• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN KADAR HEMATOKRIT KOMPONEN PACKED RED CELL (PRC) PADA PENYIMPANAN 1 HARI DAN 5 HARI

N/A
N/A
fiani rahim putri

Academic year: 2023

Membagikan "PERBEDAAN KADAR HEMATOKRIT KOMPONEN PACKED RED CELL (PRC) PADA PENYIMPANAN 1 HARI DAN 5 HARI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN KADAR HEMATOKRIT KOMPONEN PACKED RED CELL (PRC) PADA PENYIMPANAN 1 HARI DAN 5

HARI

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan Pendidikan Program Studi Diploma 3 Teknologi Bank Darah

Disusun Oleh : Fiani Rahim Putri NIM 21114014

PROGRAM STUDI D3 TEKNOLOGI BANK DARAH POLITEKNIK KESEHATAN BHAKTI SETYA INDONESIA

YOGYAKARTA

2023

(2)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transfusi darah adalah proses pemindahan atau pemberian darah dari seseorang (pendonor) kepada orang lain (pasien). Proses transfusi darah harus memenuhi persyaratan yaitu aman bagi penyumbang darah (pendonor) dan produk darah harus bersifat terapeutik bagi penerima darah (pasien) (Widiana, 2021). Transfusi darah adalah salah satu terapi penunjang yang penting tidak hanya untuk kelainan dibidang hematologi namun juga pada kasus non hematologi seperti sepsis, persiapan pre- operatif maupun penyakit lain. Tujuan Transfusi darah antara lain untuk mengembalikan volume darah normal, mengganti kekurangan komponen darah, dan meningkatkan oksigenasi maupun hemostasis (Nency &

Sumanti, 2011).

Produk darah yang ditransfusikan dapat berupa darah lengkap/Whole Blood (WB), Packed Red Cells (PRC), Trombosit Concentrat (TC), Liquid Plasma (LP), Fresh Frozen Plasma (FFP), dan Kriopresipitat/Anti Hemophilic Factor (AHF). Salah satu produk darah yang sering digunakan untuk transfusi adalah PRC (Maharani dan Noviar, 2018). Packed Red Cell (PRC) adalah Komponen darah yang didapat setelah sebagian besar plasma dipisahkan dari Whole Blood (WB) dengan berbagai metode dan memiliki nilai hematoktit sebesar 80% (Asryani et al., 2018). PRC dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan kadar hematokrit.

PRC disimpan pada suhu 2-6 0C selama 21-42 hari tergantung larutan antikoagulan yang digunakan (Ashan et al., 2020).

Pemeriksaan Hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan yang sering dilakukan di Laboratorium berguna untuk membantu diagnose berbagai penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue, anemia, polisitemia dan diare berat (Nurlela, 2016). Hematokrit merupakan suatu hasil pengukuran yang menyatakan perbandingan sel darah merah terhadap volume darah dalam satuan % (Rosidah & Wibowo, 2018).

Pemeriksaan hematokrit termasuk salah satu pemeriksaan darah lengkap

(3)

dan dapat diperiksa menggunakan beberapa metode pemeriksaan salah satunya menggunakan alat otomatis berupa hematology analyzer yang bekerja berdasarkan prinsip flow cytometri. Pemeriksaan hematokrit menggunakan metode autoanalyzer lebih unggul daripada metode manual, karena pada metode ini dapat mengeluarkan hasil dengan cepat dan hasil yang dikeluarkan sudah melalui Quality control internal oleh laboratorium (Chairani et al., 2022)

Dalam rangka menjamin komponen darah yang dihasilkan memiliki fungsi terapeutik yang optimal setiap jenis komponen darah harus dinilai mutunya. Penilaian mutu dilakukan dengan mengacu pada standar mutu masing-masing komponen darah, yang dapat dilakukan baik secara visual maupun dengan bantuan peralatan (Zulanmiga, 2022). Pengawasan mutu (Quality Control) merupakan fungsi kritis dari produksi komponen darah dan merupakan bukti bahwa komponen darah memenuhi spesifikasi. Salah satu parameter Quality Control pada komponen darah Packed Red Cell (PRC) yang diperiksa adalah kadar hematokrit. Nilai hematoktrit yang memenuhi persyaratan QC adalah 65-75%. (Kementerian Kesehatan RI, 2015).

