BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah sampah selalu menjadi hal yang memprihatinkan. Dilansir dari data The World Bank (2022), dunia menghasilkan 2.01 miliar ton sampah setiap tahunnya, dengan setidaknya 33% dari sampah tersebut tidak dikelola dengan cara yang ramah lingkungan. Ketika populasi global meningkat, begitu pula konsumsi juga meningkat, sehingga masalah lingkungan menjadi isu yang kritis perlu diperhatikan. Melihat ke depan, sampah global diperkirakan akan tumbuh menjadi 3,40 miliar ton, meningkat sekitar 70% pada tahun 2050, lebih dari dua kali lipat pertumbuhan populasi selama periode yang sama.
Dengan populasi sebanyak lebih dari 275 juta jiwa per Juni 2022, Indonesia telah meraih peringkat keempat untuk negara dengan populasi terbanyak (Purnama & Setiawan, 2022), dan menjadi negara kedua untuk pencemar sampah plastik terbesar di dunia setelah negara China (The ASEAN Post, 2018). Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2022 dalam Purnama dan Haryati (2023), jumlah sampah yang dihasilkan di negara Indonesia mencapai 68,7 juta ton per tahunnya. Produksi dan volume sampah per-hari dari tahun 2020-2021 juga terus meningkat dari berbagai daerah di Indonesia (Statistik Lingkungan Hidup Indonesia oleh BPS, 2022), hal ini dijelaskan melaluiGambar 1.1.
Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (2022) Gambar 1.1 Volume Sampah Terangkut per hari menurut Kota
Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dalam Defitri (2022), jumlah sampah yang dihasilkan dari 235 kecamatan pada tahun 2021 sekitar 29 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 35% sampah belum terkelola. Sejumlah 65,83 persen sampah langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah, dan berakhir membahayakan lingkungan karena berujung menyebabkan kerusakan dan polusi terhadap sungai-sungai di Indonesia. Hal ini juga disebabkan karena masyarakat Indonesia menganggap sungai-sungai sebagai jalan pintas membuang sampah dan barang-barang bekas (Agung, 2020). Contohnya tertera pada Gambar 1.2, sungai di daerah Brantas, Solo, Serayu, dan Progo meraih predikat di antara 20 sungai paling tercemar di seluruh dunia. Pada akhirnya, Indonesia dicap sebagai pencemar plastik laut terbesar, karena diperkirakan sekitar 9% atau 620.000 ton sampah plastik juga berakhir di laut-laut Indonesia (Barrett, 2020).
Sumber: The ASEAN Post (2019)
Gambar 1.2 Masalah Sampah di Indonesia
Dari total sampah yang ada, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menyatakan bahwa sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga, yang menyumbang sekitar 47% dari total sampah yang ada pada tahun 2022. Hal ini dapat dilihat diGambar 1.3.
Nilai ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, dimana sampah rumah tangga menyumbang 42.23% dari total sampah pada tahun 2021 (Mahdi, 2022).
Sumber: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2022)
Gambar 1.3 Komposisi Sampah Berdasarkan Sumber Sampah
Kondisi masalah sampah di Indonesia semakin memprihatinkan oleh karena dari 6.8 juta ton sampah plastik, hanya 10% yang di daur ulang (Gambar 1.4). Untuk sampah secara keseluruhan, proporsi ini bahkan lebih rendah di daerah pedesaan, oleh karena kurangnya fasilitas pengumpulan dan pengelolaan sampah (Nurbaiti, 2021). Hal ini tentunya menjadi sebuah tantangan bagi ketigaKey Stakeholderyang menjadi kekuatan daya pengelolaan sampah, yatu masyarakat, industri, dan pemerintah (Utami, 2019).
Sumber: China Dialogue (2021) Gambar 1.4 Sampah Plastik di Indonesia
Di Indonesia, tantangan pengelolaan kemasan pasca konsumsi dimulai dari pengumpulan serta pemilahan/ segregrasi di rumah tangga. Sayangnya, langkah itu tidak dilakukan serempak dari hulu ke hilir (Utami, 2019). Ketua Umum PRAISE, Sinta Kaniawati menjelaskan bahwa masyarakat kota sudah mulai sadar akan masalah ini dan mulai melakukan aksi lingkungan, tetapi bagi daerah tertentu, masih sulit menanamkan edukasi terhadap masyarakat. Hal ini dibuktikan melalui pernyataan Direktur Pengurangan Sampah KLHK, bahwa sejauh ini, tingkat masyarakat Indonesia tidak peduli dengan sampah masih berada di nilai 72% (Dewi dan Susilo, 2022).
