• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perempuan Membaca Kembali Teks Suci

N/A
N/A
Nilam Pratiwi

Academic year: 2024

Membagikan " Perempuan Membaca Kembali Teks Suci"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 Nama : Dina Sabella

NIM : 22502004

Prodi : Pascasarjana Ilmu Al- Quran dan Tafsir IAIN Kediri

Judul Asli : Amina Wadud’s Hermeneutics of The Qur’an: Women

Rereading Sacred Texts Tugas : Resume Artikel

Hermeneutika Al-Qur’an Amina Wadud:

Perempuan Membaca Kembali Teks Suci (Al-Qur’an)

Pencantuman Amina Wadud dalam buku cendekiawan Muslim kontemporer dan Al-Qur'an dirasa tepat karena beberapa alasan. Pertama, karyanya secara meyakinkan menetapkan dasar al-Qur'an tentang kesetaraan gender dalam Islam, dengan demikian menimbulkan pertanyaan tentang pembacaan kitab suci yang bersifat patriarkal adalah salah. Hal ini tidak hanya membuatnya mendapat pujian, tetapi juga kritik dari mereka yang merasa resah dengan pekerjaannya. Kedua, Wadud adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok cendikiawan Muslim yang menyebutkan sebuah fakta yang secara kuat mengilustrasikan pencapaiannya sendiri dalam bidang yang sebelumnya didominasi laki-laki dan tuduhannya bahwa, secara historis seolah perempuan telah dikecualikan dari komunitas tafsir Muslim dan, akibatnya, dari bidang penafsiran Al-Qur'an atau tafsir. Pengecualian ini, menurutnya menjelaskan mengapa tafsir tradisional membatasi perempuan. Terakhir, dari para ulama yang termasuk dalam buku ini, Wadud adalah satu-satunya (Afrika- Amerika/Barat) yang masuk Islam. Dengan demikian, dia membawa keterlibatannya dengan agama tidak hanya kesadaran khusus yang dibentuk oleh identitasnya, tetapi juga semangat penyelidikan kritis yang menuntunnya untuk mengajukan pertanyaan tentang Islam yang sering tidak dipertimbangkan oleh orang-orang Muslim. Alhasil, Amina Wadud mampu menawarkan wawasan baru tentang ajaran Al-Qur'an.

(2)

2 Tentang Menjadi Wanita Muslim

Amina Wadud, lahir pada 25 September tahun 1952 di Bethesda, Maryland dari seorang pendeta Metodis yang penuh kasih tetapi ada hal yang membuatnya tidak bahagia sedangkan istrinya yang masih muda sering berpindah-pindah tempat tinggal. Perjalanan spiritual yang membawanya ke Islam dimulai sebagai pencarian

“ketenangan transenden di tengah badai”, dilakukan pada tahap awal di bawah bimbingan ayahnya. Wadud memang memiliki banyak badai, karena terlahir dengan ras kulit hitam dalam masyarakat yang didasarkan pada asumsi supremasi Kulit Putih.

Masa kecil Wadud berlangsung sangat singkat. Hal tersebut karena terganggu oleh krisis kemiskinan, ibunya pun lebih awal meninggalkan keluarga dan terjadi penyitaan rumah keluarga mereka mendorong mereka ke dalam periode singkat tunawisma. Oleh karena itu, dapat dimengerti mengapa Wadud berbicara tentang fase hidupnya ini sebagai salah satu perpindahan, kesepian, dan di atas segalanya, 'pengkhianatan'. Namun dia mengatakan bahwa dia berhasil bertahan.

Sementara nilainya meningkat secara dramatis di sekolah menengahnya yang sebagian besar berkulit putih, harga dirinya anjlok secara proporsional saat dia menemukan apa artinya menjadi “Hitam dan perempuan di Amerika”. Jika ras adalah yang mendefinisikannya di mata rekan-rekan kulit putihnya, jenis kelaminlah yang tampaknya telah mendefinisikan dirinya di mata orang-orang kulit hitamnya, terutama laki-laki, ketika dia masuk perguruan tinggi. Untuk sementara, dia berusaha menyesuaikan diri dengan komunitas kulit hitam, pada awalnya berasumsi bahwa itu berarti 'milik orang kulit hitam'. Namun, seperti yang segera dia temukan, bentuk kepemilikan ini bukan untuknya.