Berdasarkan data penelitian sebelumnya mendapatkan kesimpulan bahwa komponen darah PRC yang disimpan berturut-turut yakni pada hari ke-0 , 14 dan 28 hari tidak diperoleh perbedaan kadar hematokrit yang signifikan (p>0,05) hal tersebut menunjukkan bahwa sel darah merah tidak mengalami kerusakan yang bermakna selama penyimpanan. (Indah et al., 2022). Penelitian tahun 2019 oleh saragih menunjukkan perubahan kadar hematokrit terhadap lama simpan selama tujuh hari namun tidak signifikan secara statistik (p>0.05) (Saragih et al., 2019). Berdasarkan hasil penelitian oleh (Astuti, 2023) terdapat perbedaan yang signifikan nilai hematokrit PRC metode sentrifugasi dan gravitasi p=0,000 (p<0,005) rata-rata nilai hematoktrit sentrifugasi 65,5% dapat dikatakan memenuhi persyaratan QC sebagaimana tercantum pada (Kementerian Kesehatan RI, 2015) sedangkan rata-rata nilai hematokrit PRC metode gravitasi 57,0%

dikatakan tidak memenuhi persyaratan QC.

(4)

Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui lebih lanjut apakah terdapat perbedaan nilai hematokrit komponen PRC pada penyimpanan 1 hari dan 5 hari jika diolah dengan metode otomatis menggunakan alat hematology analyzer di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah ada perbedaan Kadar Hematokrit pada komponen PRC pada penyimpanan 1 hari dan 5 hari menggunakan metode otomatis menggunakan alat hematology analyzer?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui perbedaan kadar hematokrit komponen PRC pada penyimpanan 1 hari dan 5 hari di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus

1. Mengukur hasil pemeriksaan nilai hematokrit pada komponen PRC pada penyimpanan 1 hari.

2. Mengukur hasil pemeriksaan nilai hematokrit pada komponen PRC pada penyimpanan 5 hari.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dibidang hematologi khususnya mengenai pemeriksaan hematokrit menggunakan alat hematology analyzer

2. Bagi UDD PMI Kota Yogyakarta

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan kadar hematokrit komponen (PRC) pada hari 1 dan hari ke-5 penyimpanan untuk meningkatkan QC produk darah dalam pelayanan transfusi darah.

3. Bagi Peneliti Lain

(5)

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi mengenai pemeriksaan hematokrit menggunakan metode otomatis dengan alat hematology analyzer.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian

Peneliti Judul Hasil Perbedaan persamaan

Indah, 2022

Pengaruh Lama Simpan Dan Konsentrasi Mannitol Pada Packed Red Cell SAGM Terhadap Kadar

Hemoglobin Dan Hematokrit

Tidak Terdapat Perbedaan Nilai Hematokrit Pemeriksaan PRC SAGM Terhadap Konsentrasi Mannitol 0,525%, 1%

Dan 1,5%

Selama Hari Ke-0, 14 Hari Dan 28 Hari

Perbedaan Terletak Pada Variabel Yang Diteliti Yaitu Hemoglobin, Masa Simpan Dan Sampel Yang Digunakan Yaitu PRC Dengan Antikoagulan SAGM

Persamaan Terletak Pada Variabel Yang Diteliti Yaitu Meneliti Nilai Hematokrit Pada Produk PRC

Seragih,

2019 Pengaruh Waktu Simpan Packed Red Cell (PRC) Terhadap Perubahan Kadar Hemoglobin, Hematokrit Dan Glukosa Plasma Di RSUP H.