Kemudian di dalam industri sendiri, produksi plastik tentunya semakin meningkat dan industri plastik itu sendiri terus berkembang (Gambar 1.5). Berhubung tingkat pengelolaan sampah di Indonesia masih rendah, hal ini tentunya akan membesarkan masalah sampah yang kini sudah terjadi. Hal ini menjadi sebuah kesulitan besar bagi pelaku industri lingkungan dan pengelolaan sampah karena masih ada beberapa sistem yang membuat proses daur ulang menjadi tidak efektif. Ketua Indonesia Plastic Recycling Association, Justin Wiganda menjelaskan bahwa
sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih kurang jelas, sehingga proses sampah dari hulu ke hilir tidak berjalan dengan optimal. Banyak juga terjadi pengumpulan illegal dan pihak informal yang bermain di proses tersebut. Sehingga, akibat dari hal ini adalah pelaku industri lingkungan tidak dapat memperoleh bahan yang tepat untuk di daur ulang (Barrett, 2020).
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan - National Plastic Waste Reduction Strategic Actions for Indonesia (2020)
Gambar 1.5 Perkembangan Industri Plastik dan Konsumsi di Indonesia
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan - National Plastic Waste Reduction Strategic Actions for Indonesia (2020)
Gambar 1.6 Alur Pengelolaan Sampah di Indonesia
Pelaku industri lingkungan, tepatnya di sektor pengelolaan sampah juga terhalang oleh kurangnya penegakan peraturan di Indonesia (Agung, 2020). Di saat mereka ingin memilah dan memproses sampah yang ingin di daur ulang, banyak dari pihak-pihak eksekutor yang hanya ingin mengirim sampah ke tempat pembuangan (lihat Gambar 1.6), bukan ingin mengolahnya terlebih dahulu. Dampak dari hal ini, selain pelaku industri kekurangan bahan baku untuk di proses, mereka juga harus meningkatkan biaya untuk membeli sampah-sampah agar dapat di daur ulang (Barrett, 2020). Jika dilihat hal ini menjadi sesuatu yang ironis, di satu sisi Indonesia mengalami masalah sampah, tetapi berdasarkan Databoks (Pahlevi, 2022), impor bersih sampah plastik Indonesia mencapai 138 ribu ton. Padahal negara Indonesia memilik potensi tinggi untuk mengekspor hasil daur ulang berupa bahan baku maupun produk jadi, bahkan nilai ekonominya mencapai US$ 441,3 juta (Cahyoputra, 2019).
Maka dari itu, inilah dimana pemerintah sebagaikey stakeholder utama harus berperan, sebagai pembuat regulasi dan memayungi segala aktivitas yang berhubungan dengan pengelolaan sampah. Seiring dengan kurangnya edukasi masyarakat, berkembangnya plastik industri di Indonesia, dan masalah sampah yang berakar, pemerintah menghadapi tantangan dari aspek institusional, finansial, sosial, dan infrastruktur untuk memperkuat industri pengelolaan sampah (Gambar 1.7).
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan - National Plastic Waste Reduction Strategic Actions for Indonesia (2020)
Gambar 1.7 Tantangan Pemerintah untuk Pengelolaan Sampah
Untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada, pemerintah memutuskan untuk menetapkan arah kebijakan manajemen sampah yang jelas seperti yang tertuang di Peraturan Presiden Nomor 97 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) pada tahun 2017.
Perpres itu menetapkan peraturan yang terutama ditujukan untuk pengelolaan sampah yang berasal dari sumber terbesar, yaitu rumah tangga. Dalam peraturan tersebut juga tercantum tujuan yang jelas, bahwa pemerintah menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah 70 % pada 2025 nanti (Agung, 2020).
Pengelolaan sampah plastik juga tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah Laut, dan peraturan tentang Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas saat ini sedang dirumuskan untuk persiapan dunia usaha dalam menangani plastik.
Pemerintah juga mulai menangani perdagangan sampah plastik melalui tingkat menteri hukum.
Di tingkat daerah, pemerintah sudah mulai mengeluarkan persyaratan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2020). Seperti contohnya pemerintah daerah DKI Jakarta telah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai melalui Peraturan Gubernur No. 142 Tahun 2019. Pergub tersebut ditandatangani pada 27 Desember 2019 dan akan mulai berlaku pada 1 Juli 2020 (Defitri, 2022).
Pemerintah memiliki peran untuk membuat, menegakkan, membiayakan dan memonitor progress dari peraturan-peraturan yang diupayakan, tetapi progres ini akan berkembang jika ketiga Key Stakeholders, yaitu, masyarakat, pelaku industri, dan pemerintah itu sendiri saling bekerja sama (Agung, 2020). Menurut Barrett (2020), pemerintah sedang mencoba membangun ekonomi pengelolaan sampah sirkular melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun pelaku industri yang dipercaya dapat mengedukasi dan menggerakan masyarakat terhadap kesadaran lingkungan.
Pelaku industri sendiri memiliki peran dalam ekosistem ini untuk menawarkan solusi baru yang dapat mengatasi masalah pengelolaan sampah dan mengedukasi masyarakat sekaligus.
