• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERCOBAAN 1 (PENGENALAN HEWAN COBA SEBAGAI MODEL PENYAKIT)

N/A
N/A
Alifah Khalda Soraya

Academic year: 2024

Membagikan "PERCOBAAN 1 (PENGENALAN HEWAN COBA SEBAGAI MODEL PENYAKIT)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PENGENALAN HEWAN COBA SEBAGAI MODEL PENYAKIT

Alifah Khalda Soraya 422021718010

Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan

(2)

A. PENDAHULUAN

Pengenalan hewan coba sebagai model penyakit

Tujuan :

1. Mahasiswa mampu membuat

rancangan percobaan

menggunakan hewan coba sebagai model penyakit

2. Mahasiswa mampu mengetahui kondisi penelitian yang harus dikontrol seperti pemilihan jenis hewan coba, jumlah hewan yang

digunakan dan metode

analisanya.

3. Mahasiswa mampu mencari dan

memahami cara kerja

eksperimental untuk

mendapatkan data yang valid.

Dasar teori

Pada dasarnya hewan

coba/hewan uji atau sering disebut sebagai hewan laboraturium merupakan suatu kunci dalam mengembangkan suatu penelitian dan telah banyak berjasa bagi ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang berbagai macam penyakit seperti, malaria, filarisis, demam berdarah TBC, gangguan jiwa dan semacam bentuk kanker [ CITATION MAn94 \l 2057 ].

Seiring dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Kesehatan, sebagai mahasiswa farmasi sudah seharusnya mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan obat baik dari segi farmasetik, farmakodinamik, farmakokinetik dan juga dari segi farmakologi dan toksikologinya. Farmakologi sebagai ilmu yang mempunyai keterikatan khusus dengan farmasi yaitu cara membuat, memformulasi, menyimpan dan menyediakan obat [ CITATION Sud07 \l 2057 ].

Keandalan pengamatan

manusia terhadap suatu obyek dalam suatu pengamatan sangat terbatas. Olhe karena itu diperlukannya suatu alat atau obyek tertentu untuk dapat membantunya dan yang dapat pula dipergunakan sebagai subyek dalam penelitian, diantaranya adalah dengan

mempergunakan hewan-hewan

percobaan [ CITATION Shi17 \l 2057 ].

Hewan percobaan yang digunakan di laboraturium tidak ternilai jasanya dalam penilaian efek, toksisitas, dan efek samping serta keamanan dan senyawa bioaktif. Hewan percobaan

merupakan kunci didalam

pengembangan senyawa bioaktif dan usaha-usaha Kesehatan [ CITATION Mal89 \l 2057 ].

Hewan coba digunakan didalam setiap tahap uji vaksin, baik pada tahap pengembangan , pembuatan dan control kualitas. Pada tahap pengembangan, hewan digunakan untuk menyeleksi anjuran, uji imunogenitas dan keamanan, uji metode aplikasi dan dosis formula vaksin. Pada tahap pembuatan, hewan hanya digunakan untuk menyeleksi vaksin viral. Pada tahap kontrol kualitas, hewan digunakan untuk uji nomor batch yang merupakan tahap terpenting untuk uji toksisitas dan potensi. Pemakaian hewan coba pertma kali menggunakan hewan coba berupa tikus [ CITATION Ris15 \l 2057 ].

Terdapat berbagai hewan coba yang sering digunakan didalam percobaan, diantarnya tikus, mencit, marmut, kelinci, anjing, kera dan babi [ CITATION Aco11 \l 2057 ].

B. RANGKUMAN

Pemilihan hewan coba menjadi sangat penting dalam percobaan atau eksperimen, karnea hewan coba memiliki keterbatasan dalam kesamaan bentuk, struktur dan fungsi organ,

(3)

sehingga dapat memengaruhi hasil data percobaan. Perbedaan jenis hewan coba juga akan berbeda dalam penanganan dan cara interpretasi data percobaan.

Prinsip penggunaan hewan coba sebagaimana dijelaskan dalam Nurmberg Code ialah:

1. Reduce : menggunakan jumlah hewan coba dengan jumlah yang seminimal mungkin namun data tetap valid.

2. Replace : menggunakan tingkat organisme yang terendah 3. Refine : melakukan perawatan

dan penanganan sebagaimana kehidupan organisme awalnya.

Berbagai macam hewan coba harus dipilih terkebih dahulu berdasarjan umurnya, jenis kelamin, berat badan ataupun jenis hewan yang paling cocok dalam suatau penelitian tersebut. Tikus (Ratus norwegicus), Mencit (Mus musculus), marmut (Cavia cobaya), Kelinci (Riptolages suniculus) merupakan beberapa hewan coba yang sering digunakan dalam percobaan. Hewan coba tersebut memiliki perbedaan anatomi dan psikologi. Cara penanganan dan dosis perlakuan hewan coba. Hanya hewan tertentu yang dapat menggambarkan model penyakit dengan data yang relevan atau tidak bias.