Adam Malik Indonesia

Tidak Ada Perubahan Nilai Hematokrit Yang Signifikan Selama Masa Simpan 1-7 Hari

Penyimpanan

Perbedaan Terletak Pada Variabel Yang Diteliti Yaitu Masa Simpan,Hemoglobi n Dan Plasma Glukosa

Persamaan Terletak Pada Variabel Yang Diteliti Yaitu Meneliti Nilai Hematokrit Pada Produk Darah PRC

Astuti,

2023 Perbedaan Nilai Hematokrit Pada Produk Packed Red Cell (PRC) Menggunakan Metode

Sentrifugasi Dan Gravitasi Di UDD

PMI Kota

Yogyakarta

Terdapat Perbedaan Yang Signifikan Nilai Hematokrit Pada Metode Sentrifugasi

(65,6% /

Memenuhi QC), Sedangkan Pada Metode Gravitasi

(57,0% /

Tidak Memenuhi

Perbedaan Terletak Pada Variabel Yang Diteliti Yaitu Pemeriksaan Nilai Hematokrit Menggunakan Metode Sentrifugasi

Persamaan Terletak Pada Variabel Yang Diteliti Yaitu Meneliti Nilai Hematokrit Pada Produk PRC,

Menggunakan Metode Otomatis Dengan Alat Hematology Analyzer, Lokasi Penelitian Yang Sama

(6)

QC)

BAB II

Tinjauan Pustaka A. Darah

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan didalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah merah. Volume darah secara keseluruhan kira-kira satu perdua belas berat badan atau kira-kira lima liter.

Sekitar 55 persennya adalah cairan, sedangkan 45 persen sisanya terdiri atas sel darah. Angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit (Pearce, 2009).

Darah merupakan cairan tubuh yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yang bersirkulasi dalam jantung dan pembuluh darah. Darah berfungsi membawa oksigen dan nutrisi bagi seluruh sel dalam tubuh serta mengangkut produk-produk hasil metabolism sel. Volume darah total dalam tubuh manusia dewasa adalah berkisar 3,6 liter pada Wanita dan 4,5 liter pada Pria (Filani, Khila, 2018). Didalam darah terdapat beberapa komponen penyusun diantaranya adalah :

1. Plasma

Plasma darah merupakan komponen terbesar dalam darah yang cairannya berwarna kekuning-kuningan dan mengandung 90% air, 7-8 % protein terlarut, 1% elektrolit, dan 1-2% zat lain, diantaranya adalah glukosa, asam amino, lemak, vitamin, urea, asam urat, gas terlarut dan hormon (Fatimah et al., 2019). Plasma darah mengandung berbagai protein plasma, antara lain albumin yang berfungsi untuk mempertahankan tekanan osmotic koloid (onkotik), globulin Berperan dalam membentuk immunoglobulin yang penting dalam sistem imunitas tubuh terhadap benda asing atau mikroorganisme dan faktor-faktor koagulasi yang berperan dalam proses pembekuan darah (Filani, Khila, 2018)

2. Sel Darah Merah (eritrosit)

Sel darah merah atau eritrosit adalah sel yang memiliki fungsi khusus mengangkut oksigen ke jaringan-jaringan tubuh dan membantu pembuangan karbon dioksida dan proton yang dihasilkan oleh metabolism tubuh. Sel darah merah berbentuk bilat pipih seperti cakram bikonkaf dan

(7)

mempunyai masa hidup 120 hari sejak dibentuk di jaringan hematopoietik (Sofro, M. Salam, 2012). Sel darah merah (eritrosit) berjumlah paling banyak dibandingkan sel-sel darah lainnya. Dalam satu mililiter darah, terdapat kira-kira 4,5 juta eritrosit, itu sebabnya darah berwarna merah.