Terutama dengan perkembangan digitalisasi yang sangat pesat, upaya daur ulang tidak terbatas oleh ruang dan fisik, sehingga masyarakat dapat ikut berpartisipasi aktif dalam melakukan aksi lingkungan. Menurut Kurniawan (2021), teknologi digital memainkan peran penting dalam pengelolaan sampah untuk membangun ekonomi global yang berkelanjutan. Digitalisasi dapat mencakup ekonomi sirkular dan pemulihan sumber daya dari sektor pengelolaan sampah sebagai pemicu terbentuknya penciptaan nilai.
Hingga akhir tahun 2020, sektor tersebut tumbuh sebesar 4,94% sementara sektor lainnya mengalami kontraksi sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS). Ini adalah sektor utama dengan pertumbuhan tercepat ketiga pada tahun 2020, dikalahkan oleh sektor farmasi, layanan medis serta sektor telekomunikasi (AHK Indonesia, 2021). Melihat potensi ini, Novrizal Tahar, direktur pengelolaan limbah di KLHK menyatakan bahwa pemerintah berencana untuk bermitra dengan start-up pengelolaan sampah dan memberdayakan sumber serta tenaga kerja untuk melipatgandakan kapasitas pengumpulan sampah negara menjadi 4.29 juta ton di 2030. CEO Waste4Change, Bijaksana Junerosano juga mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri di sektor pengelolaan sampah merupakan aspek vital untuk meningkatkan kapasitas dalam mengkoleksi, mendistribusi, dan memproses sampah (Nurbaiti, 2021).
Kurniawan (2021), juga mengatakan bahwa digitalisasi pengelolaan sampah dapat mendorong penghidaran sampah hingga 66%.
Secara keseluruhan, di era konektivitas ini transformasi digital di sektor sampah tidak hanya dapat mendorong pemulihan sumber daya sampah non-organik untuk ekonomi sirkular, tetapi juga memungkinkan komunitasnya melakukan transaksi online barang daur ulang melalui aplikasi berbasis seluler (Kurniawan, 2021). Aplikasi pengelolaan sampah juga tidak hanya mendorong tindakan daur ulang tetapi juga memberikan informasi, pengetahuan yang dibutuhkan pengguna untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya. Selain itu, sistem teknologi memungkinkan pengguna untuk mengetahui laporan secara rutin mengenai berapa banyak sampah mereka yang terkumpul dan di daur ulang. Mengetahui hal tersebut juga meningkatkan rasa bangga dan peduli akan lingkungan (Nurbaiti, 2021).
Dengan banyak perusahaan start-up di bidang pengelolaan sampah yang bermunculan selama 3 tahun terakhir (Nurbaiti, 2021), pelaku industri di sektor ini dipermudah untuk mendapatkan persediaan sampah yang layak agar bisa di daur ulang. Pada akhirnya, mereka memiliki peran besar untuk mendaur ulang sampah dan dapat menyediakan bahan baku untuk pelaku industri lainnya. Selain itu, pengguna aplikasi sendiri menjadi teredukasi dan dapat memilah sampah berdasarkan jenisnya, dimana hal ini sangat memudahkan pelaku industri untuk melakukan proses daur ulang.
Dari segi prosesnya, hal ini memberikan manfaat bagi pemerintah untuk mencapai tujuan.
Tetapi bagi masyarakat dampak positifnya akan sangat terasa, karena dapat membentuk pola berpikir mereka mengenai tidak hanya tentang lingkungan, tetapi juga terlibat aktif dalam
sirkuler ekonomi. Novrizal Tahar, direktur pengelolaan limbah di KLHK mengatakan bahwa upaya lingkungan berbasis aplikasi seluler akan mendominasi sektor pengelolaan sampah, karena masyarakat akan percaya hal ini menguntungkan bagi mereka dan negaranya sendiri (Nurbaiti, 2021). Berikut adalah beberapa aplikasi daur ulang yang mempersilahkan masyarakat untuk menjual sampahnya yang ditunjukkan melalui Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Aplikasi Daur Ulang di Indonesia Nama aplikasi Cakupan
Wilayah
Jenis layanan daur ulang
Imbalan pengguna
Downloads eRecycle DKI Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Surabaya
Pick-Up dengan timbang di tempat
Penukaran Poin dengan Uang, Donasi, Produk Digital, dan Voucher
500.000+
Downloaders
Rapel Tangerang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Semarang
Pick-Up dengan timbang di tempat
Penukaran Poin
dengan Uang 100.000+
Downloaders
Octopus DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Bali, Makassar