Wadud masuk Islam selama karir universitasnya tapi bagaimana tepatnya tidak jelas, yang dia katakan hanyalah bahwa salah satu pintu masuk Islam untuk wanita Afrika-Amerika adalah 'pria Muslim' dan pintu ini terbuka untuknya secara tidak sengaja. Namun, ketika masuk Islam ini tidak berarti bahwa dia melewatinya tanpa berpikir. Amina Wadud juga memperoleh pendidikan agama yang telah

(3)

3

menumbuhkan dalam dirinya kerinduan untuk mencari Yang Ilahi, tetapi yang sama pentingnya adalah kenyataan bahwa dia datang ke Islam dengan mengajukan pertanyaan kritis tentang tujuan hidup dan perannya sendiri di dalamnya. Sejak 1972, ketika dia mengambil syahadat (pernyataan iman), Wadud telah mempelajari makna dan kemungkinan yang terkandung dalam Al-Qur'an untuk diri, khususnya diri perempuan.

Sekitar tiga dekade kemudian, dia dapat bersaksi bahwa apa yang dia temukan dalam Al-Qur'an adalah “konfirmasi kesetaraan perempuan” yang luar biasa, dan ada yang bertentangan dengan praktik Muslim. Kesadaran ini telah memperdalam komitmen Wadud terhadap apa yang disebutnya “jihad gender”, sebuah perjuangan moral yang baginya berarti mengambil egalitarianisme Al-Qur'an sebagai sarana untuk menantang dan mereformasi sikap Muslim terhadap perempuan.

Pelajaran tersulit yang harus dipelajari Wadud sebagai seorang Muslim adalah bahwa selama dia terus terlibat dalam jihad gendernya, tidak akan ada tempat baginya di komunitas Muslim arus utama. Namun, alih-alih berkecil hati dengan hal ini, dia mulai menghargai perbedaan dan tetap berjuang. Dia telah memilih untuk mengklaim identitas Muslim yang diaktualisasikan sepenuhnya dengan berargumen melawan ketidakadilan.

Karir, Karya dan Pemikiran Amina Wadud

Amina Wadud menyelesaikan gelar Ph.D. dalam Studi Islam dan Bahasa Arab di University of Michigan pada tahun 1988, setelah sebelumnya memperoleh gelar Master dalam Studi Timur Dekat di institusi tersebut. Dia juga memiliki gelar B.Sc.

dalam Pendidikan dari University of Pennsylvania. Penunjukan pertama Wadud setelah lulus adalah di Departemen Ilmu Pengetahuan dan Warisan Islam di Universitas Islam Internasional di Malaysia, di mana dia mengajar sampai tahun 1992.

Di sinilah dia terlibat dengan organisasi Sisters in Islam dan menerbitkan beberapa pamflet yang menggarisbawahi dukungan Alquran untuk kesetaraan gender.

(4)

4

Di sinilah dia menerbitkan karyanya, Qur'an and Woman, saat ini dalam cetakan kelima dan edisi kedua, sebagai Qur'an and Woman: Membaca Ulang Teks Suci dari Perspektif Wanita (buku tersebut hingga saat ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Turki, Persia, dan Indonesia). Sejak kembali dari Malaysia, Wadud telah mengajar di Departemen Filsafat dan Studi Keagamaan di Universitas Persemakmuran Virginia (di mana dia adalah seorang profesor asosiasi), setelah menghabiskan satu tahun di antara beasiswa di Harvard Divinity School.

Meskipun tulisan-tulisannya luas, keilmuan Wadud memiliki fokus tematik dan hermeneutik yang sama. Tema yang paling konsisten dieksplorasinya adalah konseptualisasi al-Qur'an tentang gender dan hubungan gender, sedangkan fokus hermeneutikanya adalah pada cara terbaik membaca teks itu sendiri, khususnya untuk menemukan suara perempuan di dalamnya. Nyatanya, salah satu kontribusi Wadud yang paling penting bagi wacana keagamaan Muslim adalah menunjukkan hubungan antara pertanyaan teoretis dan metodologis, khususnya antara tafsir Al-Qur'an (apa yang kita pahami sebagai perkataan Al-Qur'an)

Wadud telah terbuka untuk menyelidiki tafsir Muslim terhadap Al-Qur'an, dan strategi tekstual yang digunakan untuk menghasilkannya. Tentu saja, ini berarti mengkritik tafsir tradisional sebagai langkah pertama untuk bergerak melampauinya.

Dalam konteks itu, dia telah berusaha untuk menunjukkan, pertama, bahwa metode tradisional yang digunakan Muslim untuk membaca Al-Qur'an, pada dasarnya bersifat atomistik (analisis sampai bagian terkecil).