Parameter untuk mengukur keadaan eritrosit biasanya dilakukan dengan mengukur kadar hemoglobin di dalam darah dalam satuan gram per desiliter (g/dl), mengukur perbandingan volume eritrosit dengan volume darah (hematokrit), dan menghitung volume eritrosit (Kiswari, 2014)

3. Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih atau leukosit merupakan sel darah yang memiliki inti sel dan memiliki ukuran sel yang lebih besar, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan sel darah merah (eritrosit). Leukosit Berperan dalam sistem pertahanan tubuh melawan agen infeksi yang cepat dan kuat.

Sistem pertahanan tersebut terjadi melalui penghancuran antigen melalui fagositosis atau pembentukan antibodi. Sel darah putih sebagian dibentuk di sumsum tulang dan sebagian lagi di organ limfoid seperti kelenjar limfe, timus, dan tonsil, kemudian akan diangkut menuju bagian yang mengalami peradangan (Fatimah et al., 2019). Terdapat tiga jenis sel darah putih, yaitu limfosit (baik B maupun T), granulosit (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan monosit (Sofro, M. Salam, 2012)

4. Keping Darah (Trombosit)

Keping darah atau Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam hemostasis. Trombosit melekat pada lapisan endotel pembuluh darah yang robek (luka) dengan membentuk Plug trombosit. Trombosit tidak mempunyai inti sel, berukuran 1-4 mikron, dan sitoplasmanya berwarna biru dengan granula ungu-kemerahan. Jumlah trombosit berjumlah sekitar 150.000 sampai 350.000 per mcL darah dan umur trombosit sekitar 10 hari (Kiswari, 2014).

(8)

B. Packed Red Cell (PRC)

Gambar 2. 1 Packed Red Cell (Sel Darah Merah Pekat) Sumber: (Maharani dan Noviar, 2018)

Packed Red Cell (PRC) adalah komponen darah yang diperoleh setelah pemisahan sebagian plasma dari Whole Blood (WB) dengan menggunakan berbagai metode, namun masih mengandung leukosit, trombosit dan sedikit plasma. (Asryani et al., 2018). PRC yang diproses dengan metode konvensional yaitu PRC yang dilakukan pemutaran dengan menggunakan centrifuge berpendingin (Refrigerated Centrifuge) pada suhu 2 0C sampai 6 0C dengan waktu 30 menit dan kecepatan putaran 1500xG.

Komposisi PRC metode sentrifugasi berisi 218-330 ml sel darah merah tergantung pengambilan Whole Blood nya dengan nilai hemoglobin sekitar 20 gr/100 ml, nilai hematokrit 70-80% (Danun & Rosanti, 2023).

Temperatur penyimpanan komponen PRC 4 ± 2 0C disimpan dalam Blood Bank Refrigerator (lemari pendingin darah) dan suhu transportasi antara 2

± 10 0C untuk maksimal pengiriman 24 jam dengan pengawasan petugas (Kementerian Kesehatan RI, 2015).

PRC membantu meningkatkan jumlah eritrosit. peningkatan Haemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) post transfusi PRC sama dengan peningkatan Hb dan Ht pada Whole Blood (WB). Sediaan sel darah merah yang terbentuk tetap memiliki semua kapasitas mengangkut oksigen semula tanpa banyak plasma yang mengencerkan efek terapeutiknya. Hal ini terutama penting bagi pasien dengan anemia kronis, gagal jantung kongestif atau pasien yang mengalami kesulitan mengatur volume darahnya. PRC lebih efektif dibandingkan WB dalam menyediakan

(9)

kapasitas mengangkut oksigen dan meningkatkan hematokrit pada pasien.

PRC yang menggunakan antikoagulan Citrate Phosphate Dextrose-adenin (CPD-A) yang disimpan dalam lemari pendingin memiliki waktu simpan 35 hari. Dengan pemakaian larutan antikoagulan aditif (Aditif Solution-ASI, Adsol dan nutricel), waktu simpan dapat diperlama menjadi 42 hari (Maharani dan Noviar, 2018).