Pick-Up dan Drop-Off
Penukaran Poin dengan Uang
100.000+
Downloaders
Duitin DKI Jakarta, Tangerang Selatan, Yogyakarta, Bandung
Pick-Up Penukaran Poin dengan Uang dan Produk Digital
100.000+
Downloaders
Mountrash Bogor dan Depok
Pick-Up dan Pembelian sampah
Penukaran Poin dengan Produk Digital, Voucher, dan
Entertainment
50.000+
Downloaders
Mall Sampah DKI Jakarta, Makassar, Maris, Gowa, Takalar,
Pick-Up dan Drop-Off
Penukaran Poin dengan Voucher Merchant,
10.000+
Downloaders
Parepare Produk Digital, dan Uang Digital (Gopay, OVO,
ShopeePay)
Kepul Medan Pick-Up Penukaran
langsung dengan Uang atau platform Sedekah
10.000+
Downloaders
PlasticPay DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Bali
Drop-Off di Collection Point seperti vending machine dan booth
Penukaran Poin dengan Uang Digital (OVO, Gopay, Dana, Linkja)
10.000+
Downloaders
Dibuang Jakarta Selatan dan Bogor
Pick-Up dan Drop-Off
Penukaran Poin dengan Uang Cash dan Uang Digital (OVO, Gopay, Dana, Linkja)
10.000+
Downloaders
Rekosistem DKI Jakarta, Tangerang Selatan, Blitar, Cirebon, Semarang
Drop-Off Penukaran Poin dengan Promo dan Voucher Merchant
10.000+
Downloaders
Angkuts Pontianak dan Bandar Lampung
Pick-Up Penukaran
langsung dengan Uang
100+
Downloaders
swAI (program Gringgo)
Bali Pengguna
mengumpulkan sampah dan melakukan misi di aplikasi
Penukaran Poin dengan hadiah Doorprize dan Voucher Merchant
10.000+
Downloaders
Pemol Pekanbaru Pick-Up dan
Drop-Off Penukaran Poin dengan Uang Digital (OVO, Gopay, Dana, Linkja) dan Produk Digital
10.000+
Downloaders
Kibumi DKI Jakarta, Tangerang, Depok
Pick-Up Penukaran Poin dengan Produk Digital, Promo, dan Volunteering Program
-
WeLove Jakarta Pusat Drop-Off Penukaran
Kemasan Skincare habis dengan Skincare baru
-
Salah satu aplikasi daur ulang yang memiliki jumlah download terbanyak ada eRecycle.
eRecycle itu sendiri merupakan aplikasi digital untuk proses penjemputan sampah terpilah berbasis teknologi yang dimiliki oleh PT. Multi Inti Digital Lestari. Dengan aplikasi eRecycle, pengguna dapat memilah sampah berdasarkan jenisnya dan memesan picker untuk menjemput sampah di rumah pengguna. Jenis sampah yang dikelola oleh eRecycle berupa plastik, kertas, botol kaca, logam, minyak jelantah, dan kedepannya akan lebih banyak lagi jenis sampah terpilah yang siap di daur ulang. Sampah terpilah kemudian akan ditimbang secara akurat dan real-time karena eRecycle akan memberi tahu pengguna tentang status penjemputan, serta memfasilitasi kurir dengan alat-alat seperti truk khusus sampah, seragam, dan timbangan untuk melakukan aktivitas menimbang sampah di rumah pengguna.
Lalu, sampah yang terpilah tersebut akan dikumpulkan dan ditaruh di fasilitas pengolahan eRecycle yang salah satunya berlokasi di Pondok Ungu, Bekasi (Hidayat, 2019). Kemudian dari sisi pengguna, sampah-sampah tersebut akan diganti dengan imbalan berupa poin. Poin tersebut ditentukan berdasarkan jenis sampah yang terkumpul per-kilo, dan 1 poinnya bernilai 1 rupiah.
Poin ini dapat dicairkan melalui transfer bank, produk digital, ataupun didonasikan kepada LSM yang bekerjasama dengan eRecycle. Aplikasi eRecycle juga menyediakan riwayat pesanan dan sampah yang sudah dikumpulkan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat mengetahui kapan ia terakhir berpesan, berapa poin yang terkumpul dan sudah dicairkan, dan yang paling penting seberapa banyak sampah yang sudah mereka kumpulkan (Gambar 1.8). Sehingga proses pengumpulan sampah ini transparan dan menjadi menyenangkan bagi pengguna (Hung, 2021).
Sumber: Erecycle.id (2019)
Gambar 1.8 Tampilan Aplikasi eRecycle
Untuk mengedukasi dan membentuk pola pikir masyarakat baru terhadap aksi ini, eRecycle sendiribanyak melakukan kolaborasi. Mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, bank sampah, institusi pendidikan, yayasan yang bergerak di bidang lingkungan seperti IBCSD (Indonesia Business Council for Sustainable Development), dan yang terakhir adalah perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan pengolah sampah untuk menjadi bahan daur ulang.