Klasifikasi hewan uji berdasarkan tujuan penggunaan:

1. Exploratory (penyelidikan) : untuk memahami mekanisme biologis

2. Explanatory (penjelasan) : untuk memahami masalah logis yang kompleks

3. Predictive (perkiraan) : untuk menentukan dan mengukur akibat dari suatu perlakuan

C. PEMBAHASAN

Hewan uji sebelum digunakan, haruslah diketahui terlebih dahulu jenisnya dan maupun berdasarkan tujuan penggunaanya seperti yang telah dijelaskan pada bagian atas. Selain itu, agar tujuan dari percobaan tercapai dengan baik, maka dalam memilih hewan percobaan penting untuk memrhatikan beberapa faktor sebagai berikut:

a. Hewan percobaan tersebut memiliki fungsi fisiologi metabolik dan perilaku yang sesuai dengan subyek manusia b. Dari sisi karakteristik biologi

maupun perilaku hewan cocok dengan penelitian

c. Spesies tersebut telah memberikan hasil yang terbaik untuk penelitian

d. Spesimen organ atau jaringan hewan dapat diambil

e. Hewan uji memiliki standar tinggi secara genetik maupun mikrobiologi

D. KESIMPULAN DAN SARAN Dalam pengenalan hewan coba sebagai model penyakit merupakan suatu tahap yang sangat penting bagi awal mula sebelum dilakukannya pengujian dalam percobaan farmakologi dan toksikologi. Maka, hewan uji ini sebelum digunakan dalam penelitian, banyak yang harus diperhatikan dari berbagai sudut pandang dan beberapa faktor lainnya sebagaimana yang telah dijelaskan. Begitu pulan dalam pengendalian hewan uji dalam percobaan nantinya. Karena hewan uji memiliki prinsip 3R yang telah diatur dalam Nuremberg Code.

(4)

Pengenalan hewan coba ini sangat penting, agar praktikan nantinya

dapat mengendalikan serta

memperlakukannya sesuai kaidah dan prinsip dalam berbagai kondisi yang ada.

E. LATIHAN SOAL 1. Tahap praklinis :

Diuji ekstensif dalam studi praklinis, studi melibatkan in- vitro dan in-vivo

Tahap 0 : uji coba eksplorasi opsional yang dilakukan sesuai panduan

Tahap I : menguji subyek pada manusia secara seleksi / tidak acak

Tahap II : dilakukan pada kelompok pengujian yang lebih besar

Tahap III : uji coba terkontrol secara acak pada kelompok yang lebih besar (300- 3.000/lebih)

Tahap IV : uji coba surveilans pasca pemasaran, melibatkan pengawasan atas persetujuan FDA

2. Dik: jumlah kel.5

3. Dit : hewan yang dibutuhkan Jawab : (n-1) (t-1) >15

: n-1 = 5-1 : n-1 = 4 : n = 4+1 = 5

Jadi, hewan yang dibutuhkan setiao kelompok dan total hewa yang dibeli adalah 5 ekor.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (1994). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Armando, A. (2011). The Importance of Animal Models in TBC Vaccine Development Malaysian. Journal Med-Sci, 5-12.

Dewi, S. K. (2017). Penangan Hewan Percobaan. Bogor: STTIF.

Malole, M. P. (1989). Penggunaan Hewan Hewan. Jakarta.

Novita, R. (2015). Pemilihan Hewan Coba Pada Penelitian Pengamatan Vaksin TBC. Kemenkes RI.

Sudjadi, B. (2007). Biologi Sains Dalam Kehidupan. Surabaya: Yudistira.

(5)

LAMPIRAN

gambar 1. hewan uji tikus

gambar 2. hewan uji mencit

gambar 3. hewan uji kelinci

(6)

LEMBAR PENGESAHAN

Referensi

Dokumen terkait

Langkah awal yang harus dilakukan untuk menjalankan program ini yaitu membuka alamat web dari sistem pakar penyakit pada hewan ternak kambing sehingga akan

Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran histologi reaksi radang luka antemortem yang diperiksa 1 jam postmortem pada hewan coba.. Reaksi radang merupakan respon

Pengujian aplikasi sistem pakar mendiagnosa penyakit Infeksi Bakteri Genus Borrelia SP (Lyme Disease) Pada Hewan Anjing dengan Metode Teorema Bayes, bisa dilakukan

Pada tahap awal uji pengenalan dilakukan terhadap sinyal suara yang sama persis dengan yang telah ditrainingkan (training data set) dan didapat hasil bahwa error

Penyakit ini adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman leptospira yang menyerang hewan namun dapat juga menular pada manusia. Gejala awal leptospirosis sulit dibedakan

Pada uji coba pengenalan kode, proses pengenalan kode dilakukan pada citra biner hasil ekstraksi area kode peti kemas pada tahap konstruksi model. Tujuan uji coba ini untuk

Pada kejadian penyakit Nipah di Malaysia ini ternyata ternak babi dan kalong merupakan dua spesies hewan yang sangat berperanan penting, dimana kalong berperan

Beberapa metode hewan model penyakit stroke pada tikus dan mencit adalah sebagai berikut: Middle Cerebral Artery Occlusion MCAO Intraluminal filament model of middle cerebral artery