2007 Oct;26 (9 Suppl 1):S16- 20.

13. Mencucci R, Boccalini C, Caputo R, Favuzza E. Effect of a hyaluronic acid and carboxymethylcellulose ophthalmic solution on ocular comfort and tear-film instability after cataract surgery. J Cataract Refract Surg 2015; 41:1699–1704

14. Han KE, Yoon SC, Ahn JM, Nam SM, Stulting RD, Kim EK, dkk. Evaluation of Dry Eye and Meibomian Gland Dysfunction After Cataract Surgery. Am J Ophthalmol 2014;157:1144–1150

15. Barba KR, Samy A, Lai C, Perlman JI, Bouchard CS. Effect of topical anti-inflammatory drugs on corneal and limbal wound healing. J Cataract Refract Surg. 2000 Jun;26(6):893- 7.

16. Shaheen B, Bakir M, Jain S. Corneal Nerves in Health and Disease. Surv Ophthalmol. 2014;59(3): 263–285.

doi:10.1016/j.survophthal.2013.09.002.

17. Fodor M, Petrovski G, Pásztor D, Gogolák P, Rajnavölgyi E, Berta A. Effects of Awakening and the Use of Topical Dexamethasone and Levofloxacin on the Cytokine Levels in Tears Following Corneal Transplantation. J Immunol Res. 2014; 2014:570685. doi: 10.1155/2014/570685. Epub 2014 Oct 12.

18. Garrett Q, Xu S, Simmons PA, Vehige J, Xie RZ, Kumar A, Flanagan JL, Zhao Z, Willcox MD. Carboxymethyl cellulose stimulates rabbit corneal epithelial wound healing.

Curr Eye Res. 2008 Jul;33(7):567-73. doi:

10.1080/02713680802140213.

19. Abelson MB, Ousler G, Anderson R.Tear Substitutes. Dalam:

Albert DM, Miller JW, Azar DT, Blodi BA, Cohan JE, Perkins T. Albert & Jakobiec's Principles & Practice of Ophthalmology. Edisi ke-3. Philadelphia: Saunders; 2008.

Hlm 287-92.

20. Aragona P, Papa V, Micali A, Santocono M, Milazzo G. Long term treatment with sodium hyaluronate-containing artificial tears reduces ocular surface damage in patients with dry eye.

Br J Ophthalmol 2002;86:181–184

21. Condon PI, McEwen CG, Wright M, Mackintosh G, Prescott RJ, McDonald C. Double blind, randomised, placebo controlled, crossover, multicentre study to determine the efficacy of a 0.1% (w/v) sodium hyaluronate solution (Fermavisc) in the treatment of dry eye syndrome. Br J Ophthalmol. 1999 Oct;83(10):1121-4.

22. Prabhasawat P, Tesavibul N, Kasetsuwan N. Performance profile of sodium hyaluronate in patients with lipid tear deficiency: randomised, double-blind, controlled, exploratory study. Br J Ophthalmol. 2007 Jan;91(1):47-50. Epub 2006 Sep 14.

23. Roth HW, Conway T, Hollander DA. Evaluation of carboxymethylcellulose 0.5%/ glycerin 0.9% and sodium hyaluronate 0.18% artificial tears in patients with mild to moderate dry eye. Clinical Optometry 2011:3 73–78 24. McGinnigle S, Naroo SA, Eperjesi F. Evaluation of Dry Eye.

Major review. doi:10.1016/j.survophthal.2011.11.003. 2012 25. Lemp MA. Tear Film Evaluation. Dalam: Krachmer JH,

Mannis MJ, Holland EJ. Cornea. Edisi ke-2. China: Mosby;

2005. hlm 119-23

26. Yao K, Bao Y, Ye J, Lu Y, Bi H, Tang X, dkk. Efficacy of 1%

carboxymethylcellulose sodium for treating dry eye after phacoemulsification: results from a multicenter, open-label, randomized, controlled study. BMC Ophthalmol. 2015 Mar 20;15:28. doi: 10.1186/s12886-015-0005-3.

27. Afsharkhamseh N, Movahedan A, Motahari H, Djalilian AR.

Cataract surgery in patients with ocular surface disease: An update in clinical diagnosis and treatment. Saudi J Ophthalmol. 2014 Jul;28(3):164-7. doi: 10.1016/

j.sjopt.2014.06.013

28. Chong EM, Harissi-Dagher M, Dana R. Wetting of the Ocular Surface and Dry-Eye Disorders. Dalam: Albert DM, Miller JW, Azar DT, Blodi BA, Cohan JE, Perkins T. Albert &

Jakobiec's Principles & Practice of Ophthalmology. Edisi ke- 3. Philadelphia: Saunders; 2008. Hlm 773-88

29. Rao NK, Goldstein MH, Tu EY. Dry Eye. Dalam: Yanoff M, Duker JS. Ophthalmology. Edisi ke-3. China: Elsevier; 2009 30. Farjo AA, Brumm MV, Soong HK. Corneal Anatomy,

Physiology, and Wound Healing. Dalam: Yanoff M, Duker JS.