Seperti contohnya dilihat pada Gambar 1.9, eRecycle berkolaborasi dengan Garnier untuk mencapai visi perusahaan Garnier berkomitmen menuju Green Beauty. Salah satunya adalah melalui kerjasama dengan eRecycle untuk memobilisasi lebih dari 25.000 konsumen Garnier Indonesia untuk mengumpulkan dan mendaur ulang 100 ton plastik per tahunnya.
Perusahaan tersebut juga melakukan perubahan terhadap bahan kemasan untuk menghemat penggunaan 402 ton plastik baru pada tahun 2022. Garnier juga berkomitmen untuk membuat kemasan produk dengan bahan daur ulang pada tahun 2025 (eRecycle, 2020).
.
Sumber: Aplikasi eRecycle (2023)
Gambar 1.9 Kolaborasi eRecycle dengan Garnier Indonesia
Selain eRecycle banyak melakukan kerjasama dengan mitra dan lembaga pemerintah, Subhan Novianda, yang merupakan CEO PT Multi Inti Digital Lestari menjelaskan bahwa aplikasi eRecycle merupakan aplikasi yang dibutuhkan untuk keluarga, terutama bagi ibu rumah tangga yang dapat melakukan jual barang yang berhubungan dengan bekas konsumsi keluarga (Hidayat, 2019). Co-Founder dan Business Head eRecycle, Dicky Wiratama, juga menyatakan bahwa sebelum pembentukan eRecycle perusahaan tersebut sempat menyebarkan survey yang membuktikan bahwa masyarakat baru ingin melakukan aksi lingkungan secara sungguh-sungguh ketika terdapat nilai ekonomi di dalamnya. Hasil survei tersebut juga menunjukkan ibu-ibu rumah tangga sebagai pasarnya. Kini, eRecycle pun juga penggunanya didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga. Pak Dicky sendiri percaya bahwa peran ibu-ibu dapat berdampak besar untuk memberi pengaruh pada masyarakat, yaitu untuk mengedukasi keluarga dan mempersuasi untuk memakai eRecycle ke sekitarnya (Hasil Interview, 2023).
Sumber: Hasil Interview (2023)
Gambar 1.10 Interview dengan Co-Founder & Business Head eRecycle, Pak Dicky Wiratama
Melihat segresasinya adalah wanita berumah tangga, Pak Dicky merasa senang sekaligus juga mencari keberadaan generasi muda yang seharusnya lebih bisa menggerakan masyarakat dengan tulus tanpa nilai ekonomi, seperti di bidang-bidang atau permasalahan lainnya. Menurut beliau, generasi muda harus lebih menyadari permasalahan lingkungan dan upayanya, termasuk mengetahui eksistensi aplikasi-aplikasi daur ulang. Dengan hal tersebut eRecycle juga mengalami tantangan untuk menarik pengguna baru, terutama membangkitkan kesadaran anak-anak muda untuk menggunakan aplikasi eRecycle (Hasil Interview, 2023). Hal ini harus dilakukan, berhubung pengguna baru dapat mengumpulkan sampah lebih banyak. Terutama tantangan ini juga didukung dengan target sampah yang ingin dicapai eRecycle pada tahun 2023, yaitu sebanyak 300 ton (Hasil Interview, 2023).
Tidak hanya itu saja, tetapi tantangan terberat Pak Dicky temukan yaitu mempertahankan pengguna untuk melakukan kegiatan daur ulang secara konsisten di aplikasi eRecycle di tengah terbatasnya kapasitas dan sumber daya. Sumber daya yang dimaksud diutamakan pada armada, biaya, dan sisi operasional. Dari banyak keluhan dari pengguna, beliau mengatakan ia tidak ingin membuat pengguna merasa malas untuk melakukan kegiatan daur ulang meskipun adanya keterbatasan dari eRecycle (Hasil Interview, 2023). Tantangan ini juga diakui oleh CEO
MallSampah, Adi Putra yang mengatakan dalam sulit untuk mengontrol sistem vertikal ini dalam pelaksanaannya, dimana begitu banyak program pengelolaan sampah yang sudah dibuat, namun sedikit yang merangkul gerakan dan komunitas yang sudah bergerak sebelumnya (Agung, 2020).
Masalah ini juga penulis temukan ketika menyebarkan sebuah survei kecil kepada 32 pengguna e-Recycle yang jarang melakukan kegiatan di aplikasi eRecycle. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui apa yang menjadi kendala mereka ketika menggunakan aplikasi eRecycle.
Sumber: Data Penulis (2023)
Gambar 1.11 Diagram Tentang Gender yang Mengisi Survei
Sumber: Data Penulis (2023)
Gambar 1.12 Diagram Tentang Usia yang Mengisi Survei
Berdasarkan Gambar 1.11, responden yang mengisi survei ini adalah pria dan wanita.