Wadud percaya bahwa membaca Al-Qur'an kalau hanya sepotong-sepotong dan secara dekontekstualisasi tidak hanya mengabaikan koherensi internalnya, atau nazm tetapi juga gagal untuk menemukan kembali prinsip-prinsip luas yang mendasari ajarannya, seperti yang juga dikemukakan oleh Fazlur Rahman. Akibatnya, sebagian besar penafsir akhirnya menggeneralisasi perintah Al-Qur'an tertentu, sebuah praktik yang menurut Wadud sangat menindas perempuan karena beberapa pembatasan yang paling berbahaya terhadap mereka dihasilkan dari menafsirkan

(5)

5

solusi Al-Qur'an untuk masalah tertentu seolah-olah bersifat universal. Ia memberikan beberapa contoh tentang hal ini, termasuk contoh bagaimana para mufassir menafsirkan ketentuan Al-Qur'an tentang pakaian. Saat dia mengklarifikasi, Al-Qur'an menetapkan gagasan tegas tentang masalah pakaian dan menegaskan bahwa "pakaian kesalehan adalah yang terbaik.” Namun, syari'ah (hukum Islam) menggunakan referensi Al-Qur'an tentang gaya pakaian Arab abad ke-7 tertentu sebagai dasar kesimpulan hukumnya mengenai kesopanan. Oleh karena itu, mengenakan item pakaian tertentu (misalnya, penutup kepala) dianggap sebagai

“demonstrasi kesopanan yang tepat."

Oleh karena itu, Wadud percaya bahwa kita perlu memahami bahwa apa yang Al-Qur'an ajarkan adalah “prinsip kesopanan” bukan jilbab dan khalwat yang merupakan manifestasi khusus dalam konteks [Arab]', Lagi pula, dia berpendapat, meskipun Al-Qur'an menawarkan nilai moral universal fakta bahwa [itu] terungkap di Arab abad ketujuh ketika orang-orang Arab memiliki persepsi dan kesalahpahaman tertentu tentang wanita dan terlibat dalam praktik pelecehan tertentu terhadap mereka menghasilkan beberapa perintah khusus untuk budaya itu.

Al-Qur'an sendiri menyediakan semua hal, baik secara eksplisit maupun implisit, alasan-alasan di balik solusi dan keputusannya, yang darinya seseorang dapat menyimpulkan prinsip-prinsip umum. Namun, secara historis sebagian para penafsir tidak berusaha melakukannya karena kegagalan mereka untuk membaca Al- Qur'an sebagai satu kesatuan tekstual, dan sebagian karena mereka tidak mengakui bahwa di dalam Al-Qur'an, konten dan konteksnya berrhubungan satu sama lain.

Namun sebaliknya, Wadud menyukai membaca Al-Qur'an sebagai keseluruhan tekstual, sementara juga menghistoriskan/mengontekstualisasikan ajaran didalamnya.

Jika tafsir tradisional gagal mengambil Al-Qur'an secara historis, seperti yang ditunjukkan Wadud, ia juga gagal mempertimbangkan peran bahasa dalam menciptakan makna gender, seringkali dengan cara yang tidak dimaksudkan oleh Al- Qur'an itu sendiri. Sebagai pembicara bahasa Arab klasik dan standar, dia tahu bahwa

(6)

6

setiap istilah 'apakah mengacu pada benda mati atau benda hidup, alam fisik atau metafisik atau dimensi-diekspresikan dalam istilah gender'. Tetapi bagaimana, dia bertanya, 'gagasan yang melampaui gender dapat diekspresikan dalam bahasa gender?

Sebagai contoh, Muslim menyebut Tuhan sebagai 'Dia' secara linguistik memaskulinkan Tuhan meskipun, seperti pendapat Wadud, bahasa tidak dapat mengungkapkan 'apa yang tidak dapat diucapkan dalam bahasa, dan meskipun Al- Qur'an secara tegas melarang penggunaan perumpamaan untuk Tuhan. Oleh karena itu, katanya, umat Islam harus menyadari bahwa bahasa tentang Tuhan 'tidak dapat ditafsirkan secara empiris dan literal (Seperti yang diperdebatkan oleh para sarjana dalam konteks lain, maskulinisasi Tuhan juga mendukung teori hak istimewa laki- laki dalam patriarki agama sejauh hal itu memungkinkan laki-laki).

Seperti yang Wadud tunjukkan, sama seperti “perempuan dan laki-laki kedudukannya adalah sama dalam Islam”, demikian pula mereka berbeda satu sama lain maka pengalaman mereka juga berbeda. Namun, komponen pengalaman unik ini hilang dari tafsir karena laki-laki telah merampas hak untuk 'memberi tahu perempuan bagaimana menjadi perempuan! Laki-laki telah mengevaluasi apa artinya menjadi Muslim tidak hanya untuk laki-laki Muslim tetapi juga untuk perempuan Muslim.” Sementara umat Islam pada umumnya tidak memprotes praktik ini. Wadud tidak dapat menemukan pembenaran untuk itu dalam Al Qur'an atau hadits Nabi.