(8)

Ophthalmology. Edisi ke-3. China: Elsevier; 2009. Hlm 163- 7

31. Harvey TM, Fernandez AGA, Patel R, Goldman D, Ciralsky J. Conjunctival Anatomy and Physiology. Dalam: Holland EJ, Mannis MJ, Lee WB. Ocular Surface Disease: Cornea, Conjunctiva and Tear Film. China: Saunders; 2013

32. Dartt DA. Tear Lipocalin: Structure and Function. The Ocular Surface. Volume 9, Issue 3. Hlm 126-38. 2011

33. Foster JB, Lee WB. Tear Film Anatomy. Dalam: Holland EJ.

Ocular Surface Disease: Cornea, Conjunctiva and Tear Film.

China: Elsevier Saunders; 2013

34. Runström G, Mann A, Tighe B. The Fall and Rise of Tear Albumin Levels: A Multifactorial Phenomenon. The Ocular Surface. Volume 11, Issue 3. Hlm 165-80. 2013

35. Tung CI, Perin AF, Gumus K, Pflugfelder SC. Tear Meniscus Dimensions in Tear Dysfunction and Their Correlation With Clinical Parameters. Am J Ophthalmol. 2014 Feb;157(2):301- 310.e1. doi: 10.1016/j.ajo.2013.09.02

36. Doughty MJ. Fluorescein-Tear Breakup Time as an Assessment of Efficacy of Tear Replacement Therapy in Dry Eye Patients: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Ocular Surface. Volume 12, Issue 2. Hlm 100-111 2014 37. Bitton E, Wittich W. Influence of eye position on the Schirmer

tear test. Cont Lens Anterior Eye. 2014 Aug; 37(4):257-61.

doi: 10.1016/ j.clae.2013.11.011.

38. Lemp MA, Bron AJ, Baudouin C, Benítez Del Castillo JM, Geffen D, Tauber J, dkk. Tear Osmolarity in the Diagnosis and Management of Dry Eye Disease. Am J Ophthalmol. 2011 May;151(5):792-798.e1. doi: 10.1016/j.ajo.2010.10.032.

39. Arshinoff SA, Opalinski YAV, Podbielski DW. The Pharmacotherapy of Cataract Surgery. Dalam: Yanoff M, Duker JS. Ophthalmology. Edisi ke-3. China: Elsevier; 2009.

Hlm 351-355

40. Fraunfelder FT, Fraunfelder FW, Chambers WA. Clinical Ocular Toxicology: Drugs, Chemicals, and Herbs. China:

Elsevier Inc; 2008

41. Epstein SP, Chen D, Asbell PA. Evaluation of Biomarkers of Inflammation in Response to Benzalkonium Chloride on Corneal and Conjunctival Epithelial Cells. J Ocul Pharmacol Ther. 2009 Oct;25(5):415-24. doi: 10.1089/jop.2008.0140.

42. Hoffman CJ, Laibson PR. Corneal Manifestations of Local and Systemic Therapies. Dalam: Krachmer JH, Mannis MJ, Holland EJ. Cornea. Edisi ke-2. China: Mosby; 2005. hlm 797-805

43. Kohlhaas M. Corneal sensation after cataract and refractive surgery. J Cataract Refract Surg 1998;24:1399-409.

44. Waite PME, Ashwell KWS. Trigeminal Sensory System.

Dalam: Mai JK, Paxinos G. Human Nervous System. Edisi ke- 3. United States of America: Elsevier; 2012

45. Pflugfelder SC, Nettune GR. Treatment of Dry Eye Disease.

Dalam: Holland EJ. Ocular Surface Disease: Cornea, Conjunctiva and Tear Film. China: Elsevier Saunders; 2013

Referensi

Dokumen terkait

Biểu đồ thể hiện sự sinh trưởng của Spirulina trong môi trường bổ sung 25%, 50%, 75%, 100% khối lượng Nitơ từ muối natri nitrit A và natri nitrat B Hình 3 cho thấy khác với thí

Methodology  Clear and detailed description of methodology may consist of field work, sampling techniques, interview session, analysis ; lab work of different phases, experimental