Persentase terbesar dari gender ada pada wanita yaitu sebesar 71.9% atau setara dengan 23 perempuan. Kemudian gender dari pria meraih persentase sebesar 28.1 atau setara dengan 9
laki-laki. Sedangkan berdasarkanGambar 1.12, rentang usia didominasi oleh usia 18-25 tahun, yaitu mengambil persentase sebanyak 65.6% atau setara dengan 21 responden. Selanjutnya umur 26-34 tahun sebanyak 15.6% atau setara dengan 5 responden. Kemudian umur 35-44 tahun sebanyak 9.4% atau setara dengan 3 responden. Untuk kategori 65+ tahun meraih 6.3%, yaitu sejumlah 2 responden dan yang paling sedikit adalah kategori umur 35-44 tahun yaitu hanya 1 responden saja.
Gambar 1.13 dan Gambar 1.14 membuktikan bahwa 32 responden adalah pengguna aplikasi eRecycle yang belum menggunakan aplikasi eRecycle dalam 3 bulan lamanya. Sebelum mengisi, penulis juga memastikan terkait hal ini agar responden dapat mengisi survei sampai akhir.
Sumber: Data Penulis (2023)
Gambar 1.13 Diagram Tentang Pengguna Aplikasi eRecycle
Sumber: Data Penulis (2023)
Gambar 1.14 Diagram Tentang Penggunaan Aplikasi eRecycle
Pertanyaan selanjutnya adalah tentang alasan responden tidak kembali menggunakan aplikasi eRecycle. Responden dapat memilih lebih dari satu alasan yang membuat mereka enggan untuk kembali menggunakan aplikasi eRecycle atau melakukan kegiatan di aplikasi tersebut. Berikut adalah hasilnya yang dapat dilihat berdasarkanGambar 1.15.
Sumber: Data Penulis (2023)
Gambar 1.15 Diagram Tentang Alasan Tidak Menggunakan Aplikasi eRecycle
Berdasarkan hasil survei, banyak responden yang tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan daur ulang, sekaligus masih bingung untuk memakai aplikasi eRecycle secara maksimal. Beberapa juga setuju akan fitur aplikasi yang kurang menarik dan pelayanan yang lambat dari pihak eRecycle. Kemudian ada juga yang menjawab belum ingin melakukan kegiatan di aplikasi tersebut.
Maka dari itu, berdasarkan permasalahan yang diungkit dari hasil wawancara dan mini survei yang telah dibuat, penelitian ini bertujuan untuk meneliti aspek-aspek sepertiPerformance Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions, Social Influence, Hedonism Motivation, dan Habit yang dapat menjadi pengaruh atau faktor-faktor pengguna eRecycle agar dapat kembali melakukan kegiatan di aplikasi eRecycle. Aspek inilah yang dinamakan Behavioral Intention. Setelah itu penelitian ini juga menghubungkan relasi antaraBehavioral Intentionuntuk menjadi pengaruh terhadap variabel Intention to Recycle, dimana pengguna dapat melakukan aksi lingkungan daur ulang secara berkelanjutan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, terbukti bahwa sektor pengelolaan sampah sedang berkembang di Indonesia diiringi dengan animo masyarakat yang mulai melakukan aksi lingkungan daur ulang. Perusahaan start-up di bidang pengelolaan sampah tidak hanya harus bersikap inovatif terhadap hal ini tetapi juga harus memberikan nilai-nilai positif secara konsisten agar pesan baik ini dapat diterima oleh pengguna aplikasi daur ulang agar dapat terus melakukan aksi lingkungan ini, terutama di platform/aplikasi yang disediakan. Apabila perusahaan memberikan pelayanan dibawah ekspektasi ataupun fitur-fitur aplikasi yang kurang bisa dipahami oleh pengguna, akan sulit bagi pengguna untuk menggunakan aplikasi tersebut, sehingga aksi daur ulang pun tertahan. Maka dari itu, perusahaan harus terus mencari cara agar dapat mempertahankan pengguna dengan pengembangan aplikasi, kegiatan, dan pelayanannya agar pengguna terus melakukan aksi daur ulang dengan keringanan.
Untuk meneliti keinginan pengguna agar dapat menggunakan aplikasi e-Recycle secara berkelanjutan dan melakukan aksi daur ulang, penulis memutuskan untuk meneliti Behavioral Intention pengguna e-Recycle. Behavioral Intention yang didefinisikan oleh Venkatesh et al.
(2003) dan Venkatesh et al. (2012) adalah niat untuk menggunakan atau mengadopsi suatu sistem teknologi. Behavioral Intention memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi, antara lain adalah Performance Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions, Social Influence, Hedonism Motivation, dan Habit.
Venkatesh et al. (2003) membuktikan jika suatu sistem teknologi akan memberikan banyak manfaat pada konsumen dalam melakukan kegiatan tertentu, maka akan sangat besar niatnya untuk menggunakan aplikasi tersebut. Hal ini dapat diukur dari segi seberapa bermanfaat suatu sistem teknologi dalam membantu rutinitas keseharian seseorang, seberapa informatif dan efisien suatu sistem teknologi, dan juga kemampuan sistem teknologi untuk meningkatkan produktivitas seseorang.