Sebaliknya, dia berpendapat, tidak hanya membungkam suara perempuan dan memperlakukan mereka sebagai tabu, melanggar martabat mereka sendiri sebagai manusia, tetapi juga melanggar penunjukan Al-Qur'an tentang laki-laki dan perempuan, sama halnya seperti khalifah Tuhan. Seperti yang dia jelaskan, tujuan dari penciptaan manusia terungkap ketika Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah (pengurus, wakil, atau wali) di bumi (QS 2: 38) Khilafah (perwalian) di muka bumi ini adalah tanggung jawab setiap manusia.

Kritik Wadud terhadap tafsir tradisional dimaksudkan tidak hanya untuk mengungkapkan kekurangan dalam pembacaan patriarki Al-Qur'an, tetapi juga untuk

(7)

7

membuat umat Islam menyadari apa yang dipertaruhkan dalam memikirkan kembali strategi tekstual mereka, dalam merancang metode penafsiran baru, dan dalam memasukkan perempuan ke dalamnya. Dia percaya, hal ini tidak hanya akan memungkinkan perempuan untuk mengembangkan identitas Muslim yang lebih otentik, tetapi juga akan mencerminkan 'tingkat baru pemahaman dan partisipasi manusia dalam kehidupan beragama.

Menuju hermeneutika kesetaraan

Wadud memulai kritiknya terhadap tafsir tradisional, serta tafsirnya sendiri terhadap Al-Qur'an. Pembedaan antara "perkataan Tuhan dan realisasi duniawinya"

adalah perbedaan lama dalam teologi Muslim dan yang juga dibuat oleh Al-Qur'an.

Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas tafsir Muslim telah melihat tafsir mereka sendiri, karenanya otoritas tafsir mereka sendiri, setara dengan wahyu.

Melalui keilmuan generasi sebelumnya dalam upaya untuk memastikan

“kesinambungan dengan masa lalu” berpendapat bahwa otoritas praktik didefinisikan oleh generasi selanjutnya [setara dengan] otoritas wahyu. Sementara menyamakan otoritas mereka sendiri dengan otoritas wahyu memungkinkan aliran hukum dan interpretasi untuk mengklaim legitimasi, hal itu juga meruntuhkan wacana ketuhanan dengan interpretasi manusianya, sehingga memungkinkan perpindahan Kebingungan terhadap Al-Qur'an dengan tafsirnya juga menyurutkan semangat pembacaan baru Al-Qur'an karena memungkinkan komunitas penafsiran untuk salah mengartikan kritik tafsir sebagai kritik terhadap Al-Qur'an dan meminggirkan bacaan baru atas nama berpegang pada tradisi yang disetujui secara agama, mereka kemudian mampu melindungi tidak hanya hegemoni mereka sendiri, tetapi juga hegemoni pengetahuan agama (yang mereka ambil) dihasilkan oleh sejumlah kecil ulama laki-laki pada tahun-tahun awal Islam. meskipun tidak semua sarjana ini adalah misoginis tentu saja, etos seksual pada masa di mana mereka menulis (Abad Pertengahan), dan mereka tidak dapat tidak dipengaruhi olehnya hingga tingkat yang berbeda-beda. Inilah

(8)

8

mengapa pembedaan Wadud antara Ucapan Tuhan dan penafsiran manusia terhadapnya sangat penting.

Jika berpegang pada pembedaan ini menandai Wadud sebagai seorang tradisionalis, hal itu juga memungkinkannya untuk merangkul wawasan hermeneutik modern bahwa membaca itu subyektif dan tidak lengkap, sebuah fakta yang diabaikan oleh umat Islam ketika berbicara tentang tafstr tradisional. Pandangan ini memungkinkan dia untuk membebaskan Al-Qur'an dari kesalahan pemahaman (anti- perempuan) sementara juga memungkinkan dia untuk berdebat mendukung beberapa bacaan dan menentang yang lain. Dengan demikian, mengakui peran subjektivitas dalam membaca tidak membuat Wadud berargumen bahwa beberapa interpretasi sebenarnya lebih baik dari yang lain. Ini bukanlah posisi yang kontradiktif karena Al- Qur'an sendiri merekomendasikan untuk membacanya untuk makna terbaiknya (dan juga menetapkan beberapa prinsip untuk melakukannya), menetapkan bahwa Al- Qur'an terbuka untuk berbagai bacaan dan bahwa tidak semua bacaan sama.