C. Pengawasan Mutu PRC

Pengawasan mutu merupakan fungsi kritis dari produksi komponen darah dan merupakan bukti bahwa komponen darah memenuhi spesifikasi.

Namun demikian, pengawasan mutu (Quality Control = QC) biasanya dilaksanakan terhadap komponen darah final dan seringkali masalah akan teridentifikasi setelah terjadi.

(10)

D. Pemeriksaan Hematokrit 1. Definisi Hematokrit

Hematokrit berasal dari dua kata yaitu haem yang artinya darah dan Krinein yang artinya memisahkan (Gandasoebrata,2010). Hematokrit. Dalam Bahasa asing hematokrit sering diistilahkan dengan nama PCV (Packed Cell Volume), HCT (Hematokrit), PRCV (Packed Red Cell Volume), VPRC (Volume of Packed Red Cell) (Santosa & Waenah, 2005). Hematokrit (Ht atau Hct) atau disebut juga Packed Red Volume (PVC) adalah pemeriksaan volume eritrosit dalam mililiter yang ditemukan dalam 100 ml darah dan dihitung dalam satuan persen (%) (Nugraha, 2018). Nilai hematokrit dari sampel adalah perbandingan antara volume eritrosit dengan volume darah secara keseluruhan. Nilai hematokrit dapat dinyatakan sebagai persentase (konvensional) atau sebagai pecahan desimal (unit SI), liter/liter (L/L) (Kiswari, 2014).

Nilai Rujukan Hematokrit menurut (Riswanto, 2013) :

 Dewasa laki-laki : 40-52%

 Dewasa Wanita : 35-47%

 Bayi Baru lahir : 44-72%

 Anak usia 1-3 tahun : 35-45%

 Anak usia 4-5 tahun : 31-43%

 Anak usia 6-10 tahun : 33-45%

2. Faktor Yang Mempengaruhi Hematokrit

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan hematokrit yaitu : 1) Penurunan jumlah eritrosit serta bentuk eritrosit yang mikrositik pada anemia

defisiensi besi mengakibatkan ruang dalam darah yang terisi eritrosit menjadi lebih kecil. Misalnya pada keadaan kehilangan darah akut, anemia (aplasik, hemolitik, defisiensi asam folat, pernisiosa, sideroblastic, sel sabit), leukimia (limfositik, mielositik, monositik), penyakit Hodgkin, limfosarkoma, malignansi organ, myeloma multiple, sirosis hati, malnutrisi protein, defisiensi vitamin (tiamin, vitamin C), fistula lambung atau duodenum, ulkus peptikum, gagal ginjal kronis, kehamilan, SLE, seseorang dengan Pengaruh obat antineoplastic, antibiotic (kloramfenikol, Penisilin) dan obat Radio aktif. Hal klinis tersebut dapat mengakibatkan penurunan kadar hematokrit. Adapun masalah klinis yang dapat menyebabkan peningkatan hematokrit yakni dehidrasi/hypovolemia, diare berat, polisitemia vera, eritrositosis, diabetes asidosis, emfisema pulmonar tahap akhir, iskemia serebrum sementara, eclampsia, pembedahan dan luka bakar (Riswanto, 2013).

(11)

2) Pada pemeriksaan hematokrit menggunakan metode makro atau mikro penetapan tabung Wintrobe/kapiler pada centrifuge yang kurang tepat dapat menyebabkan hasil pembacaan hematokrit menjadi tinggi palsu. Kecepatan putaran centrifuge dan pengaturan waktu dimaksudkan agar eritrosit memadat secara maksimal. Oleh karena itu, waktu dan kecepatan pemutaran centrifuge harus diatur secara tepat sesuai dengan prosedur dan penempatan tabung pada centrifuge yang balance agar tidak terjadi goncangan saat dilakukan pemutaran.