Kemudian, Venkatesh et al. (2003) juga menyatakan bahwa tingkat kemudahan yang terkait dengan penggunaan suatu sistem teknologi juga mempengaruhi Behavioral Intention.
Inilah faktor kedua yang disebut Effort Expectancy. Effort Expectancymemiliki ciri-ciri seperti bagaimana pengguna dapat belajar menggunakan sistem teknologi tersebut dengan mudah, interaksi dengan suatu sistem teknologi jelas dan dapat dipahami oleh pengguna, serta
bagaimana pengguna dengan mudah memiliki keterampilan dalam menggunakan suatu sistem teknologi.
Faktor ketiga yang mempengaruhi Behavioral Intention adalah Facilitating Conditions, adapun penelitian Venkatesh et al. (2003) menyatakan bahwa jika konsumen memiliki fasilitas dan sumber yang mendukung untuk sistem teknologi itu berjalan, maka niat konsumen untuk menggunakan aplikasi itu juga besar. Hal-hal yang mempengaruhiFacilitating Conditionsadalah seperti fasilitas, pengetahuan, kecocokan perangkat yang dibutuhkan untuk menjalani sistem teknologi tersebut, serta ketersediaan konsumen dalam meminta bantuan pada orang lain jika terjadi kesulitan dalam menggunakan suatu sistem teknologi.
Selanjutnya, Venkatesh et al. (2003) juga menjelaskan bahwa pengaruh konsumen lain dapat mempengaruhi niat untuk menggunakan suatu sistem teknologi tertentu. Faktor keempat ini disebut Social Influence. Faktor ini memiliki ciri-ciri seperti orang-orang penting disekitar, orang-orang yang berpengaruh, dan pendapat orang lain yang merekomendasikan suatu sistem teknologi dapat mempengaruhi niat konsumen untuk menggunakannya sendiri.
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi Behavioral Intention merupakan suatu pengembangan model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technology) yang dilakukan Venkatesh et al. (2003). Venkatesh et al. (2012) menambahkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan niat pengguna untuk memakai suatu sistem teknologi, salah satunya adalah Hedonic Motivation. Menurut penelitian dan pengembangan yang dilakukan Venkatesh et al.
(2012), Hedonic Motivationadalah kesenangan seseorang yang berasal dari menggunakan suatu sistem teknologi. Faktor ini telah membuktikan peran penting dalam menentukan niat dan mengadopsi sistem teknologi, dan dapat diukur dengan kesenangan, kenikmatan, dan seberapa terhibur pengguna ketika menggunakan sistem teknologi tersebut.
Masih dalam pengembangan model UTAUT yang kedua, Venkatesh et al. (2012) juga membuktikan bahwa konstruk perseptual yang mencerminkan hasil dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dapat mempengaruhi niat seseorang untuk menggunakan suatu sistem teknologi. Sederhananya, faktor ini disebut Habit. Habit dapat dipengaruhi oleh kebiasaan pengguna dalam menggunakan suatu sistem teknologi, rasa kecanduan, serta rasa keharus dalam menggunakan suatu sistem teknologi.
Setelah penulis menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi niat seseorang untuk menggunakan sebuah sistem teknologi, penulis juga mempercayai bahwa Behavioral Intention
dapat mempengaruhiIntention to Recycle. Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Sozoniuk et al (2022) dan Juaneda-Ayensa (2021), penggunaan teknologi dalam aplikasi daur ulang dapat mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan aksi daur ulang secara berkelanjutan.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dipaparkan diatas, maka pertanyaan penelitian yang terbentuk adalah sebagai berikut:
1. Apakah Performance Expectancy memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention?
2. ApakahEffort Expectancymemiliki pengaruh positif terhadapBehavioral Intention?
3. Apakah Facilitating Conditions memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention?
4. ApakahSocial Influencememiliki pengaruh positif terhadapBehavioral Intention?
5. ApakahHedonic Motivationmemiliki pengaruh positif terhadapBehavioral Intention?
6. ApakahHabitmemiliki pengaruh positif terhadapBehavioral Intention?
7. ApakahBehavioral Intentionmemiliki pengaruh positif terhadapIntention to Recycle?
1.4 Tujuan Penelitian
Dengan pertanyaan penelitian yang sudah dirumuskan, maka adapun tujuan penulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Perfomance Expectancy terhadap Behavioral Intention.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Effort Expectancy terhadap Behavioral Intention.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Facilitating Conditions terhadap Behavioral Intention.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Social Influence terhadap Behavioral Intention.
5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Hedonic Motivation terhadap Behavioral Intention.
6. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Habit terhadap Behavioral Intention.
7. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Behavioral Intention terhadap Intention to Recycle.