Kedua, meskipun Wadud tidak memasukkannya ke dalam istilah-istilah ini, dia membaca Al-Qur'an sebagai "teks yang terletak secara historis dan sebagai 'totalitas hermeneutik yang kompleks. Artinya, dia menjelaskan ajaran-ajaran Al- Qur'an dalam konteks sosial dan sejarah, konteks Islam berusaha untuk mereformasi dan juga dalam hal struktur linguistik, gramatikal, dan sintaksis dari teks itu sendiri.”

Meskipun, sebagaimana dicatat, kaum konservatif menolak pemahaman historisisasi Al-Qur'an, "banyak sarjana Muslim kontemporer berpendapat mendukung dia.

Mahmud Mohamed Taha, misalnya, berpendapat bahwa pendekatan semacam itu sangat penting untuk mendapatkan prinsip-prinsip umum dari Al-Qur'an.

Bagi Wadud, mengingat kembali konteks sejarah turunnya suatu peristiwa adalah untuk memahami kontes itu sendiri dan bukan menyiratkan 'pembatasan prinsip-prinsip Al-Qur'an pada konteks itu. Posisi Wadud dengan demikian merupakan posisi yang kompleks. Di satu sisi, dia berpendapat bahwa umat Islam perlu mengontekstualisasikan Al-Qur'an kembali, Namun, pada saat yang sama dan di

(9)

9

sisi lain, dia juga menolak memperlakukan Al-quran sebagai catatan sejarah. Seperti yang dia nyatakan, Al-Qur'an adalah 'sejarah moral' yang tujuannya ekstrahistoris dan transendental sehingga lokasinya dalam waktu tidak menghabiskan dampak atau maknanya Memang, dia percaya bahwa tujuan Al-Qur'an adalah memberikan panduan universal yang menjelaskan singkatnya "rincian sejarah di dalamnya.

Dengan demikian, jika pembaca menganggap dia sedang membaca sebuah catatan, apa yang dia baca mungkin tidak penting bagi hidupnya sendiri. Tetapi jika pembaca memahami bahwa rincian sejarah, yang mana Al-Qur'an dan memberi secukupnya tetapi tidak terlalu banyak, dimaksudkan untuk menerangi ajaran universal, kemudian mereka dapat melihat relevansinya dengan kehidupan mereka sendiri.

Namun, seperti yang ditunjukkan Wadud, tidak hanya pendekatan intratekstual terhadap Al-Qur'an yang masih langka, tetapi tidak semua pembacaan intratekstual terhadapnya sebenarnya bersifat holistik. Sebaliknya, metode ini sering direduksi menjadi menggunakan satu istilah atau ayat untuk menafsirkan istilah atau ayat lain daripada untuk menentukan etos atau semangat Al-Qur'an. Wadud percaya bahwa literalisme sempit seperti itu tidak bisa mencapai pemahaman dan tidak ada tujuan hermeneutik, tetapi hal itu merusak etos Al-Qur'an, dan dia menggunakan preseden sejarah untuk membantahnya.

Semangat Al-Qur'an dalam situasi kesulitan yang ada'. Seperti yang dia katakan, jika ada yang menyimpang dari surat Al-Qur'an untuk mengikuti semangatnya hari ini, mereka akan dianggap sesat', dan dia percaya ini karena umat Islam 'kurang percaya pada kemungkinan bahwa Al-Qur'an 'keseluruhan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada bagian-bagiannya." Pembacaan Al- Qur'an oleh Wadud sendiri, kemudian, dimaksudkan untuk sampai pada pemahaman tentang etos dan semangatnya dan bukan hanya hurufnya.

Bahwa Wadud menganggap Al-Qur'an sebagai „penentu utama dari makna- maknanya sendiri‟, menegaskan bahwa dia memandang wahyu sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Meskipun doktrin ini berakar dalam tradisi Muslim, namun doktrin ini

(10)

10

telah dikritik oleh mereka yang menafsirkan Al-Qur'an melalui Sunnah atau praksis Nabi, dan karena itu melalui teks agama sekunder seperti hadits (yang mencatat Sunnah). Kritik tersebut cukup keras untuk mendapatkan pembelaan darinya dalam edisi kedua bukunya. Dia mengklarifikasi bahwa, tidak seperti hadis, Al-Qur'an tidak salah, bahwa dia tidak dapat percaya bahwa Nabi akan menghapus ketentuannya tentang "kesetaraan antara wanita dan pria, dan bahkan jika dia dihadapkan dengan bukti yang bertentangan, dia akan memilih dalam mendukung Al-Qur'an karena maknanya yang lebih besar.