3) Pada pemeriksaan hematokrit metode otomatis menggunakan alat Hematology Analyzer. Seperti halnya sebuah mesin elektronik, kerusakan bisa terjadi pada alat jika tidak dilakukan maintenance sehingga hal tersebut beresiko terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil yang dilakukan oleh mesin. Dan juga pada metode otomatis ini sampel yang tidak dihomogenkan dengan benar akan menyebabkan kesalahan pembacaan nilai hematokrit (Dwi & Meilanie, 2019)

3. Metode Pemeriksaan Hematokrit 1. Metode Makrohematokrit

Pada metode marohematokrit, pengukuran nilai hematokrit menggunakan sampel darah vena yang dimasukkan kedalam tabung yang berisi antikoagulan EDTA/Oksalat kemudian tabung tersebut dicampur dengan seksama hingga sampel darah vena terhomogenisasi dengan antikoagulan. Setelah sampel darah vena sudah dihomogenkan dengan antikoagulan, tahap selanjutnya sampel diisi kedalam tabung Wintrobe menggunakan Pipet Pasteur sampai batas angka 100 dan tanpa adanya gelembung udara didalam tabung Wintrobe. Tabung Wintrobe yang sudah terisi sampel darah disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit. Setelah sentrifugasi selesai, tabung dikeluarkan dan kemudian baca hasil dengan melihat pengendapan sel-selnya. Tinggi kolom eritrosit dibaca sebagai nilai hematokrit yang dinyatakan dalam satuan % (Aini et al., 2021). Metode ini tidak terlalu sering digunakan di laboratorium klinik karena penentuannya memerlukan waktu yang lama dan darah yang digunakan cukup banyak (Tumpuk & Suwandi, 2018)

2. Metode Mikrohematokrit

Pada metode mikrohematokrit, pengukuran nilai hematokrit menggunakan sampel darah kapiler atau darah vena. Pengambilan sampel menggunakan tabung

(12)

mikrokapiler dengan volume 2/3 tabung, kemudian tabung mikrokapiler ditusuk- tusuk pada creatosil agar menghambat darah tidak keluar dari tabung saat di sentrifuge. Kemudian dilakukan pemutaran tabung mikrokapiler menggunakan mikrohematokrit sentrifuge dengan kecepatan putaran 8.000-10.000 rpm selama 10 menit atau 16.000 selama 5 menit, lalu baca hasil pengendapan sel-selnya dengan menggunakan skala hematokrit/reading device dalam satuan % (Aini et al., 2021). Metode mikrohematokrit lebih sering digunakan daripada metode makrohematokrit karena hasil dapat diperoleh dalam waktu singkat (Afifah, 2022).

3. Metode Otomatis Menggunakan Alat Hematology Analyzer

Gambar 2. 2 Alat Hematology Analyzer

Sumber : Buku Petunjuk Praktikum Hematologi

Dasar oleh Sari, Permata et al., 2022

Hematology Analyzer merupakan alat

untuk mengukur sampel darah. Alat tersebut

digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap

dengan cara menghitung dan mengukur

sel darah secara otomatis berdasarkan

impedansi aliran listrik atau berkas cahaya terhadap sel-sel yang dilewatkan (Ginting, 2016). Prinsip kerja dari alat Hematology Analyzer ialah menilai bentuk, ukuran dan kadar hemoglobin, hematokrit, MCH, MCV dan MCV sampel darah (Sari, Permata et al., 2022). Pemeriksaan hematokrit metode otomatis dapat dilakukan dengan menggunakan Hematology Analyzer. Pemeriksaan hematokrit secara otomatis memiliki kelebihan yaitu hasil pemeriksaan akan dibaca otomatis pada alat dan hasil akan langsung diketahui secara cepat dan memiliki derajat ketepatan yang tinggi (Dwi & Meilanie, 2019).

E. Kerangka Teori F. Kerangka Konsep G. Hipotesis

Referensi

Dokumen terkait