1.5 Batasan Masalah Penelitian
Pada penelitian ini, terdapat batasan ruang lingkup penelitian agar segala hal dan aspek yang akan dibahas oleh penulis terarah menuju penyelesaian masalah yang telah dirumuskan.
Batasan penelitian ini tercantum sebagai berikut:
1. Responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin pria dan wanita
2. Responden berusia minimal usia 17 tahun keatas. Karena di usia 17 tahun, pola pikir yang ideal sudah terbentuk dan dapat mulai berperan aktif terhadap suatu aksi sosial (Anggraini, 2021).
3. Responden menggunakan aplikasi eRecycle, namun belum menggunakan kembali aplikasi eRecycle dalam 3 bulan terakhir.
4. Penelitian ini dibatasi pada variabel Performance Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions, Social Influence, Hedonic Motivation, Habit, Behavioral Intention,danIntention to Recycle
1.6 Manfaat Penelitian
Tentunya penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang manajemen pemasaran dan pengelolaan sampah. Berikut adalah manfaat dari penelitian yang dapat digunakan:
1.6.1 Manfaat Akademis
Bagi akademika Universitas Multimedia Nusantara maupun untuk masyarakat umum, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi akurat, ilmu, dan pengetahuan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut tentang Behavioral Intention aplikasi digital, khususnya di bidang pengelolaan sampah.
1.6.2 Manfaat Praktis
Dengan penelitian ini, penulis berharap bahwa informasi dan data yang diteliti dapat dijadikan referensi, gambaran, dan pertimbangan untuk pembuat keputusan di dunia bisnis, terutama di bidang aplikasi digital dan pengelolaan sampah. Penelitian ini dapat membantu para pembuat keputusan untuk menentukan strategi pemasaran berdasarkan data yang tepat, terutama dalam hal Performance Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions, Social Influence, Hedonic Motivation, Habit, Behavioral Intention,terhadapIntention to Recycle.
1.7 Sistematika Penulisan
Dalam menyusun skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Performance Expectancy, Effort Expectancy, Faciliating Conditions, Social Influence, Hedonic Motivation, Habit, dan Behavioral Intention terhadap Intention to Recycle: Telaah pada Aplikasi eRecycle”, penulis memilki sistematika penulisan untuk mendeskripsikan penelitian secara keseluruhan, dengan setiap babnya memiliki keterkaitan yang erat. Berikut adalah sistematika penulisan yang digunakan oleh penulis:
● Bab I – PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang hal-hal yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian, yang di awal dari sebuah fenomena yang terjadi di industri tersebut, masalah utama yang ditemukan pada objek penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, batasan masalah penelitian, manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini baik dari segi akademis maupun praktis, serta terdapat sistematika penulisan skripsi.
● Bab II – LANDASAN TEORI
Di bab selanjutnya, penulis menjelaskan secara umum terkait landasan konsep dan teori yang ingin dipakai dalam penelitian ini, serta berbagai definisi oleh para ahli maupun penelitian sebelumnya yang diambil dari jurnal internasional. Hal-hal yang tercantum dalam bab ini dapat membantu mengukur variabel yang ingin diteliti yaitu,Performance
Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions, Social Influence, Hedonic Motivation, Habit, Behavioral Intention, dan Intention to Recycle. Bab ini juga membahas konsep yang menjadi dasar pengaruh antara satu variabel dengan yang lainnya.
● Bab III – METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini, penulis menggambarkan objek penelitian secara umum, metode penelitian, menjelaskan teknik pengumpulan data yang dipakai, prosedur penelitian, populasi dan sampel penelitian, batasan waktu penelitian, tabel definisi operasional beserta indikatornya, kemudian juga dijelaskan mengenai teknik analisis yang digunakan untuk menganalisa dan menjawab semua pertanyaan penelitian, serta penjelasan terkait metode analisis yang dipakai, yaitu SEM (Structural Equation Modelling).
● Bab IV – ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini mengungkapkan tentang data responden, analisis deskriptif, pembahasan dan interpretasi hasil dari penelitian yang berhubungan dengan Performance Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions, Social Influence, Hedonic Motivation, Habit, Behavioral Intention, danIntention to Recycle. Hasil kuesioner ini memberikan saran dan masukan berupa implikasi manajerial, terutama di bidang pemasaran untuk perusahaan itu sendiri.
● Bab V - PENUTUP
Bab yang terakhir berisi kesimpulan penulis berdasarkan hasil pengolahan data pada bab sebelumnya. Penulis juga akan memberikan saran untuk perusahaan PT Multi Inti Digital Lestari untuk mengembangkan aplikasi eRecycle agar lebih maksimal, serta penulis juga memberikan saran agar penelitian selanjutnya dapat membuahkan hasil penelitian yang lebih baik lagi, terutama di bidang manajemen pemasaran dan pengelolaan sampah.