Meskipun Wadud juga menganut doktrin ketetapan Al-Qur'an, dia percaya bahwa pemahaman kita tentang ajarannya dapat berubah. Menurutnya, yang berubah dalam bacaannya bukanlah Al-Qur'an itu sendiri, tetapi bagaimana Al-Qur'an dipahami di dalam dan oleh sebuah komunitas, dan seperti sarjana modern lainnya dia memandang perubahan pemahaman ini sebagai fungsi bagaimana umat Islam melibatkan teks itu sendiri.

Implikasinya adalah bahwa umat Islam sejauh ini juga belum mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu dari Al-Qur'an, khususnya tentang posisinya tentang kesetaraan dan gender, mungkin karena kebutuhan untuk melakukannya belum muncul, atau mungkin karena mereka belum melakukan naik ke level Al-Qur'an.

Karena itu, mereka juga belum menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan.

Dengan cara ini Wadud tidak hanya membenarkan pembacaan ulang Al-Qur'annya sendiri, tetapi dia juga membuka kemungkinan bagi umat Islam untuk terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru tentang kesetarran gender.

Namun, banyak cendekiawan Muslim sekarang mengakui bahwa pemahaman kita tentang Al-Qur'an bergantung pada kemampuan dan metodologi kita dan karena itu harus selalu berubah dan menyesuaikan zaman. Wadud menganggap kajian kesetaraan gender penting karena gender adalah kategori pemikiran dan bukan hanya subjek wacana. Jadi dia melihat sebagai salah satu tugasnya sendiri 'untuk

(11)

11

mengartikulasikan cara membaca untuk gender kemudian mengadvokasi bagaimana bacaan semacam itu merupakan pusat analisis Alquran yang komprehensif.

Kepedulian Wadud dengan seks/gender memanifestasikan dirinya pada dua tingkat. Pada tingkat pertama, sebagaimana dicatat, dia berpendapat mendukung perempuan termasuk dalam proses penafsiran dengan alasan bahwa Al-Qur'an menganjurkan kesetaraan seksual, bahwa hanya perempuan dapat mewakili diri mereka sendiri, dan bahwa partisipasi mereka sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan holistik Islam. Pada tingkat kedua, dia menekankan perlunya memeriksa bahasa Al-Qur'an. Oleh karena itu, baginya hanya mungkin untuk menemukan Makna Al-Qur'an secara akurat dengan mempelajari tindak bahasa, struktur sintaksis, dan konteks tekstual di mana istilah tertentu digunakan, baik konteks langsung penggunaannya maupun 'perkembangan tekstual yang lebih besar'.

Singkatnya, Wadud membaca Al-Qur'an sebagai satu kesatuan diskursif dan dalam hal klaim kebenarannya sendiri, memperhatikan baik konteks historis ajarannya maupun struktur linguistik dan sintaksisnya. Yang mendasari prinsip- prinsip konseptual dan metodologis ini adalah perhatian etis dan moral bahwa umat Islam belajar membaca Alquran untuk makna terbaiknya. Wadud sendiri memilih melakukannya untuk mengklaim identitas Muslim yang benar-benar otentik dan juga 'untuk menantang arogansi laki-laki' yang menuntut rasa hormat dan martabat untuk diri mereka sendiri. Dia secara khusus menolak pembenaran yang salah atas arogansi semacam itu melalui interpretasi sempit atau salah tafsir atas teks Alquran, yaitu interpretasi yang mengabaikan prinsip-prinsip dasar sosial tentang keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan bersama" yang diajarkan Alquran."

Wadud mengungkapkan bahwa Al-Qur'an memerintahkan penghormatan dan kesetaraan di antara jenis kelamin. Seandainya umat Islam belajar untuk menerapkan prinsip-prinsip Al-Qur'an tersebut ke dalam kehidupan mereka maka mereka dapat berkembang menjadi contoh-contoh terkemuka dari sistem sosial yang manusiawi dan adil. Mungkin, pada akhirnya, visi etis inilah yang dimaksud bahwa keadilan,

(12)

12

kesetaraan, dan martabat adalah hak yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia.

Hal ini yang membedakan hermeneutika Wadud dari hermeneutika banyak ulama lainnya.

Membaca Kembali Teks Suci dari Perspektif Wanita

Jika setengah dari proyek Wadud adalah untuk meletakkan 'dasar bagi tafsir non-tradisional dari perspektif yang sah secara kitab suci'," setengah lainnya adalah untuk menawarkan penafsiran egaliter dari Al-Qur'an itu sendiri. (Mengingat kompleksitas dari tafsirnya dan juga keterbatasan ruang, hanya mungkin di sini untuk mempertimbangkannya secara garis besar).

Inti dari pembacaan Al-Qur'an Wadud adalah klaim bahwa ia tidak mengajarkan konsep superioritas ontologis laki-laki dan inferioritas atau subordinasi perempuan terhadap laki-laki. Bertentangan dengan apa yang diklaim kebanyakan Muslim, menurutnya, Al-Qur'an tidak mengajarkan bahwa ada "perbedaan esensial”

antara laki-laki dan perempuan yang tercermin dalam penciptaan, kapasitas dan fungsi dalam masyarakat, aksesibilitas terhadap bimbingan (khususnya terhadap bimbingan Al-Qur'an) dan di akhirat.

Dalam konteks ini, wawasan Wadud yang paling mendalam adalah bahwa Al- Qur'an tidak menggunakan kategori jenis kelamin/gender untuk membeda-bedakan manusia, apalagi mendiskriminasi perempuan. Sementara itu Al-Qur'an mengakui adanya perbedaan-perbedaan anatomis (seksual/biologis), ia tidak menganugerahi perbedaan-perbedaan ini, dengan makna simbolis (ia tidak mengacaukan jenis kelamin dengan jenis kelamin).

Faktanya, Al-Qur'an tidak hanya tidak mengajarkan teori pembedaan jenis kelamin, tetapi juga mengajarkan gagasan persamaan ontologis jenis kelamin. Seperti yang ditunjukkan oleh Wadud dan Riffat Hassan, dalam Islam, perempuan dan laki- laki terkait satu sama lain secara ontologis dan hubungan ini didasarkan pada kesetaraan dan bukan pada diferensiasi atau hierarki. Jadi, misalnya, Al-Qur'an tidak

(13)

13

mengajarkan bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dari substansi yang berbeda, atau bahwa perempuan diciptakan dari laki-laki, atau bahkan perempuan diciptakan setelah laki-laki, yang merupakan klaim yang dibuat oleh patriarki agama dalam membenarkan hierarki seksual. Sebaliknya, seperti yang ditunjukkan oleh Wadud dan Hassan, serta ulama lainnya, Al-Qur'an mengajarkan bahwa manusia berasal dari satu diri, atau nafs dan diberkahi dengan sifat, kapasitas, dan kemampuan yang sama.

Oleh karena itu, meskipun Tuhan menciptakan manusia 'dalam pasangan laki- laki/perempuan', Al-Qur'an an tidak mengaitkan ciri-ciri eksplisit salah satu atau yang lain, secara eksklusif. Meskipun Muslim menggambarkan laki-laki sebagai norma dan perempuan sebagai “kurang dari laki-laki”, Al-Qur'an sendiri tidak pernah menyinggung mereka dengan cara ini." Satu-satunya dasar yang membedakan antara manusia adalah berdasarkan kepribadian moral mereka, kemampuan mereka, yaitu, untuk memperoleh taqwa. Meskipun Muslim konservatif menolak penafsiran apa pun yang mengklaim keserentakan penciptaan karena hal itu tidak dapat ditarik kembali teori keunggulan ontologis laki-laki - mereka dengan mudah mengakui bahwa dalam bidang iman dan ibadah (ibada), laki-laki dan perempuan adalah setara.

Senada dengan itu, Wadud juga menantang tafsir adat dari ayat-ayat lain yang dibaca sebagai penetapan dominasi laki-laki atas perempuan, termasuk ayat krusial, (QS. 4: 34) ditafsirkan sebagai mewajibkan kepatuhan istri (qanitat) kepada suaminya dan memberikan laki-laki hak untuk memukul (daraba) istri yang tidak patuh (nushuz). Namun, dalam bacaannya, qanitat mengacu pada sikap moral ketaatan baik dari pihak perempuan maupun laki-laki kepada Tuhan, nushuz merujuk pada keadaan perselisihan perkawinan dan bukan ketidaksetiaan istri, dan daraba pada larangan pelecehan suami-istri. Demikian pula, sehubungan dengan poligami (QS.4: 3) yang juga dilihat sebagai tanda keistimewaan dan keunggulan laki-laki, Wadud menunjukkan bahwa referensi al-Qur'an tentang praktik tersebut terjadi dalam konteks diskusi tentang keadilan ' perawatan anak yatim 'dan bergantung pada kemampuan seorang pria untuk berlaku adil dengan lebih dari satu istri. Akibatnya, ayat ini 'berkaitan dengan keadilan berurusan dengan adil, mengelola dana dengan

(14)

14

adil, keadilan terhadap anak yatim, dan keadilan terhadap istri, dll. Al-Qur'an sama sekali tidak merekomendasikan poligami sebagai cara untuk menangani ketidakmampuan istri untuk hamil, atau memenuhi kebutuhan seksual laki-laki, atau sebagai hak bagi laki-laki yang mampu memiliki banyak istri, semua alasan yang digunakan Muslim dalam membenarkan poligami.

Wadud juga menggugat tafsir Al-Qur'an (2: 282) yang menyarankan untuk mengambil dua wanita sebagai pengganti satu pria sebagai saksi, sehingga membentuk 'formula dua untuk satu' (gagasan bahwa dua wanita sama dengan satu pria). Jika ini adalah maksud Al-Qur'an, menurutnya, “empat saksi perempuan dapat menggantikan dua saksi laki-laki”. Namun, Al-Qur'an tidak menyediakan alternatif ini. Selain itu, menurutnya, formula dua-untuk-satu ini juga telah 'diperkuat melalui penyederhanaan yang berlebihan dari pembahasan Al-Qur'an tentang warisan' yang ditafsirkan sebagai selalu memberi wanita setengah dari bagian pria. Tetapi, seperti yang dijelaskannya, 'jika ada satu anak perempuan, bagiannya adalah setengah dari warisan' dan prinsip bahwa perempuan mendapatkan setengah dari apa yang dilakukan laki-laki „bukanlah satu-satunya cara pembagian harta, tetapi salah satu dari beberapa pengaturan yang mungkin proporsional‟.

Terakhir, Wadud juga membaca ulang ketentuan Al-Qur'an tentang perceraian dan menunjukkan bahwa ketentuan tersebut melindungi hak-hak perempuan. Tafsir setiap ayat melibatkan pembacaan bahasa, tata bahasa, dan sintaksis yang cermat serta analisis konteks sejarahnya untuk membantu pembaca memahami logika ajaran Al-Qur'an dan juga ajaran universal yang mereka cari.

Meskipun tujuan tafsir Wadud adalah untuk membangun dasar kitab suci kesetaraan seksual dalam Islam, dia mengingatkan para pembacanya bahwa ada banyak arti yang berbeda dari 'setara' dan 'kesetaraan'. Dia menolak teori kesetaraan yang menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama. Namun, ia juga menolak teori-teori yang memandang perempuan dan laki-laki tidak setara karena secara biologis berbeda. Seperti yang terus-menerus ditekankannya, Al-Qur'an tidak

(15)

15

menempatkan ciptaan, hak pilihan, moralitas, atau individualitas manusia dalam jenis kelamin, dan sebaliknya, menegaskan kesetaraan kemanusiaan perempuan dan laki- laki, selain menganjurkan saling mencintai, menghormati, dan menjaga diantara mereka. Prinsip-prinsip inilah yang diwujudkan dalam: totalitas ajarannya yang diyakini Wadud terus menjadikan Al-Qur'an begitu relevan bagi wanita Muslim (dan pria) yang hidup hari ini. Seperti yang dia nyatakan, Al-Qur'an dapat membimbing kita di zaman apa pun, jika penafsiran Al-Qur'an terus dilakukan oleh setiap generasi dengan cara yang mencerminkan seluruh maksudnya.

Kesimpulan

Semakin banyak Muslim di seluruh dunia yang mulai menyadari bahwa hak- hak istimewa yang diperoleh laki-laki dalam masyarakat Muslim bukan merupakan fungsi dukungan Al-Qur'an terhadap ketidaksetaraan seksual, tetapi kekuasaan yang dinikmati laki-laki dalam patriarki yang benar-benar ada, yang telah dimiliki Islam.

tidak ada campur tangan dalam mencipta dan yang, pada kenyataannya, dicela dengan cara yang berbeda.” Wanita Muslim dengan demikian juga secara bertahap mulai menerima bahwa mereka tidak perlu mendamaikan penindasan mereka sendiri dengan fatwa keimanan mereka karena diskriminasi tidak ditetapkan secara ilahi.

Sebaliknya, seperti yang ditunjukkan oleh karya Wadud, penyangkalan otonomi dan kesetaraan bagi perempuan menumbangkan maksud Al-Qur'an tentang 'kesetaraan penuh'.

Amina Wadud tetap menjadi pionir di bidang ini, dan paling berpengaruh.

Karyanya, di mana esai ini hanya memberikan catatan indikatif, paling jauh dalam menentang pembacaan Al-Qur'an yang menindas dan dalam menunjukkan relevansi hermeneutika Al-Qur'an dengan proyek emansipasi wanita Muslim. Sejauh ini, sebagaimana dicatat dan diharapkan, dia telah menarik pujian dan kritik. Namun, jika dia berhasil dalam segala hal, itu menunjukkan bahwa kesalahan membaca Al-Qur'an dengan cara yang menindas dan anti-perempuan terletak pada pembacanya, bukan pada teks itu sendiri.

Referensi

Dokumen terkait